Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Studi Penurunan Kadar COD (Chemical Oxygen Demand) dan TSS (Total Suspended Solid) Menggunakan Ferri Klorida (Fecl3) pada Limbah Cair Industri Pembuatan Tahu Kartika Dian Pertiwi; Yuliaji Siswanto; Ita Puji Lestari
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2024): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2024
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/proheallth.v6i2.3714

Abstract

The tofu industry is a business established to develop activities in the food sector that have positive and negative impacts on the environment. The source of tofu industrial waste in Semarang comes from several process stages which produce average values ​​of Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), and Total Suspended Solid (TSS) which are very far from the thresholds determined by industrial wastewater quality standards. tofu by the government according to Central Java Provincial Regulation No.5 of 2012. The aim of this research is to determine the effectiveness of ferric chloride (FeCl3) as a coagulant in the wastewater treatment process of the tofu making industry with test parameters COD and TSS. This type of research is a quasi-experiment. The research design used was a pretest-posttest with control group design. The samples in this research were 35 samples of tofu liquid waste produced from the tofu industry in Gogik Village, East Ungaran District, Semarang Regency. The results of this research show that there is a difference in the Chemical Oxygen Demand (COD) levels of tofu waste before and after the addition of FeCl3 coagulant with a significance value of 0.016 or a probability below 0.05 (0.016 < 0.05), with the most effective dose being 40 gr/L waste water, There is a difference in the Total Suspended Solid (TSS) levels of tofu waste before and after the addition of FeCl3 coagulant with a significance value of 0.001 or the probability is below 0.05 (0.001 < 0.05). the probability is below 0.05 (0.001 < 0.05).   ABSTRAK                 Industri tahu merupakan usaha yang didirikan dalam rangka pengembangan kegiatan di bidang pangan yang mempunyai dampak positif dan negatif bagi lingkungan. Sumber limbah industri tahu di Semarang berasal dari beberapa tahapan proses yang menghasilkan nilai rata-rata Biochemichal Oxygen deman (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspenden Solid (TSS) sangat jauh dari ambang batas yang ditentukan baku mutu air limbah industri tahu oleh pemerintah menurut Perda Provinsi Jawa Tengah No.5 Tahun 2012. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ferri klorida (FeCl3) sebagai koagulan  dalam  proses  pengolahan air  limbah  industri  pebuatan tahu dengan parameter uji COD dan TSS. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pretest-postest with control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah limbah cair tahu yang dihasilkan dari industri tahu di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Timur,  Kabupaten Semarang sebanyak  35 sampel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan Ada perbedaan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) limbah tahu sebelum dan setelah diberikan penambahan koagulan FeCl3 dengan nilai signifikansi 0,016 atau probabilitasnya dibawah 0,05 ( 0,016 < 0,05 ), dengan dosis paling efektif adalah 40 gr/L air limbah, Ada perbedaan kadar Total Suspended Solid (TSS) limbah tahu sebelum dan setelah diberikan penambahan koagulan FeCl3 dengan nilai signifikansi 0,001 atau probabilitasnya dibawah 0,05 ( 0,001 < 0,05 ). probabilitasnya dibawah 0,05 ( 0,001 < 0,05 ).
Manajemen Limbah Ternak dan Sanitasi Kandang Dalam Rangka Peningkatan Daya Dukung Lingkungan Desa Pertiwi, Kartika Dian; Lestari, Ita Puji; Afandi, Alfan; Wibowo, Agung
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xmsgqv67

Abstract

Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang merupakan wilayah dengan dominasi aktivitas peternakan yang belum diimbangi dengan pengelolaan limbah dan sanitasi kandang yang baik. Kondisi ini memicu pencemaran lingkungan, ditunjukkan dengan kadar nitrat sungai mencapai 100 mg/L, jauh melebihi ambang batas baku mutu air irigasi menurut Permenkes No. 95 Tahun 2012. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan melalui edukasi pengelolaan limbah ternak dan penerapan sanitasi kandang sesuai standar kesehatan lingkungan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan partisipatif, pelatihan pembuatan pupuk organik dari limbah ternak, pendampingan sanitasi kandang, serta penyusunan jadwal kebersihan kandang kolektif oleh kelompok peternak. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peternak sebesar 52% dilihat dari skor pre-test dan post-test. Secara praktik, 70% peternak mulai memanfaatkan limbah menjadi pupuk organik skala rumah tangga. Kelompok peternak juga berhasil menyusun jadwal sanitasi kandang mingguan dan melaksanakan rapat bulanan untuk evaluasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi dan pendampingan teknis efektif dalam mengubah perilaku peternak menuju pengelolaan limbah dan sanitasi kandang yang lebih baik, sehingga mendukung upaya peningkatan daya dukung lingkungan dan dapat menjadi model intervensi untuk wilayah lain dengan permasalahan serupa.
Analisis Risiko Pajanan Dermal Pestisida Cair pada Petani Tradisional Dengan Pendekatan DREAM (Dermal Risk Exposure Assessment Method) Muzaqi, Lutfi; Qonita Nur Qolby; Irfani Kurniawan; Pratama Sakti; Burhan Maritsal Chakim; Ameylia Devi Ardianingsih; Moudy Putri Perdana; Ismi Elya; Kartika Dian Pertiwi
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2025): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2025
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Keselamatan dalam penggunaan bahan kimia, terutama pestisida, merupakan isu penting dalam sektor pertanian. Pestisida memiliki peran signifikan dalam meningkatkan hasil pertanian dengan mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak buruk pada kesehatan manusia dan lingkungan. Efek jangka panjang dari pajanan pestisida yang berlebihan meliputi keracunan akut, gangguan saraf, serta pencemaran tanah dan air. Kabupaten Brebes merupakan salah satu sentra produksi bawang merah yang cukup besar di Indonesia, menyumbang sekitar 30% produksi nasional. Petani di daerah ini menggunakan pestisida secara intensif untuk mengatasi hama seperti Spodoptera exigua dan Fusarium oxysporum. Studi menunjukkan bahwa keputusan penggunaan pestisida dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kegagalan panen. Untuk menilai risiko pajanan melalui kulit, penelitian ini menggunakan Dermal Risk Exposure Assessment Method (DREAM), yang mengevaluasi tingkat kontak bahan kimia berdasarkan frekuensi, durasi, dan luas area terpapar. Data diperoleh melalui observasi lapangan dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tangan merupakan area tubuh dengan tingkat pajanan tertinggi selama pelaksanaan penyemprotan (Skin-A = 3645), diikuti oleh lengan bawah (18,9) dan tubuh bagian depan (2,19). Aktivitas penyemprotan memiliki nilai pajanan tertinggi (SkinW-ATask = 110,30), dikategorikan sebagai "high exposure," sedangkan mencampur pestisida dan menuang campuran pestisida juga menunjukkan tingkat pajanan yang tingkat menengah (SkinW-ATask = 87,97) dan masuk kedalam moderate expossure. Aktivitas menuang dan mencampur pestisida memiliki pajanan rendah (SkinW-ATask = 29,65) nilai ini masuk kedalam low expossure  karena waktu kontak singkat. Paparan pestisida pada petani tergolong tinggi terutama pada aktivitas penyemprotan, dengan tangan sebagai area paling rentan. Penggunaan alat pelindung diri (APD) secara konsisten serta pelatihan teknis tentang pengendalian pestisida yang aman sangat dianjurkan untuk menekan risiko kesehatan.   Kata kunci: Petani, Dream, Pestisida             ABSTRACT Safety in the use of chemicals, especially pesticides, is an important issue in the agricultural sector. Pesticides play a significant role in increasing agricultural yields by controlling pests and plant diseases. However, uncontrolled use can have adverse effects on human health and the environment. Long-term exposure to excessive pesticides can cause acute poisoning, neurological disorders, as well as soil and water contamination. Brebes Regency is one of the major red onion production centers in Indonesia, contributing around 30% of the national production. Farmers in this area intensively use pesticides to control pests such as Spodoptera exigua and Fusarium oxysporum. Studies show that pesticide use decisions are influenced by concerns over crop failure. To assess the risk of dermal exposure, this study uses the Dermal Risk Exposure Assessment Method (DREAM), which evaluates the level of chemical contact based on frequency, duration, and the area of skin exposed. Data were collected through field observations and questionnaires. The results indicate that the hands have the highest exposure level during spraying activities (Skin-A = 3645), followed by the forearms (18.9) and the front torso (2.19). Spraying activity had the highest exposure value (SkinW-ATask = 110.30), categorized as "high exposure," while mixing and pouring pesticide mixtures showed moderate exposure levels (SkinW-ATask = 87.97). Pouring and mixing activities had low exposure (SkinW-ATask = 29.65) due to the short contact time. Pesticide exposure among farmers is high, especially during spraying activities, with the hands being the most vulnerable area. Consistent use of personal protective equipment (PPE) and technical training on safe pesticide control are highly recommended to reduce health risks. Keywords: Farmer, DREAM, Pesticides
Penguatan Sanitasi dan Pengelolaan Limbah Rumah Tangga di Kelurahan Kalisegoro Semarang Muzaqi, Lutfi; Fifti Istiklaili; Yofinia; Rifki Lukman Khakim; Muhammad Zaky Rinov Arkan; Zulfa Ayuningsih; Kartika Dian Pertiwi; Ismi Elya Wirdati
INDONESIAN JOURNAL OF COMMUNITY EMPOWERMENT (IJCE) Vol. 7 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Community Empowerment November 2025
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijce.v7i2.4540

Abstract

Household waste management in Kalisegoro Village, Gunungpati District, Semarang remains a serious challenge that affects both the environment and public health. The lack of community awareness in waste sorting and limited sanitation infrastructure have led to soil and water pollution. This community service program aimed to improve residents' knowledge and skills in managing household waste independently through training in simple compost production. The implementation method included identification and problem analysis, socialization and education, training and practical demonstrations, implementation and mentoring, as well as program evaluation and sustainability. The program was conducted on August 5, 2025, involving 18 participants, the majority of whom were housewives. The materials covered the dangers of poorly managed household waste, alternatives for managing organic household waste through simple compost production, and the benefits of compost for the environment and household economy. Evaluation results showed an increase in participants' average knowledge scores from 7.88 to 8.75, with 37.5% of participants experiencing score increases, 43.8% maintaining their scores, and 18.7% experiencing score decreases. Participants were able to practice composting independently and expressed commitment to applying it in their households and sharing knowledge with other residents. This program successfully enhanced the community's capacity in managing organic household waste and created a potential multiplier effect through peer-to-peer learning. Therefore, the activity supports the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs) 6 and 11, namely clean water and sanitation, and sustainable cities and communities.   ABSTRAK Permasalahan pengelolaan limbah rumah tangga di Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunungpati, Semarang masih menjadi tantangan serius yang berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kurangnya kesadaran warga dalam memilah sampah serta keterbatasan sarana sanitasi menyebabkan pencemaran tanah dan air. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam mengelola limbah rumah tangga secara mandiri melalui pelatihan pembuatan kompos sederhana. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi dan analisis permasalahan, sosialisasi dan edukasi, pelatihan dan demonstrasi praktik, implementasi dan pendampingan, serta evaluasi dan keberlanjutan program. Kegiatan dilaksanakan pada 5 Agustus 2025 dengan melibatkan 18 peserta yang mayoritas merupakan ibu rumah tangga. Materi yang disampaikan mencakup bahaya limbah rumah tangga yang tidak dikelola dengan baik, alternatif pengelolaan limbah organik melalui pembuatan kompos sederhana, serta manfaat kompos bagi lingkungan dan perekonomian rumah tangga. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 7,88 menjadi 8,75, dengan 37,5% peserta mengalami peningkatan skor, 43,8% peserta mempertahankan skor, dan 18,7% peserta mengalami penurunan skor. Peserta mampu mempraktikkan pembuatan kompos secara mandiri dan berkomitmen menerapkannya di rumah masing-masing serta menyebarluaskan pengetahuan kepada warga lain. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga dan berpotensi menciptakan efek berantai (multiplier effect) melalui pembelajaran antarwarga. Dengan demikian, program ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-6 dan ke-11, yaitu air bersih dan sanitasi layak serta kota dan komunitas berkelanjutan.
Desain sistem tata kelola limbah ternak di kandang komunal Desa Gogik, Kabupaten Semarang Kartika Dian Pertiwi; Evi Maria; Ita Puji Lestari; Muhammad Sultan Al-Zukhruf; Septi Dhian Pramesti; Ridlo Feizzati Rozzag Kristanto; Zulfa Alya Fadilla; Azizah Nur Khairunnisa; Daneva Salsabila Nawangsari; Rahmania Argita Dwijayanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.33999

Abstract

AbstrakKelompok Ternak Rukun Sentosa 2 di Desa Gogik, Kabupaten Semarang, mengelola sapi dalam sistem kandang komunal yang efisien dari sisi pakan dan kesehatan hewan, namun menghasilkan rata-rata 300-400 kg feses dan 160-200 liter urine per hari yang sebelumnya dibuang tanpa pengolahan. Kegiatan ini bertujuan membangun sistem tata kelola limbah komunal yang terstruktur, murah, dan berkelanjutan melalui penerapan waste stream separation. Rancangan sistem disusun melalui dua sesi Focus Group Discussion bersama anggota kelompok dan pemerintah desa, menghasilkan pemisahan alur limbah kering dan basah, pengolahan feses dengan 10 unit komposter, pemanfaatan urine pada digester biogas kapasitas 1 x 1 m3, serta penerapan rotasi kerja bergilir, standard operating procedure, dan pencatatan terstandar untuk limbah. Kegiatan ini menghasilkan dokumen tata kelola awal, baseline data volume limbah, serta peningkatan komitmen kelembagaan untuk pemanfaatan limbah menjadi energi dan pupuk organik. Sistem ini direkomendasikan untuk direplikasi pada komunitas peternak pedesaan dengan kondisi serupa guna mengurangi pencemaran dan meningkatkan nilai ekonomi limbah. Kata kunci: biogas; kompos; limbah ternak; tata kelola partisipatif; waste stream separation. AbstractThe Rukun Sentosa 2 Livestock Group in Gogik Village, Semarang Regency manages cattle in a communal housing system that is efficient in feed and animal health management but produces an average of 300-400 kg of manure and 160-200 liters of urine daily, previously discharged without treatment. This community service program aimed to establish a structured, low-cost, and sustainable communal waste management system through the application of waste stream separation. The design was developed in two Focus Group Discussion involving group members and village authorities, resulting in the separation of solid and liquid waste flows, processing manure using 10 composters (25 liters each), utilizing urine in a 1 x 1 m3  biogas digester, and implementing rotating work schedules, standard operating procedure, and standardized recordkeeping. The implementation produced an initial governance document, baseline waste volume data, and strengthened institutional commitment to convert waste into renewable energy and organic fertilizer. This system is recommended for replication in rural livestock communities with similar conditions to reduce environmental pollution and enhance the economic value of livestock waste. Keywords: biogas; compost; livestock waste; participatory governance; waste stream separation.
Pengaruh Pencahayaan Terhadap Kejadian Computer Vision Syndrome pada Kalangan Gamers Alfan Afandi; Kartika Dian Pertiwi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2264

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat pencahayaan ruangan dengan keluhan Computer Vision Syndrome (CVS) pada gamers. Peningkatan penggunaan layar digital dalam durasi yang lama, seperti bermain game, telah dikaitkan dengan CVS, yaitu kondisi yang ditandai dengan ketidaknyamanan visual dan ketegangan mata. Salah satu faktor ergonomis yang dapat memperburuk gejala ini adalah pencahayaan ruangan yang tidak memadai. Materials and methods. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik observasional cross-sectional. Sampel berjumlah 100 gamers di Kota Salatiga yang dipilih melalui purposive sampling. Tingkat pencahayaan ruangan diukur menggunakan lux meter, sedangkan keluhan CVS diidentifikasi melalui kuesioner Computer Vision Syndrome Questionnaire (CVS-Q). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square pada tingkat signifikansi α = 0,05. Results. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 73 responden (64%) bermain game di ruangan dengan pencahayaan kurang dari 300 lux. Sebanyak 68 responden (59,6%) mengalami keluhan CVS. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pencahayaan ruangan dengan kejadian CVS (p = 0,014), yang mengindikasikan bahwa semakin rendah pencahayaan, semakin tinggi keluhan CVS. Conclusions. Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pencahayaan ruangan dengan keluhan Computer Vision Syndrome pada gamers. Penerapan pencahayaan sesuai standar ergonomi sangat disarankan untuk meminimalkan risiko gangguan penglihatan akibat penggunaan perangkat digital dalam waktu lama.
Hubungan Paparan Pestisida dan Risiko Pencemaran Lingkungan Kerja dengan Keluhan Kesehatan pada Teknisi Pengendalian Vektor Sektor Komersial Adi Kuncoro, Bagas; Dian Pertiwi, Kartika
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Vol. 8 No. 1 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, January 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Paparan pestisida pada teknisi pengendalian vektor merupakan isu penting dalam kesehatan kerja karena aktivitas aplikasi yang dilakukan secara rutin berpotensi menimbulkan pajanan kimia, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pencemaran lingkungan kerja. Pajanan yang berulang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sektor jasa pengendalian hama komersial dengan intensitas kerja lapangan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara paparan pestisida dan risiko pencemaran lingkungan kerja dengan keluhan kesehatan teknisi pengendalian vektor sektor komersial. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Seluruh teknisi aktif dilibatkan sebagai responden (n=33) menggunakan teknik total sampling. Variabel bebas meliputi paparan pestisida dan risiko pencemaran lingkungan kerja, sedangkan variabel terikat adalah keluhan kesehatan. Paparan pestisida diukur berdasarkan frekuensi keterlibatan dalam pencampuran dan penyemprotan, intensitas kontak bahan kimia, serta kondisi lingkungan kerja. Risiko pencemaran dinilai dari potensi kontaminasi akibat aktivitas operasional dan pengelolaan limbah. Keluhan kesehatan diukur berdasarkan gejala yang dirasakan dalam tiga bulan terakhir. Seluruh variabel diukur menggunakan kuesioner skala Likert lima tingkat dan dikategorikan menjadi rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan interval skor teoritis. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan paparan pestisida berada pada kategori rendah (24,2%), sedang (45,5%), dan tinggi (30,3%). Risiko pencemaran lingkungan kerja didominasi kategori sedang (45,5%). Keluhan kesehatan mayoritas berada pada kategori rendah (93,9%). Terdapat hubungan signifikan antara paparan pestisida dan keluhan kesehatan (p=0,001; ρ=0,552), sedangkan risiko pencemaran lingkungan kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p=0,872; ρ=0,031). Kata kunci: paparan pestisida, pencemaran lingkungan kerja, keluhan kesehatan ABSTRACT Pesticide exposure among vector control technicians is an important occupational health concern, as routine application activities may cause both direct chemical exposure and indirect exposure through workplace environmental contamination. Repeated exposure increases the risk of health problems, particularly in commercial pest control services with high fieldwork intensity. This study aimed to analyze the relationship between pesticide exposure and workplace environmental contamination risk with health complaints among commercial vector control technicians. This study is an analytical observational quantitative study with a cross-sectional design was conducted. All active technicians were included as respondents (n=33) using total sampling. Independent variables consisted of pesticide exposure and workplace environmental contamination risk, while the dependent variable was health complaints. Pesticide exposure was measured based on the frequency of mixing and spraying activities, intensity of chemical contact, and workplace environmental conditions. Workplace contamination risk was assessed based on potential contamination from operational activities and waste management practices. Health complaints were measured based on symptoms experienced within the last three months. All variables were assessed using a five-point Likert-scale questionnaire and categorized into low, moderate, and high levels based on theoretical score intervals. Data were analyzed descriptively and bivariately using Spearman correlation tests. The results showed pesticide exposure levels of low (24.2%), moderate (45.5%), and high (30.3%). Workplace environmental contamination risk was predominantly moderate (45.5%). Health complaints were mostly low (93.9%). Pesticide exposure was significantly associated with health complaints (p=0.001; ρ=0.552), while workplace contamination risk showed no significant association (p=0.872; ρ=0.031).   Keywords: pesticide exposure, workplace environmental contamination, health complaints