Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Effect of Duck Egg Shell Ash with Fly Ash as Cement Substitution in Geopolymer Concrete Larasati, Deka; Nurtanto, Dwi; Utami, Nanin Meyfa
BERKALA SAINSTEK Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v10i2.29080

Abstract

The increasing production of cement as a basic material for making concrete is due to the increasing demand for concrete throughout the world. Innovative materials are needed as a substitute for cement to reduce the greenhouse effect, fly ash is pozzolanic which in fact has the potential to replace Portland cement as the main ingredient of concrete, and duck eggshell flour has good prospects to be used as an additional precursor material for geopolymer concrete. This study aims to determine further variations of the proportion of duck egg shells, the mechanical properties of the concrete produced using duck egg shell ash with fly ash. This study used an experimental method with the percentage of duck egg shell ash at 0%, 5%, 10%, and 15% of the total use of cement. Using Na₂SiO₃ and NaOH as activator with a concentration of 14M. At the age of 7 and 28 days with room temperature treatment. This study resulted in duck egg shell ash being able to increase the compressive strength of concrete at the age of 28 days with the percentage of substitution up to 5% with a value of 59.26 MPa, in the porosity test the minimum value was at the age of 28 days at a percentage of 5% 0.403%, and the value of the modulus of elasticity. experienced an increase in value at a percentage of 5% with the result 36071.43 MPa. Duck egg shell ash with a proportion of 5% is the optimum substitution where the compressive strength, porosity and modulus of elasticity tests on geopolymer concrete have linear values.
Utilization of Bendrat Wire fiber on the Mechanical Properties of Geopolymer Concrete Sucahyo, Septian Gusti; Nurtanto, Dwi; Utami, Nanin Meyfa
BERKALA SAINSTEK Vol 11 No 3 (2023)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v11i3.38163

Abstract

One of the problems in the construction field, especially concrete, is to reduce cracking due to the brittle nature of the concrete itself and increase the strength of the concrete. One of the ingredients to minimize cracks in concrete is the addition of fiber in the concrete mixture. Therefore, additional innovation is needed in the manufacture of concrete. So, this research was carried out by discussing the use of bendrat wire on the mechanical properties of geopolymer concrete. This study aims to determine the results of compressive strength, split tensile strength, and flexural strength with variations in the addition of 0%, 6%, 12%, and 18% were using a 2% superplasticizer with a concrete age of 28 days. The addition of bendrat wire from 0%, 6%, 12%, and 18% of the test results has increased. For compressive strength, respectively, 40.34 MP, 40.552 Mpa, 40.977 Mpa, and 41.189 MPa. For the splitting tensile strength result, which is 2.07 MPa;, 2.123 MPa, 2.176 MPa, and 2.229 MPa. For flexural strength, 4.05 Mpa, 4.09 Mpa, 4.16 Mpa, and 4.25 MPa.
Evaluasi Tingkat Kerusakan dan Perencanaan Estimasi Biaya Perbaikan Bangunan Guna Sustainability Gedung di Universitas Jember (Studi Kasus : Gedung 1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)) Nanda, Wisnu Eka; Ratnaningsih, Anik; Nurtanto, Dwi
BERKALA SAINSTEK Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/bst.v8i2.15852

Abstract

Sustainability bangunan gedung sangat dipengaruhi oleh periode penggunaan atau keberfungsian dari bangunan. Agar supaya periode penggunaan sesuai dengan perencanaan, maka pemeliharaan bangunan perlu dilakukan secara berkala terhadap kerusakan dari komponen-komponen bangunan gedung sehingga dapat menjaga tingkat kenyamanan dari para pengguna bangunan gedung tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan indeks kondisi bangunan berdasarkan tingkat kerusakannya, skala prioritas perbaikan, serta estimasi angaran biaya perbaikan bangunan. Evaluasi dilakukan pada Gedung 1 FKIP Universitas Jember. Metode untuk mendapatkan Indeks Kondisi Bangunan dilakukan melalui survey lapangan dengan cara pembobotan komponen dan sub-komponen bangunan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil analisis didapatkan Indeks Kondisi Bangunan Gedung 1 FKIP Universitas Jember sebesar 87,85% yang berarti gedung masih berada dalam kondisi sangat baik, dan tingkat kerusakan sebesar 12,15% yang membutuhkan perbaikan. Estimasi biaya perbaikan didapatkan berdasarkan volume kerusakan masing-masing komponen bangunan gedung dengan nilai sebesar Rp. 48.652.000,00 dengan skala prioritas perbaikan tertinggi pada komponen dinding sebesar 25,9%.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT PLASTIK PET (POLYETHYLENE TEREPTHALATE) PADA BETON NORMAL TERHADAP KUAT LENTUR Utami, Nanin Meyfa; Nurtanto, Dwi; Cahyadi, Widya; Restuti, Diah Ayu; Ahmad, Ahmad
NAROTAMA JURNAL TEKNIK SIPIL Vol 8 No 2 (2024): Narotama Jurnal Teknik Sipil (NOPEMBER, 2024) - On Progress
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Universitas Narotama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29138/njts.v8i2.2992

Abstract

Plastik merupakan bahan yang sulit untuk diuraikan oleh bakteri pengurai dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan tambahan pada bahan utama penyusun beton. Plastik diubah menjadi serat yang diharapkan dapat meningkatkan kuat lentur beton, dan berfungsi agar beton tidak mengalami keretakan pada saat proses pengerasan. Metode yang digunakan adalah serat plastik dipotong menyerupai serat memanjang, serta mix design untuk menentukan prosentase material berdasarkan pada SNI 03-2834-2000. Pengujian meliputi kuat tekan dan kuat lentur. Pengujian kuat tekan dilakukan sebatas hanya untuk kontrol mix design yang direncanakan. Penambahan serat plastik dilakukan setiap sepertiga dari tinggi cetakan dengan cara meletakkannya secara memanjang. Berdasarkan hasil uji kuat lentur, variasi dan prosentase yang paling optimal dalam meningkatkan kuat lentur adalah penambahan PET dan resin sebanyak 0,3% yang mampu meningkatkan kuat lentur beton sebanyak 51.78% dibandingkan dengan yang tanpa penambahan serat plastik. Model keruntuhan yang terjadi pada semua variasi benda uji yaitu keruntuhan lentur dikarenakan retakan beton terjadi pada daerah tengah bentang dan searah tegak lurus sumbu balok.
The Use of Marble Waste as a Coarse Agregate in Rigid Pavement Concrete Mixture Using Rice Husk Ash as an Admixture Saputro, Muhammad Yusuf Eko; Hasanuddin, Akhmad; Nurtanto, Dwi
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 7, No 1 (2022): EDISI MARET 2022
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v7i1.3091

Abstract

Concrete is material from mixing fine sand, gravel, cement, and water. This study carried out concrete innovations to reduce marble waste in the environment and reduce the amount of cement used by replacing 10% of the total cement with rice husk ash. In this study, using variations in replacement of marble waste levels for compressive and flexural strength tests of 0% (standard concrete), 30%, 50%, 70% with a cylindrical specimen and a test object in the shape of beams were tested at the age of 14 and 28 days, each variation amounted to 3 test specimens. The results obtained in the test for the percentage of 30% compressive strength and flexural strength of concrete are 46.50 MPa and 5.67 MPa, 50% of compressive strength and flexural strength of concrete are 43.95 MPa and 4.83 MPa, and 70% percentage the compressive strength and flexural strength of concrete are 38.64 MPa and 4 MPa. Therefore, it is recommended to use a percentage of 50%, in which the percentage utilizes the most waste and can reduce the cost of concrete to be more economical, which is Rp. 932,476 for each m3 of it.ABSTRAKBeton adalah material dari hasil percampuran (mixing) antara agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), semen serta air. Penelitian ini melakukan inovasi beton untuk mengurangi limbah marmer yang terdapat dilingkungan dan mengurangi jumlah penggunaan semen dengan mengganti 10% dari total semen dengan abu sekam padi. Dalam penelitian ini menggunakan variasi penggantian kadar limbah marmer untuk uji kuat tekan dan kuat lentur sebesar 0% (beton normal), 30%, 50%, 70% dengan benda uji berbentuk silinder dan benda uji berbentuk balok yang diuji pada umur 14 dan 28 hari, masing masing variasi berjumlah 3 benda uji. Hasil yang diperoleh dalam pengujian untuk prosentase 30% kuat tekan dan kuat lentur beton sebesar 46,50 MPa dan 5,67 MPa, prosentase 50% kuat tekan dan kuat lentur beton sebesar 43,95 MPa dan 4,83 MPa dan, prosentase 70% kuat tekan dan kuat lentur beton sebesar 38,64 MPa dan 4 MPa. Maka dari itu direkomendasikan menggunakan prosentase 50%, dimana pada prosentase tersebut memanfaatkan limbah yang paling banyak dan dapat mengurangi biaya beton menjadi lebih ekonomis yaitu dari harga Rp. 1.045.767 menjadi Rp. 932.476 untuk tiap m3 nya.
ALTERNATIF DESAIN STRUKTUR GEDUNG MONUMEN DAN MUSEUM REOG PONOROGO DENGAN FRICTION PENDULUM SYSTEM Mustika Hari, Hanisya Indah; Wiswamitra, Ketut Aswatama; Widayanto, Erno; Krisnamurti; Nurtanto, Dwi
Jurnal Teknika Vol 17 No 1 (2025): MARET
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jt.v17i1.1285

Abstract

Kabupaten Ponorogo, yang terletak di pantai selatan Jawa dan berbatasan dengan Kabupaten Pacitan di selatan, sering mengalami gempa bumi karena berada dekat dengan zona aktif subduksi antar lempeng, ialah Lempeng Eurasia didorong ke utara oleh Lempeng Indo-Australia dengan kecepatan 50 hingga 70 mm/tahun. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko gempa di wilayah Ponorogo. Penelitian ini menekankan pengembangan sistem isolasi dasar FPS sebagai solusi efektif untuk mengurangi dampak gempa. FPS dipilih karena kemampuannya dalam mengurangi gaya gempa, kerusakan struktural, dan top drift. Selain itu, FPS dinilai lebih baik dibandingkan dengan LRB dan HDRB, terutama saat terjadi gempa dekat. Tujuan utama penelitian adalah membandingkan perilaku struktur Monumen dan Museum Reog Ponorogo yang saat ini memanfaatkan sistem ganda SRPMK+SDSK dengan struktur alternatif SRPMK+isolator dasar FPS. Struktur alternatif ini mengganti dinding geser dengan kolom dan balok yang disesuaikan dengan dimensi lantai yang sama. Analisis memanfaatkan metode respons spektrum dengan program ETABS yang memperlihatkan hasil bahwa periode struktur alternatif meningkat 2,47 kali lipat (arah x) dan 2,17 kali lipat (arah y) dibandingkan dengan struktur eksisting. Selain itu, gaya geser struktur alternatif berkurang 46,79% dibandingkan dengan struktur eksisting, sementara simpangan antar lantai menurun secara signifikan, rata-rata 51,52% (arah x) dan 40,76% (arah y). Spesifikasi FPS yang dipergunakan adalah FIP-D M 1750/800 (3700), menegaskan efektivitasnya dalam meningkatkan ketahanan struktural terhadap gempa di wilayah rawan seperti Ponorogo.
EVALUATION OF TOWER CRANE POSITIONING IN JEMBER ICON PROJECT: Evaluasi Penempatan Tower Crane Pada Proyek Pembangunan Jember Icon Yudha, Bima Anggaruci Bhirawa; Soetjipto, Jojok Widodo; Nurtanto, Dwi
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2017): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.067 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v1i01.3740

Abstract

Settling of Tower Crane (TC) will influence efficiency of task served, it will effect to leasing cost and operational cost of TC. This problem is gotten by contractors while they arrange construction schedule. TC’s placement isn’t exact that due to extend scheduling and cost wasteful. Therefore, TC’s settling needs a calculation of TC workload balance in order to minimize duration time. To field observation will be taken an ongoing construction project which is Jember Icon’s Project on Gajah Mada street in Jember. Results of these researches shown exactly settling of TC will reduce operational hours and project schedule. Penempatan Tower Crane (TC) akan mempengaruhi efisiensi pekerjaan yang dilayani, hal ini juga akan berpengaruh pada biaya sewa dan biaya operasional TC. Permasalahan ini sering dihadapi oleh kontraktor ketika menyusun rencana pelaksanaan kegiatan proyek. Penempatan TC yang tidak tepat dapat mengakibatkan jadwal pelaksanaan yang panjang dan pemborosan biaya. Oleh karena itu dalam penempatan TC memerlukan perhitungan keseimbangan beban kerja TC agar dapat meminimalisasi durasi penggunaan TC. Observasi lapangan dilakukan pada proyek konstruksi yang sedang berjalan yaitu pada proyek Jember Icon, yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Jember. Hasil penelitian menunjukkan penempatan TC dapat diketahui bahwa penempatan TC yang tepat dapat mereduksi jam operasional TC dan jadwal proyek.
FEEDER ROUTE PLANNING OF PUBLIC TRANSPORTATION IN JEMBER: Perencanaan Jaringan Trayek Ranting Angkutan Umum Perkotaan Jember Wulan, Dewi Sri Asmoro; Sulistyono, Sonya; Nurtanto, Dwi
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2017): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1434.82 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v1i01.3746

Abstract

The Reduce performance of urban public transport in Jember can not separated from several factors, among other are less convenient conditions in terms of service, overlapping route, no improvement for route network made by local authority, and cheap moator loans which cause many poeple use motor vehicles. The Worst effect if this thing continous increase population of motor vehicles. At the same time nowdays, new land-use patterns have grown in urban areas which potentially have large demand but still unserved by public transport. Seeing these problems, public branch route network planning is needed as well as the requirment of public transportation fleets in accordance with the legislation. From the planning conducted, it was found 8 plan branch routes and the fleet needs.From such palnning it was expected that it can reduce the overlapping route and accomodate all urban areas in order to served by public transport. Menurunnya kinerja angkutan umum perkotaan jember tidak lepas dari beberapa faktor antara lain kondisi kurang nyaman dalam segi pelayanan, overlapping trayek, belum dilakukan perbaikan jaringan trayek oleh pihak berwenang, dan kredit motor yang murah sehingga masyarakat banyak yang menggunakan kendaraan bermotor. Dampak terburuk bila hal ini terus berlanjut, populasi kendaraan bermotor akan meningkat tiap tahunnya. Kemacetan lalu lintas, pemborosan BBM serta polusi udara juga akan meningkat. Disaat yang sama saat ini mulai tumbuh pola tata guna lahan baru di wilayah perkotaan yang berpotensi demand besar namun belum terlayani angktan umum. Melihat masalah tersebut perlu dilakukan sebuah perencanaan jaringan trayek angkutan umum ranting dan kebutuhan armadanya yang sesuai dengan konsep perundang-undangan. Dari perencanaan yang dilakukan didapatkan 8 rute rencana serta kebutuhan armadanya. Diharapakan dari perencanaan tersebut dapat mengurangi overlapping dan mengakomodasi seluruh wilayah perkotaan agar terlayani oleh angkutan umum.
THE USAGE OF BRACING ON EARTHQUAKE RESISTANT BUILDINGS WITH PUSHOVER ANALYSIS: Pemakaian Bracing Pada Bangunan Tahan Gempa dengan Analisis Pushover Anggraeni, Dwi Wahyu; Widayanto, Erno; Nurtanto, Dwi
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2017): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.976 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v1i01.3747

Abstract

Most of Indonesia area is an earthquake- prone region. This is caused by the confluence of three major plates world that are subduction. Indo-Australian Plate colliding with the Eurasian plate off the coast of Sumatra, Java and Nusa Tenggara, while the Pacific plate in northern Guinea and North Maluku. In the vicinity of the meeting location this plate collision energy accumulated in the form of earthquake. The quake destroyed much of the multi-storey buildings that do not have adequate strength. Therefore , the higher the building, the greater the effects of the earthquake were received by the building. One way to acquire resistance to earthquake response was to add rigidity to a building. How to obtain the stiffness of a building is to install bracing for high-rise buildings. The purpose of this analysis was conducted to determine usage behavior particularly bracing displacement. The Results of this analysis showed a reduction in horizontal deviation of the building due to the addition of frame bracing. The difference in the percentage of horizontal deviation without bresing building and building using bresing X is 82.519%. While the difference in the percentage of horizontal deviation without order bresing building and building using bresing V is 64.904%. Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah rawan gempa. Hal ini disebabkan oleh pertemuan tiga lempeng utama dunia yang bersifat subdaksi. Lempeng Indo- Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusa Tenggara, sedangkan lempeng Pasific di utara Irian dan Maluku Utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sehingga lepas berupa gempa bumi. Gempa banyak menghancurkan bangunan- bangunan bertingkat yang tidak mempunyai kekuatan yang memadai. Oleh karena itu, semakin tinggi bangunan maka semakin besar pula efek gempa yang diterima oleh bangunan tersebut. Salah satu cara untuk memperoleh ketahanan terhadap respon gempa adalah menambah kekakuan pada suatu bangunan. Cara memperoleh kekakuan suatu bangunan adalah dengan memasang pengekang (bracing) untuk bangunan tinggi. Tujuan dari analisa ini dilakukan untuk mengetahui perilaku pemakaian bracing khususnya displacement. Hasil dari analisa ini menunjukkan terjadinya pengurangan simpangan horizontal gedung karena adanya penambahan rangka bracing. Selisih presentase simpangan horizontal gedung tanpa bresing dan gedung dengan menggunakan bresing X adalah 82,519%. Sedangkan selisih presentase simpangan horizontal gedung tanpa rangka bresing dan gedung dengan menggunakan bresing V adalah 64,904%.
THE CONTRIBUTION OF POLYCARBONATE FLEXURAL STRENGTH INTO POROUS CONCRETE SLAB: Kontribusi Kuat Lentur Polikarbonat Pada Pelat Beton Berpori Nurtanto, Dwi
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2017): JURNAL REKAYASA SIPIL DAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.771 KB) | DOI: 10.19184/jrsl.v1i01.6039

Abstract

Polycarbonate is thermoplastic polymer group. It is easily formed using heat. Plastic has many advantages, namely thermal resistance compared to other types of plastic, resistant to impact, and very clear. The purpose of this research is to replace steel in reinforced concrete with polycarbonate and it is expected to contribute a good flexural strength on the porous concrete slab. The test specimen is 40x40x5 cm and the variation widths of polycarbonate are 2 cm, 4 cm, and 6 cm. Polycarbonates are arranged in the x direction and y direction, such as the reinforcement in concrete slab. The distance between the pores in concrete slab is 8 cm. Once the concrete aged 28 days, the next step is testing the flexural strength. The results show the concrete compressive strength is 24.699 MPa. The biggest average flexural test is in porous concrete slab with diameter of reinforcement is 6 mm. Meanwhile, for porous concrete slab without reinforcement and porous concrete slab with polycarbonate have flexural strength which is almost the same. This is because there is no bond between polycarbonate and concrete, so that the adhesion between them is very small and virtually non-existent. In addition, the results show that there is no contribution of polycarbonate flexural strength in concrete slab. Polikarbonat adalah suatu kelompok polimer termoplastik yang mudah dibentuk dengan menggunakan panas. Plastik ini memiliki banyak keunggulan, yaitu ketahanan termal dibandingkan dengan plastik jenis lain, tahan terhadap benturan, dan sangat bening. Tujuan penelitian ini adalah mengganti material baja pada beton bertulang dengan polikarbonat dan diharapkan dapat memberikan kontribusi kuat lentur yang baik pada pelat beton berpori. Ukuran benda uji adalah 40x40x5 cm, dimana variasi ukuran lebar polikarbonat adalah 2 cm, 4 cm dan 6 cm. Polikarbonat disusun dalam arah x dan arah y, seperti penulangan pada pelat beton. Selanjutnya dilakukan pengecoran. Jarak antar pori pada pelat beton adalah 8 cm. Setelah beton berumur 28 hari maka dilakukan pengujian kuat lentur. Hasil penelitian menunjukkan kuat tekan karakteristik beton adalah sebesar 24.699 MPa. Hasil kuat lentur rata-rata yang paling besar terjadi pada pelat beton berpori dengan tulangan diameter 6 mm, sedangkan untuk plat beton berpori tanpa tulangan dan dengan polikarbonat hasil kuat lenturnya hampir sama. Hal ini dikarenakan tidak adanya lekatan antara lembaran polikarbonat dan beton, sehingga daya lekat polikarbonat terhadap beton sangat kecil dan bisa dikatakan tidak ada. Selain itu, hasil menunjukkan bahwa tidak adanya kontribusi kuat lentur polikarbonat pada beton berpori.