This Author published in this journals
All Journal Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Pengarah: Jurnal Teologi Kristen Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung JURNAL TERUNA BHAKTI Studia Philosophica et Theologica Tumou Tou EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Mahabbah: Journal of Religion and Education IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Ra'ah Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Melo: Jurnal Studi Agama-agama Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Jurnal Apokalupsis Voice of HAMI JURNAL MISIONER MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Rerum: Journal of Biblical Practice Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Tevunah: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Marsahala:Jurnal Studi Agama dan Budaya
Claim Missing Document
Check
Articles

Mengingat Dia yang Dikorbankan : Tafsir Feminis terhadap Hakim-hakim 11:1-40 Firman Panjaitan; Dwi Ratna Kusumaningdyah
Studia Philosophica et Theologica Vol 20 No 2 (2020)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v20i2.216

Abstract

Injustice, including gender issues, grows out of the abuse of power possessed by the authorities, which in turn results in victims, who are usually groups without power, both socially and theologically. The study in this article will discuss the Book of Judges 11: 1-40 which illustrates the dynamics in the life of Jephthah, who was a victim of society at first but due to the services he provided to Israel, he turned into a leader. But the story also illustrates that at the beginning of his power as a leader, Jephthah became the leader who sacrificed his own daughter; and the most interesting thing here is that all events occur by 'involving' the Spirit of the LORD. Thus the victim cycle produces victims into a clear picture in the judgment of Judges 11: 1-40.
Tinjauan Naratif Kepemimpinan Yusuf dalam Perspektif Climber Leader Firman Panjaitan
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 3, No 1 (2022): Christian Education and Leadership - June 2022
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v3i1.94

Abstract

Leadership requires leadership skills gained not only through long theories but also life experience. To gain leadership skills through life experience, intelligence is needed, especially when facing problems as well as resilience to live in the midst of these problems. The intelligence in question is Adversity Quotient. Using qualitative methods, especially the approach of literature studies and narrative interpretations, this research will show a Biblical figure, named Yusuf, who has high adversity intelligence, even in the state of intelligence adversity Yusuf is said to be a true Climber. The results showed that through the process of life, Yusuf managed to develop a leadership model based on the principles of LEAD (Listen, Explore, Analyze, Do). Through this principle Joseph was able to survive the struggle, even using the struggle to be a force in developing his leadership pattern. This principle is also what makes Joseph a leader of climbers. But behind all that, Joseph also recognized that his ability to turn struggles into opportunities was a gift that God gave him, so Joseph grew into a humble, forgiving and anticipatory Climber leader.AbstrakKepemimpinan membutuhkan ketrampilan memimpin yang didapat bukan hanya melalui teori-teori panjang melainkan juga pengalaman hidup. Untuk memeroleh ketrampilan memimpin melalui pengalaman hidup, dibutuhkan kecerdasan khususnya ketika menghadapi permasalahan sekaligus ketahanan untuk hidup di tengah permasalahan tersebut. Kecerdasan yang dimaksud adalah Adversity Quotient (kecerdasan adversity). Dengan menggunakan metode kualitatif, khususnya pendekatan studi pustaka/literatur dan tafsir narasi, penelitian ini hendak memerlihatkan seorang tokoh Alkitab, bernama Yusuf, yang memiliki kecerdasan adversity tinggi, bahkan dalam tataran kecerdasan adversity Yusuf dikatakan sebagai seorang Climber sejati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui proses hidup, Yusuf berhasil mengembangkan model kepemimpinan yang didasarkan pada prinsip LEAD (Listen, Explore, Analyze, Do: mendengar, menggali, menganalisa dan melakukan). Melalui prinsip ini Yusuf dapat bertahan dalam pergumulan, bahkan menggunakan pergumulan tersebut menjadi kekuatan dalam mengembangkan pola kepemimpinannya. Prinsip ini juga yang menjadikan Yusuf sebagai seorang pemimpin Climber. Namun di balik semua itu, Yusuf pun mengakui bahwa kemampuannya mengubah pergumulan menjadi peluang adalah anugerah yang Allah berikan kepadanya, sehingga Yusuf bertumbuh menjadi seorang pemimpin Climber yang rendah hati, pemaaf dan antisipatif.
MEMBANGUN TEOLOGI PERTANIAN MELALUI PEMBACAAN LINTAS TEKSTUAL INJIL MATIUS DAN KOSMOLOGI JAWA Firman Panjaitan
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 1 No 1 (2020)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46558/bonafide.v1i1.8

Abstract

Dewasa ini pertanian yang dijalankan seringkali mengandalkan pestisida yang mengakibatkan kerusakan tanah dan ketidakseimbangan ekosistem. Ini disebabkan manusia tidak merasa sebagai bagian dari alam. Artikel ini bertujuan menggali keteladanan Yesus Kristus sebagai seorang petani seperti yang dituliskan dalam Injil Matius dan menghubungkannya dengan kearifan kosmologis budaya Jawa. Harapannya akan membangun sebuah teologi pertanian kontekstual yang menghargai dan menjaga keharmonisan hidup alam. Metode yang digunakan adalah pembacaan lintas tekstual, yaitu mengambil pesan positif dari dua teks/konteks yang disandingkan untuk membangun sebuah bentuk teologi yang kontekstual. Hasilnya, teologi pertanian kontekstual menekankan bahwa bertani adalah sebuah ibadah yang mendorong manusia untuk menjaga kelestarian alam semesta dengan kesadaran bahwa manusia dan alam adalah sesama saudara diciptakan oleh Tuhan. Keduanya harus saling menjaga dan melindungi. Di dalam kesatuan tersebut mereka menemukan diri mereka bersatu dengan Allah. Teologi pertanian kontekstual hanya merekomendasi pertanian organik sebagai cara bertani yang benar karena model ini akan menjaga kelestarian hidup alam dan manusia.
The Church's Contextual Mission to Poverty Problems in Indonesia Firman Panjaitan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 5, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.115 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v5i2.376

Abstract

Poverty in Indonesia is a crucial problem that must be considered by various parties, including the church. However, the church often neglects this because the church is often preoccupied with its theological model that sides with wealth so that the existence of the poor is ignored. This makes the church's mission neglected because it does not take the condition of the poor seriously. Using the phenomenological method, this article shows that poverty should be a severe concern in the missiological aspect of the church. In addition, the method of rhetorical criticism is used to show that the Bible also speaks of God's care for the poor. The study results recommend that the church should have the courage to carry out missiological duties to the poor by putting the poor first and placing the poor as equals, who also receive the same salvation from God. Through this missiological task, the church will contribute to alleviating poverty. ABSTRAKKemiskinan di Indonesia merupakan masalah krusial yang harus diperhatikan oleh berbagai pihak, termasuk gereja. Namun seringkali gereja mengabaikan hal ini, karena gereja seringkali asyik dengan model teologinya yang berpihak pada kekayaan, sehingga keberadaan orang miskin diabaikan. Hal ini menjadikan tugas misiologi gereja terbengkalai karena tidak memperhatikan dengan serius keadaan orang miskin. Dengan menggunakan metode fenomenologi artikel ini menunjukkan bahwa masalah kemiskinan harus menjadi perhatian yang serius dalam aspek misiologi gereja. Di samping itu digunakan juga metode kritik retorik untuk menunjukkan bahwa Alkitab pun berbicara tentang kepedulian Allah terhadap orang miskin. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa gereja harus berani menjalankan tugas misiologi kepada orang-orang miskin, dengan cara mendahulukan dan menempatkan orang miskin sebagai sesama yang sejajar, yang juga mendapatkan keselamatan yang sama dari Allah. Melalui tugas misiologi tersebut, gereja akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan.
Implikasi Kekudusan Seksualitas Terhadap Hubungan Manusia Dengan Allah Angilata Kebenaran Halawa; Firman Panjaitan
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 2 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v2i2.67

Abstract

AbstractAllah is the creator who gives life and everything in this world is the result of His creation, including the issue of sexuality. Sexuality is a very important thing to consider. Because in the beginning, God created man to be very good. In this modern era, most people fail in the problem of sexuality, because they can not restrain themselves and are caused by promiscuity. Then what should be done? In this study, the author will try to explain how important sexuality and His relationship with a holy God are. If God is holy, then sexuality must also be holy and has been blessed by God through God's servants. Through this research, everyone can appreciate sexuality as sacred before God.AbstrakAllah adalah pencipta yang memberi kehidupan dan segala sesuatu di dunia ini adalah hasil ciptaan-Nya, termasuk masalah seksualitas. Seksualitas adalah hal yang sangat penting untuk dipertimbangkan. Karena pada mulanya, Tuhan menciptakan manusia dengan sangat baik. Di era modern ini, kebanyakan orang gagal dalam masalah seksualitas, karena tidak bisa menahan diri dan disebabkan oleh pergaulan bebas. Lalu apa yang harus dilakukan? Dalam penelitian ini, penulis akan mencoba menjelaskan betapa pentingnya seksualitas dan hubungan-Nya dengan Tuhan yang kudus. Jika Tuhan itu kudus, maka seksualitas juga harus kudus dan telah diberkati Tuhan melalui hamba-hamba Tuhan. Melalui penelitian ini, setiap orang dapat menghargai seksualitas sebagai yang kudus dihadapan Allah.
Persepsi Para Pejabat GBIS Terhadap Penggunaan Media Sosial Sebagai Medium Interaksi di Lingkungan Organisasi dan Gereja Lokal David Eko Setiawan; Firman Panjaitan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v5i1.307

Abstract

Media Sosial seakan telah menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Seiring perkembangan Teknologi Informasi mendorong masyarakat masuk dalam Digital Culture yang telah mengubah gaya hidup mereka. Sehubungan dengan berkomunikasi, saat ini masyarakat lebih menyukai menggunakan media sosial dari pada media konvensional. Sebab media sosial dianggap sebagai medium yang dapat menyampaikan informasi dengan cepat. Selain mereka juga meyakini bahwa media sosial juga dapat mendekatkan interaksi antar individu dan juga dalam sebuah kelembagaan Benarkah demikian? Penelitian ini dilatar belakangi dengan masalah penelitian berikut: Bagaimanakah persepsi para Pejabat GBIS terhadap penggunaan media sosial sebagai medium interaksi di lingkungan organisasi dan gereja lokal? Sedangkan tujuan penelitian ini adalah menjelaskan persepsi para Pejabat GBIS terhadap penggunaan media sosial sebagai medium interaksi di lingkungan organisasi dan gereja lokal. Penelitian ini menggunakan metode Library Research dan Survei. Adapun responden dalam penelitian ini adalah para pejabat Gereja Bethel Injil Sepenuh seluruh Indonesia. Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa media sosial relevan sebagai medium interaksi di lingkungan antar pejabat GBIS dan gereja lokal. Signifikansi dari penelitian ini adalah diharapkan menjadi trigger bagi para pejabat GBIS untuk memaksimalkan penggunaan media sosial dalam lingkup organisasi sinode dan di dalam gereja lokalnya masing-masing.
BIMBINGAN PRANIKAH SEBAGAI PENYADARAN FUNGSI SEORANG SUAMI BERDASARKAN MAZMUR 128:1-6 Firman Panjaitan; Gary Reneker Bermula
POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Vol. 3 No. 1 (2022): Juni
Publisher : LPPM IAKN MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pjpk.v3i1.939

Abstract

The purpose of marriage is to achieve a harmonious and happy family life. In reality, often domestic harmony and happiness do not materialize due to the misunderstanding of family members regarding their roles and functions in the family. Psalm 128:1-6 becomes an important part of the Bible which talks about the necessity of a man playing the role of a husband to build happiness in the family because it must be delivered at the time of premarital counseling. This study uses qualitative research with a literature study approach (Library Research), and specifically, in examining Psalm 128:1-6 the author uses a hermeneutic approach with the grammatical-historical approach to finding the meaning of the selected text. The findings in the study revealed that an understanding of the self-concept of a happy family that focuses on the role of a man as a husband must be built through premarital guidance. Therefore, premarital guidance is an absolute requirement to be carried out before entering into marriage.
Kekerasan Terhadap Istri dalam Lingkup Domestik Firman Panjaitan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 1, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.249 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v1i1.3

Abstract

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi diskusi aktual, dan umumnya korban adalah istri. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam upaya meminimalkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan salah satunya adalah dengan mengembangkan sikap Etis Kristen untuk menjawab masalah krusial ini. Makalah ini berbicara tentang bagaimana sikap Etika Kristen dalam menanggapi fenomena kekerasan terhadap istri, dan pada saat yang sama menawarkan jalan keluar untuk masalah ini.
Ibadah Jemaat Kristen Kontemporer Abad 21 dan Tinjauan Kritis-Liturgis Firman Panjaitan; Marthin Steven Lumingkewas
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.541 KB) | DOI: 10.34081/fidei.v2i1.49

Abstract

Fenomena liturgi dewasa ini begitu dikuasai oleh berbagai macam bentuk ibadah yang bersifat ‘kekinian’, atau yang dikenal dengan istilah ibadah kontemporer. Jenis ibadah ini sudah merebak dengan sangat jauh dan bahkan menjadi ibadah yang begitu disukai oleh setiap anak muda (tidak menutup kemungkinan orang tua juga), sehingga muncul anggapan bahwa jenis ibadah ini adalah jenis ibadah yang perlu untuk terus dipertahankan dan dikembangkan.Tulisan ini hendak mencoba melihat dengan kritis bentuk ibadah kontemporer dan sekaligus membedahnya dengan pisau analitis-teologis yang cukup tajam untuk menemukan apa saja yang harus dikembangkan dan diupayakan dalam menjalankan ibadah kontemporer ini. Jangan sampai ibadah kontemporer menjadi sebuah ibadah yang hanya mengutamakan kepuasan jasmaniah saja tetapi melupakan pertumbuhan dan perkembangan iman. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini disajikan sebuah ulasan kritis yang hendak membenahi bentuk ibadah kontemporer sehingga dapat menjadi bentuk ibadah yang benar-benar sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan sekaligus menyenangkan hati Tuhan.
Resensi Buku The Gospel of Judas dari Kodeks Tchacos Firman Panjaitan
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 4, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34081/fidei.v4i2.250

Abstract

Di kalangan Kristen dikenal Empat Injil yang biasa disebut dengan Injil menurut Markus, Matius, Lukas dan Yohanes. Keempat Injil tersebut telah disahkan menjadi Kanon melalui proses kanonisasi, bersama dengan surat-surat Perjanjian Baru lainnya, yang memakan waktu yang sangat panjang. Dan dalam catatan sejarah, baru pada abad keempat terbentuklah kumpulan tulisan yang akhirnya dikenal sebagai Perjanjian Baru yang dikenal sekarang (hlm. xi). Dalam Keempat Injil yang dikenal, dicatat dan dikisahkan tentang Yesus Kristus yang mengalami kematian akibat ulah Yudas Iskariot, salah seorang murid Yesus yang mengkhianati-Nya. Kisah tentang hal ini telah berjalan sekian ribu tahun, karena sudah ditetapkan menjadi sebuah Kanon yang dipercaya sebagai Kitab Suci orang Kristen.