p-Index From 2021 - 2026
8.122
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya GEMA TEOLOGIKA : Jurnal Teologi Kontekstual dan Filsafat Keilahian Kurios Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) VISIO DEI: JURNAL TEOLOGI KRISTEN Pengarah: Jurnal Teologi Kristen Manna Rafflesia PASCA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen SANCTUM DOMINE: Jurnal Teologi Jurnal Amanat Agung JURNAL TERUNA BHAKTI Studia Philosophica et Theologica Tumou Tou EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Shift Key: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta Vox Dei : Jurnal Teologi dan Pastoral Kinaa: Jurnal Kepemimpinan Kristen dan Pemberdayaan Jemaat Mahabbah: Journal of Religion and Education IMMANUEL: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Ra'ah Predica Verbum Sabda : Jurnal Teologi Kristen KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Melo: Jurnal Studi Agama-agama Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen THRONOS: Jurnal Teologi Kristen CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Jurnal Apokalupsis Voice of HAMI JURNAL MISIONER MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Rerum: Journal of Biblical Practice Jurnal Efata: Jurnal Teologi dan Pelayanan Divinitas Jurnal Filsafat dan Teologi Kontekstual Tevunah: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Marsahala:Jurnal Studi Agama dan Budaya Ra'ah: Journal of Sociology of Religion
Claim Missing Document
Check
Articles

Pola Hidup Anak Terang: Sebuah Tuntunan Hidup Menurut Efesus 5:7-11 Firman Panjaitan
Predica Verbum: Jurnal Teologi dan Misi Vol 4 No 1 (2024): Jurnal Predica Verbum Vol. 4 No. 1 (June) 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51591/predicaverbum.v4i1.90

Abstract

This study discusses the pattern of living as a child of light as revealed in Ephesians 5:7-11. This study is important, because today's phenomenon shows that many Christians do not live in self-control, and results in many Christians who have an unholy lifestyle. This unholy lifestyle will ultimately have a bad impact on the life of Christianity in general. This study uses qualitative methods with the approach of literature and textual-contextual interpretation. The results show that the pattern of living as a child of light in Ephesians 5:7-11, provides a picture of the values and morals of life that must be applied in the lives of believers today. Understanding the position of self as light in God encourages Christians not to do dark acts, because the light must produce goodness, justice and truth. Thus, the pattern of Christian life as children of light not only has an impact on the value of ethical life, but makes that life an example for the lives of others through the fruits of life produced by every Christian/believer.
Misi Kristologi Dalam Konteks Kebudayaan Panjaitan, Firman; Siburian, Hendro Hariyanto
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v1i1.19

Abstract

Seringkali kegiatan misi mengabaikan kebudayaan yang ada di masyarakat, dan hal ini yang mengakibatkan kegiatan misi menjadi tidak efektif dan bahkan menemukan kegagalan. Padahal sebuah tindakan misi harus benar-benar dapat diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran misi, dan jalan masuk untuk bisa hidup di tengah masyarakat adalah dengan hidup dalam kebudayaan yang ada di masyarakat tersebut. Oleh karena itu, pemahaman tentang kebudayaan sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang hendak menjalankan misi. Terlebih kalau mau dipahami lebih dalam lagi, kebudayaan merupakan sendi dasar bagi terbentuknya kehidupan dalam sebuah komunitas atau masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah rancang bangun kehidupan dan worldview dari sebuah masyarakat. Oleh sebab itu tindakan misi harus memahami nilai kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Namun hal ini bukan berarti bahwa misi hanya bergantung pada kebudayaan. Misi harus memiliki dasar pijakan yang kuat, sebelum bersentuhan dengan kebudayaan. Dasar pijakan yang harus dimiliki saat hendak bermisi adalah pemahaman yang benar tentang Kristologi, dengan tujuan agar tindakan misi yang dilakukan benar-benar dapat mentransformasi kebudayaan dalam nilai-nilai Kristologi. Dengan menggunakan pendekatan Kristologi untuk bermisi dalam sebuah kebudayaan, maka akan terjadi sebuah bentuk misi yang kontekstual; yang bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah sekaligus sesuai dengan konteks/budaya yang ada. Kata kunci: Misi, kebudayaan, konteks. Masyarakat, worldview
PENATALAYANAN GEREJA MENURUT KISAH PARA RASUL 4:32-37 Firman Panjaitan
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 1 No. 2 (2021): December
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v1i2.75

Abstract

Sampai saat ini di dalam gereja masih juga terdapat penatalayanan yang kurang efektif di mana hanya gembala yang mengambil alih semua aspek pelayanan, akibat kurangnya pemahaman pemimpin dalam mengkoordinasi penatalayanan dalam gereja. Kepemimpinan yang menekankan kekuasaan dengan memimpin secara otoriter, juga akan berdampak buruk pada sikap bawahan. Sayangnya hal ini belum dipahami dengan baik oleh gereja-gereja yang ada. Oleh karena itu penulis tergerak untuk meneliti penatalayanan berdasarkan Kisah Para Rasul 4-32-37. Metode dalan penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan naratif guna memahami teks dan konteks. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penatalayanan berdasarkan Kisah Para Rasul 4-32-37 menunjukkan adanya pembagian tugas antara pemimpin dan anggota jemaat lainnya. Pemimpin harus mampu melibatkan anggota jemaat dalam penatalayanan gereja yang baik dan efektif . Penatalayanan memiliki peranan yang penting dalam menentukan kualitas jemaat. Penatalayanan yang diatur dengan baik akan menolong pemimpin untuk focus dalam pelayanan firman dan kesaksian, dan juga mendorong anggota jemaat menolong persoalan yang dihadapi oleh anggota jemaat lainnya. Kisah Para Rasul 4-32-37 membutktikan bahwa penatalayanan yang baik membawa kesatuan hati dan jiwa serta menumbuhkan semangan kepedulian diantara jemaat, yang melahirkan jemaat yang sejahtera dan kuat.
Tindakan Pastoral Kontekstual terhadap Praktik Jual-Beli Tanah di Sumba Firman Panjaitan; Marianus Nangi Kewa
Ra'ah: Journal of Sociology of Religion Vol. 3 No. 1 (2023): June
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/r.v3i1.184

Abstract

Penelitian ini bertujuan hendak mengulik pergumulan yang terjadi dewasa ini di tengah masyarakat Sumba, khususnya mengenai maraknya penjualan tanah yang dilakukan oleh masyarakat Sumba kepada para pendatang. Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya pemahaman yang benar tentang arti dan makna teologis, baik secara Alkitabiah maupun melalui agama/religi Marapu, yang dimiliki oleh masyarakat Sumba. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang dijabarkan melalui pendekatan netnografi dan pembacaan lintas tekstual, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa dalam pandangan Alkitabiah maupun agama Marapu ditemukan ajaran tentang kesatuan yang mutlak antara Allah, manusia dengan tanah. Di satu sisi hidup manusia dan tanah senantiasa ada dalam kait kelindan dan keduanya saling bergantung satu sama lain, dan di sisi lain hidup manusia dan tanah sangat bergantung kepada Allah. Masyarakat Sumba harus memahami hal ini, sehingga pemahaman yang benar tentang tanah yang ditinjau secara Teologi melalui sudut pandang Alkitab dan agama Marapu (budaya Sumba) harus dimiliki oleh masyarakat Sumba. Dengan demikian masyarakat Sumba tidak akan mudah untuk menjual tanah mereka, sebagai bentuk kepatuhan mereka kepada Allah (Marapu, Sang Khalik)
LUDRUK SEBAGAI MEDIA MENGABARKAN MISI KERAJAAN ALLAH DI LINGKUP GREJA KRISTEN JAWI WETAN Dwi Ratna Kusumaningdyah; Firman Panjaitan
Manna Rafflesia Vol. 10 No. 1 (2023): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38091/man_raf.v10i1.356

Abstract

This study aims to explain ludruk culture as a means to preach the mission of the Kingdom of God in the scope of Jawi Wetan Christian Church (GKJW). Generally, the play/story ludruk revolves around social criticism of people's lives, with the aim of improvement in the lives of these people. Using the qualitative – descriptive method, this study shows the intersection point in the story ludruk with the mission of the Kingdom of God, so that ludruk can be used as a cultural foundation to bring the mission of the Kingdom of God on Earth East Java. The results showed that ludruk and the mission of the Kingdom of God are an appropriate synergy for GKJW to preach the mission of the Kingdom of God.
Mewartakan Kebenaran Kepada Generasi Z: Aktualisasi Iman dalam Praktik Sosial dan Relasional berdasarkan Yakobus 2:18 Panjaitan, Firman; Boimau, Syenitesalonika H.C.
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 6 No 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/tjt.v6i1.1094

Abstract

Preaching faith in the digital age faces new challenges, especially in reaching out to Generation Z who live amid a culture of pluralism, moral relativism, and digital connectedness. This study aims to examine the theological meaning of James 2:18 in the context of preaching the Christian faith to a Gen Z group that is known for its digital, plural characteristics, and search for authentic spirituality. Using qualitative methods based on literature review and a historical-critical approach, this study interprets the Greek text grammatically and contextually to highlight the relationship between faith and deeds. The results showed that faith that is not realized in concrete actions does not have Effective Preaching power for Gen Z in contrast to previous studies that emphasized digital strategies or message delivery, this study focused on the integration of faith and action as authentic forms of preaching. This study concludes that the proclamation of faith should be voiced through real-life evidence and relational, not just through words or digital media alone. The main contribution of the study is a new theological framework that underlines the importance of the actualization of faith and social practice as contextual and transformative preaching for today's generation. Keywords: Generation Z; Faith and Works; James 2:18; Preaching
KEPEDULIAN SOSIAL KEPADA ORANG MISKIN: Tafsir Rut 2:1-23 dan Implikasinya bagi Gereja Johan Christiawan; Firman Panjaitan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.254

Abstract

Social disparities rooted in structural injustices continue to pose significant challenges, most clearly visible in the uneven distribution of opportunities and access to essential resources. This situation underscores the urgency for an ethical response grounded in genuine social concern, particularly for individuals experiencing poverty. The central question of this study is: In what ways can the narrative of Boaz and Ruth (Ruth 2:1–23) offer a theological basis for the church in addressing social inequality? Utilizing a descriptive qualitative approach supported by narrative analysis and a deductive framework, this research investigates the narrative’s structure and thematic significance. The results indicate that Boaz’s gracious conduct toward Ruth—a marginalized, impoverished foreigner—embodies principles of compassion, justice, and human dignity that surpass legal expectations. These findings highlight the church’s calling to promote social transformation through ministries that advocate for the poor. Ultimately, Boaz’s example provides theological motivation for the church to embody Christ’s love tangibly and to extend hope to marginalized groups. AbstrakKesenjangan sosial sebagai akibat ketidakadilan struktural terus menjadi tantangan serius, terutama terlihat dalam akses yang timpang terhadap sumber daya dan peluang. Kondisi ini menegaskan kebutuhan akan respons moral berupa kepedulian sosial, khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini bertanya, “Bagaimana kisah Boas dan Rut (Rut 2:1-23) dapat memberikan landasan teologis bagi gereja dalam merespons kesenjangan sosial?” Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui analisis naratif dengan pendekatan deduktif, penelitian ini menelaah struktur dan makna kisah tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa tindakan Boas yang penuh belas kasih terhadap Rut—seorang perempuan miskin dan asing—mencerminkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih yang melampaui tuntutan hukum. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen perubahan sosial melalui pelayanan yang berpihak pada kaum miskin dan menjunjung martabat manusia. Kesimpulannya, teladan Boas memberikan inspirasi teologis bagi gereja untuk memanifestasikan kasih Kristus secara konkret dan menghadirkan harapan bagi kelompok yang terpinggirkan.Kata-kata Kunci: Boas dan Rut, Gereja, Kepedulian Sosial, Rut 1:1-23