Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

KORELASI ANTARA INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP ARKUS KAKI PADA SISWA KELAS 4-6 SD DI SDN 18 DANGIN PURI DENPASAR UTARA Sagung Ayu Priti Mawar Veda Santi; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Luh Putu Ratna Sundari; I Made Krisna Dinata
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 10 No 3 (2022): Majalah Ilimiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2022.v10.i03.p01

Abstract

Pendahuluan: Berat badan berlebih merupakan kondisi yang dapat dialami oleh seluruh kalangan usia, termasuk usia anak sekolah 6-12 tahun. Bertambahnya berat badan akan meningkatkan tekanan pada telapak kaki sehingga menjadi datar atau disebut flat foot dan dapat menimbulkan dampak berkepanjangan bagi anak-anak. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional bersifat analitik yang dilakukan secara door-to-door di wilayah Denpasar Utara. Jumlah sampel penelitian yaitu 43 siswa dari total populasi sebanyak 44 siswa dikarenakan 1 siswa drop out. Variabel independen yang diukur yaitu IMT, sedangkan variabel dependen yaitu arkus kaki yang diukur dengan arch index. Variabel yang dikontrol dalam penelitian ini yaitu tingkatan kelas, serta variabel yang dapat mempengaruhi penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, penggunaan alas kaki yang diukur menggunakan kuisioner penggunaan alas kaki dalam 7 hari terakhir, serta aktivitas fisik yang diukur menggunakan kuisioner The Physical Activity Questionnaire for Older Children (PAQ-C). Hasil: Teknik analisis data yang digunakan yaitu uji hipotesis spearman’s rho. Diperoleh nilai p sebesar 0,1 (p>0,05) dan didapatkan prevalensi paling tinggi pada IMT normal dan arkus kaki low arch yaitu masing-masing sebesar 24 orang (56%) dan 22 orang (51%). Simpulan: Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antara IMT dengan arkus kaki pada siswa kelas 4-6 SD di SDN 18 Dangin Puri Denpasar Utara. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti memprediksi penelitian ini dipengaruhi oleh situasi dan kondisi ketika penelitian akibat pandemi COVID-19. Kata Kunci: kaki datar, arkus kaki, indeks massa tubuh, siswa sekolah dasar
ANALISA ROSA PADA INTERVENSI DEEP NECK FLEXOR STRENGTHENING EXERCISE DAN MCKENZIE NECK EXERCISE MENINGKATKAN FUNGSIONAL LEHER PENDERITA CERVICOGENIC HEADACHE Ni Luh Putu Gita Karunia Saraswati; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Anak Agung Gede Angga Puspa Negara
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 10 No 3 (2022): Majalah Ilimiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2022.v10.i03.p11

Abstract

Pendahuluan: Cervicogenic headache disebabkan oleh ketidakseimbangan otot di leher, kepala, dan bahu. Insiden cervicogenic headache adalah 2,5 persen pada populasi umum pada, dan 15 persen hingga 20 persen pada populasi dengan riwayat nyeri kronis, menurut data yang diperoleh dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan efektivitas latihan deep neck flexor strengthening exercise dengan latihan mckenzie neck exercise dalam meningkatkan gerakan fungsional leher pada kondisi cervicogenic headache, serta untuk melihat faktor risiko ergonomis untuk Rapid Office Strain Assessment (ROSA). Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dengan menggunakan two-group randomized pre-and post-test design. Hasil kedua kelompok dievaluasi digabungkan dengan data pengukuran ROSA. Kelompok 1 menerima latihan deep neck flexor strengthening exercise, sedangkan kelompok 2 menerima latihan mckenzie neck exercise. Hasil: Nilai rerata ROSA pada kelompok 1 didapatkan hasil 4,53 dan nilai rerata ROSA pada kelompok 2 didapatkan hasil 4,07 yang berarti posisi kerja pada subjek dikedua kelommpok tergolong aman. Nilai Visual Analogue Scale (VAS) dan nilai Neck Disability Index (NDI) menurun pada masing-masing kelompok dengan p<0,001 (p<0,05), namun tidak terbukti adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok, menurut data analisis yaitu VAS p=0,415 (p>0,05) dan NDI p=0,859 (p>0,05) juga signifikan. Temuan penelitian ini diharapkan dapat diimplementasikan dalam jangka panjang, memungkinkan peneliti, subjek, dan negara Indonesia untuk mengambil manfaat dari pengetahuan intervensi. Kesimpulan: Analisis faktor risiko ergonomi ROSA dan latihan deep neck flexor strengthening exercise sama baiknya dalam meningkatkan gerakan fungsional leher pada kondisi cervicogenic headache bila dibandingkan dengan analisis faktor risiko ROSA ergonomis dan mckenzie neck exercise. Kata Kunci: cervicogenic headache, deep neck flexor strengthening exercise, fungsional gerak leher, mckenzie neck exercise, rapid office strain assessment (ROSA)
Efforts to reduce the risk of anterior cruciate ligament injury through isometric quadriceps exercise Ida Ayu Astiti Suadnyana; I Gusti Ayu Sri Wahyuni Novianti; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Agung Suharsono; Edi Setiawan
Journal Sport Area Vol 7 No 3 (2022): December
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/sportarea.2022.vol7(3).10588

Abstract

Anterior cruciate ligament (ACL) injury is one of the most common musculoskeletal injuries in the knee joint. One of the treatments for this injury is reconstruction. Pain is one of the most frequent problems that occur following reconstruction. Isometric quadriceps exercise can be given to reduce pain after phase I reconstruction in patients with ACL injuries. This study was a pre-experimental study with a one group pre and post-test design. This study was conducted in the outpatient room of Bali Royal Hospital Denpasar from March to May 2022. The subjects of this study were 20 patients with ACL injury following phase I reconstruction at Bali Royal Hospital, who met the eligibility criteria of this study. The quadriceps isometric exercise was performed 3 times a week for 4 weeks. Pain was measured using the visual analogue scale (VAS). In this study, the average pain score before and after exercise was 6 ± 1.257 and 3.4 ± 1.046 respectively. The results of data analysis on pain reduction using the paired t-test showed p = 0.000 (p <0.05), it means that there was a significant reduction in pain following isometric quadriceps exercise. It can be concluded that isometric quadriceps exercise can reduce pain in patients following phase I reconstruction of the ACL at Bali Royal Hospital.
HEAD POSTURE SEBAGAI INDIKASI RISIKO TERJADINYA PPOK PADA MAHASISWA Rizka Tamalia; Ni Komang Ayu Juni Antari; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Anak Agung Gede Angga Puspa Negara
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 1 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i01.p01

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan teknologi pada masa kini, menyebabkan peningkatan penggunaan smartphone ataupun komputer. Menurut survey pada tahun 2017 yang telah dilakukan, Indonesia merupakan negara ke-empat yang memiliki pengguna aktif smartphone di dunia. Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa usia 19-34 tahun merupakan usia dengan pengguna internet terbanyak di Indonesia. Penggunaan yang berlebihan ini dapat menyebabkan terjadinya masalah muskuloskeletal seseorang, salah satunya adalah perubahan abnormal dari head head posture dapat berpengaruh pada terjadinya infeksi berulang, yang mana infeksi berulang merupakah salah satu pencetus terjadinya PPOK. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional yang dilakukan pada bulan April - Mei 2021. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana usia 18 hingga 21 tahun dengan jumlah 105 subjek dengan teknik sampling yang digunakan yaitu total sampling. Hasil: Peneliti melakukan anamnesis dan pemeriksaan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian peneliti melihat ada atau tidaknya forward head posture dengan mengukur nilai CVA (Craniovertebral Angle). Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji chi square. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan (p=0,000), antara head posture dengan risiko terjadinya PPOK pada mahasiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Simpulan: Terdapat hubungan antara head posture terhadap risiko terjadinya PPOK pada mahasiswa Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kata Kunci: risiko PPOK, FHP, mahasiswa
Comprehensive Physiotherapy Program Improves the Medial Longitudinal Arch of a Male Adolescent with Bilateral Flexible Flat Foot: A Case Report Sayu Aryantari Putri Thanaya; Chika Nabella Jamaluddin
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 2 No. 2 (2021): July-December 2021
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v2i2.36

Abstract

Introduction: Flat foot is a common foot deformity marked by the absence of the medial longitudinal arch of the foot. Flexible flat foot is usually symptomless but can affect the biomechanics of the lower extremity and lumbar spine, possibly increasing the risk of pain and injury. Conservative management, including physiotherapy, is important in flat foot management, yet the number of reports regarding physiotherapy for flat foot is scarce. Therefore, this case report aimed to describe a case of bilateral flexible flat foot in a male adolescent who was treated with a comprehensive physiotherapy program. Case Description: A 17-year-old male presented to the physiotherapy clinic with flat foot deformity on both feet. The patient received an hour of comprehensive physiotherapy program per session, twice per week, which included lower extremity stretching, various foot and leg strengthening exercises, proprioception exercises, and an educational aspect. The footprint test was conducted and the patient was evaluated using the Arch Index. The Arch Index measurements according to Cavanagh and Rodgers decreased from 0.38 to 0.32 (left foot) and 0.35 to 0.28 (right foot). Likewise, Staheli’s Arch Index measurements also decreased from 1.54 to 1.02 (left foot) and 1.5 to 0.7 (right foot). Conclusion: Following 20 physiotherapy sessions, the patient’s Arch Index measurements demonstrated an overall reduction, indicating noteworthy improvements in the medial longitudinal arch height. Hence, it can be concluded that a comprehensive physiotherapy program can help improve the medial longitudinal arch height, and thereby foot posture, of an adolescent with bilateral flexible flat foot.
Overview of Musculoskeletal Disorders in Undergraduate Students Stanisela Agatha; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Luh Putu Ratna Sundari; Made Hendra Satria Nugraha
Physical Therapy Journal of Indonesia Vol. 3 No. 2 (2022): July - December 2022
Publisher : Universitas Udayana dan Diaspora Taipei Medical University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/ptji.v3i2.54

Abstract

Background: Musculoskeletal disorders are defined as complaints or disorders that cause discomfort to the musculoskeletal system. During lecture activities, students are mostly in a static posture. Static and repetitive muscle loading when sitting for a long period can cause muscle fatigue due to the accumulation of lactic acid. Besides, it produces discomfort or pain in the musculoskeletal system. The purpose of the research is to describe an overview of musculoskeletal disorders in undergraduate students of the Bachelor and Professional Program of Physical Therapy Faculty of Medicine Udayana University during the lecture. Methods: The method of this research is descriptive-analytic with a cross-sectional, which has been carried out from October to November 2021. This research used a total sampling technique. The participants were undergraduate students of the Bachelor and Professional of Physical Therapy Program, College of Medicine, Universitas Udayana, with a total of 196 participants who met the established criteria. Researchers measured musculoskeletal disorders using a Nordic Body Map (NBM) questionnaire. Analysis of research data using univariate analysis, namely age, gender, body mass index, study period, duration of the study, and musculoskeletal disorders. Results: The results showed that musculoskeletal disorders were mostly complained of by students, namely the waist 61.7%, then the back 59%, followed by complaints in the lower neck 53.6% and upper neck 47.4% while the lowest complaints occurred in the left leg with a percentage of 5.6%. Conclusion: A total of 177 (90.3%) students had musculoskeletal disorders during lectures and 19 (9.7%) did not experience musculoskeletal disorders during lectures, and 94.4% had a low risk of musculoskeletal disorders. The risk of low musculoskeletal disorders can be interpreted as not requiring improvement.
INTENSITAS LATIHAN BERHUBUNGAN DENGAN KELENTURAN OTOT HAMSTRING PENARI MODEREN DI KOTA DENPASAR-STUDI CROSS SECTIONAL I Gusti Ayu Putri Pradnya Wulandari; Anak Agung Gede Eka Septian Utama; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Gede Parta Kinandana
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 3 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i03.p07

Abstract

Pendahuluan: Menari adalah cara terbaik untuk meningkatkan kebugaran. Kelenturan ialah komponen yang paling penting dari kebugaran fisik karena dapat membantu meningkatkan efisiensi gerakan, kekuatan otot, koordinasi, serta dapat mencegah terjadinya cedera. Tujuan dari penelitian ini ialah membuktikan hubungan antara intensitas latihan dengan kelenturan otot hamstring penari di Kota Denpasar. Metode: Metode penelitian ini yaitu observasional analitik pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2021 – Maret 2022. Subjek penelitian adalah penari sebanyak 106 orang di Komunitas Dance Moderen di Denpasar melalui teknik purposive sampling. Peneliti melakukan seleksi subjek selaras terhadap standar inklusi dan eksklusi, lalu melakukan pengukuran kelenturan otot dan intensitas latihan. Hasil: Berdasarkan hasil uji spearman correlation didapatkan hasil nilai p sebesar 0,000 dimana p < 0,05, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas latihan terhadap kelenturan otot. Ditemukan hasil yang menunjukkan tingkat korelasi sangat kuat dengan arah hubungan yang berlawanan (r = 0,865), antara obesitas dengan tingkat intensitas latihan dengan tingkat fleksibilitas otot di Komunitas Dance Moderen Kota Denpasar. Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara intensitas latihan terhadap kelenturan otot hamstring pada penari moderen di Kota Denpasar. Kata Kunci: intensitas latihan, kelenturan otot, penari moderen
KEKUATAN OTOT CORE MEMENGARUHI KECEPATAN RENANG GAYA BEBAS 50 METER PADA ATLET RENANG KOTA DENPASAR Ayu Ulul Azmi; I Made Niko Winaya; Ni Komang Juni Ayu Antari; Sayu Aryantari Putri Thanaya
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 1 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i01.p14

Abstract

Pendahuluan: Renang merupakan aktivitas fisik yang dilakukan dalam air menggunakan seluruh atau sebagian anggota tubuh termasuk area core. Olahraga renang selain bermanfaat bagi kesehatan juga dapat menjadi hobi, rekreasi bahkan untuk mencapai prestasi melalui perlombaan. Banyak faktor yang menjadi pengaruh dalam mencapai prestasi olahraga renang yang mengutamakan kecepatan dalam penilaian perlombaan, salah satunya komponen fisik kekuatan. Aktivitas renang membutuhkan keseimbangan dan kestabilan selama berenang untuk mencapai finish yang lebih efisien dan cepat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kekuatan otot core dengan kecepatan renang gaya bebas berjarak 50 meter pada atlet renang Kota Denpasar, Bali. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian berupa observasional analitik cross sectional dengan teknik purposive sampling yang dilakukan pada bulan Februari-Maret 2022. Jumlah responden yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 53 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi, eksklusi dan drop out yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur kekuatan otot core menggunakan One Minute Sit-up Test dan kecepatan renang gaya bebas 50 meter diukur menggunakan stopwatch dengan hitungan detik. Hasil: Analisis data yang telah dilakukan menggunakan uji Spearman’s Rho pada penelitian ini memperoleh nilai data signifikansi sebesar 0,004 yang berarti lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi sebesar -0,393 yang artinya tingkat kekuatan hubungan kedua variabel adalah cukup dengan arah korelasi negatif, yang berarti hubungan berbanding terbalik antar kedua variabel. Simpulan: Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kekuatan otot core dengan kecepatan renang gaya bebas 50 meter pada atlet renang Kota Denpasar. Semakin tinggi kekuatan otot core, semakin rendah nilai kecepatan renang atau semakin cepat Kata Kunci: Kekuatan otot core, kecepatan renang, gaya bebas, atlet renang.
AKTIVITAS FISIK DAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI BANJAR TAMAN GRIYA DESA ADAT JIMBARAN-STUDI CROSS-SECTIONAL Anak Agung Diah Pradnyautami; Gede Parta Kinandana; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Ni Luh Nopi Andayani
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 3 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i03.p08

Abstract

Pendahuluan: Tingginya jumlah angka lansia ini menjadi suatu perhatian khusus yang harus dipikirkan. Penurunan aktivitas fisik pada lansia dapat menyebabkan penurunan aliran darah menuju otak yang berperan dalam fungsi kerja otak , sehingga dapat mempengaruhi fungsi kognitif lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif pada lansia di Banjar Taman Griya Desa Adat Jimbaran. Metode: Desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2021. Consecutive sampling dijadikan teknik dalam pengambilan sampel. Besar sampel sebanyak 33 orang. Variabel terikat yang diukur adalah tingkat aktivitas fisik dengan menggunakan Global Physical Activity Quistionere (GPAQ). Variabel bebas yang dinilai adalah tingkat fungsi kognitif menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil: Uji korelasi Spearman’s Rho menujukkan bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif dengan nilai p=0,000 dimana nilai p lebih kecil dari 0,05. Simpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan aktivitas fisik dengan fungsi kognitif lansia di Desa Adat Jimbaran Banjar Taman Griya. Kata Kunci: aktivitas fisik, fungsi kognitif, lansia
POSTURAL CORRECTION PADA INTERVENSI INIT DAN ULTRASOUND THERAPY DALAM MENURUNKAN DISABILITAS PADA NYERI LEHER NON SPESIFIK Putu Ayu Sita Saraswati; Sayu Aryantari Putri Thanaya; Indah Pramita; Ni Kadek Ayu Satya Dewanti
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 11 No 2 (2023): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor and Profession of Physiotherapy Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2023.v11.i02.p12

Abstract

Pendahuluan: Nyeri leher non spesifik jika tidak ditindaklanjuti dengan tepat akan berdampak pada aktivitas, produktivitas dan pendapatan serta kualitas hidup seseorang. Penatalaksanaan klinis kasus ini dapat berupa terapi Integrated Neuromuscular Inhibition Technique (INIT) dan Ultrasound Therapy yang dikombinasikan dengan postural correction. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas kombinasi postural correction, INIT dan Ultrasound Therapy dalam mengurangi disabilitas leher pada pasien nyeri leher non spesifik. Metode: Penelitian ini merupakan quasi eksperimental dengan jenis rancangan one group pre-test and post-test group design. Penelitian dilakukan di praktek mandiri fisioterapi di Denpasar dan Badung, Bali terhitung mulai bulan Agustus-September 2022. Terdapat 12 orang sampel yang diberikan intervensi sebanyak tiga kali tiap minggu selama empat minggu. Pengukuran disabilitas dilakukan dengan Neck Disability Index (NDI). Hasil: Hasil uji hipotesis berpasangan pada kelompok didapatkan nilai p<0,001 yang menyatakan bahwa terdapat perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah intervensi. Simpulan: Intervensi Postural Control, Integrated Neuromuscular Inhibition Technique dengan Ultrasound Therapy dapat mengurangi disabilitas leher pada penderita nyeri leher non spesifik di Indonesia. Data yang didapat bermanfaat bagi peneliti dan praktisi di ranah klinis untuk mengimplementasikan hasil penelitian pada populasi nyeri leher non-spesifik. Kata kunci: postural correction, init, ultrasound therapy, nyeri leher non spesifik