Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Takhrij and Syarah Hadith about Chemistry: Prohibition of Eating Petai Excessively in Science and Hadith Annisaa Sufi Khanifah; Wahyudin Darmalaksana; Abdul Syukur; Tina Dewi Rosahdi
Gunung Djati Conference Series Vol. 5 (2021): Proceedings Conference on Chemistry and Hadits Studies
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to discuss the hadith of the Prophet Muhammad about eating excessive petai. The qualitative research method uses the takhrij and sharah hadith approaches with chemical analysis. The results and discussion of this study are the dangers arising from excessive petai consumption. The conclusion of this study is the takhrij and syarah hadith of the Prophet SAW regarding the excessive prohibition of the compounds it contains based on chemical analysis
Effect of lutein extract from spinach (Amaranthus sp) on n-hexane fraction on bulk cooking oil peroxide numbers Aryanie, Novia; Kurniasih, Nunung; Rosahdi, Tina Dewi; Junitasari, Assyifa
Asian Journal of Health and Applied Sciences Vol. 1 No. 2 (2022): Asian Journal of Health and Applied Sciences (AJHAS)
Publisher : Lighthouse Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.473 KB) | DOI: 10.53402/ajhas.v1i2.11

Abstract

The use of cooking oil for too long can cause rancidity in cooking oil which produces cancer-triggering free radicals. This rancidity can be overcome by adding antioxidants, namely compounds that can ward off free radicals. Lutein is an antioxidant compound that contains a hydroxyl group. In this study, green spinach leaves were used as a source of lutein. Green spinach leaves have a high lutein content that is not inferior to Kenikir and Broccoli flowers. The purpose of this study was to analyze the effect of adding lutein as an antioxidant compound in bulk cooking oil. The test begins with the maceration extraction stage using n-hexane solvent, determining the Rf value of lutein with TLC using an eluent mixture of n-hexane: acetone: chloroform (6: 2: 2) and analyzed by iodometric titration method. The results show that lutein has an Rf value of 0.58, which is almost the same as the standard Rf of lutein, which is 0.59, while the lutein content in green spinach leaves is quite high at 7.86 ppm. Lutein can inhibit the rancidity process caused by an increase in the number of peroxides. At a concentration of 3% lutein has a peroxide value smaller than 1% tocopherol which in this study was used as a comparison, namely synthetic antioxidant compounds.
Identifikasi Spesies Isolat Bakteri K2Br5 dari Tanah Karst dengan Sistem Kekerabatan Melalui Analisis Urutan Nukleotida Gen 16S rRNA Tina Dewi Rosahdi; Nurul Tafiani; Anggita Rahmi Hafsari
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 5, No 2 (2018): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v5i2.3836

Abstract

Bakteri adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Setiap bakteri memiliki jenis yang berbeda-beda. Perlu adanya identifikasi untuk mengetahui suatu jenis bakteri sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal. Identifikasi bakteri dapat dilakukan secara fenotip maupun genotip. Namun, identifikasi secara fenotip memiliki kelemahan yakni sering terjadi kesalahan dalam membedakan spesies dan galur bakteri. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk menentukan spesies bakteri dengan kode K2Br5 yang telah diisolasi dari kawasan tanah Karst. Pada penelitian ini dilakukan analisis secara genotip dengan mengisolasi DNA kromosom dari bakteri Bacillus sp. K2Br5 yang kemudian dilakukan proses amplifikasi dengan metode PCR menggunakan primer universal BactF1 maju dan UniB1 mundur untuk memperoleh fragmen gen 16s rRNA. Fragmen gen yang diperoleh selanjutnya disekuensing untuk mengetahui urutan nukleotide. Hasil analisis urutan nukleotida gen 16s rRNA menunjukkan bahwa bakteri Bacillus sp. K2Br5 memiliki kemungkinan berkerabat dengan Paraclostridium bifermentans atau dikenal juga dengan nama Bacillus bifermentas.
Pemanfaatan Asap Cair Tempurung Kelapa dalam Pengawetan Daging Sapi Fitrahuddin Assidiq; Tina Dewi Rosahdi; Baiq Vera El Viera
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 5, No 1 (2018): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v5i1.3723

Abstract

Asap tempurung kelapa merupakan salah satu metode pengawetan secara tradisional, akan tetapi masih memiliki resiko bahaya. Potensi bahaya tersebut dapat dicegah dengan mengubah asap tempurung kelapa menjadi asap cair dengan metode pirolisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi konsentrasi dan lama waktu perendaman asap cair tempurung kelapa terhadap daya tahan daging sapi. Daya tahan daging sapi dianalisis menggunakan analisis TPC. Variasi konsentrasi asap cair tempurung kelapa yang digunakan adalah 1%; 1,5%; 2%; dan 2,5% v/v, sedangkan variasi lama perendaman yang digunakan yaitu 10, 20, 30 dan 40 menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa penentuan konsentrasi asap cair optimal dilakukan dengan merendam daging sapi dalam asap cair tempurung kelapa selama 20 menit. Analisis kadar air, kadar lemak dan kadar protein dilakukan terhadap produk hasil pengawetan dan dibandingkan dengan daging sapi yang masih segar. Konsentrasi asap cair yang optimal untuk mengawetkan daging sapi diperoleh 1,5%, dengan hasil analisis kadar air, lemak dan protein secara berturut-turut sebesar 21,79%; 7,45%; dan 28,48%. Asap cair dengan konsentrasi 1,5% dibuat variasi lama waktu perendaman selama 10, 20, 30 dan 40 menit. Analisis kadar air menunjukkan lama waktu perendaman optimal adalah 20 menit dengan kadar air sebesar 21,79%, sedangkan untuk kadar lemak dan protein sebesar 7,45% dan 28,48%. Analisis total plate count (TPC) pada daging sapi yang direndam dalam asap cair dengan konsentrasi 1,5% selama 20 menit menunjukkan bahwa daging sapi layak dikonsumsi sampai hari ketiga penyimpanan pada suhu kamar.
Potensi Penggunaan Tempurung Kelapa sebagai Adsorben Ion Logam Fe(III) Neng Mastiani; Vina Amalia; Tina Dewi Rosahdi
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 5, No 1 (2018): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v5i1.3731

Abstract

Besi merupakan logam yang paling banyak sekali ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kandungan besi berlebihan di dalam air dapat menyebabkan bekas karat pada pakaian, porselin dan dalam jumlah yang tinggi dapat bersifat sebagai racun bagi tubuh. Pada penelitian ini dipelajari potensi penggunaan tempurung kelapa sebagai adsorben ion logam Fe(III). Adsorben dari bahan tempurung kelapa disiapkan pada berbagai metode perlakuan awal, yaitu (1) tanpa perlakuan; (2) tanpa lignin (delignisasi); (3) diarangkan; (4) dikalsinasi pada suhu 400°C; dan (5) dikalsinasi pada suhu 600°C. Selanjutnya dari masing-masing perlakuan dibagi menjadi dua bagian untuk diaktivasi dan tidak diaktivasi dengan aktivator yang digunakan yaitu NaOH. Konsentrasi ion logam Fe(III) setelah adsorpsi dianalisis menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan yang paling efektif dalam menurunkan konsentrasi logam yaitu  pada suhu 600oC, tanpa aktivasi dengan efisiensi 100% dan kapasitas adsorpsi sebesar 0,93 mg/g. Berdasarkan hasil penelitian tempurung kelapa efektif digunakan sebagai adsorben untuk penurunan logam besi pada  larutan Fe(III) dari konsentrasi awal sebesar 10 ppm menjadi 0 ppm maka ion logam Fe pada larutan Fe(III)  10 ppm sudah terserap oleh adsorben tempurung kelapa.
Isolasi dan Karakterisasi Amilase dari Biji Durian (Durio sp.) Lela Sri Wahyuni; Tina Dewi Rosahdi; Asep Supriadin
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 2, No 1 (2015): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v2i1.348

Abstract

ABSTRAKAmilase merupakan enzim yang mampu menghidrolisis ikatan glikosidik dalam molekul pati. Amilase berasal dari berbagai sumber yaitu, mikroorganisme, tumbuhan, dan manusia. Penggunaan biji durian sebagai sumber amilase merupakan bentuk pemanfaatan limbah. Biji durian dipilih sebagai sumber amilase karena mengandung amilum. Karbohidrat yang terdapat pada biji durian memungkinkan adanya amilase. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi amilase dari biji durian. Amilase diekstraksi dengan buffer fosfat 50 mM (pH 7,5). Amilase difraksinasi dengan metode salting out menggunakan (NH4)2SO4 dan dimurnikan dengan metode didialisis. Aktivitas amilase dari biji durian (Durio sp.) ditentukan dengan menggunakan metode Fuwa dan konsentrasi protein diukur dengan metode Bradford. Aktivitas spesifik yang paling tinggi diperoleh pada tingkat kejenuhan 60% sebesar 1959,75 U/mg. pH optimum amilase berada pada pH 6 sedangkan suhu optimumnya berada pada suhu 40 ºC.
Efek Larvasida Hasil Fraksinasi Ekstrak N-Heksana Daun Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) Terhadap Larva Aedes aegypti Lina Yulianti; Asep Supriadin; Tina Dewi Rosahdi
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 4, No 1 (2017): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v4i1.5082

Abstract

Tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata L.) telah dikenal masyarakat sebagai gulma yang digunakan untuk obat tradisional. Tumbuhan dari famili Asteraceae ini mengandung terpenoid dan steroid yang bersifat larvasida. Senyawa bioaktif yang terkandung dalam tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata L.)  diduga dapat memberikan efek larvasida terhadap Aedes aegypti, sehingga dilakukan ekstraksi dan fraksinasi terhadap daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) untuk pengujian larvasida. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi menggunakan n-heksana, ekstrak yang didapat difraksinasi menggunakan metode KVC, KKG, KLT dan hasil fraksinasi (B2-G3) diidentifikasi dengan FTIR. Pengujian larvasida terhadap Aedes aegypti dilakukan pada hasil ekstraksi (Crude) dan fraksi B2-G3 sebagai sampel uji. Data mortalitas Aedes aegypti dianalisis probit dengan SPSS 16,00 untuk menentukan nilai LC50 selama 72 jam. Sampel uji dikategorikan toksik jika menunjukkan nilai LC50< 1000 ppm. Hasil analisis probit menunjukkan nilai LC50 fraksi B2-G3 adalah 738,938 ppm yang menunjukkan fraksi tersebut berpotensi sebagai larvasida terhadap Aedes aegypti. Sedangkan nilai LC50 dari ekstrak n-heksana (Crude) adalah 16358,825 ppm yang menunjukkan bahwa ekstrak n-heksana dari daun kirinyuh (Chromolaena odorata L.) tidak berpotensi sebagai larvasida terhadap Aedes aegypti.
Pengaruh Lama Penyimpanan dan Penambahan Asam Sitrat pada Nasi di Rice Cooker terhadap Kandungan Nutrisi Hany Handayani; Tina Dewi Rosahdi; Baiq El Viera
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 4, No 2 (2017): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v4i2.5088

Abstract

Umumnya, nasi merupakan jenis makanan yang dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia. Nasi dimasak oleh masyarakat menggunakan alat pemasak nasi otomati atau disebut dengan rice cooker. Nasi dimasak tanpa dan dengan asam sitrat kemudian dihangatkan selama 48 jam dan dianalisis pada jam penghangatan ke-0, 24 dan 48 jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh lama penyimpanan dan penambahan asam sitrat pada nasi di rice cooker terhadap kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar nitrogen total, karbohidrat total, serat kasar dan menentukan Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen (BETN) pada nasi tanpa dan dengan asam sitrat. Lama penyimpanan nasi (0, 24, dan 48 jam) di rice cooker  mempengaruhi kadar air, kadar lemak total, kadar nitrogen total, karbohidrat total, serat kasar dan kadar BETN tetapi tidak mempengaruhi kadar abu. Penambahan asam sitrat pada nasi di rice cooker  mempengaruhi kadar lemak total dengan penyimpanan selama 0 ke 24 mengalami penurunan, sedangkan pada penyimpanan 24 ke 48 jam mengalami kenaikan kadar lemak total.
Isolasi dan Karakterisasi Enzim Amilase dari Biji Nangka (Artocarpus heterophillus) Nita Puspita Tazkiah; Tina Dewi Rosahdi; Asep Supriadin
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 4, No 1 (2017): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v4i1.5079

Abstract

Amilase merupakan enzim perombak pati yang dibutuhkan oleh tubuh. Amilase dapat diisolasi dari berbagai tumbuhan, misalnya biji-bijian. Pada penelitian ini amilase diisolasi dari biji nangka, karena biji nangka tidak banyak dikonsumsi sehingga menjadi limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi amilase dari biji nangka. Amilase diekstraksi dengan buffer fosfat 50 mM pada pH 7,5. Amilase difraksinasi dengan metode salting out dengan ammonium sulfat (NH4)2SO4, kemudian didialisis dengan buffer fosfat. Aktivitas amilase dari biji nangka  ditentukan dengan menggunakan metode Fuwa dan konsentrasi protein diukur dengan metode Bradford. Aktivitas spesifik yang paling tinggi diperoleh pada tingkat kejenuhan 50% dengan aktifitas spesifik 2,12 U/mg.  pH optimum amilase berada padapH 6, dengan aktivitas spesifik sebesar 2,52 Unit/mg, sedangkan suhu optimumnnya berada di suhu 50 ºC dengan aktivitas spesifik 2,52 Unit/mg.
Isolation and Identification of Lactic Acid Bacteria form Chinese Cabbage Waste by 16s rRNA Amplification using The Polymerase Chain Reaction (PCR) Method Junitasari, Assyifa; Rosahdi, Tina Dewi; Lestari, Yuni Siti
Jurnal Kimia Valensi Jurnal Kimia VALENSI Volume 9, No. 1, May 2023
Publisher : Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jkv.v9i1.29466

Abstract

Waste is material that is disposed of from sources of human and natural activities that do not yet have economic value. Physically, vegetable waste is perishable due to its high-water content, especially Chinese Cabbage waste. The purpose of this study was the isolation and identification of lactic acid bacteria from Chinese Cabbage waste. Isolation was carried out to obtain isolates of lactic acid bacteria from Chinese Cabbage waste. Then it was amplified using a Polymerase Chain Reaction (PCR) instrument. The results of chromosomal DNA amplification of bacterial isolates from mustard 1, mustard 2 and mustard 3 waste showed DNA bands with a size of ± 1200 bp, so it can be concluded that the process of amplification of the 16s rRNA gene fragment in mustard 1, mustard 2 and mustard 3 isolates was successful. The results of the 16s rRNA base sequence analysis showed that the mustard 1 isolate had a similarity index of 84.65% with Bacillus sp, the gene for the mustard 2 isolate had a similarity index of 84.09% with the Uncultured bacterium clone, and the mustard 3 isolate gene had a similarity index of 85.42% with Environmental 16s rDNA sequence.