Claim Missing Document
Check
Articles

Pusat Rehabilitasi Sosial Anak Pelaku Kriminalitas di Kota Malang dengan Pendekatan Faktor Depresi Ayu Dyah Permatasari; Rinawati P Handajani; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.361 KB)

Abstract

Tingginya kriminalitas anak di Jawa Timur pada tahun 2013 seharusnya diimbangi denganpusat rehabilitasi sosial dengan pendekatan yang tepat. Hasil kajian yang telah dilakukan,menunjukkan adanya tingkat depresi pada LAPAS Anak Klas II Blitar, yang disebabkanoleh karena kurangnya privasi, kesesakan, suhu yang tinggi, kejenuhan karena kegiatanyang membosankan, kurangnya stimulasi intelektual seperti pendidikan yang minim dankebisingan. Maka pendekatan faktor depresi anak diperlukan pada perancangan pusatrehabilitasi sosial. Kota Malang sendiri dipilih dengan dasar kota Malang merupakan kotaterbesar ketiga di Jawa Timur dengan angka kriminal anak paling tinggi. Dalampendekatan faktor depresi dilakukan kajian pada elemen arsitektural yang bertujuanuntuk menghindari depresi anak baik disebabkan karena rindu terhadap keluarga,kejenuhan, kurangnya privasi, kebisingan, kesesakan, suhu tinggi maupun kurangnyastimulus intelektual, dengan cara mengendalikan lingkungan sekitar. Dengan metodekanonik dan metode pragmatis, perancangan ini diharapkan menghasilkan suaturancangan yang mempertimbangkan kriteria dalam pengawasan serta kemudahan aksesuntuk berbagai program bagi anak serta memaksimalkan ruang-ruang yang terkoneksidengan ruang luar agar anak tidak merasa dikurung.Kata kunci: rehabilitasi, depresi, kontrol
Konsep Tanggap Lingkungan pada Rancangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tambaklorok Semarang Valent Poetra Arroyan; Subhan Ramdlani; Sigmawan Tri Pamungkas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1952.149 KB)

Abstract

Pemerintah Kota Semarang menetapkan kebijakan yang menempatkan Semarang Utara sebagai kawasan pengembangan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), merupakan fasilitas utama perikanan tangkap, berada di kawasan Tambaklorok, kelurahan Tanjung Emas. Permasalahan yang terdapat pada tapak adalah kondisi lingkungan tapak yang relatif kurang baik, seperti terjadinya penurunan muka tanah (amblesan) 11 cm/tahun dan menyebabkan kawasan tersebut nyaris berada di bawah permukaan air laut (+0,50 mdpl) sehingga rentan terhadap banjir dan rob. Kondisi iklim dan cuaca yang memiliki karakteristik, seperti angin kencang, panas matahari menyengat, dan curah hujan yang relatif tinggi juga perlu ditanggapi agar tidak memberikan dampak negatif pada bangunan. Pendekatan rancangan bangunan tanggap lingkungan digunakan sebagai metode analisis, sesuai dengan parameter perancangan aspek bangunan, terutama pada aspek bentuk ruang, massa, dan tampilan, serta aspek struktur, konstruksi, dan material. Hasil rancangan bentuk ruang, massa, dan tampilan diharapkan tanggap terhadap kondisi angin, matahari, dan hujan, serta rancangan struktur, konstruksi, dan material diharapkan tanggap terhadap kondisi tanah yang rentan terhadap amblesan dan banjir, serta stabil dan tahan terhadap angin, matahari, dan kelembaban.Kata kunci: Tempat Pelelangan Ikan (TPI), tanggap lingkungan, Tambaklorok
Evaluasi Purna Huni Alun-Alun Kota Malang Dimas Perdana Hadi Wijaya; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.609 KB)

Abstract

Alun-alun kota Malang merupakan area vital di pusat kota Malang yang berfungsi sebagai pusat interaksi masyarakat. Ruang terbuka publik ini sekarang dimanfaatkan oleh berbagai lapisan masyarakat, hanya saja terdapat aktivitas yang tidak sesuai fungsi ruangnya serta tidak merata di seluruh zonanya. Evaluasi purna huni (EPH) ruang terbuka publik bertujuan untuk melihat permasalahan apa yang menyebabkan ketidaksesuaian antara aktivitas dengan fungsi ruangnya ditinjau dari aspek fungsional ruang dan teknis ruang. Penelitian ini menggunakan metode evaluatif dipadukan dengan teknik Place-centered Mapping, Person-centered Mapping serta Investigatif untuk pengumpulan datanya. Waktu penelitian dilakukan pada hari kerja, hari ibadah, hari libur dan hari libur dengan event tertentu serta dibagi pada pagi hari, siang hari, sore hari dan malam hari. Data tiap aspek dianalisa keterhubungan antara fungsional dan teknisnya. Hasil menunjukkan bahwa ketidak sesuaian antara aktivitas dengan fungsi ruangnya dikarenakan beberapa hal, diantaranya adalah terdapat aktivitas dalam aspek fungsional yang mengganggu aktivitas lain, fasilitas dan dimensi setting fisik ruang dalam faktor manusia yang kurang mendukung pola aktivitas pemanfaatan ruang tertentu, serta terdapatnya teknis setting fisik yang tidak memenuhi standar.   Kata kunci: ruang terbuka publik, EPH, alun-alun
Pengoptimalan Fungsi Ruang Terbuka Hijau Pada Komplek Hutan Kota Velodrom Sawojajar Salman Al Farisi; Subhan Ramdlani; Tito Haripradianto
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1042.549 KB)

Abstract

Pembangunan diberbagai sektor merusak fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan, penurunan kualitas lingkungan Kota tersebut terjadi akibat ketidakseimbangan antara lingkungan terbangun (binaan) dengan lingkungan perlindungan (alam) pada komplek hutan Kota Velodrom Sawojajar, sehingga kualitas lingkungan tidak terjaga seoptimal mungkin, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan fungsi RTH berdasarkan variabel dan kriteria pengoptimalan fungsi RTH. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis pada objek penelitian menggunakan pendekatan kebutuhan RTH yang dijadikan variabel penelitian dan kriteria dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, peraturan dan penelitian terdahulu yang terkait pengoptimalan fungsi RTH. Hasil dari analisis tersebut kemudian di sintesis sehingga menghasilkan rekomendasi awal berupa pengoptimalan pada ke empat variabel kebutuhan RTH yakni: daya dukung ekosistem yang mencangkup penggunaan lahan, pengaplikasian parking lot dan penerapan drainase, pengendalian gas berbahaya dari kendaraan bermotor yang mencangkup pohon penyerap timbel dan karbon dioksida, pengamanan lingkungan hidrologis yang mencangkup penerapan kenaikan sirkulasi dari permukaan tanah, pengaplikasian biopori dan variabel yang terakhir adalah pengendalian suhu udara yang mencangkup pengoptimalan patio dan pengaplikasian green roof. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi awal pada tiap variabel dan kriteria yang telah diolah pada tahap sebelumnya.Kata kunci: Ruang Terbuka Hijau, Hutan kota, Pengoptimalan ruang terbuka hijau.
Preferensi Masyarakat dalam Faktor Pengembangan Sumber Air Ngembul Tajinan Sebagai Destinasi Wisata Ariza Rufaidah; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.583 KB)

Abstract

ABSTRAKMasyarakat dan pemerintah Desa Randugading, Tajinan, yang berada di Kabupaten Malang, ingin mengembangkan sumber air yang terdapat di sana untuk dijadikan destinasi wisata. Sumber Air Ngembul merupakan salah satu suplai air bersih utama untuk Kabupaten Malang dan Kota Malang yang didistribusikan oleh PDAM. Masyarakat yang kerap memanfaatkan Sumber Air Ngembul sebagai tempat wisata memiliki peran penting dalam pengembangan wisata. Preferensi masyarakat yang juga berlaku sebagai pengguna utama dibutuhkan untuk mengetahui aspek-aspek yang menjadi prioritas dalam pengembangan wisata. Data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi lapangan, dan juga kuesioner. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan metode kualitatif yaitu eksplanatori untuk menjelaskan kondisi aktual lapangan untuk membantu analisis kuantitatif dengan analisis faktor. Dari analisis faktor terbentuklah tujuh faktor baru yang dapat menentukan elemen yang menjadi prioritas dalam pengembangan wisata Sumber Air Ngembul dilihat dari bobot kontribusinya. Faktor I Amenitas Utama Wisata, Faktor II Wisata Budaya, Faktor III Aksesibilitas di Dalam Tapak, Faktor IV Rekreasi Air, Faktor V Kelengkapan Elemen Lanskap, Faktor VI Wisata Ekologi/Alam, dan Faktor VII Amenitas Penunjang Wisata.Kata kunci: preferensi, wisata, analisis faktorABSTRACTThe community and government of Randugading Village, Tajinan, which is located in Malang Regency, wanted to develop the water springs there to be a tourism destination. Ngembul Water Source is one of the main clean water supply for Malang Regency and Malang City distributed by PDAM. People who often use the water source Ngembul as a tourism destination has an important role in tourism development. Preferences of the community, that also apply as a primary user are needed to know the priority aspects of tourism development. Data collected through interviews, field observations, and also questionnaires. The collected data was analyzed by qualitative method that is explanatory to explain the actual condition of the field to assist the quantitative analysis with factor analysis. From the factor analysis, seven new factors was formed that the factors can determine the elements that become a priority in the tourism development of Ngembul Water Resources seen from the weight of its contribution. Factor I is Primary Tourism Amenities, Factor II is Cultural Tourism, Factor III in Site Accessibility, Factor IV is Water Recreation, Factor V Completeness of Landscape Element, Factor VI Ecological / Nature Tourism, and Factor VII Supporting Tourism Amenities.Keywords: preference, tourism, factor analysis
Balai Budidaya Ikan Bandeng dan Udang Vanamei Sebagai Percontohan Budidaya Perikanan di Kecamatan Jabon, Sidoarjo Moch. Solichudin; Subhan Ramdlani; Bambang Yatnawijaya
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1617.643 KB)

Abstract

Jabon merupakan salah satu Kecamatan di Sidoarjo yang memiliki luas tambak terbesar dengan komoditi utama ikan bandeng dan udang vanamei. Pada 10 tahun terakhir perikanan di Jabon terus menurun dikarenakan rendahnya mutu genetik dan masyarakat masih menggunakan metode tradisional dalam budidaya. Metode yang penelitan adalah dengan observasi langsung pada kawasan budidaya perikanan di Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Observasi menghasilkan data mengenai kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas perikanan yang sampai saat ini belum ada di Kecamatan Jabon. Fasilitas yang dimaksud adalah fasilitas yang dapat mengedukasi para petani tambak yang nantinya akan berfungsi sebagai sarana percontohan budidaya perikanan khususnya budidaya ikan bandeng dan udang vanamei. Fasilitas berupa balai budidaya perikanan menjadi solusi kebutuhan petani tambak, karena balai budidaya perikanan merupakan sarana yang memiliki fasilitas yang mampu menunjang kebutuhan budidaya masyarakat setempat. Perancangan balai budidaya perikanan mengacu pada pedoman umum pemanfaatan kawasan konservasi perairan untuk kegiatan penelitian dan pendidikan yang diterbitkan oleh kementrian kelautan dan perikanan. Hasil perancangan balai budidaya perikanan difokuskan pada jenis budidaya ikan bandeng dan udang vanamei yang merupakan komoditi utama perikanan setempat.Kata kunci: Balai budidaya ikan bandeng dan udang vanamei, percontohan budidaya
Rumah Susun Sederhana dengan Penerapan Konsep Bioklimatik di Kecamatan Sukun Malang Dimas Septian Permana; Heru Sufianto; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (956.376 KB)

Abstract

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua setelah Surabaya, yang memilikipenduduk cukup besar dengan lahan permukiman yang terbatas. Rumah susunmerupakan salah satu alternatif solusi pembangunan rumah tinggal dengan lahanpermukiman terbatas. Keterbatasan lahan tersebut mengakibatkan lahan hijau menjadisasaran untuk dialih fungsikan sebagai lahan permukiman. Kurangnya lahan hijausuatu kota dapat mengakibatkan meningkatnya suhu udara serta kualitas udara yangburuk, maka dari itu diperlukan pembangunan dengan mengusung konsep arsitekturhijau. Desain Bioklimatik merupakan contoh dari arsitektur hijau yang dapatditerapkan pada bangunan rusun di daerah perkotaan. Tujuan penelitian ini adalahuntuk mencari kriteria-kriteria bioklimatik yang teapt dan diterapkan pada bangunanrusun agar mampu menanggapi kondisi iklim setempat. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yang berupa penelitian denganpendekatan studi kasus. Hasil yang dicapai adalah bangunan mampu mengoptimalkanpencahayaan dan penghawaan alami secara merata melalui orientasi, bentukbangunan, desain bukaan, vegetasi, pemilihan material, dan efisiensi penggunaan air.Diharapkan rusun dengan konsep bioklimatik mampu merespon terhadap iklimdengan perancangan secara pasif.Kata Kunci: rumah susun, tanggap iklim, bioklimatik
Konsep Agrowisata pada Lahan Konservasi Studi Kasus: Lahan Buah Condet, Jakarta Timur Faudina Faradilla Nanda; Lisa Dwi Wulandari; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.745 KB)

Abstract

Jakarta sebagai destinasi wisata di Indonesia yang menerapkan berbagai jenis wisata yaitu wisata budaya, wisata sejarah dan wisata alam. Contoh wisata alam di Jakarta adalah Taman Wisata Alam Mangrove Angke dan isu pengembangan potensi Sungai Ciliwung sebagai destinasi wisata berbasis alam. Salah satu segmen yang merupakan lahan konservasi di Daerah Aliran Sungai adalah Lahan Buah Condet, Jakarta Timur. Lahan Buah Condet adalah satu-satunya kantong pertanian yang tersisa dari luas Condet yang ditetapkan pada SK Gubernur DCI Jakarta No.DIV-1511/E/74 dan kegiatan perlindungan sungai khususnya bagian sempadan seperti dalam Pasal 20 Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2011. Potensi tapak berupa kontur topografi tapak datar, tanaman endemik khas dominan yaitu Salak dan Duku Condet. Adanya Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 646 Tahun 2016, mendorong pengembangan Lahan Buah Condet sebagai destinasi wisata serta kawasan agrowisata di Jakarta Timur. Permasalahan dalam pengembangan agrowisata adalah lahan perkebunan terbatas, mudah banjir, akses menuju perkebunan di area perumahan warga dan pemanfaatan pola ruang kurang terawat, dikhawatirkan menimbulkan kerusakan pada lahan. Melalui studi pustaka dan studi terdahulu ditemukan beberapa variabel penelitian. Dengan menggabungkan variabel agrowisata, konservasi, serta memperhatikan potensi-potensi lahan, didapatkan solusi konsep agrowisata berupa zonasi, atraksi, aksesibilitas dan fasilitas pada lahan konservasi khususnya Lahan Buah Condet.Kata kunci: agrowisata, konservasi
Bangunan Industri Pengalengan Asparagus dengan Konsep Industri Berwawasan Lingkungan Di Kota Batu Alam Labda Pratangga; Subhan Ramdlani; Damayanti Asikin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan industri pengalengan asparagus di Kota Batu adalah bangunan industri yang masih belum sesuai dengan undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang perindustrian, maka dari itu perlu perancangan kembali agar bangunan tersebut dapat sesuai dengan peraturan pemerintah. Tujuan dari perancangan kembali bangunan industri pengalengan asparagus dengan konsep industri berwawasan lingkungan ini untuk menghasilkan rancangan bangunan industri yang dapat mengurangi dampak lingkungan bangunan industri. Perancangan kembali menggunakan metode deskriptif evaluatif dan metode programatik. Bangunan industri berwawasan lingkungan adalah bangunan industri yang dapat memenuhi 5 aspek. Pada konsep industri berwawasan lingkungan terdapat 3 aspek yang dapat diselesaikan secara arsitektural, yaitu aspek pencemaran industri, tata guna lahan dan lingkungan. Aspek pencemaran industri membahas tentang sistem pengolahan limbah pada bangunan industri. Aspek tata guna lahan membahas kesesuaian lokasi bangunan industri tersebut didirikan dengan peraturan pemerintah. Dan yang terakhir aspek lingkungan adalah kemampuan bangunan industri untuk merespon lingkungan di sekitarnya.Kata kunci: bangunan industri, berwawasan lingkungan
Kualitas Visual Koridor Jalan Berdasarkan Persepsi Masyarakat Nehemia Yosefin; Subhan Ramdlani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 9, No 4 (2021)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Madiun menjalankan berbagai program penataan kota guna memperbaiki citra kotanya. Program penataan yang plaing siginifikan terasa saat ini ada pada koridor Jalan Pahlawan, Kota Madiun. Tentuk penataan seperti itu akan berpengaruh terhadap kualitas visual kawasan dalam berbagai aspek. Dalam penelitian yang telah dilakukan, terdapat empat faktor pembentuk kualitas visual di koridor Jalan Pahlawan tersebut, yaitu Faktor Atraktif, Faktor Proporsionalitas, Faktor Akomodasi Visual dan Faktor Keselarasan
Co-Authors Adisty Yoeliandri Putri Adrian Thesza Permana Agung Murti Nugroho Ahmad Alan Cesar Ainy Muyassaroh Alam Labda Pratangga Alfa Septy Kristyarini Ali Soekirno Ali Soekirno Ali Soekirno Anggi Delizvi Anggraeni Anindya Rizki Rahmania Anita Galuh Yuniar Kusumastuti Arini Anggreini Ariza Rufaidah Ary Dedy Putranto Ayu Dyah Permatasari Bagyo Yanuwiadi Balqis, Devina Bambang Supriyono Bambang Yatnawijaya Bambang Yatnawijaya S. Brian Basundara Tjokrowijanto Chairil Budiarto Amiuza Christian Egeune Hargianto Damayanti Asikin Damayanti Asikin Debri Haryndia Putri Dessy Anggraini Devi Ariani Putri Dimas Perdana Hadi Wijaya Dimas Septian Permana Dwi Murtining Etty Edi Hari Purwono Fatichatul Izzah Dwi Lestari Fatma Zahrotun Nisa' Faudina Faradilla Nanda Firman Akbar Fitri Miftahus Syafaah Fitriana, Dhanar Dwi Gesvi Rizkitachika Praramadhanti Gualdi, Reynaldo Harsuko Riniwati Herry Santosa Heru Sufianto Ibnu Widodo Indah Ciptaning Widi Indyah Martiningrum Jenny Ernawati Kadek Bagas Setia Pratama Knasatra Saraswati Lisa Dwi W Lisa Dwi Wulandari Lisa Dwi Wulandari M. Satya Adhitama M. Satya Adhitama Mangku Purnomo Mey Puspita Sari Moch. Solichudin Mochammad Najib Mochammad Najib Muhammad Rizal Fahim Muhammad Satya Adhitama Nehemia Yosefin Novi Sunu Sri Giriwati Novi Sunu Sri Giriwati Nur'izzah, Nadhilah Nurachmad Sujudwijono Praramadhanti, Gesvi Rizkitachika Priska Annastasya A.K. Wardhani Rendy Utama Reza Prasetyo Tinumbia Ridjal, Abraham Mohammad Rinawati Pudji Handajani Robbani, Ananda Yusron Runi Asmaranto Salma Safira Putri Salma Yusra Nandia Salman Al Farisi Shabrina Ghaisani Sigmawan Tri Pamungkas Sofyan Surya Atmaja Sonia Pristika Widodo Sugiarto Syuaibah, Aulia Rachmah Thahta Firmanila Tito Haripradianto Triandriani Mustikawati Turningtyas Turningtyas Turningtyas Turningtyas Valent Poetra Arroyan Winda Ratnasari Wisnu Hanggara Yuzril Ihzha Mahendra Zaqiyul Fuad Zati Ulwa Lina Fadia Zhafira, Hana Anisah