Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Perspektif Hadis Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 1, No 2 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i2.1802

Abstract

Lingkungan adalah semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan hewan. Sedangkan lingkungan hidup adalah segala sesuatu yang berada di sekeliling makhluk hidup (organisme) yang mempunyai pengaruh timbal balik terhadap  makhluk hidup tersebut. Upaya pelestarian lingkungan artinya menjaga keberadaan lingkungan tetap selama-lamanya, kekal tidak berubah. Dengan melakukan perbuatan sewenang-wenang terhadap lingkungan dengan cara mengeksploitasi tanpa meperhatikan akibatnya, jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Ketidakstabilan keadaan alam, bencana dan musibah yang terjadi di alam ini, karena disebabkan oleh ulah tangan manusia. Pengelolaan lingkungan ini bertujuan demi tercapainya keselarasan hubungan antara manusia dengan lingkungan hidup. Keselarasan dalam ajaran Islam mencakup empat hal, yaitu: keselarasan dengan Tuhan, keselarasan dengan masyarakat, keselarasan dengan lingkungan alam dan keselarasan dengan diri sendiri. Upaya pelestarian lingkungan hidup, ini mendapat perhatian serius dari Nabi saw. seperti hadis tentang menghidupkan lahan yang mati, menanam pohon (reboisasi) dan hadis tentang larangan membuang hajat sembarangan. Pesan-pesan spiritual Nabi saw, tersebut menyadarkan kepada umatnya  untuk selalu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
REREADING HADITH OF MAHRAM AND WOMEN’S MOBILITY IN INDONESIAN CONTEXT Nikmatullah, Nikmatullah; Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.28252

Abstract

The differences in Muslim understanding of mahram impact women’s mobility in the public sphere. This study aims to map the diversity of interpretations on mahram hadith among Indonesian Muslims viewed from the interpretation of arguments and their influence on women’s lives. Through qualitative research, the data was obtained from online media, which was strengthened by interviews, and analyzed by using content analysis. The study results show that mahram is understood textually and contextually with three categories, namely family mahram, which impacts prohibitions, restrictions on women outside the home, and restraint on women in public spaces. Whereas mahram, as a friend and community, functions as a support system for protection for women, which is supported by the state’s security system, affecting women’s freedom in travel and public spaces. The arguments influencing this understanding are different arguments, interpretations, schools of thought, and individual experiences. In the Indonesian context, progressive ulemas reinterpret mahram traditions from personal protection to communal and state protection through three methods, namely reciprocal interpretation, considering context, and using maqashid sharia. The understanding of mahram is not only related to protecting women while traveling but extends to all women’s activities in the public sphere, including worship. Thus, the issue of mahram in the Indonesian context is inseparable from religious, social, cultural, and political discourse.[Perbedaan  pemahaman umat Islam  tentang mahram berdampak pada mobilitas perempuan di ruang publik. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan keberagaman penafsiran hadis mahram di kalangan umat Islam Indonesia dilihat dari penafsiran dalil dan pengaruhnya terhadap kehidupan perempuan. Melalui penelitian kualitatif, data diperoleh dari media daring yang diperkuat dengan wawancara, dan dianalisis dengan menggunakan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahram dipahami secara tekstual dan kontekstual dengan tiga kategori, yaitu mahram keluarga yang berdampak pada larangan, pembatasan bagi perempuan di luar rumah, dan pengekangan bagi perempuan di ruang publik. Sedangkan mahram sebagai sahabat dan masyarakat berfungsi sebagai sistem pendukung perlindungan bagi perempuan yang didukung oleh sistem keamanan negara, sehingga memengaruhi kebebasan perempuan dalam bepergian dan ruang publik. Dalil yang memengaruhi pemahaman tersebut adalah perbedaan argumen, penafsiran, mazhab pemikiran, dan pengalaman individu. Dalam konteks Indonesia, ulama progresif menafsirkan kembali tradisi mahram dari perlindungan pribadi menjadi perlindungan komunal dan negara melalui tiga metode, yaitu penafsiran resiprokal, mempertimbangkan konteks, dan menggunakan maqashid syariah. Pemahaman tentang mahram tidak hanya terkait dengan perlindungan terhadap perempuan saat bepergian, tetapi meluas ke seluruh aktivitas perempuan di ruang publik, termasuk beribadah. Dengan demikian, persoalan mahram dalam konteks Indonesia tidak dapat dipisahkan dari wacana keagamaan, sosial, budaya, dan politik.]
Periwayatan Hadis Bi Al-Lafzi dan Bi Al-Ma'na Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 1, No 1 (2015): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v1i1.1231

Abstract

Abstract Often found in the books of hadith there are differences in the editorial of honor a tradition regarding the same issue. It due to the existence of hadith narration conducted its meaning, not based on the same wording as that related by the Prophet. Hadith narration done significantly is as the cause of the difference in the editorial of a tradition. In a hadith narration which allows for narrating pronunciation (riwayat bi al- lafz), just  traditions  in  the form of the word (AQWA l ar-Rasul). While the traditions that are not in the form of words, such as af’al (deeds) and taqri r (statutes) is only possible in the meaning narrated (history of bi al-ma’na). Traditions in the form AQWAl (word) was not entirely narrated by al-lafz bi} i. It is not possible due to the Prophet’s entire literally memorized by the companions and the tabi’in. It is because not all companions have the ability to memorize the same. This provides opportunities for editorial differences and variations in the understanding of the editorial hadith received from the Prophet. So it will take effect when they narrated to friends who had not heard directly from the Prophet.There  are various opinions of Hadith narration bi al-ma’na. some of them did not allow it absolutely. The layman is prohibited to convey tradition bi al-ma’na, in order to maintain the truth of tradition. As for the scholars of hadith were allowed to narrate bi al-ma’na, with certain conditions, so it will avoid mistakes. And not a word that is in the form of Jawarmi ‘al-Kalim. The existence of various provisions of the hadith indicates that transmission of hadith bi al-ma’na is allowed by some scholars, but in practice it is not “loose”. It means that they are not free to do a narration in meaning.
Shilaturrahim Sebagai Upaya Menyambungkan Tali yang Terputus Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 2, No 2 (2016): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v2i2.3143

Abstract

ABSTRAKDi dalam al-Qur’an kata taqwa dan shilaturrahim selalu dirangkai, itu artinya shilaturrahim merupakan salah satu karakteristik bagi orang-orang yang beriman. Shilaturrahim memiliki makna yang sangat universal yaitu segala perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain baik berbentuk material maupun moral, dan tidak mengenal batas waktu dan bentuk, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang ada. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa yang dinamakan shilaturrahim adalah jika diputus hubungan rahimnya maka ia menyambungnya. Jadi shilaturrahim tidak sekedar datang berkunjung ke rumah tetangga atau saudara untuk meminta maaf. Namun shilaturrahim adalah sebuah komunkasi tinggi yang dilandasi iman kepada Allah. Dengan saling menyayangi, menghormati sesama umat manusia, karena ketika sudah tidak ada lagi kasih sayang, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan permusuhan. Dalam kehidupan yang singkat ini teruslah untuk selalu menaburkan kebaikan di muka bumi, merajut kasih sayang kepada sesama tanpa melihat tingkat posisi, kedudukan, dan status sosial. Kasih sayang itu tentunya harus diberikan untuk seluruh umat manusia yang di temui di muka bumi.
Women and Islamic Financial Literacy Amaroh, Siti; Istianah, Istianah
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 13, No 2 (2020): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v13i2.6523

Abstract

This study aims to understand about Islamic financial literacy of women’s groups. The measurement includes financial goals and concepts, efforts to achieve financial goals, preferences for financial institutions both in product and services, knowledge of Islamic financial literacy, and financial practices. This study used survey method and carried out in 64 female respondents with various professional backgrounds. This research found several findings. The main financial purposes are to fulfill basic need, children’s education costs, and survive. The efforts to achieve financial goals are by working, saving, or reducing expenditure. When respondents have a surplus of money, they choose for saving, pay for the hajj or umrah, or support orphans and the poor. Saving and pension funds will be used to meet requirement in the elderly. Financial security if lack of money or loss of income was by take saving, find a new job, or open a business. Bank is the main choice in carrying out of financial transaction, the pension fund and health insurance. The preferred informal financial institution is social gathering or called as “arisan”. Respondents prefer to choose Islamic financial institutions due to fit with religious values and give an inner peace, however not refuse to choose conventional financial institutions because it is guaranteed by the governance. The knowledge of Islamic finance is quite good (sufficient literate) with a correct answer score at 51% to 75%. While the financial practices that have been carried out are saving, transferring, and paying installments.
Human Trafficking In The Perspective Of Islam And Feminism And Its Prevention Efforts In Indonesia Farida, Umma; Istianah, Istianah; Kasdi, Abdurrohman
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 17, No 2 (2024): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v17i2.28325

Abstract

This paper describes human trafficking according to the Islamic and feminist approaches and efforts to prevent it in Indonesia. Human trafficking is an organized crime, latent and hidden, so it is difficult to overcome. Based on data from the United Nations (UN), cases of trafficking in Indonesia continue to increase. The victims are women and minors. This article aims to explain human trafficking by examining Islamic texts and feminism and its prevention efforts in Indonesia using descriptive-analytical research methods. The collected data is then analyzed using Islamic and feminist approaches. The findings show that both approaches emphasize that human trafficking is a crime against humanity. It destroys and robs freedom and humanity. So, the act of trafficking is tyranny and unlawful because it is contrary to the mission of Quranic and prophetic teachings. Besides, the feminist approach argues that prostitution, human trafficking, and sex trafficking must be stopped and assumes that the elimination of prostitution will end the need for sex trafficking and that the promotion of gender equality can more generally take place. Crucial to prevention is not only protecting and empowering people who are victims of trafficking but also considering the implications of how the trafficking victims are forced to become productive subjects. Considering that this trafficking crime has been organized across countries, the prevention efforts need to be carried out comprehensively by involving various government, private, and NGO sectors, international agencies, community organizations, and the mass media. Equally important is the role of religion in involving non-governmental organizations (NGOs) and community organizations.
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3442

Abstract

Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang dibahas adalah hadis-hadis yang populer dan yang dipolemikkan yang muncul di kalangan masyarakat Indonesia. Hasil penelitiannyabanyak mengejutkan banyak pihak. Dalam penelitian selama 9 tahunnya, hadis-hadis yang diyakini masyarakat sebagai hadis-hadis s}ahi>h selama ini, ternyata hadis-hadis tersebut bukanlah hadis s}ahi>h, bahkan ada di antaranya yang diketahui bukan sebagai hadis, melainkan hanya kata-kata mutiara maupun kata-kata hikmah yang diucapkan oleh seorang tokoh ataupun ulama. Kalau itu bukan hadis, dan kemudian itu dikatakan sebagai hadis yang disandarkan kepada Nabi, berarti itu telah mendustakan hadis atas nama Nabi dan itu akan berdampak serius. Metode yang dipakai dalam memahami hadis berasal dari penelitian sanad dan matan hadis. Dalam meneliti sanad hadis, ia merujuk pada pendapat ulama-ulama terdahulu. Untuk memperolehi kesimpulan apakah hadis itu s}ahi>h, hasan atau d}a‘i>f, maka sanadnya harus bersambung, perawinya harus tsiqah (‘a>dil dan d}a>bit}). Ali Mustafa Yaqub tidak menyimpulkannya sendiri, tetapi berdasarkan pendapat para pakar di bidang hadis dengan membuka dan menelusuri kitab-kitab yang mu’tabar. Dalam menjelaskan kualitas matan hadis, Ali Mustafa Yaqub tidak hanya didasarkan pada persoalan apakah hadis itu mengandung ‘illah atau tidak, atau pun mengandung sya>z\\\ atau tidak.Dengan demikian, memahami hadis akan lebih mudah agar menemukan pemahaman yang relatif lebih tepat, dinamis, akomodatif, apresiasif, komprehensip dan mudah dipahami oleh semua golongan terhadap perubahan serta perkembangan zaman.This article will discuss about Ali Mustafa Yaqub’s contribution in the dynamics of the study of hadith in Indonesia. He is one of the experts in the field of hadith. The hadisstudied are popular and debatable hadith that have emerged among Indonesian society. The results of his research surprised many people. In his 9-year doing research, he found that the hadith that the people have believed as the best hadith are not the s}ah}e>h} hadith, some of which are known not as hadith, but only the quotations and the wisdom words spoken by pious people. If that is not a hadith, and then it is claimedas hadith from the Prophet, it will have a serious impact. The method used in understanding the hadith comes from the study of sanad and matan hadith. In researching the sanad of the hadith, he referred to the opinions of the earlier scholars. To estimate the conclusion whether the hadis is s}ahi>h, hasan or d}a‘i>f, then its sanad must be in continuity, its transmitter must be tsiqah (fair and d}a>bit}). Ali Mustafa Yaqub did not give the conclusion according to himself, but alsobased on the opinion of the scholars in the field of hadith by opening and searching the books that are mu’tabar. However, in addition to criticizing editorial, Ali Mustafa seeks to contextualize the editorial matan hadith with the present condition with a lot of explaining the hadith about the problems polemicized by society. As for the approach used in understanding the matan of hadith, he uses the approach of language, ratios and in other hadith, he used historical approach. Thus, the effort to understand the hadith will be easier in order to find a relatively more precise, dynamic, accommodative, apresiasif, comprehensively and easily results understood by all classes in this changing and developing times.
Kritik Terhadap Penisbatan Riwayat Hadis: Studi atas Hadis-Hadis Palsu Istianah, Istianah
RIWAYAH Vol 4, No 1 (2018): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v4i1.3319

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang studi kritik hadis terhadap penisbatan riwayat hadis: studi atas hadis-hadis palsu yang berkembang di masyarakat. Pada dasarnya kritik hadis sudah pernah dilakukan baik pada masa Rasul, sahabat dan tabi’in. Urgensi kritik hadis ini perlu dilakukan baik dari sisi sanad dan matannya, mengingat hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah al-Qur’an dan terkait dengan kehujjahannya untuk dapat dijadikan sebagai dalil dalam menetapkan hukum. Setelah Rasulullah wafat muncul pemalsuan hadis dengan memanipulasi berita yang disandarkan kepada Nabi demi untuk kepentingan tertentu. Untuk itu, hadis harus dipelihara, dengan cara meneliti hadis baik dari sanad dan matannya. Hal itu dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengantisipasi agar hadis-hadis palsu tidak marak di tengah masyarakat, karena sampai saat ini masih ada hadis-hadis palsu yang masyhur di tengah masyarakat dan dijadikan sebagai dasar (dalil) ibadah.
STILISTIK AL-QUR’AN: Pendekatan Sastra Sebagai Analisis Dalam Menginterpretasikan Al-Qur’an Istianah, Istianah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v8i2.898

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memahami teks al-Qur’an denganmenggunakan pendekatan sastra, karena al-Qur’an mengandungnilai-nilai sastra yang sangat tinggi. Pesan dan gaya bahasanyamembuat manusia terpesona dengan keindahan yang dimilikinya.Pembebasan terhadap pemahaman al-Qur’an ini bukan berartimemahami teks tanpa menggunakan perangkat, akan tetapisetelah pertautan antara satu teks dengan teks yang lainnyadiketahui, maka cara kemudian yang dikedepankan adalahpelacakan makna yang dikehendaki teks dengan analisis linguistikdan sastra. Dengan demikian diharapkan bisa memahamial-Qur’an jauh dari tarikan-tarikan kepentingan individualideologis. Karena dalam teks al-Qur’an saling menjelaskan satusama lainnya. Oleh karena itu, untuk memahami dan mengkaji alQur’an, setidaknya diperlukan pisau analisis yang setara dengancorak yang dimilikinya. Pendekatan sastra ini sebagai sebuah pisauanalisis dalam memahami teks al-Qur’an.
Melawan Hegemoni Kekuasaan Dengan Nuansa Sufistik: Telaah Tafsir Faidh Al-Rahman Karya Kiai Shaleh Darat Istianah, Istianah
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 13, No 2 (2019): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v13i2.5929

Abstract

Artikel ini membahas tentang Tafsir Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan (Limpahan Rahmat Allah dalam Menerjemahkan Tafsir Firman-firman Allah Penguasa Hari Pembalasan) karya Kiai Shaleh Darat. Tafsir yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Arab Pegon ini tidak hanya semata-mata bertujuan agar masyarakat pribumi bisa memahami isi kandungan al-Qur’an, tetapi sekaligus dijadikan senjata untuk melawan hegemoni kekuasaan. Di saat Belanda melarang menerjemahkan al-Qur’an, justru Kiai Shaleh Darat berani melawannya dengan menulis sebuah karya tafsir. Apa yang dilakukan oleh Kiai Shaleh Darat berhasil membangkitkan pemikiran para santrinya. Belanda khawatir akan spirit revolusioner yang ada di dalam al-Qur’an sehingga mampu menghidupkan gerakan perlawanan terhadap Belanda. Tafsir Faidh al-Rahman dengan corak sufistiknya telah menjadi ruh hampir di setiap lembarnya. Kiai Shaleh sangat piawai dalam mengkombinasikan penggalian antara makna dhahir dan makna isyarinya secara sinergis. Dengan mengusung corak sufistiknya, tentunya tidak lepas dari proses dialog antara pesan-pesan Tuhan dengan setting sosio-historis yang melingkupinya.