Yoyos Dias Ismiarto
Departement Of Orthopaedi And Traumatology, Faculty Of Medicine, Universitas Padjadjaran/ Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung

Published : 50 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Open Reduction of Supracondylar Humerus Fractures in Children for Failed Closed Reduction: Outcome of Delayed Treatment Yoyos Dias Ismiarto; Mahyudin Mahyudin; Adriel Benedict Haryono
Majalah Kedokteran Bandung Vol 53, No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15395/mkb.v53n3.2127

Abstract

Supracondylar fractures of the humerus are common in children and the advocated treatments for these fractures include closed reduction and percutaneous pinning. There are numerous debates on the intervention period selection for delayed treatment in children. This phenomenon is prevalent in regions with limited healthcare support. The objective of this study was to compare the outcome of early and late treatment groups, including preliminary presentations and the management of failed treatment. This was a prospective comparative study on early and late open reduction, featuring Kirschner wire fixation for Gartland type III supracondylar fracture of humerus in children aged less than 18 years. Patients from January 2018 to January 2019 were categorized into early and late groups (n=22 and n=26), consisting of 33 (86.8%) males and 15 (31.25%) females. Flynn’s criteria were used to evaluate them. The average time from injury to surgery was 50.24±23.5 hours in the early group and 373.79±89.23 hours in the late group (p<0.002). While the Bauman’s angle recorded after 12 weeks presented the values of 82.04 ± 5.18 and 77.38±6.43 (p=0.622) for the early and late groups, respectively. Pre-operative nerve injuries were observed only in 4 (8.33%) cases from the early group. The functional outcomes of both categories were not significantly different statistically (p=0.242). The outcome for children with supracondylar humerus fracture Gartland type III was satisfactory in both groups. In conclusion, treatment delay does not result in a difference in the outcome according to Flynn's criteria.
Hubungan antara Spastisitas Pergelangan Kaki dengan Kualitas Hidup pada Anak dengan Cerebral Palsy Tipe Spastik Quadriplegia Helmi Ismunandar; Yoyos Dias Ismiarto
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.602 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19178

Abstract

Cerebral palsy (CP) disebabkan oleh gangguan perkembangan otak. CP tipe spastik merupakan tipe tersering. Spastisitas merupakan kelainan motorik utama. Spastisitas mengganggu aktivitas keseharian seperti berjalan dan makan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara tingkat spastisitas pergelangan kaki dengan kualitas hidup pada anak dengan CP tipe spastik quadriplegia.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dilakukan di Klinik Ortopedi dan Traumatologi RSHS pada bulan April 2018. Sebanyak 31 anak dengan CP tipe spastik quadriplegia dilibatkan. Orang tua mereka diminta untuk mengisi kuesioner CP-QOL. Tingkat spastisitas pergelangan kaki dinilai dengan modifikasi skala Ashworth. Subjek penelitian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I merupakan subjek dengan skor Ashworth ≤ 2. Kelompok II adalah subjek dengan skor Ashworth > 2. Uji stastistik dilakukan dengan uji Spearman.Ada korelasi signifikan antara spastisitas dengan kualitas hidup pada domain kesejahteraan sosial dan penerimaan (p: 0.000); perasaan mengenai fungsi (p: 0.000); partisipasi dan kesehatan fisik (p: 0.000); kesejahteraan emosional dan kepercayaan diri (p: 0.000); rasa sakit dan dampak dari disabilitas (p: 0.002).Dapat disimpulkan bahwa ada korelasi antara spastisitas pergelangan kaki dengan kualitas hidup anak dengan CP tipe spastik quadriplegia.Kata kunci: cerebral palsy, kualitas hidup, spastik quadriplegia, spastisitas
Efek Pemberian Meloxicam Yang Diberikan Selama Fase Inflamasi Terhadap Proses Penyembuhan Tulang Tikus Paska Open Reduction Internal Fixation K-Wire Dinilai Secara Radiologis Tody Pinandita; Darmadji Ismono; Yoyos Dias Ismiarto; M Rizal Chaidir
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 3 (2018): Volume 3 Nomor 3 Maret 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.044 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i3.16989

Abstract

Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya delayed union atau nonunion  pada kasus fraktur adalah pemberian OAINS seperti Meloxicam, namun Meloxicam tetap harus diberikan selama fase inflamasi untuk mengurangi rasa nyeri dan reaksi inflamasi. Tujuan penelitian   untuk menganalisis efek Meloxicam terhadap pembentukan kalus paha tikus yang diberikan selama fase inflamasi paska open reduction internal fixation K-wire dinilai secara radiologis. Penelitian merupakan uji eksperimental laboratorium pada 33 tikus jantan dengan metode pengambilan sampel rancang acak sederhana. Penelitian dilakukan di Bagian Farmakologi Klinik FK-Unpad, Departemen/SMF Orthopaedi dan Traumatologi FK Unpad/RSHS Bandung dan Departemen/SMF Radiologi FK Unpad/RSHS Bandung, mulai dari 25 Juli 2017 hingga 7 September 2017. Penelitian menunjukkan kelompok kontrol dan perlakuan I (Meloxicam 7 hari) memiliki skor Tiedeman  lebih baik dibandingkan kelompok perlakuan II (Meloxicam 30 hari) pada hari ke-30 (p < 0.05) dan ke-45 (p < 0.05), diameter kalus kelompok kontrol dan perlakuan I lebih baik dibandingkan perlakuan II pada hari ke-30 (p <0.05) dan hari ke-45 (p < 0.05), volume kalus kelompok kontrol dan perlakuan I lebih baik pada hari ke-30 (p < 0.05) dan hari ke-45 (p < 0.05). Kesimpulan penelitian adalah pemberian Meloxicam selama fase inflamasi paska ORIF intramedullary K-wire setelah terjadi fraktur, tidak mempengaruhi proses penyembuhan fraktur.Kata kunci : Meloxicam, paska ORIF,  fase inflamasi, penyembuhan fraktur
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Usia Menarche Siswi Sekolah Dasar Kelas 4 – 6 di Kecamatan Sukajadi Annisa Nur Maulidya; Yoyos Dias Ismiarto; Wulan Mayasari
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 3, No 4 (2018): Volume 3 Nomor 4 Juni 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.326 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v3i4.18493

Abstract

Perubahan usia menarche saat ini telah terjadi di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Salah satu faktor penyebabnya adalah keadaan nutrisi yang dapat dinilai dengan indeks massa tubuh (IMT) yang telah mengalami perubahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi indeks massa tubuh dengan usia menarche. Penelitian cross sectional  dilakukan antara bulan September sampai November 2016 terhadap 163 siswi Sekolah Dasar di Kecamatan Sukajadi yang sudah menarche. Subjek penelitian dipilih secara multistage random sampling. Usia menarche didapatkan dengan kuisioner. Indeks massa tubuh didapatkan dengan mengukur tinggi dan berat badan. Data dianalisis dengan metode Spearman’s Correlation Test. Berdasarkan dari 163 responden, hanya 125 siswi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Didapatkan usia menarche dengan rata-rata 11,05 tahun, nilai tengah 11 tahun, dalam rentang 9 sampai 13 tahun. Indeks massa tubuh kemudian digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu; sebanyak 76 siswi dengan status gizi  normal, 35 siswi overweight, dan 14 siswi obesitas. Rata-rata indeks massa tubuh yaitu 20,10 kg/m2. Hasil analisis uji korelasi didapatkan nilai koefisien korelasi rs = -0,089 dan nilai signifikasi p = 0,324 (p>0,05). Kesimpulan penelitian diperoleh bahwa tidak terdapat korelasi antara indeks massa tubuh dengan usia menarche.Kata kunci: indeks massa tubuh, menstruasi, pubertas, remaja, usia menarche
Gambaran Angka Kejadian Cedera Penyerta Pada Fraktur Skapula Di RS Dr Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2014 - Desember 2018 Liliek Yudhantoro; Yoyos Dias Ismiarto
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 4 (2019): Volume 4 Nomor 4 Juni 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.17 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i4.22981

Abstract

    Sekitar 50% dari fraktur scapula terjadi pada body dan spina skapula, Glenoid neck sekitar 25%, glenoid cavity sekitar 10%, acromion dan processus coracoid sekitar 8% dan 7% dari fraktur skapula. Penelitian ini merupakan suatu studi dekskriptif yang menggunakan data dari rekam medis pasien penderita fraktur skapula yang dirawat di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung selama kurun waktu Januari 2014 sampai Desember 2018.    Kejadian fraktur skapula di Rumah Sakit Hasan Sadikin terjadi pada umur 25-34 tahun yaitu 10 pasien (35,72%), umur 15-24 tahun (28,57%) dan umur 35-44 tahun (21,42%),pada laki-laki yaitu 92,85%. Didapatkan dari 28 pasien fraktur skapula yang dirawat di RS Hasan Sadikin, 17 pasien (60,72%) mengalami fraktur pada body of scapula, 6 pasien (21,43%) mengalami fraktur pada acromion dengan fraktur pada glenoid neck 4 pasien (14,28%), dan glenoid cavity dengan 1 pasien (3,57%), 27 pasien (96,43%) mengalami  tipe cedera yang multiple dan hanya 1 pasien (3,57%) mengalami tipe cedera yang isolated, cedera penyerta terbanyak adalah cedera kepala tertutup dengan jumlah 10 kasus (35,71%) diikuti dengan hemato/pneumothorax sebanyak 8 kasus (28,57%), fraktur costae 7 kasus (25%) dan fraktur clavicula sebanyak 6 kasus (21,42%). Sehingga sebaiknya dilakukan pemeriksaan pada skapula pada kasus multiple trauma untuk mengurangi miss diagnose cedera penyerta dari fraktur skapula   Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi fraktur skapula yang tercatat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk dilakukan tindakan promosi baik berupa penyuluhan, seminar, workshop, dll untuk menurunkan angka tidak terdiagnosa cedera penyerta fraktur skapula.Kata Kunci : Fraktur Skapula, Prevalensi, Promosi Kesehatan
Perbandingan Pengaruh LIDC yang Dikombinasi Dengan Argentum dan Antibiotik Untuk Proses Penyembuhan Luka Terinfeksi Yoyos Dias Ismiarto; Anita Kurniawati; Arnold David Pardamean
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.998 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v4i1.19183

Abstract

Luka terinfeksi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan morbiditas pasien ortopedi, termasuk mempengaruhi lamanya rawat inap, biaya, kepuasan pasien, keberhasilan pasca operasi, dan komorbiditas terkait lainnya. Resistensi antibiotik menyebabkan penyembuhan luka menjadi terhambat. Tujuan penelitian ini menemukan pengobatan alternatif untuk menangani luka yang terinfeksi dengan meminimalkan penggunaan antibiotik.Disain penelitian prospektif eksperimental dengan Rancang Acak Lengkap (RAL) menggunakan 16 kelinci Selandia Baru dengan luka yang diinokulasi Staphylococcus aureus. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang hanya diberi antibiotik (A) dan kelompok yang diberi gabungan argumentum (Ag) dan LIDC (B). Hasil diperoleh pada hari ke-6 dan ke-14 dengan mengukur kadar FGF-2, FGF-7, jumlah fibroblas dan laju kontraksi luka. Data diolah secara statistik menggunakan Uji Kruskal Wallis dengan SPSS 2.0. Penelitian ini dilakukan pada September 2017 di Rumah Sakit Hasan Sadikin BandungTerdapat peningkatan yang signifikan dari kadar FGF-2, FGF-7, dan laju kontraksi luka dengan menggunakan kombinasi Ag dan listrik. Selain itu, penggunaan Ag dan kombinasi listrik dapat menekan pertumbuhan koloni bakteriPengelolaan luka terinfeksi dengan menggunakan Ag dan LIDC menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pengobatan menggunakan antibiotikKata Kunci: Argentum, FGF-2, FGF-7, LIDC, Laju Kontraksi Luka
Concordance Test of Various Erythrocyte Indices for Screening of Beta Thalassemia Carrier Reni Nurazizah; Renaldi Satria Handika; Edhyana Sahiratmadja; Yoyos Dias Ismiarto; Delita Prihatni
INDONESIAN JOURNAL OF CLINICAL PATHOLOGY AND MEDICAL LABORATORY Vol 28, No 2 (2022)
Publisher : Indonesian Association of Clinical Pathologist and Medical laboratory

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24293/ijcpml.v28i2.1842

Abstract

Carrier screening for early detection of thalassemia in the general population needs a careful approach, especially in areas with limited health services. Various erythrocyte indices have been introduced as options for the first stage; however, the low-reliability value of these erythrocyte indices remains the problem. This study aimed to determine the most reliable index for screening beta-thalassemia carriers and distinguish it from iron deficiency anemia. A cross-sectional study was designed to explore thalassemia carrier status among medical students. Inter-rater reliability value of various indices was compared to Shine and Lal index. The Cohen's Kappa coefficient was calculated using SPSS v. 25.0. Among 320 respondents, 295 subjects were non-anemic and 25 were anemic subjects, whereas 105 subjects had low MCV and/or MCH values. Cohen's Kappa value showed moderate reliability results compared to Shine and Lal index for example Mentzer index (0.58), Ehsani index (0.57), Srivastava index (0.53), and Bordbar index (0.41), but showed very low-reliability results with Green and King index (0.04). New cut-off indices based on Kumar et al. were also compared, resulting in moderate reliability results. Since there was no Hb-electrophoresis test, the sensitivities and specificities of those indices could not be calculated. For this reason, a complete blood count can only be used for the early stages of screening for beta-thalassemia carriers, whereas Hb-electrophoresis and DNA tests were considered necessary to perform to confirm a diagnosis.
Mechanical Lateral Distal Femoral Angle (MLDFA), Medial Proximal Tibia Angle (MPTA), and Mechanical Axis Deviation (MAD) Value in Young Adults in North Sumatera Iman Dwi Winanto; Yoyos Dias Ismiarto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i4.1817

Abstract

Introduction. Reference value to determine the angle of lower extremity is only based on clinical measurement and radiological assessment, which is limited to tibiofemoral angle (TFA). Although this examination can estimate the lower extremity angle, it is not satisfactory for a comprehensive analysis. Material and Method. A descriptive study in RSUP Haji Adam Malik Hospital in August - September 2019 to measure mechanical lateral distal femoral angle (MLDFA), medial proximal tibia angle (MPTA), and mechanical axis deviation (MAD). Results. Thirty nine subjects were included in this study. The mean age was 26.77±4,65 years old (range: 22 to 39 years); 69,2% were male (n = 27) and 30,8% were female (n = 12). The average mechanical lateral distal femoral angle (MLDFA) was 87,93o ±2,16o . The average medial proximal tibia angle (MPTA) was 86,28o ±2,26o . The average mechanical axis deviation (MAD) was 1.56±1,48 mm. Our results of MLDFA and MPTA measurement, but not in MAD, are consistent with study conducted by Farr, et al. Conclusion. Our MLDFA, MPTA, but not MAD measurement results are similar to studies involving Caucasian population.Pendahuluan. Nilai acuan sudut pada ekstremitas bawah hanya berdasarkan pemeriksaan klinis dan radiologis, yang terbatas pada sudut tibiofemoral. Pemeriksaan sudut tibiofemoral (STF) tunggal tidak cukup untuk analisis komprehensif ekstremitas bawah. Bahan dan Cara. Penelitian deskriptif di RSUP Haji Adam Malik pada bulan Agustus – September 2019 untuk mengukur sudut mekanik lateral distal femur (SMLDF), sudut medial proksimal tibia (SMPT), dan deviasi aksis mekanik (DAM). Hasil. Sejumlah 39 subjek diteliti. Usia rata-rata 26,77 ± 4,65 tahun (22 - 39 tahun); 69,2% pria (n = 27) dan 30,8% wanita (n = 12). Nilai rata-rata sudut mekanik lateral distal femur (SMLDF) adalah 87,93º ± 2,16º. Nilai rata-rata sudut medial proksimal tibia (SMPT) adalah 86,28º ± 2,26º. Nilai rata–rata deviasi aksis mekanik (DAM) adalah 1.56 ± 1,48 mm. Pada penelitian ini, hasil pengukuran SMLDF dan SMPT sesuai hasil penelitian Farr, et al, tetapi hasil pengukuran DAM tidak sesuai. Simpulan. Nilai SMLDF dan SMPT pada penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian pada populasi Kaukasia 
Potensi Zink untuk Terapi Osteoporosis Adam Fajar; Yoyos Dias Ismiarto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i3.512

Abstract

Osteoporosis ditandai dengan pengurangan massa tulang dan gangguan mikro-arsitektur jaringan tulang, mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan risiko fraktur. Terapi osteoporosis meliputi perubahan gaya hidup dan obat-obatan yang dapat meningkatkan kekuatan tulang. Zink berpotensi mengurangi proses penyerapan tulang dan merangsang pembentukan tulang. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui efektivitas zink dalam tatalaksana osteoporosis.Osteoporosis is characterized by bone mass reduction and bone tissue micro-architectural disorders that result in brittle bone and increased risk of fracture. Osteoporosis therapy includes lifestyle changes and drugs to increase bone strength. Zinc has the potential to decrease bone resorption and stimulate bone formation. Further study are needed to determine the efectivity of zinc is osteoporosis therapy.
Kadar Vitamin D [25(OH)D] Serum Pasien Tuberkulosis Tulang Belakang dan Tuberkulosis Paru di Bandung, Indonesia: Studi Epidemiologi Ahmad Ramdan; Yoyos Dias Ismiarto; Fajar Yulianto KR; Rifki Albana
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.654

Abstract

Pendahuluan Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi yang dapat juga menyerang organ ekstraparu. Kerentanan terhadap infeksi TB meningkat seiring dengan rendahnya kadar vitamin D [25(OH)D]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar 25(OH)D pada populasi pasien TB di sekitar wilayah Bandung. Metode Penelitian potonglintang pada Mei 2016 hingga Juni 2017 di Poliklinik MCU, Poliklinik Paru dan Poliklinik Orthopaedi Tulang Belakang RSUP Hasan Sadikin Bandung. Tiga kelompok sampel yaitu TB paru, TB tulang belakang dan kontrol, masing-masing 53 orang. Seluruh sampel menjalani pemeriksaan kadar 25(OH)D melalui darah vena. Hasil Terdapat perbedaan bermakna kadar 25(OH)D Serum antara kelompok Kontrol dengan TB Tulang belakang, dan antara kelompok Kontrol dengan TB Paru (p< 0,01), sedangkan antara kelompok TB Tulang belakang dengan TB Paru, tidak terdapat perbedaan bermakna (p > 0,05). Simpulan Pada penelitian ini pasien tuberkulosis tulang belakang dan tuberkulosis paru mempunyai kadar 25(OH)D Serum lebih rendah dibandingkan kontrol.Introduction Tuberculosis (TB) is an infectious disease that may spread to extrapulmonary sites. Susceptibility to TB infection is higher in individuals with vitamin D [25(OH)D] deficiency. This study measured serum vitamin D [25(OH)D] among TB patients in Bandung. Method. A cross-sectional study conducted from May 2016 to June 2017 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital. Samples were collected from MCU clinics, Lung clinic, and Spine–orthopaedic clinic in Dr. Hasan Sadikin General Hospital. There were 3 groups: pulmonary TB, spinal TB, and control group. Each group consisted of 53 samples. The serum vitamin D [25(OH)D] concentration was assessed in each sample from venous blood. Results The serum vitamin D concentration was significantly different between control and spinal TB groups, and between control and pulmonary TB groups (p < 0.01). No significant difference of serum vitamin D concentration between spinal TB and pulmonary TB groups (p > 0.05). Spinal TB and pulmonary TB patients had lower serum vitamin D [25(OH)D] concentration compared to controls in Bandung. 
Co-Authors Achmad, Iwan Hipsa Adam Fajar Adam Fajar Adhi Kristianto Sugianli Adriel Benedict Haryono Agus Hadian Rahim Ahmad Ramdan Ahmad Ramdan Ahmad Ramdan Alwin Tahid Andreas Vincent Handoyo Anglita Yantisetiasti Anita Kurniawati Anita Kurniawati, Anita Annisa Nur Maulidya Annisa Nurrizki Baroqah Arif, Yoan Putrasos Arnold David Pardamean Benjamin Yong Qing Nan Boby Harul Priono Chaidir, M Rizal Darmadji Ismono Darmadji Ismono, Darmadji Delita Prihatni Deni Maulana Dicky Mulyadi Edhyana Sahiratmadja Endang Syamsudin fachri, Dliyauddin Fadli, Sanditya Fadly Husain Fajar Yulianto KR Fajar, Adam Farry, Farry Faturrachman, Yoga Fung, Joyce Phua Pau Ghita Bengtissen Ghuna Arioharjo Utoyo Helmi Ismunandar Helmi Ismunandar Hermawan Nagar Rasyid, Hermawan Nagar Herry Herman Iman Dwi Winanto Isa Ridwan Joyce Phua Pau Fung Liliek Yudhantoro Luthfi, Kemas Abdul Mutholib M Rizal Chaidir M. Rizal Chaidir, M. Rizal Mahyudin Mahyudin Mahyudin Mahyudin Mayasari, Wulan Mohammad Rizal Chaidir Nucki Nursjamsi Hidajat, Nucki Nursjamsi Nucki Nursjamsi Hidayat Nucki Nursjamsi Hidayat, Nucki Nursjamsi Nugraha, Fitrahadi Nugraha, Yudi Purnama Pardamean, Arnold David Perdana, M. F. Nanda Perdana, Mohammad Fatikh Nanda Pinandita, Tody Putri Liana Warman Qing Nan, Benjamin Yong Ramadiputra, Gamal Renaldi Satria Handika Reni Nurazizah Rifki Albana Romy Deviandri Setiawanto, Teguh Siahaan, Denny Maulana Siauw, Cahyadi Sitanggang, Gustman Lumanda Siwendro, Afrisya Bimo Sunarjati Sudigdoadi Tody Pinandita Tody Pinandita Undang Ruhimat Undang Ruhimat Undang Ruhimat Warman, Putri Liana Wenny Dwi Chandra Wenny Dwi Chandra, Wenny Dwi Widya Arsa Wulan Mayasari Wulan Mayasari Yudhantoro, Liliek