Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

REDESAIN ALAT PENCACAH PAKAN PADA PETERNAKAN UD. MUJUR DESA GAYAMAN, MOJOANYAR, KAB. MOJOKERTO Maula Nafi; Djoko Sulistyono; Robianto Robianto
Share : Journal of Service Learning Vol. 6 No. 1 (2020): FEBRUARY 2020
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.996 KB) | DOI: 10.9744/share.6.1.7-12

Abstract

Salah satu kegiatan pengabdian masyarakat yang sedang dikembangkan oleh Program Studi Teknik Mesin UNTAG Surabaya adalah redesain dari alat pencacah pakan pada peternakan sapi UD. Mujur, Desa Gayaman Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Ada tiga permasalahan utama yang ditemukan. Permasalahan pertama adalah mesin pencacah tidak mampu mencacah bahan pakan secara maksimal karena desain alat pencacah yang kurang ergonomis. Sehingga solusinya adalah dengan meredesain alat pencacah, terutama pada komponen pisau pencacah pakan. Permasalahan kedua adalah terdapat beberapa komponen pada mesin yang rusak dan harus diganti, sehingga solusinya dengan mengganti komponen penyaring dan v-belt. Penyaring yang terdahulu terlalu kecil ukurannya sehingga hasil cacahan sulit keluar, membuat terperangkap di dalam mesin. V-belt yang terdahulu sudah terlalu kendor sehingga tidak bisa memutar mesin pencacah dengan maksimal. Permasalahan ketiga yaitu kurangnya pengetahuan dan keterampilan pekerja tentang mesin pencacah pakan. Solusinya, diadakan diskusi dan penyuluhan untuk mengedukasi para pekerja tentang seluk beluk mesin pencacah pakan, mulai dari prinsip kerjanya hingga perawatan mesinnya. Secara umum, kegiatan berjalan dengan lancar, membuat produktivitas peternakan meningkat, terutama pada sektor penyediaan pakan dan manajemen pemberian pakan.One of the community service program that has been developed by department of mechanical engineering UNTAG Surabaya is the redesign of chopper machine for cattle fodder in the farm of UD. Mujur, Gayaman, Mojoanyar, Mojokerto. There were three problems found in the farm. The first one was the chopper machine cannot maximally chop the cattle fodder because of the design of the chopper component. Hence, the solution was to redesign the chopper component and the machine blade. The second problem was there were components that are damaged and should be replaced. The solution was to replace those components; filter and v-belt. The filter before had too small mesh so that the feed ingredient could not come out the machine. The new filter has the bigger mesh so that feed ingredient could come out the machine. The v-belt was replaced because the old one was too saggy so that the machine could not rotate clearly. The last problem was the workers’ knowledge and skills to operate the chopper machine was minimum. We created a group discussion and counseling to educate the workers about the chopper machine; the principle of work and the machine maintenance. Overall, the program succeed. It increased the productivity of the farm, especially in the cow feed and cattle fodder management.
Pengaruh Variasi Temperatur dan Reduksi Penampang pada Pembuatan Al-Abu Dasar Batubara terhadap Laju Keausan Nafi, Maula; Wahid, Ichlas
Jurnal Mesin Nusantara Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Mesin Nusantara
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jmn.v2i2.13933

Abstract

Proses deformasi akan mengakibatkan peningkatan kekuatan logam yang akan terjadi tergantung seberapa besar deformasi atau regangan yang akan diterima oleh benda kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi temperatur 150oC, 160oC, 170oC dan reduksi penampang 5%, 10%, 15% pada proses penempaan dan sebelum proses penempaan pada komposit Al 2xxx (piston bekas) paduan abu dasar batubara terhadap laju keausan dan strukturmikro. Hasil uji keausan dapat dilihat bahwa variasi temperatur dan reduksi penampang sangat berpengaruh terhadap ketahanan aus yakni dengan nilai laju keausan terendah pada sepesimen dengan variasi temperatur 170oC dan reduksi penampang 15% dengan hasil 0,004 x 10-6 mm3/mm, untuk strukturmikronya membuat ukuran butirnya semakin kecil yakni dengan ukuran diameter rata-rata butir terendah pada sepesimen dengan variasi temperatur 170oC dan reduksi penampang 15% dengan hasil 133,3 µm berbanding terbalik dengan sebelum proses penempaan dimana ketahanan ausnya sangat rendah dengan nilai laju keausan pada spesimen sangat tinggi dengan hasil 0,054 x 10-6 mm3/mm dan strukturmikronya membuat ukuran butir dengan hasil 257,56 µm. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar temperatur dan reduksi penampang pada proses penempaan aluminium 2xxx (piston bekas) paduan abu dasar batubara dapat meningkatkan sifat mekaniknya.
Analysis of the Effect of PWHT on the Corrosion Test of API 5L X65 Material in Submerged Arc Welding Kusminah, Imah Luluk; Anggara, Dika; Wardani, Dianita; Widodo, Eriek Wahyu Restu; Nafi, Maula; Handoko, Lukman; Djati, Anggoro Ludiro; Trianto, Ryo Andika
Journal of Mechanical Engineering, Science, and Innovation Vol 4, No 2 (2024): (October)
Publisher : Mechanical Engineering Department - Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jmesi.2024.v4i2.6556

Abstract

This research discusses the method of making distribution pipes using the Submerged Arc Welding (SAW) welding process, especially for pipes with spiral connections. The material used is API 5L X65. SAW pipes with spiral joints are more commonly used for low-pressure piping systems. However, in certain cases, the production of SAW pipes for Sour Service distribution requires special treatment. Sour Service pipes have a high level of corrosion and residual stress, so Post Weld Heat Treatment (PWHT) is required to prevent Hydrogen Induced Cracking (HIC). HIC occurs due to the absorption and accumulation of hydrogen gas in the metal, causing the formation and growth of cracks, which is also influenced by residual stress. PWHT is applied to reduce residual stress to reduce the risk of corrosion. PWHT is a process to change the structure of the weld metal by heating the metal at a certain temperature and time. This research shows that variations in PWHT temperature produce an average residual stress that is not much different with less difference than 2%, In corrosion testing with the HIC method shows crack evidence but is still satisfactory NACE MR0175 criteria for pipe PWHT temperature variation conditions
Analisa Kekerasan Rockwell dan Metalografi Hasil PWHT pada Pengelasan SMAW Baja ST41 dengan Variasi Temperatur dan Waktu Tahan Nafi, Maula; Sulistyono, Djoko; Mufti, Mohammad; Yulianto, Adam Eko; Ruseno, Dimas
MEKANIKA : Jurnal Teknik Mesin Vol 8 No 1 (2022): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1183.629 KB)

Abstract

Pada proses pengelasan bisa menyebabkan efek pemanasan setempat. Hal inilah yang menyebabkan material logam mengalami ekspansi termal ataupun penyusutan saat terjadi proses pendinginan. Dalam keadaan tersebut bisa menyebabkan perubahan mikrostruktur, tegangan sisa, perubahan kekerasan dan menyebabkan ketangguhan yang berbeda beda pada setiap material kontruksi. Adapun cara untuk memperbaikinya adalah dengan dilakukan Post Weld Heat Treatment selanjutnya di singkat PWHT. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pengaruh variasi temperatur dan waktu tahan PWHT terhadap struktur mikro pada hasil pengelasan material baja ST41, (2) Mengetahui pengaruh variasi temperatur dan waktu tahan PWHT terhadap kekerasan pada hasil pengelasan material baja ST41, (3) Mengetahui pengaruh PWHT terhadap kekerasan pada hasil pengelasan material baja ST41. Dalam penelitian ini digunakan material baja ST41. Menggunakan proses pengelasan Shielded Metal Arc Welding selanjutnya di singkat SMAW dengan elektroda E7018. Perlakuan panas setelah proses pengelasan menggunakan perlakuan panas annealing. Pada proses annealing ini diberikan variasi temperatur dan waktu tahan. Selanjutnya dilakukan pengujian rockwelI untuk mencari nilai kekerasan dan analisa mikrostruktur setelah dilakukan proses PWHT. Hasilnya adalah pada spesimen baja ST 41 tanpa proses PWHT menunjukkan nilai kekerasan pada logam induk 83,7 logam las 84,2 dan HAZ 86,7 sedangkan spesimen baja ST.41 dengan variasi temperature dan waktu tahan menunjukkan nilai kekerasan terendah di dapat dari temperatur 850 ºC dengan waktu tahan 90 menit yaitu dengan nilai kekerasan pada logam induk75,2 logam las 78,2 dan HAZ 80 . Hal ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa proses PWHT dapat menurunkan tingkat kekerasan material hasil pengelasan. Kata kunci: PWHT, SMAW, Annealing, kekerasan, rockwell B 1/16”, struktur mikro
PENGARUH PELAPISAN OLI, MINYAK BIMOLI DAN RESIN TERHADAP LAJU KOROSI BAJA ST 41 PADA LINGKUNGAN AIR LAUT, AIR SUMUR DAN H2SO4 Nafi, Maula; Mastuki, Mastuki; Prayoga, Indrajid; Setiawan, Anugrah Dwi
MEKANIKA : Jurnal Teknik Mesin Vol 9 No 1 (2023): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jm.v9i1.9461

Abstract

Korosi merupakan suatu proses alamiah, yang disebabkan karena logam berusaha untuk kembali pada bentuk aslinya. Proses korosi tidak dapat dihindari, maka logam yang terjadi proses korosi akan merugikan pemakainya sehingga dilakukan proses rekayasa supaya proses korosi dapat diperlambat. Pemakaian material logam dengan ketahanan korosi yang lebih baik merupakan salah satu pilihan yang bisa ditempuh.Sampel uji yang digunakan adalah baja ST 41. Sampel tersebut di potong dengan ukuran 5 mm, lebar 16 mm,dan tebal 16 mm sebanyak 9, sampel yang sudah dipotong dengan ukuran 5 mm,lebar 16 mm,tebal 16 mm selanjutnya dipanaskan menggunakan blender asetilin selama ±1 jam dengan suhu 3000C, 5000C dan 7000C. Sedangkan pada pelapisan Resin didapatkan hasil tertinggi didapatkan oleh larutan H2SO4 dengan nilai 609,3538 MPY, dan nilai terendah pada pengujian didapatkan oleh larutan Air Laut dengan nilai 599,2168 MPY.Kesimpulan laju korosi as baja st 41 lebih besar Karena H2SO4 lebih tinggi rata-rata dari perhitungan metode weight loss dipandingkan air laut di sebabkan oleh H2SO4 mengandung unsur pH basah di pandingkan air laut yang mengandung pH asam pH asam lebih cepat melakukan proses korosi.
ANALISA PENGARUH TEMPERATUR UDARA DAN TEMPERATUR BAHAN BAKAR TERHADAP PERFORMA MOTOR BAKAR Nafi, Maula; Samsuddin, Muhammad; Irawan, Firmansyah Putra
MEKANIKA : Jurnal Teknik Mesin Vol 9 No 1 (2023): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jm.v9i1.9463

Abstract

ABSTRAK Temperatur merupakan tingkatan panas dari kegiatan molekul di dalam atsmosfer, temperatur udara merupakan aspek yang dapat merubah kandungan dalam udara itu sendiri, sama halnya dengan temperatur bahan bakar yang dapat merubah kandungan maupun sifat dan karakter dalam bahan bakar itu sendiri. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan temperatur udara dan bahan bakar terhadap performa motor bakar itu sendiri, dengan cara mevariasikan temperatur udara dan bahan bakar dengan 3 temperatur udara yaitu 29˚C, 35˚C & 39˚C serta 3 temperatur bahan bakar yaitu 26˚C , 34˚C & 42˚C, dan jenis bahan bakar yang di gunakan adalah bensin dengan RON 90 alat uji yang di gunakan adalah motor Honda Blade 110CC di atas mesin dyno test. Dari pengujian ini di dapat hasil Daya konsumsi bahan bakar spesifik yang terbaik ada pada pada sampling A1 dengan daya 6,79 HP dengan konsumsi bahan bakar spesifik 0,119 Kg/Hp.jam untuk Temperatur udara 29˚C dengan temperatur bahan bakar 26˚C, dan Torsi terbesar pada samplng C1 sebesar 0.87 Kg.m untuk temperatur udara 26˚C dengan temperatur bahan bakar 39˚C sehingga menunjukkan hasil pembakaran terbaik pada performa motor bakar teresebut.
Rancang Ulang Mesin Perajang Pisang Yang Digunakan Pada Industri Rumah Tangga Di Desa Setro Sulistyorini, Elisa; Nafi, Maula; Martini, Ninik; Susanto, Dani; Pangestu, Angga Arya
MEKANIKA : Jurnal Teknik Mesin Vol 9 No 2 (2023): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jm.v9i2.10428

Abstract

Pisang merupakan salah satu sumber pangan yang melimpah dan pengolahannya menjadi produk olahan seperti pisang goreng atau keripik pisang telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Mesin perajang pisang memegang peranan penting dalam proses produksi tersebut, terutama dalam konteks industri rumah tangga. Dalam proses rancang ulang, keamanan pangan, dan efisiensi energi menjadi fokus utama guna memastikan mesin dapat dioperasikan dengan mudah dan aman oleh pengguna di lingkungan rumah tangga. Rancang ulang mesin perajang pisang ini memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan efisiensi produksi, kenyamanan pengguna. Inovasi ini memberikan dampak positif terhadap pengembangan industri rumah tangga dan mendukung perekonomian masyarakat lokal. Mesin perajang pisang ini digunakan pada UMKM keripik pisang yang ada di Desa Setro, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Sebelum menggunakan mesin perajang pisang ini, UMKM tersebut masih menggunakan sistem manual yang masih tradisional sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam produksi keripik pisang. Dengan alat perajang pisang ini, UMKM berhasil menngkatkan kapasitas produksinya. Hasil dari penelitian ini adalah proses perajangan pisang dengan hasil irisan bulat dengan memanjang menggunakan empat mata pisau. Kapasitas efektif dari mesin perajang adalah 80 kg/jam. Mesin perajang pisang ini memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi karena memiliki empat mata pisau dalam proses perajangan pisang. Kata kunci: Mesin Perajang, Pisang, Industri Rumah Tangga
PENGARUH TEMPERATUR PENEKANAN PANAS DAN REDUKSI KETEBALAN TERHADAP STABILITAS DIMENSI KOMPOSIT ALUMINIUM - ABU DASAR BATU BARA SETELAH PERLAKUAN PANAS T6 Seputro, Harjo; Nafi, Maula; Mastuki, Mastuki; Marzuki, Ismail; Hardianto, Dedik Saputro
MEKANIKA : Jurnal Teknik Mesin Vol 10 No 1 (2024): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jm.v10i1.11676

Abstract

ABSTRAK Penelitian mengenai kestabilan dimensi berbahan aluminium composite abu dasar batubara sangat penting dilakukan untuk mengetahui kelayakan suatu komponen. Tanpa kestabilan dimensi yang baik, maka sebuah komponen tidak akan mampu memenuhi standart mutu yang sudah ditetapkan. Adapun komponen dari bahan yang yang digunakan adalah Aluminium 6061, serbuk aluminium murni, Cairan HNO3, Magnesium, Serbuk Al2O3 ,dan serbuk abu dasar batubara (Buttom Ash yang kemudian dielectroless plating). selanjutnya bahan di cor dengan metode stir casting, stelah itu melewati proses homogenizing dan hot pressing dengan temperatur yang mana setiap temperatur akan dikombinasikan dengan 3 variasi reduksi 5 %, 10%, 15%. Setelah pelat jadi, pelat akan dipotong dengan proses pemesinan untuk membuat spesimen uji. Setelah itu spesimen uji akan melewati proses pengujian ukuran dengan metode Coordinat Measuring Machine (CMM) dan dilanjutkan dengan proses pemanasan T6, setelah proses perlakuan panas T6, spesimen uji akan kembali diuji kestabilan dimensinya dengan metode CMM, untuk mengetahui kestabilan dimensi setelah spesimen uji mendapat perlakuan panas T6. Kestabilan dimensi dapat diamati dari perubahan titik-titik yang diamati, sebuah titik koordinat bisa dikatakan stabil apabila tidak terjadi pergeseran lokasi pada titik tersebut Kata kunci: komposite, reduksi, temperatur, kestabilan dimensi, perlakuan panas T6, metode CMM, hot pressing
Analysis of T5 Heat Treatment Parameters on the Hardness and Microstructure of Aluminum-Silicon Alloy Nafi, Maula; Hartanti, Lusia Permata Sari; Aziz, Moh. Nor Ali; Wahid, Ichlas; Setiawan, Agung
Widya Teknik Vol. 24 No. 2 (2025): November
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/wt.v24i2.6108

Abstract

In alignment with the United Nations Sustainable Development Goal (SDG) 9 on Industry, Innovation, and Infrastructure, this study investigates methods to enhance the durability and sustainability of aluminum alloys in automotive applications, thereby reducing material waste and extending component life. Aluminum is widely used in automotive parts like engine pistons due to its beneficial properties, including lightweight, high formability, and excellent corrosion resistance. A key material in these applications is the Aluminum-Silicon (AlSi) alloy, which is known for its mechanical strength but also prone to gradual performance degradation under operational stress. Addressing this challenge, T5 heat treatment is applied to explore its impact on the alloy's microstructure and hardness, with the aim of enhancing resilience and extending the functional lifespan of automotive parts. The T5 heat treatment process involves three main stages: initial heating, sustained heating, and cooling. By exposing the AlSi alloy to varied temperatures of 240°C, 260°C, and 280°C, with a holding time of 30 minutes, this study evaluates how these temperature conditions influence the alloy's mechanical properties. The findings from Rockwell hardness testing reveal that at 240°C in SAE 40 oil at 750°C, the alloy reaches a hardness of 64.6 HRB. Similarly, at 260°C in air at room temperature, the hardness remains at 64.6 HRB, while at 280°C in water with a pH of 8 at 750°C, the hardness slightly decreases to 62.1 HRB. These results suggest that higher heating temperatures improve mechanical strength and significantly alter the microstructure of the AlSi alloy, with minor variations in hardness observed depending on cooling mediums. This study demonstrates that optimizing heat treatment can enhance both the mechanical properties and durability of AlSi alloys, contributing to the production of more resilient and sustainable automotive components in line with SDG 9 objectives.
Pengaruh Perlakuan Serat Dan Fraksi Serat Sisal (Agave Sisalana) Terhadap Kekuatan Tarik Pada Komposit Epoxy/ Serat Sisal Zainun, Zainun; Mufti, Moh; Wahid, Ichlas; Nafi, Maula
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol. 11 No. 1 (2025): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jm.v11i1.132394

Abstract

Industri penguatan struktur menghadapi tantangan yang besar yang berkaitan dengan penerapan konsep bangunan ramah lingkungan. Bangunan ramah lingkungan adalah bangunan yang aspek konstruksi, desain, dan operasinya didasarkan pada keamanan lingkungan dan alam sebagai tujuan utama. Sisal adalah salah satu serat alami yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur. Serat ini berasal dari serat kelopak daun tanaman sisal yang telah melalui proses pemisahan. Sisal termasuk dalam kategori serat alami yang dapat digunakan sebagai penguat dalam komposit. Kekuatan dan kekakuan serat alami dipengaruhi oleh kandungan selulosanya. Perlakuan dengan NaOH dapat meningkatkan kandungan selulosa pada serat dengan cara menghilangkan hemiselulosa dan lignin. Proses ini secara tidak langsung berdampak pada kekuatan tarik dan kekuatan lentur komposit serat alami. Pengujian tarik dilakukan pada spesimen untuk mengukur kekuatan mekanik komposit serat sisal sesuai dengan standar ASTM D-638. Metode VARI (Vacuum Assisted Resin Infusion) digunakan untuk mengurangi void atau cetakan yang terperangkap saat resin epoxy mengalir ke dalam spesimen atau cetakan. Metode VARI bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari variasi antara proses alkali NaOH 5% dan air PDAM dengan lama perendaman 1, 2 jam dan fraksi volume serat 15, 20%. Uji tarikan menunjukkan bahwa kekuatan tarik terbesar ditemukan pada komposit yang telah menjalani proses pengolahan serat perendaman alkali NaOH selama 2 jam, dan nilai tersebut adalah sekitar 45,2 MPa. Pengujian porositas dilakukan untuk mengetahui perbandingan volume pori dengan volume total suatu material. Nilai porositas yang tinggi menyebabkan ruang kosong dalam material tersebut akan semakin banyak sehingga terjadi penurunan kuat tekanan. Hasil uji porositas tertinggi pada variasi selama 2 jam dengan perendaman alkali-20% memiliki nilai tertinggi yaitu 15,11% dan terendah pada variasi selama 2 jam dengan perendaman air PDAM-15% memiliki nilai terendah yaitu 8,21%. Pengujian SEM (Scanning Electron Microscope) dilakukan sebagai penunjang bahwa variasi perendaman selama 2 jam dengan air PDAM-15% yang memiliki nilai terendah yaitu 34,8 Mpa dan variasi selama 2 jam dengan perendaman alkali-20% memiliki nilai tertinggi yaitu 45,2 Mpa. Kata kunci: Epoxy, Fraksi Volume, Lama perendaman, Perlakuan alkali, Serat sisal, uji Tarik, uji Porositas, uji SEM.