Eny Puspani
Faculty Of Veterinary Science, Udayana University, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

ELECTRIC STUNNING OF CATTLE FOR SLAUGHTERING AND SECURING THE BEEF FROM MICROORGANISM Wayan Sayang Yupardi; I Made Nuryasa; Ni Luh Putu Sriyani; Eny Puspani; I Gede Suranjaya
International Journal of Biosciences and Biotechnology Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Central Laboratory for Genetic Resource and Molecular Biology, Faculty of Agriculture, Udayana University in cooperation with Asia-Oceania Bioscience and Biotechnology Consortium (AOBBC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.647 KB)

Abstract

Stunning electricity current of 1.0 A, 200 – 300 V were caused the destruction of cattle’s centralnerve. This is very important to drain blood as much as possible from the whole body. Thiscauses its beef not become a media of unexpected microorganism to develop theirself.In themodern age right now, electricity is needed much for living on the earth or outer space. In otherwords, live is much depend on it. Indonesia is a tropical and agricultural country with highhumidity. These are good media for microorganism to develop theirself i.e. in aerobic conditionsuch as Pseudomonas, Achromobacter (induce rancidity in), Strepcococcus, Leuconostoc,Bacillus (causes mucus on beef surface), Lactobaccillus (causes the changes of beef colour fromred to greenish), Photobacterium (causes phosphorescent). anaerobic codition Achromobacterand Proteus cause sour taste. The beef or other food stuff become spoiled fast if they are notpreserved in low temperatureIt is necessary to control the room temperature. The objectives ofthis study were to know and open insight about physiological works of electricity in order toprovide healthy beef as a source of animal protein to form a bright nation. The beef can bepreserved more than 30 days without decreasing its hygiene level in the temperature of 5 – 7oC.At these low temperatures the microorganism mentioned above can delayed their growth anddevelopment.
PENINGKATAN EFISIENSI PRODUKSI AYAM PETELUR MELALUI PENINGKATAN KENYAMANAN KANDANG DI DESA BOLANGAN I M. Nuriyasa. Eny Puspani; I G. N. Sum atra; P. P. Wibawa; I M. Mudita
Buletin Udayana Mengabdi Vol 9 No 2 (2010): Volume 9 No.2 – September 2010
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.484 KB)

Abstract

The short course of improving broiler performances with more comfortable cage was conducted on September 25th. 2009 in Bolangan village, Tabanan regency. There were 15 local farmers and 18 SMK No1. Katiku Tanah, Sumbawa students as participants of this activity. The teams presented about (1) animal comfort zone, (2) cage modifications, (3) heat transfer between animal and environment and (4) energy protein ration. Based on the limited discussion, it could be seen that participants were very enthusiastic in joining this activity. They used this occasion for making discussion with the concerned team from Udayana University.
LUAS LANTAI KANDANG SERTA IMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN RANSUM YANG OPTIMUM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS TERNAK KELINCI PADA KELOMPOK TERNAK TREWULU TABANAN E. Puspani; I M. Nuriyasa; I W. Wirawan; A.A. P.P Wibawa; D.P.M.A. Candrawati
Buletin Udayana Mengabdi Vol 15 No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.293 KB)

Abstract

Petani peternak di Desa Kesiut, Kecamatan Tabanan, Kabupaten Tabanan memelihara kelinci secaratradisional dengan memberikan rumput sebagai pakan dasar dan sedikit konsentrat sebagai pakantambahan. Pelatihan singkat tentang teknik pembuatan pakan dalam bentuk pellet ini telahdilaksanakan pada bulan Juni 2014, bertujuan untuk memperkenalkan pakan pellet, menurut standarkebutuhan nutrisi kelinci. Pelatihan singkat ini didukung oleh Dinas Peternakan Tabanan dan ProgramPasca Sarjana Universitas Udayana. Pelatihan ini memperkenalkan luas lantai kandang optimum danformulasi ransum kelinci dalam bentuk pakan pellet. Terdapat 18 peternak lokal dan 9 istripeternak,dan 5 ketua kelompok peternak desa kesiut. Team mempresentasikan tentang , (1) KebutuhanNutrisi Kelinci, (2) Prospek kelinci, (3) Imbangan energi dan protein,(4) Penyakit kelinci dan (5)teknik pembuatan pakan dalam bentuk pellet. Petani peternak bisa mengerti tentang materi yangdisampaikan dan tertarik dalam pembuatan pakan pellet. Pada akhir diskusi, kita bisa melihatpartisipasi dan antusiasme dalam menjalankan kegiatan. Mereka menggunakan kesempatan ini untukmembuat diskusi dengan team dari Universitas Udayana.
APLIKASI FORMULASI RANSUM DENGAN MENGGUNAKAN HIJAUAN LEGUMINOSA SEBAGAI PAKAN DASAR PENYUSUNAN RANSUM SAPI DI DESA JUNGUTAN KABUPATEN KARANGASEM Trisnadewi A. A. A. S; I G. L. O. Cakra; I M. Mudita; I W. Wirawan; E. Puspani; I K. M. Budiasa
Buletin Udayana Mengabdi Vol 12 No 1 (2013): Volume 12 No.1 – April 2013
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.201 KB)

Abstract

The community service was conducted in Jungutan Village, Karangasem Regency and was aimed to improvethe farmers knowlegde especially the members of farmers groups about the utilization of leguminose forage asbasal ration for ruminant. The services was conducted on Sunday, 2nd September 2012 at Wana Sari Groups ofFarmers at Banjar Untalan, Jungutan Village, and attended by 20 from 24 total members of farmers’ groups(83.33%). The methods used were direct instruction and discussion to the farmers. Almost 43% members offarmers’ groups have been given leguminose besides grass and 57% only given grass as Bali cattle feed. The resultof the services showed that the farmer’s awareness and knowlegde improved to give leguminose forage such asGliricidia sepium, Caliandra callothyrsus, and Leucaena leucochepala, besides grass feeding as basal ration forBali cattle. The utilization of forage need to be applied because of high energy and protein content in leguminoseforage, therefore the dry matter consumption will improve. The nutrient requirement could fulfill and will impactto the improvement of Bali cattle growth and production.
PELATIHAN PENERAPAN MANAJEMEN PERENCANAAN YANG EFISIEN DAN PRODUKTIF PADA KELOMPOK TERNAK SAPI DI DESA PENGOTAN, KABUPATEN BANGLI A.A. P. P. Wibawa; I. B.G. Partama; N.G.K. Roni; E. Puspani; DPMA Candrawati
Buletin Udayana Mengabdi Vol 15 No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.865 KB)

Abstract

Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada kelompok ternak sapi bali, yaitu salah satu kelompok ternakyang berlokasi di Desa Pengotan, Bangli. Anggota kelompok ternak merupakan masyarakat Pengotan,Bangli. Umumnya mereka adalah petani peternak dengan kepemilikan lahan yang rendah. Selama ini,pengetahuan tentang manajemen pemeliharaan ternak yang efisien dan produktif anggota kelompok masihrendah. Berdasarkan masalah tersebut, kegiatan sosialisasi dan pelatihan penerapan manajemen perencanaanyang efisien dan produktif pada kelompok ternak sapi di Desa Pengotan, Bangli. Hasil kegiatanmenunjukkan bahwa setelah dilaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan, ternyata pengetahuan danketrampilan peserta tentang manajemen yang efisien meningkat sebesar 30,25% lebih tinggi dibandingkandengan sebelum kegiatan dilaksanakan.
PENGENALAN KULIT KOPI TERFERMENTASI SEBAGAI PAKAN KELINCI DI DESA RIANG GEDE, KECAMATAN TABANAN, KABUPATEN TABANAN I. M. Nuriyasa; I. M. Mastika; G. A. M. K. Dewi; N. N. Suryani; E Puspani; D. P. M. A Candrawati
Buletin Udayana Mengabdi Vol 13 No 2 (2014): Vol 13, No. 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.817 KB)

Abstract

Farmers in Riang Gede village, Tabanan District, Tabanan regency generally raise rabbits traditionally by providing grass field as basic feed and concentrate supplementation very minimum. Short course on diet manufacturing techniques in the form of pellets was performed in Juni 2014, aims to introduce the feed pellets, according to the rabbit nutrient requirements standard. Short course was suported by Tabanan Departement of Animal Production and Animal Sciense Post Gradute Program, Udayana University. This training introduces fermented of coffee leather as rabbit diet formulation in pellet form. There were 18 local famers and 9 farmer’s wife and 5 Riang Gede community leaders. The teams presented about (1) Rabbit nutrient requirment, (2) Prospect of rabbit, (3) energy and protein balance, (4) rabbit desease dan (4) diet manufacturing techniques in the form of pellets. Farmers can understand the course material and interested in creating a diet in the form of pellets. Based on the limited discussion, it could be seen that participants were very enthusiastic in joining this activity. They used this occasion for making discussion with the concerned team from Udayana University.Keywords: fermented coffee pulp, rabbit nutrien requirement standard, diet manufacturing techniques in the form of pellets.
CARCASS OF NATIVE CHICKEN DUE TO FEEDING CONTAINS EXPIRED MILK NURIYASA I M.; M. E. D. PERTIWI; A. W. PUGER; E. PUSPANI
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 23 No 3 (2020): Vol. 23 No. 3 (2020)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIP.2020.v23.i03.p03

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan susu kadaluarsa dalam ransum terhadap karkas ayam buras. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan dan lima ulangan, setiap unit percobaan terdiri dari empat ekor ayam buras jantan. Perlakuan adalah ransum tanpa penggantian tepung ikan (R0); ransum pengantian 25% tepung ikan dengan susu kadaluarsa (R1); ransum pengantian 50% tepung ikan dengan susu kadaluarsa (R2); ransum pengantian 75% tepung ikan dengan susu kadaluarsa (R3) dan ransum pengantian 100% tepung ikan dengan susu kadaluarsa (R4). Ransum dan air minum diberikan secara ad libitum. Variabel yang diamati adalah karkas dan komposisi fisik karkas. Hasil penelitian mendapatkan berat karkas dan berat daging perlakuan R3 lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan R4, R2, R1 dan R0. Semua perlakuan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap potongan komersial karkas. Penelitian menyimpulkan bahwa penggantian tepung ikan dengan susu kadaluarsa pada aras 75% menghasilkan karkas lebih tinggi dibandingkan perlakuan lain.
PENGARUH TINGKAT PENGGANTIAN RANSUM KOMERSIAL DENGAN JAGUNG TERHADAP KOMPOSISI FISIK KARKAS BROILER YANG DIPELIHARA PADA KETINGGIAN TEMPAT ( ALTITUDE ) YANG BERBEDA PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; CANDRAWATI, DSK.P.M.A.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 14, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.315 KB)

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat yaitu di banjar Pande Desa Dajan Peken Tabanan dengan ketinggiantempat 50 m dari permukaan laut (dpl) merupakan dataran rendah dan di Stasiun Penelitian Fapet Unud, di DesaSobangan yang merupakan dataran sedang, dengan ketinggian tempat 300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui tingkat penggantian ransum komersial dengan jagung, yang paling sesuai pada ketinggian tempatpemeliharaan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola split-splot 2×3 dengan 3 kali ulangan.Sebagai main plot adalah Altitude atau ketinggian tempat pemeliharaan (A) yang terdiri dari daerah dataranrendah (A1) dan daerah dataran sedang (A2). Sebagai petak tambahan sub plot adalah tingkat penggantian ransumkomersial (R) yang terdiri dari (R0) 100% ransum komersial, tingkat penggantian ransum komersial dengan 10%jagung (R1) dan tingkat penggantian ransum komersial dengan 20% jagung (R2). Peubah yang diamati adalahberat hidup, berat karkas, prosentase karkas, prosentase komposisi fisik karkas (tulang, daging, lemak), serta datapenunjang yaitu suhu udara, kelembaban udara, megap-megap, konsumsi ransum, konsumsi energi, konsumsiprotein dan FCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan ayam pedaging pada perlakuan (A2) menghasilkanberat hidup, berat karkas, prosentase daging karkas nyata lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan (A1). Ayampedaging yang mendapat perlakuan R0 menghasilkan berat hidup, prosentase karkas dan prosentase lemak yangnyata lebih tinggi (P<0,05) dari perlakuan (R2). Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidakterjadi interaksi yang nyata antara ketinggian tempat pemeliharaan dengan tingkat penggantian ransum komersialdengan jagung terhadap komposisi fisik karkas ayam pedaging.
PENGARUH TIPE LANTAI KANDANG DAN KEPADATAN TERNAK TERHADAP TABIAT MAKAN AYAM PEDAGING UMUR 2-6 MINGGU PUSPANI, ENY; NURIYASA, I.M.; WIBAWA, AAP. PUTRA; CANDRAWATI, DPMA.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 11 No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.291 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tipe lantai dan kepadatan ternak yang berbeda terhadap tabiat makan ayam pedaging telah dilaksanakan di Tabanan, Bali. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan pola faktorial 3×3 dalam 3 blok. Faktor pertama adalah tipe lantai kandang yang terdiri dari litter sekam di tanah (L1), lantai slat bambu (L2) dan lantai litter panggung (L3). Faktor kedua adalah kepadatan ternak yang terdiri dari 10 ekor/m2 (P1), 12 ekor/m2 (P2), dan 14 ekor/m2 (P3). Hasil penelitian tabiat makan menunjukkan bahwa frekuensi makan, frekuensi minum, frekuensi istirahat pada L1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari L2. Lama makan pada L2 lebih lama dari L1 dan L3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama minum pada L3 nyata lebih lama (P<0,05) dari L1 dan L2. Lama istirahat pada L1 nyata lebih lama (P<0,05) dari L2. Lama panting pada L2 nyata lebih sedikit (P<0,05) dari L1 dan L3. Frekuensi makan pada P1 nyata lebih tinggi (P<0,05) dari P2 dan P3. Frekuensi minum, frekuensi istirahat pada P1 lebih tinggi dari P2 dan P3 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Lama makan pada P1 nyata lebih lama (P<0,05) dari P2 dan P3. Lama minum pada P2 nyata lebih lama (P<0,05) dari P1 dan P3. Lama istirahat dan lama panting pada P3 lebih lama dari P1 dan P2 tetapi tidak berbeda nyata (P>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi interaksi antara tipe lantai dan kepadatan ternak terhadap tabiat makan, lantai slat bambu dan litter panggung menghasilkan tabiat makan yan lebih baik dibandingkan litter sekam di tanah. Kepadatan ternak 10 ekor/m2 menghasilkan tabiat makan lebih baik daripada 12 ekor/m2 dan 14 ekor/m2. THE EFFECT OF FLOOR TYPE AND BIRDS DENSITY ON FEEDING BEHAVIOUR OF BROILER AGED 2-6 WEEKS ABSTRACT The experiment aimed to study the effect of floor type and birds density on feeding behaviour of broilers. This experiment was carried out at Tabanan, Bali. The experiment used a completely randomized block design (CRBD) with factorial arrangement (3x3) in tree blocks. The first factor was floor type consisted of deep litter in the ground (L1), bamboo slat floor (L2) and litter podium floor (L3). The second factor was birds density consisted of 10 birds/m¬2 (P1), 12 birds/m2 (P2), and 14 birds/m2 (P3). The results of the experiment showed that the frequency of the eating, the drinking, and the resting at L1 were significantly higher (P<0.05) than L2. Time of feeding at L¬2 was longer than L1 and L3 but there were no significant differences (P>0.05). The time for drinking at L3 was significantly longer (P<0.05) than L1 and L¬2 and the time for resting at L1 was significantly longer (P<0.05) than L2 and also time for painting at L2 was significantly shorter (P<0.05) than L1 and L3. The frequencies of feeding at P1 was significantly higher (P<0.05) than P2 and P3. However, there were no significant differences on drinking and resting frequencies (P>0.05). The time feeding of P1 were significantly longer (P<0.05) than P2 and P3 and time for drinking at P2 were significantly longer than P1 and P3. Time for resting and panting at P3 were longer (P<0.05) than P1 and P2, but no significant differences (P>0.05). It was concluded that bamboo slat floor and litter podium make feeding behaviour better than chaff litter in the ground. There were no differences between density of 10 birds/m2, and 14 birds/m2 at bamboo slat floor and litter podium in feeding behaviour of broilers. Kata kunci : kepadatan kandang, tipe lantai kandang, tabiat makan, ayam pedaging
PERFORMANS DAN INDEKS KELEMBABAN SUHU KELINCI JANTAN (Lepus nigricollis) YANG DIPELIHARA DENGAN LUAS LANTAI KANDANG DAN DIBERI RANSUM DENGAN IMBANGAN ENERGI DAN PROTEIN BERBEDA Puspani, Eny; N. G. K., Roni; I. M., Nuriyasa
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 18 No 1 (2015): Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.939 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2015.v18.i01.p01

Abstract

Penelitian yang bertujuan mempelajari indeks kelembaban suhu atau temperature humidity index dan performans kelinci jantan lokal pada kepadatan ternak berbeda dan diberi ransum dengan imbangan energi protein berbeda telah dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola Faktorial 2 x 3 dengan empat kali ulangan (blok). Sebagai perlakuan pertama adalah imbangan energi dan protein pada ransum (R) yang terdiri dari ransum dengan kandungan energi termetabolis 2500 kkal/kg dan protein kasar 17% dengan imbangan energi dan protein 147 (R1), ransum dengan kandungan energi termetabolis 2800 kkal/kg dengan kandungan protein kasar 18,5% dengan imbangan energy dan protein 151 (R2). Sebagai perlakuan kedua adalah luas lantai kandang (L) yang terdiri dari 3500 cm2 (L1), 1750 cm2 (L2) dan 1166 cm2 (L3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim mikro pada perlakuan tingkat kepadatan ternak dan ransum dengan imbangan energi dan protein yang berbeda memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kelembapan udara, temperatur udara, “temperature humidity index” dan radiasi matahari. Performans pada perlakuan ransum dengan imbangan energy dan protein R1 menyebabkan konsumsi air, ransum, berat badan akhir dan pertambahan berat badan lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan perlakuan R2 sedangkan FCR yang memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05). Performans pada perlakuan tingkat kepadatan ternak L2 dan L3 menyebabkan konsumsi air dan ransum lebih tinggi sehingga berat badan akhir pada kandang L2 dan L3 juga lebih tinggi dibandingkan L1 kecuali pertambahan berat badan dan FCR memberikan pengaruh tidak berbeda nyata (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi perbedaan iklim mikro pada kandang dengan perlakuan ransum dengan imbangan energi dan protein berbeda serta perlakuan dengan tingkat kepadatan ternak berbeda. Kelinci yang diberi ransum dengan imbangan energi dan protein 147 (R1) menghasilkan performans lebih tinggi daripada imbangan energi dan protein 151 (R2). Kelinci yang dipelihara pada tingkat kepadatan ternak 2 ekor/3500cm2 menghasilkan performans lebih tinggi daripada tingkat kepadatan ternak 1 ekor dan 3 ekor/3500 cm2.