Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

EVALUASI JENIS PENGISI DAN RASIO MADU : BAHAN PENGISI DALAM PEMBUATAN BUBUK MADU DENGAN METODE PENGERINGAN BUIH Veronica Lydia; Simon Bambang Widjanarko; Siti Narsito Wulan
JURNAL AGROTEKNOLOGI Vol 1 No 02 (2007)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Madu merupakan komoditas yang banyak diperlukan industri farmasi, kosmetik, dan makanan, di samping konsumsi sehari-hari. Penggunaan madu dalam industri pangan semakin meningkat. Penyediaan madu dalam bentuk bubuk dapat mempermudah penggunaan madu. Untuk membuat bubuk madu diperlukan bahan pengisi. Jenis pengisi dan rasio madu: pengisi dalam pembuatan bubuk madu dievaluasi berdasarkan sifat fisik, kimia, dan organoleptik. Jenis pengisi yang digunakan adalah maltodekstrin dan dekstrin; dengan rasio madu: pengisi 70:30, 60:40, dan 50:50. Mutu bubuk madu terbaik berdasar sifat fisikokimia didapatkan dari kombinasi jenis pengisi maltodekstrin dengan rasio madu: pengisi = 60:40. Mutu terbaik berdasar sifat organoleptik dihasilkan dari kombinasi maltodekstrin dengan rasio madu: pengisi 50:50. Kata kunci: bubuk madu, pengeringan buih, rasio bahan pengisi
PENGARUH SUBSTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG KACANG GUDE (CAJANUS CAJAN L.) PADA PRODUK CRACKERS DAN POTENSINYA UNTUK MAKANAN DIET Rizky Ayu Diella Calista; Siti Narsito Wulan; Erni Sofia Murtini
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 10 No. 3: July 2022
Publisher : Department of Food Science and Biotechnology, Faculty of Agriculture Technology, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2022.010.03.6

Abstract

Kacang gude merupakan salah satu sumber antioksidan potensial yang memiliki tingkat serat makanan, mineral total, vitamin C, kandungan fenolik dan kapasitas anti radikal bebas lebih tinggi serta kadar lemak dan indeks glikemik lebih rendah dibandingkan dengan kacang – kacangan lainnya. Formulasi produk dalam bentuk crackers dengan substitusi tepung kacang gude dapat menjadi alternatif makanan fungsional dalam pencegahan obesitas. Faktor utama dalam pencegahan obesitas adalah pengontrolan rasa kenyang dan rasa lapar. Salah satu hormon yang dapat digunakan pada dua faktor tersebut yaitu kolesistokinin (CCK). Penelitian ini menggunakan RAL empat faktor tingkat substitusi tepung kacang gude pada crackers yaitu sebesar 0% (kontrol), 10%, 15%, dan 20%. Formulasi crackers terbaik didapatkan pada substitusi 20% yang memiliki kandungan lemak rendah dan kandungan serat serta protein yang tinggi sehingga dapat berkontribusi pada respon CCK yang lebih tinggi pula. Selain itu, crackers terpilih mendapatkan hasil analisa kimia dan penerimaan responden yang lebih baik pula.
Bioactive compounds of rice bran and their potential health benefits in the development of functional foods: A review Miftahurrahmi Miftahurrahmi; Teti Estiasih; Siti Narsito Wulan
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) 6th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) July 2022 - Special Issue
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice bran is a by-product produced from the milling and polishing process of rice, which makes up about 10% of the whole grain. In 2021, the amount of rice bran produced in Indonesia can reach up to 3 million tons. Researchers have been intrigued to study rice bran as an ingredient for foods because it is considered underutilized despite its abundance and functional properties. Rice bran is rich in nutrients such as fat, protein, dietary fiber, ash, and bioactive compounds. There is an increase in the use of rice bran following consumers’ search for healthier consumption. Bioactive compounds in rice bran include phenolic acids, such as ferulic acid; flavonoids and anthocyanins, such as cyanidin glucoside; steroidal compounds, such as gamma-oryzanol; gamma-aminobutyric acid (GABA); etc. Rice bran’s wax contains wax esters and aliphatic alcohols, namely policosanol. Bioactive compounds in rice bran have been known to have beneficial effects on health as antioxidants, antidiabetic, and anti-inflammatory agents. The bioactive compounds of rice bran as well as its antioxidant activity are influenced by rice variety, degree of milling, and processing method. This paper aims to review the bioactive compounds of rice bran, including pigmented rice bran, to support the development of functional foods.
The physicochemical properties of local Indonesia honey Trigona and Cerana produced in North Lombok, West Nusa Tenggara Rizki Ameliya; Erryana Martati; Siti Narsito Wulan
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) 6th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) July 2022 - Special Issue
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Trigona and Cerana honey production in North Lombok was 24,751 L and 41,589 L, respectively, in 2020. The physicochemical properties of honey vary depending on the types of plants from which the bee collects nectar, climatic conditions and geographical region. Thus, a worldwide standard for honey bee products has yet to be determined. This research aims to analyze the physicochemical properties of honey originally produced in North Lombok. The results showed that moisture content, acidity, ash, pH, viscosity and colour of Trigona honey were significantly different from Cerana honey (p<0,05); meanwhile, reducing sugar, insoluble solids, and total phenolic did not differ between the two honey (p>0,05). Moisture content (27.56%), acidity (281.15 meq/kg), insoluble solids (1.87%) and total phenolic (19 mg GAE/g) in Trigona honey were higher than those in Cerana (moisture content (26.3%), insoluble solids (1.38%), total phenolic (16.56 mg GAE/g)). Meanwhile, reducing sugar (17.71%), pH (3.25), ash (0.85%), viscosity (596.33 cP), and diastase activity (0.1692 DN) of Trigona honey were lower than those in Cerana (reducing sugar (18.28%), pH (3.25), ash (1.35%), viscosity (956.33 cP) and diastase activity (31.28 DN)). The °Hue value of Trigona and Cerana honey was 53.5 and 65, which appears yellow red for both kinds of honey.
PERBANDINGAN BERBAGAI METODE PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN (DPPH, ABTS DAN FRAP) PADA TEH HITAM (Camellia sinensis) Zerlinda Theafelicia; Siti Narsito Wulan
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.4

Abstract

          Senyawa antioksidan berperan dalam menghambat atau menunda reaksi oksidasi molekul dengan cara memperlambat proses inisiasi atau propagasi reaksi oksidasi berantai. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dapat bervariasi karena perbedaan struktur kimiawi antioksidan, sumber radikal bebas, dan sifat fisikokimia dari sampel yang diuji.  Senyawa yang mengandung radikal bebas memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan dan bersifat reaktif sehingga dapat merusak sel dan jaringan bila terakumulasi dalam tubuh manusia. Terdapat antioksidan alami dan sintetis yang berfungsi untuk menghambat reaksi oksidasi dan mencegah terbentuknya radikal bebas. Namun, perlu diperhatikan bahwa antioksidan sintetis dapat memodifikasi senyawa menjadi karsinogenik. Oleh karena itu, eksplorasi  antioksidan alami dan pengujian aktivitas antioksidannya penting dilakukan. Salah satunya adalah pengujian aktivitas antioksidan teh hitam (Camellia sinensis). Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer di dunia dan merupakan tanaman yang banyak ditemukan di daerah pegunungan Asia. Teh diketahui memiliki manfaat kesehatan karena mengandung polifenol yang merupakan antioksidan alami. Antioksidan polifenol  berperan dalam melawan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan uji penangkapan radikal DPPH (2.2-difenill-1-pikrilhidrazil), ABTS (3-ethyl-benzothiazoline-6-sulfonic acid) dan FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Ketiga metode uji antioksidan berbeda dalam  mekanisme reaksinya. Hasil pengujian antioksidan pada teh hitam dengan metode DPPH sebesar 208.83 mgTE/g, ABTS sebesar 217.83 mgTE/g dan FRAP sebesar 42.15 mgTE/g, dimana TE adalah Trolox Ekuivalen
Antioxidant activity of bioactive peptides from peanuts protein hydrolysate Maulidya Rachmawati; Wahyu Intan Prastiwi; Siti Narsito Wulan
Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE) Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Advances in Food Science, Sustainable Agriculture and Agroindustrial Engineering (AFSSAAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.afssaae.2023.006.02.1

Abstract

Peanut protein hydrolysate was produced from peanut protein isolate hydrolyzed using Alcalase® 2.4 L. Hydrolysis conditions were optimized using a response surface methodology. The two independent variables were the substrate/enzyme ratio and the hydrolysis time with lower and upper limits of (20:1-50:1 v/v) and (1-3 hours), respectively. Both were designed at three levels of central composite design from the response surface methodology and the degree of hydrolysis as the dependent variable. This study aimed to obtain the optimum conditions for enzymatic hydrolysis of peanut protein isolate using Alcalase to produce protein hydrolysate with the maximum degree of hydrolysis. The optimum hydrolysis conditions obtained were the substrate/enzyme ratio of 20:1 (v/v) and the  hydrolysis time of 3 hours with a predicted degree of hydrolysis of 40.54%. The actual experimental results obtained a degree of hydrolysis of 40.35% (p>0.05), which showed no difference between the predicted and experimental results. The highest antioxidant activity was obtained from the combination of these treatments, indicated by IC50 of 5.61 ppm.
DETOKSIFIKASI SIANIDA UMBI GADUNG (Dioscorea hispida Dennst.) DENGAN KOMBINASI PERENDAMAN DALAM ABU SEKAM DAN PEREBUSAN Asti Rizkiana Pramitha; Siti Narsito Wulan
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gadung (Dioscorea hispida Dennst.) merupakan salah satu umbi – umbian yang kurang dimanfaatkan karena  kandungan asam sianida yang mengakibatkan keracunan. Salah satu cara untuk menurunkan kadar sianida adalah dengan proses perendaman dalam abu sekam padi yang dapat mempermudah pelepasan sianida. Proses lain seperti perebusan dapat menginaktifkan enzim β-glukosidase. Kombinasi kedua perlakuan dapat memaksimalkan pengurangan sianida gadung. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi abu sekam yang efektif untuk menurunkan kadar sianida pada umbi gadung disertai perebusan. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap Faktor Tunggal yaitu abu sekam dengan konsentrasi 15%, 25%, 35%, dan 45% dan dikombinasi perebusan 30 menit selain itu ditambahkan 2 perlakuan yaitu tanpa abu sekam dan perebusan. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi konsentrasi abu sekam maka semakin rendah kandungan sianida pada gadung. Perlakuan terbaik tepung gadung didapatkan perlakuan perendaman abu sekam konsentrasi 45% dan perebusan dengan karakteristik kadar sianida 2.70 ppm, kadar air 6.33%, kadar pati 52.22,%,  dan kadar abu 5.84%. Kata Kunci:, Asam Sianida, Abu sekam padi, Detoksifikasi sianida, Gadung
UJI TOKSISITAS SUBKRONIS SERBUK, EKSTRAK AIR, DAN EKSTRAK PEKAT SUPLEMEN KALSIUM DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam.) PADA FUNGSI HEPAR DAN GINJAL TIKUS WISTAR (Rattus norvegicus) May Ayu Wulandari; Lisa Imroatus Solikhah; Siti Narsito Wulan
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 5 No. 4 (2017)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun kelor memiliki banyak potensi seperti tinggi antioksidan, tinggi kandungan vitamin C, β-karoten, mineral terutama zat besi dan kalsium, tetapi keamanan dalam konsumsi daun kelor juga perlu diperhatikan. Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung oksalat sebesar 218 mg/100 gr bahan.Asam oksalat dan kristal kalsium oksalat yang ikut terkonsumsi menyebabkan aberasi mekanik saluran pencernaan dan tubulus yang halus di dalam ginjal, Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui spektrum ketoksikan oksalat pada sediaan suplemen serbuk, filtrat cair, ekstrak pekat dosis 1 dan ekstrak pekat dosis 2 daun kelor terhadap kadar enzim alkaline phosphatase (ALP) dalam serum, histopatologi hepar dan histopatologi ginjal. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan 4 perlakuan suplemen daun kelor yang berbeda dan 1 kelompok kontrol tanpa suplemen. Diperoleh hasil bahwa perlakuan perbedaan bentuk sediaan suplemen daun kelor tidak berpengaruh nyata terhadap kadar alkali fosfatase serum darah tikus wistar. Kadar alkali fosfatase dari semua kelompok berada pada kisaran normal. Histologi hepar menunjukkan kerusakan yang bersifat reversibel. Histologi ginjal menunjukkan jaringan sel normal pada semua kelompok. Kata Kunci: Daun Kelor, Ginjal, Hepar, Toksisitas Subkronis
UJI PREFERENSI KONSUMEN PADA KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK PRODUK ROTI GANDUM UTUH DI KOTA MALANG JAWA TIMUR Jaya Mahar Maligan; Firdanita Salsabella; Siti Narsito Wulan
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 6 No. 4 (2018)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2018.006.04.8

Abstract

Persaingan industri toko roti yang memproduksi roti gandum utuh dinilai cukup ketat sehingga produsen harus bersaing untuk menarik minat konsumen agar membeli produk yang dijual. Oleh karena itu, para pelaku industri bakery harus mengetahui preferensi dan keinginan konsumen terhadap roti gandum utuh untuk meningkatkan penjualan dan minat konsumen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis perbedaan preferensi konsumen terhadap karakteristik organoleptik 6 merek roti gandum utuh yang dijual di Kota Malang. Analisis data organoleptik dilakukan menggunakan metode Analysis of Variance (ANOVA) General Linear Mode (GLM) dengan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan merek berpengaruh signifikan terhadap preferensi konsumen pada karakteristik organoleptik warna, aroma, rasa, tekstur dan kenampakan produk roti gandum utuh. Kata Kunci : Preferensi Konsumen, Roti Gandum Utuh, Uji organoleptik.
PEMBUATAN VELVA KOMBINASI JAMBU BIJI DAN BELIMBING MANIS (KAJIAN PROPORSI BUAH DAN KONSENTRASI GUM ARAB) Hamzah Halim Arrasyid; Siti Narsito Wulan
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 7 No. 2 (2019)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpa.2019.007.02.3

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasio perbandingan antara buah jambu biji dan belimbing manis serta konsentrasi gum arab terhadap sifat kimia, fisik, dan organoleptik. Penelitian menggunakan racangan acak kelompok (RAK) dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu proporsi perbandingan antara buah jambu biji dan belimbing manis (2:1, 1:1, dan 1:2) dan faktor kedua yaitu konsentrasi gum arab (0.5%, 1%). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik didapatkan pada perlakuan proporsi buah jambu biji : belimbing manis 1 : 1 dengan konsentrasi gum arab 0.5% dengan karakteristik pH 3.64; kadar serat kasar 0.86%; aktivitas antioksidan 10.19%; TPT 14.46OBrix; overrun 13.01%; kecepatan meleleh 20.84 menit/10 gram; kecerahan L* 45.26; kemerahan a* 11.03; dan kekuningan b* 16.16, nilai hedonik dengan skala 1-6 (sangat tidak suka sampai sangat suka) pada warna 3.60 (agak tidak suka – agak suka); aroma 4.04 (agak suka); rasa 4.12 (agak suka); dan tekstur 3.64 (agak tidak suka – agak suka). Kata kunci: Belimbing, Gum Arab, Jambu Biji, Velva