Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Kematian Sebagai Transisi Spritual: Telaah Psikologi Islam terhadap Proses Menuju Kematian Nabila Atika Ajra; Adhelia Husnainy Zaen; Vivik Shofiah; Khairunnas Rajab
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana Islam memandang persiapan menghadapi kematian dengan menggunakan pendekatan studi literatur. Kematian merupakan suatu kepastian yang tidak bisa dihindari oleh setiap makhluk hidup, termasuk manusia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Dalam perspektif psikologi dan Islam, persiapan kematian dipandang sebagai bagian penting dari perjalanan hidup, yang mencakup dimensi spiritual, moral, dan sosial. Pada aspek spiritual, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud kesiapan menghadapi akhir hayat. Dari sisi moral, persiapan kematian tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti menjaga amanah, berbuat kebajikan, serta meninggalkan teladan moral yang baik. Sementara itu, aspek sosial menekankan pentingnya menunaikan wasiat, melunasi utang, dan membagikan harta warisan sesuai tuntunan syariat. Penelitian ini dilakukan melalui kajian literatur atau studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi kematian dalam psikologi dan Islam mampu menghadirkan ketenangan batin, memberikan kepastian, serta memengaruhi cara seorang Muslim menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
Perspektif Psikologi Islam tentang Perilaku Bullying: Analisis Literatur Rahma Suryani; Jeri Candra; Khairunnas Rajab; Vivik Shofiah
Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII) Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Studi Islam Indonesia (JSII)
Publisher : Publication and Inovasi Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61930/jsii.v3i2.1421

Abstract

Fenomena bullying saat ini menjadi salah satu bentuk deviasi sosial yang kian marak terjadi, baik di lingkungan pendidikan, pertemanan, maupun media sosial. Perilaku ini tidak hanya merusak hubungan antar individu, tetapi juga mengganggu tatanan kehidupan masyarakat secara luas. Melalui metode penelitian library research, kajian ini menelaah teori-teori psikologi modern seperti teori belajar sosial dan psikoanalisis serta landasan normatif dalam al-qur’an dan hadis. Hasil kajian menunjukkan bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang disengaja, dilakukan berulang, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Dalam islam, bullying dipandang sebagai bentuk kezaliman yang bertentangan dengan prinsip akhlak mulia dan larangan merendahkan martabat sesama. Faktor penyebab bullying mencakup karakter individu, pola asuh keluarga, pengaruh media, teman sebaya, serta perbedaan status sosial. Dampaknya meliputi gangguan psikologis, sosial, dan akademik, baik bagi korban maupun pelaku. Pencegahan dan penanggulangan dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan, komunikasi keluarga, pembentukan budaya anti-bullying di sekolah, intervensi psikologis seperti Cognitive Behaviour Therapy (CBT), serta kebijakan represif yang tegas. Kajian ini menegaskan pentingnya sinergi pendekatan psikologi dan nilai spiritual Islam dalam membangun strategi komprehensif untuk meminimalisasi praktik bullying.
ORIENTASI DAN EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM PADA LEVEL DOKTORAL Roby Setyawan; Khairunnas Rajab
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.39608

Abstract

This study examines the orientation and epistemology of Islamic educational thought at the doctoral level, emphasizing the essential integration of revelation and reason as both sources and tools for acquiring knowledge. Unlike Western epistemology, which mainly emphasizes rationalism and empiricism, Islamic epistemology acknowledges revelation as the primary source alongside rational and experiential knowledge. This holistic framework underpins the philosophy and methodology of Islamic education, aiming to develop scholars who are not only intellectually proficient but also spiritually grounded according to the paradigm of tauhid. The research discusses the distinctiveness and profundity of doctoral-level Islamic education, which requires a balanced blend of traditional Islamic scientific methods and modern academic rigor. It further addresses the implications of this epistemological foundation on curriculum development, teaching methods, and educational policy in Islamic higher education. The study also explores the challenges posed by secular paradigms and the necessity for innovative, interdisciplinary, and technology-integrated approaches to foster the development of authentic Islamic knowledge and leadership. Ultimately, this study contributes to building an epistemological framework that nurtures intellectual excellence and moral integrity in Islamic education in contemporary global contexts.
Pemikiran pendidikan kontemporer: Ismail Raji al-Faruqi Heldi Firma; Khairunnas Rajab
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6474

Abstract

Penelitian ini membahas pemikiran pendidikan kontemporer Ismail Raji Al-Faruqi yang berfokus pada konsep Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai respons atas krisis intelektual dan dualisme pendidikan dalam dunia Islam. Fenomena pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum dinilai telah melahirkan berbagai problem epistemologis, sosial, dan moral dalam kehidupan umat Muslim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang bersumber dari buku-buku dan artikel ilmiah relevan terkait pemikiran Al-Faruqi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas Al-Faruqi berlandaskan pada prinsip tauhid sebagai fondasi epistemologis, yang bertujuan menyatukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman secara integral. Melalui tahapan sistematis Islamisasi ilmu, Al-Faruqi berupaya mengembalikan orientasi keilmuan agar selaras dengan tujuan penciptaan manusia serta mampu menjawab tantangan modernitas. Dengan demikian, pemikiran Al-Faruqi memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan pendidikan Islam yang holistik, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Isu Integrasi Keilmuan: Islamic Science dan Modern Science Dalam Pendidikan Jenny Ambiani; Khairunnas Rajab
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6567

Abstract

Isu integrasi keilmuan antara Islamic science dan modern science dalam pendidikan merupakan permasalahan fundamental yang memerlukan pendekatan epistemologis dan praktis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif akar permasalahan, tantangan implementasi, dan strategi integrasi keilmuan dalam sistem pendidikan Islam. Melalui studi literatur sistematis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, penelitian ini mengungkap bahwa dikotomi keilmuan telah menyebabkan krisis identitas dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi keilmuan memerlukan pendekatan holistik yang meliputi rekonstruksi kurikulum, pengembangan metodologi pembelajaran, dan peningkatan kapasitas pendidik. Studi ini merekomendasikan model integrasi yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan abad 21 tanpa mengabaikan khazanah keilmuan Islam klasik.
Pemikiran pendidikan kontemporer: Ismail Raji al-Faruqi Heldi Firma; Khairunnas Rajab
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6573

Abstract

Penelitian ini membahas pemikiran pendidikan kontemporer Ismail Raji Al-Faruqi yang berfokus pada konsep Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai respons atas krisis intelektual dan dualisme pendidikan dalam dunia Islam. Fenomena pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum dinilai telah melahirkan berbagai problem epistemologis, sosial, dan moral dalam kehidupan umat Muslim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, yang bersumber dari buku-buku dan artikel ilmiah relevan terkait pemikiran Al-Faruqi. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas Al-Faruqi berlandaskan pada prinsip tauhid sebagai fondasi epistemologis, yang bertujuan menyatukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman secara integral. Melalui tahapan sistematis Islamisasi ilmu, Al-Faruqi berupaya mengembalikan orientasi keilmuan agar selaras dengan tujuan penciptaan manusia serta mampu menjawab tantangan modernitas. Dengan demikian, pemikiran Al-Faruqi memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan pendidikan Islam yang holistik, humanis, dan berorientasi pada kemaslahatan umat
Isu Integrasi Keilmuan: Islamic Science dan Modern Science Dalam Pendidikan Jenny Ambiani; Khairunnas Rajab
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.6574

Abstract

Isu integrasi keilmuan antara Islamic science dan modern science dalam pendidikan merupakan permasalahan fundamental yang memerlukan pendekatan epistemologis dan praktis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif akar permasalahan, tantangan implementasi, dan strategi integrasi keilmuan dalam sistem pendidikan Islam. Melalui studi literatur sistematis terhadap sumber-sumber primer dan sekunder, penelitian ini mengungkap bahwa dikotomi keilmuan telah menyebabkan krisis identitas dalam pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi keilmuan memerlukan pendekatan holistik yang meliputi rekonstruksi kurikulum, pengembangan metodologi pembelajaran, dan peningkatan kapasitas pendidik. Studi ini merekomendasikan model integrasi yang kontekstual dengan kebutuhan pendidikan abad 21 tanpa mengabaikan khazanah keilmuan Islam klasik.
Membangun Kesejahteraan Jiwa: Konstruksi Kesejahteraan Psikologis dengan Psikoterapi Islam sebagai Alternatif Nabila Atika Ajra; Khairunnas Rajab
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39267

Abstract

Penelitian ini membahas konstruksi kesejahteraan psikologis dalam perspektif Islam serta relevansi psikoterapi Islam sebagai alternatif pendekatan kesehatan mental yang holistik. Kesejahteraan psikologis dalam Islam dipahami sebagai kondisi seimbang antara aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang tercermin dalam konsep nafs al-muthma’innah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep kesejahteraan psikologis, terminologi gangguan mental dalam literatur Islam, serta bentuk intervensi psikoterapi Islam yang relevan bagi masyarakat Muslim modern. Metode penelitian menggunakan pendekatan kajian literatur dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah, jurnal, dan literatur psikologi Islam yang berkaitan dengan kesehatan mental dan psikoterapi Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa psikoterapi Islam mampu mengintegrasikan pendekatan psikologi modern dengan nilai-nilai Qur’an dan Sunnah melalui praktik seperti dzikir, doa, shalat, tawakkal, dan restrukturisasi kognitif Islami. Pendekatan ini dinilai efektif dalam membantu regulasi emosi, meningkatkan coping religius, serta memperkuat makna hidup dan kesejahteraan psikologis individu Muslim.
Menyembuhkan Pikiran dengan Iman Analisis Prosedur Psikoterapi Islam untuk Kecemasan dan Stres: Tinjauan Literature Adhelia Husnainy Zaen; Khairunnas Rajab
ALSYS Vol 6 No 3 (2026): MEI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/alsys.v6i3.9902

Abstract

Although Islamic psychotherapy has received attention in various previous studies, research that specifically discusses the structured procedures and clinical mechanisms of Islamic psychotherapy techniques for treating anxiety and stress in Muslim populations remains limited. This study aims to analyze and evaluate the main procedures of Islamic psychotherapy in treating anxiety and stress through a systematic literature review approach. This study used a qualitative method with a systematic literature review (SLR) design guided by PRISMA principles, involving 46 primary sources selected from the Google Scholar, PubMed, PsycINFO, and GARUDA databases and published between 1988 and 2022. Data were collected through document analysis and evaluated using thematic analysis techniques. The results showed that Islamic psychotherapy includes six structured main procedures, namely dhikr therapy as emotional regulation, shalat as transcendental meditation, tilawah and tadabbur of the Al-Qur’an as cognitive restructuring, fasting as nafs training, tawakkal as acceptance therapy, and ruqyah syar’iyyah as a spiritual intervention. These findings contribute to the development of the biopsychosociospiritual model of mental health and expand understanding of religion-based therapeutic interventions. The conclusion of this study confirms that Islamic psychotherapy, through the holistic integration of spiritual and psychological dimensions, plays an important role in reducing symptoms of anxiety and stress in Muslim clients. The implications of this study include theoretical contributions to the literature on Islamic psychology and practical recommendations for developing a more structured and standardized Islamic psychotherapy curriculum.
Ibadah Shalat dan Implikasinya dalam Penanganan Gangguan Psikologis: Tinjauan Literatur Dewi Sulastri; Khairunnas Rajab
ANWARUL Vol 6 No 2 (2026): APRIL
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/anwarul.v6i2.9525

Abstract

Although spiritual approaches in addressing psychological disorders have received increasing attention, studies that comprehensively discuss the theoretical foundations, psychological mechanisms, implementation procedures, and effectiveness of shalat psychotherapy remain limited. This article aims to systematically examine shalat psychotherapy as an integrative therapeutic approach that combines the spiritual dimension of shalat worship with the principles of clinical psychology in addressing various psychological disorders. This study employed a systematic literature review method by tracing sources from the Google Scholar, PubMed, DOAJ, and Garuda databases based on relevant keywords, with coverage of empirical studies during the 2015–2025 period. The review results show that shalat, psychophysiologically, has the potential to reduce sympathetic nervous system activity, increase serotonin and endorphin levels, and stimulate a relaxation response through rhythmic movements and repeated recitations. The mindfulness dimension in shalat, namely khusyu', has also been shown to have a significant correlation with reductions in symptoms of anxiety, depression, and post-traumatic stress. In addition, preparation for shalat, which includes thaharah, intention, and qibla orientation, collectively forms psychological readiness that supports the therapeutic process. Various studies among Muslim populations in several countries show that shalat-based interventions are consistently effective in reducing symptoms of generalized anxiety disorder, major depression, post-traumatic stress, and addiction. These findings contribute to strengthening contemporary Islamic psychology studies by affirming that shalat is not merely a religious ritual, but a psychotherapeutic modality rich in therapeutic value and with the potential to be integrated into mental health practice.