Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Kadar Insulin Puasa dengan Tekanan Darah Pada Kelompok Lanjut Usia: Studi Potong Lintang di Panti Santa Anna Kosasih, Robert; Frisca, Frisca; Santoso, Alexander Halim; Firmansyah, Yohanes; Satyanegara, William Gilbert; Nathaniel, Fernando; Kurniawan, Joshua; Averina, Friliesa; Goh, Daniel; Sitorus, Ribkha Anggeline Hariesti; Gaofman, Brian Albert
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 7 (2024): Volume 6 Nomor 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i7.13127

Abstract

ABSTRACT Hypertension is one of the most common causes of death in the world. Insulin is a hormone that has been studied for a long time, and hyperinsulinemia is a condition where the body requires large amounts of insulin to achieve normal sugar levels. It was found that hypertensive patients with metabolic syndrome disorders have higher insulin levels with or without obesity which makes it considered as a risk factor. Finding the correlation between fasting insulin and blood pressure in nuring home. Cross-sectional study research on the correlation of fasting insulin levels with blood pressure in the elderly group at Santa Anna Nursing house. Respondents who meet the inclusion criteria will follow a series of data collection according to applicable physical and laboratory examination standards. Statistical analysis using spearman correlation analysis. There were 30 respondents who met the inclusion criteria with an average age of 73 (56 - 88) years, systolic blood pressure (SBP) 120 (105-150) mmHg, diastolic blood pressure (DBP) 70 (55-80) mmHg, and fasting insulin levels 9.45 (5.4-29.5) μIU / ml. the results of the analysis did not find a significant correlation between fasting insulin levels and blood pressure (p-value = 0.590 and 0.898). In this study, it was found that the higher the fasting insulin level, the lower the systolic blood pressure (r-systolic = -0.102). Fasting insulin is one of the tests that can be carried out as an early detection of metabolic disease, especially as a prevention of hypertension. Keywords: Fasting Insulin, Elderly, Blood Presure  ABSTRAK Hipertensi merupakan salah satu penyebab kematian tersering di dunia. Insulin merupakan hormon yang telah dipelajari sejak lama, dan hiperinsulinemia merupakan suatu kondisi dimana tubuh membutuhkan jumlah insulin yang banyak untuk mencapai kadar gula darah yang normal. Ditemukan bahwa pada penderita hipertensi dengan gangguan sindroma metabolik memiliki kadar insulin yang lebih tinggi baik itu dengan atau tanpa obesitas yang membuatnya dipertimbangkan sebagai faktor risiko. Meneliti bagaimana korelasi kadar insulin puasa dengan tekanan darah di panti lansia. Penelitian studi potong lintang mengenai korelasi kadar insulin puasa dengan tekanan darah pada kelompok lanjut usia di Panti Lansia Santa Anna. Responden yang memenuhi kriteria inklusi akan mengikuti rangkaian pengambilan data sesuai standar pemeriksaan fisik dan labotorium yang berlaku. Analisis statistik menggunakan analisis korelasi spearman.  Terdapat 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan rerata usia 73 (56 – 88) tahun, tekanan darah sistolik (TDS) 120 (105-150) mmHg, tekanan darah diastolik (TDD) 70 (55-80) mmHg, dan kadar insulin puasa 9,45(5,4-29,5)μIU/ml. hasil analisis tidak didapatkan korelasi yang bermakna antara kadar insulin puasa dengan tekanan darah (p-value= 0,590 dan 0,898). Pada penelitian ini didapatkan semakin tinggi kadar insulin puasa maka akan semakin rendah tekanan darah sistolik (r-sistolik=-0,102). Insulin puasa merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan sebagai deteksi dini penyakit metabolik, khususnya sebagai pencegahan terhadap hipertensi.   Kata Kunci: Insulin Puasa, Lansia, Tekanan Darah
Korelasi antara Kadar Insulin dalam Darah dengan Kekuatan Otot Tangan Kanan dan Kiri pada Kelompok Lanjut Usia Kosasih, Robert; Frisca Frisca; Santoso, Alexander Halim; Destra, Edwin; Gunaidi, Farell Christian; Jap, Ayleen Nathalie; Gracienne Gracienne
JURNAL RISET RUMPUN ILMU KESEHATAN Vol. 4 No. 1 (2025): April : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Kesehatan
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurrikes.v4i1.4881

Abstract

Muscle strength is the ability of muscles to produce power for physical activity, important for mobility, balance and body function. Decreased muscle strength, especially due to aging, negatively impacts quality of life and increases the risk of diseases such as diabetes and cardiovascular disease. Handgrip is a simple method for measuring muscle strength, especially hand grip strength. This study aims to evaluate the relationship between hand grip strength and blood insulin levels in the elderly. This study used a cross-sectional design at the Bina Bhakti Nursing Home with 93 participants aged 60 years and over. Hand grip strength was measured using a dynamometer, and blood insulin levels were measured from venous blood samples. Data were analyzed using Spearman correlation. The results showed an average right hand grip strength of 10.23 kg and left hand 9.33 kg, with an average blood insulin level of 4.83 µU/mL. A significant positive correlation was found between right and left hand grip strength (rho = 0.884, p < 0.001), as well as between right (rho = 0.218, p = 0.036) and left hand grip strength (rho = 0.290, p = 0.005) and insulin levels. blood. These results indicate that hand grip strength can be an indicator of metabolic health in the elderly. Interventions such as strength training and proper nutrition are important for maintaining muscle strength and metabolic health in the elderly.
Skrining Kekuatan Genggaman Tangan sebagai Deteksi Dini Risiko Kesehatan pada Karyawan Perkantoran Daerah Sudirman Frisca, Frisca; Santoso, Alexander Halim; Teguh, Stanislas Kotska Marvel Mayello; Hartono, Eric; Soeltanong, Dianova
Jurnal Pengabdian Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT. Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/j7qtpe97

Abstract

Pendahuluan: Kekuatan genggaman tangan (handgrip strength) merupakan indikator penting untuk menilai kapasitas otot, status fungsional, serta risiko kesehatan jangka panjang. Pekerja perkantoran, termasuk karyawan di daerah Sudirman, rentan mengalami penurunan kekuatan otot akibat pola kerja sedentari. Oleh karena itu, diperlukan skrining sederhana yang dapat mendeteksi dini penurunan kapasitas fisik sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan otot. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada karyawan perkantoran di daerah Sudirman dengan tahapan persiapan, edukasi, skrining, tindak lanjut, dan evaluasi. Edukasi kesehatan diberikan secara interaktif melalui presentasi, diskusi, dan leaflet mengenai pentingnya aktivitas fisik. Skrining dilakukan dengan mengukur handgrip strength menggunakan alat digital standar pada tangan dominan. Hasil pengukuran dicatat secara individual, kemudian diklasifikasikan sesuai nilai referensi normal dan potensi penurunan kapasitas fisik. Peserta dengan nilai di bawah normal diberikan konseling singkat dan rekomendasi gaya hidup sehat. Evaluasi dilakukan melalui keterlibatan peserta dan distribusi hasil pengukuran. Hasil: Sebanyak 57 karyawan mengikuti kegiatan dengan distribusi 56,1% laki-laki dan 43,9% perempuan, serta rata-rata usia 36 tahun. Mayoritas peserta memiliki latar belakang pendidikan S1 (89,5%). Rata-rata handgrip strength tangan kanan adalah 32,26 kg dan tangan kiri 29,68 kg, dengan variasi antarindividu yang dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik. Sebagian besar peserta memiliki nilai dalam kategori normal, namun ditemukan beberapa individu dengan kekuatan genggaman rendah yang memerlukan perhatian terhadap aktivitas fisik. Kesimpulan: Skrining handgrip strength efektif sebagai deteksi dini penurunan kapasitas fisik dan sarana edukasi kesehatan bagi karyawan perkantoran. Program ini bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran peserta dalam menjaga kekuatan otot dan kebugaran melalui pola hidup sehat serta aktivitas fisik rutin. Integrasi kegiatan semacam ini ke dalam program kesehatan kerja berkelanjutan dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang pekerja.
Optimalisasi Deteksi Dini Diabetes Melitus melalui Pemeriksaan HbA1c dan Gula Darah Puasa sebagai Intervensi Promotif-Preventif Frisca, Frisca; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Alvianto, Fidelia; Pratama, Aditya
Journal of Community Service and Society Empowerment Том 4 № 01 (2026): Journal of Community Service and Society Empowerment
Publisher : PT. Riset Press International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59653/jcsse.v4i01.2108

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a major global health challenge with a steadily increasing prevalence over recent decades. Early detection through glycemic parameters such as HbA1c and Fasting Blood Glucose (FBG) is essential for effective promotive-preventive interventions. This community service activity aimed to optimize DM screening using practical and efficient Point of Care Testing (POCT) among 99 adult participants in South Jakarta. The average HbA1c level was 5.15% (SD 1.09), while the mean FBG was 109.15 mg/dL (SD 42.55). A total of 11.1% of participants were diagnosed with diabetes based on HbA1c criteria, and 18.2% based on FBG. Glycemic abnormalities were more prevalent among women and the elderly, highlighting vulnerabilities in glucose metabolism within these groups. Integrating POCT screening with comprehensive health education effectively facilitated early identification of at-risk individuals and improved community awareness of DM prevention. These findings support routine community-based screening as a sustainable promotive-preventive strategy to reduce the burden of DM and prevent long-term complications.
Gambaran Status Gizi pada Anak Usia Sekolah di SDN Dangdeur II Subang Tahun 2025 Wakanno, Charin Nadila Esther; Frisca, Frisca
Jurnal Kedokteran Mulawarman Vol 12, No 3 (2025): Jurnal Kedokteran Mulawarman
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jkm.v12i3.23581

Abstract

Gizi merupakan penentu kualitas sumber daya manusia, melalui penyediaan makanan sehari-hari yang mengandung zat gizi. Status gizi merupakan indikator kesehatan anak sebagai segmen masyarakat yang sangat rentan, sehingga kekurangan gizi dapat mengakibatkan masalah fisik, emosional, dan mental. Indonesia masih menghadapi masalah kekurangan gizi ganda pada anak, di mana sebagian anak kekurangan gizi dan sebagian anak kelebihan gizi. Pemenuhan zat gizi yang optimal dapat mengatasi masalah kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan tubuh seseorang. Tujuan untuk mengetahui gambaran status gizi pada anak sekolah dasar usia 6-10 tahun. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan potong lintang. Sebanyak 136 anak usia 6-10 tahun dengan 52,2% laki-laki dan 47,8% perempuan dipilih berdasarkan teknik non-random sampling. Variabel penelitian seperti usia anak, jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anggota keluarga, riwayat penyakit menular, dan status gizi. Pengumpulan data anak berdasarkan pengukuran tinggi badan dan berat badan serta menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji bivariat dan uji tabulasi silang. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pendidikan ibu adalah SMA (52,2%), tingkat pengetahuan ibu baik (77,2%), ibu tidak bekerja (65,4%), keluarga memiliki ≤ 2 anak (63,2%). Riwayat tidak pernah menderita penyakit menular (95,6%), dan status gizi baik (64,7%). Kesimpulannya, sebagian besar anak SD di SD Negeri Dangdeur II Subang memiliki status gizi baik.
Pengaruh Pola Jajanan Terhadap Status Gizi Remaja: Studi Observasional Pada Siswa Smk Negeri 1 Kertajati Rahmawati, Novita; Frisca, Frisca
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2026): Volume 13 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i2.21188

Abstract

Perubahan gaya hidup remaja, khususnya pola konsumsi jajanan, berpotensi memengaruhi status gizi. Jajanan merupakan makanan yang dikonsumsi di luar waktu makan utama dan berkontribusi terhadap asupan energi harian. Konsumsi jajanan yang berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup dapat meningkatkan risiko gizi lebih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola konsumsi jajanan dan status gizi pada siswa SMK Negeri 1 Kertajati. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional dan melibatkan 257 siswa kelas XI yang dipilih melalui metode consecutive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pola konsumsi harian dan Food Frequency Questionnaire (FFQ), serta pengukuran antropometri untuk menentukan indeks massa tubuh (IMT) berdasarkan standar CDC 2000. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 55,3% responden memiliki frekuensi konsumsi jajanan jarang (3 kali/minggu), 57,2% memiliki jumlah konsumsi jajanan rendah (3 kali/hari), dan 44,4% termasuk kategori status gizi lebih. Jenis jajanan yang paling banyak dikonsumsi adalah jajanan berat (62,6%), diikuti camilan (57,6%) dan minuman (35,4%), sedangkan jajanan buah paling sedikit dikonsumsi (19,5%). Terdapat hubungan yang bermakna antara frekuensi konsumsi jajanan (p = 0,021) dan jumlah konsumsi jajanan (p = 0,004) dengan status gizi. Pola konsumsi jajanan yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko penting terjadinya gizi lebih pada remaja.