Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Hubungan Penggunaan Gadget dengan Interaksi Sosial Anak SD Swasta X Kelas 4–6 Terhadap Teman Sebaya di Jakarta Yvonne Marthina; Agnes Wisela Gunawan; Erma Mexcorry Sumbayak
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.44803

Abstract

Interaksi sosial merupakan hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu satu dapat mempengaruhi individu lain atau sebaliknya, jadi terdapat adanya hubungan yang saling timbal balik. Menurut Soerjono Sukanto syarat terjadinya interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget (Handphone/Tablet/iPad) terhadap interaksi sosial anak dengan teman sebayanya. Desain penelitian ini yaitu deskriptif-analitik yang dilakukan dengan cara cross-sectional dimana pengukuran variabel dilakukan pada suatu saat tertentu sekaligus secara bersamaan, di Sekolah Dasar X, Jakarta Barat. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara acak menggunakan metode stratified random sampling. Total responden yang diperlukan yaitu 107 anak. Data yang didapat dianalisis menggunakan Uji Chi-Square. Dari hasil uji statistik hubungan intensitas pengaksesan media sosial dan game online terhadap interaksi sosial didapatkan hasil p-value 0.018 < 0.05. Hasil peneitian dapat disimpulkan terdapat hubungan signifikan antara intensitas pengaksesan media sosial dan game online terhadap interaksi sosial anak. Namun untuk variabel lain (jenis kelamin, pembatasan waktu bermain, lama penggunaan, jumlah media sosial dan jumlah game online pada gadget) tidak didapatkan hubungan antara variabel-variabel tersebut terhadap interaksi sosial anak.
Profil Etiologi Sirosis Hati pada Pasien di RSUD Tarakan Tahun 2020–2022 Bhanu Bhanu; Gladys Angelina Setiawan; Sinsanta Sinsanta; Erma Mexcorry Sumbayak
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49596

Abstract

Sirosis hati menjadi salah satu tantangan global karena prevalensinya yang masih mengalami peningkatan signifikan, menduduki peringkat kelima belas penyakit dengan morbiditas tertinggi di dunia tahun 2017. Tingkat insidensi kasus sirosis di Asia Tenggara juga mengalami peningkatan hingga mencapai 23,6 kasus per 100.000 penduduk. Proses dan progresivitas penyakit sirosis menjadi penting untuk dipahami lebih lanjut sehingga tatalaksana menjadi lebih efektif. Profil penyebab sirosis perlu menjadi perhatian karena menjadi salah satu pertimbangan dalam tatalaksana kasus sirosis hati. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang. Populasi target penelitian ini adalah seluruh pasien yang terdiagnosis sirosis hati yang berobat di RS Tarakan Jakarta. dengan populasi terjangkaunya adalah pasien sirosis hati yang pernah menjalani pengobatan baik sebagai pasien rawat jalan atau rawat inap di RS Tarakan periode Januari – Desember 2021. Sampling yang digunakan adalah teknik simple random sampling. Data tersebut dianalisis dan didapatkan bahwa etiologi tersering sirosis adalah hepatitis B (37,6%). Usia rerata subjek adalah 53,7±11,2 tahun dan mayoritas subjek penelitian berjenis kelamin laki-laki. Secara keseluruhan subjek tergolong anemia, trombositopenia, mengalami pemanjangan APTT serta peningkatan enzim SGOT.
Studi Deskriptif Ultrasonografi Arteri Karotis Pada Pasien Stroke Infark di RSUD Tarakan Tahun 2021 Martua Rizal Situmorang; Ghita Dea Fany Situmorang; Susilo Susilo; Erma Mexcorry Sumbayak
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49597

Abstract

Stroke infark merupakan salah satu subtipe stroke yang terjadi akibat sumbatan pembuluh darah, menyebabkan penurunan suplai oksigen ke otak. Aterosklerosis berperan penting dalam proses ini dan dapat dideteksi melalui pemeriksaan USG Doppler karotis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hasil pemeriksaan ultrasonografi arteri karotis pada pasien stroke infark di RSUD Tarakan Jakarta tahun 2021. Metode Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan potong lintang terhadap 80 pasien stroke infark yang memenuhi kriteria inklusi. Data diambil dari rekam medis dan dianalisis secara deskriptif menggunakan SPSS 24. Hasil: Mayoritas pasien berusia lansia akhir hingga manula (56–76 tahun) dengan dominasi soft plaque pada hasil USG Doppler karotis. Laki-laki lebih banyak terkena stroke infark dibanding perempuan. Pasien dengan kadar kolesterol >200 mg/dL dan kadar glukosa darah >140 mg/dL lebih banyak mengalami penebalan tunika intima dan pembentukan plak. Simpulan: Stroke infark banyak terjadi pada pasien usia lanjut dengan faktor risiko metabolik seperti dislipidemia dan diabetes melitus. Pemeriksaan USG Doppler karotis dapat memberikan gambaran penting mengenai keberadaan plak dan penebalan tunika intima sebagai indikator risiko stroke.
Uji In Vivo Aktifitas Antihiperurisemia Ekstrak Etanol Bunga Melinjo (Gnetum Gnemon L.) Anna Maria Dewajanti; Agus Limanto; Bella N. Wijaya; Erma Mexcorry Sumbayak; Hendrik Kurniawan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55409

Abstract

Hiperurisemia merupakan keadaan di mana kadar asam urat di dalam darah tinggi sehingga dapat menimbulkan penyakit gout, kerusakan ginjal, dan komplikasi lain. Dalam beberapa dekade terakhir, peneliti mulai mengembangkan tanaman obat untuk menyembuhkan beberapa penyakit, salah satunya adalah tanaman melinjo. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antihiperurisemia ekstrak bunga melinjo (Gnetum gnemon L). Desain penelitian eksperimental ini pre-post test control group. Aktivitas antihiperurisemia dinilai melalui pengukuran kadar asam urat plasma darah tikus putih Sprague Dawley yang diinduksi hiperurisemia. Kelompok perlakuan menerima ekstrak dengan dosis 450 mg/kgBB dan 900 mg/kgBB, yang dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (allopurinol 90 mg/kgBB) dan negatif (Na- CMC 0,5%). Pemberian ekstrak dosis 450 mg/kgBB dan 900 mg/kgBB secara signifikan menurunkan kadar asam urat darah, dengan nilai p < 0,05 (Uji Wilcoxon), begitu pula dengan allopurinol. Pada analisis antar kelompok, kadar asam urat hari ke-7 berbeda bermakna (uji Kruskal–Wallis), dengan perbedaan terutama antara kontrol negatif dan kelompok perlakuan/kontrol positif (post-hoc Bonferroni). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kontrol positif dan kelompok ekstrak pada hari ke-7. Hasil penelitian ini membuktikan potensi ekstrak bunga melinjo sebagai agen alami dan berperan dalam pengelolaan antihiperurisemia. Temuan ini mendukung pengembangan terapi alternatif berbasis bahan alami dengan risiko efek samping yang lebih rendah
Peran Fermentasi Buah Morinda Citrifolia Sebagai Antimikroba Elli Arsita; Calvin Sasongko; Erma Mexcorry Sumbayak
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55665

Abstract

The development of germ resistance cases due to excessive use of antibiotics is rampant and alternatives that are used in replacing the role of antibiotics also vary, one of which is by utilizing plant components or better known as phytotherapy. Morinda citrifolia is an alternative example that can be used as phytotherapy. Morinda citrifolia used are ones that have been fermented for 14 days. Active compounds in Morinda citrifolia have many functions, one of which can be used as an antimicrobial. The aim of this study is to test the efficacy of Morinda citrifolia fruit fermentation as an antimicrobe. The method used in this study is to use a multilevel dilution system of Morinda citrifolia’s fermented liquid which is then followed by the method of discs and broth dilution. On the disc method, 50µl of each tube dilution will be taken, then dropped into the well in culture of Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The broth dilution method is done to determine the inhibition and killing zone the minimum in both microbes. The effectivity of Morinda citrifolia fermentation on Staphylococcus aureus and Escherichia coli was proven by 100% concentration on Mueller Hinton media in order to form a inhibition zone of 13.95mm and 11.60mm. Inhibitory zone of 11.04 mm was formed in Staphylococcus aureus only at a concentration of 50%. Meanwhile, In the broth dilution method, Morinda citrifolia fermentation in both microbes has the same minimum killing rate at a concentration of 25%. Conclusion, Morinda citrifolia fruit fermentation is effective as an antimicroba.
Analisis Hubungan Lama Kerja terhadap Keluhan Muskuloskeletal pada Petugas Keamanan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana Hartanto, Hartanto; Salim , Ellin Benecia; Kartadinata, Riki; Sumbayak, Erma Mexcorry; Handoko, Yusuf; Ingkiriwang, Elly
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56412

Abstract

Injuries or disorders that occur in the skeletal muscle system are referred to as Musculosceletal Disorders (MSDs). Musculoskeletal disorders can occur due to an imbalance of activity loads on the capabilities of the musculoskeletal system, including muscles, ligaments, tendons, joints and bones. Musculoskeletal disorders are one of the most common health problems experienced by workers. The purpose of this study was to find the relationship between work duration and musculoskeletal disorders in security officers at FKIK Krida Wacana Christian University. The research data was obtained using a respondent data questionnaire and a Nordic Body Map on 32 samples at the FKIK Krida Wacana Christian University. Based on the results of the age distribution, the majority of research subjects were >30 years old and male. Most of the respondents experienced musculoskeletal disorders in at least one part of the body and the rest had no complaints at all. The distribution of work duration variable on musculoskeletal disorders in the study subjects showed that most worked for 8 hours/day with a longer total duration of rest but still experienced complaints on the skeletal muscles. Based on the results of the Chi-Square analysis test, a p value of 1.000 was obtained, which means that there is no significant relationship between length of work and musculoskeletal disorders. This is influenced by individual factors smoking habits of the respondents.