Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

FORMULASI DAN UJI ANTIBAKTERI PASTA GIGI EKSTRAK BIJI KETUMBAR (Coriandum sativum L) TERHADAP Streptococcus mutans Valentina Aprilia Sunday; Nawafila Februyani; Abdul Basith
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1099

Abstract

Karies gigi merupakan salah satu penyakit yang muncul pada manusia dan menyebabkan pengapuran gigi, gigi keropos, berlubang, atau patah. Penyakit ini berdampak pada kesehatan secara umum sehingga diperlukan adanya obat alternatif untuk mencegah terjadinya karies. Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan dan memiliki aktivitas antibakteri adalah biji ketumbar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak biji ketumbar dalam pasta gigi terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dan mengetahui hasil uji evaluasi karakteristik formulasi sediaan pasta gigi ekstrak biji ketumbar (Coriandum sativum L) terhadap aktifitas bakteri Streptococcus mutans. Metode ekstraksi dalam penelitian adalah metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Sediaan pasta gigi dengan konsentrasi yang berbeda yaitu F0 (0%), F1 (3%), F2 (6%), dan F3 (9%). Hasil evaluasi sediaan pasta gigi dengan uji organoleptis berbentuk semi solid, berwarna putih, dan memiliki bau khas ketumbar sedikit menthol, hasil uji pH memiliki nilai pH 6,0-6,5, hasil uji homogenitas yang dimiliki baik, sediaan pasta gigi memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans. Sediaan pasta gigi memiliki rata-rata nilai mm zona hambat F0-F3 berturut-turut yaitu 3,3 mm, 10 mm, 11,6 mm dan 14,3 mm dengan kategori F0 tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mutans dan F1-F3 memiliki aktivitas terhadap bakteri Streptococcus mutans. Hasil pengujian ekstrak biji ketumbar (Coriandum sativum L) dapat diformulasikan menjadi sediaan pasta gigi yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sediaan pasta gigi dengan formula terbaik berdasarkan nilai mm zona hambat yaitu F3 dengan konsentrasi ekstrak 9%  dan hasil mm zona hambat 14,3 mm.
EFEKTIVITAS GEL ANTIINFLAMASI EKSTRAK BIJI KETUMBAR (Coriandrum sativum L.) PADA MENCIT (Mus musculus L.) Dina Fitriani; Nawafila Februyani; Akhmad Al-bari
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1100

Abstract

Luka merupakan cedera yang paling sering dialami oleh manusia. Luka merupakan hilangnya integritas epitelial dari kulit. Epitelial merupakan organ yang sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya pengobatan topikal yang memiliki aktivitas antiinflamasi. Keunggulan dari sediaan gel ini dapat menyembuhkan inflamasi lebih baik dari pada yang dijual dipasaran, karena gel yang sudah beredar banyak mengandung bahan kimia, sehingga memberikan efek yang berbahaya bila digunakan secara terus menerus. Aktivitas antiinflamasi dimiliki oleh metabolit sekunder flavonoid. Inflamasi (peradangan) adalah respon untuk perlindungan jaringan pembuluh darah dari infeksi dan juga kerusakan jaringan dengan membawa sel dan molekul perlindungan tubuh terhadap peredaran darah kelokasi yang dibutuhkan untuk menghilangkan pemicu yang mengganggu. Tujuan dari penelitian yaitu memformulasikan dan mencari formulasi sediaan gel ekstrak biji ketumbar (Coriandum sativum L.) yang terbaik berdasarkan nilai penghambatan luka. Penelitian ini termasuk penelitian kuantatif dengan menggunakan desain RAL ( Rancangan acak lengkap). Metode yang digunakan menggunakan metode ekstraksi  maserasi dengan pelarut etanol 96%, kemudian dilakukan uji skrining fitokimia ekstrak biji ketumbar yang digunakan, untuk formulasi sediaan yang digunakan ada 3 yaitu F1 (5%), F2 (10%), dan F3 (15%).  Pengamatan dilakukan dengan cara mengukur panjang luka dari hari ke-1 sampai hari ke-7. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyembuhan luka sayat pada mencit menggunakan gel dengan formulasi F3 4,5 gram ekstrak etanol ketumbar memberikan hasil yang efektiv terhadap penyembuhan luka sayat pada mencit dibandingkan formulasi F0,F1,F2. Hasil evaluasi sediaan gel ekstrak biji ketumbar (Coriandum sativum L.)  dengan berbagai uji yaitu uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, dan uji daya lekat sudah sesuai standar SNI dan farmakope indonesia.
IDENTIFIKASI GCMS DAN APLIKASI SENYAWA ANTIFUNGI MINYAK ATSIRI JAHE MERAH (Zingiber officinale Var Rubrum.) PADA SEDIAAN SALEP BASIS LARUT AIR Muhammad Imron; Titi Agni Hutahaen; Nawafila Februyani; Ainu Zuhriyah
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1132

Abstract

Jahe  merah, yang juga dikenal sebagai Zingiberinale var rubrum, berasal dari wilayah Asia-Pasifik, meliputi India hingga China. Zingiber officinale var rubrum, yang umumnya dikenal sebagai jahe merah, sering digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk yang disebabkan oleh jamur. Banyak meyakini bahwa ramuan tradisional lebih aman daripada obat kimia. Jahe merah (Zingiber officinale var rubrum) mengandung senyawa seperti gingerol, shogaol, limonen, dan geraniol yang bermanfaat dalam pengobatan penyakit jamur. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi senyawa dalam jahe merah dan merumuskan sediaan salep dari jahe merah dengan stabilitas fisik terbaik. Metode penelitian melibatkan ekstraksi jahe merah menggunakan teknik destilasi, menghasilkan minyak atsiri jahe merah, diikuti dengan identifikasi senyawa menggunakan GCMS (Gas Chromatography Mass Spectrometry). Berdasarkan temuan penelitian dan identifikasi sampel jahe merah, deteksi senyawa limonen dan geraniol dapat dilakukan melalui analisis GCMS. Namun, deteksi senyawa gingerol dan shogaol belum terjadi karena kurangnya persiapan sampel dengan penambahan KOH 0,5 N selama analisis GCMS minyak atsiri jahe merah. Hasil dari empat formulasi menunjukkan bahwa semua formulasi memenuhi standar stabilitas sediaan salep. Namun, selama uji organoleptik pada minggu ketiga dan keempat, terlihat bercak putih pada formulasi F2 dan F3, menunjukkan bahwa formulasi optimal adalah F3 dengan konsentrasi 25% minyak atsiri jahe merah.
A Formulasi Ekstrak Biji Ketumbar (Corriandrm sativum L.) sebagai Hair Tonic Februyani, Nawafila; Wulansari, Imelia; Basith, Abdul
FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains Vol. 2 No. 1 (2024): Bulan Juli 2024 Faskes : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains
Publisher : Program Studi Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/faskes.v2i1.3244

Abstract

Biji ketumbar  (Coriandrum sativuum L.) dapat dimanfaatkan sebagai sediaan obat salah satunya sebagai hair tonic karena mengandung senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan yang merangsang pertumbuhan rambut dengan menyebabkan relaksasi otot pada pembuluh darah di sekitar folikel rambut. Penelitian ini merupakan jenis penelitian laboratorium eksperimen kuantitatif. Desain penelitian menggunakan metode true eksperimental post-test control design. Metode ini menggunakan metode ekstraksi maserasi dengan pelarut metanol, dan dilakukan uji skrining fitokimia ekstrak biji ketumbar. Untuk formulasi sediaan yang digunakan ada 3 yaitu F1 (5%), F2 (10%), dan F3 (15%) lalu dilakukan uji stabilitas sediaan hair tonic dilihat dengan uji organoleptik uji pH dan uji homogenitas. Hasil dari uji skrining fitokimia menunjukkan ekstrak biji ketumbar positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenol, tanin dan saponin. Sediaan hair tonic berbentuk cair, homogen, sediaan berwarna coklat hingga coklat pekat, memiliki bau khas ketumbar. Uji pH Sediaan hair tonic ekstrak biji ketumbar  (Coriandrum sativuum L.) menghasilkan rentan nilai pH 6 sehingga pH sesuai SNI yaitu 3-7.
Potensi Limbah Kulit Pisang Kepok (Musa Acuminata Colla.) Sebagai Bahan Aktif Pembuatan Sabun Ramah Lingkungan kusuma, ria; Hutahaen, Titi Agni; Februyani, Nawafila; Nirmala, Atika
FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains Vol. 3 No. 1 (2025): Bulan Juli 2025, FASKES : Jurnal Farmasi, Kesehatan, dan Sains
Publisher : Program Studi Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/faskes.v3i1.5115

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) Melestarikan lingkungan dengan memanfaatkan limbah kulit pisang menjadi sabun dan mengetahui cara pembuatannya; (2) Masyarakat beralih dari bahan kimia ke bahan alami seperti limbah kulit pisang; (3) Mmengetahui strategi pemasaran sabun dari limbah. Metode pelaksanaan menggunakan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan sabun kulit pisang dengan menggunakan limbah kulit pisang sebanyak 100 g yang dicampur dengan bahan tambahan menghasilkan 15 produk sabun, limbah kulit pisang mengandung zat zerotin yang berfungsi untuk menaikkan mood, mengurangi rasa nyeri pada wajah karena mengandung sejumlah miyak nabati, kulit pisang mengandung zat anti jamur yang dapat mencegah bakteri berkembang biak serta sifat asam dan juga sepah yang berfungsi untuk mengurangi minyak berlebih di wajah, mempercepat pemudaran bekas luka, karena pada dasarnya kulit pisang mengandung sejumlah vitamin C
FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK KETUMBAR (Coriandrum sativum L.) SEBAGAI ANTIDEPRESAN DENGAN VARIASI BAHAN PENGISI MANITOL DAN SORBITOL Almufida, Aulia; Februyani, Nawafila; Hutahaen, Titi Agni
FORTE JOURNAL Vol 5 No 1 (2025): Edisi Januari 2025
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v5i1.1134

Abstract

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam serta disebut sebagai negara yang memiliki tanah subur dan banyak memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah. Berbagai jenis tanaman ada di indonesia salah satunya adalah tanaman obat atau herbal, mulai dari jenis rimpang, batang, daun maupun jenis herbal lainnya. terdapat potensi Ketumbar (Coriandrum sativum L.) yang dapat digunakan sebagai pengobatan, dan dengan adanya penelitian ini mengenai manfaat ketumbar (Coriandrum sativum L.) yang dapat digunakan sebagai obat antidepresan karena terdapat kandungan Linalool sebagai zat aditif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ketumbar dengan pelarut etanol dan bahan variasi pengisi manitol-sorbitol dalam sediaan tablet kunyah sebagai antidepresan. Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental, dengan proses ekstraksi menggunakan metode maserasi, pelarut yang digunakan adalah etanol 96% untuk proses pembuatan menggunakan metode granulasi basah, uji evaluasi tablet, dan uji evaluasi antidepresan menggunakan hewan uji mencit jantan (Mus musculus). Dari percobaan tersebut dihasilkan evaluasi yang menunjukkan, data terbesar yang memenuhi standart uji ialah pada percobaan Formulasi 3 dan Formulasi 2 yang memiliki komposisi variasi bahan tambahan yang cukup besar. Terdapat pula percobaan antidepresan menggunakan hewan uji mencit jantan (Mus musculus) yang menunjukkan tingkat depresan yang tinggi pada saat proses induksi menggunakan método Tail Suspending test yaitu pada hari ke 5 hingga 7 dengan waktu tercatat 3,61 menit. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa Tablet kunyah ekstrak ketumbar (Coriandrum sativum L.) dengan pelarut etanol 96% memenuhi syarat dengan hasil uji.
PENDAMPINGAN PEMANFAATAN DAUN TAPAK DARA (Catharanthus roseus L. ) SEBAGAI FACE MIST TABIR SURYA DI PONDOK PESANTREN ADNAN AL-CHARISH Al-bari, Akhmad; Qoriati, Yani; Februyani, Nawafila
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 10 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i10.2837

Abstract

Community service activity aimed to enhance the knowledge and skills of the female students at Pondok Pesantren Adnan Al-Charish in utilizing Madagascar periwinkle (Catharanthus roseus L.) as a raw material for producing a natural, locally sourced sunscreen in the form of a face mist. Catharanthus roseus contains various secondary metabolites such as alkaloids, terpenoids, phenols, tannins, saponins, quinines, and sterols, with vincristine and vinblastine as the main compounds known for their antioxidant, antimitotic, and potential ultraviolet (UV) protection activities. The method employed was Participatory Action Research (PAR), consisting of observation, survey, preparation, training, and evaluation stages. The training involved 30 female students who directly practiced making face mist from C. roseus leaf extract using the infusion method, combined with PVP and glycerin, followed by pH testing and product packaging. Evaluation results showed a significant improvement in participants’ knowledge, with post-test results indicating 89.1% in the high category compared to the pre-test, which was dominated by the low category. This program not only improved participants’ understanding and practical skills but also raised awareness about utilizing local natural resources to develop functional products with beneficial and economic potential.
Zn–Catharanthus roseus and Cu–Catharanthus roseus Complexes as Green Organometallic Photosensitizers for DSSC Applications Qoriati, Yani; Al-Bari, Akhmad; Februyani, Nawafila; Faricha, Nely Alfiana Faricha Alfiana; Kamal, Ahmad Abil
Jurnal Kimia Fullerene Vol 10 No 2 (2025): Fullerene Journal Of Chemistry
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37033/fjc.v10i2.752

Abstract

The global energy crisis and climate change issues have driven the development of environmentally friendly renewable energy sources, one of which is the dye-sensitized solar cell (DSSC) utilizing natural pigment-based photosensitizers. Catharanthus roseus (tapak dara) was selected due to its abundance of secondary metabolites and its potential to be modified into Zn and Cu nanoparticles to enhance stability and efficiency. In this study, tapak dara leaf extract was obtained using ethanol through ultrasonic extraction, then synthesized into Zn and Cu nanoparticles with Zn:Cu ratios of 0:4, 1:3, 2:2, 3:1, and 4:0 via green synthesis. The resulting nanoparticles were deposited onto TiO₂ electrodes, with Pt used as the counter electrode in the DSSC. The cells were tested under 9 mW halogen light. The results revealed that the Zn:Cu ratio influenced crystallite size, morphology, and solar cell efficiency. XRD characterization confirmed the formation of ZnO and Cu phases with crystallite sizes ranging from 9 to 40 nm, while SEM analysis showed nanometer-sized particles with a tendency to agglomerate. The highest efficiency was achieved at a 3:1 ratio, reaching 120 × 10⁻⁴ %, indicating that Zn/Cu–tapak dara nanoparticles hold strong potential as effective photosensitizers.