Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Pengaruh Penambahan Karbon Pada Fotokatalist Berbahan Dasar Tio2 Untuk Mendegradasi Methylene Blue Nabilla Syahvalensi; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu pencemaran lingkungan yang terjadi saat ini adalah pencemaran yang disebabkan oleh limbah industri tekstil. Oleh karena itu sebelum dibuang, limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar tidak langsung mencemari lingkungan, karena limbah tekstil sangat berbahaya bagi kesehatan masyarak at, karena masih banyak mengandung Methylene Blue (MB). Pada penelitian ini, TiO2 sebagai fotokatalis proses degradasi MB dicampurkan dengan karbon aktif yang konsentrasinya divariasikan sebesar 0,2%, 0,4% , 0,6% , 0,8% , dan 1% dari jumlah TiO2 yang digunakan. Kemudian ditempelkan pada permuk aan kertas plastik lalu dipotong dengan ukuran 1cm x 1cm dan ditambahkan pada limbah air MB untuk mendegradasi air limbah MB dengan menjemur air limbah MB yang telah ditaburi dengan TiO2 dan karbon tersebut di bawah lampu halogen 250 Watt. Sampel yang digunakan sebagai air limbah MB adalah campuran air dengan MB. Pengujian pada penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan sampel air limbah MB yang telah diberi TiO2 dan karbon aktif 0,2% , 0,4% , 0,6% , 0,8% dan 1% setiap 5 jam, selama 40 jam. Penggunaan lembar plastik yang ditempeli TiO2 dengan sisipan bubuk karbon sebanyak 0,4% adalah yang paling efektif untuk mendegradasi sampel air limbah Methylene blue. Kata kunci: Limbah air Metilen blue, TiO2, karbon, fotodegradasi. Abstract One of the environmental pollutions that occur today is pollution caused by textile industry waste. Because before being disposed of, the waste must be processed first so as not to directly pollute the Environmen t, because textile waste is very dangerous for public health because it still contains a lot of Methylene Blue (MB). In this study, TiO2 as a degradation process of MB was mixed with activated karbon whos e concentration varied by 0.2% , 0.4% , 0.6% , 0.8% , and 1% of the amount of TiO2 used. Then it was affixed to the surface of the plastik paper and then cut to a size of 1 cm x 1 cm and added to MB wastewater to degrade MB wastewater by drying MB wastewater that had been sprinkled with TiO2 and karbon under 250 Watt halogen lamps. The sample used as MB wastewater is a mixture of water with MB. Tests in this study were carried out by comparing MB wastewater samples that were given TiO2 and activated karbon 0.2% , 0.4% , 0.6% , 0.8% and 1% every 5 hours, for 45 hours. The use of plastic sheets contained TiO2 with 0.4% carbon powder inserts is the most effective way to degrade Methylene blue wastewater samples Keywords: Methylene blue waterwaste, TiO2, carbon, photodegradation.
Pelapisan Titanium Dioksida Pada Plastik Sebagai Fotokatalis Untuk Mendegradasi Metilen Biru Wildan Bagus Firmansyah; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air limbah tekstil pada umummnya berwarna keruh dan berbahaya bagi lingkungan jika dibuang ke sembarang tempat. Oleh karena itu, air limbah tekstil harus dijernihkan atau di degradasi terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Pada penelitian ini air limbah tekstil dijernihkan dengan material TiO2 yang digunakan sebagai fotokatalis atau menggunakan bantuan cahaya. TiO2 yang digunakan di deposisi ke dalam plastik transparansi dengan menggunakan metode thermal coating. Pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 variasi methylene blue yang digunakan sebagai limbah cair serta penyinaran selama 40 jam . Pada variasi pertama yaitu 7,8125 mg/l di dapatkan hasil degradasi atau penurunan sebanyak 51%, sedangkan dua variasi lainnya yakni 31,25 mg/l dan 15,625 mg/l didapatkan hasil masing masing 9% dan 38%. Kata Kunci : TiO2, Fotokatalis , Degradasi, Methylene Blue, Limbah tekstil Abstract Textile waste water generally is dirty and dangerous for the environment if it is thrown away of anywhere. Therefore, textile waste water must be purified or degraded before being discharged into the environment. In this study textile waste water was purified with TiO2 material used as a photocatalyst or using light. TiO2 used in deposition into transparency plastic using thermal heating method. In this study, 3 variations of methylene blue were used as liquid waste and 40 hours of irradiation. In the first variation, which is 7,8125 mg/l of methylene blue, the results of degradation or decline are 51%, while the other two variations, 31,25 mg/l and 15,625 mg/l, are 9% and 38%. Keynote : TiO2, photocatalyst , Degradation , Methylene Blue, Textile Waste Water
Analisis Variansi Kebisingan Di Pemukiman Sekitar Rel Kereta Api Jalan Rakata Bandung Menggunakan Soundscape Berdasarkan Perbedaan Waktu Anita Ikhasari; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebisingan kereta api merupakan salah satu contoh bunyi yang tidak diinginkan yang dapat mengganggu kenyamanan lingkungan, khusus nya di pemukiman sekitar rel kereta api Jalan Rakata Bandung. Untuk itu diperlukan adanya evaluasi yang melibatkan parameter akustik yang ditinjau dalam segi objektif dan subjektif. Parameter objektif melibatkan pengukuran langsung yaitu dengan mengukur Nilai Sinambung Rata-Rata (LAeq) dan Statistika Tingkat Bunyi (LN). Parameter subjektif melibatkan penilaian kuesioner terhadap responden yang akan diperdengarkan hasil Soundscape yang telah direkam terlebih dahulu dan warga di pemukiman sekitar rel kereta api Jl. Rakata Bandung dengan dibedakan berdasarkan waktu pagi, siang dan malam. Hasil yang didapat pada penelitian ini adalah nilai LAeq selama 7 (tujuh) hari pengukuran yaitu pada pagi hari berkisar 69 dBA – 73 dBA, pada siang hari berkisar 66 dBA – 77 dBA dan pada malam hari berkisar 67 dBA – 76 dBA. Hasil yang didapat dari pengukuran subjektif terhadap warga didapatkan perbedaan signifikan hanya dimiliki oleh satu aspek pada pagi, siang dan malam di setiap harinya, pada aspek lainnya memiliki kesimpulan yang sama. Sedangkan pada non-warga, didapatkan memiliki perbedaan signifikan pada seluruh aspek yang diuji pada setiap waktu pengukuran pagi, siang dan malam di setiap harinya terhadap seluruh sample yang didengarkan. Kata kunci : Bising, Kereta Api, LAeq, Soundscape, Subjektif Abstract Train noise is one example of unwanted sounds that can disrupt the comfort of the environment, specifically in the settlements around Rakata Bandung street. For this reason, an evaluation that involves acoustic parameters is needed in terms of objective and subjective. Objective parameter involves direct measurement by measuring Equivalent Continuous Noise Level (LAeq) and Statistical Noise Level (LN). Subjective parameters involve the assessment of questionnaires to respondents who will be shown the Soundscape results that have been recorded first and the residents in settlements around Rakata Bandung street based on time difference of morning, afternoon and night. The results obtained are, LAeq values for 7 (seven) measurement days in the morning around 69 dBA –73 dBA, afternoon around 66 dBA–77 dBA and night around 67 dBA-76 dBA. The results obtained from subjective measurements of residents found that significant differences were only possessed by one aspect in the morning, afternoon and night each day, in other aspects having the same conclusion. While for non-residents, it was found to have significant differences in all aspects in the morning, afternoon and night for all sampels heard. Keyword : Noise, Train, LAeq, Soundscape, Subjective Parameter
Rancang Bangun Mesin Ball Mill Vertikal Dengan Kontrol Kecepatan Berbasis Pulse Width Modulation Abdi Wahyu Sejati; Asep Suhendi; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada penelitian kali ini dilakukan perancangan mesin ball mill vertikal dengan berbasis Pulse Width Modulation (PWM) menggunakan IC LM 555. Mesin ini digunakan untuk penggilingan bahan berbentuk padat agar dapat menghasilkan reduksi pada ukuran bahan. Cara kerja mesin penggiling ini memutarkan baling-baling pada bagian dalam tabung yang dicampurkan dengan air, bola-bola besi, dan material yang akan digiling. Hasil putaran dan tumbukan dengan bola-bola besi menghasilkan gaya sentrifugal yang dapat menghancurkan material yang ada di dalamnya. Mesin ini menggunakan PWM sebagai kontrol kecepatan dan motor listrik DC sebagai mesin penggerak baling-baling. Pengujian alat dilakukan dengan tiga tahapan yaitu mengukur kecepatan putaran baling-baling mesin, mengukur tegangan dan sinyal masukkan, dan penggilingan bahan. Pada pengukuran kecepatan putaran dibagi menjadi tiga bagian diantaranya saat mesin dengan beban air sebesar 300 mL, 600 mL, 900 mL, dan 1200 mL; saat mesin dengan beban bola-bola besi 300 gram dan air sebesar 300 mL, 600 mL, dan 900 mL; dan saat mesin dengan tanpa beban. Sedangkan untuk penggilingan bahan dilakukan menggunakan material zeolit dan serpihan batu bata. Variabel yang diatur berupa lama waktu putaran dan nilai kerja mesin tersebut. Hasil dari penggilingan akan dibandingkan dengan bahan sebelum penggilingan. Kata kunci: ball mill, penggilingan bahan, milling, PWM, motor DC Abstract In this study, vertical rotation of the ball mill machine was carried out using Pulse Width Modulation (PWM) using IC LM 555. This machine is used for grinding the material so that it can produce a reduction in the size of the material. The workings of this grinding machine will rotate the propellers on the inside of the tube mixed with air, iron balls, and the material to be milled. The results of rounds and collisions with centrifugal iron balls that can damage the material inside. This machine uses PWM as speed control and DC electric motor as a propeller drive engine. The measuring instrument is done in three steps, measuring the turning speed of the propeller engine, measuring voltage and current input, and grinding the material. When the speed measurement is divided into three parts when the engine with an air load of 300 mL, 600 mL, 900 mL, and 1200 mL; machines with a load of 300 grams and air as much as 300 mL, 600 mL, and 900 mL; and when the engine is without load. Whereas for material milling is done using zeolite and brick fragments. The right variable includes the length of time and the work value of the machine. The results of grinding will be compared with the ingredients before grinding. Keywords: ball mill, material milling, milling, PWM, DC motor
Optimasi Parameter Spin Coating Untuk Deposisi Lapisan Tipis Molibdenum Disulfida Hastuti Delima; Ismudiati Puri Handayani; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tugas akhir ini mempelajari tentang lapisan MoS2 yang dideposisi di atas substrat PET, ITO/PETdan SiO2 dengan menggunakan dua metode yaitu drop casting dan spin coating. Untuk mendapatkanlapisan MoS2 yang tipis dan merata maka perlu dilakukan optimasi parameter spin coating yang baik. Padapenelitian ini, kecepatan putar dan lama waktu putar (pick dwell) divariasikan untuk mengoptimasi sebaranlapisan yang dapat mempengaruhi sifat optik dan listrik. Lapisan MoS2 yang dideposisi denganmenggunakan cara spin coating menghasilkan lapisan yang lebih tipis dibandingkan dengan cara dropcasting. Untuk deposisi dengan spin coating sebaran MoS2/PET terlihat lebih banyak celah dibandingkandengan sebaran lapisan MoS2/ITO/PET dan MoS2/SiO2. Lapisan MoS2/PET menghasilkan ketebalan rataratasebesar7nmsedangkanlapisanMoS2/ITO/PETmenghasilkanketebalanrata-ratasebesar5nm.Jikawaktuputarlebihsingkatmakadiperolehlapisanyangtebal.PadasaatkecepatanputarmeningkatmakalapisanMoS2yangdihasilkanlebihtipis.PengukuransifatlistrikdilakukandengancaramengamatikurvakarakteristikI-V lapisan MoS2 pada substrat. Proses deposisi tidak terlalu mempengaruhi sifat listrikdibandingkan dengan jenis substrat yang digunakan. Kata kunci : MoS2, PET, ITO/PET, SiO2, drop casting, spin coating. Kata Kunci: MoS2, PET, ITO/PET, SiO2, drop casting, spin coating This final project studies the MoS2 layer deposited on PET, ITO / PET and SiO2 substrates using twomethods, namely drop casting and spin coating. To get a thin and evenly distributed MoS2 layer, a good spincoating parameter optimization is needed. In this experiment, the rotating speed and pick dwell were varied inorder to optimize the layer distribution. Which might affect optical and electrical properties. The deposited MoS2layer using spin coating results in a thinner layer thickness than the drop casting method. The distribution ofMoS2 / PET has more gaps between two layers compared to the distribution of MoS2 / ITO / PET and MoS2 /SiO2 layers. The average thickness of the MoS2 / PET layer & MoS2/ITO layers are 7 nm and 5 nm, respectively.The shorter the pick dwell, the thicker the layer. The thickness decreases with the increasing of the spin coatingrotating speed. Electrical characteristic measurement was being done by observing I-V characteristic curve ofMoS2 layer on each substrates. Deposition methods do not influence significantly the electrical propertieswhich are more dependent on substrat types. Keywords : MoS2, PET, ITO/PET, SiO2, drop casting, spin coating.
Studi Karakterisasi Sistem Induced Current Electrical Impedance Tomography (iceit) Pada Distribusi Serbuk Besi Dalam Tanah Anastasya Lutmila Balqis Amir; Dudi Darmawan; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Proses identifikasi dan pencitraan yang tidak merusak diperlukan pada berbagai industri.Metode untuk mengidentifikasi bagian dalam objek tanpa melakukan pembelahan adalahtomografi. Salah satu jenis tomografi adalah Induced Current Electrical ImpedanceTomography (ICEIT). Pada prinsipnya sistem ICEIT memanfaatkan induksi arus bolak balikdengan frekuensi tertentu pada sebuah kumparan (koil) kemudian membangkitkan medanmagnet di sekitar kumparan. Medan magnet akan berinteraksi dengan objek kemudianinteraksi tersebut dapat diamati dengan mengukur beda tegangan di ujung batas tepi objek.Pada penelitian ini dibuat sistem ICEIT yang terdiri dari rangkaian koil dan phantom (wadahobjek). Rangkaian koil terdiri dari 9 buah lilitan kawat tembaga dengan inti kayu berbentukbalok. Diperlukan parameter-parameter fisis yang optimal pada rangkaian koil agar feasibleuntuk melakukan identifikasi objek. Hasil eksperimen yang dilakukan, sistem ICEIT mampumenghasilkan pola distribusi nilai beda tegangan yang berbeda pada objek dengan 2 kondisiyaitu saat objek homogen (tanah laterit) dan objek beranomali (tanah laterit dan serbuk besi).Seluruh data beda tegangan pada pasangan elektroda dikoleksi menggunakan sistem akuisisiotomatis dengan jeda waktu antar induksi adalah 500 ms. Parameter-parameter fisis yangpaling optimal pada rangkaian koil sistem ICEIT untuk melakukan identifikasi adalahfrekuensi sumber f = 10 MHz, amplitudo 20 Vpp, range induktansi koil 205.4 ɥH – 221 ɥH,dan medan magnet koil 7.1 G – 16.5 G.Kata kunci : anomali, beda tegangan, homogen, identifikasi, parameter fisis, sistem ICEITAbstract The process of identification and non-destructive imaging is needed in various industries. Themethod for identifying the inside of an object without doing division is tomography. One typeof tomography is Induced Current Electrical Impedance Tomography (ICEIT). In principle,the ICEIT system utilizes alternating current induction with a certain frequency on a coil (coil)then generates a magnetic field around the coil. The magnetic field will interact with the objectthen the interaction can be observed by measuring the voltage difference at the edge of theobject's edge. In this study an ICEIT system was made consisting of a series of coils andphantoms (object containers). The coil circuit consists of 9 pieces of coil with a beam-shapedwooden core. Optimal physical parameters are needed in the coil circuit so that it is feasibleto identify objects. The results of the experiments carried out, the ICEIT system was able toproduce different pattern of distribution of different voltage in objects with 2 conditions,namely when the object is homogeneous (laterite soil) and anomalous object (laterite soil andiron powder). All voltage difference data on the electrode pair are collected using an automaticacquisition system with a time interval between inductions of 500 ms. The most optimalphysical parameters in ICEIT system coil to identify are source frequency f = 10 MHz,amplitude of 20 Vpp, range of coil inductance L = 205.4 ɥH - 221 ɥH, and magnetic field ofcoil B = 7.1 G - 16.5 GKeywords: anomaly, homogeneity, identification, ICEIT system, physical parameters, voltagedifference
Studi Pengaruh Kemasan Kaleng, Karbon Dari Sisa Pembakaran Tempurung Kelapa, Dan Air Laut Terhadap Tegangan Baterai Aluminium Udara Angistu Palamarta; Suwandi Suwandi; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAluminium-Air Battery merupakan baterai sederhana yang menggunakan aluminium, karbon aktif, dan air garam sebagai bahan dasar baterai. Anoda yang digunakan pada penelitian iniadalah aluminium foil, kaleng Coca-cola, kaleng Pocari sweat, kaleng Green Sand dengan tingkatkemurnian aluminium masing-masing adalah 99%; 10,33%; 12,63%; 15,80%. Untuk katoda yangdigunakan adalah karbon aktif tempurung kelapa dan karbon tempurung kelapa yang tidakdiaktifkan. Elektrolit pada beterai ini adalah air garam dan air laut. Hasil dari penelitian ini adalahsemua kombinasi dari bahan-bahan yang telah disiapkan dapat menghasilkan tegangan. Teganganyang dihasilkan oleh baterai ini adalah 0,56V. Tegangan sel dihasilkan dari tegangan katodadikurangi dengan tegangan anoda. Hal ini dapat terjadi karena tingkat kemurnian pada aluminiumfoil mencapai 99% dan oksigen yang terkandung pada karbon aktif lebih banyak dari pada karbonbiasa. Zat pengotor yang terkandung pada anoda dan katoda dapat meneyebab kan penurunantegangan baterai.Kata kunci : Baterai Aluminium-Udara, Baterai Al/Udara, Baterai, Elektrokimia, RedoksAbstract Aluminum-Air Battery is a simple battery that uses aluminium, activated carbon, and saltwater as a battery base. The anodes in this research is aluminum foil, Coca-cola cans, Pocari sweatcans, Green Sand cans with each aluminium purity is 99%; 10.33%; 12.63%; 15.80%. For thecathode activated carbon from coconut shell and coconut shell carbon which are not activated isused. The electrolytes in this battery are used salt water and sea water. This battery produced 0.56V.Cell voltage is generated from the cathode voltage minus the anode voltage. This is can happenedbecause the purity level of aluminum foil reaches 99% and the oxygen contained in activated carbonis more than ordinary carbon. The impurity substances contained in the anode and cathode can causea decrease in battery voltage.Keyword : Aluminium-Air Battery, Al/Air Battery, Battery, Electrochemisty, Redox
Analisis Massa Termal Optimum Untuk Bangunan Tropis Dengan Menggunakan Phase Change Material (pcm) Dayanna Zannatul Umah; Amaliyah Rohsari Indah Utama; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTelah dilakukan simulasi kenyamanan termal pada bangunan tropis dengan mengidentifikasi suhu dalam bangunan, untuk menentukan nilai massa termal optimum dan phase change material (PCM) pada material batadan beton. Simulasi dilakukan menggunakan software EnergyPlus. Dari hasil simulasi, diperoleh massa termaloptimum material bata dan beton adalah 480,0 kJ dan 386,3 kJ. Adapun nilai PCM pada material bata dan betonadalah 2 kg dan 1,6 kg. Hasil dari penelitian menunjukkan, semakin besar nilai massa termal optimum dan PCMakan menghasilkan suhu dalam bangunan semakin rendah. Kata Kunci: Bangunan Tropis, Kenyamanan Termal, Massa Termal Optimum, Phase Change Material (PCM). AbstractThermal comfort simulations have been carried out in tropical buildings by identifying temperatures in buildings, to determine the optimum thermal mass value and phase change material (PCM) on brick and concrete materials.The simulation is done using EnergyPlus software. From the simulation results, the optimum thermal mass of brickand concrete materials is 480.0 kJ and 386.3 kJ. The PCM value in brick and concrete material is 2 kg and 1.6kg. The results of the study showed that the greater the optimum thermal mass value and PCM, the lower thetemperature in the building.Keywords: Tropical Buildings, Thermal Comfort, Optimum Thermal Mass, Phase Change Material (PCM).
Rancang Bangun Realtime Monitoring Tingkat Keasaman (ph) Dan Konduktivitas Elektrik (ec) Berbasis Internet Of Things (iot) Pada Sungai Citarum Mujaddid Shibghotul Islam; Asep Suhendi; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 8, No 2 (2021): April 2021
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sungai memiliki peranan penting pada kehidupan manusia, tetapi saat ini, kondisi sungai di sebagian besar daerah di Indonesia sudah bisa dikatakan memprihatinkan. Terbukti pada tahun 2017, 75% sungai di Indonesia sudah tercemar berat akibat limbah domestik [4].Untuk mengurangi tingkat pencemaran tersebut, didesain sebuah alat berbasis Internet of Things (IoT) yang berfungsi untuk mengamati parameter tingkat keasaman dan konduktivitas elektrik secara realtime pada sungai guna memantau kualitas air sehingga bisa dilakukan pencegahan sedini mungkin ketika terjadi hal hal yang merugikan. Pada penerapannya, alat diletakkan di dekat sungai dengan sensor tercelup ke air mengikuti ketinggian air sungai. Hasil pengambilan data oleh sensor bisa langsung dipantau pada web. Kata kunci : sungai, internet of things (IOT), tingkat keasaman, konduktivitas elektrik, web. Abstract Rivers have an important role in human life, nowadays, the condition of rivers in most areas in Indonesia can be said to be alarming. It is proven that in 2017, 75% of rivers in Indonesia have been heavily polluted due to domestic waste [4]. To reduce the level of pollution, an Internet of Things (IoT) based tool was designed to observe the parameters of the acidity and electrical conductivity levels in real time on the river. in order to monitor water quality so that prevention can be done as early as possible when things go wrong. In practice, the device is placed near the river with the sensor immersed in the water following the river water level. The results of data retrieval by sensors can be directly monitored on the web. Keywords: river, internet of things(IOT), acidity level, electrical conductivity, web.
Pembuatan Partikel Polistirena Orde Mikrometer Menggunakan Polimerisasi Sederhana Dengan Pengaturan Waktu Reaksi Dan Konsentrasi Larutan Sumber Sena Banyuaji; Asep Suhendi; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian tentang filter aerosol khususnya filter udara telah menarik perhatian para peniliti di bidang tersebut. Salah satu metode yang efektif untuk filtrasi aerosol adalah menggunakan membran nanofiber sebagai filter yang diproduksi dengan sistem electrospinning diberi arus konstan untuk menghasilkan nanofiber yang bentuknya serupa atau seragam. Efisiensi filter nanofiber dapat diukur dengan menyaring partikel. Oleh karena itu, perlu partikel uji yang sesuai untuk penyaringan. Pada filtrasi aerosol, partikel uji yang digunakan adalah polistirena. Polistirena cocok untuk partikel uji karena memiliki bentuk yang bulat dan seragam. Namun, biaya sintesis polistirena tergolong mahal. Penelitian ini membuat partikel polistirena menggunakan metode nukleasi dengan polimerisasi sederhana. Partikel polistirena dibuat dalam orde mikrometer dengan merubah parameter konsentrasi dan waktu. Partikel polistirena dibuat menggunakan 4 variasi konsentrasi monomer stirena, yaitu 6, 7, 8, dan 9 wt%. Partikel polistirena dengan variasi konsentrasi menghasilkan ukuran partikel 481 hingga 805 nm. Pada percobaan variasi waktu dilakukan sintesis polistirena menggunakan stirena 7 wt% dengan variasi waktu 6, 7, dan 8 jam. Partikel polistirena yang dihasilkan dari variasi waktu memiliki ukuran 634 sampai 679 nm. Ukuran partikel polistirena dipengaruhi 3 variabel yaitu konsentrasi monomer stirena, suhu dan inisiator. Variabel waktu sintesis memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap ukuran partikel polistirena, tapi berpengaruh kepada proses nukleasi sehingga waktu yang terlalu sedikit dapat menghasilkan polistirena yang tidak tersintesis secara menyeluruh. Kata kunci : Polistirena, Ultrapure Water, Zeta Potensial, HCL, K2S2O8. Abstract In recent years, research on aerosol filters in particular air filters has attracted the attention of researchers in this field. One of the effective methods for aerosol filtration is to use a nanofiber membrane as a filter produced by an electrospinning system given a constant current to produce similar or uniform nanofibers. The efficiency of a nanofiber filter can be measured by filtering out particles. Therefore, it is necessary to have test particles suitable for screening. In aerosol filtration, the test particles used are polystyrene. Polystyrene is suitable for test particles because it has a round and uniform shape. However, the cost of synthesizing polystyrene is quite expensive. This study made polystyrene particles using a simple polymerization method of nucleation. Polystyrene particles are made in the order of micrometers by changing the concentration and time parameters. Polystyrene particles were prepared using 4 variations of the monomer concentration of styrene, namely 6, 7, 8, and 9 wt%. Polystyrene particles with various concentrations produce particle sizes of 481 to 805 nm. In the time variation experiment, polystyrene synthesis was carried out using 7 wt% styrene with time variations of 6, 7, and 8 hours. The polystyrene particles produced from the time variation have a size of 634 to 679 nm. The size of polystyrene particles is influenced by 3 variables, namely the monomer concentration of styrene, temperature and initiator. Synthesis time variable has an insignificant effect on the particle size of polystyrene, but it affects the nucleation process so limited time can produce polystyrene which is not completely synthesized. Keywords: Polystyrene, Ultrapure Water, Zeta Potential, HCL, K2S2O8.