Halus Mandala
Universitas Muhammadiyah Mataram

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Leksikon yang Digunakan dalam Ritual Pepaosan Takepan Masyarakat Suku Sasak: Sebuah Kajian Etnolinguistik Baiq Yuliatin Ihsani; Titin Untari; Halus Mandala; Syafruddin Muhdar
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 6, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v6i2.6190

Abstract

Abstrak:Tujuan penelitian ini adalah untuk melindungi bahasa dan budaya dari kepunahan akibat pengaruh zaman. Penelitian ini akan menjadi sarana pendokumentasian bahasa dan budaya, yaitu mendata istilah-istilah atau leksikon yang digunakan dalam ritual pepaosantakepan pada masyarakat Suku Sasak sehingga budaya ini dapat terjaga keberadaanya. Adapun metode yang digunakan dalam mencapai tujuan tersebut, meliputi 1) metode penentuan subjek penelitian, 2) metode pengumpulan data, dan 3) metode analisis data. Metode penentuan subjek penelitian menggunakan purposive sample yaitu memilih informan sesuai dengan tujuan penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi partisipasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan membuat reduksi data dengancaraabstraksiyaitumengambil data yang sesuaidengankontekspenelitiandanmengabaikan data yang tidakdiperlukan. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa istilah-istilah yang digunakan dalam ritual pepaosan takepan adalah ada yang berupa kata dasar, kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk. Kata berimbuhan yaitu pemaos, pepaosan, takepan, dan penamat. Sementara itu, kata dasar didominasi oleh kata benda seperti pembayun, pitegas, penyarup, pemboa, sapuq, keris, berugak, lelingsir, kembang, mantra, dan wilayan atau wicala sedangkan kata dasar adalah takep. Kata ulang seperti andang-andang dan kata majemuk yaitu aiq kum-kum, godek nungke,  dan penginang kuning. Abstract: The purpose of this research is to protect language and culture from extinction due to the influence of the times. This research will be a means of documenting language and culture, namely recording the terms or lexicon used in the pepaosantakepan ritual in the Sasak people so that this culture can be maintained. The methods used in achieving these objectives include 1) methods of determining research subjects, 2) methods of data collection, and 3) methods of data analysis. The method of determining the research subject uses a purposive sample, namely selecting informants according to the research objectives. Data collection methods used are participatory observation methods, interview methods, and documentation methods. Data analysis is done by making data reduction by way of abstraction, namely taking data that is in accordance with the research context and ignoring data that is not needed. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the terms used in the takepan pepaosan ritual are in the form of basic words, affixed words, repeated words, and compound words. The affixed words are pemos, pepaosan, takepan, and finishing. Meanwhile, the basic words are dominated by nouns such as pemyun, pipertis, penyerup, pemboa, pipiq, keris, berugak, lelingsir, flower, mantra, and wilayan or wicala while the basic word is takep. Re-words such as andang-andang and compound words, namely aiq kum-kum, godek nungke, and yellow penginang.
PELATIHAN KONSEP SURAT-MENYURAT: SEBUAH UPAYA PENINGKATAN PEMBUATAN SURAT-MENYURAT PADA MAHASISWA Nurmiwati Nurmiwati; M. Aris Akbar; Halus Mandala; Erwin Erwin; Mulyani Thursina
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 3 (2022): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i3.9664

Abstract

Abstrak: Kegiatan penulisan surat menyurat yang dihasilkan oleh mahasiswa masih banyak ditemukan kesalahan, oleh karena itu kegiatan ini dilakukan untuk membantu mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan menyusun atau membuat surat-menyurat dalam pelaksanaan kegiatan lembaga kemahasiswaan, khusunya di Himpunan Mahasiswa Program Studi di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uiniversitas Muhammadiyah Mataram sesuai kaidah kebahasaan yang baik dan benar. Adapun metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode ceramah dan praktik dalam pelatihan. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukan bahwa pelatihan yang dilaksanakan dapat memberi dampak positif terutama dalam meningkatkan kecakapan untuk menghasilkan penulisan surat-menyurat yang sesuai dengan penyusunan struktur surat yang baik dan benar.Abstract: The activities of writing correspondence produced by students are still found to be many errors, therefore this activity is carried out to help students in improving their ability to compile or make correspondence in the implementation of student institution activities, especially in the Student Association of Study Programs within the Faculty of Teacher Training and Education Universitas Muhammadiyah Mataram by good and correct linguistic rules. The methods used in this training are lecture and practice methods in training. The results of the implementation of the activity show that the training carried out can have a positive impact, especially in improving skills to produce correspondence writing by the preparation of a good and correct letter structure.
Pemertahanan Bahasa Sasak dalam Istilah Pertanian pada Komunitas Petani Adat Bayan, Lombok Utara M. Aris Akbar; Halus Mandala; Siti Lamusiah; Siti Nur Ifanti
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 2: Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i2.10485

Abstract

Abstrak: Pergeseran bahasa berarti, suatu guyup (komunitas) meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain. Bila pergeseran sudah terjadi, para warga guyup itu secara kolektif memilih bahasa baru. Dalam pemertahan bahasa, guyup itu secara kolektif menentukan untuk melanjutkan pemakaian bahasa yang sudah bisa dipakai. Ketika guyup tutur mulai memilih bahasa baru di dalam ranah yang semula diperuntukkan bagi bahasa lama, hal itu merupakan tanda bahwa pergeseran bahasa sedang berlangsung. Wacana ritual melong pare bulu (WRMPB)komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara merupakan wujud performansi lingual pada seperangkat kegiatan penanaman padi tradisional yang didasarkan pada tradisi. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik Purposive Sampling, yaitu mamakai sampel penelitian; tokoh adat ritual melong pare bulu, kiayi, dan kepala lingkungan setempat. Pemertahanan bahasa Sasak dalam istilah pertanian, yaitu (1) ritual meleong pare bulu ‘penanaman padi tradisional’ dalam penggunaanya telah mengalami pergeseran pada tataran makna; (2) istilah pertanian dalam ritual meleong pare bulu ‘penanaman padi tradisional’ banyak istilah yang tidak digunakan sejalan dengan tidak dilaksanakannya ritual tersebut. Menggali hubungan pergeseran dan pemertahanan bahasa, dapat dikatakan bahwa bahasa Sasak dalam istilah pertanian pada komunitas petani adat Bayan, Lombok Utara tidak dapat dipertahankan oleh penuturnya sebagaimana tidak dapat dipertahankannya budaya ritual meleong pare bulu ‘penanaman padi tradisional’ pada kehidupan budaya pertanian masyarakat setempat.Abstract: Language shift means, a community leaves a language entirely to use another language. When the shift had occurred, the residents collectively chose a new language. In language preservation, it collectively determines to continue the use of language that can already be used. When speechmakers begin to choose a new language within the realm originally reserved for the old language, it is a sign that a language shift is underway. The discourse of the meleong pare bulu ritual of the Bayan indigenous farming community, North Lombok is a form of lingual performance on a set of traditional rice planting activities based on tradition. The determination of the research subject was carried out using the purposive sampling technique, which is a research sample; traditional figures of the ritual meleong pare bulu, kiayi, and the head of the local neighborhood. The preservation of the Sasak language in agricultural terms, namely: (1) the ritual of meleong pare bulu 'traditional rice planting' in its use has undergone a shift in the level of meaning; (2) the term agriculture in the meleong pare feather ritual 'traditional rice planting' many terms are not used in line with the non-implementation of the ritual. Exploring the relationship of language shifting and maintaining, it can be said that the Sasak language in agricultural terms in the indigenous farming community of Bayan, North Lombok cannot be maintained by its speakers as the untenable ritual culture of meleong pare bulu 'traditional rice planting' in the agricultural cultural life of the local people. 
Analisis Penggunaan Diksi Dalam Komunikasi Lisan di Lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram Kurnia Kurnia; Halus Mandala; Nurmiwati Nurmiwati
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 2: Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i2.10744

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, makna, dan fungsi diksi yang digunakan dalam komunikasi lisan di lingkungan Universitas Muhammadiyah Mataram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, metode wawancara, metode transkripsi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan ialah berupa daftar pertanyaan dengan menggunakan alat penunjang lain seperti, gawai (handphone), buku dan balpoin. Data dalam penelitian ini dianalisis melalui identifikasi data, klasifikasi data, interpretasi data, dan penarikan kesimpulan. Simpulan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diksi yang digunakan oleh mahasiswa dalam berkomunikasi dari segi bentuk diperoleh sebanyak 30,30% penggunaan kata asing, penggunaan kata ilmiah sebanyak 19,69%, penggunaan kata slang sebanyak 16,66%, penggunaan kata jargon sebanyak 9,09%, penggunaan kata kajian sebanyak 7,57%, penggunaan kata populer sebanyak 4,54%, penggunaan kata abstrak sebanyak 3,03%, penggunaan kata konkret sebanyak 3,03%, penggunaan kata umum sebanyak 3,03%, penggunaan kata khusus sebanyak 3,03%. Berdasarkan maknanya diperoleh sebanyak 62,12% makna denotatif, makna konotasi sebanyak 33,33%, makna afektif sebanyak 4,54%. Berdasarkan fungsinya diperoleh sebanyak 50% fungsi intelektual, fungsi sebagai bahasa gaul sebanyak 16,66%, fungsi sebagai identitas diri sebanyak 9,09%, fungsi deskriptif sebanyak 7,57%, fungsi ekspresif sebanyak 6,06%, fungsi informasional sebanyak 6,06%, dan diperoleh sebanyak 4,54% fungsi untuk mempercepat pemahaman. Abstract: This study aims to describe the form, meaning, and function of diction used in oral communication within the Muhammadiyah University of Mataram. This research uses qualitative descriptive method. Data collection was carried out using observation methods, interview methods, transcription methods, and documentation. The instrument used is in the form of a list of questions using other supporting tools such as, gadgets (cellphones), books and balpoints. The data in this study were analyzed through data identification, data classification, data interpretation, and drawing conclusions. The conclusion of the results of this study shows that the diction used by students in communicating in terms of form was obtained as much as 30.30% of the use of foreign words, the use of scientific words as much as 19.69%, the use of slang words as much as 16.66%, the use of jargon words as much as 9.09%, the use of study words as much as 7.57%, the use of popular words as much as 4.54%, the use of abstract words as much as 3.03%, the use of concrete words as much as 3.03%, the use of concrete words as much as 3.03%,  the use of common words is 3.03%, the use of special words is 3.03%. Based on the meaning obtained as much as 62.12% denotative meaning, connotative meaning as much as 33.33%, affective meaning as much as 4.54%. Based on its function, 50% of intellectual functions were obtained, functions as slang as much as 16.66%, functions as self-identity as much as 9.09%, descriptive functions as much as 7.57%, expressive functions as much as 6.06%, informational functions as much as 6.06%, and obtained as many as 4.54% functions to accelerate understanding.
RELASI GENETIS BAHASA-BAHASA TIMOR Halus Mandala
MABASAN Vol. 6 No. 2 (2012): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v6i2.225

Abstract

Penelitian  relasi bahasa ini mengkaji tujuh bahasa di Pulau Timor meliputi bahasa (1) Tokodede  dan (2) Mambae  ditutur masyarakat Timor Leste bagian barat, bahasa (3) Kemak dan (4) Tetun dipakai di NTT menyebar sampai ke wilayah  Timor Leste, bahasa (5) Dawan, (6) Rote, dan (7) Helong berkembang di NTT. Semua bahasa itu dihipotesiskan mempunyai hubungan kekerabatan, meskipun sebagian bahasa-bahasa itu diklasifikasikan sebagai bahasa Non-Austronesia (AN) (Capell, 1945). Data dikumpulkan menggunakan daftar Swadesh dan Holle yang dianalisis dengan metode diakomparatif,  diperoleh bukti akurat keeratan relasi genetis  bahasa-bahasa itu sebagai kelompok bahasa Timor. Berdasarkan bukti kuantitatif dan kualitatif, kelompok bahasa Timor memiliki tiga subkelompok, yakni TKM, DTR, dan  Hl yang dapat disusun dalam bentuk silsilah relasi genetis bahasa Timor dengan pola dwipilah. Inovasi fonologis penyatu kelompok Timor berupa apokope, sinkope, penunggalan bunyi, dan pengedepanan bunyi sentral PAN *¶. Bukti inovasi fonologis pemisah kelompok berupa PT *b menjadi PTKM *h, PDTR *f, dan Hl b. Selain itu, ditemukan pula bukti pemisah kelompok sekaligus penyatu subkelompok masing-masing.  Dalam subkelompok TKM ditemukan bukti inovasi fonologis bersama berupa apokope dan metatesis pada subkelompok DTR. Pada subkelompok Hl ditemukan pula bukti inovasi fonologis bersama berupa metatesis dan paragoge. Di samping itu ditemukan pula exclusively  shared  linguistic  innovation yaitu inovasi leksikal bersama baik untuk leksikal PT, leksikal subkelompok PTKM, leksikal subkelompok PDTR dan leksikal Hl.