Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Environmentally Friendly Larvicides: Comparison of Eleutherine bulbosa and Allium sativum Extracts against Aedes aegypti mosquito larvae Nuryanto, Muhammad Khairul; Duma, Krispinus; Fitriany, Evi; Tandirogang, Nataniel; Yulianti, Martina; Nurkhalisa, Nina; Rasendriya, Fauzan Firjatullah
Mulawarman International Conference on Tropical Public Health Vol. 1 No. 1 (2025): The 3rd MICTOPH
Publisher : Faculty of Public Health Mulawarman University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Research has identified several plants that have potential larvicidal properties, notably Eleutherine bulbosa (Dayak onion) and Allium sativum (garlic), both of which are rich in flavonoids. Flavonoids are known insecticides, thus making these plants promising candidates to control mosquito populations and reduce the risk of dengue transmission. Objective : This study aims to evaluate the larvicidal efficacy of extracts from Dayak onion and garlic in lethal ovitraps. Research Methods/ Implementation Methods : This study used a true experimental design with a post-test only control group. The samples used were Aedes aegypti larvae. The independent variables were larvicidal concentrations of dayak onion and garlic (0.6%, 1.2%, 1.8%) and abate as positive control. The dependent variable was mosquito larvae mortality rate. The experiment was replicated four times. Mosquito larvae were monitored and examined at intervals of 10 minutes, 20 minutes, 30 minutes, 1 hour, and 24 hours. Results : The average mortality of Aedes mosquito larvae on exposure to Dayak onion is not better than exposure to garlic, with an average mortality of Dayak onion 0.6% (71%), 1.2% (87%) and 1.8% (75%). Meanwhile, the effectiveness of garlic was almost the same in the three concentrations tested, which was around 99-100%. Conclusion/Lesson Learned : The garlic used was highly effective in killing mosquito larvae, even at the lowest concentration (0.6%). These results show that garlic has the potential to be a stable and consistent larvicidal agent, effective at low doses without requiring an increase in concentration to increase effectiveness.
Gambaran Faktor Risiko Low Back Pain Pada Pemanen, Pengangkut, Pemuat Tandan Buah Segar Di Wilayah Pengawasan Balai K3 Samarinda Tahun 2022 – 2023 Ledjap, Odilia Nadya Marsyanita; Nuryanto, Muhammad Khairul; Tresnasari, Putri; Diputra, Putu Yudhi Nusartha; Duma, Krispinus; Lagadoni, David
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 9 (2025): Volume 12 Nomor 9
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i9.19482

Abstract

Low Back Pain (LBP) adalah nyeri yang terjadi di antara batas bawah kosta dan lipatan gluteal inferior, yang dapat disertai atau tanpa nyeri ekstremitas bawah, dan sering disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari individu pekerja sendiri, lingkungan, dan pekerjaan yang tak jarang berkaitan dengan kesalahan ergonomi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran faktor risiko LBP pada pekerja pemanen, pengangkut, dan pemuat tandan buah segar di wilayah pengawasan Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Samarinda tahun  2022 – 2023. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan data sekunder yang diambil dari data hasil pemeriksaan dan pengujian Balai K3 Samarinda tahun 2022 – 2023 sebanyak 305 pekerja yang mengalami LBP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia terbanyak berada pada kelompok usia 44 – 54 tahun sebanyak 155 pekerja (50,8%). Distribusi frekuensi berdasarkan faktor beban manual terbanyak pada beban manual kategori berbahaya sebanyak 202 pekerja (66,2%), faktor postur janggal terbanyak pada postur janggal kategori berat sebanyak 189 pekerja (62,0%), faktor gerakan repetitif terbanyak pada gerakan repetitif kategori berisiko sebesar 192 pekerja (63,0%), faktor durasi paparan terbanyak pada kategori bahaya sebesar 273 pekerja (89,5%). Selain itu, jika dilihat dari kategori masa kerjanya, penderita terbanyak dengan masa kerja baru sebanyak 165 pekerja (54,1%).
Hubungan Perilaku Kesehatan terhadap Karies Gigi Kriteria ICDAS di Desa Melahing Kota Bontang Diastuti, Denti; Masyhudi, Masyhudi; Duma, Krispinus
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.115

Abstract

Karies gigi menjadi bukti tidak terjaganya kondisi gigi dan mulut masyarakat, dengan prevalensi yang cukup tinggi di Indonesia, mencapai 48% di Provinsi Kalimantan Timur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki keterkaitan antara prilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan insiden karies pada penduduk Desa Melahing Kota Bontang. Metode yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, dilakukan di Desa Melahing Kota Bontang. Jumlah populasi adalah 261 orang, dengan sampel sebanyak 72 orang yang telah memberikan persetujuan melalui informed consent. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner dan melalui pemeriksaan klinis rongga mulut menggunakan kriteria ICDAS untuk mengukur kedalaman karies. Hasil analisis data menggunakan uji chi square pada SPSS versi 26 menunjukkan bahwa perilaku kesehatan gigi dan mulut masyarakat mayoritas dikategorikan sebagai buruk (72,2%), dan tingkat kejadian karies email di Desa Melahing mencapai 59,7%. Berdasarkan uji chi square, ditemukan hubungan yang signifikan antara perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan karies gigi pada masyarakat Desa Melahing Kota Bontang, dengan nilai p = 0,035 (p < 0,05) dan odds Ratio sebesar 3,7. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara prilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan kejadian karies di Desa Melahing Kota Bontang; di mana individu yang memiliki prilaku yang kurang baik memiliki risiko 3,7 kali lebih tinggi mengalami karies email dibandingkan dengan mereka yang memiliki prilaku yang baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Gambaran Status Gizi Pekerja Berdasarkan Kelaikan Kerja di Industri Migas PT X Kalimantan Timur Rahmania Sari, Vivi Arsi; Duma, Krispinus; Tresnasari, Putri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12324

Abstract

Status gizi merupakan salah satu faktor penting yang mendukung produktivitas, kesehatan, dan keselamatan kerja terutama pada pekerja migas. Penilaian status gizi ini juga berdampak pada penilaian status kelaikan kerja pada saat medical check up (MCU) yaitu apakah pekerja laik kerja, laik kerja dengan catatan, tidak laik kerja sementara, tidak laik untuk bekerja, atau tidak laik kerja secara mental dan fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran status gizi pekerja berdasarkan kelaikan kerja, usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan kebiasaan olahraga pekerja di Industri Migas PT X Kalimantan Timur. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif. Data penelitian berasal dari data sekunder perusahaan yaitu hasil MCU pekerja pada tahun 2023. Sampel diambil dengan metode total sampling pada pekerja dan sebanyak 573 pekerja memenuhi kriteria. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas pekerja yaitu 65,44% mengalami obesitas. Pada penilaian status kelaikan kerja, mayoritas pekerja berstatus laik kerja dengan catatan yaitu 99,48%. Status gizi pekerja obesitas menyumbang sebesar 65,79% pada kategori laik kerja dengan catatan ini. Distribusi kejadian obesitas jika ditinjau berdasarkan kelompok usia >40 tahun yaitu 71,37%, pekerja laki-laki sebesar 67,43%, pekerja lapangan sebanyak 66,94%, dan pekerja yang jarang berolahraga mengalami obesitas yaitu 63,91%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mayoritas pekerja mengalami obesitas dengan status kelaikan kerja dengan catatan. Hal ini juga dapat dipengaruhi faktor usia, jenis kelamin, jenis pekerjaan, dan kebiasaan olahraga pekerja.
Strengthening Self Efficacy and Self Care Practices Among People Formerly Affected by Leprosy to Reduce Disability Risk Bakhtiar, Rahmat; Duma, Krispinus; Rahayu, Hanis Kusumawati; Sawitri, Endang
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 11, No 4 (2025): December
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpkm.101798

Abstract

Disability progression among people formerly affected by leprosy can occur due to permanent nerve damage involving the hands, feet, and eyes. Consistent self care can prevent or reduce secondary injury and disability. This community service program aimed to increase self efficacy and knowledge related to self care practices. A refresher program comprising education and motivational support was delivered to 20 participants who had a history of leprosy and varying levels of disability. Self efficacy and self care activities were assessed before and after the program. At baseline, conditions that support self efficacy were limited. After the intervention, improvements were observed across multiple elements of self care, particularly reduced wound odor, improved hand condition with cleaner and softer skin, and increased use of protective footwear and gloves during work activities. Participants reported that prior successful experiences with self care and support from peers, other people formerly affected by leprosy, and family members helped strengthen self efficacy and supported more consistent self care. These findings suggest that refresher education combined with social support can reinforce self care behaviors, which may help participants maintain daily self care practices.
Literature Review: The Effect of Particulate Matter Pollutants on Diabetes Mellitus Rasyid, Muhammad; Pagoray, Henny; Duma, Krispinus; Sukmana, Mayusef
Jurnal Kesehatan Pasak Bumi Kalimantan Vol 8, No 2 (2025): JKPBK Desember 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/j.kes.pasmi.kal.v8i2.22763

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus(DM) merupakan penyakit sistemik yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah. Prevalensi DM di dunia. Diprediksi meningkat setiap tahun mencapai 693 juta pada tahun 2045. Particulate Matter 2.5(PM2.5) diduga berkontribusi terjadinya peningkatan angka kejadian DM. Tujuan penelitian ini adalah melakukan literatur review artikel pengaruh partikulat matter  terhadap DM. Metode penelitian adalah literatur review. Kriteria inklusi : artikel 5 tahun terakhir, terindeks scopus Q1 sampai dengan Q4. Mesin pencarian, PRISMA dan ekstrak data menggunakan aplikasi Watase Uake. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan PM2.5 dan DR dengan  konsumsi alcohol nilai  1,29 (1,01, 1,66). kejadian DR untuk setiap peningkatan 10-μg/m3 pada partikulat dengan diameter ≤2,5 dan 2,5–10-μm masing-masing adalah 1,29 (1,11–1,50) dan 1,37 (1,17–1,61).  Terdapat hubungan PM2.5 dengan  kejadian diabetes nefropati dan konsumsi alkohol. Paparan jangka panjang sangat penting berhubungan erat dengan tingkat hsCRP. Hubungan yang lebih kuat Peningkatan adiponektin diamati di antara peserta non-obesitas. Peningkatan 10 μg/m³ paparan PM2.5, kemungkinan terkena retinopati diabetik meningkat sebesar 41%. Kesimpulan: pada pasien DM, semakin tinggi paparan partikulat, semakin tinggi pula risiko DR. Sangat penting untuk mengurangi paparan  PM2.5. Kata kunci : Partikulat Mater, DM, retinopathy, biomarker
The Description of Medical Check-up Results of the Oil and Gas Workers at PT. X in East Kalimantan in 2022-2023: Gambaran Hasil Medical Check-up pada Pekerja Minyak dan Gas Bumi PT. X di Kalimantan Timur Tahun 2022-2023 Muhammad Abdul Aziz Hafidhuddin; Duma, Krispinus; Tresnasari, Putri
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Medika Karya Ilmiah Kesehatan
Publisher : ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jmkik.v11i1.1475

Abstract

The benefits of medical check-up in the mining sector have been proven in improving workers’wellbeing. Medical check-up not only identifies potential health problems with unidentifiable symptoms, but also provides prevention or treatment services to reduce the number of deaths related to health conditions. This research aims to provide a description of medical check-up results of the oil and gas workers at PT. X in East Kalimantan. It is expected that the results of this research can provide deep understanding related to the health conditions of the workers in the work environment of oil and gas. This research applied quantitative method with descriptive observational design. The data of this research were taken from the medical check-up results carried out by the oil and gas workers at PT. X in East Kalimantan in 2022-2023. This approach aimed to give an accurate description of the worker health conditions in the work environment, especially in oil and gas industry. The research findings revealed an increase number of workers with an increasing participation of women, a change in age distribution, and an increasing number of health problems, including an increase in diabetes, obesity, and a shift in the health status of workers.
PARTICIPATORY EMPOWERMENT OF SELF-CARE GROUPS FOR PERSONS AFFECTED BY LEPROSY WITH DISABILITIES Bakhtiar, Rahmat; Duma, Krispinus; Sukmana, Mayusef; Tarihoran, Nurhasan; Kabir, Fahmi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.66872

Abstract

Disability and stigma among persons affected by leprosy remain important public health challenges, particularly for those living with permanent impairments. These conditions can limit physical functioning, social participation, economic independence, and overall quality of life. This community engagement program aimed to improve knowledge of self-care and disability prevention, as well as enhance the quality of life of persons affected by leprosy through a community-based empowerment approach. The program was conducted in Harapan Baru Sub-village, Sebulu Village, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan, Indonesia, from May to August 2025. A total of 25 persons affected by leprosy participated, including 76% with grade 2 disability and 24% with grade 1 disability. The intervention consisted of health education, self-care training, and empowerment activities designed to promote independence and improve quality of life. Knowledge and quality of life were assessed before and after the intervention using a structured questionnaire and the Assessment of Quality of Life–4 Dimensions (AQoL-4D) instrument. The results showed improvements in both knowledge and quality of life following the intervention. The proportion of participants with high self-care knowledge increased from 4% to 36%, while the proportion with low knowledge of disability prevention decreased from 48% to 32%. Quality of life also improved, as indicated by a reduction in the proportion of participants with a high level of quality-of-life impairment from 40% to 12%. In contrast, the proportions of participants with moderate and low levels of impairment increased from 40% to 56% and from 20% to 32%, respectively. Community-based empowerment interventions that integrate health education, self-care training, and community participation can improve knowledge and quality of life among persons affected by leprosy. Sustained support from relevant stakeholders is needed to maintain independence, reduce stigma, and enhance the well-being of persons affected by leprosy.Kecacatan dan stigma pada penyintas kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena dapat membatasi fungsi fisik, partisipasi sosial, kemandirian ekonomi, dan kualitas hidup. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang perawatan diri dan pencegahan kecacatan serta meningkatkan kualitas hidup penyintas kusta melalui pendekatan pemberdayaan berbasis masyarakat. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Harapan Baru, Desa Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Mei–Agustus 2025. Sebanyak 25 penyintas kusta berpartisipasi, terdiri atas 76% dengan cacat tingkat 2 dan 24% dengan cacat tingkat 1. Intervensi meliputi pendidikan kesehatan, pelatihan perawatan diri, dan kegiatan pemberdayaan untuk meningkatkan kemandirian serta kualitas hidup. Pengetahuan dan kualitas hidup diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner terstruktur dan instrumen Assessment of Quality of Life-4 Dimensions (AQoL-4D). Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kualitas hidup setelah intervensi. Proporsi peserta dengan tingkat pengetahuan tinggi mengenai perawatan diri meningkat dari 4% menjadi 36%, sedangkan peserta dengan pengetahuan rendah mengenai pencegahan kecacatan menurun dari 48% menjadi 32%. Pada aspek kualitas hidup, proporsi peserta dengan gangguan kualitas hidup tinggi menurun dari 40% menjadi 12%, sementara kategori gangguan sedang meningkat dari 40% menjadi 56% dan kategori gangguan rendah meningkat dari 20% menjadi 32%. Intervensi pemberdayaan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan, pelatihan perawatan diri, dan keterlibatan masyarakat efektif meningkatkan pengetahuan dan kualitas hidup penyintas kusta. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk mempertahankan kemandirian, mengurangi stigma, dan meningkatkan kesejahteraan penyintas kusta.