Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Kajian Etika Solidaritas Terhadap Peran Pekerja Sosial Pendamping Korban Kekerasan Seksual di Sentra Efata Kupang Eluama, Lita Meathy Dawi Ngana; Setyawan, Yusak Budi; Ludji, Irene
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i2.282

Abstract

This article explores the ethical aspects of solidarity in the role of social workers assisting victims of sexual violence. Social workers are expected to uphold equality and justice for victims, who are often vulnerable and marginalized. Using a qualitative approach, data were collected through observation, interviews, and literature study. The findings reveal that social workers provide protection and empowerment to support victims’ recovery. They emphasize solidarity as a foundation for effective assistance, recognizing its importance in their ethical duties. Despite challenges where some assistance may not be fully embraced by victims, social workers remain committed to their role in fostering solidarity and advocating for justice. This research underscores the ethical responsibility of social workers to assist victims with empathy and dedication, promoting their recovery and rights in the face of societal marginalization.Tulisan ini membahas Etika Solidaritas tentang peran pekerja sosial pendamping korban kekerasan seksual. Peran pekerja sosial yang dimaksudkan adalah sikap pekerja sosial dalam mendampingi korban kekerasan seksual dengan menekankan pentingnya kesetaraan dan keadilan bagi korban kekerasan seksual yang seringkali dianggap sebagai orang-orang paling rentan dan terpinggirkan dalam masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan peran sebagai pendamping korban kekerasan seksual, pekerja sosial memberikan perlindungan serta pemberdayaan sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan diri korban. Selain itu sebagai pendamping yang memahami betul pentingnya solidaritas sebagai landasan dalam mendampingi korban. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pekerja sosial memahami dengan betul pangggilan etisnya melalui pendampingan terhadap korban meskipun beberapa pendampingan yang dilakukan tidak dapat diterima dengan baik oleh korban. Peran pendamping korban kekerasan seksual diwujudkan dengan solidaritas bersama para korban kekerasan seksual.
‘Law and Gospel’ or ‘Gospel and Law’? An attempt to Trans(form) Theologia Viatorum in the Living Church Ludji, Irene
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v9i2.1478

Abstract

This article explores the ordered concepts of ‘Law and Gospel’ by Martin Luther and ‘Gospel and Law’ by Karl Barth. On the one hand, Luther understood Law and the Gospel as two different but not separate concepts of Christian life. The Law is what God asks Christians to do, while the Gospel is what Christians receive from God. On the other hand, Barth believes that theology should focus on the incarnation of Jesus Christ as proclaimed in the Gospel. This article answered two research questions: First, what is the relationship between the approach presented by Luther and Barth? Second, how can these approaches contribute to the attempt to trans(form) theologia viatorum in the living church? This study was conducted by a literature study. The result of the study showed that to transform and form theologia viatorum of the living church, the ability to hold hand in hand (manus in manu) the duty to God (Law), as proposed by Luther, and receiving the good news (Gospel), as suggested by Barth should enable the church to serve the world better.
Agama Dan Etika Politik: Peran Gereja dalam Diskursus Etika Politik Era Reformasi Malino, Yan; Supratikno, Agus; Ludji, Irene
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v9i2.1472

Abstract

Abstract. The argument of this research is that the church has a moral and ethical responsibility to conduct political education through discourse on political ethics in public spaces. This is based on historical facts that the Cristianity since the independence movement until now has had potential power and significant influence in politics in Indonesia. This research used the hermeneutic phenomenology method in the context of socio-political history. The result of the research showed that the church is quite proactive in responding to national and state issues in the Reformation Era, but it is still not optimal to conduct discourse on political ethics in public spaces. The political role of the church in general is still limited to carrying out liturgical ritual activities, praying together, and issuing formal shepherding calls at every election event.Abstrak. Argumentasi penelitian ini adalah gereja memiliki tanggung jawab moral dan etis melakukan pendidikan politik melalui diskursus etika politik di ruang-ruang publik. Hal ini didasarkan atas fakta sejarah bahwa agama sejak masa pergerakan perjuangan kemerdekaan sampai dengan masa kini memiliki kekuatan potensial dan pengaruh signifikan dalam perpolitikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi hermeneutik dalam konteks sejarah sosio-politik. Hasil peneliteian menunjukkan bahwa gereja cukup pro aktif menyikapi persoalan bangsa dan negara di Era Reformasi, namun masih kurang maksimal memanfaatkan ruang publik untuk melakukan diskursus etika politik. Peran politik gereja secara umum masih sebatas melakukan kegiatan ritual liturgis, doa bersama, dan mengeluarkan seruan formal penggembalaan pada setiap perhelatan pemilu.
Why Infusion of Virtue Matters? A Study on Thomas Aquinas’s Virtues in a Person’s Ethical Decision Ludji, Irene
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 9 No 1 (2025): March
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v9i1.862

Abstract

In this article, I discuss the importance of St. Thomas Aquinas’s infused virtue in living an ethical Christian life, a critical element of church formation. The research question in this article answered the importance of infused virtue in understanding the goodness of a person's moral life as a church member. The method used in this article is a literature study that focuses on the work of Thomas on acquired and infused virtue ethics. Thomas’s virtue ethics is demonstrated to be a complete set of ethics, that does not only focus on acquired ethics. Moral and intellectual virtues are not enough for human beings to achieve the proper purpose of their life by themselves. Therefore, human beings need the infusion of virtues as a part of God’s grace that will elevate their understanding of God’s universal moral order. There are three parts to this article, in the first part of the article, I present a critique of the belief that Christian ethics should rely only on habit as something that can be acquired through practice. In the second part of the article, I discuss Thomas’s virtue ethics by briefly introducing his concept of natural law and its relation to virtue. In the last part of this article, I provide a conclusion on why I think infused virtue matters.
UKIRAN ‘PASSURA’ TORAJA SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS KOMUNITAS KRISTEN DI BUNTAO KABUPATEN TORAJA UTARA: PERSPEKTIF CLIFFORD GEERTZ Harlin Palanta; Irene Ludji; Izak Y.M. Lattu
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 6 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v6i2.277

Abstract

Ukiran passura’ bagi suku Toraja menunjukkan simbol identitas, tidak hanya menjadi simbol ciri khas sampai masa kini. Namun, ukiran passura’ merupakan simbol yang menggambarkan kisah kehidupan sehari- hari berwujud pada aktivitas nyata, melalui pemahaman, pengalaman dan kepercayaan yang bersifat trasenden, kemudian dimuat dalam nilai-nilai budaya dan ritus dalam masyarakat Toraja. Selain itu, ukiran passura’ menyangkut benda, atau peristiwa para leluhur disebut dengan istilah kepercayaan Aluk Todolo, diteruskan secara historis dalam wujud simbol melalui, mitos, dan upacara keagamaan sebagai alat untuk memahami setiap tindakan sosial masyarakat. Clifford Geertz menekankan bahwa, simbol adalah suatu hal yang bersifat faktual sebab, terdapat pola makna- makna yang kemudian akan diinterpretasikan untuk mewujudkan pada suatu tindakan sosial.  Penulisan ini, fokus menganalisis makna- makna ukiran passura’ yang menjadi simbol identitas komunitas Kristen masyarakat Buntao Toraja Utara. Jenis dan model ukiran pada konteks Toraja ada 150 jenis ukiran passura’. Oleh karena itu, penulis hanya mengkaji dasar- dasar ukiran passura antara lain: ukiran passura’ pa’Barre Alllo, Pa’ Manuk Londong, Pa’ Tedong dan Pasusuk.  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis.  Dengan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka untuk membantu penulis melihat makna ukiran passura’ sebagai simbol identitas dalam komunitas Kristen. Pada hasil penelitian, penulis menemukan makna dan nilai melalui dasar- dasar ukiran passura’ merupakan simbol mengisahkan hubungan manusia dengan Tuhan, dapat dilihat dari eksistensi manusia, menyadari sumber kehidupan berasal dari Tuhan. Kedua, hubungan manusia dengan hewan sebagai pemenuhan hidup dan sebagai penyembahan dewa bagi masyarakat Toraja. Ketiga, hubungan manusia dengan tumbuhan untuk bisa bertahan hidup.
ETIKA EKOLOGI DALAM KEARIFAN LOKAL “SASI” DI MALUKU Brando Zeth Maatoke; Irene Ludji; Suwarto Adi
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i1.343

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menggali etika ekologi dari kearifan lokal sasi. Sasi merupakan salah satu kearifan lokal dari masyarakat Maluku. Sasi dipraktekan sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam ciptaan. Maka dari itu, sasi sering  digunakan sebagai pedoman dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dengan pedoman dalam kearifan ini,  alam tetap dijaga di tengah meningkatnya sifat antroposentris dari manusia. Selain itu, sasi memberikan paradigma baru bahwa alam bukanlah objek dari manusia, tetapi merupakan subjek. Maka dari itu, kearifan lokal sasi mengandung nilai-nilai etis yang perlu digali sebagai bagian dari etika ekologi. Teori yang akan dijadikan sebagai landasan teori dalam menggali etika ekologi dari tradisi sasi adalah teori deep ekology dari Arnev Ness. Penelitian ini menggunakan  metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskritif analitis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dan studi dokumen. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sasi mengadung sejumblah nilai etis, misalnya kebaikan, kesetaraan dan solidaritas. Nilai tersebut dapat dijadikan sebagai kaidah dalam membangun hubungan dengan alam semesta. Dalam hubungan tersebut, ekosistem hutan tetap terjaga serta  perkembangbiakan flora dan fauna yang ada di hutan dan laut dapat berjalan dengan baik.
Intergenerational Trauma: Exploring Transmission Mechanisms in Post-Conflict Families Amping, Donnye Rura; Adiyanti, Maria Goretti; Ludji, Irene
Bisma The Journal of Counseling Vol. 8 No. 2 (2024): August
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v8i2.85107

Abstract

Trauma due to communal conflict creates a lasting impact even after the conflict has ended. Trauma not only affects individuals who experience it directly, but also has an impact on the family and social environment, which in turn has an impact across generational boundaries. This study aims to explore and analyze the mechanisms of intergenerational trauma transmission in post-conflict families, where trauma can be transmitted both directly and indirectly through psychological, family, and social interactions. The approach used is qualitative with a case study design, involving parents who experience conflict and children who are not directly involved. Data were collected through observation and in-depth interviews, then analyzed using qualitative descriptive methods, and their validity was strengthened using triangulation of data sources. The results of the study indicate that the transmission of trauma in families occurs through two main aspects: parenting patterns and the influence of the social environment. Parenting patterns that are formed from traumatic experiences of parents after conflict, especially those that have not been handled properly, tend to be overprotective and full of strict instructions. The social environment becomes a place for children to confirm the trauma received from parenting patterns which then strengthen the transmission of this trauma. These two aspects are interrelated in forming patterns and processes of intergenerational trauma transmission.
Kajian Etika Digital terhadap Peran Perempuan sebagai Content Creator Rohani di GPIB ATK Abel, Jesica Lionita; Ludji, Irene; Paat, Gilbert
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 5 No 1 (2025): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/dp.v5i1.771

Abstract

The rapid development of technology over time has an impact on the role of women in their ministry in the congregation and society, especially in utilizing digital platforms to spread spiritual content and positive messages to the congregation and society. This study examines the role of women as spiritual content creators in the GPIB ATK Ambarawa Congregation within the framework of Kate Ott's feminist ethics. Through in-depth interviews with female content creators and analysis of the content they produce, this study explores how women in GPIB ATK utilize digital platforms to spread spiritual content and how they apply the principles of digital ethics in these activities. The results of the study indicate that women in GPIB ATK have a significant role in spreading positive messages through digital platforms. However, this study also identifies challenges associated with the use of digital technology, such as the spread of invalid information, potential privacy violations, and the social impact of the content they produce. Based on Kate Ott's feminist ethics theory, this study concludes that efforts are needed to improve women's digital literacy so that they can use technology responsibly and ethically. Thus, good digital literacy allows women not only to be consumers of information, but can also be agents of positive change in strengthening spirituality and morality in the digital era.
Tawaran Ekofeminisme untuk Mengatasi Pelanggaran HAM yang Dialami Perempuan dalam Konflik Agaria di Wadas Pramono, Muhamad Sidik; Ludji, Irene
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v6i02.9790

Abstract

Penelitian ini ditulis guna memaparkan tawaran dalam ekofeminisme untuk melihat pelanggaran HAM yang dialami oleh para perempuan pada saat konflik agraria di Wadas. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka atas penelitian yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan cara etnografi digital. Kemudian, dianalisis dengan pendekatan studi kritis. Di dalam penelitian ini, teori yang dipakai ialah ekofeminisme klasik atau kultural dan ekofeminisme sosialis yang digagas oleh Vandana Shiva. Penelitian ini coba menjawab bagaimana ekofeminisme dapat menjadi salah satu tawaran atas kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap pereempuan. Setidaknya, terdapat beberapa hasil dari penelitian ini yakni pertama, perempuan di Wadas mengalami kekerasan dan pelanggaran HAM baik dalam hak sipil politik maupun hak ekonomi, sosial, budaya. Kedua, penelitian ini menunjukan bahwa ekofeminisme dapat menjadi tawaran atas adanya kekerasan fisik maupun psikis dan pelanggaran HAM karena negara abai dalam menjamin hak-hak perempuan di Wadas. Melalui ekofeminisme perempuan diposisikan setara dan menjadi subjek yang dipertimbangkan dalam setiap isu agraria atau ekologi. Dengan menggunakan ekofeminisme, pertimbangan negara dalam isu agraria tidak selalu berpihak pada kepentingan kapitalis saja, namun juga mempertimbangkan perempuan. Ekofeminisme sebagai tawaran ini dimaksudkan untuk merubah paradigma yang dipakai negara dalam isu agraria. Dengan paradigma ekofeminisme yang memiliki nilai etika kepedulian dan perdamaian, maka kekerasan terhadap perempuan dapat dihilangkan. Selain itu, negara juga akan dapat melakukan kewajibannya untuk memenuhi (to fulfill), melindungi (to protect), dan menghormati (to respect) HAM.
Konsep Etika Sosial dalam Pandangan Ketuhanan Jean-Luc Marion di Era Postmodern Taneo, Rolin Ferdilianto Sandelgus; Ludji, Irene; Y. M. Lattu, Izak
Studia Philosophica et Theologica Vol 23 No 2 (2023)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v23i2.562

Abstract

The problem of human trafficking in East Nusa Tenggara is a humanitarian issue but also a theological problem. Therefore, the attitude of the church and all members of the NTT community is also a determinant for breaking the human trafficking chain in NTT. Therefore, this paper is intended to clearly state and at the same time focus on how the church’s contribution in NTT is actually in participating in solving this problem. This paper, will examine more of the existing literature. Then, the search results will be elaborated in order to get a link to the problem written, and offer solutions to be noticed and followed up.