Claim Missing Document
Check
Articles

BONEKA “MENONG” SEBAGAI IKON PURWAKARTA: PENGARUH MASYARAKAT TERHADAP WUJUD KERAMIK “MENONG” Futty, Andini; Cahyana, Agus; Falah, Asep Miftahul
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i3.1776

Abstract

The research in this paper aims to describe how the development, process of creation, anthropological concepts, and the influence of society on the form of "Menong" ceramics. This research is a qualitative descriptive study. Sources of data used are primary and secondary data. Data collection techniques used observation techniques, namely techniques used to collect data by seeing and hearing, interviews, namely data collection techniques by way of question and answer between researchers and sources, and documentation was needed to complete things that were not enough, in the form of documents or stored records. This study focuses on the culture and traditions that exist in the Plered Purwakarta community. The results of this study indicate that Kec. Plered has a very well-known traditional art, namely ceramics. Where the visual form of Plered ceramics has symbols that are interpreted and trusted by the surrounding community. "Menong" ceramics also have symbols that reflect the community and the region, namely the City of PurwakartaKeywords: Culture, Tradition, Belief, Symbol------------------------------------------------------------------------------------------Penelitian dalam makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perkembangan, proses penciptaan, konsep antropologi, dan pengaruh masyarakat terhadap wujud keramik “Menong”. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan ialah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi yaitu teknik yang dipakai untuk mengumpulkan data dengan cara melihat dan mendengar, wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab antara peneliti dan narasumber, dan dokumentasi diperlukan untuk melengkapi hal-hal yang kurang cukup, berupa dokumen atau catatan tersimpanPenelitian ini difokuskan kepada kebudayaan dan tradisi yang ada pada masyarakat Plered Purwakarta. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kec. Plered memiliki seni tradisi yang sangat dikenal yaitu kerajinan keramik. Dimana bentuk visual keramik Plered memiliki simbol yang diartikan dan dipercayai oleh masyarakat sekitar. Keramik “Menong” juga memiliki simbol yang mencerminkan masyarakat dan daerahnya, yaitu Kota Purwakarta.Kata Kunci : Kebudayaan, Tradisi, Kepercayaan, Simbol
BUDAYA VISUAL SEBAGAI IDENTITAS KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT PULAU SAMOSIR Desanto, Didik; Emilda, Nia; Cahyana, Agus
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 10 No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v10i3.2320

Abstract

Samosir Island, located in North Sumatra Province is one of the tourist destinations because it is known for its natural beauty, not only that Samosir Island is also known for its visual cultural diversity, as evidenced by the existence of visual culture centers on Samosir Island such as Huta Siallagan Village, Tourism Village The Sigale-gale Tomok culture, as well as the Tomok Batak museum make Samosir Island a local wisdom identity for the people of Samosir Island, especially those in the visual culture. This paper is part of the scope of Community Service activities carried out on Samosir Island which describes visual culture. The approach used is a qualitative approach with a descriptive method with the aim of describing the existing visual culture as the identity of the local wisdom of the people of Samosir Island.Keywords: visual culture, identity, local wisdom, Samosir island community----------------------------------------------------------------------------------Pulau Samosir terletak di Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu destinasi wisata karena dikenal dengan keindahan alamnya, tidak hanya itu Pulau Samosir juga dikenal dengan keragaman budaya visual yang dimiliki, terbukti dengan adanya sentra budaya visual yang ada di Pulau Samosir seperti Kampung Huta Siallagan, Desa Wisata Budaya Sigale-gale Tomok, serta museum Batak Tomok menjadikan Pulau Samosir memiliki identitas kearifan lokal bagi masyarakat Pulau Samosir khususnya yang ada pada budaya visual tersebut. Tulisan ini merupakan bagian dari cakupan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat yang dilakukan di Pulau Samosir yang mendeskripsikan tentang budaya visual. Adapun pendekatan yang digunakan ialah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dengan tujuan untuk mendeskripsikan budaya visual yang ada sebagai identitas dari kearifan lokal masyarakat Pulau Samosir.Kata Kunci: budaya visual, identitas, kearifan lokal, masyarakat pulau Samosir.
PROSES KREATIF FONNA MELANIA DALAM PENCIPTAAN MOTIF "MASAGI" BATIK LOKATMALA KOTA SUKABUMI JAWA BARAT Cahyani, Isma Awal Fitroh; Cahyana, Agus; Sudjana, Anis
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 11 No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v11i1.2332

Abstract

The “Masagi” batik motif is the first batik motif produced by the Lokatmala batik house, created by a batik designer/craftsman named Fonna Melania. Initial and pre-designed ideas in the creation of “Masagi” motifs identify a problem or background in the creative process of creating unique and distinctive motifs. This study aims to describe (1) Fonna Melania’s creative process in creating the “Masagi” motif. (2) Fonna’s level of creativity in creating the “Masagi” motif. (3) Aesthetics of the “Masagi” motif. This research will use a qualitative descriptive method, with a theoretical approach to the psychology of art and aesthetics. Data were collected through interviews, observations and documentation and descriptive data analysis techniques through research data reduction, research data presentation and conclusion. Keywords: batik, “Masagi” motif, creative process, Fonna Melani ------------------------------------------------------------------------------------ motif batik “Masagi” merupakan motif batik pertama yang diproduksi oleh rumah batik Lokatmala, diciptakan oleh seorang desainer/pengrajin batik bernama Fonna Melania. Gagasan awal dan pradesain dalam penciptaan motif “Masagi” mengidentifikasi suatu masalah atau latar belakang dalam proses kreatif penciptaan motif yang unik dan khas. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan (1) Proses kreatif Fonna Melania dalam penciptaan motif “Masagi”. (2) Tingkat kreativitas Fonna dalam menciptakan motif “Masagi”. (3) Estetika motif “Masagi”. Penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan pendekatan teori psikologi seni dan estetika. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dan teknik analisis data secara deskriptif melalui cara reduksi data penelitian, penyajian data penelitian dan penarikan kesimpulan. Kata kunci: batik, motif “Masagi”, proses kreatif, Fonna Melania.
Seni Lukis Modern Bernafaskan Islam di Bandung 1970-2000an Cahyana, Agus; Dienaputra, Reiza D; Sabana, Setiawan; Nugraha, Awaludin
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1136

Abstract

ABSTRACTWriting the history of the development of modern Indonesian painting from thematic point of viewstill refers to importance events that compose the mainstream of contemporary art trends in Indonesiainfluenced by the West. While events that are no less important relating to the emergence of aesthetictendencies related to religion have been marginalized, especially in modern art with Islamic breath becomeimportant part in the history of the development of modern Indonesian painting, aesthetic approach toanalyze the visual elements present in the painting. The result of this study the development of modernIslamic art in Bandung shows that there are 4 period of development, the 70s, the 80s, the 90s, and 2000s.This division of time is based on thematic tendencies that emerge and became the main tendencies at eachtime.Keywords: Painting, modern, Islam, BandungABSTRAKPenulisan sejarah perkembangan seni lukis modern Indonesia dari sudut pandang tematik hinggasaat ini masih mengacu pada peristiwa penting yang menggubah arus utama kecenderunganseni rupa kontemporer di Indonesia yang dipengaruhi Barat. Sementara peristiwa yang tidakkalah penting berkaitan dengan munculnya kecenderungan estetik yang berkaitan denganagama menjadi terpinggirkan, khususnya dalam seni lukis modern bernafaskan Islam. Halitu yang menjadi latar belakang penelitian ini dilakukan dengan tujuan agar perkembanganseni lukis modern bernafaskan Islam menjadi bagian penting dalam sejarah perkembanganseni lukis modern Indonesia khususnya di kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metodesejarah visual yang tentu melibatkan pendekatan estetik untuk menganalisis unsur-unsurrupa yang hadir dalam lukisan. Hasil dari penelitian ini perkembangan seni lukis modernbernafaskan Islam di kota Bandung secara tematik menunjukkan bahwa terdapat 4 periodeperkembangan, yaitu masa tahun 70-an, masa perkembangan di tahun 80-an, di tahun 90-andan tahun 2000-an. Pembagian masa ini berdasarkan kecenderungan tematik yang muncul danmenjadi kecenderungan utama pada tiap masa.Kata Kunci: Seni lukis, modern, Islam, Bandung
Estetika Teknik Chinese Painting pada Karya Seniman Keturunan Tionghoa di Indonesia Gani, Sangid Zaini; Cahyana, Agus; Zaman, Farid Kurniawan Noor
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2270

Abstract

Seni lukis Tiongkok merupakan salah satu kesenian yang berkembang di Asia dan juga merupakan cikal bakal dari gaya-gaya modern saat ini, dimulai dari dinasti Song yang memperkenalkan seni lukis Shui Mo yang berlandaskan pada pemahaman terhadap nilai Tao yang dianut oleh masyarakat Tiongkok dan berkembang pesat hingga dinasti Tang hingga pada akhirnya muncul nilai dan prinsip canon yang merupakan 6 prinsip yang dipegang teguh oleh seniman Tiongkok yang di cetuskan oleh Hsien Ho. Seni lukis Tongkok yang berkembang menjadi Gongbi Hua gaya yang mengedepankan detail dan Xieyi gaya yang cenderung ekspresif dengan penggunaan teknik kuas, berkembangnya seni lukis Tiongkok terjadi juga di Indonesia seperti Lee Man Fong, Lim Wasin, Chiang Yu Tie hingga Chusin Setiadikara yang memiliki darah keturunan Tiongkok memperkenalkan gaya Lukis Tiongkok dengan mengangkat tema budaya indonesia yang memiliki ciri khas tersendiri yang berlandaskan pada 6 Prinsip seni lukis Tiongkok. Kata kunci: estetika, gongbi, xieyi, canon