Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Critical Care Nurses’ Experiences of End-of-Life Care: A Qualitative Study Utami, Reni Sulung; Pujianto, Ahmat; Setyawan, Dody; Naviati, Elsa; Rochana, Nana
Nurse Media Journal of Nursing Vol 10, No 3 (2020): (December 2020)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v10i3.31302

Abstract

Background: Patients admitted to the intensive care unit (ICU) may face terminal illness situations, which may lead to death. In this case, the role of critical care nurses shifts from life-sustaining to end-of-life care (EOLC). Nurses’ involvement in EOLC varies between countries, even in one country due to differences in religion, culture, organization, laws, cases and patient quality. In Indonesia, research on EOLC in ICU has not been carried out.Purpose: This study aimed to explore the experiences of critical care nurses in providing EOLC.Methods: A qualitative study with a phenomenological approach was conducted. Ten critical care nurses having the experiences of caring for dying patients were recruited through a purposive sampling technique for in-depth interviews. Manual content analysis was used to identify themes.Results: The results of the study found five themes, including the challenge of communication with the family, support for the family, support for the patient, discussion and decision making, and nurses’ emotions. Conclusion: Most of EOLC provided by critical care nurses was focused on the family. They had some challenges in communication and decision making. Nurses need to get training and education about how to care for patients towards the end of life.
Pengaruh Mendengarkan Murattal Surat Ar Rahman Terhadap Kualitas Tidur Pasien Sindrom Koroner Akut Ahmat Pujianto; Titis Kurniawan; Helwiyah Ropi
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 11, No 1 (2020): Januari 2020
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf11111

Abstract

One of the negative effects of the hospitalization process is low sleep quality. Low sleep quality in patients with ACS may increase stress, anxiety, and depression that potentially worsening patients’ chest pain. This study aimed to determine the effect of listening Surat Ar Rahman recital holy Qur’an on sleep quality in patients with ACS in the cardiac intensive unit. This study was quasi experiment with nonequivalent control group design. Thirty-six respondents were recruited purposively and divided into intervention (18 respondents) and control group (18 respondents) with matching in anxiety level. The intervention group received therapy listening Surat Ar Rahman recital holy Qur’an for 15 minutes before nocturnal sleep. Sleep quality measured using Richard Campbell Sleep Questionnaire (RCSQ) instrument. Collected data were analyzed using dependent and independent sample t test. The level of significance was set at p
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN BANTUAN HIDUP DASAR DAN PENANGGULANGAN KEGAWATDARURATAN PADA KADER KESEHATAN Ahmat Pujianto; Maria Imaculata Ose; Hendy Lesmana; Citra Alpiani; Putri Aulia Rohmadiana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 2 (2022): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.116 KB) | DOI: 10.31764/jmm.v6i2.7054

Abstract

Abstrak: Keterlambatan pemberian pertolongan pertama di fase pre hospital pada korban kegawatdaruratan dapat memperburuk kondisi korban. Pertolongan yang cepat dan tepat pada korban gawat darurat akan mencegah korban dari kematian maupun kecacatan permanen. Kader kesehatan memegang peranan penting terutama sebagai first responder (orang yang pertama kali menemukan korban), sehingga harus memiliki kemampuan melakukan bantuan hidup dasar. Saat ini, hanya ada 1 orang dari total 20 kader kesehatan Kelurahan Juata Permai yang sudah pernah mengikuti pelatihan BHD. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan BHD dan penanggulangan kegawatdaruratan pada kader kesehatan. Kegiatan ini diikuti oleh 20 kader kesehatan. Pelatihan ini terbagi dalam 2 tahap, yaitu penyampaian teori terkait BHD dan penanggulangan kegawatdaruratan dan praktik. Setelah mengikuti kegiatan ini, pengetahuan dan juga keterampilan peserta terkait BHD dan penanggulangan kegawatdaruratan mengalami peningkatan minimal 60%. Hal tersebut terbukti dengan peningkatan nilai post test dan juga setiap peserta mampu mempraktikkan skill resusitasi jantung paru dan pembebasan jalan napas pada korban tersedak baik itu korban dewasa, anak maupun bayi.Abstract: The delay of the first responder to provide first aid in the pre-hospital phase for emergency victims can worsen the victim's condition. Prompt and appropriate help for victims with emergency conditions will prevent victims from death or permanent disability. Health volunteers play an important role, especially as first responders, so that the ability to carry out basic life support must be possessed by health cadres and the wider community. Currently, there is only 1 person out of a total of 20 health volunteers in Juata Permai Village who has attended Basic Life Support (BLS) training. The purpose of this activity is to increase BHD knowledge and skills and to respond to emergencies in health volunteers. This activity was attended by 20 health volunteers. This activity includes 2 stages, including the delivery of the theory/concept of BLS and emergency response using the lecture method, question and answer, and the practice. After participating in this activity, participants' knowledge and skills related to BLS and emergency response increased 60%. This is evidenced by the increase in post-test scores and also that each participant can practice cardiopulmonary resuscitation skills and airway clearance for choking victims, both adult victims, children and infants.
Peningkatan Kualitas Caregiver Melalui Pelatihan Perawatan Kegawatdaruratan Dan Dasar di masa pandemic covid-19 Maria Imaculata Ose; Fitriya Handayani; Ahmat Pujianto; Marnia Sulfiana; Aji Ega; Cindy Arfina
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2021): April
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v3i3.684

Abstract

Care giver atau pengasuh memiliki peran penting dalam merawat dan mendampingi lansia yang berada di panti dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan yang dihadapi adalah care giver di panti tidak memiliki latar belakang Ilmu Kesehatan maupun Ilmu keperawatan dalam mendampingi para lansia. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan caregiver melalui pelatihan perawatan kegawatdaruratan dan perawatan dasar pada lansia di Panti sangat penting. Kegiatan ini disusun dalam meliputi survey lapangan, melakukan koordinasi dan komunikasi, penyusunan modul, dan pelaksanaan kegiatan. Kegiatan ini berlangsnung dengan memperhatikan protocol Kesehatan. Pelaksanaan kegiatan pelatihan di bagi menjadi dua tahap yaitu tahap pemberian materi dan tahap praktek. Dalam tahap praktek semua caregiver mendapatkan kesempatan untuk mendemonstrasikan dengan didampingi narasumber dan fasilitator hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri untuk memberikan pelayanan yang maksimal.
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KESIAPAN DALAM PENANGANAN BANTUAN HIDUP DASAR PADA KOMUNITAS GEREJA KRISTEN DI TARAKAN Maria Imaculata Ose; Ahmat Pujianto
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 1 NOMOR 2 TAHUN 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.393 KB) | DOI: 10.35334/neotyce.v1i0.2246

Abstract

Tindakan Bantuan Hidup Dasar (BHD) harus segera dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan otak yang lebih parah, mengingat golden period adalah 6-10 menit. Keterlambatan serta kesalahan tindakan BHD dapat berakibat fatal bagi korban. Beberapa faktor seperti kemampuan penolong, ketersediaan peralatan serta tingkat keparahan korban menjadi kendala untuk mengatasi kondisi kegawatan pada korban. Tindakan BHD tidak hanya menjadi tanggung jawab oleh petugas kesehatan saja, tetapi juga masyarakat awam. Sebagai first responder (orang yang pertama kali menemukan korban), masyarakat awam juga harus memiliki kemampuan melakukan BHD pada fase pre hospital sebelum petugas ambulans datang. Kondisi gawat darurat dapat terjadi kapan saja, pada siapa saja dan dimana saja, tidak terkecuali pada saat perkumpulan dalam kegiatan keagamaan. Hal tersebut mendorong pengurus Komunitas Gereja Kristen di Tarakan untuk membekali anggotanya dengan pengetahuan dan juga keterampilan BHD pada masyarakat awam, karena sebagian besar anggota Komunitas Gereja Kristen di Tarakan belum pernah mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tentang BHD di masyarakat. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Komunitas Gereja Kristen di Tarakan  ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan juga keterampilan tindakan BHD, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesiapan dan kepercayaan diri pada anggota komunitas ini untuk memberikan pertolongan jika terjadi kondisi kegawatan baik di dalam lingkungan gereja maupun lingkungan masyarakat umumnya. Kegiatan ini merupakan kegiatan pelatihan yang terdiri dari pemberian materi secara klasikal dan juga praktik tindakan BHD pada panthom.  Evaluasi dari kegiatan ini menunjukan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan pengetahuan setelah mengikuti kegiatan pelatihan ini. 
PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT PADA RELAWAN PALANG MERAH INDONESIA Ahmat Pujianto; Maria Imaculata Ose; Donny Tri Wahyudi; Nurman Hidaya; Fitriya Handayani
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 2 NOMOR 2 TAHUN 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.638 KB) | DOI: 10.35334/neotyce.v2i2.2724

Abstract

Angka kejadian henti jantung di luar rumah sakit (out of hospital cardiac arrest) cenderung tinggi dan kurang dari 40% dari jumlah korban tersebut diberikan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) oleh masyarakat awam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keterampilan bantuan hidup dasar sangat penting dimiliki oleh masyarakat termasuk juga para relawan. Kesiapsiagaan relawan yang didukung dengan kompetensi yang mumpuni menjadi faktor penting bagi relawan dalam memberikan pertolongan pertama. Pentingnya pengetahuan dan keterampilan bantuan hidup dasar di masyarakat, maka masyarakat termasuk para relawan perlu diberikan pelatihan bantuan hidup dasar. Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta yang merupakan relawan PMI. Kegiatan ini meliputi 2 tahap, diantaranya penyampaian teori/konsep BHD dengan metode ceramah, serta praktik melakukan resusitasi jantung paru (RJP) dan manajemen pembebasan jalan napas pada korban tersedak/chocking. Secara kuantitatif terdapat perbedaan nilai pre dan post test pengetahuan peserta tentang BHD. Untuk aspek keterampilan, rerata nilai peserta setelah pelatihan BHD juga baik. Pelatihan BHD mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. 
MEDIA POSTER GIZI TERHADAP PENGETAHUAN DAN NIAT BERTINDAK PADA LANSIA Mega Octamelia; Maria Imaculata Ose; Donny Tri Wahyudi; Ahmat Pujianto
Journal of Borneo Holistic Health Vol 5, No 2 (2022): Journal Of Borneo Holistic Health
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/borticalth.v5i2.3218

Abstract

Kebutuhan akan informasi bisa didapatkan melalui berbagai media promosi yang tersedia, agar kebutuhan informasi kesehatan terpenuhi. Penggunaan media poster pada lansia membutuhkan upaya berkelanjutan yaitu dengan memberikan informasi yang mudah dipahami lansia, sehingga tujuan pencegahan penyakit melalui pemahaman tentang gizi dapat tercapai. Tujuan penelitian menganalisis penggunaan media poster tentang gizi terhadap pengetahuan dan niat bertindak pada lansia. Penelitian kuantitatif dengan pendekatan one group pre dan post test dengan jumlah populasi 40 responden. Uji bivariat menggunakan wilcoxon test. Terdapat perbedaan pre test dan post test pengetahuan dan niat bertindak pada lansia setelah diberikan media poster dengan p = 0,004 (p 0,05). Diharapkan memberikan alternatif pilihan media dalam menyebarkan informasi kesehatan dengan memperhatikan pesan pada media tersebut.
UPAYA EDUKASI KESEHATAN DALAM PERSIAPAN VAKSINASI COVID-19 PADA LANSIA Maria Imaculata Ose; Fitriya Handayani; Nurman Hidaya; Ahmat Pujianto; Donny Tri Wahyudi
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 3 NOMOR 1 TAHUN 2023
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v3i1.3373

Abstract

Program vaksinasi menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk mencegah penularan covid-19 dan menciptakan herd immunity (kekebalan kelompok) untuk dapat keluar dari  pandemik. Lansia salah satu kelompok sasaran utama sebagai prioritas penerima vaksin. Pencegahan penularan melalui upaya vaksin Covid-19 dan booster terhadap Covid-19 bagi lansia menjadi prioritas, baik di tingkat masyarakat maupun di fasilitas kesehatan. Saat ini cakupan vaksinasi belum mencapai harapan, data menunjukan pada bulan  Agustus 2021 cakupan vaksinasi pada pendudukan Indonesia masih rendah. hasil wawancara dari petugas kesehatan penanggung jawab program vaksinansi puskesmas juata menjelaskan bahwa saat ini jumlah lansia yang di vaksinasi masih cenderung sedikit. Sebagian besar lansia maupun keluarganya belum mau di vaksin. Adapun tujuan pengabdian ini  memberikan sebagai Upaya Edukasi Kesehatan dalam Persiapan Vaksinasi Covid-19 pada Lansia. Dalam pengabdian ini melibatkan mahasiswa sebagai fasilitator untuk memberikan edukasi  kepada keluarga dan lansia. Pelaksanaan kegiatan ini di laksanakan di wilayah kerja Puskemas Juata berlangsung selama bulan Agustus-September 2021. Kegiatan ini di harapkan lansia berpartisipasi dalam vaksinasi covid-19. 
MANAJEMEN PENCEGAHAN PENINGKATAN TEKANAN INTRAKRANIAL (TIK) PADA PASIEN PASCA KRANIOTOMI DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT (ICU) Ahmat Pujianto; Hendy Lesmana; Maria Imaculata Ose; Bayu Purnomo; Aris Junaidi
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi pasien pasca kraniotomi relatif tidak stabil, dan berpotensi mengalami komplikasi intrakranial sehingga pasien harus mendapat pemantauan ketat di ruang perawatan intensif (Intensive Care Unit ((ICU). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran manajemen pencegahan tekanan intrakranial (TIK) pada pasien pasca kraniotomi di ICU. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang melibatkan 12 responden pasien pasca kraniotomi sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar observasi catatan medis pasien yang berisi karakteristik responden, status hemodinamik responden, manajemen TIK yang dilakukan, nilai pemeriksaan Glasgow Coma Scale-Pupil (GCS-P), nilai laboratorium untuk laktat, dan nilai elektrolit (natrium, kalium, dan klorida). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hari ketiga perawatan, pengaruh sedasi sudah menurun dan 3 responden (8,3%) sudah dalam keadaan sadar dengan nilai GCS-P E4M6Vett-P 3/3. Semua responden diberikan posisi head up 15-30 derajat, sedangkan untuk mode ventilator mekanik, positive end expiratory pressure (PEEP), fraksi oksigen, obat sedasi, analgesik. Pada hari ketiga perawatan, sebagian besar responden sudah mengalami peningkatan ke arah perbaikan. Manajemen pencegahan peningkatan tekanan intrakranial pada pasien pasca kraniotomi akibat cedera otak traumatik pada pasien di ICU sesuai dengan pedoman Brain Trauma Foundation Guideline tahun 2016. Hanya saja untuk pengukuran tekanan intrakranial pada semua pasien belum dilakukan baik secara non-invasif maupun invasif. Kata kunci: ICU, manajemen TIK, pasca kraniotomi DOI : 10.35990/mk.v6n1.p44-55
THE PSYCHOLOGICAL RESPONS OF THE CRITICAL CARE NURSES IN CARING COVID-19 PATIENTS Dody Setyawan; Reni Sulung Utami; Nana Rochana; Ahmat Pujianto; Failasuf Wibisono; Ardiyanto; Imam Subiyono; Sarinti; Philip Purworahyono
Jurnal Ilmu Keperawatan Medikal Bedah Vol. 6 No. 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jikmb.v6i1.1776

Abstract

Unstable and critical conditions of Covid-19 patients require intensive care in the Intensive Care Unit (ICU) Covid-19 isolation room. The patients require intensive actions and continuous monitoring resulting in an increase in the workload of ICU nurses. ICU nurses should also wear third level Personal Protective Equipment (PPE) while dealing with Covid-19 patients. The number of patients and nurses who died has become one of the stressors for ICU nurses. ICU nurses also feel anxious and afraid of being infected, feel worried about the effectiveness of PPE, and the risk of transmission to family members at home. This condition leads to stress, depression and affects the quality of service. Therefore, this study aims to know the psychological respons of the critical care nurses in caring Covid-19 patients. This study used descriptive survey with the sample size of 181 respondents. The respondents were members of the Central Java-Indonesian Critical Care Nurses Association recruited by some inclusion and exclusion criteria. Depression, Anxiety, and Stress Scale 42 (DASS 42) was used as an instrument to collect the data. The data were analyzed in frequency and percentage. The results showed that the majority of respondents did not experience anxiety (58%), stress (82.3%), and depression (72.9%) although there were still severe and very severe anxiety levels (11.6%), a severe stress level (2.8%), and a severe depression level (1.7%) experienced by the respondents respectively. Nurses who are anxious, stressed or depressed should obtain serious attention from the nurses, the hospital and the government. Therefore, the psychological management of nurses can be improved to prevent unwanted problems such as ongoing depression or burnout syndrome.