Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Representasi Penumpasan Komunisme dalam Film ”Gadis Kretek” Kesuma, Satyawada Wiratama; Mahadian, Adi Bayu
eProceedings of Management Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025
Publisher : eProceedings of Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi penumpasan komunisme pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) dalamfilm serial Netflix Gadis Kretek. Tujuan utamanya adalah untuk mengungkap bagaimana elemen-elemen sinematikdalam film tersebut merepresentasikan trauma kolektif dan konflik ideologis, serta bagaimana film menghadirkanperspektif baru yang lebih inklusif terhadap ingatan sejarah, khususnya terkait simpatisan Partai Komunis Indonesia(PKI). Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika sosial Theo van Leeuwen, penelitian ini berfokuspada analisis episode 3 hingga 5, dengan unit analisis mencakup Representational Meaning, Gramatika Desain danVisual, serta Analisis Multimodal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Gadis Kretek merepresentasikanpenumpasan komunisme secara implisit melalui berbagai simbol (seperti "Partai Merah", tanda "X", dan "KretekMerah"), dialog, dan elemen visual. Representasi ini tidak hanya menantang narasi sejarah dominan denganmemanusiakan korban dan menampilkan dampak antar generasi, tetapi juga mengindikasikan adanya penggunaan isupolitik sensitif sebagai elemen yang berpotensi komersial dalam industri film populer. Film ini disimpulkan berfungsisebagai media alternatif yang penting dalam merepresentasikan sejarah kelam Indonesia, mengkritisi cara-cararepresentasi di media arus utama, dan membuka ruang bagi narasi tandingan sekaligus menyoroti multifungsi mediafiksi dalam diskursus sejarah, politik, hingga komersialisasi budaya.Kata Kunci- Representasi Sejarah, Gadis Kretek, Penumpasan Komunisme, Semiotika Sosial, Budaya PopulerIndonesia
PENINGKATAN KESADARAN POLITIK DENGAN LITERASI DEMOKRASI DI DESA NGLINGGI KABUPATEN KLATEN JAWA TENGAH Adi Bayu Mahadian; Ruth Mei Ulina Malau
The Proceeding of Community Service and Engagement (COSECANT) Seminar Vol. 3 No. 1 (2023): Prosiding COSECANT : Community Service and Engagement Seminar
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/cosecant.v3i1.7141

Abstract

Kualitas demokrasi di Indonesia bergerak secara dinamis. Pada periode tertentu dianggap membaik, namun pada periode berikutnya dianggap memburuk. Situasi tersebut diasumsikan sebagai implikasi pada adopsi demokrasi yang masih berproses. Masyarakat sebagai pengguna demokrasi menjadi ujung tombak implementasi demokrasi yang baik. Selama masyarakat tidak berdemokrasi dengan baik, maka kualitas demokrasi Indonesia tidak akan pernah mapan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk memperkuat pemahaman tentang demokrasi masyarakat Desa Nglinggi, sebuah desa yang dinilai telah mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan praktik berdemokrasi yang berkualitas. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan melalui tiga kegiatan utama, pertama pengumpulan data pemahaman demokrasi masyarakat desa, pembuatan buku saku Literasi Demokrasi, dan diseminasi Literasi Demokrasi bagi masyarakat.
Penguatan Promosi Kampung Adat Miduana melalui Pelathinan Storytelling dan Editing Video Pendek Astri Wulandari; Yoka Pradana; Adi Bayu Mahadian; Zalfa Qathrunnada; Astaria Eka Santi
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34697/jai.v6i1.2874

Abstract

Kampung Adat Miduana di Cianjur Selatan memiliki modal sosial-budaya yang kuat, namun promosi destinasi sering terkendala oleh kesenjangan kapasitas komunikasi warga dalam mengemas pengalaman budaya menjadi narasi yang koheren, menarik, dan etis. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan memperkuat promosi Kampung Adat Miduana melalui integrasi dua kompetensi inti: digital storytelling (penyusunan micro-story, caption, dan skrip video) serta editing video pendek menggunakan CapCut agar narasi dapat diwujudkan menjadi konten audiovisual yang siap edar di media sosial. Metode pelaksanaan menggunakan desain pelatihan–praktik–evaluasi secara partisipatif dengan 16 peserta, melalui tahap pre-test, praktik storytelling berbantuan ChatGPT (prompt template berbasis konteks–kontras–momen balik–resolusi–ajakan) sekaligus pendampingan produksi video, dan post-test. Hasil menunjukkan penguatan kompetensi pascapelatihan: pada storytelling, 93,75% peserta memahami storytelling sebagai cara bercerita untuk menyampaikan pesan, 100% memahami elemen karakter–konflik–resolusi, dan 93,75% memahami hook sebagai pembuka yang menarik perhatian. Pada materi CapCut, 100% peserta menguasai langkah dasar produksi (memulai proyek, memotong klip, menambahkan audio), 87,5% memahami rasio vertikal 9:16 untuk video pendek, dan 81,25% memahami penggunaan template untuk produksi cepat. Temuan ini menegaskan bahwa kombinasi penguatan naratif dan keterampilan produksi audiovisual efektif untuk meningkatkan kesiapan warga memproduksi konten promosi berbasis identitas dan etika kampung adat, serta berpotensi memperkuat citra destinasi melalui user-generated content.
Analysis of Actors' Network and Racial Sentiments in YouTube Commentary (Indonesia U23 VS Guinea U23 Match) Salla Salika; Adi Bayu Mahadian
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 5 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i5.51157

Abstract

This article aims to examine the dynamics of YouTube user interaction in the comment column during the football match between the Indonesian U23 National Team and Guinea U23, which took place on May 9, 2024, in Claire Fontaine, Paris. The issue is focused on how comments that appear within the network evoke a sense of ethnocentrism and how key actors influence the spread of racist comments. To approach this problem, a theoretical reference from Social Network Analysis (SNA) is used, which is used to map the network structure and identify the position of actors based on measures of centrality, such as degree, betweenness, closeness, and eigenvector centrality. Data was collected through commentary documentation from the RCTI+ YouTube channel and qualitatively analyzed with the help of @andri_siddhartagautamma and @nido2102, who play a central role in the distribution of information and facilitating the spread of racist comments. The dominant network structure is in the form of a wheel model, which shows the concentration of communication at several key nodes. This study recommends the development of a digital moderation system and the improvement of digital literacy as a strategic step to create a healthier and more inclusive discussion space on social media.
PENGUATAN IDENTITAS KAMPUNG ADAT MELALUI EKSPLORASI NILAI LOKAL UNTUK PEMBERDAYAAN KOMUNITAS PARIWISATA DI KAMPUNG ADAT MIDUANA CIANJUR Adi Bayu Mahadian; Zalfa Qathrunnada; Yoka Prdana; Astri Wulandari; Astaria Eka Santi
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2026): Bantenese: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/kh3cp571

Abstract

Program pengabdian ini dilaksanakan di Kampung Adat Miduana, Cianjur, sebuah komunitas tradisional yang masih menjaga kearifan lokal namun mulai menghadapi peningkatan minat wisata budaya. Tujuan kegiatan adalah memperkuat kapasitas komunikasi masyarakat—khususnya kemampuan storytelling digital—agar potensi budaya dapat dipromosikan secara berkelanjutan dan berbasis komunitas. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan FGD bersama tokoh adat, pemuda, serta pengelola wisata. Hasil menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan potensi, melainkan pada kapasitas pengelolaan: ketiadaan aturan tertulis, kelembagaan yang lemah, promosi digital yang terbatas, serta administrasi kunjungan yang masih manual. Analisis menegaskan pentingnya komunikasi partisipatif, peran opinion leader, proses difusi inovasi, dan sensemaking kolektif dalam membangun kesepahaman dan komitmen warga. Program menghasilkan beberapa langkah strategis, antara lain penyusunan SOP wisata, pengembangan paket wisata tematik, penataan media sosial, digitalisasi registrasi, serta penguatan organisasi pengelola. Intervensi ini menjembatani pelestarian budaya dengan pengelolaan destinasi modern tanpa mengabaikan nilai kesakralan. Secara keseluruhan, penguatan kapasitas komunikasi dan storytelling digital terbukti krusial dalam membangun tata kelola wisata berbasis komunitas yang inklusif, etis, dan berkelanjutan