Claim Missing Document
Check
Articles

Deskripsi Metakognisi Ditinjau dari Tipe Kepribadian Rational dan Artisan Rini Puji Astuti; Mohamad Aminudin; Hevy Risqi Maharani
JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA Vol 2, No 2: November 2018-April 2019
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/kontinu.2.2.98-121

Abstract

Kemampuan metakognisi sangat penting dimiliki siswa. Kemampuan metakognisi berhubungan dengan kontrol diri seseorang yang erat kaitannya dengan tipe kepribadian. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan metakognisi siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari tipe kepribadian rational dan artisan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif yang dilaksanakan di kelas XI IPA 1 MA Negeri 2 Kota Semarang dengan 4 sampel terpilih dari 33 siswa yang diberi angket tipe kepribadian dengan hasil 5 siswa artisan dan 4 siswa rational. Menggunakan metode purposive sampling dipilih 2 siswa bertipe kepribadian  rational dan 2 siswa bertipe kepribadian artisan. Instrumen yang digunakan adalah angket tipe kepribadian, tes kemampuan metakognisi, think aloud, dan wawancara.  Hasil penelitian ini menunjukkan, siswa bertipe kepribadian rational mampu memenuhi setiap indikator pada kemampuan metakognisi, yaitu membaca, pemahaman, analisis, ekplorasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pemeriksaan dengan sangat baik. Selain itu, siswa bertipe kepribadian artisan mampu memenuhi indikator kemampuan metakognisi pada indikator membaca dan pemahaman, tetapi siswa mengalami kesulitan dalam melakukan analisis, perencanaan, dan pemecahan masalah yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan saat memecahkan masalah dan melewatkan indikator eksplorasi.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI KELILING DAN LUAS PERSEGI PANJANG DENGAN METODE POWER TEACHING Nila Ubaidah, Hevy Risqi Maharani
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Publisher : Prodi PGSD FKIP Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/pendas.2.1.09-22

Abstract

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar telah berkembang pesat, baik materi maupun kegunaannya. Pendidikan matematika diharapkan mampu menumbuh kembangkan kemampuan dan membentuk pribadi peserta didik dalam menyampaikan pelajari berbagai ilmu pengetahuan. Berhasilnya suatu pendidikan tidak lepas dari kegiatan belajar mengajar di sekolah, peran guru dalam melaksanakan pengajaran sangat menentukan berhasil tidaknya suatu pendidikan. Guru diharapkan dapat memilih salah satu metode pembelajaran yang juga merupakan fokus kajian penelitian ini adalah power taeching.Penelitian ini mengkaji sebagai berikut. (1) bagaimana menerapkan langkah-langkah metode power teaching dalam pembelajaran matematika yang dapat meningkatkan kemampuan peserta didik memahami materi keliling dan luas persegi panjang? (2) Apakah pendekatan power teaching dalam pembelajaran matematika efektif digunakan untuk mengajarkan materi keliling dan luas persegi panjang? Untuk menjawab masalah ini, penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian tindakan kelas serta dilaksanakan pada peserta didik kelas III SD N 1 Bulak Kecamatan Rowosari Kabupaten Kendal. Penelitian ini menggunakan observasi, angket, hasil tes belajar sebagai instrumen dalam pengumpulan data.Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) penerapan langkah-langkah metode power teaching dalam pembelajaran matematika dapat membantu peserta didik memahami materi keliling dan luas persegi panjang. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik. Pada siklus I, rata-rata hasil yang dicapai yaitu 68, 43. Pada siklus II, rata-rata hasil belajar yang dicapai yaitu 72,31. Rata-rata ketuntasan hasil belajar peserta didik secara klasikal pada siklus I yaitu 66,67% dan pada siklus II yaitu 86,67%. Rata-rata kinerja guru pada siklus I sebesar 2,65 dan pada siklus II sebesar 3,35 juga mengalami peningkatan sebesar 0,7. Rata-rata kinerja peserta didik pada siklus I sebesar 2,7 dan pada siklus II sebesar 3,2. (2) Karena kinerja guru dan kinerja peserta didik, aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran termasuk dalam kategori efektif, respon peserta didik terhadap pembelajaran adalah positip dan ketuntasan secara klasikal tercapai maka pendekatan power teaching efektif digunakan untuk mengajarkan materi keliling dan luas persegi panjang.Berdasarkan temuan penelitian ini, diberikan beberapa saran sebagai berikut; (1) bagi guru mata pelajaran matematika agar menerapkan metode power taching pada materi keliling dan luas persegi panjang yang dapat meningkatkan hasil belajar matematika dan aktivitas siswa. (2) Guru hendaknya menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan, dialogis dan demokratis.
Pengembangan Kemahiran Pengajaran Matematika bagi Guru Sekolah Dasar di Gugus Indraprasta Kecamatan Semarang Tengah Mochamad Abdul Basir; Imam Kusmaryono; Hevy Risqi Maharani; Nila Ubaidah
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 12, No 2 (2021): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v12i2.3607

Abstract

Guru Sekolah Dasar merupakan guru kelas yang dituntut menguasai banyak mata pelajaran. Oleh karena itu tidak dipungkiri bahwa penguasaan pengetahuan beberapa mata pelajaran menjadi tidak maksimal dan berpotensi terjadi kesalahan atau miskonsepsi dalam pembelajaran matematika. Ada indikasi bahwa guru Sekolah Dasar kurang menguasai materi dan kurang mahir dalam pembelajaran matematika. Ketidakmahiran dalam pembelajaran Matematika menjadi faktor kelemahan guru dan menghambat tujuan pembelajaran, serta mempengaruhi disposisi siswa terhadap Matematika. Untuk itu, perlu diselenggarakan pelatihan bagi guru sekolah dasar di Gugus Indraprasta Kecamatan Semarang Tengah. Pelaksanaan kegiatan pengabdian melalui beberapa tahapan diantaranya survey, diskusi, workshop, dan angket. Hasil survey menunjukkan bahwa 85% guru menjawab tidak sesuai konsep pembelajaran, 10% guru tidak dapat menjelaskan konsep pembelajaran, dan 5% menjawab benar sesuai konsep pembelajaran. Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi melalui angket dengan hasil 95% peserta menyatakan kegiatan workshop sangat bermanfaat dan 5% peserta menyatakan bermanfaat bagi pengembangan dan peningkatan professional guru. Kegiatan pengembangan kemahiran mengajar ini merupakan kegiatan pengembangan profesional yang efektif dan terstruktur dengan tujuan perubahan pada pengetahuan dan praktik baik guru dalam pembelajaran matematika tingkat sekolah dasar.
KONSEPSI AWAL SISWA SMP TENTANG KUBUS Hevy Risqi Maharani; Nila Ubaidah; Mohamad Aminudin
Jurnal Pendidikan Matematika (JPM) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Pendidikan Matematika (JPM)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.76 KB) | DOI: 10.33474/jpm.v3i2.621

Abstract

Konsepsi merupakan pemahaman suatu konsep tertentu yang dipahami oleh siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan konsepsi awal siswa mengenai definisi kubus. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah siswa SMPN 27 Semarang yang berjumlah 36 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki banyak konsepsi awal yang berbeda-beda mengenai definisi kubus. konsepsi awal siswa didapatkan dari pengalaman sebelumnya. Konsepsi awal siswa tentang definisi kubus ditunjukkan dengan menyebutkan ciri-ciri kubus yaitu bangun ruang yang memiliki volume, yang dibentuk oleh 6 buah persegi. Selain itu, Kubus adalah bangun ruang yang memiliki 6 sisi, 12 rusuk, dan 8 titik sudut.
Analisis Tingkat Kemampuan Berpikir Kreatif Materi Trigonometri Narita Fifi Zulaikha; Hevy Risqi Maharani; Mochamad Abdul Basir
Buana Matematika : Jurnal Ilmiah Matematika dan Pendidikan Matematika Vol 10 No 2 (2020)
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/buanamatematika.v10i2.2717

Abstract

Kemampuan berpikir kreatif yakni suatu kemampuan yang terdapat di siswa. Dengan berpikir.kreatif siswa diajarkan untuk bagaimana dapat menemukan penyelesaian dengan berbagai ide serta berbagai jawaban. Hasil kemampuan berpikir kreatif di SMA 1 Bae Kudus materi trigonometri bervariatif Tujuan penelitian ini mendeskripsikan tingkat kemampuan berpikir secara kreatif yang dimiliki siswa terhadap materi trigonometri. Penelitian ini mengacu dengan 3 indikator yakni indikator kefasihan, indikator fleksibilitas, serta indikator kebaruan. Jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif. Objek di penelitian ini yakni bangunan menara kudus, materi.trigonometri, tes kemampuan/berpikir kreatif, pedoman wawancara. Sedangkan subjek penelitian yaitu 2 siswa dalam kemampuan matematika awal tinggi, 2 siswa di kemampuan matematika sedang, serta 2 siswa kategori kemampuan matematika rendah. Pengambilan subjek berdasarkan teknik purposive sampling. Sedangkan metode pengumpulan data dengaan tes kemampuan berpikir kreatif, serta wawancara. Teknik analisis data yaitu: (1) mereduksi data, (2) menyajikan data. (3) menarik kesimpulan. Kemudian hasil penelitian adalah siswa yang kemampuan matematika tinggi mempunyai tingkatan kemampuan sangat kreatif, siswa yang kemampuan matematika sedang pada tingkatan kreatif, sedangkan siswa yang kemampuan matematika rendah di tingkat kurang kreatif serta tidak kreatif. Siswa yang mempunyai perbedaan tingkatan kemampuan berpikir kreatif disebabkan oleh pengalaman belajar, dan motivasi belajar mereka yang berbeda.
PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP PENGGUNAAN APLIKASI GOOGLE MEET DAN GOOGLE FORM DI MASA PANDEMI Hevy Risqi Maharani; Mohamad Aminudin; Kisfatul Ummamah
Refleksi Edukatika : Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol 12, No 2 (2022): Refleksi Edukatika : Jurnal Ilmiah Kependidikan (Juni 2022)
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/re.v12i2.6730

Abstract

The purpose of this study is to describe students' perceptions of the use of Google Meet and Google Form.The research method used is descriptive using a survey method. Purposive sampling was used as a data collection technique. Data collection was carried out online using a questionnaire instrument and interviews with a sample of 34 students of the S1 Mathematics Education Study Program FKIP Unissula who used the Google Meet and Google Form applications when conducting lectures on algebra courses. The data collection technique is using Google Form, then data collection is carried out using the WhatsApp application using an unstructured interview instrument.The results showed that students' perceptions of the use of Google Meet and Google Form were classified as good criteria. This is because there are still obstacles in both applications. The constraint of the Google Meet application is the signal factor, an unstable signal will make users automatically leave Google Meet, while the problem with Google Form itself is the absence of math equation facilities. The hope is that there will be developments in the Google Meet and Google Form applications so that they can provide more comfort and convenience for their users.
Pengembangan Profesionalisme Guru Melalui Pelatihan Komik Digital dengan Canva for Education Hevy Risqi Maharani; Nila Ubaidah; Mochamad Abdul Basir; Dyana Wijayanti; Imam Kusmaryono; Mohamad Aminudin
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 3 (2022): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v6i3.10084

Abstract

The purpose of the service activity is to provide insight and improve the professionalism of teachers in Central Java in making interesting and interactive teaching materials for students, especially in making digital comics with the Canva for Education application. In general, the difficulties experienced by teachers in making digital comics are how to make comic designs easy and attractive. The Canva for Education application is one application that can be used to overcome these problems. Teachers can create digital comics using a wide selection of available templates. The implementation of this service is carried out online using Zoom Meeting and Google Classroom. The training was attended by approximately 100 participants from various regions in Central Java. The final result of the training activity is that teachers can create digital comics published on social media Instagram. It is intended that the results of digital comics that have been made by teachers can be useful for the general public, especially students who get related material.
Design of creative thinking test in geometry based on information processing taxonomy model Hevy Risqi Maharani; Y L Sukestiyarno; St. Budi Waluya; Mulyono Mulyono
Beta: Jurnal Tadris Matematika Vol. 11 No. 2 (2018): Beta November
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/betajtm.v11i2.180

Abstract

[English]: This paper describes how to develop a valid and reliable instrument for geometric creative thinking test based on the information processing taxonomy model. Using this model, geometry test can be classified in the level of creative thinking based on the information processing process of the mathematical knowledge they already have to solve problems according to the criteria at each hierarchical level. The development of the test instrument refers to Beyers (2011). A quantitative method was used to validate instruments through experts validation and instrument validation. The results showed that there was five geometry test that can be used to describe the student's creative thinking process at a different hierarchical level based on the information processing taxonomy. The results of this study can be a reference for teachers and other researchers to design mathematical test by paying attention to the hierarchical level of student's thinking abilities so that students with different abilities can solve problems which refer to their abilities. Keywords: Creative thinking,Geometry, Information processing taxonomy, Test design [Bahasa]: Artikel ini memaparkan tentang bagaimana menghasilkan instrumen yang valid dan reliabel untuk kemampuan berpikir kreatif geometris berdasarkan model taksonomi pemrosesan informasi. Dengan menggunakan model ini, soal geometri dapat diklasifikasikan dalam tingkatan berpikir kreatif siswa berdasarkan proses pengolahan informasi dari pengetahuan matematika yang telah mereka miliki untuk menyelesaikan masalah sesuai batas kriteria pada setiap tingkatannya. Pengembangan instrumen tes mengikuti langkah Beyers (2011). Metode kuantitatif digunakan untuk memvalidasi instrumen soal yang melalui tahap validasi ahli dan validasi instrumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima butir soal geometri yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa pada tingkatan hierarki yang berbeda berdasarkan model taksonomi pemrosesan informasi. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk guru maupun para peneliti lain untuk menyusun soal matematika dengan memperhatikan tingkatan hierarki kemampuan berpikir siswa agar siswa dengan berbagai kemampuan yang berbeda dapat mengerjakan soal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Kata kunci: Berpikir kreatif, Geometri, Taksonomi pemrosesan informasi, Desain tes
The importance of mathematical disposition and procedural-conceptual knowledge for elementary school teachers Imam Kusmaryono; Hevy Risqi Maharani; Kartinah Kartinah
Premiere Educandum : Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/pe.v12i2.12392

Abstract

The success of learning mathematics in elementary schools is strongly influenced by the level of mathematical disposition, procedural knowledge, and conceptual knowledge of a teacher. This study follows an explanatory sequential design with the objectives of (1) investigating the effect of mathematical disposition on elementary school teachers' mathematical knowledge; and (2) describing the relationship between mathematical disposition, procedural knowledge, and conceptual knowledge in the formation of teachers' mathematical knowledge in problem-solving learning in elementary schools. Data collection through tests, questionnaires, and interviews. The test and questionnaire data were analyzed through linear regression statistical tests. Interview data were analyzed descriptively. Test the validity of interview data through triangulation of sources and theories. The results showed an effect of the level of mathematical disposition on mathematical knowledge (procedural and conceptual knowledge). Teachers with a high level of disposition have high procedural and conceptual knowledge. Meanwhile, teachers with low  disposition level have lower procedural and conceptual knowledge. A positive mathematical disposition is a relationship between mathematical disposition procedural knowledge, and conceptual knowledge. It has implications for the formation of mathematical knowledge (procedural and conceptual knowledge) of a teacher in problem-solving learning.  Also, the mathematical disposition is a prerequisite that supports the formation of mathematical knowledge (procedural and conceptual knowledge).
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH TRIGONOMETRI BERDASAR PROSEDUR NEWMAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF GENDER Antok Ferdiyanto; Imam Kusmaryono; Hevy Risqi Maharani
Jurnal Pendidikan Sultan Agung Vol 1, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.693 KB) | DOI: 10.30659/jp-sa.v1i3.17661

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Tujuan penelitian untuk mengetahui persentase tingkat kesalahan siswa di tiap kriteria Newman ditinjau dari perspektif gender dan menemukan faktor-faktor yang menjadi penyebab pada segitiga siku-siku, siswa melakukan kesalahan saat menjawab soal perbandingan trigonometri pada prosedur Newman ditinjau dari perspektif gender. Instrumen yang digunakan berupa tes uraian dan wawancara serta lembar observasi guna memvalidasi hasil tes uraian ketika wawancara berlangsung. Instrumen tes uraian berupa soal nilai perbandingan sudut trigonometri pada segitiga siku-siku. Analisis jawaban soal tes menggunakan prosedur Newman dengan memperhatikan kelima langkahnya yang terdiri dari kesalahan membaca, kesalahan memahami, kesalahan transformasi, kesalahan keterampilan prosedur, kesalahan penulisan jawaban. Berdasarkan hasil analisis serta pembahasan kesimpulan bahwa dari 28 siswa kelas XI MIPA VI terdapat sebanyak 5 orang siswa laki-laki paling sering melakukan kesalahan pada kriteria kesalahan memahami, sedangkan syarat kesalahan penulisan jawaban adalah dimana 5 siswa perempuan melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan laki-laki disebabkan karena terburu-buru dalam membaca soal sehingga ceroboh dalam pengerjaannya sedangkan kesalahan perempuan disebabkan kurang teliti yang menyebabkan penulisan hasil kurang kurang disederhanakan