Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

COMPARATIVE STUDY OF THE BEHAVIOUR OF BUILDING STRUCTURE OF HOTEL DAFAM LOTUS JEMBER BY USING MOMENT RESISTING FRAME AND ECCENTRICALLY BRACED FRAME: Studi Perbandingan Perilaku Struktur Gedung Hotel Dafam Lotus Jember dengan Menggunakan Moment Resisting Frame dan Eccentrically Braced Frame Short Link Kurniawan, Reza; Nurtanto, Dwi; Hayu, Gati Annisa
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 01 (2018): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1148.529 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v2i01.7435

Abstract

Eccentrically Braced Frame (EBF) is one of several types of braces that can be used in steel building. EBF has a good stiffness and ductility to withstand earthquake load. In EBF itself there are 3 types of links, namely: Long Link, Intermediate Link, and Short Link. Meanwhile, MRF of Moment resisting Frame is a structural system where the beams and columns are connected rigidly. MRF has a good ductility in accepting load even it has no lateral braces installed. In this research the Dafam Lotus Jember hotel consisting of 10 floors with total height of 33,6 m is modeled as a MRF system structure and steel structure equipped with EBF short link. The objective of this research is to compare the effectiveness of EBF and MRF in terms of displacement, axial force, shear force, and moment occurring in buildings. The modeling results show that EBF with short link has smaller displacement value compared to MRF. The difference between the two is 86,99%. In terms of axial force, shear force, and moment, EBF has smaller values than MRF. The differences are 79,76%, 53,91%, and 10,48% respectively. These results indicate that EBF has better capacity compared to MRF. Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat intensitas kegempaan yang tinggi. Ini menjadikan Indonesia tidak terhindarkan dari dampak negatif yang akan ditimbulkan oleh gempa bumi, yaitu menyebabkan kerusakan insfrastruktur fisik. Peraturan gempa SNI 03-1726-2012 membahas mengenai bresing sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menangani masalah gempa. Eccentrically Braced Frame (EBF) adalah salah satu jenis bresing yang memiliki kekakuan dan daktilitas yang baik jika dibandingkan dengan Concentrically Braced Frame (CBF) yang hanya memiliki kekakuan yang baik. Selain itu terdapat pula Moment Resisting Frame (MRF) yaitu salah satu sistem struktur yang memiliki sifat daktail. Melihat permasalahan yang ada, maka pembahasan ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dari EBF menggunakan short link dengan MRF apabila diaplikasikan pada bangunan Hotel Dafam Lotus Jember 10 lantai yang memiliki tinggi 33,6 m. Adapun efektivitas yang dibadingkan disini adalah nilai story displacement dan gaya dalam (momen, gaya geser, dan gaya aksial) yang terjadi. Hasil analisa dengan bantuan program analisa struktur menunjukkan bahwa EBF menggunakan short link memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan MRF dalam menerima beban yang bekerja. Dari segi story displacement, selisih prosentasenya adalah 86,99% sedangkan untuk gaya dalam yang meliputi momen, gaya geser, dan gaya aksial, selisihnya secara berturut-urut adalah 79,76%, 53,91% dan 10,48%. Hal ini menunjukkan bahwa EBF menggunakan short link lebih efektif jika dibandingkan dengan MRF.
Korelasi Kuat Tekan Beton Dan Ketahanan Sulfat Pada Beton Normal Dengan Penambahan Kaolin Sebagai Subtitusi Parsial Semen Utami, Nanin Meyfa; Baihaki, Muhammad Atiqurrohman; Nurtanto, Dwi
Teras Jurnal : Jurnal Teknik Sipil Vol. 13 No. 1 (2023): Volume 13 No 1, Maret 2023
Publisher : UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/tj.v13i1.807

Abstract

Abstrak Komposisi campuran dalam pembuatan beton dapat divariasikan dengan menambahkan bahan lain yang disebut pozzolan dengan tujuan untuk mengurangi penggunaan semen, memperbaiki sifat beton dan meningkatkan kekuatan beton. Salah satu material pozzolan tersebut yang bisa digunakan adalah kaolin. Pada penelitian ini dilakukan uji kuat tekan beton pada umur 7 dan 28 hari pada beton dengan penambahan kaolin sebagai subtitusi semen sebesar 0%, 5%, 10% dan 15% dan dilakukan uji ketahanan beton terhadap serangan kimia yaitu asam sulfat (H2SO4) dengan konsentrasi 98%. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 10 cm dan tinggi 20 cm dengan dua metode perawatan yaitu perendaman sulfat dan perawatan suhu ruangan. Mutu beton yang direncanakan adalah 30 MPa dengan FAS sebesar 0,5. Hasil pengujian kuat tekan rata-rata beton umur 28 hari dengan metode perawatan suhu ruangan pada beton normal (BN) adalah sebesar 24,77 MPa, pada beton kaolin 5% (BK5) adalah 19,54 MPa, pada beton kaolin 10% (BK10) adalah 16,91 MPa, dan pada beton dengan kaolin 15% (BK15) adalah sebesar 15,46 MPa. Sedangkan hasil kuat tekan beton rata-rata dengan variasi kaolin pada subtitusi semen  sebesar 0% (BN), 5% (BK5), 10% (BK10) dan 15% (BK15) dengan metode perawatan perendaman sulfat adalah sebesar 21,59 MPa, 18,15 MPa, 15,83 MPa, dan 14,53 MPa. Hasil penelitian menunjukkan bawha perendaman sulfat dapat membuat beton mengalami kerusakan, mengalami penurunan berat dan dapat membuat beton mengalami penurunan kuat tekan terbesar hingga 12,86% pada variasi 0%. Kata kunci: Kaolin, asam sulfat, ketahanan sulfat.  Abstract The composition of the mixture in the manufacture of concrete can be varied by adding another material called pozzolan with the aim of reducing cement consumption, improving concrete properties and increasing concrete strength. One of the pozzolanic materials that can be used is kaolin. Because the purpose of this study was to test the strength of concrete at the age of 7 and 28 days with or without kaolin mixture with variations in cement substitution of 0%, 5%, 10% and 15% in a corrosive environment for the compressive strength and durability of concrete against chemical attack, namely sulfuric acid (H2SO4) with a concentration of 98%. The test object used is cylindrical with a diameter of 10 cm and a height of 20 cm with two treatment methods, namely treatment with sulfate immersion and room temperature treatment. The planned concrete quality is 30 MPa with a FAS of 0.5. The results of testing the average compressive strength of concrete aged 28 days with the room temperature treatment method on normal concrete (BN) is 24.77 MPa, on 5% kaolin concrete (BK5) is 19.54 MPa, on 10% kaolin concrete (BK10 ) is 16.91 MPa, and in concrete with 15% kaolin (BK15) it is 15.46 MPa. While the results of the average compressive strength of concrete with variations of kaolin in cement substitution are 0% (BN), 5% (BK5), 10% (BK10) and 15% (BK15) with the sulfate immersion treatment method is 21.59 MPa, 18.15 MPa, 15.83 MPa, and 14.53 MPa. The results showed that sulphate immersion can cause concrete damage, decrease in weight and can make concrete experience the greatest decrease in compressive strength up to 12.86% at 0% variation. Keywords: Kaolin, sulfuric acid, sulfate resistance.
Pelatihan Pengolahan Bonggol Jagung Menjadi Agregat Kasar Buatan Sebagai Pemanfaatan Limbah di PT. Benih Citra Asia Rahmadina, Annisa; Nurtanto, Dwi; Pranadiarso, Tedy; Putri, Fidyasari; Supriono, Lyya; Rahman, Ricky; Oktavia, Reny
Journal of Community Development Vol. 6 No. 3 (2026): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i3.1752

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di PT Benih Citra Asia (BCA) Jember. PT BCA bergerak di bidang produksi benih tanaman pangan dan holtikultura. Dalam proses produksinya, Perusahaan menghasilkan limbah organik berupa bonggol jagung yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kegiatan pengabdian dalam bentuk pelatihan pengolahan bonggol jagung menjadi agregat kasar buatan sebagai upaya pemanfaatan limbah pertanian yang ada di PT BCA dan penerapan konsep green materials di lingkungan industri benih. Metode pelaksanaan meliputi tahap survei lapangan, studi pustaka, pembuatan prototype agregat buatan, pembuatan materi pelatihan dan pelaksaan pelatihan. Peserta berasal dari karyawan PT BCA yang sekaligus masyarakat di sekitar PT. Pelatihan difokuskan pada penyampaian materi dan praktik langsung dalam pengolahan bonggol jagung yang akan menjadi agregat kasar buatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah limbah bonggol jagung menjadi agregat kasar buatan. Selain itu, kegiatan ini mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan limbah pertanian bernilai guna. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan menjadi model penerapan teknologi berbasis limbah organik di industri dan mendukung Pembangunan berkelanjutan yang ramah akan lingkungan.