Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Pengetahuan Dan Perilaku Remaja Putri Tentang Kebersihan Saat Menstruasi Di MTs Negeri 1 Tuban Jaquelyn Jasmine; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugrahaeni; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1940

Abstract

Kebersihan kala menstruasi merujuk pada upaya menjaga kesehatan dan kebersihan area kewanitaan selama masa haid guna mencegah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) merupakan serangkaian tindakan yang bertujuan mengatur aspek kebersihan dan kesehatan wanita selama menstruasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji keterkaitan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku remaja putri dalam menjaga kebersihan saat menstruasi di MTS Negeri 1 Tuban. Metode penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian meliputi seluruh siswi kelas XI di MTS Negeri 1 Tuban yang berjumlah 300 orang. Dari jumlah tersebut, diperoleh 170 siswi sebagai sampel penelitian melalui teknik simple random sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan siswi tentang kebersihan menstruasi, sedangkan variabel dependen berupa perilaku siswi dalam menjaga kebersihan saat menstruasi. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner, sementara analisis data dilakukan melalui uji chi-square. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden dengan pengetahuan rendah (79%) menunjukkan perilaku negatif terkait kebersihan menstruasi. Sebaliknya, mayoritas responden memiliki pengetahuan baik (72%) menampilkan perilaku positif dalam menjaga kebersihan. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p = 0,001 < 0,05, sehingga hipotesis penelitian dapat diterima. Hal ini membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku remaja putri mengenai kebersihan saat menstruasi di MTS Negeri 1 Tuban. Secara keseluruhan, temuan penelitian menegaskan bahwa pengetahuan dan perilaku remaja putri terkait kebersihan menstruasi di MTS Negeri 1 Tuban masih cenderung kurang baik. Rendahnya pengetahuan terbukti berkorelasi erat dengan munculnya perilaku negatif dalam menjaga kebersihan menstruasi.
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Wasting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Kabupaten Tuban Laura Azhira Ladya Sheril; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Yasin Wahyurianto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1953

Abstract

Masalah gizi akut yang sering ditemukan pada balita ialah wasting, yaitu kondisi berat badan rendah dibandingkan panjang/tinggi badan atau bisa dikatakan kegagalan menambah berat badan dan mengalami penurunan berat badan. Jumlah balita wasting di wilayah kerja Puskesmas Semanding mengalami peningkatan pada tahun 2022 hingga 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi terjadinya wasting pada balita usia 1-5 tahun. Desain penelitian menggunakan analitik korelasi dengan tujuan untuk menganalisis factor yang mempengaruhi terjadinya wasting pada balita usia 1-5 tahun. Populasi sebanyak 78 dan besar sampel sebanyak 65 ibu yang memiliki balita. Teknik sampling menerapkan purposive sampling, instrument penelitian mengimplementasikan kuesioner serta buku KMS. Data dianalisis uji Chi-square. Temuan studi mengindikasikan bahwa mayoritas (57%) balita mengalami wasting, dan termuat korelasi antara pemberian asi eksklusif dengan terjadinya wasting (p= 0,041), pemberian MPASI dengan terjadinya wasting (p= 0,037), imunisasi dasar dengan terjadinya wasting (p= 0,029), pola hidup bersih dan sehat dengan terjadinya wasting (p= 0,024), serta tak termuat korelasi antara diare dengan terjadinya wasting (p= 0,339), pemberian vitamin A dengan terjadinya wasting (p= 0,919), lingkungan rumah dengan terjadinya wasting (p= 0,339). Terdapat korelasi antara pemberian asi eksklusif, imunisasi dasar dengan terjadinya wasting dikarenakan berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh anak. Terdapat korelasi antara pemberian MPASI dengan terjadinya wasting karena kurangnya kecukupan gizi setiap makanan, serta pola hidup bersih sehat dengan terjadinya wasting karena mampu memunculkan penyakit infeksi pada balita.
Pengetahuan Dan Stigma Masyarakat Tentang HIV Di Puskesmas Sumurgung Virnavanka Greslanda Putri; Titik Sumiatin; Su’udi; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1954

Abstract

Stigma negatif terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi tantangan utama dalam upaya penanggulangan HIV di Indonesia, termasuk di wilayah pedesaan seperti Puskesmas Sumurgung, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV berkontribusi besar terhadap diskriminasi dan rendahnya kesadaran untuk melakukan tes atau pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan pengetahuan dan stigma masyarakat tentang HIV. Penelitian ini memakai rancangan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel penelitian adalah 200 responden yang berusia antara 18 sampai 45 tahun. Sampel diambil secara acak. Data yang diperoleh dalam studi ini disusun dengan cara mengedarkan kuesioner dan selanjutnya dianalisis melalui distribusi frekuensi serta pendekatan persentase. Dalam hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan yang baik tentang HIV (74,5%) dan menunjukkan stigma positif terhadap ODHIV( 80,5%). Namun demikian, masih terdapat sebagian masyarakat (3,5%) yang memiliki pengetahuan rendah dan (19,5%) yang masih menunjukkan stigma negatif. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan masyarakat dapat menurunkan stigma terhadap ODHIV. Mayoritas masyarakat menunjukkan pemahaman dan sikap yang baik, masih dibutuhkan upaya edukatif dan preventif yang lebih intensif, terutama kepada kelompok usia muda dan mereka yang berpendidikan rendah. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi pendekatan intervensi yang lebih efektif dalam membentuk stigma positif secara berkelanjutan.
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Pencegahan Dan Penanganan Awal Diare Dirumah Pada Balita Di Desa Kembangbilo Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Widyawati Maratus Soleha; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Titik Sumiatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1956

Abstract

Diare merupakan masalah utama Kesehatan Masyarakat sebab kerap muncul dalam bentuk kejadian luar biasa (KLB) dengan angka mortalitas yang cukup tinggi. Kondisi ini terutama berisiko pada balita, mengingat sistem imun mereka yang belum matang sepenuhnya sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri penyebab diare. Jumlah kasus penyakit diare di Puskesmas Tuban pada tahun 2024 sebanyak 993 balita dan masih menjadi masalah karena setiap tahunnya semakin meningkat. Studi ini mempunyai tujuan mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai pencegahan serta penanganan awal diare pada balita. Desain penelitian ini menerapkan deskriptif dengan tujuan guna mendeskripsikan tingkat pengetahuan ibu mengenai pencegahan serta penanganan awal diare di rumah. Populasi pada studi ini ialah semua ibu yang mempunyai balita di Desa Kembangbilo dengan total 240 orang. Sampel diambil sebanyak 150 orang memakai teknik purposive sampling. Instrumen yang dipakai berupa kuesioner. Data analisis menerapkan deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta presentase. Hasil penelitian mengindikasikan bahwasannya hampir setengah (49,3%) ibu yang mempunyai balita berusia 26–35 tahun, dan sebagian besar (52,7%) ibu yang memiliki balita berpendidikan SMA. Hampir seluruh 77,3% ibu yang mempunyai balita mempunyai pengetahuan baik mengenai pencegahan diare serta sebagian besar 71,3% ibu yang mempunyai balita mempunyai pengetahuan yang baik mengenai penanganan awal diare. Ibu dengan usia dewasa awal dan pendidikan menengah lebih mudah memahami informasi dari petugas kesehatan, mengikuti penyuluhan, dan mengakses informasi dari media. Pengetahuan yang baik ini diharapkan mampu mendorong praktik nyata dalam mencegah dan menangani diare secara mandiri di lingkungan rumah, serta dasar dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat ketika anak mengalami gejala diare.
Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Stunting Dan Status Gizi Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Firnanda Gita Putri Oktavia Riningsih; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Binti Yunariyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1958

Abstract

Masalah gizi yang penting adalah stunting. Tingkat prevalensi stunting di Indonesia diperkirakan mencapai 14% pada tahun 2024, menurut rencana pemerintah. Sementara itu, tingkat stunting di Provinsi Jawa Timur sebesar 17,7%, sedangkan di Kabupaten Tuban mencapai 20,7%. Meskipun target nasional stunting adalah 14% dan insiden aktual di Kabupaten Tuban pada tahun 2024 sebesar 21,5%, angka terakhir ini masih lebih rendah daripada target nasional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kondisi gizi balita di wilayah pelayanan Pusat Kesehatan Masyarakat Semanding serta tingkat kesadaran ibu-ibu tentang stunting. Metodologi penelitian ini menggunakan desain deskriptif cross-sectional. Sebanyak 111 ibu dengan balita menjadi kelompok penelitian. Ada 87 peserta dalam studi ini. Peneliti menggunakan strategi sampling yang disebut sampling purposif. Faktor-faktor penelitian meliputi kesadaran ibu tentang stunting dan kebiasaan makan balita. Pertanyaan diajukan untuk mengumpulkan informasi. Kami menggunakan tabel frekuensi untuk analisis deskriptif data. Survei menemukan bahwa 93,1% ibu memiliki pemahaman yang baik. Dari semua balita, mayoritas (71,3%) memiliki berat badan normal, dan sebagian besar ibu (64,4%) dari balita tersebut juga memiliki pengetahuan yang memadai. Tenaga kesehatan dapat berperan dalam menurunkan angka stunting dengan memberikan nasihat kepada orang tua setiap bulan di pusat kesehatan mengenai pentingnya memantau berat dan tinggi badan balita mereka seiring pertumbuhannya. Untuk memantau asupan gizi mereka, ibu balita sebaiknya sering membawa anak mereka ke dokter. Untuk mencegah stunting, diperlukan peningkatan pengetahuan disertai bimbingan perilaku dan pemantauan yang rutin.
Gaya Hidup Sehat Penderita Hipertensi Di Puskesmas Semanding Kabupaten Tuban Siti Nurkusaeni; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih; Sri Utami
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1961

Abstract

Kondisi yang dikenal sebagai hipertensi adalah saat tekanan darah seseorang meningkat hingga mencapai 140/90 mmHg atau lebih tinggi.”Penyakit ini berbahaya karena sering tanpa gejala sehingga dikenal sebagai “The Silent Killer”. Di Kabupaten Tuban, prevalensi hipertensi meningkat 14% pada tahun 2022–2023.” Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menyajikan gambaran komprehensif mengenai penerapan gaya hidup sehat oleh penderita hipertensi yang berobat di Puskesmas Semanding, Kabupaten Tuban. Metode penelitian yang diterapkan pada penelitian ini ialah deskriptif. Penelitian ini melibatkan 44 orang anggota Prolanis yang menderita hipertensi. Seluruh populasi tersebut dijadikan sampel dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berfokus pada variabel utama, yaitu gaya hidup sehat penderita hipertensi. Data dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Temuan studi ini memperlihatkan bahwa responden didominasi oleh perempuan yang berusia 51 hingga 60 tahun, dengan latar belakang pendidikan SMA. Mayoritas dari mereka dilaporkan memiliki gaya hidup sehat dengan kategori "cukup". Faktor usia, jenis kelamin, dan pendidikan memengaruhi penerapan gaya hidup. Upaya peningkatan dapat dilakukan melalui diet hipertensi dan pemeriksaan tekanan darah rutin.
Pola Makan Tinggi Garam Dengan Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Tria Ayu Mahmudah; Wahyu Tri Ningsih; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Su’udi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1962

Abstract

Masalah serius serta kematian di Kabupaten Tuban dan di seluruh Indonesia disebabkan oleh hipertensi, salah satu penyakit kronis tidak menular. Pola makan tinggi garam ialah salah satu faktor risiko yang dapat dikontrol, namun tetap saja dilakukan secara luas, terutama di kalangan orang dewasa dan lansia. Hipertensi dan tekanan darah tinggi keduanya diperburuk oleh pola makan tinggi garam. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisa hubungan antara pola makan tinggi garam dengan kejadian hipertensi di wilayah Puskesmas Semanding. Metodologi penelitian yang dipergunakan dalam studi ini ialah analisa kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Dengan memanfaatkan total sampling, sebanyak 44 orang dari populasi seluruh peserta Prolanis (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) di wilayah Puskesmas Semanding. Tensimeter dan kuesioner merupakan bagian dari peralatan penelitian. Peneliti menerapkan uji chi-square untuk menganalisis data. Temuan studi memperlihatkan sebagian besar responden mempunyai pola makan tinggi garam (95,5%) dan terdiagnosis hipertensi (84,1%). Hasil uji chi-square memperlihatkan p-value = 0,001 yang berarti terdapat hubungan signifikan antara pola makan tinggi garam dengan kejadian hipertensi di wilayah Puskesmas Semanding. Pola makan tinggi garam memiliki kontribusi besar terhadap kejadian hipertensi. Edukasi terkait pembatasan asupan natrium harian sangat penting untuk mencegah komplikasi lanjut, terutama pada kelompok usia berisiko. Mengurangi konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, serta penggunaan bumbu instan yang berlebihan merupakan langkah penting dalam pengendalian tekanan darah.
Aktivitas Fisik Dan Kejadian Hipertensi Pada Nelayan Di Desa Palang Kecamatan Palang Muflihatul Maisah; Teresia Retna Puspitadewi; Yasin Wahyurianto; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 10 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i10.1963

Abstract

Salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia adalah hipertensi, terutama di kalangan pekerja keras seperti nelayan. Melakukan aktivitas fisik yang berat secara berulang tanpa istirahat yang cukup dapat menyebabkan stres fisiologis, yang dapat meningkatkan tekanan darah. Nelayan merupakan populasi berisiko tinggi terkena hipertensi karena pekerjaan mereka mengharuskan aktivitas fisik intensif dalam jangka waktu yang lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi prevalensi hipertensi dan aktivitas fisik di kalangan nelayan di Desa Palang, Kabupaten Palang. Analisis potong lintang dan desain deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan purposive sampling, 80 nelayan dipilih dari 100 nelayan di Desa Palang yang merupakan populasi. Aktivitas fisik dan prevalensi hipertensi merupakan variabel penelitian. Pembacaan tekanan darah dan kuesioner aktivitas fisik Baecke digunakan untuk mengumpulkan data, yang kemudian dilakukan analisis univariat. Semua nelayan (100%) berpartisipasi dalam latihan fisik yang berat, menurut data tersebut. Dari nelayan tersebut, 45% tidak menderita hipertensi dan 55% menderita hipertensi. Berdasarkan hal tersebut, mayoritas nelayan sebagian besar dengan aktivitas fisik berat cenderung mengalami peningkatan tekanan darah, aktivitas fisik berat yang dilakukan secara berulang, monoton, dan tanpa pemulihan yang memadai menjadi faktor risiko utama terjadinya hipertensi pada nelayan. Faktor pendukung lain seperti berat badan, kurang istirahat, kebiasaan merokok, dan konsumsi kopi berlebihan turut memperburuk kondisi. Diperlukan edukasi kesehatan, pengaturan beban kerja, serta pemeriksaan tekanan darah secara rutin untuk menurunkan risiko hipertensi pada nelayan.
Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja Di SMP N 6 Tuban Amara Cantika Septionona; Wahyuningsih Triana Nugraheni; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas kerap terjadi karena beberapa faktor termasuk aktivitas fisik. Obesitas kerap dialami oleh remaja, dimana remaja mengalami penurunan aktivitas fisik setiap tahunnya, kurangnya aktivitas fisik pada remaja akan mengalami resiko tinggi terjadinya obesitas. Survey awal yang yang dilakukan di SMP N 6 Tuban menunjukkan bahwa masih terdapat remaja yang mengalami obesitas yang sebenarnya obesitas pada remaja bisa dicegah dengan cara pola hidup sehat, pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup (Damayanti Rusli Syarif, 2014). Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di SMP N 6 Tuban. Desain yang digunakan untuk penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP N 6 Tuban tahun ajaran 2023/2024 yang berjumlah 256 siswa. Besar sampel adalah 150 siswa menggunakan teknik Quota Sampling. Variabel independen yaitu aktivitas fisik remaja dan variabel dependen yaitu kejadian obesitas. Pengambilan data dengan kuesioner dan observasi tinggi dan berat badan. Analisa data menggunakan uji spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruhnya remaja memiliki tingkat aktivitas fisik rendah dengan sebagian besar remaja memiliki berat badan normal serta sebagian kecil mengalami berat badan berlebih dan obesitas tingkat I. Dari hasil uji spearman rank, didapatkan p-value = 0,001 dengan korelasi koefisien -0,459 artinya, terdapat hubungan anatara aktivitas dengan tingkat hubungan yang cukup antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas pada remaja di SMP N 6 Tuban. Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi yang cenderung positif, yang berarti tubuh menyimpan lebih banyak energi dan berpotensi mengalami peningkatan berat badan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan obesitas.
Stres Dengan Siklus Menstruasi Pada Remaja Putri Di SMA Negeri 4 Tuban Risa Nur Fadila; Su’udi; Titik Sumiatin; Wahyu Tri Ningsih
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 8 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menstruasi merupakan Masa pubertas pada wanita yang ditandai dengan dimulainya siklus menstruasi. Menstruasi terjadi karena peluruhan lapisan dalam dinding rahim (endometrium) yang terjadi secara berkala setiap bulan. Telah diketahui bahwa stres merupakan faktor penyebab (etiologi) gangguan siklus menstruasi pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dan siklus menstruasi pada remaja putri di SMAN 4 Tuban. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang menjadi fokus adalah seluruh remaja putri kelas XI di SMAN 4 Tuban yang berjumlah 130 siswi, dengan sampel sebanyak 98 siswi dan teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner stres (DASS) dan kuesioner siklus menstruasi yang dibuat sendiri oleh penulis. Analis data menggunakan uji spearman rank. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar remaja mengalami stres dengan kategori sedang dan sebagian remaja juga masih mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi. Dari analisis uji spearman Rank, ditemukan nilai p-value = 0,002 yang menunjukkan adanya korelasi antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada remaja putri di SMA Negeri 4 Tuban. Stres memiliki hubungan erat dengan siklus menstruasi. Artinya, jika seseorang mengalami stres, kemungkinan besar siklus menstruasinya juga akan terganggu, bagi remaja putri dianjurkan untuk meminimalkan stres guna mencegah ketidakteraturan siklus menstruasi. Stres sebaiknya dijadikan motivasi, bukan tekanan, untuk menghindari dampak negatif pada kesehatan, termasuk siklus menstruasi.