Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Reaktor

PENGNARUH SENSITIVITAS PARAMETER OPERASI TERHADAP TERJADINYA REAKSI RUNAWAY PADA OKSIDASI METANOL MENJADI FORMALDEHID Luqman Buchori; Suherman Suherman
Reaktor Volume 10 No. 1 Juni 2006
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.10.1.1-8

Abstract

Formaldehida sebagai senyawa aldehida memiliki keistimewaan yaitu dapat bereaksi dengan hampir semua senyawa organik maupun anorganik sehingga formaldehida amat luas penggunaannya dalam industri yang ada. Reaksi oksidasi metanol menjadi formaldehida banyak dilakukan dalam reaktor anggun tetap. Dalam pengoperasiannya, di dalam reaktor ini sering dijumpai adanya fenomena yang  sangat  komplikatif dan mengganggu jalannya operasi yaitu distribusi aliran tidak merata (flow maldistribution) dan panas terlokalisir (hot spot). Kedua fenomena ini  sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan terjadinya reaksi "runaway", yakni terjadinya kenaikan temperatur dan tekanan  reaktor yang sangat hebat secara mendadak. Penelitian ini  bertujuan untuk mengetahui distribusi temperatur sepanjang reaktor unggun tetap akibat pengaruh variabel operasi serta mempelajari pengaruh sensitivitas parameter operasi tehadap terjadinya reaksi runaway. Penelitian dilakukan dengan percobaan pengamatan distribusi tempeatur pusat reaktor secara aksial dan pemodelan untuk mengetahui kapan terjadinya reaksi runaway. berdasarkan hasil percobaan, pada temperatur umpan mendekati temperatur reaksi, semakin besar laju alir massa umpan total maka suhu yang teramati semakin besar pula. Demikian pula pada pengaruh umpan, semakin besar tempperatur umpan maka temperatur keluaran reaktor juga semakin besar. Hasil penyepakatan secara umum menunjukkan pendekatan yang bagus dengan hasil eksperimen. Reaksi runaway terjadi pada hasil simulasi dimana parameter operasi yang berpengaruh adalah fraksi metanol. dalam penelitian ini direkomendasikan bahwa fraksi methanol dalam umpan tidak boleh lebih dari 0,1.
ULTRAFILTRATION AS PRETREATMENT OF REVERSE OSMOSIS: LOW FOULING ULTRAFILTRATION MEMBRANE PREPARED FROM POLYETHERSULFONE–AMPHIPHILIC BLOCK COPOLYMER BLEND Heru Susanto; Luqman Buchori; Siswo Sumardiono; Berkah Fajar; Titik Istirokhatun; I Nyoman Widiasa
Reaktor Volume 12, Nomor 4, Desember 2009
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.104 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.12.4.203 – 210

Abstract

This paper demonstrates the preparation of polyethersulfone (PES) ultrafiltration (UF) membranes via wet phase inversion method using either poly(ethylene oxide)-b-poly(propylene oxide)-b- poly(ethylene oxide) (Pluronic®, Plu) or polyethylene glycol (PEG) as hydrophilic modifier. Their effects on membrane structure as well as the resulting membrane performance and their stability in membrane polymer matrix were systematically investigated. The investigated membrane characteristics include surface hydrophilicity (by contact angle), surface chemistry (by FTIR spectroscopy) and water flux measurement. Visualization of membrane surface and cross section morphology was also done by scanning electron microscopy. The membrane performance was examined by investigation of adsorptive fouling and ultrafiltration using solution of bovine serum albumin as the model system. The stability of additive was examined by incubating the membrane in water (40oC) for up to 10 days. The results show that modification effects on membrane characteristic and low fouling behavior were clearly observed. Further, amphiphilic Pluronic generally showed better performance than PEG.   
PLASTIC WASTE CONVERSION TO LIQUID FUELS OVER MODIFIED-RESIDUAL CATALYTIC CRACKING CATALYSTS: MODELING AND OPTIMIZATION USING HYBRID ARTIFICIAL NEURAL NETWORK – GENETIC ALGORITHM Istadi Istadi; Luqman Buchori; Suherman Suherman
Reaktor Volume 13, Nomor 3, Juni 2011
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.398 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.13.3.131-139

Abstract

The plastic waste utilization can be addressed toward different valuable products. A promising technology for the utilization is by converting it to fuels. Simultaneous modeling and optimization representing effect of reactor temperature, catalyst calcinations temperature, and plastic/catalyst weight ratio toward performance of liquid fuel production was studied over modified catalyst waste. The optimization was performed to find optimal operating conditions (reactor temperature, catalyst calcination temperature, and plastic/catalyst weight ratio) that maximize the liquid fuel product. A Hybrid Artificial Neural Network-Genetic Algorithm (ANN-GA) method was used for the modeling and optimization, respectively. The variable interaction between the reactor temperature, catalyst calcination temperature, as well as plastic/catalyst ratio is presented in surface plots. From the GC-MS characterization, the liquid fuels product was mainly composed of C4 to C13 hydrocarbons.KONVERSI LIMBAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR CAIR DENGAN METODE PERENGKAHAN KATALITIK MENGGUNAKAN KATALIS BEKAS YANG TERMODIFIKASI: PEMODELAN DAN OPTIMASI MENGGUNAKAN GABUNGAN METODE ARTIFICIAL NEURAL NETWORK DAN GENETIC ALGORITHM. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan untuk menghasilkan produk yang lebih bernilai tinggi. Salah satu teknologi yang menjanjikan adalah dengan mengkonversikannya menjadi bahan bakar. Permodelan, simulasi dan optimisasi simultan yang menggambarkan efek dari suhu reaktor, suhu kalsinasi katalis, dan rasio berat plastik/katalis terhadap kinerja produksi bahan bakar cair telah dipelajari menggunakan katalis bekas termodifikasi Optimisasi ini ditujukan untuk mencari kondisi operasi optimum (suhu reaktor, suhu kalsinasi katalis, dan rasio berat plastik/katalis) yang memaksimalkan produk bahan bakar cair. Metode Hybrid Artificial Neural Network-Genetic Algorithm (ANN-GA) telah digunakan untuk permodelan dan optimisasi simultan tersebut. Inetraksi antar variabel suhu reaktor, suhu kalsinasi katalis, dan rasio berat plastik/katalis digambarkan dalam bentuk plot surface. Berdasarkan karakterisasi GC-MS, produk bahan bakar yang diperoleh terdiri dari komponen-komponen hidrokarbon C4-C13.
KARAKTERISASI PROSES PENGERINGAN JAGUNG DENGAN METODE MIXED-ADSORPTION DRYING MENGGUNAKAN ZEOLITE PADA UNGGUN TERFLUIDISASI Hargono Hargono; Mohamad Djaeni; Luqman Buchori
Reaktor Volume 14, Nomor 1, April 2012
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.265 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.1.33-38

Abstract

CHARACTERIZATION OF CORN DRYING PROCESS USING MIXED-ADSORPTION DRYING METHOD UTILIZING ZEOLITE PARTICLES IN A FLUIDIZED BED SYSTEM. Corn (Zea mays L.) representing important food requirement besides paddy and wheat. Handling of time after rice harvest become the priority so that corn quality can be awaked better. Drying process by adsorption-fluidized bed become a choice to replace the conventional corn drying systems. This research aim to look for the effect of the inlet air temperature, type of zeolite, and ratio of corn and zeolite to drying rate, content of protein and fat, and to calculate dying rate constant, k. Energy efficiency is calculated based on amount of heat is used to evaporate the water from corn (Qevap) divided by total of heat requirement for the regeneration of zeolite and increase the air temperature (Qintr). This research conducted by mixing zeolite as adsorben with the corn with the certain comparison ratio in the fluidized bed at temperature of 30-50oC. Results of research indicate that the fastest drying rate is marked by biggest water rate degradation that happened at 50oC by zeolite sintetis and ratio of corn and zeolite is 25:75%. Drying rate constant is 0.0303. Protein content degradates from 9.10% to 8.30%, while for the content of fat is constant. Energy efficiency is obtained of 81.23%. Jagung (Zea mays L.) merupakan kebutuhan pangan yang penting selain padi dan gandum sehingga penanganan paska panen menjadi prioritas agar kualitas jagung dapat terjaga dengan baik. Proses pengeringan dengan cara adsorpsi-unggun terfluidisasi menjadi suatu pilihan untuk menggantikan sistim pengering jagung konvensional yang boros energi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh suhu udara masuk, jenis zeolite, dan rasio berat jagung dan zeolite terhadap kecepatan pengeringan, kandungan protein dan lemak dan menghitung harga konstanta laju pengeringan, k. Untuk keperluan energi dihitung pula efisiensi energi (h) berdasarkan jumlah panas yang digunakan untuk menguapkan air dari jagung (Qevap) dibagi dengan kebutuhan panas total untuk meregenerasi zeolite dan menaikkan suhu udara (Qintr). Penelitian dilakukan dengan mencampurkan zeolite sebagai adsorben dengan jagung dengan rasio perbandingan tertentu dalam suatu unggun yang difluidisasi menggunakan udara pada suhu percobaan 30-50oC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan paling cepat ditandai oleh penurunan kadar air yang paling besar yang terjadi pada suhu 50oC dengan menggunakan zeolite sintetis dan dengan rasio berat jagung dan zeolite adalah 25% : 75%. Nilai konstanta laju pengeringan diperoleh 0,0303. Kadar protein terjadi penurunan dari 9,10% menjadi 8,30%, sedangkan untuk kandungan lemaknya relatif tetap. Hasil perhitungan diperoleh efisiensi energi (h) sebesar 81,23%.
EFEK PENYIMPANAN BIODIESEL BERDASARKAN STUDI KAJIAN DEGRADASI BIODIESEL CPO Silviana Silviana; Luqman Buchori
Reaktor Volume 15 No.3 April 2015
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.812 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.15.3.148-153

Abstract

BIODIESEL STORAGE EFFECT BASED ON DEGRADATION OF CPO BIODIESEL Biodiesel denotes as ester mono alkyl of long chain fatty acid such as CPO (crude palm oil) which can biologically degrade more than 98% within three (3) weeks, whereas fossil fuel degrade partially only. The objective of research was to investigate degradation of biodiesel during storage. The scope of this research covered the container design, storage condition, initial analysis of CPO biodiesel, and degradation rate during product storage by using oxidation rate of biodiesel. The results showed that there was degradation on CPO biodiesel during product storage. It can be seen from increasing of acid value and saponification number, decreasing of iodine number, increasing of total glycerol value, and decreasing of ester number in biodiesel product. Storage period prediction of biodiesel can be approached by using equation, i.e. ????=0.0012????2−0.0052????+0.0609. In this research, the maximum storage period of CPO biodiesel achieved at 27 weeks. Other result showed that well storage was achieved with closed-galvanized container.Keywords: biodiesel; CPO; degradation; storage period AbstrakBiodiesel merupakan ester mono alkil dari asam lemak rantai panjang, seperti CPO (crude palm oil) yang terdegradasi lebih dari 98% secara biologi dalam 3 minggu, sedangkan bahan bakar diesel hanya terdegradasi sebagian. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati proses degradasi biodiesel selama masa penyimpanan. Penelitian ini meliputi rancangan tangki biodiesel, kondisi penyimpanan, analisa awal biodiesel, dan studi laju degradasi pada tahap penyimpanan produk dengan ditelaah laju oksidasi pada biodiesel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode proses penyimpanan terjadi proses degradasi biodiesel. Hal ini terlihat dari hasil analisa yang menunjukkan bahwa terjadi kenaikan angka asam selama proses penyimpanan, kenaikan angka penyabunan, penurunan bilangan iodine, kenaikan kadar gliserol total dan penurunan kadar ester di dalam biodiesel. Prediksi periode penyimpanan biodiesel dapat didekati dengan persamaan ????=0,0012????2−0,0052????+0,0609. Dari persamaan tersebut diperoleh bahwa periode maksimal penyimpanan biodiesel adalah 27 minggu. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penyimpanan biodiesel CPO yang paling baik adalah dengan menggunakan bahan galvanized dengan kondisi penyimpanan yang tertutup.
UPAYA PENINGKATAN MUTU DAN EFISIENSI PROSES PENGERINGAN JAGUNG DENGAN MIXED-ADSORPTION DRYER Luqman Buchori; Mohamad Djaeni; Laeli Kurniasari
Reaktor Volume 14, No. 3, APRIL 2013
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.285 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.14.3.193-198

Abstract

THE EFFORT OF EFFICIENCY AND QUALITY IMPROVEMENT ON CORN DRYING PROCESS USING MIXED-ADSORPTION DRYER. The main problem in corn drying process is the low of energy efficiency (50%) and quality products. Consequently, operating costs in large for fuel consumption and the short shelf life of corn. Zeolite adsorption dryers have the potential to overcome this problem. This research aims to study composition of corn-zeolite and the effect of temperature on drying speed and protein and fat content in corn. Research variables are the ratio of corn and zeolite (1:0, 1:3, 1:1, 3:1) and intake air temperature (room temperature, 30oC, 40oC, 50oC). Sampling for moisture testing performed every 15 minutes. For energy purposes also calculated the energy efficiency (h) based on the amount of heat used to evaporate water from the corn (Qevap) divided by the total heat requirement to regenerate the zeolite and raising the air temperature (Qintr). Profiles of temperature and water in the mixed adsorption dryer are also studied. The results showed that the greater number of zeolite used, the water content of the final outcome a little more drying, protein and fat content of the final result of drying is relatively constant. The larger intake air temperature, the water content of the less drying results, protein content decreases, and the fat content does not change/relatively constant. The best variable was a ratio of corn: zeolite is 1:3 and air temperature was 50oC. While the variables that are suitable and in accordance with ISO standards for dry foods (14%) are air temperature of between 40oC and 50oC with a ratio of corn:zeolite is 1:3. The energy efficiency of 81.23% is obtained. Modeling done with FEMLAB (COMSOL) can describe the moisture content and temperature profiles in the corn and zeolite. Keywords: corn; drying; energy efficiency; mixed adsorption dryer; zeolite Abstrak Masalah utama proses pengeringan jagung adalah rendahnya efisiensi energi (50%) dan mutu produk sehingga beban biaya operasi besar untuk konsumsi bahan bakar. Pengering adsorpsi dengan zeolite berpotensi untuk mengatasi permasalahan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh komposisi jagung-zeolite dan suhu terhadap kecepatan pengeringan dan kandungan protein dan lemak di dalam jagung. Penelitian dilakukan dengan variabel berubah yaitu rasio antara jagung dan zeolit (1:0, 1:3, 1:1, 3:1) dan suhu udara masuk (suhu kamar, 30oC, 40oC, 50oC). Pengambilan sampel untuk pengujian kadar air dilakukan setiap 15 menit. Untuk keperluan energi dihitung pula efisiensi energi (h) berdasarkan jumlah panas yang digunakan untuk menguapkan air dari jagung (Qevap) dibagi dengan kebutuhan panas total untuk meregenerasi zeolit dan menaikkan suhu udara (Qintr). Profil temperatur dan air di dalam mixed adsorption dryer juga dipelajari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah zeolit yang digunakan, kadar air hasil akhir pengeringan makin sedikit, kadar protein dan lemak hasil akhir pengeringan relatif konstan. Semakin besar suhu udara masuk pengering, kadar air hasil pengeringan makin sedikit, kadar protein semakin menurun, dan kadar lemak tidak berubah/relatif konstan. Variabel yang terbaik adalah variabel dengan rasio jagung:zeolit yaitu 1:3 dan menggunakan suhu udara pengering 50oC. Sedangkan variabel yang cocok dan sesuai dengan standar SNI untuk makanan kering (14%) adalah variabel dengan menggunakan suhu udara pengering antara 40oC dan 50oC dengan rasio berat jagung : zeolit adalah 1:3. Efisiensi energi diperoleh sebesar 81,23%. Pemodelan yang dilakukan dengan Femlab (COMSOL) dapat menggambarkan profil kandungan air dan suhu di dalam jagung dan zeolit. Kata kunci : jagung; pengeringan; efisiensi energi; mixed adsorption dryer; zeolit
SINTESIS MEMBRAN ULTRAFILTRASI NON FOULING UNTUK APLIKASI PEMPROSESAN BAHAN PANGAN Luqman Buchori; Heru Susanto; Budiyono Budiyono
Reaktor Volume 13, Nomor 1, Juni 2010
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.398 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.13.1.10-15

Abstract

Membran ultrafiltrasi (UF) telah terbukti sebagai proses yang menjanjikan untuk aplikasi di bidang pemprosesan bahan pangan. Namun, peristiwa fouling dapat menurunkan kinerja membran secara signifikan. Meskipun banyak metode pengendalian fouling telah diusulkan, dalam banyak kasus kinerja proses sangat dipengaruhi oleh membran sebagai jantung dari proses. Dalam makalah ini pengendalian fouling dilakukan dengan memodifikasi permukaan membran dengan teknik kopolimerisasi foto-grafting. Acrylic acid (AA), acrylamido methylpropane sulfonic acid (AMPS), poly(ethylene glycol) methacrylate (PEGMA), dan N,N-dimethyl-N-(2-methacryloyloxyethyl-N-(3sulfopropyl)ammonium betaine sebagai senyawa zwitterion (ZI) digunakan sebagai monomer fungsional. Pengaruh waktu iradiasi terhadap efektifitas modifikasi telah diamati. Kinerja membran hasil modifikasi kemudian diuji dengan menggunakan berbagai model larutan foulant yang meliputi larutan protein, larutan polisakarida dan larutan polifenol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat non fouling membran sangat jelas dapat ditingkatkan baik dengan PEGMA maupun dengan ZI. Secara umum, modifikasi menggunakan PEGMA menunjukkan kinerja yang lebih baik. Larutan polifenol menunjukkan karakter foulant yang paling kuat diantara model foulant.
Biodiesel Production from Waste Cooking Oil Purified with Activated Charcoal of Salak Peel Luqman Buchori; Dinda Labibah Ubay; Khonsa Syahidah
Reaktor Volume 18 No. 3 September 2018
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.055 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.18.03.149-154

Abstract

Biodiesel is one of diesel fuel alternative made from renewable resources such as vegetable oils and animal fats. One of the natural ingredients that can be used as a material in the production of biodiesel is waste cooking oil (WCO). Biodiesel from WCO can be made through a transesterification reaction using a CaO catalyst. Free fatty acid (FFA) content in WCO needs to be reduced by activated charcoal adsorption. This research aims to determine the optimum time of adsorption by activated charcoal that made from salak peel and to determine the effect of transesterification temperature on biodiesel yield. The results showed that the FFA content of WCO decrease from 6.16% to 0.224% with adsorption time is 80 minutes and 10 gram of activated charcoal. Biodiesel yield increase by increasing transesterification temperature. The appropriate temperature is 50oC with 86.40% of yield, 887.2 kg/m3of density, 5.174 mm2/s of kinematic viscosity and acid number 0.421 mg KOH/gram sample. The composition of alkyl ester was obtained 65.54% with a FAAE yield of 56.63%.
PEMBUATAN GULA NON KARSINOGENIK NON KALORI DARI DAUN STEVIA Luqman Buchori
Reaktor Volume 11, Nomor 2, Desember 2007
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.829 KB) | DOI: 10.14710/reaktor.11.2.57-60

Abstract

Stevia merupakan bahan pemanis selain tebu dengan kelebihan tingkat kemanisan 200 – 300 kali dari gula tebu dan diperoleh dari estrak daun stevia. Pembuatan gula stevia dilakukan dengan metode ekstraksi untuk mengambil stevioside kemudian dipekatkan dengan cara evaporasi lalu dikristalisasi sehingga diperoleh kristal stevioside. Dalam penelitian ini dicari pengaruh suhu (45°C; 50°C; 55°C), pengaruh waktu ekstraksi (1 ; 1,5 ; 2 jam), serta pengaruh jenis solvent yang digunakan (metanol, etanol, aseton) terhadap berat gula yang didapatkan. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa semakin tinggi suhu maka jumlah produk yang terekstrak semakin banyak, baik untuk solvent metanol maupun etanol. Sedangkan untuk solvent aseton kondisi optimum dicapai pada suhu 50°C. Untuk waktu ekstraksi, semakin lama waktu ekstraksi jumlah produk yang terekstrak semakin banyak. Untuk jenis solvent yang digunakan, metanol lebih banyak mengekstrak produk dibanding etanol maupun aseton. Produk yang diperoleh mempunyai range pH antara 5,2 – 5,5, titik leleh antara 196 – 198 °C, dan densitas antara 1,43 – 1,67, dimana harga-harga tersebut berada di dalam range pH, titik leleh, dan densitas gula stevia.
Effect of CaO/Fe2O3 Ratio and Oil/Methanol Molar Ratio on Biodiesel Production from Waste Cooking Oil Buchori, Luqman; Setiadi, Iqfan Dwi; Nurushofa, Faustina Alda; Anggoro, Didi Dwi
Reaktor Volume 24 No.1 April 2024
Publisher : Department of Chemical Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.24.1.1-6

Abstract

Biodiesel is a renewable liquid fuel that can be produced through the transesterification reaction of biomass. The objective of this research was to examine the effect of comparative composition of CaO and Fe2O3 on CaO/Fe2O3 catalysts from eggshells and Fe2O3 in the production of biodiesel from waste cooking oil. In addition, it was also studied the effect of the ratio of oil and methanol on the yield and characteristics of the biodiesel produced. Catalysts were prepared through impregnation. The esterification-transesterification process was carried out with the conditions WCO:methanol molar ratio of 1:3, 1:6, 1:9, 1:12 and 1:15, catalyst (3%wt oil), heated at 65°C for 3 hours with a stirring scale of 1200 rpm. The results showed biodiesel production using CaO: Fe2O3 catalyst with the ratio of CaO: Fe2O3 70:30 and WCO:methanol molar ratio of 1:9 obtained higher yield (84.5%) compared to others. The best biodiesel yield produced is the CaO:Fe2O3 catalyst ratio of 70:30 and the WCO:methanol molar ratio of 1:9 with a biodiesel yield of 84.50% with a methyl ester content of 99.63% and a FAME yield of 84.14%. The biodiesel produced has met the requirements of the Indonesian National Standard (SNI) in terms of density and viscosity.
Co-Authors . Widayat Amin Nugroho Anggun Kurniawan Anindita Indriana Aprilina Purbasari Ardian D. Yudhistira Aris Bagus Pradana, Aris Bagus Arman, Mhd. Adithia Perdana Arum Sakti Prasetyo Astrilia Damayanti B Budiyono Berkah Fajar Bintang Ayu Kalimantini Boby Gusman Irianto Samosir Budi Sasongko Setia Budiyono Budiyono Chusnul Khotimah Dewi Fatmawati Didi D. Anggoro Didi D. Anggoro Didi Dwi Anggoro Dinda Labibah Ubay Dyah Hesti Wardhani Dyah Hesti Wardhani Fachmy Adji Pangestu Setiawan Faleh Setia Budi Faleh Setia Budi Faleh Setia Budi Fegi Yuliandri Fradriyan Aulia Giveni Christina Silaen Hadiyanto Hantoro Satriadi Hargono Hargono Harum Nissaulfasha Herawati Oktavianty Heri Cahyono Heru Susanto I Nyoman Widiasa I. Istadi I.G.B Ngurah Makertihartha Indro Sumantri Inshani Utami Istadi Istikhoratun, Titik JD Ryan Christy S Khonsa Syahidah Kusmiyati Kusmiyati Laeli Kurniasari M. Dani Supardan M. Dani Supardan M. Djaeni Maria Augustine Graciafernandy Meitiandari Mutiara Mhd. Shaumi Al Anshar Muhamad, Theobroma Guntur Muhammad Ulil Absori Nadia Taradissa Maheswari Ndaru Okvitarini Ngadi, Norzita Nita Aryanti Norzita Ngadi Nur Hidayati Nurjati Solikhin Nurul Aishah Aishah Nurushofa, Faustina Alda Okryreza Abdurrachman P Purwanto Pakpahan, Agnes J. Pakpahan, Andre W. S. Pratama, Pambudi Pajar Pratama, Wahyu Diski Pratiwi, Wahyu Zuli Purwanto Purwanto Purwanto Purwanto Putri Diliyan Shakti Ratnawati Ratnawati Resti Nur Utami Riko Rikardo Putra Riyanto, Teguh Rizki Andre Handika Roikhatus Solikhah Salsabila, Unik Hanifah Saputra, Roni Ade Setia Budi Sasongko Setia Budi Sasongko Setiadi, Iqfan Dwi Silviana Silviana Siswo Sumardiono Suherman Suherman Suherman Suherman Sulardjaka Sulardjaka Sulardjaka, S Syarief, Elijah Teguh Riyanto Teuku Irfan Maulana Titik Istirokhatun Udin Mabruro Wahyu Fitriani Widayat Widayat Widayat Yayuk Astuti Yazid Bindar Yazid Bindar Yudha Duta Utama