Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Psychological Dimensions of Polygamy: Exploring Motivation, Adaptation, and Marital Conflict in Multiple-Partnership Relationships Salbiah, Siti; Supriatna, Encup; Irfan; Idawati
International Journal of Science and Society Vol 7 No 4 (2025): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v7i4.1595

Abstract

Polygamy is a form of plural marriage that generates complex psychological dynamics for all individuals involved. This practice is not only associated with legal and religious dimensions, but also engages deeper psychological aspects, including personal motivations, emotional adaptation processes, gender-based power relations, and intrapersonal as well as interpersonal conflicts within family life. This article aims to analyze the psychological aspects of polygamy by focusing on three main dimensions: (1) individuals’ psychological motivations for engaging in or accepting polygamous marriage, (2) patterns of psychological adaptation that develop within polygamous families, and (3) forms of psychological conflict and their implications for mental health. This study employs a qualitative method through a library research approach and a descriptive-analytical analysis of literature in psychology, family sociology, and gender studies. The findings indicate that polygamy is often associated with high levels of emotional tension, particularly among women and children, and tends to encourage coping mechanisms that are not always adaptive in the long term. This article emphasizes that a psychological perspective is a crucial element in understanding, evaluating, and formulating social and policy responses to polygamous practices in a more comprehensive manner.
PERKAWINAN BEDA AGAMA PASCA SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 2 TAHUN 2023 DALAM PERSPEKTIF HIFZ AL-DIN DAN HAK KONSTITUSIONAL MEMBENTUK KELUARGA Lestari, Elly; Supriatna, Encup; Fahmi, Irfan
ANDREW Law Journal Vol. 4 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : ANDREW Law Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61876/alj.v4i2.114

Abstract

Terbitnya Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 2 Tahun 2023 menandai pergeseran paradigma hukum keluarga di Indonesia, dari praktik judicial activism yang membuka celah perkawinan beda agama, menuju restriksi administratif yang menutup total praktik tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikasi yuridis SEMA tersebut dengan membenturkan dua perspektif diametral: doktrin perlindungan agama (Hifz al-Din) dan hak konstitusional warga negara. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Temuan penelitian menunjukkan bahwa: (1) SEMA No. 2 Tahun 2023 merupakan manifestasi Sadd al-Dzarai (tindakan preventif) negara untuk menjaga kemurnian akidah dan mencegah kerancuan status nasab anak (Hifz an-Nasl); (2) Dalam tata hukum Indonesia, hak membentuk keluarga (Pasal 28B UUD 1945) dikategorikan sebagai derogable rights yang pelaksanaannya dibatasi oleh nilai-nilai agama sebagaimana diatur dalam Pasal 28J ayat (2) UUD 1945; (3) Meskipun menciptakan kepastian hukum dan unifikasi tafsir hakim, SEMA ini berpotensi memicu resistensi hukum berupa penyelundupan hukum (smuggling of law) melalui perkawinan di luar negeri atau perpindahan agama semu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa SEMA No. 2 Tahun 2023 meneguhkan posisi Indonesia sebagai negara hukum berketuhanan yang menempatkan validitas teologis sebagai prasyarat mutlak validitas administratif perkawinan.