Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Rekonstruksi Keadilan Dalam Pembagian Harta Bersama Ketika Istri Lebih Dominan Mencari Nafkah: Perspektif Maqasid Syariah Sugih Ayu Pratitis; Sukiati; Nurasiah; Mhd Yadi Harahap
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 6 No. 1: Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v6i1.9064

Abstract

Changes in gender roles and the increasing economic participation of women in Indonesia have given rise to a new family reality in which wives often become the more dominant income earners. This condition raises issues of justice in the distribution of marital property after divorce, which has traditionally adhered to an equal division as stipulated in Article 97 of the Compilation of Islamic Law (KHI). This study aims to analyze the problem of justice in the distribution of marital property when the wife contributes more significantly to the household economy and to formulate a reconstruction of justice based on maqāṣid al-sharīʿah. This research employs a normative legal method with a descriptive-analytical approach, utilizing statutory, conceptual, comparative, and sociological approaches as supporting perspectives, with maqāṣid al-sharīʿah serving as the primary analytical framework. The data were obtained through a systematic literature review of primary, secondary, and tertiary legal materials and were analyzed qualitatively. The findings indicate that an equal division of marital property does not always reflect substantive justice when the economic contributions of husband and wife are unequal. The maqāṣid al-sharīʿah approach particularly the principles of hifẓ al-māl (protection of property) and hifẓ al-nasl (protection of family) emphasizes that justice should be understood proportionally, in accordance with the actual contributions of each party. Therefore, this study recommends a progressive interpretation of Article 97 of the KHI so that the distribution of marital property is more oriented toward public interest (maṣlaḥah) and substantive justice within Islamic family law in Indonesia
Larangan Riba dan Gharar dalam Perspektif Al-Qur’an dan Maqasid Al-Syariah Sugih Ayu Pratitis; Nawir Yuslem; Akhyar Zen
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3910

Abstract

Islam sebagai agama yang komprehensif menetapkan prinsip-prinsip muamalah untuk mewujudkan keadilan, transparansi, dan perlindungan terhadap pihak yang rentan dalam aktivitas ekonomi, salah satunya melalui larangan riba dan gharar. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep, dasar normatif, dan implikasi larangan riba dan gharar dalam perspektif Al-Qur'an dan Maqasid Al-Syariah serta relevansinya dalam praktik ekonomi modern. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, melalui penelaahan tafsir Al-Qur'an, hadis, kitab fikih muamalah, karya ulama klasik dan kontemporer, serta literatur ekonomi syariah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba diharamkan secara mutlak karena mengandung unsur eksploitasi, ketidakadilan, dan perolehan keuntungan tanpa risiko produktif, yang bertentangan dengan prinsip perlindungan harta (hifz al-mal) dan keadilan sosial. Gharar dilarang karena mengandung ketidakpastian dan spekulasi yang merugikan, meskipun gharar ringan (yasir) ditoleransi karena sulit dihindari dan tidak berdampak signifikan terhadap keadilan akad. Dalam konteks ekonomi modern, prinsip larangan riba dan gharar diimplementasikan melalui instrumen keuangan syariah berbasis bagi hasil, juaal beli, dan sewa, serta mitigasi risiko dalam transaksi digital. Dari perspektif maqāṣid al-syarī‘ah larangan riba dan gharar berfungsi menjaga harta, jiwa, akal, dan keadilan sosial, sehingga selaras dengan tujuan syariat dalam mewujudkan kemaslahatan umat secara menyeluruh.
Criminal Law Enforcement Against Perpetrators of the Crime of Flying Hot Air Balloons (Study of Decision Number 114.Pid.B/2022/PN Mjy) Tarisa, Mona; Pratitis, Sugih Ayu
Rechtsvinding Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/rechtsvinding.1299

Abstract

Hot air balloon flights are considered as dangerous for aviation safety because they can interfere with air traffic and endangered aircraft, particularly when balloon materials risk being drawn into aircraft propellers. The Ministry of Transportation states that unauthorized hot air balloon flights may be subject to Article 411 of Law Number 1 of 2009 on Aviation, which provides for a maximum imprisonment of two years and a fine of up to IDR 500,000,000. This study examines the hot air balloon case decided in Decision Number 114/Pid.B/2022/PN Mjy, involving several defendants. The main legal issue concerns the judges' considerations in applying Article 411, given that the provision does not explicitly mention hot air balloons in its elements. Using normative juridical research based on secondary data and qualitative analysis, the study finds that the judges imposed criminal sanctions on the grounds that the defendants' actions violated Article 411 of the Aviation Law and Ministry of Transportation Regulation Number 40 of 2018. The defendants were sentenced to one month's imprisonment and a fine of IDR 1,000,000 each. However, ideally, criminal sanctions should not have been imposed due to the absence of explicit regulation of hot air balloons in Article 411
Criminal Law Enforcement for Children Who Perpetrated Hit-and-Run Accidents Resulting in Death in Traffic Accidents (Case Study Number 19/Pid.Sus-Anak/2024/PN.Mks) Ardiansyah, Nugra; Pratitis, Sugih Ayu
Rechtsvinding Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/rechtsvinding.1314

Abstract

A traffic accident is a sudden and unintentional incident on the road, involving a motorized vehicle and other road users, and causing human casualties and property damage. This study aims to analyze the enforcement of criminal law against children as perpetrators of hit-and-run accidents that result in death in traffic accidents. The research method used is a normative juridical approach with qualitative data analysis. The results show that the handling of children who commit hit-and-run crimes in Indonesia is regulated by Law Number 11 of 2012 concerning the Juvenile Criminal Justice System, which emphasizes the principles of restorative justice, diversion, and the protection of children's rights. The role of parents, law enforcement officers, and the government is very important in prevention and response efforts. In practice, judges tend not to impose detention sentences to prevent children from being imprisoned.
EFEKTIVITAS PENEGAKAN HUKUM BAGI PELAKU PERBUATAN ZINA (ANALISIS DARI PERSPEKTIF HUKUM PIDANA, HUKUM PERDATA, DAN HUKUM ISLAM) Pratitis, Sugih Ayu; Pagar, Pagar; Matsum, Hasan; Lubis, Fauziah
Law Jurnal Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/lj.v6i2.8131

Abstract

Penelitian ini mengkaji efektivitas penegakan hukum terhadap perbuatan zina di Indonesia dalam kerangka pluralisme hukum, dengan menelaah pengaturannya dari perspektif hukum pidana, hukum perdata, dan hukum Islam. Kompleksitas pengaturan zina muncul akibat koeksistensi norma hukum positif, norma keperdataan, dan norma agama yang berjalan berdampingan namun tidak selalu harmonis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif (yuridis normatif) yang bersifat deskriptif-analitis, dengan pendekatan peraturan-undangan, konseptualisasi, dan perbandingan. Data diperoleh melalui kajian kepustakaan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan penalaran deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hukum pidana positif, zina diatur secara terbatas sebagai delik aduan yang hanya melindungi institusi perkawinan, sehingga belum mencerminkan nilai moral dan keagamaan masyarakat secara luas. Dalam perspektif hukum perdata, zina tidak dikriminalisasi, tetapi menimbulkan akibat hukum keperdataan seperti dasar perceraian dan pelanggaran asas kesetiaan dalam perkawinan, meskipun belum diikuti mekanisme pemulihan hak korban yang memadai. Sementara itu, hukum Islam memandang zina sebagai jarīmah hudud dengan sanksi tegas yang berorientasi pada perlindungan kehormatan, keturunan, dan kesejahteraan sosial dalam kerangka maqāṣid al-syarī'ah, namun penerapannya secara formal dibatasi oleh sistem hukum nasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas penegakan hukum terhadap perbuatan zina masih menghadapi kendala normatif, prosedural, dan kultural, sehingga diperlukan upaya harmonisasi dan penegakan hukum yang berimbang antara kepastian hukum, keadilan, kemanfaatan sosial, serta nilai moral dan keagamaan masyarakat Indonesia.
Al-Qur’an dan Sunnah Sebagai Sumber dan Dalil Hukum Sugih Ayu Pratitis; Mhd. Syahnan; Nispul Khoiri; Dhiauddin Tanjung
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 6 No. 1: Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v6i1.9135

Abstract

This study aims to analyze the position of the Qur’an and the Sunnah as the primary sources and legal evidences of Islamic law, as well as to explain the characteristics of textual implication (dalālah al-naṣṣ) in the determination of legal rulings. This study is motivated by the continuing misunderstandings in comprehending the relationship between the Qur’an and the Sunnah and their implications for the formulation of Islamic legal rulings. The research employs a qualitative approach using a library research method, examining both classical and contemporary literature in the fields of uṣūl al-fiqh, Qur’anic exegesis, and ḥadīth studies. The analysis focuses on the definitions of the Qur’an and the Sunnah, the concepts of qaṭ‘ī al-dalālah and ẓannī al-dalālah, and the functions of the Sunnah in explaining, reinforcing, and complementing Qur’anic rulings. The findings indicate that the Qur’an constitutes the primary, normative, and universal source of Islamic law, while the Sunnah occupies the position of the second source, functioning as an interpreter, explicator, and confirmer of Qur’anic provisions. The study also reveals that legal verses in the Qur’an possess varying degrees of textual certainty, namely qaṭ‘ī, which is definitive and leaves no room for ijtihād, and ẓannī, which remains open to interpretation and ijtihād. Furthermore, the Sunnah is classified into qauliyyah, fi‘liyyah, and taqrīriyyah, each of which plays a significant role in the formation of Islamic law. This study emphasizes that a proper understanding of the sources and legal evidences of Islamic law is essential for the correct and contextual application of Sharī‘ah.
Konfigurasi Politik di Era Orde Baru dan Keterkaitannya dengan Hukum Islam Pratitis, Sugih Ayu; Arfa, Faisar Ananda; Nasution, M. Syukri Albani
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i2.15450

Abstract

Studi ini meneliti politik hukum Islam selama era Orde Baru dan hubungannya dengan konfigurasi politik yang berkembang selama periode tersebut. Studi ini didasarkan pada asumsi bahwa hukum tidak muncul di ruang netral, melainkan sebagai produk dari dinamika dan kepentingan kekuasaan politik yang berkuasa. Selama periode Orde Baru (1966–1998), konfigurasi politik yang terpusat dan otoriter sangat memengaruhi arah kebijakan hukum negara, termasuk pengaturan dan pengakuan hukum Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana politik hukum Islam diimplementasikan oleh rezim Orde Baru dan bagaimana konfigurasi politik yang berlaku menentukan ruang lingkup dan bentuk hukum Islam dalam sistem hukum nasional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan. Analisis dilakukan melalui pemeriksaan literatur ilmiah, kebijakan negara, dan peraturan perundang-undangan, menggunakan Teori Politik Hukum Mahfud MD sebagai kerangka analisis utama. Temuan menunjukkan bahwa politik hukum Islam selama era Orde Baru bersifat represif-akomodatif, menekan Islam di ranah politik formal sambil memberikan akomodasi terbatas di ranah privat. Negara berupaya mendepolitisasi Islam, sekaligus melegalkan hukum Islam di bidang hukum keluarga dan pengadilan agama melalui Undang-Undang Perkawinan, Undang-Undang Pengadilan Agama, dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Akomodasi ini diimplementasikan secara selektif, dari atas ke bawah, dan tetap berada di bawah kendali ketat negara. Studi ini menyimpulkan bahwa hukum Islam selama periode Orde Baru berfungsi sebagai kebijakan hukum yang sebagian besar ditentukan oleh konfigurasi politik otoriter dan berorientasi pada pemeliharaan stabilitas politik, sekaligus menunjukkan kesesuaian hukum Islam dengan Pancasila dan Konstitusi 1945.