Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Permodelan Retak Pada Balok Beton Bertulang Menggunakan Program Bantu Elemen Hingga Winda Tri Wahyuningtyas; Yoga Tilang Pratama; Hernu Suyoso; krisnamurti; Dwi Nurtanto
Siklus : Jurnal Teknik Sipil Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/siklus.v7i1.5503

Abstract

Retak yang terjadi pada beton bertulang dapat timbul pada saat pra-konstruksi maupun pada saat pasca konstruksi. Permodelan retak dilakukan untuk mengetahui penyebaran retak pada balok. Model balok mengacu pada penelitian terdahulu yang kemudian disimulasi menggunakan program bantu metode elemen hingga. Model diberi beban dengan jarak 1410 mm dari tepi dan menggunakan perletakan sederhana sejauh 90 mm dari tepi balok. Validasi model menggunakan lendutan saat elastis, dengan beban 120 kN. Model simulasi menunjukan lendutan maksimum 9.42 mm sedangkan teoritis 9.89 mm dengan prosentase 5.1%. Modeling pola retak dilakukan dua cara yaitu lokasi retak tidak ditentukan (model 1) dan lokasi retak ditentukan (model 2). Dalam hal ini, lokasi retak dapat ditentukan berdasarkan hasil running Tensile Damage (DAMAGE T) pada program bantu. Penyebaran retak berdasarkan cara kedua (menentukan lokasi retak) menghasilkan jarak yang mirip dengan persebaran retak ekperimental serta permodelan VCCT (Virtual Crack Closure Technique) analysis yaitu sebesar 15 cm.
Pengaruh Penambahan Viscosity Modifying Admixture Terhadap Sifat Mekanik Beton Geopolimer SCC Hudha Yuka Mahendra; Dwi Nurtanto; Ketut Aswatama Wiswamitra
Siklus : Jurnal Teknik Sipil Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/siklus.v7i1.5847

Abstract

Penggunaan semen yang tidak ramah lingkungan, dan buruknya karakteristik beton segar menjadi salah satu permasalahan pada beton. Beton geopolimer merupakan salah satu teknologi beton yang tidak menggunakan material semen, selain itu bahan tambah berupa viscosity modifying admixture menjadi salah satu solusi dalam menangani permasalahan karakteristik beton segar seperi bleeding, dan segregasi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian mengenai bagaimana pengaruh viscosity modifying admixture terhadap karakteristik beton segar dan sifat mekanik beton geopolimer SCC. Persentase VMA yang digunakan pada penelitian ini sebesar 0%, 0.2%, 0.25%, 0.3%, dan 0.35%. Pengujian karakteristik beton segar akan ditinjau berdasarkan nilai workability slump flow, T500, v-funnel, dan L-shaped box. Pengujian sifat mekanik beton terdiri dari pengujian kuat tekan umur 7 dan 28 hari serta kuat tarik belah umur 28 hari. Hasil pengujian workability beton geopolimer SCC yang menggunakan VMA menghasilkan nilai workability yang lebih rendah, sedangkan pada pengujian sifat mekanik dan analisis regresi quadratic didapatkan hasil bahwa VMA memiliki pengaruh terhadap sifat mekanik dengan sifat mekanik tertinggi terdapat pada persentase VMA sebesar 0.3%.
Sifat Mekanik Beton Ringan Menggunakan Geopolymer Dengan Styrofoam Sebagai Substitusi Agregat Kasar Dhita Agustin; Ketut Aswatama Wiswamitra; Dwi Nurtanto
Siklus : Jurnal Teknik Sipil Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/siklus.v8i1.9251

Abstract

Material styrofoam dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengurangi beban mati pada struktur bangunan. Selain itu, penggunaan beton geopolymer dapat digunakan sebagai solusi untuk mengurangi penggunaan semen yang tidak ramah lingkungan karena proses produksi semen menghasilkan gas CO2. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sifat mekanik beton ringan menggunakan geopolymer dengan styrofoam sebagai substitusi agregat kasar. Diameter yang digunakan pada penelitian yaitu 1-2 mm dan 3-5 mm, kemudian persentase styrofoam yang digunakan yaitu 25%, 50%, 75%, dan 100%. Pengujian sifat mekanik beton teridi dari pengujian kuat tekan umur 28 hari dan kuat tarik belah umur 28 hari. Hasil yang diperoleh adalah berdasarkan perbandingan diameter styrofoam 1-2 mm memiliki kuat tekan dan kuat tarik belah lebih tinggi daripada diameter styrofoam 3-5 mm. Selain itu, kuat tekan dan kuat tarik belah mengalami penurunan seiring bertambahnya persentase styrofoam. Persentase yang sesuai dengan standar beton ringan struktural adalah 75% untuk diameter 1-2 mm dimana diperoleh kuat tekan dan kuat tarik belah berturut-turut 21,16 MPa dan 6,357 MPa. Selain itu, untuk diameter 3-5 diperoleh kuat tekan dan kuat tarik belah berturut-turut 21,72 MPa dan 4,124 MPa.
Desain SCC (Self Compacting Concrete) untuk Rigid Pevement Dwi Nurtanto; Hernu Suyoso; Nanin Meyfa Utami; Gati Annisa Hayu; Winda Tri Wahyuningtyas
Jurnal Aplikasi Teknik Sipil Vol 18, No 2 (2020)
Publisher : Departemen Teknik Infrastruktur Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.248 KB) | DOI: 10.12962/j2579-891X.v18i2.4690

Abstract

Pembangungan infrastruktur transportasi sering menggunakan beton mutu tinggi sebagai perkerasan kaku, namun dalam pengaplikasiannya dilapangan beton mutu tinggi memiliki workability rendah dikarenakan fas yang kecil sehingga kandungan proporsi semen lebih banyak. Dekade terakhir marak dikembangkan beton SCC, dimana memiliki workability tinggi, kuat tekan tinggi dan dapat mengalir sendiri menempati bekisting. Desain SCC yang tepat sebagai aplikasi perkerasan kaku yang memiliki workabilty tinggi dan mempermudah pekerjaan dalam pengaplikasiannya sebagai perkerasan kaku sangat diperlukan untuk mengetahui komposisi yang sesusai terutama prosentase kandungan superplasticizer. Dalam penelitian ini untuk mengetahui porporsi agregat yang optimal digunakan perbandingan dengan SNI 03-2834-2000 dan menggunakan grafik laston AC-WC untuk mendapatkan campuran agregat gradasi menerus yang optimal. Benda uji yang digunakan adalah ukuran Ø10x20 cm. Dari pengujian benda uji didapatkan kuat tekan umur 3 hari yaitu untuk proporsi sesuai SNI 03-2834-2000 didapatkan kuat tekan sebesar 50 Mpa, 47 Mpa, 46 Mpa dengan rerata 47,7 Mpa dan sesuai grafik laston AC-WC didapatkan kuat tekan 57 Mpa, 56 Mpa, 51 Mpa dengan rerata 54,7 Mpa. Kuat tekan lebih besar laston AC-WC daripada SNI 03-2834-2000 dengan selisih 7 Mpa.
PERBANDINGAN MIX DESIGN SNI 03-2834-2000 DAN SNI 7656:2012 DITINJAU DARI PROSES PENGECORAN BETON NORMAL Joerda Foulhudan; Dwi Nurtanto; Krisnamurti Krisnamurti
Jurnal Riset Rekayasa Sipil Vol 5, No 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Civil Engineering Study Program, Engineering Faculty Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.834 KB) | DOI: 10.20961/jrrs.v5i2.48172

Abstract

Beton merupakan material yang hampir 60% digunakan dalam pekerjaan konstruksi dan dipadukan dengan baja. Agregat halus, agregat kasar, semen, dan air merupakan material dari beton. Mix design dan proses pengecoran sangat menentukan mutu beton. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan mix design dan proses pengecoran yang tepat untuk mendapatkan kuat tekan optimum. Mix design pada penelitian ini menggunakan SNI 03-2834-2000 dan SNI 7656:2012 kemudian dikombinasi dengan tiga variasi urutan pemasukan material (agregat kasar - agregat halus - semen) dan ada dua metode pemasukan air yaitu, pemasukan air di akhir langkah (dry mixing) dan  pemasukan air pada setiap langkah pemasukan material (wet mixing). Sehingga terdapat 12 variasi penelitian. Berdasarkan hasil pengujian, kuat tekan optimum yang dihasilkan adalah 43,52 MPa pada variasi penelitian P2M12 dengan proses pelaksanaan pengecoran yaitu, kerikil, semen, pasir, dan ditambahkan air pada akhir proses pengecoran (dry mixing) dan mix design yang digunakan adalah SNI 7656:2012. Jika dilihat dari nilai standar deviasi yang kecil maka dapat dikatakan hasil kuat tekan valid karena interval data tidak terlalu jauh. Namun, nilai kuat tarik yang dihasilkan tidak optimum yaitu sebesar 3,29 MPa meskipun nilai standar deviasinya kecil dan terbilang valid sedangkan untuk nilai modulus elastisitas adalah 10991,89 MPa dan nilai standar deviasi nya tinggi.
Perencanaan Struktur Atas Gedung Kuliah Bersama Universitas Negeri Malang Dengan Menggunakan SNI 2847:2019 dan SNI 1726:2019 Dhaniar Muchlis Prayoga; Winda Tri Wahyuningtyas; Dwi Nurtanto
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v5i2.18987

Abstract

The feasibility of a building is generally viewed from a safety perspective which is reviewed against all possible loads that will occur on it. Meanwhile, in reinforced concrete buildings, a planner is required to build a ductile structure, namely a building that can withstand the loads it carries before the building collapses. This is of course influenced by the dynamics of natural conditions, such as earthquakes, which are increasingly dangerous, as shown on earthquake maps from year to year. Seeing this phenomenon, the building specifications need to be improved to meet the strength aspects of earthquake-resistant structures. The purpose of this research is to plan a joint lecture building at the State University of Malang using SNI 1726:2019 and SNI 2847:2019. The results of the structural analysis program show that the inter-story drift is 85.4 mm in the x-direction and 49.5 mm in the y-direction. The results of earthquake loading using the response spectrum method produced a basic shear of 19165.9 kN in the x-direction and 19251.8 kN in the y-direction. Meanwhile, based on the results of the modal analysis, the cumulative value of mass participation was 95.7% in the x-direction and 95.4% in the y-direction. From the design of each structural component, the strength/resistance (∅????n) exceeds the required strength (????u). ABSTRAK Kelayakan suatu bangunan umumnya ditinjau dari segi keamanan yang ditinjau terhadap semua kemungkinan beban yang akan terjadi padanya. Selain itu pada bangunan beton bertulang, seorang perencana dituntut untuk membangun suatu struktur yang daktail, yaitu bangunan yang mampu menahan beban-beban yang dipikulnya sebelum akhirnya bangunan tersebut mengalami keruntuhan. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh dinamika kondisi alam seperti halnya gempa bumi yang semakin hari memiliki potensi bahaya yang semakin besar, seperti ditunjukan pada peta gempa dari tahun ke tahun. Melihat fenomena tersebut spesifikasi gedung perlu di tingkatkan guna memenuhi aspek kekuatan struktur tahan gempa. Tujuan dari penelitian ini adalah merencanakan gedung kuliah bersama di Universitas Negeri Malang menggunakan SNI 1726:2019 dan SNI 2847:2019. Hasil dari program analisis struktur menunjukkan simpangan antar lantai sebesar 85.4 mm pada arah x dan 49.5 mm pada arah y. Hasil dari pembebanan gempa menggunakan metode respon spektrum menghasilkan gaya geser dasar sebesar 19165.9 kN pada arah x dan 19251.8 kN pada arah y. Sedangkan berdasarkan hasil analisis modal didapatkan nilai kumulatif partisipasi massa sebesar 95.7% pada arah x dan 95.4% pada arah y. Dari desain masing-masing komponen struktur didapatkan kekuatan/tahanan (∅????n) yang melebihi dari kuat perlunya (????u).
Pengaruh Frekuensi dan Durasi Getaran pada Meja Getar Terhadap Kuat Tekan Beton Danang Suryadi; Dwi Nurtanto; Erno Widayanto
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v5i2.25540

Abstract

The compaction method of concrete using a vibrating table uses vibration waves propagation from the base of manufacture and vibration vibrations into the mixed concrete. In this research, variations of frequency use are 40 Hz, 50 Hz, and 60 Hz, with a duration of 8 seconds and 12 seconds. The test objects have cube-shaped with each side measuring 15 centimeters. The mold of concrete is made from plywood boards containing 6 cubes. The concrete was tested using the Compressive Test Concrete tool to determine the compressive strength of the concretes. The research results show that the highest compressive strength is 60 Hz and 12 seconds, which is 32,44 MPa and the lowest compressive strength is 28,74 MPa. ABSTRAK Metode pemadatan beton menggunakan meja getar menggunakan perambatan gelombang getar dari dasar cetakan dan gelombang getaran diserap ke dalam adonan beton. Pada penelitian ini, getaran yang digunakan untuk proses pemadatan memiliki variasi frekuensi 40 Hz, 50 Hz, dan 60 Hz, dan durasi getaran 8 detik dan 12 detik. Benda uji yang digunakan berbentuk kubus dengan tiap sisi berukuran 15 cm. Cetakan beton terbuat dari triplek berisi 6 buah kubus setiap cetakan. plate ini. Beton diuji menggunakan alat Compressive Test Concrete untuk mengetahui kuat tekan beton. Hasil dari penelitian ini adalah kuat tekan tertinggi yaitu 60 Hz dan 12 detik yaitu 32,44 MPa dan kuat tekan terendah yaitu 28,74 MPa.
Perkuatan Lereng pada Sempadan Sungai Jl. Sultan Agung Kabupaten Jember dengan Dinding Penahan Tanah Kantilever Luqman Hakim; Paksitya Purnama Putra; Dwi Nurtanto
Bentang : Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil Vol 9 No 2 (2021): BENTANG Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil (Juli 2021)
Publisher : Universitas Islam 45

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/bentang.v9i2.2864

Abstract

The land collapsed on Jl. Sultan Agung, Jompo, Jember Regency was reported. A team from the Regional Disaster Management Agency (BPBD) found cracks in the ground under a shop since February 2019. This incident resulted in a landslide of a road with approximately 45 meters long and 10 meters wide that it blocked the river flow, and nine shophouses, which are the assets of the Jember Regency government, collapsed as deep as approximately 4 meters. The cantilever type retaining wall is designed in the landslide area as an effort to revitalize the banks of Jompo river on Jalan Sultan Agung. Cantilever wall design stability refers to SNI 8460: 2017 and was assisted by using the GEO 5 program. The stability of cantilever walls against overturning shows a safety factor value of 3.72 that greater than 2 (safe condition), whereas the stability of cantilever walls against sliding was 1.61 that greater than 1.5 (safe condition), and the stability of the bearing capacity was 8.18 that greater than 3 (safe condition). Cantilever wall structure using concrete quality (Fc ') 40 MPa, and reinforcement quality (Fy) 420 Mpa, with a diameter and a distance of 25 mm and 125 mm respectively. Additional reinforcement was given to the Cantilever Wall, i.e. a bore-pile with a diameter of 60 cm which was fixed to a depth of 6 meters.
Perencanaan Perkuatan Lereng Menggunakan Geoframe di Jalan Raya Dampit-Lumajang Lafridha Alyazahari; Luthfi Amri Wicaksono; Dwi Nurtanto
Bentang : Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil Vol 10 No 1 (2022): BENTANG Jurnal Teoritis dan Terapan Bidang Rekayasa Sipil (Januari 2022)
Publisher : Universitas Islam 45

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33558/bentang.v10i1.2933

Abstract

A Landslide is the movement of soil mass or rock constituents down the slope due to disturbance of soil stability. One of the factors that affect soil stability is the rainy season as happened in Sumberwuluh Village, Candipuro District, Lumajang Regency. The alternative used to stabilize the slope is by changing the slope geometry, then adding geoframe reinforcement. This study aims to determine the value of the factor of safety (SF) of unreinforced slopes, after changing the slope geometry, and after being given geoframe reinforcement. The method used in analyzing slope stability is the Ordinary/Fellenius method. The results of the calculation of slope stability without reinforcement using the Rocscience Slide software obtained a SF of 0.719, while the manual calculation obtained a SF of 0.7191. The two values ​​of the safety factor are less than 1.25, which means that landslides often occur. The results of the calculation of slope stability after changing the geometry of the slopes obtained a SF of 0.828 where the value is less than 1.25 which means that landslides often occur. The slopes that have been changed geometry are added with geoframe reinforcement. The results of the calculation of slope stability using geoframe reinforcement obtained a SF of 1.315 where the value is more than 1.25 which means that landslides are rare or slope in a safe condition.
Effect of Temperature Variations on Elevated Temperature Curing Method Towards Modulus of Elasticity and Compressive Strength of Normal Concrete With Additional Accelerator Yuhanata, Cierio; Nurtanto, Dwi; Utami, Nanin Meyfa
BERKALA SAINSTEK Vol 10 No 3 (2022)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v10i3.29078

Abstract

Developments in modern times have grown rapidly, this can be seen from the rapid development. Along with the increasing scale of development in the world of construction, more and more concrete is needed effectively, practically, and in the future. The strength of concrete is strongly influenced by the quality of the materials, admixtures, the working process, and the curing of the concrete. Concrete with the addition of an accelerator has higher compressive strength, this is due to the accelerator reaction which can accelerate the binding process and the development of the initial compressive strength of the concrete. Concrete with direct immersion treatment has large compressive strength. There are several methods of treating concrete, including watering and high temperature. This study used a fixed accelerator proportion of 3 % of the weight of cement with a test time of 7 and 28 days. The treatment method used is open space, immersion, high temperature at temperatures of 25 ºC, 30 ºC, 35 ºC, 40 ºC and 45 ºC. From the results of the research, there are differences in characteristics between normal concrete and concrete with the addition of an accelerator. Concrete with a high-temperature treatment method at a temperature of 45 ºC produces the highest strong pressure. This is caused by the higher the treatment temperature, the higher the rate of hydration process that affects the compressive strength of the concrete.