Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pelatihan Masyarakat Lansia Terhadap Peningkatan Keseimbangan Dinamis Dalam Rangka Penurunan Resiko Jatuh Tyas Sari Ratna Ningrum; Veni Fatmawati
Masyarakat Berdaya dan Inovasi Vol. 2 No. 2 (2021): Oktober
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/mayadani.v2i2.70

Abstract

Pada lansia, terjadi penurunan anatomis dan fisiologis pada system organ pada tubuhnya. Penurunan fungsi system organ ini menyebabkan terjadinya penurunan keseimbangan dinamis sehingga meningkatkan resiko jatuh. Pada hasil dialog dengan kader di lokasi pengabdian, terdapat penurunan keseimbangan dinamis yang cukup drastic pada lansia di lingkungan tersebut, sehingga lansia mengeluhkan mudah terjatuh saat melakukan aktivitas keseharian. Jika hal ini tidak segera ditanggulangi, maka resiko untuk terjadinya cedera pada lansia akan semakin besar. Tujuan penelitian ini yaitu ingin melakukan pemaparan pada pendahuluan, pengabdian masyarakat kali ini akan memberikan pengetahuan terkait dengan keseimbangan dinamis dan resiko jatuh, setelah itu lansia akan diberikan latihan untuk mengurangi gejala-gejala tersebut. Metode pengabdian ini diawali dengan pemberian pemaparan materi dengan topik “mengenal penuaan dan efeknya terhadap keseimbangan dinamis dan resiko jatuh”, setelah itu diberikan pengukuran keseimbangan dinamis untuk mengetahui seberapa besar resiko jatuhnya lalu diberikan pelatihan tentang bagaimana cara meningkatkan keseimbangan dinamis. Pengabdian masyarakat ini meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang proses penuaan dan efek terhadap keseimbangan dinamis dan resiko jatuh. Sehingga  mengurangi resiko jatuh yang sedang dialami. Pemberian pemaparan materi dan latihan kepada lansia dapat mengingkatkan pengetahuan tentang keseimbangan dinamis dan menurunkan resiko jatuh pada lansia. 
The effect of core stability exercise in reducing the risk of falling in the elderly at the work area of Kasian 1 public health center Veni Fatmawati; Nova Mega Rukmana; Wibowo Septianto; Diyas Elsa Yuniarsih
International Journal of Health Science and Technology Vol 3, No 1 (2021): July
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.992 KB) | DOI: 10.31101/ijhst.v3i1.1910

Abstract

Elderly is a condition that will be experienced by each people, where the age range is from 45 to 75 years. The process adds up age followed also by changes that occur in body systems either physiologically or pathologically in the presence of comorbidities. One of the processes that occurs is function cerebellum descends by starting with a balance disturbance and then the brain system, resulting in the risk of falling. Elderly experiencing falls can be affected by some things such as disorders of the brain system, self it self and the environment. A part from anatomical factors, there is also a lighting environment usually the elderly always wake up at night, if the environment is less lighting then the risk of falling is higher and if the condition of waking up, the concentration and muscle power cannot be optimal, resulting in decreased balance so that the risk of falling is higher. One way to maintain and minimize the risk can be done the core stability exercise. Benefits of core stability exercise is to strengthen the core as the support of the body so that the body can be stable. This type of research is experiment, using quasi experimental design with pre test and post test group design. The statistic test using Wilcoxon test. Sample of elderly at integrated healthcare center in Ngebel, totaled are 34 elderly. Elderly sample criteria age 60-74 years, do not use assistive devices and do not experience neurological disorders. Measure morse fall skale. The results of the homogeneity test show that the significance value (p) core stability exercise of 0.323, because of the significance of p 0.05 it can be concluded that the population is from the same variant or homogeneous. The calculation of the data normality test used the Shapiro-Wilk Test and is said to be normal if p 0, 05. Data normality test results 0.085. Hypothesis Test with willcoxon test because it has a normal and homogeneous data distribution in the group. From the test results obtained with a value of P = 0.034, meaning P 0, 05, so that there is an effect of core stability training on the risk of falling in the elderly. 
PENGARUH PERBEDAAN LATIHAN FOUR SQUARE STEP EXERCISE DAN LATIHAN ANKLE STRATEGY EXERCISE TERHADAP PENINGKATAN KESEIMBANGAN LANSIA Veni Fatmawati; Indriani Indriani
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.622 KB) | DOI: 10.35842/mr.v17i3.736

Abstract

Latar belakang: keseimbangan merupakan kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh agar tidak jatuh. Keseimbangan dibutuhkan untuk mempertahankan posisi dan stabilitas ketika bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain. Akibat dari gangguan keseimbangan adalah jatuh dan sering mengarah pada injuri, kecacatan, kehilangan kemandirian dan berkurangnya kualitas hidup. Fisioterapis berperan dalam pemberian intervensi salah satunya dengan four square step exercise dan ankle strategy exercise.  Tujuan: untuk mengetahui pengaruh four square step exercise dan ankle strategy exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia. Metode: quasi ekperimental dengan pre dan post desain pada lansia di PRA Palbapang Barat,Bantul. Alat ukur dengan TUTG (Time Up and Go Test). Lansia duduk pada kursi dengan bersandar. Lutut fleksi 90°, lengan bersandar. Selanjutnya lansia berdiri, berjalan 3 meter (10 ft), berputar, jalan kembali menuju kursi dan duduk kembali bersandar. Saat berjalan dapat menggunakan alas kaki atau tanpa alas kaki. Waktu diukur dengan stopwatch mulai dari awal berdiri sampai duduk bersandar Kembali. Hasil: hasil pengujian dengan Independent t-test didapatkan nilai t = -2,353 dan nilai p=0,040 (p < 0,05). Kesimpulan: perlakuan pada kelompok four square step exercise lebih efektif dari pada ankle strategy exercise terhadap peningkatan keseimbangan lansia .
The Effect of Four Square Step Exercise and Ankle Strategy Exercise on Improving the Balance of the Elderly in Aisyiyah Branch, West Palbapang, Bantul, Yogyakarta Veni Fatmawati; Indriani
Urecol Journal. Part D: Applied Sciences Vol. 2 No. 2 (2022): August-Dec
Publisher : Konsorsium LPPM Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53017/ujas.194

Abstract

Balance is the ability to maintain a central projection. Balance is needed to maintain position and stability when moving from one position to another. The result of balance disorders is falls and often leads to injury, disability, loss of independence and reduced quality of life. Physiotherapists play a role in providing interventions, one of which is four square step exercise and ankle strategy exercise. To determine the effect of four square step exercise and ankle strategy exercise on improving balance in the elderly. Methods: quasi-experimental with pre and post design in the elderly at PRA West Palbapang, Bantul. Measuring instrument with TUTG (Time Up and Go Test). Based on the age of 100% of the elderly Women, based on the age of 100% between the ages of 60-74 years, Based on the work of 20 elderly as housewives. Based on statistical tests to determine the effect of groups 1 and 2. From the TUGT test results obtained with a value of P = 0.034, it means that P <0.05 and Ha is accepted and Ho is rejected. So it is stated that the 2 interventions are equally beneficial in balance disorders. Four Square Step Exercise and Ankle Strategy Exercise have an effect on improving the balance of the elderly in the West Palbapang Aisyiyah Branch, Bantul, Yogyakarta.
The Correlation of Body Mass Index, Socio-Economic Status, and Motivation With Physical Activity at Productive Age at 'Aisyiyah Yogyakarta University Annisa Syahnaz Najiha; Indriani Indriani; Veni Fatmawati
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 3 (2023): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (JIKM)
Publisher : Association of Public Health Scholars based in Faculty of Public Health, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26553/jikm.2023.14.3.307-318

Abstract

The lack of physical activity was one of the causes of several health problems and deaths whose prevalence was increasing throughout the world. University was a gathering place for all university members including students, lecturers and teaching staff who were at risk of low physical activity and other lifestyle behaviors. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh (IMT), status sosial ekonomi dan motivasi terhadap aktivitas fisik pada usia produktif di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. A cross-sectional method was used, and a random sampling technique was taken. The sample was 380 respondents with an age range of 20-59 years. Data analysis used the chi square test to determine the relationship between physical activity and its determinants and logistic regression to determine the predictors of physical activity. Based on 380 respondents, 47.2% were in the inactive category with an average of Metabolic Equivalent Task (METs)= 402.56 ± 121,140 and duration = 88.67 ± 59,600 per minute per week. There was a significant correlation between age, occupation, body mass index (BMI), motivation, availability of sports facilities with physical activity. Based on multivariate analysis, it was found that BMI, age and motivation had an influence on physical activity. The level of physical activity among university members was still low and there was a need for university strategies to increase knowledge and behavior to become an active campus with healthy campus campaigns, organizing health checks, championships between campus sports clubs and other strategies.
Inisiasi Posbindu untuk Cegah Penyakit Tidak Menular Indriani; Veni Fatmawati; Nor Faizah Kaeni1; Zubaida Rohmawati; Sri Lestari Linawati; Ririn Wahyu Hidayati
Masyarakat Berdaya dan Inovasi Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Osteoarthritis Knee Di Pimpinan Cabang Aisyiyah Pajangan,Bantul fatmawati, veni
Infomasi dan Promosi Kesehatan Vol 3 No 2 (2024): Informasi dan Promosi Kesehatan
Publisher : Sahabat Publikasi Kuu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58439/ipk.v3i2.268

Abstract

Latar Belakang: Kasus Osteoartritis Knee yang paling sering ditemui umumnya di usia pralansia 45 tahun keatas. Osteoartritis Knee terjadi karena adanya abrasi pada tulang rawan dan pembentukan tulang baru (osteofit) pada permukaan sendi yang mampu menyebabkan kelemahan otot dan tendon sehingga dapat membatasi gerak dan menyebabkan nyeri dan keterbatasan gerak. Jika gangguan tersebut tidak diketahui penyebabnya maka akan berdampak pada penurunan fungsi dan gerak pada lutut.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Osteoartritis Knee. Metode Penelitian: Rancangan penelitian ini menggunakan jenis analitik observasional, Populasi 120 orang dengan, jumlah sampel 40 orang yang masuk dalam kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil: Hasil penelitian menunjukan dari 40 sampel, pada faktor usia didapat usia pra lansia 55%,lansia muda 20% dan lansia madya 25%. Faktor jenis kelamin di dapat 100% Perempuan. Faktor IMT didapat IMT normal 87% dan IMT overweight 7,5%.Faktor Riwayat trauma di dapat responden tidak ada Riwayat trauma 80% dan ada Riwayat trauma 20%. Faktor durasi kerja didapat bekerja lebih dari 7 jam 95% dan berkeja kurang dari 7 jam 0,5%. Serta terdapat hubungan kuat antara faktor usia,jenis kelamin,IMT, Riwayat penyakit dan durasi kerja dengan nilai p 0,002.Kesimpulan: Terdapat hubungan kuat factor factor yang mempengaruhi kejadian Osteoartritis Knee di PCA Pajangan. Saran: lansia dapat melakukan beberapa aktivitas dengan lebih hati-hati, lansia juga disarankan untuk cek kesehatan secara rutin dan olahraga rutin untuk meningkatkan kebugaran.
PROGRAM NGAJENI (NGAJAK INTERGENERASI JADI INSPIRASI) UNTUK PROGRAM POSYANDU LINTAS GENERASI Rohmawati, Zubaida; Indriani; Linawati, Sri Lestari; Fatmawati, Veni; Kyswantoro, Yunita Firdha
Jurnal Jarlit Vol. 20 No. 1 (2024): Penguatan Kualitas Sumber Daya Manusia untuk Keberlanjutan Pembangunan Kota Yo
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program NGAJENI dirancang untuk meningkatkan interaksi sosial antara remaja dan lansia di Yogyakarta dengan tujuan memperbaiki pemahaman, sikap, dan kualitas interaksi antar generasi. Latar belakang penelitian ini didorong oleh kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan sosial dan stereotip antara kelompok usia yang berbeda. Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental dengan dua kelompok intervensi dan dua kelompok kontrol. Total responden adalah 76 orang, terdiri dari 18 lansia dan 20 remaja di kelompok intervensi, serta 18 lansia dan 17 remaja di kelompok kontrol. Metode penelitian melibatkan sosialisasi, aktivitas fisik, seni, dan permainan yang melibatkan kedua kelompok. Analisis statistik menggunakan uji t untuk membandingkan hasil pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan tentang aging health dan peran sosial, dengan p-value < 0.05 pada kesehatan mental dan hubungan sosial. Remaja mengalami peningkatan empati dan rasa hormat (p-value < 0.05), sedangkan lansia menjadi lebih terbuka terhadap kontribusi remaja (p-value < 0.05). Interaksi sosial antara kedua kelompok juga meningkat. Program NGAJENI terbukti efektif dalam mengubah sikap dan memperkuat hubungan antar generasi. Kesimpulannya, program ini tidak hanya memperbaiki interaksi sosial tetapi juga berfungsi sebagai model yang dapat diterapkan di komunitas lain untuk mempromosikan kohesi sosial dan mengurangi kesenjangan generasi.
Pengaruh Senam Bio Energy Power terhadap Kekuatan Otot Anggota Gerak atas pada Pasien Stroke di Yastroki Yogyakarta Lidya Filadelvia, Amazia; Veni Fatmawati
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (April–Mei 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i1.857

Abstract

Pada penderita Stroke hal yang utama yang sering terjadi adalah adanya gangguan gerak berupa hemiparesis atau hemiplegia yang dapat menyebabkan Immobilitas. Dengan adanya kelemahan otot pada penderita Stroke maka otot yang lemah harus dikuatkan dengan aktivitas fisik salah satunya dengan Senam Bio Energy Power. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Senam Bio Energy Power terhadap kekuatan otot anggota gerak atas pada pasien Stroke di Yastroki Yogyakarta. Metode: Penelitian yang digunakan yaitu eksperimental dengan pendekatan quasi eksperimen, yaitu penelitian dengan “pre test-post test one group design”. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan sampel 27 responden dengan diberikan intervensi Senam Bio Energy Power Sebelum diberikan perlakuan, kelompok sampel di ukur kekuatan otot anggota gerak atasnya dengan menggunakan alat ukur berupa Manual Muscle Testing (MMT), dosis yang digunakan 2 kali seminggu selama 4 minggu. Hasil: Uji Normalitas menggunakan Saphiro Wilk Tes dari kedua nilai p sebelum perlakuan dan sesudah perlakuan yaitu nilai p < 0,05 maka dapat diartikan data tersebut tidak terdistribusi normal , Uji Hipotesis dengan wilcoxon signed rank test pada nilai p= (p<0,005). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh pada peningkatan nilai kekuatan otot anggota gerak atas.
HUBUNGAN FAKTOR INDIVIDU DENGAN AKTIVITAS FISIK PADA LANSIA DI SLEMAN YOGYAKARTA Tengku Zalifa; Indriani, Indriani; Veni Fatmawati
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 2: Juli 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jirk.v5i2.10587

Abstract

Latar belakang. Penuaan menjadi proses alami individu berusia 60 tahun keatas yang ditandai dengan penurunan fungsi sistem tubuh, serta kemunduran kualitas hidup. Salah satu penyebab utama kemunduran adalah kurangnya aktivitas fisik yang turut berkontribusi terhadap peningkatan resiko penyakit tidak menular. Ketidakaktifan fisik pada lansia dipengaruhi beberapa faktor yaitu individu (internal) dan lingkungan (eksternal). Aspek individu menjadi faktor utama rendahnya kesadaran akan manfaat aktivitas fisik lansia. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor individu dengan akativitas fisik pada lansia di Sleman Yogyakarta. Metode. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional dengan total sampel sebanyak 363 lansia yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditentukan. Penelitian berlangsung selama bulan januari 2025, berlokasi di Posyandu Kelurahan Balecatur, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Data dikumpulkan berdasarkan kuesioner. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lansia yang kurang aktif masih tinggi yaitu 19%. Mayoritas responden berusia >60 tahun (52,3%), berjenis kelamin perempuan (55,9%), berpendidikan SD (36,6%), dan masih aktif bekerja (64,5%). Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara usia (p=0,000), jenis kelamin (P=0,004), pendidikan (p=0,002), dan pekerjaan (P=0,029) dengan aktivitas fisik pada lansia. Simpulan. Jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan terkait aktivitas fisik merupakan faktor yang secara signifikan berkontribusi terhadap partisipasi lansia dalam aktivitas fisik sehari-hari. Saran. Upaya pemerintah perlu difokuskan pada peningkatan literasi kesehatan lansia melalui program edukasi dan sosialisasi yang inklusif.