Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

POTENSI TEH DAUN BAMBU TALI TERHADAP PERUBAHAN INDEKS MASSA TUBUH DAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS SINDROM METABOLIK Ani Rosa Mujayanah; Yulia Sari; Shanti Listyawati
GIZI INDONESIA Vol 46 No 2 (2023): September 2023
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36457/gizindo.v46i2.889

Abstract

Metabolic syndrome is a metabolic disorder such as obesity, hyperglycemia, hypertension, and dyslipidemia that occur simultaneously. The prevalence of metabolic syndrome globally is increasing and the risk of T2DM, cardiovascular, stroke, and death. Metabolic syndrome is related to dyslipidemia due to excess energy intake which can cause oxidative stress and hypertriglyceridemia. Tali bamboo (Gigantochloa apus Kurz.) leaf tea contains antioxidants such as flavonoids, tannins, and saponins which have the potential to reduce BMI and triglyceride levels. This study aims to determine the potency of tali bamboo leaf tea on BMI and triglyceride levels in rats metabolic syndrome. This type of research is laboratory experimental with a control group pre-post test design. 30 male Wistar rats, aged 8 weeks, with a weight of 150 – 250 g, which were induced by High Fat High Fructose (HFHFr) for 14 days, then continued with STZ-NA. Rats were divided into 5 groups namely K- (aquades), K+ (metformin), and 3 doses steeping tali bamboo leaf (150, 300, and 450 mg/100 g BW) for 28 days. The BMI of rats was measured using the index Lee and triglyceride levels using the GPO-PAP method. Data were analyzed using paired t-test and One Way ANOVA. The results showed that there was a significant difference (p < 0,05) between BMI and triglycerise levels before and after treatment. The effective dose to reduce BMI and triglyceride levels is 300 and 450 mg/100 g BW. Tali bamboo leaf tea has the potential to improve BMI and triglyceride levels so that it can be developed as a therapy for metabolic syndrome.ABSTRAK Sindrom metabolik merupakan gangguan metabolisme tubuh seperti obesitas, hiperglikemia, hipertensi, dan dislipidemia yang terjadi secara bersamaan. Prevalensi sindrom metabolik secara global semakin meningkat dan berisiko terjadinya DMT2, kardiovaskular, stroke dan kematian. Sindrom metabolik berkaitan dengan dislipidemia akibat asupan energi berlebih yang menyebabkan stress oksidatif dan hipertrigliserida. Teh daun bambu tali (Gigantochloa apus Kurz.) mengandung antioksidan seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi dalam menurunkan IMT dan kadar trigliserida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi teh daun bambu tali terhadap IMT dan kadar trigliserida tikus sindrom metabolik. Jenis penelitian ini penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan pre-post test kelompok kontrol. Subjek penelitian ini adalah 30 ekor tikus Wistar, jantan, umur 8 minggu dengan BB 150 – 250 g yang diinduksi High Fat High Fructose (HFHFr) selama 14 hari, kemudian dilanjutkan STZ-NA. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu K- (aquades), K+(metformin), dan 3 dosis seduhan teh daun bambu tali (150, 300, dan 450 mg/100 g BB) selama 28 hari. Indeks massa tubuh tikus diukur menggunakan rumus indeks Lee dan kadar trigliserida menggunakan metode GPO-PAP. Data dianalisis menggunakan paired t-test dan One Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) antara IMT dan kadar trigliserida sebelum dan setelah perlakuan selama 28 hari. Dosis efektif untuk menurunkan IMT dan kadar trigliserida adalah 300 dan 450 mg/100 g BB. Pemberian teh daun bambu tali berpotensi dalam memperbaiki IMT dan kadar trigliserida sehingga dapat dikembangkan sebagai terapi untuk sindrom metabolik. Kata kunci: antioksidan, daun bambu, dislipidemia, indeks Lee, sindrom metabolik
Investigation of antioxidant activity from beetroot juice (Beta vulgaris L) as a healthy drink for the prevention of non-communicable disease Ratih Tri Amelia; Tonang Dwi Ardyanto; Yulia Sari
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 9, No 1 (2024): March
Publisher : Department of Nutrition at the Health Polytechnic of Aceh, Ministry of Health

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/action.v9i1.1444

Abstract

Non-communicable diseases can cause oxidative stress, which affects their pathophysiology. One of the recommended diets for preventing complications of non-communicable diseases (NCD) is a rich antioxidant diet. One of the foods rich in antioxidants is beetroots. This study aimed to assess the antioxidant content of locally obtained beetroot juice. Laboratory experimental methods were used to test the antioxidant activity of beetroot juice. Before the laboratory test, the panelists carried out a hedonic test. The beets were then juiced and checked for DPPH′ (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). The beetroot was then juiced and checked for DPPH′ (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Statistical analysis was performed using the Kruskal–Wallis test.  Results: The hedonic test showed that panelists preferred beetroot juice with lemon juice, with a 'like' range for the aroma and viscosity and a 'neutral-like' range for the taste and color of beetroot juice. The antioxidant content in 300 ml of beetroot juice was 53,34 ± 0,13%. In conclusion, beetroot juice has a high antioxidant content and health benefits in preventing NCD.
Determination of Levels of Phytochemical Compounds (Saponins, Alkaloids, Tannins) In Ripe Fiber Extract of Palmyra Fruit (Borassus flabellifer Linn) Tince Bety Amarduan; Yulia Sari; Brian Wasita
Nusantara Science and Technology Proceedings The 1st International Conference of Health Institut Kesehatan Mitra Bunda 2024
Publisher : Future Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/nstp.2024.4308

Abstract

Palmyra fruit (Borassus flabellifer L.) is one of the palm tree family that can be utilized as a source of of food. It also possess numerous benefits in medicinal applications, including secondary metabolites in the form of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and terpenoids. All of which exhibit antioxidant, anti-inflammatory, and antimicrobial. Therefore, it is imperative to conduct quantitative phytochemical analysis to garner the composition of each compound in Palmyra fruit. This study aims to determine the level of saponins, alkaloids, and tannins in Palmyra fruit fiber extract originating from Werain village, Selaru, West Southeast Maluku. The extraction process was done using the maceration method with 96% ethanol solvent. Method: This study is geared toward quantitative laboratory-scale experiments to determine the sample level. Saponin and alkoloids were analyzed using gravimetry methods while tannins were analyzed using UV-Vis spectrophotometric. Results: it is revealed that saponins level is 1,02%; Alkaloids level is 1,5464; and tannins level is 1,0220%. Conclusion: The presence of saponins is 1,02%; Alkaloids is 1,5464; and tannins is 1,0220%.
Relationship between food choices and eating habits with nutritional status of public high school teachers Nur Hasanah, Laras Eka; Sari, Yulia; Febrinasari, Ratih Puspita
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 2, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(2).108-113

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Overweight merupakan kondisi terjadinya penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh yang berisiko bagi kesehatan. Prevalensi overweight Kota Surakarta sebesar 24,03%.Menurut Riskesdas (2018), PNS, TNI, Polri, dan pegawai BUMN dan BUMD sebanyak 20% mengalami obesitas sentral, sesuai dengan data Kemenkes. Data Pokok Pendidikan (2022) menunjukkan bahwa 69,23% PNS (Pegawai Negri Sipil) adalah guru. Guru memiliki banyak pekerjaan dan merasa tertekan saat bekerja. Terlalu banyak makan adalah cara untuk mengurangi stres. Kebiasaan makan buruk yaitu terlalu banyak mengkonsumsi makanan tinggi energi, karbohidrat, lemak, rendah serat menyebabkan penambahan berat badan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pemilihan makan dan kebiasaan makan dengan status gizi guru SMA Negeri di Surakarta.Tujuan: Mengetahui hubungan pemilihan makan dan kebiasaan makan dengan status gizi pada guru di SMA Negeri Kota Surakarta..Metode: Desain penelitian Cross-Sectional. Populasi penelitian adalah guru di SMA Negeri di Surakarta dengan 96 responden. Data kebiasaan makan menggunakan kuesioner Adolescent Food Habits Checklist (AFHC), data pemilihan makan dengan kuesioner Food Choice Questionnaire (FCQ) dan status gizi dengan pengukuran antropometri. Uji statistik menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru paling banyak berstatus gizi pre-obesitas (47.9%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan pada guru adalah makan sehat sebesar 65,2%. Guru paling banyak melakukan pemilihan makanan sesuai dengan weight control sebanyak 11 responden 23,9%. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan dan pemilihan makan dengan status gizi pada guru di SMA Negeri Kota Surakarta.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan makan dan pemilihan makan dengan status gizi, hal ini bisa disebabkan karena kebiasaan makan yang tidak sesuai pedoman gizi seimbang merupakan penyebab utama kelebihan berat. KATA KUNCI: pemilihan makan ; kebiasaan makan ; status gizi ; guru ABSTRACTBackground: Overweight is a condition of excessive fat accumulation in the body that is risky for health. According to Riskesdas (2018), civil servants, TNI, Polri, and employees of BUMN and BUMD as much as 20% have central obesity, in accordance with data from the Ministry of Health. Basic Education Data (2022) shows that 69.23% of civil servants are teachers. Teachers have a lot of work and feel stressed Background: Overweight is a condition of excessive fat accumulation in the body that is risky for health. According to Riskesdas (2018), civil servants, TNI, Polri, and employees of BUMN and BUMD as much as 20% have central obesity, in accordance with data from the Ministry of Health. Basic Education Data (2022) shows that 69.23% of civil servants are teachers. Teachers have a lot of work and feel stressed at work. Overeating is a way to reduce stress. Bad eating habits that consume too much food high in energy, carbohydrates, fat, low in fiber cause weight gain. This study was conducted to determine the relationship of food selection and eating habits with the nutritional status of public high school teachers in Surakarta.Objectives: To determine the relationship between food selection and eating habits with nutritional status among teachers in public high schools in Surakarta City.Methods: Cross-Sectional research design. The study population was teachers in public high schools in Surakarta with 96 respondents. Data on eating habits using the Adolescent Food Habits Checklist (AFHC) questionnaire, food selection data with the Food Choice Questionnaire (FCQ) and nutritional status with anthropometric measurements. Statistical test using Chi-Square test.Results: The results showed that most teachers had pre-obese nutritional status (47.9%). The results showed that the eating habits of teachers were healthy eating by 65.2%. Most teachers make food choices in accordance with weight control as many as 11 respondents 23.9%. There is a significant relationship between eating habits and food selection with nutritional status in teachers in public high schools in Surakarta.Conclusions: There is a significant relationship between eating habits and food selection with nutritional status, this can be due to eating habits that are not in accordance with balanced nutritional guidelines are the main cause of overweight..KEYWORD: food selection ; eating habits ; nutritional status ; teachers Received: 31 July 2024; Revised: 22 Apr 2024; Accepted: 14 Jan 2025; Available online: 30 Mar 2025; Published: 30 Mar 2025
The relationship between nutritional intake with the incidence of Chronic Energy Deficiency (CED) of teenagers in urban and rural areas Hariyanti, Lusiana Pradana; Febrinasari, Ratih Puspita; Sari, Yulia
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 13 ISSUE 4, 2025
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2025.13(4).296-303

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Kurang energi kronis (KEK) adalah kondisi kekurangan energi dan protein dalam jangka waktu lama yang umumnya terjadi pada remaja putri atau Wanita Usia Subur. Masalah ini perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan dampak serius dalam jangka panjang.  Kondisi ini menonjol pada remaja putri usia 15-19 tahun dan dapat diidentifikasi melalui pengukuran lingkar lengan atas (LILA) <23,5 cm. Asupan zat gizi yang tidak memenuhi mencukupi merupakan faktor langsung penyebab KEK, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan, dan jika berkelanjutan berisiko memperparah kondisi KEK.Tujuan:  Menganalisis hubungan asupan zat gizi terhadap kejadian kurang energi kronis pada siswi SMA di wilayah urban dan rural Kabupaten Kediri.  Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu observasional analitik dengan design case control, sampel terdiri dari enam SMA yang dibagi menjadi tiga SMA di wilayah urban dan tiga SMA di wilayah rural dengan total sampel 144 siswi masing-masing sekolah 24 sampel.  Pengumpulan data menggunakan kuesioner food recall 2x24 jam yang diambil pada saat weekday dan weekend. Analisis data menggunakan SPSS dengan chi-square.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang signifikan antara asupan zat gizi pada wilayah urban asupan energi (p=0,000), protein (p=0,03), karbohidrat (p=0,000) dan lemak (p=0,04) dan wilayah rural asupan energi (p=0,000), protein (p=0,018), karbohidrat (p=0,000) dan lemak (p=0,018) dengan kejadian kurang energi kronis pada siswi SMA di Kabupaten Kediri. Kesimpulan: Asupan zat gizi (asupan  energi, protein, karbohidrat dan lemak) sebagai penyebab kurang energi kronis (KEK) sehingga dapat dijadikan acuan untuk mencegah mengalami kurang energi kronis.  KATA KUNCI: asupan zat gizi; kurang energi kronis; siswi; SMA    ABSTRACTBackground: Chronic energy deficiency (CED) is a condition in teenage girls or women of reproductive age who are experiencing long-term energy and protein deficiencies. CED is still a nutrition problem in teenagers that must be addressed because it has serious long-term impacts. The most prominent CED occurs at the age of 15-19 years, especially in adolescent girls. CED can be seen from the size of the upper arm circumference (MUAC) <23.5 cm Nutritional intake is a direct factor that causes CED. Lack of nutritional intake that does not meet needs can result in weight loss and if it continues can result in chronic energy deficiency. Objectives:  to analyze the relationship between nutritional intake and the incidence of chronic energy deficiency in female high school students in urban and rural areas of Kediri Regency.Methods: The research method used is analytical observational with case control design, the sample consists of six high schools which are divided into three high schools in urban areas and three high schools in rural areas with a total sample of 144 students, each school has 24 samples. Data collection used a 2x24 hour food recall questionnaire taken on weekdays and weekends. Data were analyzed using SPSS Version 26 with chi-square.Results: The results showed that there is a relationship between Nutrient intake in urban areas (energy intake (0.000), protein (0.03), carbohydrates (0.000 and fat (0.04)) and rural areas (energy intake (0.000), protein (0.018), carbohydrates (0.000 and fat (0.018) with the incidence of chronic energy deficiency in female high school students in Kediri Regency Conclusions: Therefore, female students can know that nutritional intake (energy, protein, carbohydrate and fat intake) is the cause of chronic energy deficiency (CED) so that it can be used as a reference to prevent experiencing chronic energy deficiency.  KEYWORD: nutrient intake; chronic energy deficiency; female students; high school  
Scoping Review: Metabolite and Pharmacological Activities in Lontar Fruit (Borassus flabellifer Linn.) Tince Bety Amarduan; Yulia Sari; Brian Wasita
Majalah Obat Tradisional Vol 30, No 3 (2025)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mot.97792

Abstract

The development of medicine depends heavily on medicinal plants. They include variousphytochemicals that can have physiological effects on people. Among them is the Borassus flabellifer Linn., also known as the lontar plant, which is a tropical plant in the Araceae family and is recognized for its medicinal qualities in traditional medicine. It is also referred to as the Palmyra palm. This study aims to gather information on the phytochemical compounds and pharmacological activities of palm fruit using a literature review. The literature search was conducted online using appropriate keywords and included both international and national indexed databases, covering the last 10 years (2014 - 2024). Tannins, saponins, glycosides, alkaloids, terpenoids, albuminoids, anthracene, betulinic acid, carotenoids, flavonoids, free anthraquinones, glucomannan, gums, lupeol, phlobatannin, phenols, quercetin, phytosterols, triterpenoids, quinones, cardiac glycosides, steroids, coumarins, and betacyanin have been identified as chemical components in palm fruit based on the 19 studies that were gathered. The pharmacological activities of palm fruit include antibacterial, antidiabetic, antihyperlipidemic, antihyperglycemic, antioxidant, and anticancer.
Efektivitas Teh Daun Bambu (Gigantochloa apus) Dalam Penanganan Diabetes Melitus Dengan Obesitas Melalui Pengukuran Gula Darah Puasa Tikus Ani Rosa Putri Ayu Mujayanah; Yulia Sari
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.569

Abstract

Diabetes melitus dengan obesitas merupakan salah satu tantangan kesehatan didunia, yang angka kejadiannya terus meningkat,, termasuk Indonesia. Penanganan diabetes melitus meliputi obat-obatan, perubahan gaya hidup, dan bedah bariatrik yang memiliki efek samping, sehingga, diperlukan alternatif menggunakan daun bambu yang mengandung antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teh daun bambu terhadap gula darah puasa tikus dalam penanganan diabetes melitus dengan obesitas. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan melibatkan 30 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok yaitu K-, K+ (metformin 9 mg/200g BB), dan tiga kelompok perlakuan teh daun bambu (300, 600, dan 900 mg/200g BB). Kadar glukosa diukur menggunakan metode GOD-PAP. Hasil penelitian menunjukkan kadar gula darah puasa mengalami penurunan secara signifikan (p<0,001). Penurunan tertinggi terdapat pada P3 (900 mg/200 g BB) yaitu sebesar 178,58 mg/dl dan terendah pada P1 (300 mg/200g BB) yaitu 134,77 mg/dl. Kesimpulan dari penelitian ini adalah teh daun bambu terbukti efektif dalam menangani diabetes melitus dengan obesitas, serta berpotensi menjadi pengobatan alami.
Empowering citizens in conservation of family medicinal plants through processing rosella flowers into tea Surya Agung Wibowo Mugiyo; Agustina Puspa Mentari; Assaniyah Alfani Al Mubarokah; Afra Nabila Azzahra; Annisa Itsna Nur&#039;aini; Desky Arma Sagita; Fitri Jumiyati; Melita Khusnul Amalia; Mumayizah Mumayizah; Teguh Marwantoro; Tita Roliatun Hasanah; Yulia Permata Sari; Zarra Faizah Zain; Moh Salimi
Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 1 No. 2 (2023): Dedicated: Journal of Community Services (Pengabdian kepada Masyarakat)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/dedicated.v1i2.63292

Abstract

    The quality of health in Indonesia is included in the low category compared to other countries. Based on the results of the GHSI (Global Health Security Index) report, the average global health score is 38.9 points out of a score of 100 points. Meanwhile, Indonesia's global health security index ranks 13th compared to other G20 countries. One of the factors causing a country's low quality of health is caused by the level of a country's economy. This program aims to empower people in the fields of health, economy, and human resources by conserving family medicinal plants from roselle flowers that are processed into tea. The method used in this program is participatory, where environmental scanning is integral to empowering communities through building self-reliance with the power of resources and products. Program results are achieved from the fulfillment of success indicators prepared based on the objectives of the implementation of the program. There are nine main points in the indicators of success that can be achieved. In conclusion, the community empowerment program in Jatimalang Village, Klirong District, Kebumen Regency, has been built from the fulfillment of village-based SDGs and the awareness of the superiority of natural potential owned.   Abstrak Kualitas kesehatan di Indonesia termasuk dalam kategori rendah dibandingkan negara lain. Berdasarkan hasil laporan GHSI (Global Health Security Index)skor rata-rata kesehatan global adalah 38,9 poin dari skor 100 poin. Sedangkan indeks ketahanan kesehatan global Indonesia menempati peringkat ke-13 dibandingkan dengan negara G20 lainnya. Salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas kesehatan suatu negara disebabkan oleh tingkat ekonomi suatu negara. Tujuan dari program ini adalah memberdayakan warga di bidang kesehatan, ekonomi, dan sumber daya manusia melalui konservasi tanaman obat keluarga dari bunga rosella yang diolah menjadi teh. Metode yang digunakan dalam program ini adalah partisipatif dimana environmental scanning yang merupakan bagian integral dari proses memberdayakan warga melalui membangun kemandirian dengan kekuatan sumber daya dan produk. Hasil program dicapai dari pemenuhan indikator keberhasilan yang disusun berdasarkan tujuan dari dilaksanakannya program tersebut. Terdapat sembilan poin utama dalam indikator keberhasilan yang dapat dicapai. Kesimpulan, program pemberdayaan warga di Desa Jatimalang, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen telah dibangun dari pemenuhan SDGs berbasis desa serta dari kesadaran keunggulan potensi alam yang dimiliki. Kata Kunci: Bunga rosella; kesehatan; pemberdayaan warga; tanaman obat keluarga. 
Individual Characteristics and Compliance with Personal Hygiene and PPE Use among Waste Pickers at Putri Cempo Landfill, Surakarta Yulia Sari; Trivijaganita Lovinia; Yusuf Ari Mashuri; Sigit Setyawan
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 24 No. 2 (2026): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v24i2.427

Abstract

Waste pickers face a high risk of disease due to continuous exposure to waste; however, adherence to personal hygiene and the use of personal protective equipment (PPE) remain suboptimal. This study aimed to analyze the relationship between individual characteristics and compliance with personal hygiene and PPE use among waste pickers at the Putri Cempo Landfill, Surakarta. An analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 46 waste pickers, selected through purposive sampling. The dependent variables were compliance with personal hygiene and PPE use, while the independent variables included age, gender, and education level. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using Fisher’s exact test. Most respondents demonstrated moderate compliance with personal hygiene and PPE practices. Statistical analysis indicated no significant association between gender (p = 0.182), age (p = 0.564), or education level (p = 0.602) and compliance behavior. Individual characteristics such as age, gender, and education were not significantly related to compliance with personal hygiene and PPE use. Therefore, interventions to improve compliance should prioritise organisational support and behavioral approaches, including education, training, and facility improvement, rather than focusing solely on demographic factors.
Pengembangan Media Komik Berbasis FlipBook Berorientasi Pada Keterampilan Pemahaman Bacaan Materi Bahasa Indonesia Kelas III Sekolah Dasar Yulia Permata Sari; Dewi Indrapangastuti
Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol 13, No 3 (2025): Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jkc.v13i3.101332

Abstract

Keterampilan dan minat membaca negara Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain. Menurut survei literasi bahasa yang dilakukan oleh PISA (2022), menempatkan Indonesia berada di peringkat 70 dari 80 negara dengan skor membaca sebesar 359.Ada beberapa kompetensi yang harus dimiliki untuk meningkatkan keterampilan membaca, salah satunya yaitu kompetensi memahami.Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan kondisi dan kebutuhan media komik berbasis flipbook berorientasi pada keterampilan pemahaman bacaan materi bahasa Indonesia kelas III SD Negeri 1 Kebumen, (2) menghasilkan media komik berbasis flipbook yang layak digunakan berorientasi pada keterampilan pemahaman bacaan materi bahasa Indonesia siswa kelas III SD, serta (3) menganalisis keefektifan penggunaan media komik berbasis flipbook berorientasi pada keterampilan pemahaman bacaan materi bahasa Indonesia siswa kelas III SD. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan atau R&amp;D (Research and Development). Hasil penelitian ini adalah: Pertama, pengembangan media komik berbasis flipbook dengan menggunakan model dan prosedur pengembangan ADDIE. Kedua, media komik berbasis flipbook layak digunakan dalam pembelajaran.Ketiga, media komik berbasis flipbook efektif digunakan dalam pembelajaran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah proses pengembangan dilakukan secara terstruktur dan terarah, media yang dikembangkan layak dan efektif digunakan dalam pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil uji N-gain, Effect Size, rata-rata nilai siswa yang meningkat, dan Uji Validasi Ahli.