Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Response of Actinomycetes Inoculation to the Growth Rate of waxy Corn (Zea mays var. ceratina) Adelia Salsabila Rahman; Novri Youla Kandowangko; Wirnangsih D. Uno; Yuliana Retnowati; Devi Bunga Pagalla; Hayatiningsih Gubali; Muhammad Isra; Aisyah Ahmad
Journal of Tropical Mycorrhiza Vol. 5 No. 1 (2026): April
Publisher : Asosiasi Mikoriza Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/jtm.v5i1.119

Abstract

Waxy corn (Zea mays var. ceratina) is an important food crop whose growth and productivity are strongly influenced by nutrient availability and soil microbial activity. The use of Actinomycetes as a biological biostimulant has gained attention due to its potential to enhance plant growth in an environmentally sustainable manner. This study aimed to evaluate the response of waxy corn growth rate to different doses of Actinomycetes inoculation. The experiment was conducted from July to December 2025 using a Randomized Block Design (RBD) consisting of three treatments: without Actinomycetes application (PA0), 5 g Actinomycetes (PA1), and 10 g Actinomycetes (PA2), with three replications for each treatment. Plant growth observations were performed at 14, 21, 28, 35, and 42 days after planting (DAP). Growth rate was determined based on the increase in plant dry biomass over each observation interval. The results showed that Actinomycetes inoculation affected the growth rate of waxy corn. The PA2 treatment consistently exhibited higher and more stable growth rates compared with PA0 and PA1 throughout the observation period. The enhanced growth performance was likely associated with the role of Actinomycetes in improving nutrient availability and stimulating vegetative development. In conclusion, the application of 10 g Actinomycetes demonstrated the greatest potential to increase the growth rate of waxy corn and may serve as an effective biological biostimulant for sustainable crop production.
Antagonistic Ability and Fungicide Tolerance of Actinomycetes from the Rhizosphere of Maize (Zea mays L.) Plants in Gorontalo Danial Mohamad; Yuliana Retnowati; Novri Youla Kandowangko; Abubakar Sidik Katili; Wirnangsi Din Uno
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2026.151.1193-1201

Abstract

Actinomycetes are a group of microbes that live in the rhizosphere of plants and play an important role in soil microbial dynamics. This study aims to describe the antagonistic ability against pathogenic molds and tolerance to fungicides in actinomycetes from the rhizosphere of maize plants in Gorontalo. This research is descriptive uses a quantitative approach and employs a purposive sampling technique. Rhizosphere soil samples were collected from maize fields in the hilly area of Bontula Village, Asparaga District, Gorontalo Regency. The results showed the presence of 7 actinomycetes isolates with different morphological characteristics, namely RFZm-PG, RFZm-PLG, RFZm-PW, RFZm-PB, RFZm-PR, RFZm-PY, and RFZm-PO. Antagonistic tests showed that four isolates (RFZm-PB, RFZm-PG, RFZm-PLG, RFZm-PW) inhibited the growth of Fusarium oxysporum and Neocosmospora solani with an inhibition percentages of 66.38%-89%. The fungicide tolerance test showed that the seven isolates were tolerant to thiram, dimethomorph and benomyl, with the highest inhibitory effect by thiram. Isolates RFZm-PG and RFZm-PLG had the highest tolerance up to 500 ppm, while other isolates were tolerant only up to 400 ppm. Molecular analysis showed that RFZm-PG belongs to the genus Streptomyces (100% similarity with Streptomyces enissocaesilis), while RFZm-PLG belongs to Nocardiopsis (100% similarity with Nocardiopsis synnemataformans).
Pembuatan Cuka Ekstrak Jagung (Zea Mays) Dengan Menggunakan Acetobacter Aceti Dan Saccharomyces Cerevisiae Velma Agtavia; Lisnawati Botutihe; Moh Randy Putra Preatama Thalib; Ani M Hasan; Wirnangsi D Uno
Jurnal Pendidikan, Sains Dan Teknologi Vol. 4 No. 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47233/jpst.v4i4.3735

Abstract

This study aims to produce natural vinegar from corn extract (Zea mays L.) through a two-stage fermentation process: alcoholic fermentation using Saccharomyces cerevisiae followed by acetic acid fermentation using Acetobacter aceti. The evaluation included physical observation, pH measurement, lactic acid bacteria (LAB) testing, organoleptic assessment, and determination of acetic acid concentration through titration. The results indicated notable physical changes during fermentation, with pH decreasing from approximately 7 to 6 over 7–14 days, accompanied by the emergence of a distinctive vinegar aroma that signified acetic acid formation. LAB activity was confirmed by colony growth on Nutrient Agar (NA) media, demonstrating their role in establishing an acidic environment favorable for the second fermentation stage. Overall, the findings show that corn extract has strong potential as a fermentation substrate for natural vinegar production using a biological process.
Eksplorasi Isolat Bakteri Rizosfer Musa acuminata Pada Fermentasi Ampas Tebu Sebagai Kandidat Biofertilizer Dian Ramadhani H; Widyawati Mantulangi; Mohammad Fadel Tangahu; Ani Hasan; Wirnangsi Din Uno
Journal of Science and Engineering Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Akira Java BUlu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rizosfer tanaman adalah lingkungan mikroorganisme yang memiliki kemampuan besar sebagai sumber bakteri fungsional untuk mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi isolat bakteri dari rizosfer Musa acuminata, menilai kemampuan mereka dalam fermentasi ampas tebu, dan mengeksplorasi potensinya sebagai calon biofertilizer berdasarkan produksi Asam Indole Asetat (IAA). Penelitian ini dilakukan melalui eksperimen di laboratorium dengan metode isolasi bakteri menggunakan media Nutrient Agar (NA), pemurnian isolat dengan metode streak plate, pewarnaan Gram, uji produksi IAA menggunakan reagen Salkowski, serta fermentasi ampas tebu selama 14 hari dan menghitung viabilitas bakteri menggunakan metode Total Plate Count (TPC). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa isolat bakteri memiliki morfologi koloni yang berwarna putih krem, berbentuk bulat, dengan elevasi cembung dan tepian yang rata. Pewarnaan Gram menunjukkan bahwa bakteri tersebut bersifat Gram positif dan berbentuk sel kokus yang berkelompok. Uji IAA menghasilkan perubahan warna menjadi merah muda setelah penambahan reagen Salkowski, yang menandakan adanya produksi IAA secara kualitatif. Fermentasi ampas tebu membawa perubahan karakteristik fisik, termasuk peningkatan kekeruhan, munculnya aroma asam, serta terbentuknya endapan setelah inkubasi selama 14 hari. Perhitungan TPC pada pengenceran 10⁻⁶ menunjukkan ada 34 koloni dengan total viabilitas sebesar 3,4 × 10⁸ CFU/mL. Dengan demikian, isolat bakteri dari rizosfer Musa acuminata menunjukkan potensi awal sebagai kandidat biofertilizer yang berbasis fermentasi ampas tebu.
Fermentasi Kompos Serasah Daun Bambu Kering (Bambusa sp.) Menggunakan Mikroba Tanah Trichoderma sp. Fitriyani Dalumi; Siti Nurain Kati; Amanda Devina Kaliopas; Ani Hasan; Wirnangsi Din Uno
Journal of Science and Engineering Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : CV. Akira Java BUlu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan isolat Trichoderma sp. pada tanah rhizosfer bambu serta mengkaji pengaruh penambahan Trichoderma sp. terhadap kualitas kompos serasah daun bambu kering (Bambusa sp.). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan dua perlakuan, yaitu kompos tanpa penambahan Trichoderma sp. (P0) dan kompos dengan penambahan Trichoderma sp. (P1). Pengamatan dilakukan selama 15 hari berdasarkan parameter warna, bau, tekstur, kadar air, dan penyusutan bobot. Isolasi dan identifikasi Trichoderma sp. dilakukan melalui pengamatan makroskopis dan mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh memiliki koloni berwarna hijau-putih, hifa bersepta, dan konidia berbentuk bulat hingga subbulat yang sesuai dengan karakteristik Trichoderma sp. Penambahan Trichoderma sp. menghasilkan kompos dengan warna lebih gelap, bau tanah yang khas, tekstur lebih remah, kadar air lebih rendah (42%), serta penyusutan bobot lebih tinggi (24%) dibandingkan perlakuan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichoderma sp. efektif mempercepat proses dekomposisi dan meningkatkan kualitas fisik kompos serasah daun bambu kering. Oleh karena itu, Trichoderma sp. berpotensi digunakan sebagai bioaktivator dalam pengolahan limbah organik yang ramah lingkungan.  
DETEKSI PRESUMTIF BAKTERI Staphylococcus spp. PADA CAIRAN RENDAMAN LENSA KONTAK Polamolo, Dwi Yuliana; Uno, Wirnangsi Din; Kumaji, Syam S.
Jambura Edu Biosfer Journal Vol 8, No 1 (2026): Jambura Edu Biosfer Journal
Publisher : Fakultas MIPA Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34312/jebj.v8i1.36471

Abstract

Kontaminasi mikroba pada cairan rendaman lensa kontak dapat meningkatkan risiko gangguan pada mata. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakter fenotipik isolat bakteri terduga Staphylococcus spp. pada cairan rendaman lensa kontak. Penelitian deskriptif ini menggunakan sepuluh sampel cairan rendaman yang diperoleh dari lima pengguna lensa kontak yang memenuhi kriteria inklusi. Setiap sampel diencerkan hingga 10⁻³, ditanam sebanyak 0,1 mL pada Mannitol Salt Agar (MSA), dan diinkubasi pada suhu 37 °C selama 24–48 jam. Satu koloni terpilih dari setiap sampel dimurnikan, kemudian dikarakterisasi berdasarkan morfologi koloni, pewarnaan Gram, dan uji katalase. Sepuluh isolat yang diperoleh berbentuk koloni bulat dengan tepian utuh; enam isolat berwarna kuning dan empat isolat berwarna putih, sedangkan delapan isolat berelevasi timbul dan dua isolat datar. Seluruh isolat menunjukkan reaksi Gram positif dan katalase positif. Kombinasi pertumbuhan pada MSA, karakter kolonial, reaksi Gram, dan hasil uji katalase menunjukkan bahwa isolat tersebut memiliki karakter yang konsisten dengan bakteri terduga Staphylococcus spp. Namun, rangkaian uji masih perlu dilakukan untuk mengonfirmasi identitas hingga tingkat genus atau spesies karena penelitian belum melakukan  uji koagulase, panel biokimia tambahan, spektrometri massa, atau analisis molekuler. Oleh karena itu, temuan ini merupakan deteksi presumtif dan perlu dikonfirmasi menggunakan metode identifikasi yang lebih spesifik. Penelitian lanjutan juga perlu melibatkan sampel yang lebih besar serta kontrol mutu laboratorium yang terdokumentasi.