Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

BUDAYA KOREAN WAVE SEBAGAI KOMODITAS INDUSTRI MEDIA INDONESIA Mahardika Mahardika; Eni Maryani; Edwin Rizal
Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique Vol 5 No 1 (2022): Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jikq.v5i1.132

Abstract

Korean Wave sebagai fenomena globalisasi budaya menjadi sebuah istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan penyebaran budaya Korea dalam berbagai bidang kebudayaan. Produk-produk kebudayaan yang ditawarkan oleh Korea Selatan adalah berupa film, drama Korea, musik pop Korea (K-Pop), mode fashion, bahasa Korea, kuliner, teknologi, dan sub-kebudayaan lainnya yang memiliki unsur budaya Korea di dalamnya. Salah satu dampak dari hadirnya Korean Wave adalah dominasi konten kebudayaan pada berbagai negara di dunia dan salah satunya adalah Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneliti mengenai komoditas budaya dalam konteks Korean Wave dan eksistensi budaya pada industri media di Indonesia. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif analisis studi literatur untuk memaparkan kajian mengenai Korean Wave, penelitian ini menghasilkan beberapa temuan penelitian terkait Korean Wave. Pertama adalah komoditas kebudayaan Korea yang hadir secara trans-nasional mengalami ekspansi besar seiring berjalannya waktu dalam konteks komoditas budaya. Kedua adalah masuknya konten kebudayaan Korea pada industri media Indonesia dipandang menjadi sebuah imperialisme budaya yang berimplikasi pada penyesuaian konten-konten lokal di Indonesia. Ketiga adalah mengenai strategi serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penetrasi Korean Wave dalam konteks global. Korean Wave dipandang menjadi sebuah produk komoditas budaya oleh Korea Selatan untuk berdiplomasi sesuai dengan Teori Soft Power. Diplomasi budaya ini menjadi upaya yang dilakukan oleh Korea Selatan dalam rangka nation branding.
ANALISIS SEMIOTIK JOHN FISKE: KOMODIFIKASI TUBUH PEREMPUAN DALAM PROGRAM TV THE HOTMAN Mochamad Arbani; Eni Maryani
JURNAL YAQZHAN: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : IAIN SYEKH NUR JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jy.v8i2.11493

Abstract

Peran perempuan dalam media massa, khususnya televisi sulit untuk dipisahkan terkait bagaimana ia ‘digambarkan’ agar menghibur ketika ditonton. Program televisi The Hotman memerlihatkan bagaimana perempuan dikomodifikasi lewat kebertubuhannya agar dapat menarik perhatian penontonnya. Penggunaan perempuan sebagai komoditi di dalam praktek kapitalisasi media membuat sejumlah persoalan terkait dengan bagaimana teks atau tanda terhadap kebertubuhan perempuan dibentuk. Dalam penelitian ini, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana teks-teks yang mengomodifikasi pada kebertubuhan perempuan dalam program televisi The Hotman dijelaskan menggunakan Semiotik John Fiske meliputi kode-kode yang ada pada 3 tahapan yaitu level realitas, level representatif dan level ideologi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada level realitas, peran perempuan menjadi sekunder dan ditampilkan hanya karena bentuk kebertubuhannya serta juga penggunaan pakaian, makeup dan gestur dibuat agar dapat menjadi daya tarik bagi penontonnya. Sedangkan pada level representasi, penggunaan teknik editing, pemilihan shot, musik dan suara memperkuat objektifikasi pada kebertubuhan perempuan lewat narasi, pemilihan peran, dialog dan karakter berupa perilaku yang sering membahas hal-hal yang syarat seksual secara ambiguitas. Terakhir pada level ideologis, The Hotman sengaja menggunakan tubuh perempuan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Program acara televisi ini bukan hanya dilihat sebagai acara hiburan semata, tetapi secara ideologis lebih melihat pada tubuh perempuan sebagai komoditas dibandingkan sebagai eksistensi seseorang (misal keterampilan, profesi, bakat maupun pencapaian perempuan). Sistem kapitalisasi media secara sengaja terus melanjutkan komodifikasi terhadap kebertubuhan perempuan karena dinilai menguntungkan secara ekonomi tanpa memahami resiko yang berakibat pada perempuan itu sendiri.Kata Kunci: Komodifikasi, Kebertubuhan Perempuan, Semiotik John Fiske, Televisi, The Hotman
KONVERGENSI MEDIA SURAT KABAR LOKAL KALTENG POS: Media Convergence of Local Newspapers Kalteng Pos Muhammad Iqbal Rizaldy; Eni Maryani; Purwanti Hadisiwi; Pandan Yudhapramesti
Anterior Jurnal Vol. 21 No. 3 (2022): Anterior Jurnal
Publisher : ​Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/anterior.v21i3.3705

Abstract

The development of technology, information, and communication requires print media specifically for local newspaper to keep up with the development of the digital era by conducting media convergence, the same thing was done by the local newspaper Kalteng Pos. This study aims to see how the strategies and models of media convergence are carried out by Kalteng Pos along with the elements of the media's political economy. This research uses descriptive qualitative method with data collection in the form of interviews, observations, and literature studies. The findings of this study are Kalteng Pos in its media convergence adopts the convergence continuum model, newsroom convergence model, and content convergence model. Then in relation to the political economy of the media, there are elements of commodification, spatialization, and structuration in media convergence from Kalteng Pos.
Pelatihan Manajemen Media Digital Bagi Praktisi Media Lokal di Era Digital Eni Maryani; Ilham Gemiharto; Sinta Ningrum; Subekti Priyadharma
Journal of Servite Vol. 4 No. 2 (2022): Journal of SERVITE
Publisher : Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37535/102004220221

Abstract

Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan diasumsikan pelatihan bertema ‘Manajemen Media Digital bagi Praktisi Media Lokal” dibutuhkan oleh praktisi media lokal di Kabupaten Pangandaran dalam menghadapi era digital. Pelatihan yang kemudian dilakukan oleh tim Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Fikom Unpad ini menggunakan metode ceramah dan diskusi dengan peserta terbatas. Peserta terdiri dari para praktisi media lokal di Kabupaten Pangandaran yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Pangandaran (AJP). Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pelatihan yang dilakukan ditemukan beberapa hal berikut. Praktisi media lokal adalah sumber daya yang memiliki keterbatasan baik dari segi fasilitas maupun kapasitas akan tetapi sangat antusias untuk meningkatkan kualitas mereka dengan mengikuti pelatihan terutama terkait dengan media digital. Peserta pelatihan memiliki idealisme berbasis pada prinsip-prinsip jurnalis dan kepedulian pada kepentingan lokal. Diperlukan peningkatan kemampuan untuk mengemas konten lokal di media digital. WhatsApp Group dengan nama ‘Diskusi Unpad” yang dibuat atas inisiatif peserta merupakan output pelatihan yang menjadi ruang komunikasi antara akademisi dan praktisi untuk berbagi pengetahuan tentang beragam isu serta mencari solusi beragam masalah yang dihadapi.
Communication and organizational learning in adaptation of the Radio Republik Indonesia Pandan Yudhapramesti; Deddy Mulyana; Eni Maryani; Dian Wardiana Sjuchro
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 9, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkk.v9i2.32521

Abstract

Radio Republik Indonesia (RRI) had been the state media during the New Order era. However, since the fall of that regime in 1998, followed by the ratification of the Broadcasting Law Number 32 of 2002, RRI’s status changed to a public broadcasting institution (LPP). The change requires an organizational adaptation process which is not easy in practice. This study finds that communication can be both a driving factor and an obstacle to the adaptation process within the RRI organization. This research aims to explore the operationalization of communication in the adaptation process of the RRI and reveal how the flow of communication builds the relationship between members of the RRI organization; how organizational communication works in the learning process within the organization; and the dynamics of organizational learning in the adaptation process of the RRI organization. The results indicate that the dynamics of communication flows affect the organization’s communication climate. Meanwhile, organizational communication operates in several ways, namely: communication is a means to acquire as well as to conceal knowledge among RRI employees; communication helps the members of the organization understand a phenomenon from different perspectives; communication flows affect the distribution of communications; communication can be an accelerator as well as a barrier to organizational learning abilities. This study suggests further research on the role of communication to promote the internalization values of an organization into strategic decisions and concrete actions and the research on the roles of organizational culture and local culture in organizational adaptation.
Strategi Media Alternatif Proyek Multatuli dalam Menjaga Keberlangsungannya Muhammad Afriski Nanda Pradana; Eni Maryani; Sri Seti Indriani
Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi) Vol 9 No 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Lembaga Otonom Lembaga Informasi dan Riset Indonesia (KITA INFO dan RISET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35870/jtik.v9i1.2963

Abstract

This research aims to provide an in-depth analysis of Project Multatuli as an alternative media outlet, focusing on both organizational and editorial perspectives. It also explores the challenges faced by such alternative media organizations. The findings reveal that Project Multatuli, at a fundamental level, can be regarded as critical alternative media that meets the criteria outlined by Sandoval and Fuchs. As an alternative media outlet, Project Multatuli relies on funding from donors, grants, and initiatives from "Kawan M" to cover its operating costs. Its news cycle adheres to the principles of "painstaking journalism," with coverage that typically spans two to three months. Project Multatuli holds transparency in high regard, consistently disclosing its funding sources, whether they support specific reports or provide the initial inspiration for news coverage. Distinct from mainstream media, Project Multatuli operates similarly to a Non-Governmental Organization (NGO).
Dari Label ke Mitos: Analisis Semiotika "Anak Abah" sebagai Simbol Politik Afektif si Platform X Ikhwan Tirtana; Eni Maryani; Ira Mirawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8537

Abstract

This study aims to reveal how the term “Anak Abah” functions as an affective political symbol in digital political communication on platform X. A qualitative approach with Roland Barthes’ semiotic analysis was employed. Data were collected through non- participant observation of X posts containing the term “Anak Abah” produced by Anies Baswedan supporters during the political campaign period (28 November 2023–10 February 2024) using purposive sampling. Data analysis was conducted in three operational stages: (1) identification of denotative meaning, (2) analysis of connotative meaning, and (3) derivation of mythological meaning. The findings indicate that “Anak Abah” does not merely serve as a supporter label but as a symbol of paternal relations emphasizing emotional closeness, moral legitimacy, and collective solidarity. This symbolic practice reflects the dominance of affective politics in digital public spheres, where emotional resonance often replaces rational policy discourse. The study contributes to language and political communication studies by affirming the ideological role of affective language in Indonesian digital politics. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana istilah “Anak Abah” berfungsi sebagai simbol politik afektif dalam komunikasi politik digital di platform X. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotik Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan berupa unggahan media sosial X yang memuat istilah “Anak Abah” dari akun-akun pendukung Anies Baswedan selama periode kampanye politik (28 November 2023–10 Februari 2024) dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data dilakukan dalam tiga tahap operasional: (1) identifikasi makna denotatif, (2) analisis makna konotatif, dan (3) penarikan makna mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa “Anak Abah” tidak hanya berfungsi sebagai label pendukung, melainkan sebagai simbol relasi paternal yang menekankan kedekatan emosional, legitimasi moral, dan solidaritas kolektif. Praktik simbolik ini mencerminkan dominasi politik afektif dalam ruang publik digital, di mana resonansi emosional kerap menggantikan diskursus kebijakan rasional. Penelitian ini berkontribusi pada kajian bahasa dan komunikasi politik dengan menegaskan peran ideologis bahasa afektif dalam politik digital Indonesia.
Media Use and Gratification Sought by the Public during the Coronavirus Outbreak in Indonesia: A National Survey Mira Rochyadi-Reetz; Eni Maryani; Anna Agustina
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 5 No. 1 (2020): June 2020 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v5i1.381

Abstract

The recent coronavirus outbreak is without a doubt a global crisis event that has affected almost all nations of the world. This study aims to contribute to crisis communication research from the audience perspective in Indonesia by presenting the public’s media use and gratification sought during the coronavirus outbreak based on a representative national mobile survey with 1,100 respondents. Results show that the majority of Indonesians intensively use (1) private television, (2-4) websites and social media accounts of actors providing information on the crisis and (5) public television to get information regarding the pandemic. The findings indicate that other types of media such as radio and local television are used to a much lower extent. Results also show that there are two media-use gratifications sought during the crisis: (1) information and direction gratification sought and (2) entertainment and comparison gratification sought. Sociodemographic factors such as gender, age and education level demonstrate some significant influence on public media use and the gratification sought during the coronavirus outbreak. Surprisingly, entertainment and comparison sought are demonstrated as having a higher effect on the increasing use of mass media, social media and messenger apps during the crisis event than the information and direction gratification sought.
Media Perceptions on Press Council Regulation of AI in Journalism Practice Anggi Oktarinda; Eni Maryani; Pandan Yudhapramesti; Andika Vinianto Adiputra
Mediator: Jurnal Komunikasi Vol. 18 No. 2 (2025): Mediator: Jurnal Komunikasi (Sinta 2)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v18i2.7696

Abstract

Press Council Regulation No. 1 of 2025 concerning Guidelines for the Use of Artificial Intelligence in Journalistic Works marks a significant initial measure in ensuring that technological advancements do not undermine the fundamental journalistic principles in Indonesia. It reflects the nation’s commitment to preserving press integrity and ethical standards in the context of rapid AI adoption. This study examines the digital media’s perceptions and responses towards these guidelines in the early stages of their dissemination. Employing a descriptive qualitative method, the research utilizes case studies of Ayo Media Network—a network-based digital platform—and Bisnis Indonesia—a segmented newspaper expanding into digital media. Data were obtained through interviews, observations, and document analysis. The findings reveal that digital media practitioners accepted the Guidelines, acknowledging their relevance, urgency, and alignment with the ongoing media industry’s digital transformation. In response, media organizations intend to realign their practices with these Guidelines to safeguard journalistic integrity and public trust. The principal challenge lies in the aspect of translating principles into practice, as well as institutional support to strengthen the internalization of ethical values. Strengthened socialization, coaching, and stakeholder collaboration are essential to establish these Guidelines as a foundational framework for responsible AI-driven journalism in Indonesia.