Claim Missing Document
Check
Articles

Bioaktivitas Formulasi Minyak Biji Azadirachta indica (A. Juss) terhadap Spodoptera litura F. Raden Arif Malik Ramadhan; Lindung Tri Puspasari; Rika Meliansyah; Rani Maharani; Yusup Hidayat; Danar Dono
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.974 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8470

Abstract

ABSTRACTBioactivity Formulation of Seed Neem Oil Azadirachta indica (A.Juss) against Spodoptera litura (F)The purpose of this research was to know the influence of neem seed extract formulation (Azadin 50 EC) on the mortality, larvae development, larvae weight, and food consumption of Armyworm (Spodoptera litura). This research used randomized complete design with 6 treatments and 5 replications, i.e. control, formula at concentration of 0.2%, 0.4%; 0.8%; 1.6%; and 3.2%. Correlation of concentration neem seed oil formulation and mortality of test insect was analysed using probit analysis, weight of test larvae presented in mean and standard deviation, and development time and food consumption of test larvae analysed with analysis of varians. Formula Azadin 50 EC had LC50 value of 0.659% (0.550-0.781%) at 12 days after treatment. The mortality increased significantly in pupae stage that caused LC50 value become 0.152%. The formula prolonged development time, decrease the weight of test insect and decrease food consumption by the larvae.Keywords: Lethal concentration, Mortality, Growth derangement, ExtractABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari perlakuan formulasi minyak biji mimba Azadin 50 EC terhadap mortalitas, perkembangan larva, bobot larva dan konsumsi pakan ulat grayak (Spodoptera litura F.). Metode Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dengan 5 kali ulangan. Perlakuan tersebut yaitu : Kontrol, konsentrasi formula minyak mimba Azadin 50 EC 0,2%; 0,4%; 0,8%; 1,6% dan 3,2%. Hubungan mortalitas dengan konsentrasi formula dianalisis menggunakan analisis probit, sedangkan data bobot larva, konsumsi pakan dan waktu perkembangan larva dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula minyak biji A. Indica memiliki nilai LC50 sebesar 0,659% (0,550-0,781%) terhadap larva instar 2 hingga instar 4. Pada fase pupa kematian kembali meningkat tajam sehingga nilai LC50 menjadi 0,152%. Perlakuan formula tersebut mengakibatkan perpanjangan waktu perkembangan, menurunkan bobot, dan menurunkan konsumsi pakan larva uji.Kata Kunci: Konsentrasi letal, Mortalitas, Gangguan perkembangan, Ekstrak
1 Pengaruh Biji EKstrak Barringtonia asiatica L. (Kurz) (Lecythidaceae) Terhadap Mortalitas Larva dan Fekunditas Crocidolomia pavonana F. (Lepidoptera: Pyralidae) Danar Dono; Syarif Hidayat; Ceppy Nasahi; Emelda Anggraini
Agrikultura Vol 19, No 1 (2008): April, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2528.08 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i1.601

Abstract

Ekstrak biji Barringtonia asiatica (Lecythidaceae) memiliki aktivitas insektisida, namun pengaruhnya terhadap fekunditas Crocidolomia pavonana (Lepidoptera: Pyralidae) belum diketahui. Percobaan uji toksisitas dilakukan urituk mendapatkan nilai LC50 dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri aras perlakuan ekstrak biji B. asiatica pada konsentrasi 0.02%: 0.05%: 0,1%: 0.2%; 0.3%: dan kontrol. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Pengujian dilakultan dengan menggunakan metode residu pada daun sawi pakan. Uji pengaruh ekstrak biji B. asiatica terhadap fekunditas C. pavonana dilakukan dengan metode residu pada daun sawi pakan ke dalam ekstrak biji B asiatica pada konsentrasi 0.09%; 0,15%; 0,22% - (setara dengan LC30, LC50, LC70); dan kontrol. Imago yang berkembang dari larva yang diberi pakan perlakuan diamati fekunditasnya. Hasil percobaan menunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik terhadap larva C. pavonana dengan nilai LC50 sebesar 0,15% dan memiliki pengaruh sebagai penghambat aktivitas makan (antifidan). Ekstrak biji B. asiatica pada selang konsentrasi 0,09%-0.22% yang diberikan pada larva C. pavonana berpengaruh terhadap waktu pembentukkan telur, produksi telur, masa oviposisi, dan fertilitas dibandingkan dengan perlakuan kontrol.
Reproduksi, Fekunditas dan Lama Hidup Tiap Fase Perkembangan Plutella xylostella (Lepidoptera : Ypnomeutidae) pada Beberapa Jenis Tumbuhan Cruciferae Nenet Susniahti; Tarkus Suganda; Sudarjat Sudarjat; Danar Dono; Andhita Nadhirah
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.102 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.12296

Abstract

ABSTRACTReproduction, fecundity and period of each growth phase of Plutella xylostella on some species of crucifersPlutella xylostella L. is one of major pests of cabbage (Brassica oleracea). P. xylostella, also known as diamondback moth, is an oligophagous with limited host only a crucifers. The pest often causes damage on the plant in the low to high altitude of the land. It is able to attack cabbage leaf from seedling to harvesting. An alternative controlling method that can be done is by using potential parasitoid, Diadegma semiclausum. Its application can be done using conservation technique through environment modification such as planting ornamental plants as parasitoid food source and alternative host for P. xylostella. The research aimed to find alternative host for P. xylostella. Experiment was conducted at greenhouse of Department Plant Pests and Disease, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. Experiment was carried out by observation method using Randomized Blocked Design consisted of five treatments and four replications. The result demonstrated that Rorippa indica and Cardamine hirsuta were alternative host for P. xylostella. The average number of eggs laid on R. indica and C. hirsuta were 226.75 and 216.25 eggs, respectively. Survival rate of P. xylostella infested on R. indica was 32.50% whereas the survival rate of P. xylostella infested on C. hirsute was 28.75%. It can be concluded that P. xylostella was able to spend its whole life cycle on both plants.Keywords: Crucifers, Fecundity, Growth phase, P. xylostella, ReproductionABSTRAKPlutella xylostella L. merupakan salah satu hama utama kubis (Brassica oleracea). P. xylostella, juga dikenal sebagai Diamondback moth, yang bersifat oligofag dengan inang terbatas hanya pada tanaman kubis-kubisan. Hama ini sering menyebabkan kerusakan tanaman pada dataran rendah dan tinggi. Hama ini dapat menyerang pertanaman kubis pada saat bibit sampai panen. Sebuah metode pengendalian alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan parasitoid, Diadegma semiclausum. Penerapannya dapat dilakukan dengan menggunakan teknik konservasi melalui modifikasi lingkungan seperti menanam tanaman hias sebagai sumber pakan untuk parasitoid dan inang alternatif untuk P. xylostella. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan inang alternative dari P. xylostella. Percobaan dilakukan di rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Percobaan ini dilakukan dengan metode observasi menggunakan RancanganAcak Kelompok yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rorippa indica dan Cardamine hirsuta merupakan inang alternatif bagi P. xylostella. Rata-rata jumlah telur yang diletakan pada R. indica dan C. hirsuta adalah 226, 75 dan 216,25 butir. Kelulusan hidup P.xylostella yang di-infestasikan pada R. indica adalah 32,50% dan pada C. hirsuta adalah 28,75%. serta pada kedua jenis tanaman tersebut, P.xylostella dapat menyelesaikan seluruh siklus hidupnya.Kata Kunci : Cruciferae, Fase perkembangan, Fekunditas, P. xylostella, Reproduksi
Seleksi Berbasis Marka Molekuler pada Padi Generasi F2 Guna Merakit Galur Padi Harapan Tahan Wereng Coklat Nono Carsono; Gigih Ibnu Prayoga; Neni Rostini; Danar Dono
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.511 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8471

Abstract

ABSTRACTMolecular Marker-based Selection on F2 Progeny for Development of Promising Rice Lines Resistant to Brown PlanthopperBrown planthopper (BPH) is the major insect pest of rice and accounts for significant yield loss. This experiment was aimed to develop BC1F1 and F3 brown planthopper resistant rice lines. Selection on the basis of SSR markers can be done by using two polymorphic SSR markers, i.e., RM586 dan RM8213, which screened from eight SSR markers for BPH resistant. Sixty-three F2 genotypes from IP-1 (derived from IR-64 x PTB-33) population and twenty F2 genotypes from PP-11 (derived from Pandan Wangi x PTB-33) population were selected and will be used for further research by selfed and backcrossed to recipient parents. Chi-squares test for segregation of DNA bands in F2 generation showed that RM8213 fitted with 1:2:1 Mendelian ratio for controlling photosynthetic rates and trichomes length in IP-1 population. This information could be used in programs to develop a durable brown planthopper resistant rice cultivar.Keywords: BPH, F2 population, Moleculer marker, SSRABSTRAKWereng coklat merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi yang mampu menurunkan produksi padi secara nyata. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh galur-galur padi F2 yang memiliki marka-marka yang berasosisasi dengan ketahanannya terhadap wereng coklat. Seleksi pada galur padi F2 hasil persilangan telah dilakukan melalui teknik marka molekuler Simple Sequence Repeat (SSR) menggunakan dua marka SSR yang menunjukkan polimorphisme yaitu RM586 dan RM8213 dari delapan marka yang diskrining. Sebanyak 63 genotip dari populasi IP-1 (hasil persilangan IR-64 x PTB-33) dan 20 genotip dari populasi PP-11 (hasil persilangan Pandan Wangi x PTB-33) untuk disilangkan sendiri maupun disilang balik dengan tetua recipient. Selain itu, hasil analisis Chi-Kuadrat untuk segregasi pita DNA menunjukkan bahwa primer RM8213 memiliki rasio 1:2:1 (dominasi tidak sempurna) dalam mengontrol karakter laju fotosintesis dan panjang trikoma terhadap wereng coklat pada populasi IP-1. Informasi yang diperoleh dari penelitian ini nantinya dapat digunakan untuk program perakitan kultivar padi tahan wereng coklat yang durable.Kata Kunci: Marka molekuler, Populasi F2, SSR, Wereng coklat
Pengaruh Ukuran Partikel Sulfur terhadap Mortalitas, Pertumbuhan dan Perkembangan Ulat Grayak Jagung Spodoptera frugiperda J. E. Smith (Lepidoptera: Noctuidae) Fadhilah Rahmah Aprianti; Yusup Hidayat; Danar Dono
Agrikultura Vol 32, No 3 (2021): Desember, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i3.35270

Abstract

Spodoptera frugiperda merupakan hama baru pada pertanaman jagung di Indonesia. Serangga hama ini menyerang pada bagian daun dan juga titik tumbuh tanaman jagung. Petani umumnya menggunakan insektisida sintetik untuk mengendalikan S. frugiperda. Alternatif pengendalian lainnya yang lebih aman yaitu dengan menggunakan insektisida bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ukuran partikel mineral sulfur terhadap S. frugiperda. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode percobaan dengan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang diuji yaitu lima ukuran partikel formulasi mineral sulfur (100, 200, 300, 400, dan 500 mesh) masing-masing pada konsentrasi 4%. Air dan wetting agent + dispersant agent masing-masing digunakan sebagai kontrol. Formulasi mineral diaplikasikan ke larva S. frugiperda dengan cara disemprotkan. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pengaplikasian sulfur dengan ukuran mesh 500 (25 µm) dapat menyebabkan mortalitas larva S. frugiperda pada 1 hari – 24 hari setelah perlakuan (11,25% - 33,75%) yang berbeda nyata dengan kontrol (0,00%). Namun, berbagai ukuran partikel mineral sulfur yang diuji tidak memengaruhi lama perkembangan larva dan berat pupa S. frugiperda. Sementara itu, perlakuan mineral sulfur ukuran 100, 400, dan 500 mesh mampu menurunkan jumlah imago normal S. frugiperda dari 16,25 ekor pada kontrol menjadi 11,25, 10,50, dan 10,75 ekor.
Bioaktivitas Campuran Ekstrak Biji Barringtonia asiatica L. (Kurz.) (Lecythidaceae) dan Getah Azadirachta indica A. Juss. (Meliaceae) terhadap Larva Spodoptera litura F. (Lepidoptera: Noctuidae) Indah Meutia Arisanti; Danar Dono
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.826 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i1.8458

Abstract

ABSTRACTBioactivity of mixed seed extract of Barringtonia asiatica l. (kurz.) (lecythidaceae) and sap of Azadirachtaindica A. Juss. (meliaceae) against larvae of Spodoptera litura f. (lepidoptera: noctuidae)Barringtonia asiatica and Azadirachta indica are known to have variety of chemical compounds that haspotency to be developed as botanical pesticides. The study aimed to determine insecticidal toxicity of B.asiatica seed extract and A. indica sap and their mixture. The experiment was carried out in the Laboratoryof Pesticides and Application Technology, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture,Universitas Padjadjaran. The experiments were conducted either on toxicity test of the seed extract of B.asiatica and the sap of A. indica singly or their mixture based on the comparison of LC95. Toxicity testing wasperformed using a leaf-residue feeding method on the instar I of Spodoptera litura larvae. The resultsshowed that seed extractof B.asiatica has a moderate toxicity to S.liturawith the LC50 value of 0.491% andaffected body weight of the larvae. The sap of A.indicahas had slightly low toxicity with the LC50 value of1.310%. The mixture of B. asiatica seed extract and A. Indica sap (based on ratio of 4.1%of B. asiaticacompare to 4.9% of A. Indica) has LC50 value of 0.970% (slightly low toxicity) and the LC95 value of 15.99%that was antagonistic on the LC95 level with Cotoxicity Ratio value of 0.23% on 12 days after treatment.Keywords: Cotoxicity ratio, independent joint action, Barringtonia asiatica, Azadirachta indica, SpodopteralituraABSTRAKBarringtonia asiatica dan Azadirachta indica diketahui memiliki berbagai senyawa kimia yang berpotensidikembangkan sebagai pestisida nabati. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui toksisitas ekstrak biji B.asiatica dan getah A. indica serta campurannya telah dilakukan di Laboraturium Pestisida dan TeknikAplikasi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.Penelitian meliputi uji toksisitas ekstrak biji B. asiatica dan getah A.indica secara tunggal, dan pengujiancampuran ekstrak biji B. asiatica dan getah A.indica berdasarkan pada perbandingan LC95. Pengujiantoksisitas dilakukan dengan metode celup pakan pada larva instar I Spodoptera litura. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik sedang terhadap S. litura dengan nilai LC50sebesar 0,491% dan berpengaruh terhadap bobot basah larva. Getah A. indica bersifat toksik ringan dengannilai LC50 1,310%. Campuran ekstrak biji B. asiatica dan getah A. indica berdasarkan rasio 4,1% B. asiaticaberbanding 4,9% A. indica memiliki LC50 sebesar 0,970% (toksisitas ringan) dengan LC95 sebesar 15,99% dandinyatakan bersifat antagonis pada LC95 dengan nilai Nisbah Kotoksisitas 0,23% pada 12 hari setelahaplikasi.Kata kunci: Nisbah Kotoksisitas, Kerja bersama bebas, Barringtonia asiatica, Azadirachta indica, Spodopteralitura
Populasi Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit Elaeidobius kamerunicus Faust dan Pengaruhnya terhadap Nilai Fruit Set pada Tanah Berliat, Berpasir dan Gambut di Kalimantan Tengah, Indonesia Fizrul Indra Lubis; Sudarjat Sudarjat; Danar Dono
Agrikultura Vol 28, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.442 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i1.13056

Abstract

ABSTRACTPopulation of soil palm weevil pollinator Elaeidobius kamerunicus FAUST and its impact on fruit setvalue at clay, sandy and peat soil types in central Kalimantan, di IndonesiaOil palm weevil pollinator Elaeidobius kamerunicus Faust plays an important role in the increasing oilpalm fruit set value. Along with the development of oil palm, fruit set problems occurred in recentdecades in some parts of Indonesia. An experiment was carried out on a seven years old oil palmplantation located at Selangkun Estate, Kotawaringin Barat, Central Kalimantan, Indonesia to find outthe influence of population E. kamerunicus on pollination efficiency at clay, sandy and peat soil types.Relative to other soil types, a high weevil population on male (50,811 weevils/ha ; 72 weevils/spikelet)and female (219 weevils) inflorescences had been recorded at clay soil. Fruit set value on clay soil 58.9%and significantly different with sandy soil of 49.8% and peat soil of 46.4%. Population E. kamerunicusper ha influenced fruit set value at clay, sandy and peat soil types. Number of E. kamerunicus visitedfemale inflorescences did not influenced fruit set value at clay, sandy and peat soil types.Keywords: Clay soil, Elaeidobius kamerunicus, fruit set, peat soil, population, sandy soil ABSTRAKSerangga penyerbuk kelapa sawit Elaeidobius kamerunicus FAUST berperan penting dalam peningkatannilai fruit set kelapa sawit. Seiring dengan perkembangan kelapa sawit, adanya permasalahan nilai fruitset telah terjadi dalam beberapa kurun waktu di beberapa wilayah Indonesia. Penelitian dilakukan diperkebunan kelapa sawit yang telah berumur tujuh tahun, berlokasi di Selangkung, Kotawaringin Barat,Kalimantan Tengah, Indonesia dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh populasi E. Kamerunicusterhadap efisiensi penyerbukan pada tipe tanah liat, pasir dan gambut. Berdasarkan tipe tanahdilaporkan bahwa tingginya populasi kumbang pada bunga jantan yaitu (50.811 kumbang/ha; 72kumbang/spikelet) dan bunga betina yang sedang mekar (219 kumbang) pada tipe tanah berliat.Adapun, nilai fruit set pada tanah liat sebesar 58,9% dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanahberpasir (49,8%) dan gambut (46,4%). Populasi E. kamerunicus per ha berpengaruh terhadap nilai fruitset pada tipe tanah liat, pasir dan gambut. Namun, jumlah E. kamerunicus yang mengunjungi bungabetina yang sedang mekar tidak berpengaruh terhadap nilai fruit set pada tipe tanah liat, pasir dangambut.Kata Kunci : Elaeidobius kamerunicus, Fruit set , Populasi, Tanah Gambut, Tanah liat, Tanah Pasir
Aktivitas Insektisida Campuran Minyak Mimba (Azadirachta indica) dan Minyak Jarak Kepyar (Ricinus communis) terhadap Spodoptera frugiperda Retno Wulansari; Yusup Hidayat; Danar Dono
Agrikultura Vol 32, No 3 (2021): Desember, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i3.35174

Abstract

Spodoptera frugiperda merupakan hama invasif yang menyebabkan kegagalan panen pada tanaman jagung. Salah satu alternatif pengendalian ramah lingkungan yang terus dikembangkan terhadap S. frugiperda yaitu pengendalian dengan insektisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sinergis campuran insektisida nabati minyak A. indica dan R. communis . Desain percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok terdiri dari minyak A. indica, R. communis , serta campurannya dengan lima taraf konsentrasi dan satu kontrol yang diulang empat kali. Pengujian menggunakan metode residu pakan pada larva instar II selama 48 jam, selanjutnya daun perlakuan diganti dengan pakan tanpa perlakuan hingga larva berkembang menjadi pupa. Hubungan konsentrasi minyak nabati dengan kematian serangga uji dianalisis menggunakan analisis probit, sedangkan peubah lainnya dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan minyak A. indica, R. communis, serta campurannya bersifat toksik terhadap larva S. frugiperda. Aktivitas campuran minyak A. indica dan R. communis pada taraf LC50 waktu pengamatan 2-8 hari setelah perlakuan (HSP) bersifat antagonistic, pada 10 HSP bersifat aditif, dan pada 12-18 HSP bersifat sinergistik lemah, sementara pada taraf LC95 waktu pengamatan 2-8 HSP bersifat antagonistic dan pada 10-18 HSP bersifat sinergistik kuat. Selain itu, minyak nabati tersebut memiliki aktivitas penghambatan perkembangan, penurunan fekunditas dan fertilitas, serta penurunan umur imago jantan dan betina S. frugiperda. Dengan demikian, campuran minyak nabati A. indica dan R. communis berpotensi dikembangkan sebagai insektisida alternatif pengendalian S. frugiperda.
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN EKSTRAK BIJI Barringtonia asiatica (L) KURZ (LECYTHIDACEAE) TERHADAP TOKSISITASNYA PADA LARVA Crocidolomia pavonana (F) (LEPIDOPTERA : PYRALIDAE). Danar Dono -; Entun Santosa -; Frida P. Inangsih -
Bionatura Vol 13, No 3 (2011): Bionatura Nopember 2011
Publisher : Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu penyimpanan formulasi ekstrak Barringtonia asiatica terhadap toksisitas formulasi tersebut pada larva Crocidolomia pavonana. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pestisida dan Teknik Aplikasi, Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung. Formulasi insektisida yang diuji yaitu formulasi 30 L (Liquid), 30 L + Sinergis, 30 WP (Wettable Powder), 30 WP + Sinergis dan Kontrol. Setiap formulasi disimpan selama 0, 112, 133, 145, dan 175 hari. Formulasi disimpan dalam botol transparan 30 ml, ditutup dan disimpan dalam ruangan dengan temperatur antara 22,8 – 26,7 °C. Toksisitas formulasi ekstrak Barringtonia asiatica diuji terhadap larva Crocidolomia pavonana, kemudian diamati mortalitasnya dari instar II – IV. Hubungan lama penyimpanan setiap formulasi insektisida dengan mortalitas serangga uji dianalisis menggunakan analisis regresi- korelasi.Hasil percobaan menunjukkan bahwa Toksisitas formulasi ekstrak Barringtonia asiatica terhadap larva Crocidolomia pavonana menurun setelah disimpan selama 175 hari. Penambahan ekstrak biji wijen sebagai bahan sinergis relatif memperlama waktu simpan dan meningkatkan toksisitas formulasi Barringtonia asiatica. Toksisitas formula Tepung (WP) lebih stabil dibandingkan formula Liquid (L).Key word: Barringtonia asiatica, Crocidolomia pavonana, toxicity, mortality.
POTENSI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI EKSTRAK BIJI BUAH KEBEN (Barringtonia asiatica) DALAM PROSES ANESTESI IKAN KERAPU MACAN (Ephinephelus fuscoguttatus) Irman Eka Septiarusli; Kiki Haetami; Yenny Mulyani; Danar Dono
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 3 (2012): Jurnal Perikanan dan Kelautan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi senyawa metabolit sekunder dari ekstrak biji Barringtonia asiatica sebagai sumber zat anestesi serta mendapatkan konsentrasi yang menghasilkan kelangsungan hidup tertinggi pada proses pembiusan ikan kerapu untuk pengemasan transportasi tanpa media air. Ekstrak biji Barringtonia asiatica mengandung senyawa saponin yang dapat memingsankan maupun mematikan ikan kerapu Macan (Ephinephelus fuscogutattus) tergantung dari konsentrasi yang digunakan. Pada konsentrasi 12 mg/l, 14 mg/l, 17 mg/l, 21 mg/l, dan 25 mg/l dapat memingsankan 100% populasi ikan kerapu masing-masing dalam rata-rata waktu dedah 55 menit, 18 menit, 14 menit, 8 menit dan 7 menit. Pada kisaran konsentrasi tersebut semua ikan kerapu dapat pulih sadar secara keseluruhan dalam waktu dedah 10 – 30 menit. Konsentrasi ekstrak biji Barringtonia asiatica sebanyak 14 mg/l merupakan konsentrasi optimal dalam proses anestesi ikan kerapu macan karena menghasilkan fase pingsan dan waktu pulih sadar tercepat. Penggunaan ekstrak biji Barringtonia asiatica untuk transportasi tanpa media air selama 6 jam memperlihatkan bahwa pada konsentrasi 14 mg/l kelangsungan hidup ikan kerapu dapat mencapai 80%.   Kata kunci : Barringtonia asiatica, Ikan kerapu Macan, Waktu Dedah
Co-Authors Abraham Suriadikusumah Afifah Nashirotul Haq Ainun, Khairunissa Andang Purnama Andhita Nadhirah Argo Utomo C. Pickerling Ceppy Nasahi DJOKO PRIJONO Eka Rahayu Setyaningsih Emelda Anggraini Endah Yulia Endah Yulia Entun Santosa Entun Santosa Entun Santosa - Erawati, Alfira Dewi Ernaldi Eka Nanda Fadhilah Rahmah Aprianti Fathussalam, Muhammad Fauziaty, Muthia Riefka Febritami, Giannisa Fhera Hardiani Fitri Widiantini Fizrul Indra Lubis Frida P. Inangsih - Giannisa Febritami Giffari, Fahri Rijal Gigih Ibnu Prayoga Gilang, Rama Ginanjar Haq, Afifah Nashirotul Haryadi, Dudi Hedi Paramita IDAR IDAR IKHA MUSLIKHA Indah Meutia Arisanti Irman Eka Septiarusli Irpan Permana Irsyad, Andika Muhammad Ivan Febriana Iwan Setiawan Jabbar, Muhammad Aqshal Azizil Kiki Haetami kinya toriyama Lathifah Azizah Lilian Rizkie Lindung Tri Puspasari Maulana, Raihan Rahmat Meliyansyah, Rika Mia Sukma Dewi Mochamad Arief Soleh Muhammad Maksum Mukhamad Agung Yusuf N Usyati Nanda, Ernaldi Eka Narendra, Nathanael Dimas Nasrudin Nasrudin Nasya Nabila Neneng S Widayani Neneng Sri Widayani Neneng Sri Widayani Neneng Sri Widayani Nenet Susniahti Nenet Susniahti Neni Rostini Neni Rostini Nono Carsono Noor Istifadah Nurfadza, Alysha Rianty Nurul Khumaida Paramita, Hedi Purnawan, Pupung Putri, Ghifa Alghifaira R. Arif Malik Ramadhan Raden Arif Malik Ramadhan Rama Ginanjar Gilang Ramadhan, R. Arif Malik Rani Maharani Rani Maharani Ratmaneli Ratmaneli Retno Wulansari Rika Meliansyah Rismanto Rismanto Rohendi Rohendi Rusydan, Muhammad Ardillah Safri Ishmayana Safri Ishmayana Safri Ishmayana Safri Ishmayana Santika Sari Santika Sari Siska Rasiska SIska Rasiska, SIska Sri Hartati Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sudarjat Susanti, Rista Susanto, Ainun Nandini Putri Susniahty, Nenet SYAFRI ISMAYANA Syarif Hidayat Syarif Hidayat Syariful Mubarok Tarkus Suganda TATI NURHAYATI Teddy Budiyansyah Toto Sunarto Toto Sunarto Unang Supratman Usyati, N Utami Dwi Ginasti Vira Kusuma Dewi Wahyu Daradjat Natawigena, Wahyu Daradjat Widayani, Neneng Sri Widayani, Neneng Sri Yani Maharani Yenny Mulyani Yogas Dwi Pratiwi Yusuf Hidayat Yusuf Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yusup Hidayat Yuwono, Indra