Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Studi Etnofarmakognosi Dan Etnomedisin Masyarakat Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Rachmani, Eka Prasasti Nur; Suhesti, Tuti Sri
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 17 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jtoi.v17i2.1681

Abstract

Salah satu pemanfaatan tanaman yaitu untuk tujuan pengobatan. Pemanfaatan tanaman untuk pengobatan berdasarkan pengalaman turun-temurun yang bersifat lisan, rentan terjadi kesalahan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pemanfaatan tanaman obat berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat di lereng selatan Gunung Slamet yang meliputi Kecamatan Baturraden, Kedungbanteng, Sumbang dan Purwokerto Utara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara dan observasi yang melibatkan informan yang memiliki kriteria pelaku dan pengobat tradisional. Data profil informan dianalisis secara deskriptif. Analisis kuantitatif meliputi penetapan nilai dan pentingnya tanaman bagi masyarakat dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung nilai guna tanaman untuk pengobatan (Use Value/UV), nilai guna famili (Family Use Value/FUV), frekuensi kutipan relatif (Relative Frekuensi Citation/RFC), tingkat fidelitas (Fidelity Level/FL) serta data mengenai bagian tanaman, cara penyiapan, dan cara penggunaan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 responden menyebutkan 56 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 27 famili. Famili yang paling banyak digunakan berdasarkan nilai FUV adalah zingiberaceae, terdapat 9 spesies yang memiliki 17 kegunaan (khasiat). Tanaman yang paling penting untuk pengobatan berdasarkan nilai RFC tertinggi berturut-turut yaitu kunyit (1,00), jahe (0,92), dan temulawak (0,92). Terdapat 13 jenis tanaman yang memiliki nilai FL 100% yang terdapat dalam famili acanthaceae, araliaceae, asteraceae, campanuiaceae, cupresaceae, euphorbiaceae, fabaceae, liliaceae, myrtaceae, dan zingiberaceae. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut sangat dipercaya untuk tujuan pengobatan tertentu. Bagian tanaman yang paling sering digunakan adalah daun (39%), cara penyiapan bahan tanaman untuk obat yang paling sering dilakukan adalah direbus (56%), cara penggunaan yang sering dilakukan adalah secara per oral (69%) dan sebagian besar bahan tanaman yang digunakan adalah bahan segar (91%). Temuan ini menguatkan data bahwa tanaman pada famili zingiberaceae merupakan tanaman utama yang banyak digunakan untuk pengobatan pada masyarakat lereng selatan Gunung Slamet.
Studi Etnofarmakognosi Dan Etnomedisin Masyarakat Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Rachmani, Eka Prasasti Nur; Suhesti, Tuti Sri
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 17 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jtoi.v17i2.1681

Abstract

Salah satu pemanfaatan tanaman yaitu untuk tujuan pengobatan. Pemanfaatan tanaman untuk pengobatan berdasarkan pengalaman turun-temurun yang bersifat lisan, rentan terjadi kesalahan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pemanfaatan tanaman obat berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat di lereng selatan Gunung Slamet yang meliputi Kecamatan Baturraden, Kedungbanteng, Sumbang dan Purwokerto Utara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara dan observasi yang melibatkan informan yang memiliki kriteria pelaku dan pengobat tradisional. Data profil informan dianalisis secara deskriptif. Analisis kuantitatif meliputi penetapan nilai dan pentingnya tanaman bagi masyarakat dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung nilai guna tanaman untuk pengobatan (Use Value/UV), nilai guna famili (Family Use Value/FUV), frekuensi kutipan relatif (Relative Frekuensi Citation/RFC), tingkat fidelitas (Fidelity Level/FL) serta data mengenai bagian tanaman, cara penyiapan, dan cara penggunaan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 responden menyebutkan 56 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 27 famili. Famili yang paling banyak digunakan berdasarkan nilai FUV adalah zingiberaceae, terdapat 9 spesies yang memiliki 17 kegunaan (khasiat). Tanaman yang paling penting untuk pengobatan berdasarkan nilai RFC tertinggi berturut-turut yaitu kunyit (1,00), jahe (0,92), dan temulawak (0,92). Terdapat 13 jenis tanaman yang memiliki nilai FL 100% yang terdapat dalam famili acanthaceae, araliaceae, asteraceae, campanuiaceae, cupresaceae, euphorbiaceae, fabaceae, liliaceae, myrtaceae, dan zingiberaceae. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut sangat dipercaya untuk tujuan pengobatan tertentu. Bagian tanaman yang paling sering digunakan adalah daun (39%), cara penyiapan bahan tanaman untuk obat yang paling sering dilakukan adalah direbus (56%), cara penggunaan yang sering dilakukan adalah secara per oral (69%) dan sebagian besar bahan tanaman yang digunakan adalah bahan segar (91%). Temuan ini menguatkan data bahwa tanaman pada famili zingiberaceae merupakan tanaman utama yang banyak digunakan untuk pengobatan pada masyarakat lereng selatan Gunung Slamet.
Antioxidant activity of ethanol extract and ethyl acetate fraction of blue pea flower (Clitoria ternatea L.) Suhesti, Tuti Sri; Rahmahwati, Devita Sukma; Warsinah, Warsinah; Nuryanti, Nuryanti; Utami, Vitis Vini Vera Ratna
Acta Pharmaciae Indonesia Vol 12 No 2 (2024): Acta Pharmaciae Indonesia: Acta Pharm Indo
Publisher : Pharmacy Department, Faculty of Health Sciences, Jenderal Soedirman University, Purwokerto, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.api.2024.12.2.12636

Abstract

Background: The imbalance of free radicals can be mitigated by antioxidants. Natural sources, such as the blue pea flower (Clitoria ternatea L.), have gained attention as potential antioxidant alternatives. Objective: This study aimed to evaluate the antioxidant potential of the blue pea flower by extracting its fractions using n-hexane and ethyl acetate. Methods: The study employed an experimental design involving maceration for extraction, followed by fractionation using n-hexane and ethyl acetate solvents. Antioxidant activity was assessed using the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) assay. Data from both qualitative identification and antioxidant tests were analyzed descriptively and quantitatively to determine the IC50 values. Results: The analysis revealed that both the extracts and fractions of the blue pea flower contain bioactive compounds with antioxidant potential, including flavonoids, tannins, steroids, and terpenoids. The IC50 values for antioxidant activity were as follows: n-hexane fraction, 85.28 µg/mL; ethyl acetate fraction, 82.94 µg/mL; and ethanol fraction, 78.78 µg/mL. Conclusion: Flavonoids, steroids, and terpenoids were identified in both the blue pea flower extract and ethyl acetate fraction, while tannins were present only in the ethanol extract. Strong antioxidant activity was observed in all fractions, including the ethanol extract, n-hexane, and ethyl acetate fractions.
Nanoemulsion of Nagasari (Mesua ferrea L.) Leaf and Its Activity Against Staphylococus aureus Suhesti, Tuti Sri; Muslimah, Annisa
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 12, No 2 (2025)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v12i2.49866

Abstract

Nagasari leaves (Mesua ferrea L.) contain special chemicals to fight S. aureus. Nanoparticle technology can improve the solubility, stability, and bioavailability of the phytochemicals found in herbal medicines. The nanoemulsion produces small particle sizes. It has a large surface area. This research aims to determine the physical stability of Nagasari leaf ethanol extract nanoemulsion (EDN) with variations of Virgin Coconut Oil (VCO) as the oil phase during storage and its activity. Nanoemulsions were produced using 1%, 2%, and 3% VCO concentrations. The physical properties and stability of the preparations were characterised. The nanoemulsion was tested for activity against S. aureus. Chloramphenicol was used as a positive control. The results showed that the nanoemulsion containing 1% VCO produced the best physical properties: a particle size of 23.137 ± 7.63 nm, a polydispersity index (PDI) of 0.203 ± 0.013, and a zeta potential of -18.9 ± 0.086. A VCO concentration of 1% produces good nanoemulsion stability. The F1 nanoemulsion exhibited an average inhibition zone diameter of 16.75 mm (strong), the EDN provided an inhibition zone diameter of 8.70 mm (medium), and the positive control exhibited an inhibition zone diameter of 24.30 mm (very strong).
Impact of Donor Age on Human Platelet Lysate Quality and its Consequential Effects on HeLa Cell Growth in the Presence of Anti-Cancer Compounds Mentari, Diani; Wijayanti, Gratiana Ekaningsih; Suhesti, Tuti Sri; Muhammad, Katon; Ritchie, Ni Ken; Nurpratami, Diah
Indonesian Journal of Cancer Chemoprevention Vol 14, No 3 (2023)
Publisher : Indonesian Society for Cancer Chemoprevention

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14499/indonesianjcanchemoprev14iss3pp189-198

Abstract

An integral aspect of anticancer experimentation involves delineating the optimal dosage of the test compound to ascertain its efficacy in targeting malignant cells. Numerous variables may influence a compound's cytotoxicity, among which is the choice of cell culture medium. Within in vitro settings, supplementary mediums are employed to foster cellular proliferation. Platelet lysate (PL) serves as a growth supplement, presenting an alternative to fetal bovine serum (FBS), primarily due to its incorporation of growth factors such as platelet-derived growth factor (PDGF), a component absents in FBS. The integrity of PL may be subject to various factors, including the age of the donor. This study sought to evaluate the impact of donor age on PL quality. Furthermore, it aimed to discern whether PL derived from platelet concentrate (PC) blood components of different age cohorts influences the IC50 value in anticancer compound assessment. Expired PCs were utilized, subsequently classified into age categories: ≤30 years, >30 years, and a combination of ages. PL analysis encompassed parameters such as pH, blood profile, protein, glucose, and cholesterol levels. The investigation scrutinized the influence of PL quality, as a cellular growth supplement, on the anticancer compound cisplatin's activity against HeLa cells. Findings indicate that donor age influenced the IC50 value of cisplatin on HeLa cells. Notably, elevated cholesterol levels and decreased pH in PL from donor ages >30 years were associated with reduced cisplatin toxicity.Keywords: Cisplatin, Donor Age, HeLa, IC50, Platelet Lysate.
Studi Etnofarmakognosi Dan Etnomedisin Masyarakat Lereng Selatan Gunung Slamet Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Rachmani, Eka Prasasti Nur; Suhesti, Tuti Sri
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol. 17 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jtoi.v17i2.1681

Abstract

Salah satu pemanfaatan tanaman yaitu untuk tujuan pengobatan. Pemanfaatan tanaman untuk pengobatan berdasarkan pengalaman turun-temurun yang bersifat lisan, rentan terjadi kesalahan informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan pemanfaatan tanaman obat berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat di lereng selatan Gunung Slamet yang meliputi Kecamatan Baturraden, Kedungbanteng, Sumbang dan Purwokerto Utara. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian dilakukan dengan wawancara dan observasi yang melibatkan informan yang memiliki kriteria pelaku dan pengobat tradisional. Data profil informan dianalisis secara deskriptif. Analisis kuantitatif meliputi penetapan nilai dan pentingnya tanaman bagi masyarakat dilakukan secara kuantitatif dengan menghitung nilai guna tanaman untuk pengobatan (Use Value/UV), nilai guna famili (Family Use Value/FUV), frekuensi kutipan relatif (Relative Frekuensi Citation/RFC), tingkat fidelitas (Fidelity Level/FL) serta data mengenai bagian tanaman, cara penyiapan, dan cara penggunaan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 12 responden menyebutkan 56 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 27 famili. Famili yang paling banyak digunakan berdasarkan nilai FUV adalah zingiberaceae, terdapat 9 spesies yang memiliki 17 kegunaan (khasiat). Tanaman yang paling penting untuk pengobatan berdasarkan nilai RFC tertinggi berturut-turut yaitu kunyit (1,00), jahe (0,92), dan temulawak (0,92). Terdapat 13 jenis tanaman yang memiliki nilai FL 100% yang terdapat dalam famili acanthaceae, araliaceae, asteraceae, campanuiaceae, cupresaceae, euphorbiaceae, fabaceae, liliaceae, myrtaceae, dan zingiberaceae. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut sangat dipercaya untuk tujuan pengobatan tertentu. Bagian tanaman yang paling sering digunakan adalah daun (39%), cara penyiapan bahan tanaman untuk obat yang paling sering dilakukan adalah direbus (56%), cara penggunaan yang sering dilakukan adalah secara per oral (69%) dan sebagian besar bahan tanaman yang digunakan adalah bahan segar (91%). Temuan ini menguatkan data bahwa tanaman pada famili zingiberaceae merupakan tanaman utama yang banyak digunakan untuk pengobatan pada masyarakat lereng selatan Gunung Slamet.
Synthesis and Cytotoxic Activity of Methoxylated Chalcones in Breast Cancer MCF-7 and Prostate Cancer DU-145 Cell Lines Fareza, Muhamad Salman; Samudra, Genta Hafied Naga; Asrada, Syahdan; Fischellya, Dafi; Wijaya, Triyadi Hendra; Choironi, Nur Amalia; Wasito, Hendri; Suhesti, Tuti Sri; Mustikaningtyas, Ika; Rehana, Rehana; Setiyabudi, Lulu; Sarmoko, Sarmoko
Molekul Vol 20 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jm.2025.20.3.13612

Abstract

Chalcones, a class of naturally occurring compounds, exhibit a broad spectrum of biological activities, including anticancer properties. In this study, a series of methoxylated chalcones were synthesized via Claisen-Schmidt condensation and evaluated for cytotoxic activity against breast cancer MCF-7 and prostate cancer DU-145 cell lines. The synthetic route involved Claisen-Schmidt condensation, leading to various methoxy-substituted chalcone derivatives. The structures of the synthesized chalcones were confirmed through NMR and mass spectrometry. Cytotoxicity was assessed using the PrestoBlue assay, with 4-bromochalcone (compound 2) displaying the highest cytotoxic activity against MCF-7 cancer cell lines (IC50 = 26.99 µM). These results indicate that methoxylated chalcones hold promise as potential lead compounds for the development of new anticancer agents targeting breast and prostate cancer.
Efektivitas tablet hisap probiotik Lactobacillus reuteri terhadap penurunan populasi bakteri anaerob pada cairan sulkus gingiva pasca scaling and root planing: Studi eksperimental Shabha, Fatharani Tsaniya Muti; Suhesti, Tuti Sri; Cahyani, Inneke
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 10, No 2 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v10i2.69555

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Periodontitis kronis merupakan penyakit peradangan destruktif jaringan periodontal yang disebabkan oleh bakteri patogen jenis anaerob yang dapat ditemukan di plak subgingiva dan cairan sulkus gingiva. Terapi periodontal perlu dilakukan untuk mengeliminasi bakteri periodontopatogen dengan perawatan non-bedah scaling & root planing didukung dengan mengkonsumsi obat yang bersifat antimikroba sebagai terapi adjuvan. Probiotik seperti Lactobacillus reuteri berpotensi sebagai terapi adjuvan karena mampu memproduksi zat antibakteri berupa bakteriosin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas tablet hisap probiotik Lactobacillus reuteri terhadap penurunan populasi bakteri anaerob dalam cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis pasca scaling & root planing. Metode: Studi eksperimental klinis uji coba terkontrol acak pendahuluan (preliminary RCT) dengan rancangan pre-test post-test with control group design melibatkan 8 subjek yang terbagi menjadi kelompok kontrol (hanya SRP, n=4) dan kelompok perlakuan (SRP + konsumsi tablet hisap L. reuteri 2x/hari selama 7 hari, n=4). Sampel CSG diambil pada hari ke-0 (pasca SRP) dan hari ke-8 (setelah 7 hari masa perlakuan). Perhitungan koloni bakteri dilakukan menggunakan colony counter dengan metode total plate count (TPC) (CFU/mL), lalu dianalisis statistik menggunakan Uji Paired t-test dan Unpaired t-test. Hasil: Hasil rerata penurunan jumlah koloni bakteri anaerob (105 CFU/mL) pada kelompok perlakuan dan kontrol secara berturut-turut sebesar 242,25 ± 10,1 dan 165,75 ± 52,6 (p≤0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rerata penurunan jumlah koloni bakteri anaerob antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol (p≤0,05). Simpulan: Scaling & root planing dikombinasikan dengan mengkonsumsi tablet hisap probiotik Lactobacillus reuteri efektif dalam menurunkan populasi bakteri anaerob penyebab periodontitis kronis.KATA KUNCI: probiotik lactobacillus reuteri, bakteri anaerob, periodontitis kronis, scaling and root planing, cairan sulkus gingiva.Effectiveness of Lactobacillus reuteri probiotic lozenges in reducing anaerobic bacterial population in gingival crevicular fluid after scaling and root planning: Study experimentalABSTRACTIntroduction: Chronic periodontitis is a destructive inflammatory periodontal disease caused by anaerobic pathogenic bacteria found in subgingival plaque and gingival crevicular fluid. Periodontal treatment is needed to eliminate periodontopathogenic bacteria through nonsurgical treatment with scaling and root planing, supported by the use of antimicrobial medicine as adjuvant therapy. Probiotics such as Lactobacillus reuteri have potential as adjuvant therapy because they can produce bacteriocins, which are antibacterial substances. This study aimed to analyze the effectiveness of L. reuteri probiotic lozenges in reducing anaerobic bacterial populations in the GCF of patients with chronic periodontitis after scaling and root planing. Methods: A preliminary randomized controlled trial (RCT) with a pre-test post-test with control group design was conducted involving 8 subjects, divided into a control group (SRP only, n=4) and a treatment group (SRP + use of L. reuteri lozenges twice daily for 7 days, n=4). GCF samples were collected on day 0 (post-SRP) and day 8 (after the 7-day treatment period). Bacterial colony counting was performed using a colony counter with the total plate count (TPC) method (CFUs/mL), and the data were statistically analyzed using paired and in paired t-tests. Results: Anaerobic bacterial colonies (105 CFU/mL) decreased at 242.25 ± 10.1 in the treatment group and 165.75 ± 52.6 in the control group. The results showed a significant difference in the mean reduction in the number of anaerobic bacterial colonies between the treatment group and the control group (p≤0.05). Conclusion: Scaling & root planing combined with the use of probiotic Lactobacillus reuteri lozenges is effective in reducing the population of anaerobic bacteria associated with chronic periodontitis.KEY WORDS: Lactobacillus reuteri probiotic, anaerobic bacteria, chronic periodontitis, scaling and root planing, gingival crevicular fluid.