Yoyos Dias Ismiarto
Departement Of Orthopaedi And Traumatology, Faculty Of Medicine, Universitas Padjadjaran/ Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Histopathological Effects of Omega-3 in Reducing Cartilage Destruction Progression in Mice with Knee Joint Osteoarthritis Farry, Farry; Ismiarto, Yoyos Dias; Chaidir, M. Rizal; Ismono, Darmadji
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.669 KB) | DOI: 10.15395/mkb.v52n2.1784

Abstract

rimary and secondary osteoarthritis relates to inflammatory processes and inflammatory mediators and is destructive to the articular cartilage. Omega-3 is known to be an alternative treatment for rheumatoid arthritis due to the anti-inflammatory effect. This study is an experimental study with simple random sampling using 36 Wistar mice, which were divided into an intervention group and a control group, to understand the effect of omega-3 in slowing progress cartilage destruction in knee joint with osteoarthritis. This study is performed at the Clinical Pharmacology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, and the Anatomical Pathology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital, in November 2018. Osteoarthritis was induced using intraarticular 1 mg monosodium iodoacetate injection to the mouse knee joint. The intervention group received oral omega-3 every day while the control group did not. Samples from the knee joint were extracted to evaluate the cartilage destruction histopathologically. Results were then analyzed using the Mann-Whitney test and a significant difference of the osteoarthritis grades was identified between the intervention group and the control group on day 7 (p=0.003), day 14 (p=0.003), and day 21 (p=0.003). In addition, a significant difference in the osteoarthritis grading changes was also found between the study group and the control group on day 7 and day 21 (p=0.004). Hence, omega-3 has the ability to slow down the histopathological cartilage destruction progress in mice with knee joint osteoarthritis.Efek Pemberian Omega-3 terhadap Perlambatan Progresivitas Destruksi Kartilago Sendi Lutut Tikus yang Mengalami Osteoartritis Secara HistopatologisOsteoartritis primer dan sekunder berhubungan dengan proses inflamasi dan mediator inflamasi dan merusak tulang rawan artikular. Omega-3 dikenal sebagai pengobatan alternatif untuk rheumatoid arthritis karena efek anti-inflamasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan pengambilan sampel acak sederhana menggunakan 36 tikus Wistar, yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, untuk memahami efek omega-3 dalam memperlambat perkembangan kerusakan tulang rawan pada sendi lutut dengan osteoarthritis. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, dan Laboratorium Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Dr. Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung, pada November 2018. Seluruh hewan uji dilakukan induksi osteoartritis dengan monosodium iodoasetat sebanyak 1 mg yang disuntikkan ke dalam sendi lutut. Kelompok perlakuan diberikan omega-3 1 kali per hari per oral, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan omega-3. Sampel jaringan sendi lutut diambil dan dilakukan penilaian destruksi kartilago secara histopatologis. Hasil kemudian dianalisis dengan menggunakan uji Mann-Whitney dan perbedaan yang signifikan dari nilai osteoartritis diidentifikasi antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada hari 7 (p=0,003), hari 14 (p=0,003), dan hari 21 (p=0,003). Selain itu, perbedaan yang signifikan dalam perubahan penilaian osteoarthritis juga ditemukan antara kelompok studi dan kelompok kontrol pada hari ke 7 dan hari ke 21 (p=0,004). Oleh karena itu, omega-3 memiliki kemampuan untuk memperlambat progres destruksi tulang rawan histopatologis pada tikus dengan osteoartritis sendi lutut. 
Karakteristik dan Faktor Risiko Obstetrical Brachial Plexus Palsy pada Bayi Baru Lahir Handoyo, Andreas Vincent; Ismiarto, Yoyos Dias
Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obstetrical brachial plexus palsy (OBPP) merupakan cedera sebagian/seluruh plexus brachialis akibat proses kelahiran. Insidensi di negara berkembang berkisar 0,15%. Faktor risiko meliputi intrapartum dan intrauterin. Dibedakan tiga jenis OBPP yaitu Duchenne Erb, Klumpke, dan whole arm palsy. Penelitian bersifat retrospektif, melihat karakteristik dan faktor risiko terjadinya OBPP di RS. Hasan Sadikin, Bandung, periode Januari 2002-April 2007. Data diperoleh dari catatan medik bagian perinatologi, kemudian dilakukan analisis binary logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan insidensi OBPP 0,141%, seluruhnya Erb palsy dan kehamilan tunggal. Sebanyak 68,75% presentasi belakang kepala, 50% lahir spontan, 18,75% disertai meconeal staining, 62,5% berat lahir ≥3.500 g, 56,25% laki-laki, 68,75% asfiksia, 12,5% distosia bahu, dan 6,25% fraktur klavikula. Faktor risiko yang bermakna adalah presentasi kaki (OR 9,357; 95%CI), letak lintang (OR 5,136; 95%CI), ekstraksi vakum (OR 5,240;95%CI), ekstraksi forseps (OR 4,320; 95%CI), ekstraksi bokong/kaki (OR 14,411; 95%CI), berat lahir 3.500- 3.999 g (OR 4,571; 95%CI), berat lahir ≥ 4.500 g (OR 57,759; 95%CI), asfiksia (OR 5,992; 95%CI) dan asfiksia berat (OR 6,094; 95%CI). Sectio Cesarea cenderung protektif {OR 0,244; 95%CI; p=0,062 (>0,05)}. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang terutama berperan adalah presentasi kaki, ekstraksi bokong, dan berat lahir >4.500 g.Characteristics and Risk Factors of Obstetrical Brachial Plexus Palsy in Newborn BabyObstetrical brachial plexus palsy (OBPP) is an injury of entire or part of brachial plexus correlated with delivery process. Incidence in developing countries is around 0.15%. Risk factors include intrapartum and intrauterine. Three types of OBPP are Duchenne Erb, Klumpke, and whole arm palsy. This was a retrospective study of characteristic and risk factors of OBPP in Hasan Sadikin Hospital, Bandung, period January 2002-April 2007. Data were collected from perinatology ward medical records, and analyzed using binary logistic regression. OBPP incidence was 0.141%. All were Erb palsy and single pregnancy, 68.75% were head-occiput posterior presentation, 50% were spontaneous birth, 18.75% had meconeal staining, 62.5% had birth weight ≥3,500 g, 56.25% were male, 68.75% asphyxia, 12.5% shoulder dystocia, and 6.25% clavicle fracture. Risk factors significantly correlated were foot presentation (OR 9.357; 95%CI), transverse fetal position (OR 5.136; 95%CI), vacuum, forceps, breech/foot extraction (OR 5.240;95%CI, 4.320; 95%CI, 14.411; 95%CI, respectively), birth weight 3,500-3,999 g (OR 4.571;95%CI), birth weight ≥4,500 g (OR 57.759; 95%CI), asphyxia (ORs 5.992; 95%CI), and severe asphyxia (OR 6.094; 95%CI). Sectio cesarea tend to have protective effect {OR 0.244; 95%CI; p=0.062 (>0.05)}. The important risk factors of OBPP are foot presentation, breech/foot extraction, and birth weight >4,500 g.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.9
Hasil Fungsional Pascaoperasi Pasien dengan Dislokasi Panggul Kongenital pada Kelompok Usia Berjalan Achmad, Iwan Hipsa; Ismiarto, Yoyos Dias
Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v50n4.1359

Abstract

Kasus dislokasi panggul kongenital (DDH) masih terjadi setelah usia berjalan karena terlambat atau tidak terdiagnosis. Pilihan pengobatan untuk DDH setelah usia berjalan adalah prosedur bedah telah menjadi tantangan pada bidang ortopaedi. Tujuan penelitian ini adalah menilai hasil klinis dan radiografi pengobatan bedah DDH setelah usia berjalan. Penelitian ini melibatkan 13 pasien (15 panggul) di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2012–2015 yang telah dilakukan tindakan operatif pada usia 1 sampai 7 tahun dengan tindakan reduksi terbuka, femoral osteotomi, dan osteotomi panggul. Hasil klinis akhir setelah follow up (rerata 22 bulan) memiliki hasil excellent 5 pasien, good 7 pasien, fair 2 pasien, dan poor satu pasien. Secara radiologi hasilnya adalah Kelas I (excellent) 8 pasien, Kelas II (good) 5 pasien, Kelas III (fair) satu pasien, dan kelas IV (poor) satu pasien. Hasil yang memuaskan adalah 10 pasien secara klinis dan 11 pasien (dinilai dari radiologi). Simpulan, hasil fungsional pasien DDH yang dilakukan perawatan setelah operasi di usia berjalan mayoritas memiliki hasil yang baik.Kata kunci: Dislokasi panggul kongenital, hasil fungsional, usia berjalan Post-operative Functional Outcome in Walking-Age Patients with Congenital Hip Dislocation Cases of developmental dysplasia of the hip (DDH) still occur after walking age because of late or missed diagnosis. The treatment of choice for DDH after walking age is surgical procedure, which has been a challenge in the orthopedic field. The aim of this study was to assess the clinical and radiographic results of surgical treatment of DDH after walking age. The study included 13 patients (15 hips) who underwent surgeries at the age of 1 to 7 years with open reduction, femoral osteotomy, and pelvic osteotomy procedures  in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung from 2012–2015. The final clinical outcomes at the end of the follow up period (mean = 22 months) was excellent in 5 patients, good in 7 patients, fair in 2 patients, and poor in one patient. The final radiological results presented Class I (excellent) in 8 patients, Class II (good) in 5 patients, Class III (fair) in one patient, and Class IV (poor) in one patient. The number of patients that had satisfactory outcome was 10 patients clinically and 11 patients radiologically. It is concluded that the functional outcome of DDH patients surgery in walking is mostly good. Key words:DDH, functional outcome, walking age 
POLA FRAKTUR METATARSAL PADA DEFORMITAS METATARSUS ADDUKTUS PADA KASUS CIDERA KENDARAAN BERMOTOR Siahaan, Denny Maulana; Ismiarto, Yoyos Dias; Herman, Herry
Syifa'Medika Vol 11, No 1 (2020): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v11i1.2195

Abstract

Metatarsus aduktus adalah salah satu kelainan bentuk kaki yang paling umum dengan insidensi sekitar 3%. Pola cedera pada kelainan ini belum dijelaskan sebelumnya. Penelitian ini akan mengamati pola fraktur pada kaki dengan metatarsus aduktus. Metatarsus aduktus ditentukan secara radiologis menggunakan sudut metatarsus aduktus pada kelompok trauma kaki yang disebabkan kecelakaan sepeda motor di UGD rumah sakit Hasan Sadikin Januari 2014 - Desember 2018. Dari 135 kasus trauma kaki, metatarsus aduktus ditemukan pada 14 pasien (10,7%). Dominan terjadi pada pria (70,1%). Fraktur soliter terjadi pada 8 pasien, fraktur multipel pada 6 pasien, dengan sebagian besar tulang yang terlibat adalah metatarsal keempat (n = 9). Fraktur berhubungan dengan peningkatan konsentrasi beban pada suatu tempat. Metatarsus aduktus menyebabkan beban yang lebih tinggi di lateral metatarsal yang meningkatkan risiko terjadinya fraktur. Perubahan anatomis pada metatarsus aduktus berhubungan dengan perubahan biomekanik kaki, menunjukan kesesuaian pola fraktur di area lateral metatarsal pada kasus trauma kaki. 
KARAKTERISTIK PASIEN DENGAN OSTEOSARKOMA PADA EKSTREMITAS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2014 Ismiarto, Yoyos Dias; Sitanggang, Gustman Lumanda
Syifa'Medika Vol 10, No 1 (2019): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v10i1.1690

Abstract

Osteosarkoma adalah suatu keganasan primer tumor tulang pada anak dan remaja, yang pada umumnya menyerang laki-laki pada usia dekade 10 – 20 tahun. Tumor ini paling sering mengenai metafisis tulang panjang, terutama pada tulang femur. Pengobatan osteosarkoma dapat dilakukan secara radikal amputasi ataupun prosedur limb salvage, tergantung dari tingkat keparahan tumor. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan pengetahuan tentang karakteristik klinis osteosarkoma pada ekstremitas. Penelitian dilakukan secara studi retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien yang didiagnosis dengan osteosarkoma mulai dari Januari 2014 – Desember 2014 yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Data diolah secara deskriptif meliputi jenis kelamin, usia, letak dari tumor, metastasedan terapi yang dilakukan. Terdapat 121 pasien yang didiagnosis dengan osteosarkoma di Rumah Sakit Hasan Sadikin, dengan persentase jenis kelamin paling banyak pada laki–laki (52,9 %), usia dibawah 15 tahun (59,5%), letak dari tumor paling banyak pada femur (30,5%), dan sudah terjadi metastasis (46,2 %), untuk terapi lebih banyak dilakukan limb salvage procedure (69,4%). Pasien osteosarkoma yang dirawat di RS Hasan Sadikin lebih banyak dilakukan terapi dengan limb salvage procedure dibandingkan dengan amputasi. Evaluasi jangka panjang diperlukan untuk menilai rekurensi dan penyebaran tumor ke organ lain.
Faktor Resiko Potensial Terhadap Kematian pada Pasien Pelvic Ring Injury yang Dirawat Di Rsup Dr Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2016 – Desember 2018 Ismiarto, Yoyos Dias; Arif, Yoan Putrasos
Syifa'Medika Vol 9, No 2 (2019): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v9i2.1658

Abstract

Pelvic Ring Injury terjadi akibat mekanisme trauma berenergi tinggi. Penelitian terdahulu melaporkan derajat stabilitas cincin panggul yang mengalami cedera dan adanya cedera pada anggota tubuh lain sebagai faktor prognostik terhadap kejadian mortalitas pada Pelvic Ring Injury. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor prognostik terhadap terjadinya kematian pada pasien Pelvic Ring Injury yang dirawat di RSUP Dr Hasan Sadikin Periode Januari 2016 – Desember 2018. Penelitian dilakukan secara retrospektif berdasarkan data pasien yang dirawat di RSUP Dr Hasan Sadikin Periode Januari 2016 hingga Desember 2018. Data diolah secara deskriptif meliputi umur, jenis kelamin, mekanisme cedera, derajat instabilitas Pelvic Ring Injury menggunakan klasifikasi Young and Burgess, derajat keparahan cedera berdasarkan Injury Severity Score dan dilakukan analisis statistik terhadap terjadinya kematian selama masa perawatan. Hasilnya, dari 87 pasien yang mengalami Pelvic Ring Injury, 70 pasien bertahan hidup dan 17 pasien meninggal selama masa perawatan. Angka kematian lebih tinggi pada pasien dengan Unstable Pelvic Ring Injury (p<0,05). Derajat keparahan cedera lebih tinggi pada pasien yang meninggal dalam masa perawatan dibandingkan dengan pasien yang bertahan hidup (p<0,05). Simpulan, Pelvic Ring Injury yang tidak stabil dan angka derajat keparahan cedera yang tinggi dapat menjadi faktor prognostik yang menentukan terhadap terjadinya kematian.
KEBUTUHAN TRANSFUSI TERKAIT DENGAN POLA FRAKTUR PANGGUL PADA ANAK-ANAK Ismiarto, Yoyos Dias; Perdana, Mohammad Fatikh Nanda
Syifa'Medika Vol 11, No 1 (2020): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v11i1.1872

Abstract

AbstrakCedera panggul pada anak-anak jarang terjadi dan sering diabaikan bahkan hingga hari ini. Patah tulang panggul biasanya hasil dari trauma berenergi tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kebutuhan transfusi dikaitkan dengan pola fraktur panggul pada anak-anak.Ini adalah studi retrospektif cross sectional dengan metode observasi analitik dengan populasi fraktur panggul pada anak-anak antara Januari 2012 dan September 2018 di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung. Diidentifikasi ebanyak 30 anak-anak dengan fraktur panggul dalam jangka waktu ini. Data yang diekstraksi meliputi jenis kelamin, usia, mekanisme cedera, rincian pola fraktur panggul, cedera terkait (kepala, dada, perut / genitourinari, ekstremitas, atau tulang belakang), dan persyaratan transfusi darah selama rawat inap.Ada 30 pasien yang memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian ini, 22 pria (73,3%) dan 8 wanita (26,7%). Usia rata-rata adalah 15,18 tahun (kisaran 7-19 tahun). 8 pasien dikategorikan sebagai fraktur cincin panggul Torode Zieg tipe IIIA (26,7%), 12 pasien dikategorikan sebagai tipe IIIB (40%), dan sisanya 10 pasien dikategorikan sebagai tipe IV (33,3%). Transfusi darah diberikan pada 8 pasien, dengan kadar hemoglobin ? 7. Korelasi antara pola fraktur panggul dengan kebutuhan transfusi yang dianalisis dengan korelasi spearman adalah 0,360 (p <0,05).Kesimpulannya adalah pola dan tingkat keparahan fraktur cincin panggul memiliki korelasi dengan peningkatan kebutuhan transfusi pada populasi anak. Semakin parah pola cedera cincin panggul, semakin tinggi kemungkinan diperlukan transfusi darah.AbstractPelvic injuries in children are rare and overlooked frequently even today. Pelvic fractures usually result from high-energy trauma. The aim of this study was to determine whether the need of transfusion is associated with pelvic fracture pattern in pediatric patients.This is cross sectional retrospective study with analytic observational method with population of pelvic fractures in pediatric patients between January 2012 and September 2018 in Hasan Sadikin General Hospital Bandung. A total of 30 pediatric patients with pelvic fractures in this time frame were identified. Data extracted included sex, age, mechanism of injury, details of the pelvic fracture pattern, associated injuries (head, chest, abdominal/genitourinary, extremity, or spine), and blood transfusion requirements during the hospitalization.There were 30 patients met inclusion criteria for this study, 22 males (73.3%) and 8 females (26.7%). The average age was 15.18 years (range 7–19 years). 8 patients categorized as Pelvic Ring Injury Torode Zieg type IIIA (26.7%), 12 patients categorized as type IIIB (40%), and the rest 10 patients are categorized as type IV (33.3%). Blood transfusions were administered in 8 patients, with hemoglobin level ? 7. The correlation between pelvic fracture pattern with the need of transfusion analyzed with spearman correlation was 0.360 (p < 0.05).The conclusion is pelvic ring fracture pattern and severity have a correlation with the increased transfusion requirements in the pediatric population. The more severe the pattern of the pelvic ring injury, the higher chance of the blood transfusion required.
Survey Penyebab Kematian Berdasarkan Prosedur Advance Trauma Life Support (ATLS) pada Pasien Multiple Trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Bedah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Periode Januari – Juli 2014 Ramadiputra, Gamal; Ismiarto, Yoyos Dias; Herman, Herry
Syifa'Medika Vol 9, No 1 (2018): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v9i1.1339

Abstract

Trauma adalah penyebab kematian utama pada usia di bawah 44 tahun di Amerika Serikat (AS). Di Indonesia, trauma menjadi penyebab kematian utama pada kelompok umur 15 – 24 tahun, dan nomor 2 pada kelompok usia 25 – 34 tahun. Penyebab umumnya ialah kecelakaan lalulintas, diikuti jatuh dari ketinggian, luka bakar dan karena kesengajaan (usaha pembunuhan atau kekerasan lain dan bunuh diri). Salah satu perintis pelayanan kedaruratan medik termasuk kasus trauma adalah Dr. Adams R. Cowley, dari beliau muncul konsep “The golden hour”. Pelatihan Advanced Trauma Life Support(ATLS) dimulai pada tahun 1980 di Alabama, AS, dan atas prakarsa Dr. Aryono D. Pusponegoro, Ketua Komisi Trauma IKABI pusat, mulai 1995 kursus ATLS terselenggara di Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dalam kurun waktu Januari sampai Juli 2014 dengan jumlah pasien meninggal di instalasi gawat darurat bedah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sebanyak 58 pasien. Melalui penelitian ini akan ditelusuri penyebab kematian dilihat dari segi pertolongan pertama ketika pasien datang ke instalasi gawat darurat, dengan mengacu kepada prosedur Advanced Trauma Life Support (ATLS) yang biasa diterapkan. Hasilnya, pasien meninggal di instalasi gawat darurat bedah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dari Januari sampai Juli 2014 sebanyak 58 pasien, sebanyak 6 pasien (10,34%) meninggal pada satu jam pertama, 12 pasien (20,68%) meninggal pada satu sampai enam jam pertama. Dinilai dari segi prosedur Advanced Trauma Life Support (ATLS), mayoritas mengalami kegagalan pada tahap disability (D), yaitu sebanyak 41 pasien meninggal (70,06%), pada tahap circulation (C) sebanyak 10 pasien (17,24%), pada tahap breathing (B) sebanyak 6 pasien (10,34%) dan tahap airway (A) sebanyak 1 pasien (1,72%).
ANALISIS KEBERHASILAN TERAPI KONSERVATIF PONSETI TERHADAP FAKTOR SOSIODEMOGRAFI PADA PASIEN CLUBFOOT Ismiarto, Yoyos Dias; Faturrachman, Yoga; Luthfi, Kemas Abdul Mutholib; Mahyudin, Mahyudin; Fadli, Sanditya
Syifa'Medika Vol 10, No 2 (2020): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v10i2.1901

Abstract

Kaki pengkor atau clubfoot adalah salah satu kelainan kongenital pada kaki dalam ortopedi. Kelainan ini adalah kelainan yang terjadi sejak dalam rahim. Pengenalan dini dan tatalaksana kaki pengkor sangat penting di mana "golden period" untuk terapi adalah tiga minggu setelah kelahiran, karena pada usia kurang dari tiga minggu ligamen di kaki masih fleksibel sehingga masih dapat dimanipulasi. Perawatan konservatif dengan metode Ponseti dimulai pada saat pasien dilahirkan, dengan memanjangkan jaringan lunak yang memiliki kontraktur dan kemudian dipertahankan dengan serial casts selama 4-6 minggu dalam rangka perbaikan mulai dari koreksi Cavus, Adductus, Varus, dan Equinus (CAVE), cast diganti setiap minggu. Metode penelitian ini dilakukan secara retrospektif dari Januari 2010 hingga Januari 2015 dengan 110 pasien (174 kaki) yang menjalani perawatan rawat jalan dan dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Dari 110 pasien yang didapatkan: 58 pria, 52 wanita. Usia pada pengobatan / diagnosis pertama adalah yang termuda 2 hari dan yang tertua 12 tahun. Dari 110 pasien, semua pasien dirawat secara konservatif pada awal pengobatan. Dari data yang diperoleh, terapi konservatif dengan serial casting menunjukkan hasil yang baik pada sebagian besar pasien. Hasil yang buruk dimungkinkan karena keterlambatan pasien (usia> 1 tahun) ketika pertama kali datang. Terapi konservatif dengan metode Ponseti menunjukkan hasil yang baik pada sebagian besar pasien. Hasil yang buruk dikarenakan keterlambatan pasien (usia> 1 tahun) ketika mereka pertama kali datang, tipe syndromic dan rigid clubfoot adalah tipe yang paling umum dari kegagalan terapi konservatif. Sementara faktor genetik tidak berperan dalam keberhasilan terapi konservatif.
Effect of Iron Supplementation in Anti-Tuberculosis Drug Treatment on Interferon-γ Level in Tuberculosis Spondylitis Patients Perdana, M. F. Nanda; Rasyid, Hermawan Nagar; Ramdan, Ahmad; Ismiarto, Yoyos Dias
Majalah Kedokteran Bandung Vol 52, No 3 (2020)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v52n3.1712

Abstract

Tuberculosis (TB) is still one of the major health problems in the community. Micronutrients, including iron, are crucial in the body's defense mechanism. Iron modulates the activation of IFN-γ, which in turn will activate the macrophages. This study explores the effect of iron supplementation given with anti-tuberculosis drug therapy on the IFN-γ level in tuberculosis spondylitis patients. This was a single-blind randomized control trial study at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, from December 2018 to March 2019, using the consecutive sampling approach. Thirty-four respondents with category 1 TB spondylitis and an sTfR level of> 21.7 pg /µL were recruited and randomized into control and experimental groups. The control group (n=17) was treated with 2 RHZE for 2 months while the experimental group (n=17) received 2 RHZE and iron tablet for 2 months. An increase in the IFN-γ level of the experimental group was observed from an average of 21.7 pg/ml before therapy to an average of 72.39 pg/mL after therapy. Meanwhile, the IFN-γ level in the control group increases from an average of 22.5 pg/mL to an average of 35.35 pg/mL. This difference was statistically significant based on the analysis using the independent t-test (p-value <0.05). Therefore, the administration of anti-tuberculosis drugs with the addition of iron can increase the body's immune response, which is indicated by the increasing level of IFN-γ.Pengaruh Penambahan Zat Besi Pada Pengobatan Obat Anti Tuberkulosis Terhadap Kadar Interferon-γ Pada Pasien Spondilitis Tuberkulosis Tuberkulosis (TB) masih merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di masyarakat. Gangguan imunitas tubuh penderita berperan dalam proses terjadinya infeksi tuberculosis. Mikronutrient yang penting dalam pertahanan tubuh salah satunya adalah zat besi. Pada penelitian ini akan dipelajari mengenai pengaruh penambahan zat besi pada terapi OAT terhadap kadar IFN-γ pada pasien spondilitis tuberkulosis. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode single blind randomized control trial di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Desember 2018 hingga Maret 2019, dengan metode pengambilan sampel consecutive sampling. Dilakukan randomisasi pada 34 responden. Responden yaitu: penderita spondilitis TB kategori 1 dengan kadar sTfR >21,7 pg/µL. Kelompok kontrol 17 responden diterapi 2 RHZE. Kelompok eksperimen 17 responden diterapi 2 RHZE dengan tablet besi selama 2 bulan. Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar IFN-γ rata-rata kelompok eksperimen (pemberian obat anti tuberkulosis dengan penambahan zat besi) dari 21,7 pg/mL sebelum dilakukan pemberian terapi menjadi rata-rata 72,39 pg/mL setelah dilakukan pemberian terapi diuji dengan uji t sampel independen (nilai p<0,05), secara statistik berbeda signifikan dengan kelompok kontrol (pemberian obat anti tuberkulosis), yaitu dari 22,5 pg/mL sebelum dilakukan pemberian terapi menjadi rata-rata 35,35 pg/mL setelah dilakukan pemberian terapi.  Simpulan, pemberian obat anti tuberkulosis dengan penambahan zat besi dapat meningkatkan respon imun tubuh, yang ditandai dengan meningkatnya kadar IFN-γ.
Co-Authors Achmad, Iwan Hipsa Adam Fajar Adam Fajar Adhi Kristianto Sugianli Adriel Benedict Haryono Agus Hadian Rahim Ahmad Ramdan Ahmad Ramdan Ahmad Ramdan Alwin Tahid Andreas Vincent Handoyo Anglita Yantisetiasti Anita Kurniawati Anita Kurniawati, Anita Annisa Nur Maulidya Annisa Nurrizki Baroqah Arif, Yoan Putrasos Arnold David Pardamean Benjamin Yong Qing Nan Boby Harul Priono Chaidir, M Rizal Darmadji Ismono Darmadji Ismono, Darmadji Delita Prihatni Deni Maulana Dicky Mulyadi Edhyana Sahiratmadja Endang Syamsudin fachri, Dliyauddin Fadli, Sanditya Fadly Husain Fajar Yulianto KR Fajar, Adam Farry, Farry Faturrachman, Yoga Fung, Joyce Phua Pau Ghita Bengtissen Ghuna Arioharjo Utoyo Helmi Ismunandar Helmi Ismunandar Hermawan Nagar Rasyid, Hermawan Nagar Herry Herman Iman Dwi Winanto Isa Ridwan Joyce Phua Pau Fung Liliek Yudhantoro Luthfi, Kemas Abdul Mutholib M Rizal Chaidir M. Rizal Chaidir, M. Rizal Mahyudin Mahyudin Mahyudin Mahyudin Mayasari, Wulan Mohammad Rizal Chaidir Nucki Nursjamsi Hidajat, Nucki Nursjamsi Nucki Nursjamsi Hidayat Nucki Nursjamsi Hidayat, Nucki Nursjamsi Nugraha, Fitrahadi Nugraha, Yudi Purnama Pardamean, Arnold David Perdana, M. F. Nanda Perdana, Mohammad Fatikh Nanda Pinandita, Tody Putri Liana Warman Qing Nan, Benjamin Yong Ramadiputra, Gamal Renaldi Satria Handika Reni Nurazizah Rifki Albana Romy Deviandri Setiawanto, Teguh Siahaan, Denny Maulana Siauw, Cahyadi Sitanggang, Gustman Lumanda Siwendro, Afrisya Bimo Sunarjati Sudigdoadi Tody Pinandita Tody Pinandita Undang Ruhimat Undang Ruhimat Undang Ruhimat Warman, Putri Liana Wenny Dwi Chandra Wenny Dwi Chandra, Wenny Dwi Widya Arsa Wulan Mayasari Wulan Mayasari Yudhantoro, Liliek