Claim Missing Document
Check
Articles

Kenyamanan Thermal pada Masjid Al Irsyad Kotabaru Parahyangan, Jawa Barat Hapsari Dewi Puspitorini; Gagoek Hardiman; Erni Setyowati
JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2013): Desember
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.068 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v4i1.460

Abstract

Mosque of Al Irsyad which located in Kotabaru Parahyangan, West Java [is] a mosque which [in] desain by one of [the] so called Indonesia architect [of] Ridwan Kamil. This Mosque have unique architecture desain. Especial form [of] mosque in form of square which taken away from [by] form of KaBah [in] Illicit Masjidil. This Mosque [do] not have dome like mosques in general. With desain which [do] not like mosques in general, Al Irsyad have obtained various international appreciation. Therefore require to be performed [a] [by] a[n research how building with the unique architecture can adapt with climate [in] damp trop., so that [all] consumer of building can feel freshment at the (time) of residing in [at] building. From understanding of that interaction architecture should be able to with environment, hence crossed ventilation found on most of all room side of salat especial influence volume movement of air which come into especial building which later give influence which strong enough to condition of freshment of thermal felt by [all] consumer of building.Masjid Al Irsyad yang terletak di Kotabaru Parahyangan, Jawa Barat adalah sebuah masjid yang di desain oleh salah satu arsitek Indonesia bernama Ridwan Kamil. Masjid ini memiliki desain arsitektur yang unik. Bentuk utama masjid berbentuk persegi yang diambil dari bentuk Kabah di Masjidil Haram. Masjid ini tidak memiliki kubah seperti masjid-masjid pada umumnya. Dengan desain yang tidak sepertiJurnal Arsitektur Universitas Bandar Lampung, Desember 3 201 37masjid-masjid pada umumnya ini, Al Irsyad telah memperoleh berbagai penghargaan internasional. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian bagaimana bangunan dengan arsitektur yang unik tersebut dapat beradaptasi dengan iklim di daerah tropis lembab, sehingga para pengguna bangunan dapat merasakan kenyamanan pada saat berada pada bangunan tersebut. Dari pemahaman bahwa arsitektur harus bisa berinteraksi dengan lingkungan, maka ventilasi silang yang terdapat pada hampir semua sisi ruang salat utama mempengaruhi volume pergerakan udara yang masuk ke dalam bangunan utama yang nantinya memberikan pengaruh yang cukup kuat terhadap kondisi kenyamanan thermal yang dirasakan oleh para pengguna bangunan tersebut.
KEONGAN ATAP: MODEL VENTILASI ATAP PADA HUNIAN KAMPUNG KOTA DI KAMPUNG PENDRIKAN SEMARANG Sukawi Sukawi; Agung Dwiyanto; Suzanna Ratih Sari; Gagoek Hardiman
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2016): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 7 2016
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.238 KB)

Abstract

Kepadatan bangunan adalah merupakan satu dari faktor-faktor prinsip yang mempengaruhi kondisi iklim mikro dan menentukan kondisi ventilasi maupun kondisi suhu udara. Gejala pemanasan kota utamanya agak dipengaruhi oleh kepadatan kota daripada ukuran dari kota itu sendiri, semakin padat bangunan semakin buruk kondisi ventilasi. Beberapa hunian di Kampung Pendrikan Semarang mempunyai bentuk atap pelana yang memanjang kebelakang dengan dilengkapi bukaan pada keongan atap yang bervariasi di tiap rumah.Lubang pada keongan atap ini ditengarai mempunyai fungsi untuk mengalirkan udara yang dikenal dengan ventilasi atap. Bentuk atap yang tinggi dengan ventilasi atap akan mengusir udara panas yang terjebak diatap bangunan. Penelitian ini dilakukan pada tatanan lingkungan yang tidak terencana (kampung kota) untuk mengetahui efektivitas fungsi bukaan pada keongan atap sehingga mempunyai kontribusi dalam menurunkan suhu ruangan di bawah atap.Bukaan pada keongan atap tidak hanya merupakan elemen estetis tetapi mempunyai fungsi lain untuk ventilasi atap. Penelitian ini mendapatkan bahwa bukaan pada keongan atap dapat dimanfaatkan untuk mengalirkan udara yang berguna untuk mendinginkan udara panas dibawah atap yang sekaligus akan menurunkan suhu di dalam atap rumah. Kata kunci: kampung kota, keongan atap, ventilasi atap
MODEL VENTILASI ATAP PADA PENGEMBANGAN RUMAH SEDERHANA DI LINGKUNGAN BERKEPADATAN TINGGI Sukawi Sukawi; Agung Dwiyanto; Gagoek Hardiman
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 6 2015
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di iklim tropis lembab, pada umumnya bangunan-bangunan didesain dengan sistem penghawaan alami yang memaksimalkan kecepatan angin untuk dapat mendinginkan struktur bangunan ataupun pencapaian kenyamanan fisiologis. Beberapa ciri desain bangunan di iklim tropis antara lain adanya bukaan lebar, atap dengan sudut kemiringan cukup, berplafon, dan memaksimalkan banyak naungan di sekitar bangunan. Konsep desain dengan sistem penghawaan alami yang memaksimalkan kecepatan angin, selain memperhatikan pergerakan aliran angin, juga melihat pengaruh lingkungan dan bangunan sekitar terhadap aliran angin tersebut. Kenyamanan termal dipengaruhi oleh lingkungan fisik, antara lain temperatur udara, kelembaban relatif, kecepatan angin, dan dipengaruhi oleh lingkungan non fisik, antara lain jenis kelamin, umur, pakaian yang digunakan dan jenis aktifitas yang sedang dikerjakan. Temperatur udara, kelembaban relatif dan kecepatan angin mempunyai hubungan yang saling berkaitan untuk mencapai kenyamanan termal bagi penghuni. Hal ini dapat dikatakan bahwa kenyamanan fisiologis akan dapat tercapai jika nilai kecepatan angin berada pada kondisi seimbang antara temperatur dan kelembaban relatif tertentu. Kepadatan bangunan  merupakan satu dari faktor-faktor prinsip yang mempengaruhi kondisi iklim mikro dalam ruangan dan menentukan kondisi ventilasi maupun kondisi suhu udara. Dengan padatnya bangunan dan bentuk hunian yang hanya mempunyai satu fasade, maka perlu siasat untuk dapat memanfaatkan kondisi iklim dan bentuk atap pada bangunan rumah tinggal. Penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisa kinerja penghawaan alami dengan ventilasi atap bangunan rumah sederhana pada lingkungan dengan kepadatan tinggi. Perlu strategi dalam perencanaan desain perumahan yang berkepadatan tinggi dalam mensiasati ventilasi alami untuk kenyamanan thermal dalam bangunan. Penelitian ini juga untuk menganalisa letak elemen ventilasi atap yang optimal dan mempunyai kontribusi dalam menciptakan dan mempengaruhi kenyamanan fisiologis penghuni. Kata kunci: Pergerakan Udara, Kepadatan Bangunan, Ventilasi Atap
KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK KOTA PACITAN Wiwik Handayani; Gagoek Hardiman; Imam Buchari
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36499/jim.v11i2.1387

Abstract

Abstrak Berdasarkan amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, didalam wilayah kabupaten atau perkotaan harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% dari luas wilayah. RTH yang dimaksud adalah RTH publik dan RTH privat dengan proporsi masing-masing 20% dan 10%.Baik RTH publik maupun privat memiliki fungsi utama sebagai fungsi ekologis dan fungsi tambahan diantaranya sosial, budaya, ekonomi, dan estetika atau arsitektural. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kurangnya ketersediaan RTH dan faktor-faktor penyebab kurangnya RTH publik kota Pacitan serta peran pemerintah terhadap ketersediaan RTH publik tersebut. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Pacitan yang dijadikan sebagai pusat kota Pacitan. Tipe penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder.Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung dilapangan, kepustakaan, foto, dan wawancara.Dari data yang ada kecamatan Pacitan memiliki luas 7.848 Ha, namun daerah yang memungkinkan untuk dijadikan daerah perkotaan hanya seluas 4.202,76 Ha. Eksisting RTH publik yang ada sebesar 2,94% sehingga masih mengalami kekurangan sebesar 17,06%. Mengingat kondisi geografis kota Pacitan maka penambahan kekurangan RTH publik dapat dilakukan dengan optimalisasis RTH publik yang sudah ada dengan relokasi RTH yang alih fungsi, intensifikasi yaitu mempertahankan dan  mengelola RTH yang sudah ada serta ektensifikasi yaitu menambah penanaman kembali pada daerah tertentu, yaitu jalur hijau jalan, daerah sempadan sungai dan sempadan pantai. Kata Kunci: RTH publik, ekologi, optimalisasi, berkelanjutan
BUSTAMAN, A CULTURAL URBAN KAMPONG BASED ON CULINARY GULE AS RESPONSE TO URBAN CHANGES Budi Sudarwanto; Gagoek Hardiman; Agung Budi Sardjono
TATALOKA Vol 21, No 3 (2019): Volume 21 No. 3, August 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.781 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.21.3.558-565

Abstract

This research aims to deepen the culture of urban kampong. The concept of knowledge of Bustaman peoples in making needs to survive and adapt. This research used is grounded theory which kind of qualitative paradigm. The research procedure is empirical-inductive research process. Urban kampong is a burden in development activities. The character of urban spaces shows a chaotic and complex environment. There is a learning process by its citizens associated with the resilience of the kampong. It has a meaning related to culture of people and the physical environment. That kampong  shows all the things about urban kampong problems. The culture of kampong shows defensive and adaptation. Bustaman kampong is widely known as gule village. The finding of a local knowledge concept are about how the people to sustain of their daily live. First, it was defined as the culture of citizens working hard to survive. The second is an effort to build social capital to adapt. The third is characterizes of kampong that has openness and friendly. Bustaman have been mention as a kininanti cage.
ADAPTIVE SPACE OF JAVANESE TRADITIONAL HOUSE IN BRAYUT TOURISM VILLAGE YOGYAKARTA Vincentia Reni Vitasurya; Gagoek Hardiman; Suzanna Ratih Sari
TATALOKA Vol 21, No 1 (2019): Volume 21 No. 1, February 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.084 KB) | DOI: 10.14710/tataloka.21.1.170-179

Abstract

Traditional Javanese architecture, especially in rural areas, has undergone a major transformation. Transformation is owner’s response to various conditions, such as the increasing number of family members, the improvement of social status and economic conditions, the needs of modernization and the consequences of being involved in government’s programs.  This paper aim is to examine how the owners of traditional houses respond to nowadays changes reflected through their houses designs. Brayut tourism village is a traditional settlement located at Yogyakarta’s downtown area which is well known for its unique and well-preserved traditional Javanese houses. The transformation of traditional houses in Brayut is a combination of the need for change and persistence. On the one side, strong local traditions play a role in maintaining the elements of traditional houses and on the other side, dynamic modern needs play a role as a trigger for change. Adaptive space in the traditional house is a solution to this problem. The method used in this research is a case study on some Javanese traditional houses. An in-depth interview with the owners and mapping are also used to examine the chronology of traditional houses transformation.  Transformation aspects are defined on the affected physical architecture elements. The result of this study is the transformation occurs on function and meaning of space as an adaptive response from the owners. While the shape of space and buildings, generally preserved as an effort to maintain the bond of traditions and trust.
PEMAHAMAN FENOMENA PENGETAHUAN ARSITEKTUR KAMPUNG KOTA (KASUS : KAMPUNG BUSTAMAN BERBASIS KULINER) Budi Sudarwanto; Gagoek Hardiman; Agung Budi Sardjono
NALARs Vol 16, No 2 (2017): NALARs Volume 16 Nomor 2 Juli 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.16.2.145-154

Abstract

ABSTRAK.Kampung menjadi hambatan besar dalam proses modernisasi perkotaan di era globalisasi. 70 % area perkotaan di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah kampung. Kampung masih dipandang sebagai sisi negatif dan sebagai beban perkotaan. Fakta empiris menunjukan bahwa kampung kota melakukan kegiatan kehidupan sehari-hari secara mandiri. Kampung memiliki kekuatan lokal yang berbeda, masing-masing kampung menunjukan kekhususan yang dimiliki kampung. Secara umum, aspek sosial merupakan kekuatan lokal suatu kampung.Tulisan ini bertujuan untuk mencari pemahaman awal tentang kampung kota dalam dimensi ilmu arsitektur kota, melalui pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Analisa matriks antara keilmuan arsitektur dan konteks keberlanjutan kampung kota dipahami sebagai upaya pengembagan pengetahuan dini tentang keunikan dan kompleksitas kampung kota berbasis kuliner. Prosedur penelitian kualitatif digunakan dalam tahap-tahap kegiatan penelitian.Kampung Bustaman salah satu kampung kota yang mampu memberikan inspirasi gagasan/ide bagi kampung yang lain. Bustaman merupakan pengetahuan baru tentang arsitektur kampung di era kekinian, yang menunjukan kekuatan lokal yang dinamis dan sinergik. Kampung Bustaman menunjukan kelebihan dan kekurangan sebagai satu kampung kota pada umumnya. Kelebihan tersebut antara lain adalah potensial artefak dalam lingkungan kampung, kegiatan ekonomi lokal kuliner, keterbukaan sistem kekerabatan sosial, budaya masyarakat perkotaan kekinian, dan keterbukaan bagi pihak luar. Sedang kelemahannya adalah infrastruktur yang rentan, kondisi fisik lingkungan yang rendah, dan tingkat sosial ekonomi penghuni yang lemah. Kata kunci:Bustaman, Arsitektur, Kampung, Fenomena, Berkelanjutan. ABSTRACT.Kampung is a major obstacle in the process of urban modernization in the era of globalization. 70% of urban areas in developing countries such as Indonesia are home. Kampung still seen as a negative side and as an urban load. Empirical evidence shows that the hometown of the activities of daily life independently. Local villages have different strengths, each village to show the specificity owned by the village. In general, the social aspect is a local power a village.This paper aims to find the initial understanding of urban kampong in the dimensions of urban architecture, through a qualitative descriptive research approach. Matrix analysis between architectural science and the context of urban sustainability is understood as an effort to develop early knowledge about the uniqueness and complexity of culinary-based urban village. Qualitative research procedures are used in the stages of research activities.Kampung Bustaman one of the urban villages that is able to inspire ideas / ideas for other villages. Bustaman is a new knowledge of kampung architecture in the present era, which shows a dynamic and synergic local power. Kampung Bustaman shows advantages and disadvantages as a township in general. The advantages include potential artifacts in the village environment, culinary local economic activities, openness social kinship system, urban community culture and contemporary openness for outsiders. The weaknesses are the vulnerable infrastructure, the low physical condition of the environment, and the socio-economic level of the weak occupants. Keywords: Bustaman, architecture, kampong, phenomena, sustainability
PENGARUH MAIN ENTRANCE TERHADAP AKSESIBILITAS PENGUNJUNG RUMAH SAKIT Studi Kasus: Koridor Jl. Dr. Soetomo dan Jl. Kariadi Semarang Adelina Noor Rahmahana; Erni Setyowati; Gagoek Hardiman
NALARs Vol 12, No 2 (2013): Nalars Volume 12 Nomor 2 Juli 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.12.2.%p

Abstract

ABSTRAK. RSUP1 Dr.Kariadi Semarang berfungsi sebagai rumah sakit rujukan untuk wilayah Jawa Tengah. Lingkungan rumah sakit sebagai fasilitas publik, memberikan pelayanan kesehatan dan perawatan intensif bagi masyarakat. Jalan Kariadi dan Jalan Dr. Soetomo merupakan jalan utama yang dapat mengakses lingkungan RSUP1 Dr.Kariadi. Tahun 2010 terjadi peningkatan volume pelayanan kesehatan dan program fungsi yang dilakukan pihak rumah sakit. Oleh karena itu main entrance dibuat dengan sistem teluk (bay system) yang dapat menampung 2-3 mobil. Adanya main entrance di Jl. Kariadi menarik minat PKL untuk mendirikan tenda di jalur pedestrian. Sedangkan pada koridor Jalan Dr. Soetomo terdapat pangkalan taksi di sekitar main entrance untuk menunggu penumpang. Main entrance diduga mempengaruhi aksesibilitas pengunjung dalam menuju lingkungan rumah sakit. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh antara main entrance terhadap aksesibilitas pengunjung rumah sakit. Tidak terdapat perbedaan secara signifikan antara aksesibilitas pengunjung kelompok main entrance Jl. Dr. Soetomo dan Jl. Kariadi. Adanya penambahan fungsi pelayanan kesehatan akan meningkatkan jumlah pengunjung RSUP Dr. Kariadi yang keluar masuk pada main entrance. Kata kunci : Main entrance, aksesibilitas pengunjung, rumah sakit 1RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat ABSTRACT. RSUP1 Dr. Kariadi Semarang serves as a general hospital for the regional of Jawa Tengah. The hospital environment, as public facility, provides health care and intensive care for society. Kariadi Street and Dr.Soetomo Street are the major road that can access RSUP1 Dr.Kariadi environment. In year 2010, there was an increase volume of health services and function program that carried out by hospital. Therefore, main entrance is designed based on the bay system that could accommodate 2-3 cars. By the existence of main entrance on Kariadi Street, it could attract the street vendors to set up a tent on the pedestrian ways. On the otherhand, at Dr.Soetomo corridor, there are taxi stands around the main entrance to accomodate the passengers.Main entrance has been predicted has an influence the accessibility of visitors to the hospital environment. The result of this research is there are some influences and relations between main entrance to the hospital visitors’ accessibility. There are no significant differences between the visitors’ accessibility of main entrance group on Dr. Soetomo Street and Kariadi Street. There is an additional of health service function which will increase the number of visitors of Dr. Kariadi Hospital either in or out at the main entrance. Keywords: Main entrance, visitor accessibility, hospitals 
Kajian Multi Varian Faktor yang Berpengaruh terhadap Infiltrasi Air Tanah sebagai Dasar Penentuan Daerah Potensial Resapan Air Tanah Daniel Eko Aryanto; Gagoek Hardiman
Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Enviromental, and Learning Vol 14, No 1 (2017): Proceeding Biology Education Conference
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ground water is one of the most valuable and influential natural resources affecting human life. The groundwater recharge area is very important because its function is to maintain the balance and sustainability of groundwater. One of the most effective and efficient methods for determining the groundwater recharge potential area is with the geographic information system. The approach with geographic information system is done by overlapping thematic maps on the factors that affect to groundwater infiltration. Overlapping thematic maps on weighting and scoring their effects on groundwater recharge potential areas. This study aims to determine the factors that affect and the weight of its effect on the groundwater recharge with the study of the literature as a conservation material to support the sustainability of the groundwater. The data used is secondary data from literature review.
Method of Buildings Structural Vulnerability and Geometry Form Designs Evaluation Towards Earthquakes With The SVA Architectural Design Livian Teddy; Gagoek Hardiman; N. Nuroji; Sri Tudjono
Journal of Architectural Design and Urbanism Vol 2, No 2 (2020): May 2020
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Diponegoro, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1129.66 KB) | DOI: 10.14710/jadu.v2i2.7577

Abstract

In the process of architectural design, there is no special method employed by architects to evaluate buildings’ structural vulnerability and building geometry form designs towards earthquakes. Therefore, the alternative is adapting the existing method called SVA-Retrofit. JBDPA and Matsutaro Seki developed this method, and then the author adapted this method now called SVA Architectural Design. In the process of adaptation, deep literature review was conducted in order to acquire the adaptation results of the SVA-Architectural Design. These results can furthermore be an early prediction of structural vulnerability toward earthquakes that eventually leads to finding solutions for building designs or conducting detailed analysis done by structure experts.
Co-Authors Adelina Noor Rahmahana Adelina Noor Rahmahana, Adelina Noor Afgani, Jundi Jundullah Agung Budi Sardjono Agung Dwiyanto Agus Budi Purnomo Alin Pradita Agustin Annisa Dwi Hariyanti atik suprapti Bambang Adji Murtomo Bambang Setioko Bambang Supriyadi Budi Sudarwanto Daniel Eko Aryanto deni wibawanto Desti Rahmiati Dewandaru, Ardian Dewi Astuti dishy valdhisa Eddy Indarto Edward E. Pandelaki, Edward E. Edward Endrianto Pandelaki Erni Setyowati Fahmi Syarif Hidayat Fahmi Syarif Hidayat Fisa Savanti Hana Faza Surya Rusyda Hapsari Dewi Puspitorini Hariyanti, Annisa Dwi Harsritanto, Bangun I.R Heri Sugianto Heriyanto, Adi Heru Prayitno Imam Buchari Inavonna Inavonna Irina Mildawani Jantu, Mochamad Athar Jundi Jundullah Afgani June Ekawati Livian Teddy matien islami Meirta, Arnia Iga Mohammad Sahid Indraswara muhammad amanda Muhammad Nico Arinda Mutiara, Sony Nur Aini DA, Nur Aini Nuroji Nuroji nurul kusumaningrum Pangi Pangi, Pangi Pramono, Syaref Purwanto Purwanto Putra, Pandu Asmara Putriati, Dian R Siti Rukayah rahmi nur rizki, rahmi nur Ricky Kurnia, Franciskus Xaverius Yudhistira Rukayah, Raden Siti Rukhayah, R. Siti Satriya Wahyu Firmandhani Sri Tudjono Sri Yuliani Sri Yuliani sukawi sukawi Susi, Theresia Sutrisno, Herwin Suzanna Ratih Sari Syarif Hidayat Taqwim S, M Ainut titien murtini titien woro titin murtini, titin Tukiman Taruna Vania, Shabrina Adine Vincentia Reni Vitasurya Wahyu Setia Budi Wibowo, Putera Marhadika Wiwik Handayani Wiwik Setyaningsih Yashinta I.P. Hematang Yulita, Reza Alvi YUUSHIINA DINI HAPSARI, YUUSHIINA DINI Zahra Amany P, Zahra Amany