Claim Missing Document
Check
Articles

Integrasi Qanun dan Kearifan Lokal dalam Perlindungan Gajah Sumatera: Studi Penanganan Interaksi Negatif “Abang Kul” di Kantong Gajah Liar Gayo Ghaitsa Al-Zahira Zulvita; Herlina Agustin; Gumgum Gumilar
Bina Hukum Lingkungan Vol. 10 No. 3 (2026): Bina Hukum Lingkungan, Volume 10, Nomor 3, Juni 2026
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v10i3.548

Abstract

ABSTRAKIntensitas interaksi negatif gajah-manusia di Dataran Tinggi Gayo berakar pada persoalan struktural berupa hilangnya habitat dan fragmentasi koridor jelajah gajah akibat alih fungsi lahan hutan menjadi area perkebunan dan permukiman. Inefisiensi penegakan hukum dalam manajemen dampak ekologis ini memicu situasi kritis yang mengancam keselamatan manusia dan perlindungan satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan implementasi Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam merespons dinamika interaksi negatif gajah-manusia. Jenis penelitian yang digunakan adalah kajian hukum empiris melalui pendekatan sosio-legal dengan metode kualitatif untuk mengonstruksi model integrasi kearifan lokal ke dalam kerangka hukum formal sebagai solusi atas diskoneksi antara hukum positif dan realitas sosiologis di tingkat tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam penanganan interaksi negatif dinilai belum optimal sementara kearifan lokal Abang Kul sebagai pranata living law secara empiris memiliki efektivitas dalam langkah mitigasi interaksi negatif. Studi ini memberikan kontribusi pada diskursus pluralisme hukum lingkungan dengan menawarkan model koeksistensi adaptif sebagai solusi atas keterbatasan hukum positif.Kata kunci: abang kul; budaya gayo; gajah sumatera; interaksi negatif gajah-manusia; qanun. ABSTRACTNegative human-elephant interactions in the Gayo Highlands stem from structural issues such as habitat degradation and the fragmentation of elephant movement corridors resulting from the conversion of forests into plantation and settlement areas. The ineffectiveness of the regulatory framework in mitigating these ecological impacts has triggered a critical situation that threatens human safety and wildlife conservation. This study aims to analyze the limitations of the implementation of Qanun No. 11 of 2019 in addressing the dynamics of negative elephant-human interactions through a socio-legal approach using qualitative methods to construct a model for integrating local wisdom into the formal legal framework as a solution to the disconnect between positive law and sociological realities at the grassroots level. The research results indicate that the approach of Qanun No. 11 of 2019 in addressing negative interactions is considered suboptimal, while the local wisdom of Abang Kul, as a living law institution, has been empirically shown to be effective in mitigating negative interactions. This study contributes to the discourse on environmental legal pluralism by offering a model of adaptive coexistence as a solution to the limitations of positive law.Keywords: abang kul; gayo culture; sumatran elephant; negative human-elephant interactions; qanun.
Integrasi Qanun dan Kearifan Lokal dalam Perlindungan Gajah Sumatera: Studi Penanganan Interaksi Negatif “Abang Kul” di Kantong Gajah Liar Gayo Ghaitsa Al-Zahira Zulvita; Herlina Agustin; Gumgum Gumilar
Bina Hukum Lingkungan Vol. 10 No. 3 (2026): Bina Hukum Lingkungan, Volume 10, Nomor 3, Juni 2026
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v10i3.548

Abstract

ABSTRAKIntensitas interaksi negatif gajah-manusia di Dataran Tinggi Gayo berakar pada persoalan struktural berupa hilangnya habitat dan fragmentasi koridor jelajah gajah akibat alih fungsi lahan hutan menjadi area perkebunan dan permukiman. Inefisiensi penegakan hukum dalam manajemen dampak ekologis ini memicu situasi kritis yang mengancam keselamatan manusia dan perlindungan satwa liar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbatasan implementasi Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam merespons dinamika interaksi negatif gajah-manusia. Jenis penelitian yang digunakan adalah kajian hukum empiris melalui pendekatan sosio-legal dengan metode kualitatif untuk mengonstruksi model integrasi kearifan lokal ke dalam kerangka hukum formal sebagai solusi atas diskoneksi antara hukum positif dan realitas sosiologis di tingkat tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Qanun Nomor 11 Tahun 2019 dalam penanganan interaksi negatif dinilai belum optimal sementara kearifan lokal Abang Kul sebagai pranata living law secara empiris memiliki efektivitas dalam langkah mitigasi interaksi negatif. Studi ini memberikan kontribusi pada diskursus pluralisme hukum lingkungan dengan menawarkan model koeksistensi adaptif sebagai solusi atas keterbatasan hukum positif.Kata kunci: abang kul; budaya gayo; gajah sumatera; interaksi negatif gajah-manusia; qanun. ABSTRACTNegative human-elephant interactions in the Gayo Highlands stem from structural issues such as habitat degradation and the fragmentation of elephant movement corridors resulting from the conversion of forests into plantation and settlement areas. The ineffectiveness of the regulatory framework in mitigating these ecological impacts has triggered a critical situation that threatens human safety and wildlife conservation. This study aims to analyze the limitations of the implementation of Qanun No. 11 of 2019 in addressing the dynamics of negative elephant-human interactions through a socio-legal approach using qualitative methods to construct a model for integrating local wisdom into the formal legal framework as a solution to the disconnect between positive law and sociological realities at the grassroots level. The research results indicate that the approach of Qanun No. 11 of 2019 in addressing negative interactions is considered suboptimal, while the local wisdom of Abang Kul, as a living law institution, has been empirically shown to be effective in mitigating negative interactions. This study contributes to the discourse on environmental legal pluralism by offering a model of adaptive coexistence as a solution to the limitations of positive law.Keywords: abang kul; gayo culture; sumatran elephant; negative human-elephant interactions; qanun.
Advokasi Lingkungan Solidaritas Perempuan Palembang Dalam Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Ogan Ilir Retno Kurnia Muktiarum; Herlina Agustin; Gumgum Gumilar
Bina Hukum Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2026): Bina Hukum Lingkungan, Volume 10, Nomor 2, Februari 2026
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v10i2.515

Abstract

ABSTRAK Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Ilir telah menjadi bencana tahunan yang dampaknya tidak dirasakan secara setara. Perempuan, sebagai pengelola utama rumah tangga dan kesehatan keluarga, menanggung beban ganda berupa peningkatan kerja domestik, gangguan kesehatan, dan ancaman terhadap penghidupan. Namun, di tengah marginalisasi suara mereka, Solidaritas Perempuan Palembang hadir sebagai mitra advokasi yang mentransformasi posisi perempuan dari korban pasif menjadi subjek berdaya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 mengatur bahwa setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat yang menjadi dasar dari advokasi lingkungan yang dilakukan Solidaritas Perempuan Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif dengan sifat deskriptif-analitis, yang didukung data lapangan melalui wawancara dengan Solidaritas Perempuan Palembang. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa advokasi lingkungan yang dilakukan oleh Solidaritas Perempuan Palembang bersifat multidimensi dan dijalankan melalui kampanye publik untuk membangun narasi dan solidaritas melalui media sosial, edukasi masyarakat untuk membangun kesadaran kritis tentang hak ekologis yang dilanggar, penguatan kapasitas perempuan melalui pelatihan feminist, public speaking, dan produk ekonomi feminis (Feminist Economic Solidarity). Advokasi ini menjadi praktik ekofeminisme yang menegaskan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan pelibatan perempuan sebagai aktor yang berdaya. Kata kunci: advokasi lingkungan; ekofeminisme; komunikasi lingkungan.   ABSTRACT Forest and land fires in Ogan Ilir Regency have become an annual disaster, the impacts of which are not felt equally. Women, as primary managers of households and family health, bear a double burden in the form of increased domestic work, health disturbances, and threats to livelihoods. However, amidst the marginalization of their voices, Solidaritas Perempuan Palembang emerged as an advocacy partner that transforms the position of women from passive victims into empowered subjects. Law Number 32 of 2009 stipulates that every person has the right to a good and healthy living environment, which serves as the legal foundation for the environmental advocacy carried out by Solidaritas Perempuan Palembang. This study uses a juridical normative approach with a descriptive-analytical nature, supported by field data through interviews with Palembang Women's Solidarity. Data were obtained through library studies and field studies. The results indicate that Solidaritas Perempuan Palembang environmental advocacy is multidimensional and implemented through public campaigns to build narratives and solidarity via social media, community education to raise critical awareness of violated ecological rights, and women's capacity building through feminist training, public speaking, and feminist economic solidarity products (Feminist Economic Solidarity). This advocacy serves as a practice of ecofeminism, affirming that resolving environmental issues requires the involvement of women as empowered actors. Keywords: ecofeminism; environmental advocacy; environmental communication.
Framing Media Online Detik.com dan Tirto.ID Terhadap Pemberitaan Unjuk Rasa Mahasiswa pada Aksi "Indonesia Gelap" 2025 Salsa Dila Fitria Oktavianti; Gumgum Gumilar; Nunik Maharani Hartoyo
JIPSI Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Vol 15 No 2 (2025): JIPSi : Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34010/jipsi.v15i2.17302

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Media Daring Detik.com dan Tirto.ID membingkai aksi demonstrasi mahasiswa bertajuk "Indonesia Gelap" yang berlangsung pada Februari 2025. Aksi Indonesia Gelap ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan efisiensi anggaran pendidikan yang dinilai merugikan masa depan generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis framing model Robert N Entman yang mencakup empat elemen utama yaitu Pendefinisian Masalah, Sebab Masalah, Keputusan Moral, dan Rekomendasi Penyelesaian. 3 Berita dari masing-masing media dipilih secara purposive untuk dianalisis secara mendalam. Hasil penelitian menunjukan bahwa Detik.com cenderung membingkai aksi sebagai bentuk pesimisme publik khususnya mahasiswa dan menekankan pentingnya memberi waktu kepada Pemerintah untuk bekerja. Sementara itu, Tirto.ID membingkai aksi sebagai bentuk kritik konstruktif dalam ruang demokrasi yang perlu ditanggapi dengan komunikasi dua arah dan respons kebijakan. Temuan inu menunjukan bahwa kedua media memiliki konstruksi realitas yang berbeda dalam menyampaikan isu yang sama, di mana Detik.com lebih menekankan stabilitas dan ketertiban, sedangkan Tirto.ID menekankan partisipasi publik dan transparansi pemerintah. Penelitian ini menegaskan bahwa media massa tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk makna sosial melalui proses pembingkaian.
Penerapan Narasi Ekspositoris dalam Penulisan Naskah Video Dokumenter “Jejak yang Tersulam di Balik Motif Batik Rumah Gajah Mungkur” Windy Nur Octaliya; Priyo Subekti; Gumgum Gumilar
Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain Vol. 3 No. 4 (2026): Juli : Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain
Publisher : Asosiasi Seni Desain dan Komunikasi Visual Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/abstrak.v3i4.1138

Abstract

Batik is an Indonesian cultural heritage recognized by UNESCO as an Intangible Cultural Heritage of Humanity on 2 October 2009. One local batik rich in historical and philosophical value yet lacking audio-visual documentation is Batik Gajah Mungkur from Gresik, East Java, particularly the Rumah Gajah Mungkur motif, an exclusive design not owned by any other batik producer in Gresik. This final project aims to analyze the creative process of the documentary video "Jejak Yang Tersulam Di Balik Motif Batik Rumah Gajah Mungkur" from pre-production to post-production, and to describe the application of expository narrative in its scriptwriting. The creation process involved in-depth research, field observation, and interviews with three sources: the owner of Batik Gajah Mungkur, a batik consumer, and the Deputy Chair of the Surabaya Indonesian Batik Lovers Community (KCBI). The script was structured into three acts, namely introduction, content, and closing, with voice over narration serving as the connecting thread integrating visuals, interviews, and background music. The result shows that the expository narrative was applied by arranging the historical and philosophical information in a gradual and coherent manner. This documentary is expected to serve as a digital cultural archive and educational medium in preserving Batik Gajah Mungkur as part of Gresik's cultural identity.
Penggunaan Twitter Sebagai Medium Distribusi Berita dan News Gathering Oleh Tirto.Id Paramastri, Nadia Araditya; Gumilar, Gumgum
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.296 KB) | DOI: 10.24198/jkj.v3i1.22450

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana penggunaanTwitterolehTirto.idsebagai medium distribusi berita dan newsgathering, ditinjau dari landasan Tirto.id dalam memilih medium, proses alur kerja dan strategi Tirto.id dalam menggunakan Twitter sebagai alat penggerak perubahan sosial, penggunaan Twitter oleh Tirto.id dalam kegiatan newsgathering, dan proses penggunaan Twitter oleh Tirto.id sebagai saluran komunikasi dua arah dengan audiens. Untuk menguraikannya, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik dari Robert E. Stake.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tirto.id menggunakan Twitter karena kesesuaiannya dengan latar belakang Tirto.id sebagai media online yang membutuhkan alat penggerak perubahan sosial bagi generasi muda. Dalam proses kerjanya, tim redaksi dan tim media sosial bekerja terpisah, namun saling bekerja sama. Tim redaksi membutuhkan interaktivitas dan respons audiens yang cepat melalui Twitter untuk mengumpulkan bahan berita dan memilih narasumber, sementara Tim Redaksi menggunakan Twitter untuk distribusi berita, sekaligus melihat feedback audiens terhadap berita tersebut.Feedback yang didapatkan tim media sosial melalui Twitter akan menjadi masukan bagi tim redaksi.
Pemaknaan Etika Jurnalisme Warga oleh Jurnalis Warga Tempo Witness di Wilayah Jawa Tengah Soraya, Nadia Ayu; Gumilar, Gumgum; Al-Faqih, M Zein
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 6, No 2 (2023): KAJIAN JURNALISME
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkj.v6i2.40985

Abstract

Awareness of the importance of conveying phenomena around, in line with the skills in utilizing information technology to form citizens like journalists. The ease with which citizens become like journalists raises the intention of citizens to uphold the truth by becoming citizen journalists. However, various applications of citizen journalism ethics that are difficult to practice are actually a challenge. It even creates a temptation to apply citizen journalism ethics. These challenges and temptations diverted their initial intentions as citizen journalists. They do not obey the code of ethics that applies when conducting journalistic activities. This study aims to explore the meaning of the ethics of citizen journalism by citizen journalists of Tempo Witness in the Central Java region, which is the area with the highest intensity of sending news reports. Qualitative methods, phenomenological approaches, and symbolic interaction theory function to explore the motives, experiences, and agreements of citizen journalists in applying the ethics of citizen journalism. The results showed that the three informants interpreted the ethical aspects of citizen journalism well, they maintained good manners and maintained the quality of news reports. However, two of the three informants did not apply the ethics of citizen journalism by accepting gifts from the informants, in the form of envelopes and lunches.
KONSTRUKSI REALITAS WARTAWAN KANTOR BERITA RADIO ATAS KESEJAHTERAAN JURNALIS Alfarisi, Luqman; Gumilar, Gumgum
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 2, No 1 (2018): Kajian Jurnalisme
Publisher : Journalism Study Program, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.831 KB) | DOI: 10.24198/jkj.v2i1.21073

Abstract

Penelitian ini membahas konstruksi realitas wartawan Kantor Berita Radio atas kesejahteraan jurnalis. Sebagai pisau analisis, peneliti menggunakan dua teori utama, yaitu teori konstuksi realitas sosial dari Peter Berger dan Thomas Luckmann, serta teori fenomenologi sosial dari Alfred Schutz. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami pemaparan atas makna kesejahteraan wartawan; motif dari subjek penelitian dalam menjadi wartawan, serta melihat implikasi pemaknaan kesejahteraan oleh watawan Kantor Berita Radio terhadap kualitas dan kuantitas karya jurnalistik yang diproduksi. Hasilnya, secara umum, setiap informan memiliki proses pemaknaan atas kesejahteraan yang berbeda-beda. Ada tiga aspek yang digunakan, di antaranya: material; sosial; serta mental atau psikologis. Selain itu, setiap informan memiliki motif-motif tersendiri dalam memilih profesi sebagai jurnalis yang dapat ditelisik dengan teori fenomenologi sosial yang terbagi dalam motif masa lalu (because-motive) dan motif masa depan (in-order-to-motive). Semua informan menilai bahwa kesejahteraan yang mereka rasakan memiliki implikasi terhadap karya jurnalistik mereka, terutama dalam hal kualitas dan kuantitas.Kata kunci: Fenomenologi, Kesejahteraan, Konstruksi Sosial, Wartawan
Advokasi Lingkungan Solidaritas Perempuan Palembang Dalam Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten Ogan Ilir Retno Kurnia Muktiarum; Herlina Agustin; Gumgum Gumilar
Bina Hukum Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2026): Bina Hukum Lingkungan, Volume 10, Nomor 2, Februari 2026
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24970/bhl.v10i2.515

Abstract

ABSTRAK Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Ogan Ilir telah menjadi bencana tahunan yang dampaknya tidak dirasakan secara setara. Perempuan, sebagai pengelola utama rumah tangga dan kesehatan keluarga, menanggung beban ganda berupa peningkatan kerja domestik, gangguan kesehatan, dan ancaman terhadap penghidupan. Namun, di tengah marginalisasi suara mereka, Solidaritas Perempuan Palembang hadir sebagai mitra advokasi yang mentransformasi posisi perempuan dari korban pasif menjadi subjek berdaya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 mengatur bahwa setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat yang menjadi dasar dari advokasi lingkungan yang dilakukan Solidaritas Perempuan Palembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis-normatif dengan sifat deskriptif-analitis, yang didukung data lapangan melalui wawancara dengan Solidaritas Perempuan Palembang. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa advokasi lingkungan yang dilakukan oleh Solidaritas Perempuan Palembang bersifat multidimensi dan dijalankan melalui kampanye publik untuk membangun narasi dan solidaritas melalui media sosial, edukasi masyarakat untuk membangun kesadaran kritis tentang hak ekologis yang dilanggar, penguatan kapasitas perempuan melalui pelatihan feminist, public speaking, dan produk ekonomi feminis (Feminist Economic Solidarity). Advokasi ini menjadi praktik ekofeminisme yang menegaskan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan pelibatan perempuan sebagai aktor yang berdaya. Kata kunci: advokasi lingkungan; ekofeminisme; komunikasi lingkungan.   ABSTRACT Forest and land fires in Ogan Ilir Regency have become an annual disaster, the impacts of which are not felt equally. Women, as primary managers of households and family health, bear a double burden in the form of increased domestic work, health disturbances, and threats to livelihoods. However, amidst the marginalization of their voices, Solidaritas Perempuan Palembang emerged as an advocacy partner that transforms the position of women from passive victims into empowered subjects. Law Number 32 of 2009 stipulates that every person has the right to a good and healthy living environment, which serves as the legal foundation for the environmental advocacy carried out by Solidaritas Perempuan Palembang. This study uses a juridical normative approach with a descriptive-analytical nature, supported by field data through interviews with Palembang Women's Solidarity. Data were obtained through library studies and field studies. The results indicate that Solidaritas Perempuan Palembang environmental advocacy is multidimensional and implemented through public campaigns to build narratives and solidarity via social media, community education to raise critical awareness of violated ecological rights, and women's capacity building through feminist training, public speaking, and feminist economic solidarity products (Feminist Economic Solidarity). This advocacy serves as a practice of ecofeminism, affirming that resolving environmental issues requires the involvement of women as empowered actors. Keywords: ecofeminism; environmental advocacy; environmental communication.
Instagram Usage by "Barstrad" Community in Bandung City – West Java Gumgum Gumilar; Ika Merdekawati Kusmayadi
Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 2 No. 2 (2017): December 2017 - Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/jkiski.v2i2.104

Abstract

This study aims to collect qualitative data on Instagram Usage by Community of Bandung Street Workout Addict (Barstrad) in Bandung City, West Java. This study is applied descriptive method and collecting the data through depth interview and observation. The informant of this research is the founder Bastard community. The result shows that Instagram has significant role in developing of Barstard community, especially in terms of spreading out of street workout in Bandung City. Instagram is managed with a certain concept by informing the main activities, workout menus, schedules, and others as well. Instagram gives a huge impact on the increasing number of members who join in. Most of the member community are from Instagram followers that also make this community more well recognized and attracts sponsor in order to be a kind of sustainable community.Â