Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Konsep Etika Sosial dalam Pandangan Ketuhanan Jean-Luc Marion di Era Postmodern Rudolfo Jacob Manusiwa; Irene Ludji; Izak Y. M. Lattu
Studia Philosophica et Theologica Vol 23 No 2 (2023)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v23i2.524

Abstract

This research delves explicitly into and elaborates on the concept of social ethics through the eyes of Jean-Luc Marion's concept of divinity. Through this research, the author understood the contribution of Marion's theory regarding the human face as an icon in social lives during the postmodern era. In order to get the results from the research, a qualitative approach to the literature study was used. The results show that Marion's ideas complete the concept of social ethics characteristics, which can formulate ethics. Marion offers to live icon relations and reject idol relations in social lives because icon relations are relevant for eliminating truth claims (God) within the framework of displaying the character of religious adherents that are inclusive, hospitable, and constructive actions appreciative of each of the characteristics of the various definitions and concepts of divinity. Icon relations live the values of inclusiveness, accepting and being open to plural truth (definition and concept of God), and viewing truth as relative. Furthermore, Marion's understanding of human relations with humans speaks phenomenologically and is normative. Human relations refer to individual awareness that the responses in living together are ethical orders that speak through faces (icon), and the context of agape is also present. Ethical orders and agape will always burden the individual when every time he is faced with the face (icon) of another being.
Kritik Etika Kristen Feminis atas Sikap GMIT Ebenhaezer Naimuti Terhadap Praktik Adat Suus Oef Ora, Thresia Nina; Ludji, Irene
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 5, No 1 (2024): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v5i1.191

Abstract

This article examines the attitude of the Evangelical Christian Church in Timor (GMIT) Ebenhaezer Naimuti towards the suus oef custom in Nekmese Village, South Amarasi, from a feminist Christian ethics perspective. The research employs a qualitative method, including field observations, structured and unstructured interviews, and literature studies. The results indicate that suus oef, part of the bride price, influences how men treat women, with women being considered men's property after payment. GMIT Ebenhaezer Naimuti addresses this issue by providing mass wedding services for couples who have lived together but are not yet legally married in the church. This approach underscores the church's stance that both men and women are made in the image of God (Imago Dei).Artikel ini mengkaji sikap Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Ebenhaezer Naimuti terhadap praktik adat suus oef di Desa Nekmese, Amarasi Selatan, dengan perspektif etika Kristen feminis. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara, dan studi pustaka. Hasil menunjukkan bahwa suus oef, sebagai bagian dari mahar, memengaruhi perlakuan laki-laki terhadap perempuan, di mana perempuan dianggap milik laki-laki setelah pembayaran. GMIT Ebenhaezer Naimuti merespons isu ini dengan menyediakan pelayanan nikah massal bagi pasangan yang sudah tinggal bersama namun belum menikah secara sah di gereja. Pendekatan ini menegaskan pandangan gereja bahwa laki-laki dan perempuan adalah gambar Allah (Imago Dei).
Konflik dan Peran Profetis-Normatif Pendeta: Kajian Etika Sosial Kristen Nakamnanu, Nadya; Ludji, Irene
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 4, No 2 (2023): DESEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v4i2.134

Abstract

This paper reviews Christian social ethics on the prophetic-normative role of pastors in dealing with the rejection of the construction of Gereja Masehi Injili di Timor Bethlehem Oeluan-North Central Timor. The pastor's prophetic-normative role in this study refers to the ability to convey actual teachings that originate from moral responsibility based on the Christian faith. This is qualitative research where data collection was conducted through interviews, observation, and literature study. The study results show that in carrying out the prophetic-normative role, a pastor is seen as, first, parents and shepherds whose presence creates calm and rejection of violence in the congregation. Second, as a solidarity leader who strengthens the congregation. This study concludes that the pastor understands her prophetic-normative role through her calling to serve the congregation despite threats of violence. This prophetic-normative role is manifested in solidarity with congregations who are victims of violence. Tulisan ini mempresentasikan tinjauan etika sosial Kristen terhadap peran Pendeta. Pendeta dalam menghadapi penolakan pembangunan gedung Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Betlehem Oeluan Timor Tengah Utara (TTU). Peran Pendeta yang dimaksud adalah sikap Pendeta dalam menyampaikan ajaran benar yang bersumber dari tanggung jawab moral berdasarkan iman Kristen. Pengambilan data menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menjalankan perannya, Pendeta dipandang sebagai: Pertama, orang tua dan gembala yang kehadirannya melahirkan ketenangan dan penolakan terhadap sikap kekerasan di tengah jemaat. Kedua, tokoh solider yang menguatkan jemaat untuk tetap beribadah di dalam gedung gereja Betlehem Oeluan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pendeta memahami perannya di tengah konflik lewat keterpanggilan untuk melayani jemaat yang ada di tengah ancaman kekerasan sekalipun. Peran pendeta di tengah konflik diwujudkan dengan solidaritas bersama jemaat yang menjadi korban kekerasan.
PERAN PUSAT PENGEMBANGAN ANAK IO-497 BENYAMIN OEBUFU DALAM PEMULIHAN SPIRITUALITAS PASCA SIKLON SEROJA DITINJAU DARI PERSPEKTIF ETIKA SOLIDARITAS Doki, Deva Arifia; Ludji, Irene; Lauterboom, Mariska
Jurnal Teologi (Journal of Theology) Vol 12, No 02 (2023)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/jt.v12i02.6347

Abstract

Tulisan ini berfokus pada Peran Pusat Pengembangan Anak (PPA) IO-497 Benyamin Oebufu dalam aksi solidaritasnya untuk mengupayakan pemulihan spiritualitas bagi 86 jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Benyamin Oebufu yang merasakan langsung dampak bencana siklon Seroja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui teknik wawancara terstruktur. Melalui proses penelitian didapati ada dua dampak yang memengaruhi spiritualitas jemaat korban bencana siklon Seroja yakni dampak secara materi berupa kehilangan rumah dan secara psikis berupa trauma. Melihat pergumulan yang dihadapi jemaat maka Gereja dan PPA langsung tanggap akan dampak bencana siklon Seroja. Upaya yang dilakukan antara lain seperti melakukan kegiatan trauma healing untuk anak-anak yang terdampak dan bekerja sama dengan Yayasan Compassion Indonesia (YCI) untuk membangun hunian yang baru bagi keluarga yang rumahnya hancur. Upaya yang dilakukan merupakan bentuk solidaritas sebagai manusia yang mempunyai tanggung jawab etis untuk peduli kepada sesama yang menderita, seperti yang dikemukakan oleh Rebecca Todd Peters mengenai empat tugas etika solidaritas. Peran PPA dalam upaya pemulihan telah mencerminkan solidaritas Allah melalui empat tugas itu yakni menghadirkan metanoia (pertobatan/perubahan secara fundamental), menghargai perbedaan, menunjukkan loyalitas-akuntabilitas dan aksi nyata.
Tinjauan Keadilan terhadap Advokasi Masyarakat dalam program Desa Inklusif Disabilitas di Bah Sulung, Kabupaten Simalungun Sihombing, Helpin; Tampake, Tony; Ludji, Irene
JPI (Jurnal Pendidikan Inklusi) Vol. 6 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Pendidikan Luar Biasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/inklusi.v6n1.p1-17

Abstract

People with disabilities still do not receive optimal services overall. People with disabilities need to receive space for justice and prosperity from their families and society. This research aims to analyze and explore the justice received by people with disabilities in Bah Sulung Village through the disability inclusive village program. The disability inclusive village program is an effort by the church and community by establishing an RBM (Community Based Rehabilitation) Post in Bah Sulung Village. Data analysis was carried out descriptively qualitatively. In collecting data, the author conducted observations and interviews as well as literature studies in Bah Sulung Village to investigate the fulfillment of rights and equality obtained by people with disabilities. The informants consisted of RBM post administrators, RBM cadres, families of people with disabilities and several communities in Bah Sulung Village, Simalungun. The research results show that people with disabilities and their families gain acceptance and equality through the empowerment of RBM posts. The author uses John Rawls's perspective on justice theory as a basis for analyzing justice issues for people with disabilities in fulfilling equality and rights.
Ketika Semua yang Hidup adalah Saudara: Gagasan Spiritualitas Ekologi Transformatif pada Masyarakat Adat Samin-Sedulur Sikep dalam menghadapi Krisis Lingkungan di Pegunungan Kendeng Filipus, Johan Kristian; Ludji, Irene; Supratikno, Agus
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 10, No 1 (2024): KENOSIS: JURNAL TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v10i1.909

Abstract

Alam adalah rumah bersama bagi seluruh makhluk hidup, karena itu maka kelestariannya harus dijaga agar memberikan kualitas  hidup yang baik bagi seluruh makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Untuk mewujudkan keharmonisan antar makhluk hidup sebagai penghuni alam, maka gagasan etika lingkungan dapat menjadi alat untuk mempromosikan kelestarian ekosistem lingkungan hidup di planet Bumi. Artikel ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi gagasan spiritualitas ekologi transformatif pada masyarakat adat samin-sedulur sikep, dan menganalisa keterhubungan masyarakat adat samin-sedulur sikep sebagai human dengan alam yang menempatkan entitas diluar manusia sebagai sedulur (saudara). Dalam mendiskusikan spiritualitas ekologi yang transformatif, artikel ini menggunakan pendekatan ekofeminis dan paradigma masyarakat adat. Telaah ini menunjukan bahwa masyarakat adat samin-sedulur sikep menempatkan alam dalam relasi inter-subjektif, sehingga memiliki peluang untuk dikonstruksi dalam sebuah diskursus etika lingkungan yang transformatif agar dapat menciptakan perdamaian ekologis demi keutuhan ciptaan. Dengan demikian, gagasan paradigmatik pada epistemologis modern yang menempatkan manusia sebagai antroposentris dan alam sebagai objek, dapat digeser dengan paradigma epistemologi pengetahuan lokal masyarakat adat.
Kajian Etika Anti-Kekerasan terhadap Peran Tradisi Mandome Garanggaran Masyarakat Talaud dalam Mendorong Perdamaian Sosial Elo, Elma Friska; Ludji, Irene
KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi Vol 9, No 2 (2023): KENOSIS: JURNAL KAJIAN TEOLOGI
Publisher : IAKN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37196/kenosis.v9i2.643

Abstract

Tulisan ini mempresentasikan kajian etika anti-kekerasan oleh Benhard Hairing dan Malcolm Brownlee terhadap tradisi Mandome Garanggaran masyarakat Talaud di Sulawesi Utara. Mandome Garanggaran adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Talaud dalam menyelesaikan permasalahan sosial tanpa kekerasan. Ada dua simbol yang digunakan dalam tradisi Mandome Garanggaran yaitu api yang diartikan sebagai hati yang panas dan air yang menyejukkan hati yang panas. Air dipakai untuk memadamkan api sebagai simbol selesainya perselisihan dalam masyarakat. Tradisi Mandome Garanggaran dilaksanakan setiap tahun pada bulan November. Dalam praktiknya, tradisi Mandome Garanggaran menunjukkan nilai penghargaan terhadap sesama manusia yang memiliki harkat dan martabat setara serta penerimaan terhadap perbedaan. Masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam tradisi Mandome Garanggaran melakukannya atas dasar kesadaran akan tanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan bersama yang harmonis. Teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara semi terstruktur, observasi non-partisipatoris dan studi pustaka. Hasil analisa menunjukkan bahwa tradisi Mandome Garanggaran adalah media perdamaian sosial yang efektif bagi masyarakat Talaud karena di dalamnya dapat ditemukan nilai-nilai etika anti-kekerasan yang berakar dalam pemahaman individu, komunitas, serta dewat adat dalam menciptakan kehidupan yang harmonis di Talaud.
Tinjauan Etika Anti-Kekerasan Terhadap Peran Orang Tua Dalam mendidik Remaja 15-17 Tahun Di GMIT Emaus Liliba Mboro, Whilly Mesakh; Ludji, Irene; Lusi, Astrid Bonik
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 5 No. 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46348/car.v5i1.269

Abstract

Non-violence ethics wants to invite parents to play their duties and roles as non-violence ethics educators. This research was carried out using qualitative methods with a narrative-descriptive approach. It is hoped that through a narrative-descriptive approach, the context can be investigated to see how the role of parents becomes educators. At GMIT Emmaus Liliba, cases of violence against children are pretty high, and, unfortunately, violence is carried out by those closest to them, such as parents and other family members. Most parents at GMIT Emmaus Liliba understand that a child needs to be educated with full attention and affection in adolescence. However, for them, violence is also necessary if the child is disobedient. Robert L. Holmes believes that awareness, consistency, and never giving up are the first steps in parents' efforts to present new, creative, non-violent educational patterns. Therefore, non-violence education is the path that needs to be chosen so that the implementation of education in the family improves the lives of teenagers aged 15-17.  
Tradisi Pindah Marga (Puru) Sebagai Representasi Kesetaraan Gender Dalam Masyarakat Sabu Ricard Edwin Thomas; Irene Ludji; Tony Robert Tampake
Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi Vol 8, No 1 (2024): November
Publisher : Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/endogami.8.1.29-46

Abstract

Artikel ini berfokus pada pelaksanaan tradisi pindah marga (puru) yang menjadi representasi kesetaraan gender dalam suku Sabu di Kota Waingapu, Sumba Timur yang ditinjau dari perspektif etika sosial feminis Beverly W. Harrison. Ketidakadilan gender membuat perempuan sering menjadi korban subordinasi, yang salah satunya disebabkan karena sistem budaya patriarki. Namun tidak semua budaya dalam masyarakat menjunjung tinggi martabat seorang perempuan, ada juga tradisi yang menjunjung tinggi martabat seorang perempuan dan masih dipertahankan hingga saat ini yaitu tradisi pindah marga (adat puru). Adat ini masih dipertahankan dan wajib dilakukan oleh suku Sabu karena mengandung nilai-nilai luhur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami bagaimana sudut pandang suku Sabu tentang tradisi pindah marga (puru) yang berhubungan dengan upaya dalam menjaga kesetaraan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini merupakan suatu bentuk perlindungan terhadap perempuan Sabu dari berbagai tindakan kekerasan dan diskriminasi yang dapat dialaminya. Kesimpulan penelitian ini ialah tradisi Puru menjadi representasi dari keadilan dan kesetaraan gender, serta menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan perempuan Sabu dalam pembentukan diri yang bertanggung jawab sehingga memperoleh kesejahteraan sosial. 
Ritual Rukat’tu sebagai Ruang Liminalitas dalam Perjumpaan Agama Kristen dan Jingitiu di Sabu Barat Lukas, Alma Victoria Anastasia; Lattu, Izak Y. M.; Tampake, Tony; Ludji, Irene
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 2 (2024): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v6i2.239

Abstract

Interfaith encounters and dialogue in Indonesia have always focused only on official religions recognized by the Indonesian government. The purpose of this research is to further examine the encounter between official religions in Indonesia, specifically Protestant Christianity and the indigenous religion (ancestral religion) in West Sabu. The people of Sabu have an indigenous religion called Jingitiu. The encounter between Christianity and Jingitiu occurs in the rukat'tu ritual as a liminal space and the creation of social recognition of Jingitiu. The research method used is qualitative with a critical ethnographic approach. The theory used with an interdisciplinary approach is liminality according to Victor Turner and social recognition according to Axel Honneth. The findings show that discrimination, differentiation and public rejection are still ongoing to this day, but the rukat'tu ritual becomes a space of acceptance between Christianity and indigenous religions by sitting on one mat together in performing rituals, eating traditional food together and supporting each other in times of sorrow. This can foster a sense of brotherhood, equality, peace and harmonious relationships between religions.