Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Knowledge Enhancement: Peran Edukasi Perawat Tentang Terapi Insulin Terhadap Kepatuhan Menggunakan Insulin pada Pasien Diabetes Melitus Rawat Inap Firdausa, Sarah; Zufry, Hendra; Sukri Ekadamayanti, Agustia; Suhanda, Rachmad; Wardhana Sucipto, Krishna
Journal of Medical Science Vol 4 No 2 (2023): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v4i2.76

Abstract

Penanganan diabetes di ruang rawat inap lebih kompleks dan intensif dibanding rawat jalan. Kebanyakan pasien rawat inap menggunakan terapi insulin. Perawat ruangan adalah tenaga kesehatan garda depan yang intensif berhadapan dengan pasien sehingga sangat potensial menjadi edukator dalam maintenance terapi insulin. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan perawat serta mengevaluasi kepatuhan pasien diabetes menggunakan insulin setelah keluar dari rawat inap. Pengetahuan perawat dievaluasi melalui kuesioner sebelum intervensi knowledge enhancement berupa workshop insulin. Pengumpulan sampel penelitian cross sectional ini secara total sampling yaitu seluruh perawat ruang rawat inap non akut di RSUDZA selama Agustus−September 2022. Objek penelitian adalah pasien diabetes yang menggunakan insulin selama perawatan di rumah sakit.  Data karakteristik responden, pengetahuan, asuhan keperawatan dan kepatuhan pasien ditampilkan secara deskriptif, untuk menilai kepatuhan pasien sebelum dan sesudah intervensi digunakan analisis independent t-test. Jumlah responden yang berpartisipasi 354 orang, 50,8% memiliki tingkat pengetahuan baik, namun hanya 29,7% berketerampilan baik dalam hal injeksi insulin. Berdasaran hasil asesmen tersebut, dilakukan workshop insulin untuk menjawab gap pengetahuan dan keterampilan. Kepatuhan pasien diukur sebelum dan sesudah workshop. Pasien dengan kepatuhan tinggi sebanyak 44,4% sebelum intervesi dan 40% sesudah intervensi, sedangkan pasien dengan tingkat kepatuhan rendah berkisar di atas 20% baik sebelum maupun sesudah intervensi. Studi ini menyimpulkan bahwa knowledge enhancement terhadap perawat ruang inap tidak berpengaruh terhadap kepatuhan pasien menggunakan insulin. Hal ini mungkin disebabkan peningkatan kapasitas perawat tentang injeksi insulin tidak menjamin terjadinya peningkatan edukasi perawat terhadap pasien, dan belum membudayanya edukasi terapi insulin yang komprehensif terhadap pasien yang dirawat inap.
Study of Determinants Maternal Behavior in Basic Immunization for Infants in the Working Area of Banda Aceh City Health Center Cut Fauziah; Rachmad Suhanda; Said Usman; Irwan Saputra; T. Maulana
International Journal of Public Health Vol. 2 No. 2 (2025): June : International Journal of Public Health
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijph.v2i2.417

Abstract

Immunization is an effort to provide immunity to infants and children by introducing vaccines into the body. This vaccine stimulates the body to produce antibodies that function to prevent certain diseases. The coverage of Complete Basic Immunization in Banda Aceh City/District from 2022 to 2024 has decreased each year by (43.9%) in 2022, (37.8%) in 2023, and (34.9%) in 2024. The immunization coverage is still very low and below the national target of (95%). To determine the factors influencing maternal behavior in basic immunization within the working area of the Banda Aceh City Health Center. Research. Quantitative research with a Cross Sectional Study approach using primary data. The population in this study consists of all mothers with infants aged 6-11 months within the working area of the Banda Aceh City Health Center. The sample in this study consisted of 200 respondents, with data collection methods using questionnaires and analyzed univariately to describe the distribution and proportion, as well as bivariately. Bivariate data analysis with Spearman correlation test. This study found a relationship between each variable and maternal behavior regarding basic immunization with the variables Attitude Toward Immunization (p=0.000), Subjective Norm of Immunization (p=0.000), Perceived Behavioral Control of Immunization (p=0.000), Actual Behavioral Control of Immunization (p=0.000). All variables are related to maternal behavior in basic immunization within the working area of the Banda Aceh City health center.
Analisis Perbedaan Angka Kesintasan pada Pasien Karsinoma Laring Yang Menjalani Total Laringektomi Dengan Dan Tanpa Diseksi Leher Fadhlia; Kurnia , Benny; Setiani, Lily; Fitria, Sova; Denantika, Oktaria; Suhanda, Rachmad
Journal of Medical Science Vol 6 No 1 (2025): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v6i1.117

Abstract

Pilihan terapi untuk karsinoma laring yang progresif (T3-T4) adalah operasi, baik untuk tumor laring maupun diseksi nodul pada leher, yang setelah itu dilanjutkan dengan kemoterapi, radiasi atau kombinasi kemoradiasi. Diseksi nodul pada leher dilakukan sesuai stadium penyakit. Sebagian besar pasien yang terdiagnosis pada stadium lanjut atau metastasis nodal regional, umumnya memiliki tingkat kelangsungan hidup 50%. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan angka kesintasan pasien dengan karsinoma laring yang telah menjalani total laringektomi dengan atau tanpa diseksi leher. Pengumpulan data menggunakan rekam medis pasien yang berobat ke Departemen THT-BKL RSUD dr. Zainoel Abidin sejak 1 Juli–30 September 2022. Metode penelitian berupa analitik observasional retrospektif dengan desain khusus analisis kesintasan, Diperoleh total 36 subjek, seluruhnya laki-laki, terbanyak (47,2%) pada kelompok usia 56-65 tahun. Mayoritas subjek (97,2%) memiliki riwayat merokok lebih dari 30 tahun, dengan 44,4% lokasi tumor berada di transglotis, dan pasien terbanyak (88,9%) datang ke rumah sakit pada stadium IV, secara histopatologi 75% jenis keratinizing squamous cell carsinoma. Sejumlah 41,7% menjalani total laringektomi saja dan 58,3% menjalani total laringektomi disertai diseksi leher. Hasil analisis kurva Kaplan Meier didapatkan angka bertahan hidup pada total laringektomi rata-rata 33,24 bulan dan 34,29 bulan pada total laringektomi dengan diseksi leher. Penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada angka kesintasan pasien karsinoma laring yang menjalani total laringektomi dengan dan tanpa diseksi leher.
SEVERE DIABETIC NEUROPATHY RESULTS IN POOR SLEEP QUALITY IN TYPE-2 DIABETES MELLITUS PATIENTS Atika, Siti; Mutiawati, Endang; Farida, Farida; Suhanda, Rachmad
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 3 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i3.3102

Abstract

Diabetes mellitus merupakan kelainan metabolisme kronis yang dapat menyebabkan komplikasi seperti neuropati diabetik. Neuropati diabetik dapat berimbas pada penurunan kualitas hidup secara substansial akibat gangguan tidur yang disebabkannya. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan keparahan neuropati diabetik dengan kualitas tidur pasien diabetes mellitus tipe 2. Penelitian analitik obervasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian diambil berdasarkan teknik consecutive sampling pada pasien neuropati diabetik yang dirawat jalan di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh pada September–November 2024. 69 responden terpilih sebagai sampel penelitian. Penilaian derajat keparahan neuropati diabetik dilakukan menggunakan Total Neuropathy Score (TNS) dan Neuropathy Symptom Score (NSS). Kualitas tidur dinilai menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil menunjukkan adanya korelasi antara keparahan neuropati diabetik berdasarkan TNS (r=0,492; p-value=0,000) dan NSS (r=0,721; p-value=0,000) dengan kualitas tidur pasien. Skor TNS menunjukkan hubungan yang kuat, dan skor NSS menunjukkan hubungan yang sangat kuat, dengan arah positif terhadap kualitas tidur pasien dengan neuropati diabetik. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan keparahan neuropati menyebabkan peningkatan skor kualitas tidur, yang bermakna sebagai penurunan kualitas tidur pasien dengan neuropati diabetik.
ATTITUDE-TO-ANXIETY CORRELATION OF EPILEPSY PATIENT CAREGIVERS Ismy, Dewi Purnama Sari; Lestari, Nova Dian; Hastuti, Sri; Suhanda, Rachmad
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 35 No. 3 (2025): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v35i3.3103

Abstract

Epilepsi adalah gangguan neurologis yang ditandai dengan kejang tak terduga, yang tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien tetapi juga keluarga atau pendampingnya akibat dampak fisik, kognitif, dan psikososial yang ditimbulkan. Pendamping pasien sering mengalami masalah psikologis yang mungkin berkorelasi dengan sikap mereka terhadap epilepsi. Penelitian terdahulu menunjukkan sikap yang positif terkait epilepsi akan memberikan respon kecemasan yang lebih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sikap dan kecemasan pada pendamping pasien epilepsi di Poliklinik Saraf RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh selama periode Juni hingga Juli 2024. Merupakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional. Subjek penelitian adalah pendamping pasien epilepsi di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh yang dipilih dengan pendekatan probability sampling menggunakan metode simple random sampling. Sebanyak 43 subjek memenuhi kriteria penelitian. Sikap pendamping dinilai menggunakan Public Attitude Toward Epilepsy (PATE), sementara tingkat kecemasan dinilai menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Uji korelasi Spearman digunakan untuk menguji sikap pendamping pasien epilepsi dengan kecemasan pendamping pasien epilepsi (p value >0,05). Hasil penelitian mendapatkan mayoritas sikap pendamping pasien epilepsi adalah positif, sedangkan mayoritas tingkat kecemasan yang dialami adalah kecemasan sedang. Pendamping dengan sikap positif lebih cenderung memiliki kecemasan sedang (42,9%). Namun, hubungan antara sikap dan kecemasan tidak signifikan secara statistik (p=0,87, r=-0,026). Penting halnya untuk setiap pendamping pasien epilepsi mendapatkan edukasi yang komprehensif mengenai penyakit, penanganan, dan prognosis yang dapat membantu sikap yang lebih positif dan mengurangi stigma yang dapat memengaruhi sikap pendamping pasien epilepsi.
DETEKSI DINI TUMOR PAYUDARA DENGAN SADARI DAN PENAPISAN DENGAN ULTRASONOGRAFI DI KOTA BANDA ACEH Yus, Teuku Muhammad; Novirianthy, Rima; Zakaria, Iskandar; Machillah, Nurul; Dwi Susanti, Nurhayani; Zulkarnain, Zulkarnain; Suhanda, Rachmad
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UNSIQ Vol 12 No 1 (2025): Januari
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/ppkm.v12i1.7974

Abstract

Kanker payudara salah satu kanker yang paling banyak ditemui pada perempuan di seluruh dunia. Kemenkes RI melaporkan bahwa dari sekitar 26.550 wanita usia 30-50 tahun yang memiliki benjolan pada payudara, 17,64% diantaranya dicurigai kanker payudara. Sementara di Provinsi Aceh dari 1285 wanita usia yang sama dan memiliki keluhan benjolan payudara, 54,1% dicurigai kanker payudara. Kanker payudara menempati peringkat kedua kematian akibat kanker di Indonesia. Angka mortalitas tersebut diperparah dengan fakta bahwa dari 80% kasus kanker payudara di Indonesia terdeteksi saat stadium lanjut. Menanggapi permasalahan tersebut, kami menyelenggarakan penyuluhan metode pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dan dilanjutkan penapisan dengan pemeriksaan ultrasonografi. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker payudara dan pemeriksaan ultrasonografi payudara. Kegiatan ini melibatkan residen Prodi Radiologi FK USK, Banda Aceh. Hasil pemeriksaan ultrasonografi 12 peserta, 41,67% dengan keluhan dan 58,33% tanpa keluhan, 25% memiliki lesi di payudara dan 75% tidak ditemukan lesi.
Comparison of D-dimer Levels Based on COVID-19 Severity Degree in Third-trimester Pregnant Women at dr. Doris Sylvanus Hospital Nurfianto, Sigit; Adnyana, I Gde Hary Eka; Suhanda, Rachmad; Evrillisa, Ghina Alya; Laurentina, Yoriko
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 4 (2024): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i4.3601

Abstract

Pregnant women are vulnerable to COVID-19 due to the physiological adaptive changes and immunosuppressive state during pregnancy. Various studies on COVID-19 patients have shown the prognostic value of elevated D-dimer. Pregnant women with COVID-19 experience hypercoagulability and hyperfibrinolysis, as indicated by the increased D-dimer levels that exceed normal limits during pregnancy. This study aims to determine the comparison of D-dimer levels based on the COVID-19 severity degree in third-trimester pregnant women at dr. Doris Sylvanus Hospital Palangka Raya. This research is an analytical observational study with a cross-sectional design. It used the medical record data of third-trimester pregnant women confirmed positive for COVID-19 who underwent D-dimer examination at dr. Doris Sylvanus Hospital, Palangka Raya, during November 2020–October 2021, and limited to be generalized to places that has similarity with this hospital. Descriptive analysis in this study used the Kruskal Wallis test and Mann Whitney test. There is a significant difference in D-dimer levels based on the severity of COVID-19 with mild and moderate severity as indicated by the p=0.000 value. In mild and severe severity, the value of p=0.001 means that there is a significant difference, whereas in moderate and severe severity showed a value of p=0.101 which means there was no significant difference. Mild severity has median 1.21, Moderate 2.71 and Severe 4.20. D-dimer and SpO2 data showed non-normally distributed data. It is an important topic to be studied because D-dimer levels can be the parameter for patients with COVID-19 severity status.
Review of Determinants of Nonmedical Caesarean Section in Indonesia: A Systematic Review Nurfianto, Sigit; Suhanda, Rachmad; Yuarta, Ferina Agustia; Refani, Priska; Sembiring, Thyrister Nina Asarya; Mellazulfa, Dhea Sofiana; Laurentina, Yoriko; Yeni, Yeni
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol. 33 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2024.033.01.9

Abstract

Caesarean section (C-section) delivery has increased worldwide. The number of deliveries using the C-section procedure at the age of 10–54 years in Indonesia reached up to 17.6% of the total number of deliveries, due to the presence of medical and nonmedical indications. This study aims to analyze about nonmedical indications of C-section. This study uses a systematic review method. The inclusion criteria for the investigated studies were articles published in 2011–2021, written in English or Bahasa Indonesia, observational studies with case control or cohort as the design, and available to be downloaded in full text. In total, 12 articles were included in this systematic review. The nonmedical factors that influence the C-section procedure are antenatal care, the mother's level of education, residency, health insurance, socio-economics, occupation, previous birth histories, the mother's demand, the family's support and decision-making, and doctor's referral. The government, through the help of health practitioners, needs to increase the education to pregnant women and their families regarding the advantages and disadvantages of their preferred delivery methods.
Multi-stakeholder perspectives on cervical cancer screening implementation in Indonesia: A qualitative study of cervical screening barriers in Banda Aceh Yolanda, Febrina; Dewi, Tgk. Puspa; Nainggolan, Sarah I.; Munawar, Munawar; Munizar, Munizar; Bulqini, Rijal; Suhanda, Rachmad; Rusnaidi, Rusnaidi
Narra J Vol. 6 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v6i1.3022

Abstract

Indonesia is committed to the WHO's cervical cancer elimination strategy through the National Action Plan (RAN) 2023–2030, targeting 75% screening coverage by 2030. However, current rates remain critically low at 7.02%. This study explores multi-stakeholder perspectives to identify implementation barriers and facilitators for policy enhancement. A qualitative descriptive case study was conducted in Banda Aceh (July-August 2025) involving 25 stakeholders: City Health Office Head, 11 puskesmas heads, 11 VIA coordinators and 2 community organization representatives. Thematic analysis using NVivo v.16 identified key implementation factors. Five major themes emerged: (1) Knowledge gaps—screening perceived necessary only when symptomatic despite available information; (2) Access paradox—excellent geographic access and flexibility undermined by limited examination rooms, insufficient midwives, and psychosocial barriers (shame, fear, lack of spousal support); (3) Financial sustainability—free services threatened by complex BPJS claims and low reimbursement affecting logistics; (4) Service quality variation—dependent on cross-sector collaboration and staff competency, with uneven training and limited cryotherapy (only 2 centers); and (5) Communication challenges—inconsistent digital media use necessitates face-to-face counseling and cadres, though reach remains limited. Implementation faces psychological barriers, capacity limitations, and uneven digital adoption despite strong infrastructure. Priority policy recommendations include: (1) HPV DNA self-sampling to overcome privacy barriers; (2) simplified BPJS claims with adequate reimbursement; (3) systematic competency-building and cryotherapy expansion; and (4) culturally-adapted education integrating local language and religious leaders. These evidence-based enhancements could accelerate Indonesia's RAN 2030 elimination targets.
Determinants of intrauterine device use among reproductive-age women in a province implementing Islamic Sharia law in Indonesia: An application of the theory of planned behavior Purnama, Dean R.; Dewi, Tgk. Puspa; Rusnaidi, Rusnaidi; Utami, Niken A.; Aditya, Rizka; Suhanda, Rachmad
Narra J Vol. 6 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Narra Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52225/narra.v6i1.3025

Abstract

The utilization of the intrauterine device (IUD) in Indonesia remains low at 3.9%, despite its high effectiveness (99.4%) and designation as a national family planning priority, suggesting the presence of psychosocial barriers influencing contraceptive behavior among women of reproductive age. This study aimed to analyze psychosocial factors influencing IUD use behavior based on the theory of planned behavior, including attitudes, subjective norms, perceived behavioral control, actual behavioral control, and intention, in Banda Aceh—the only province in Indonesia implementing holistic Sharia law. A quantitative cross-sectional study was conducted among women of reproductive age from six urban public health centers using cluster random sampling. Data were collected through face-to-face interviews using a structured TPB-based questionnaire validated for reliability. Statistical analyses included linear regression and binary logistic regression with a significance level set at p<0.05. A total of 442 women were included in the final analysis. Attitude toward IUD use, subjective norms, and perceived behavioral control were all significantly associated with intention to use an IUD, all had p<0.001. Attitudes toward IUD use (B=0.410; p<0.001; R²=0.213), subjective norms (B=0.552; p<0.001; R²=0.413), perceived behavioral control (B=0.273; p<0.001; R²=0.255), and actual behavioral control (B=0.273; p<0.001; R²=0.255) were all significantly associated with IUD use behavior. Intention to use an IUD emerged as the strongest predictor of IUD use behavior (B=0.780; p<0.001; R²=0.566). Intention to use an IUD emerged as the strongest predictor of IUD use behavior (B=0.78; p<0.001; R²=0.56). This study highlights that all intention was shaped by positive attitudes, strong subjective norms, and a high level of behavioral control. Efforts to increase IUD use should therefore focus on educational interventions, strengthening partner and social support, and improving the accessibility and quality of long-acting contraceptive services.