Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PROFIL PASIEN YANG MENJALANI PROGRAM SEE AND TREAT DI PUSKESMAS MENGWI I TAHUN 2017-2018 Putu Srinata Dampati; I Nyoman Gede Budiana; I Nyoman Bayu Mahendra; I. B. G. Fajar Manuaba
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2021.V10.i12.P09

Abstract

Cervical cancer is one of the high incidence cancer in the world including Indonesia. The mortality of this cancer is also high. In order to decrease number of incidence and mortality rate, prevention must be done. Cervical cancer prevention can be conducted through early detection/screening of precancer lesion. See and treat is one of the screening method to prevent cervical cancer development. This method uses Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) for screening and cryotherapy as a treatment if VIA test show positive result. The goal of this study is to determine profile of patients who undergo see and treat programme in Puskesmas Mengwi I in 2017-2018. This study is a descriptive cross sectional study using secondary data obtained from patient’s medical record who undergo see and treat programme in Puskesmas Mengwi I in 2017-2018. Sample taken using total sampling technique. There are 155 patients (1.39%) which obtained from this study from 11,146 total female population in Puskesmas Mengwi I working area, about 84 patients (54.2%) are > 35 years old, 142 patients (91.6%) first married at the age ? 20, 94 patients (60.6%) have graduated college, 105 patients (67.7%) are currently working, 76 patients (49.0%) using IUD, 43 patients (27.7%) had no gynecological complain, 91 patients (58.7%) have < 3 children, 10 patients (6.5%) show positive VIA result, and all of the VIA positive patient (100%) treated using cryotherapy. Keywords : see and treat, VIA, cryotherapy.
EVALUASI SERUM KREATININ DAN BLOOD UREA NITROGEN PASIEN KANKER SERVIKS YANG MENJALANI KEMOTERAPI PAKLITAKSEL-KARBOPLATIN DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2018 Ni Komang Vina Indriyani; I Nyoman Bayu Mahendra; Ida Bagus Gede Fajar Manuaba; I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya
E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/.MU.2021.V10.i2.P07

Abstract

Kanker serviks ialah keganasan kedua terbanyak di Indonesia. Salah satu penatalaksanaannya yaitu kemoterapi. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui fungsi ginjal pasien kanker serviks setelah dilakukan kemoterapi 3 seri di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif retrospektif longitudinal menggunakan data rekam medis dari pasien kanker serviks yang menjalani kemoterapi paklitaksel-karboplatin. Selama penelitian, terkumpul sebanyak 76 kasus yang memenuhi kriteria inklusi yang kemudian dianalisis . Median SC sebelum dilakukan kemoterapi ialah 0,79mg/dL dan setelah kemoterapi menjadi 0,71mg/dL. Pada pemeriksaan BUN median sebelum kemoterapi ialah 10,5mg/dL dan setelah dilakukan kemoterapi menjadi 9,70mg/dL. Sebanyak 77,6% pasien memiliki hasil pemeriksaan SC dan/atau BUN dalam rentang normal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa setelah dilakukan kemoterapi paklitaksel-karboplatin tidak memberikan efek samping serius yang dapat menurunkan fungsi ginjal. Kata Kunci : Kanker serviks, kemoterapi, paklitaksel-karboplatin, kreatinin, BUN, RSUP Sanglah Denpasar
PENURUNAN KADAR HEMOGLOBIN, LEUKOSIT DAN TROMBOSIT PASCA 3 SERI KEMOTERAPI PADA KASUS KANKER SERVIKS DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR BALI KURUN WAKTU 1 JANUARI HINGGA 31 DESEMBER 2018 Ni Kadek Chindy Sarindra Bhavani; Ida Bagus Gede Fajar Manuaba; I Nyoman Gede Budiana; Jaqueline Sudiman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kematian wanita di Negara Afrika dan Asia Tenggara sebagian besar disebabkan oleh kanker serviks sebagai urutan keempat dengan perkiraan 570.000 kasus dan 311.000 kematian pada tahun 2018 di seluruh dunia. Alternatif pengobatan utama untuk kanker serviks apabila tidak bisa dilakukan operasi adalah dengan kemoterapi. Kemoterapi dapat memberikan berbagai efek samping hematologis yang disebabkan oleh obat-obatan berbasis platinum (Karboplatin) sehingga mempengaruhi fungsi sumsum tulang dan produksi sel darah termasuk penurunan kadar hemoglobin, leukosit dan trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar hemoglobin, leukosit dan trombosit pasca 3 seri kemoterapi pada kasus kanker serviks di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali kurun waktu 1 Januari hingga 31 Desember 2018. Penelitian observasional dengan desain longitudinal digunakan dalam penelitian ini. Teknik sampel jenuh atau total sampling ialah proses pengumpulan sampel menggunakan data sekunder dari rekam medik dengan memperhitungkan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi yang menunjukkan hasil terdapat penurunan kadar hemoglobin, leukosit dan trombosit bermakna pasca tiga seri kemoterapi dengan obat Paklitaksel dan Karboplatin, dimana nilai p<0,001. Penurunan kadar hemoglobin dari 11,51g/dL menjadi 10,74g/dL, kadar leukosit dari 14,69x103/µL menjadi 7,20x103/µL dan kadar trombosit dari 395,22x103/µL menjadi 216,13x103/µL. Kata kunci : kanker serviks, kemoterapi, mielosupresi (anemia, leukopenia, trombositopenia
Masalah ginekologi pasien remaja di RSUP Sanglah Denpasar pada April 2016 – Maret 2017 Demetria Jesica Lim; IBG Fajar Manuaba; I Gede Mega Putra; I Nyoman Gede Budiana
Intisari Sains Medis Vol. 10 No. 1 (2019): (Available online 1 April 2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.187 KB) | DOI: 10.15562/ism.v10i1.217

Abstract

Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa atau tumbuh menjadi dewasa. Remaja belum dapat dikatakan sebagai dewasa namun juga sudah tidak dapat dikatakan sebagai anak – anak. Definisi remaja menurut WHO adalah seseorang dengan usia 10-19 tahun. Pada masa remaja ini sudah mulai muncul ciri-ciri perkembangan seks primer maupun sekunder seperti tumbuhnya payudara dan menstruasi pada wanita. Proses perkembangan seks sekunder ini tidak semuanya berjalan dengan lancar pada setiap wanita. Sangat mungkin untuk terjadi masalah-masalah pada proses perkembangan ini yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi. Tujuan: Untuk mengetahui masalah ginekologi remaja yang berkunjung di RSUP Sanglah Denpasar. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan teknik total sampling untuk mendapat angka kejadian gangguan menstruasi, keputihan, tumor ovarium, Polycystic Ovary Syndrome, infeksi Human Papilloma Virus dan kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja wanita yang memeriksakan diri di RSUP Sanglah dalam periode April 2016 – Maret 2017. Hasil: Dari 49 sampel yang didapat terdapat 53,06% kasus keputihan, 38,78% kasus gangguan menstruasi dan 8,16% kasus kanker ovarium. Kesimpulan: Tidak ditemukan pasien dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV), Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan kehamilan yang tidak diinginkan pada periode April 2016 – Maret 2017. 
Tingkat pengetahuan tentang prolaps organ panggul pada perempuan yang berolahraga gym di tempat gym khusus perempuan wilayah Denpasar Selatan tahun 2017 Ni Putu Omasih Kiantimi; I Gede Mega Putra; Ida Bagus Gde Fajar Manuaba
Intisari Sains Medis Vol. 9 No. 3 (2018): (Available online: 1 December 2018)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.849 KB) | DOI: 10.15562/ism.v9i3.237

Abstract

Prolaps organ panggul (POP) adalah turunnya organ panggul kedalam liang vagina hingga keluar dari introitus vagina yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor risiko. Peningkatan tekanan intra abdominal karena mengangkat beban yang berat, berolahraga gym dengan cara yang salah merupakan salah satu faktor risiko POP. POP merupakan penyakit yang tidak mengancam nyawa tetapi mengganggu kualitas hidup penderitanya dan diperlukannya operasi yang berulangkali dan mahal untuk memperbaiki kualitas organ panggul penderita. Sehingga pencegahan sangat penting untuk penyakit POP. Salah satu pencegahan yang dapat dilaksanakan adalah peningkatan pengetahuan masyarakat tentang POP. Tujuan: Untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang POP pada perempuan yang berolahraga gym di tempat gym khusus perempuan wilayah Denpasar Selatan tahun 2017. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan instrumen kuisioner. Kuisioner yang digunakan telah tervalidasi dengan rumus pearson product moment dan telah lulus uji reabilitas dengan nilai alpha cronbach 0,884 (>0,600). Terdapat 106 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Responden dalam penelitian ini adalah perempuan yang berolah raga gym di tempat gym khusus perempuan wilayah Denpasar Selatan. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dan Simpulan: Rata-rata skor pengetahuan responden 73,8%. Sehingga, dapat dikategorikan tingkat pengetahuan responden adalah tingkat pengetahuan cukup. Distribusi kategori tingkat pengetahuan baik sebanyak 48,1 %, kategori pengetahuan cukup sebanyak 45,3% dan kategori pengetahuan kurang sebanyak 6,6% dari total responden. 
Faktor determinan kematian ibu di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 Rela Hamdanillah; Anom Suardika; Made Darmayasa; Ida Bagus Gde Fajar Manuaba
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 3 (2020): (Available online: 1 December 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.007 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i3.249

Abstract

Background: Maternal mortality is the death of women during pregnancy or within 42 days of delivery, whether associated with pregnancy or complications exacerbated by pregnancy and not related to incidental causes. Maternal mortality is a critical indicator in assessing the level of wellbeing and public health status. The risk of maternal death is divided into three such as remote determinants, intermediate determinants, and acute clinical determinants.Aim: This study aims to determine the determinant factors as a role player in maternal mortality at Sanglah Hospital Denpasar in 2016.Method: This research is cross-sectional descriptive research conducted at RSUP Sanglah Denpasar. The sample of the study was all mothers died at Sanglah Hospital during the year 2016. The data obtained in the form of patient medical record data. Data were analyzed by descriptive methods.Result and Conclusion: The maternal mortality caused by the remoted determinant factors which were the highest in the maternal group with 9-12 years of education (77.3%) and the working mother group (54.5%). On the intermediate determinant, the highest is at age 20-35 years (81.8%), with parity 2-3 (63.6%), 2-10 year of gestational distance (54.5%), the most top obstetric factors are preeclampsia/eclampsia (27.2%), but the nonobstetric cause is the leading cause of maternal mortality. Kematian ibu adalah kematian wanita selama masa kehamilan atau dalam kurun waktu 42 hari setelah melahirkan, baik yang berhubungan dengan kehamilan maupun komplikasi yang diperburuk oleh masa kehamilan, serta tidak berhubungan dengan penyebab incidental. Angka kematian ibu merupakan indikator penting dalam menilai tingkat kesejahteraan dan status kesehatan masyarakat. Faktor yang berkontribusi terhadap kematian ibu secara garis besar dapat kelompokkan menjadi penyebab obstetrik dan penyebab non obstetrik. Menurut McCarthy dan Maine, risiko kematian ibu dibagi menjadi 3 yaitu, determinan jauh, determinan antara dan determinan dekat.Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor determinan yang berperan dalam kematian ibu di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional yang dilakukan di RSUP Sanglah Denpasar. Sampel penelitian adalah semua ibu meninggal di RSUP Sanglah selama tahun 2016. Data yang diperoleh berupa data rekam medis pasien, kemudian dianalisis secara deskriptif.Hasil dan Kesimpulan: Kematian ibu yang disebabkan karena faktor determinan yang tertinggi yaitu pada kelompok ibu dengan pendidikan 9-12 tahun (36,4%) dan kelompok ibu yang bekerja (54,5%). Pada faktor determinan antara yang tertinggi yaitu pada usia 20-35 tahun (81,8%), dengan paritas 2-3 (63,6%), jarak kehamilan 2-10 tahun (54,5%), faktor penyebab obstetrik yang tertinggi adalah preeklampsia/eklampsia (27,2%), namun secara garis besar penyebab non obstetrik merupakan penyebab utama kematian ibu.
The characteristics of preeclampsia among patients delivered through caesarean section at Sanglah General Hospital, Denpasar, Bali in 2018 Anindita Pramanik; Ida Bagus Gede Fajar Manuaba; Anak Agung Putra Wiradnyana
Intisari Sains Medis Vol. 10 No. 3 (2019): (Available online: 1 December 2019)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.078 KB) | DOI: 10.15562/ism.v10i3.478

Abstract

Background: Preeclampsia is an exclusive disorder in pregnancy characterised by hypertension as well as proteinuria and is the primary cause of mortality and morbidity of pregnant women. This study aims to determine the characteristics or risk factors in preeclampsia patients who delivered through caesarean section within the period of January 1st to December 31st 2018 in Sanglah General Hospital Denpasar.Methods: This study used a retrospective descriptive study design by using 34 samples of preeclampsia patients in 2018 who underwent caesarean delivery in Sanglah General Hospital Denpasar. The characteristics of these pregnant women are categorized into their age, education level, Body Mass Index (BMI), ethnicity, occupation, education level, previous history of preeclampsia, family history of preeclampsia, existing chronic hypertension, parity, number of fetus in womb, frequency of Antenatal Care (ANC), and registration method. Data were analysed by SPSS version 17 for windows.Results: The preeclampsia sufferers were dominated by the age group of 20-35 years as many as 27 people (79.4%). The highest body mass index is in the 1 obese group of 10 people (29.4%). The majority of respondents were from Bali (61.8%). Working women were predominant (67.6 %), followed by SMA education level (14.7%), existing chronic hypertension (5.9%), nulliparous (41.1%), single fetuses (94.1%), and total frequency of ANC to midwife/obstetrician consisting about 61.8%.Conclusion: It can be concluded that the majority of the patients were in the age range of 20-35 years, were Balinese and had a BMI range of Obese I. Moreover, most the preeclampsia patients in this study were working women and had an education level mostly in SMA
Indikasi ibu melakukan persalinan seksio sesarea di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2018 Tamara Olivia Wiguna; I Gede Harry Wijaya Surya; Ida Bagus Gde Fajar Manuaba; Jaqueline Sudirman
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 2 (2020): (Available online: 1 August 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.891 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i2.724

Abstract

Background: Sectio caesarea is a method of labor in which a fetus with a capability to live (along with placenta and amniotic membrane) transabdominally via uterine incision. Caesarean section is usually done whether there is any medical indication and a final choice for difficulty on laboring.Aim: The study aims to know the indications of caesarean section that is done in RSUP Sanglah Denpasar in 2018. Method: This descriptive qualitative study was conducted using total sampling method. About 205 pregnant ladies had undergone caesarean section among a total of 914 patients who were in labour in RSUP Sanglah Denpasar in 2018, and around 157 of them have underlying medical indication that they couldn’t perform normal labour.Result and Conclusion: The rupture membrane was the most frequent indication (18,7%), previous scar (13,9%), PEB (8,3%).  Latar Belakang: Seksio sesarea merupakan melahirkan janin yang sudah mampu hidup (beserta plasenta dan selaput ketuban) secara transabdominal melalui insisi uterus). Seksio sesarea pada umumnya dilakukan apabila terdapat indikasi medis sebagai tindakan akhir dalam mengakhiri kesulitan persalinan.Tujuan: Untuk mengetahui indikasi seksio sesarea dari total persalinan di RSUP Sanglah Denpasar pada tahun 2018.Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif ini dilakukan dengan metode total sampling. Sebanyak 205 wanita hamil menjalani persalinan seksio sesarea dari total persalian sebanyak 914 kejadian persalinan di RSUP Sanglah, dan 157 di antaranya memiliki indikasi medis sehingga persalinan normal tidak memungkinkan.Hasil dan Simpulan: Ruptur membran atau pecahnya ketuban merupakan indikasi yang paling sering muncul (18,7%), lalu disusul oleh riwayat operasi sesar sebelumnya atau previous scar (13,9%), PEB (8,3%),
Ekspresi reseptor vitamin D plasenta yang rendah sebagai faktor risiko terjadinya preeklampsia dengan gambaran berat I Gede Mahendra Adiguna Dira; Ketut Suwiyoga; I Wayan Artana Putra; I Gede Mega Putra; Ida Bagus Gede Fajar Manuaba; I Gde Sastra Winata; I Wayan Megadhana
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1208

Abstract

Introduction: Preeclampsia is the cause of 10-15% of maternal deaths in Indonesia and occurs in about 2-10% of all pregnancies worldwide. The pathogenesis that underlies the occurrence of preeclampsia is not yet clearly known so that preeclampsia is referred to as a disease of theory. Nutritional factors such as vitamin D also play a role in the development of preeclampsia. This study aims to determine the relationship between vitamin D receptor expression as a risk factor for preeclampsia with severe features.Method: This study used a case-control design conducted in the maternity ward of Sanglah General Hospital, Denpasar from February to August 2020. A sample of 44 subjects was obtained and divided into case groups and control groups. Examination of vitamin D receptors using a central area placenta measuring 2x2 cm which was then examined semi-quantitatively at the Histology Laboratory, Faculty of Medicine, Udayana University.Result: The results were analyzed using the chi square test. There was no significant difference in the characteristics of the two groups. There was a significant relationship between low VDR expression in the placenta and the incidence of preeclampsia with severe features (p-value 0.002; 95% CI 1.96-31.57; OR 7.88).Conclusion: Low VDR placenta expression in pregnant women increases the risk of preeclampsia with a severe picture of 7.88 times greater than high VDR expression. Pendahuluan: Preeklampsia menjadi penyebab 10-15% kematian maternal di Indonesia, dan terjadi pada sekitar 2-10% dari seluruh kehamilan di seluruh dunia. Patogenesis yang mendasari terjadinya preeklampsia sampai saat ini belum jelas diketahui sehingga preeklampsia disebut sebagai disease of theory. Faktor nutrisi seperti vitamin D juga memainkan peran dalam terjadinya preeklampsia. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan ekspresi reseptor vitamin D sebagai faktor risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus-kontrol yang dilakukan di Ruang Bersalin RSUP Sanglah Denpasar pada Februari sampai Agustus 2020. Didapatkan sampel sebanyak 44 subyek dan dibagi kedalam kelompok kasus dan kelompok kontrol. Pemeriksaan reseptor vitamin D menggunakan plasenta area sentral ukuran 2x2 cm yang kemudian diperiksa secara semikuantitatif di Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Hasil dianalisa menggunakan uji chi square.Hasil: Tidak terdapat perbedaan karakteristik yang bermakna pada kedua kelompok. Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi VDR pada plasenta yang rendah terhadap kejadian preeklamsia dengan gambaran berat (p-value 0.002; IK 95% 1.96-31.57; OR 7.88).SimpulanEkspresi VDR plasenta yang rendah pada ibu hamil meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia dengan gambaran berat sebesar 7,88 kali lebih besar dibandingkan ekspresi VDR tinggi.
Polimorfisme gen COL1A1 sebagai faktor risiko terjadinya prolaps organ panggul pada perempuan Bali, Indonesia Putra Agung Eka Aricandana; I Gede Mega Putra; I Wayan Megadhana; Anak Agung Ngurah Anantasika; Ida Bagus Gde Fajar Manuaba; I Gede Ngurah Harry Wijaya Surya
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 1 (2022): (Available Online : 1 April 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15562/ism.v13i1.1209

Abstract

Introduction: Pelvic organ prolapse (POP) is still a common health problem in women, especially in the elderly female population. Pelvic organ prolapse is associated with a reduced quality of life for millions of women worldwide. The purpose of this study was to determine the role of the COL1A1 rs 1800012 gene polymorphism as a risk factor for pelvic organ prolapse in Balinese women, Indonesia.Methods: This case-control observational study involved 60 Balinese women aged 30-70 years divided into 30 subjects with pelvic organ prolapse as a case group and 30 subjects with non-pelvic organ prolapse as a control group. Subject selection and clinical examination were carried out at the Reconstructive Urogynecology Polyclinic and Obstetrics and Gynecology Polyclinic, Sanglah Central General Hospital Denpasar and Prima Medika General Hospital Denpasar. Three ml of blood sample was drawn and then put into a bottle containing EDTA for Polymerase Chain Reaction COL1A1 rs 180012 gene polymorphisms at the Integrated Biomedical Laboratory, Faculty of Medicine, Udayana University. The data obtained were then analyzed using the Statistical Product and Service Solutions software version 21.0.Results: COL1A1 gene polymorphism was found in eight subjects in the case group and one subject in the control group. The results of bivariate analysis showed a significant relationship between the COL1A1 gene polymorphism and the incidence of pelvic organ prolapse (p = 0.011). The results of multivariate analysis revealed a significant relationship between COL1A1 gene polymorphisms and pelvic organ prolapse after controlling for controlled variables (parity status, occupation, BMI, age, menopause, and history of hysterectomy). Multivariate analysis showed adjusted odd ratio of 16.157 for the COL1A1 gene polymorphism (p = 0.021).Conclusion: COL1A1 gene polymorphism significantly increases the risk of pelvic organ prolapse in Balinese women.  Pendahuluan: Prolaps organ panggul (POP) masih menjadi masalah kesehatan umum pada perempuan, terutama pada populasi wanita lanjut usia. Prolaps organ panggul berkaitan dengan penurunan kualitas hidup dari jutaan wanita di seluruh dunia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran polimorfisme gen COL1A1 rs 1800012 sebagai faktor risiko kejadian prolaps organ panggul pada perempuan Bali, Indonesia.Metode: Studi observasional kasus kontrol ini melibatkan 60 orang perempuan Bali berusia 30-70 tahun yang terdiri dari 30 orang dengan diagnosis prolaps organ panggul sebagai kelompok kasus dan 30 orang dengan diagnosis non prolaps organ panggul sebagai kelompok kontrol. Pemilihan subjek dan pemeriksaan klinis dilakukan di Poliklinik Uroginekologi Rekonstruksi dan Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar dan Rumah Sakit Umum Prima Medika Denpasar. Sampel darah diambil sebanyak 3 ml kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi EDTA dan dilakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction untuk polimorfisme gen COL1A1 rs 180012 di Laboratorium Biomedik Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service Solutions versi 21.0.Hasil: Polimorfisme gen COL1A1 ditemukan pada 8 subjek pada kelompok kasus dan 1 subjek pada kelompok kontrol. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara polimorfisme gen COL1A1 dan kejadian prolaps organ panggul (p = 0,011). Hasil analisis multivariat memperjelas hubungan signifikan antara polimorfisme gen COL1A1 dan prolaps organ panggul setelah dikontrol dengan variabel terkendali (status paritas, pekerjaan, imt, umur, menopause, dan riwayat histerektomi). Hasil analisis multivariat menunjukkan adjusted odd ratio sebesar 16,157 untuk polimorfisme gen COL1A1 (p = 0,021).Simpulan: Polimorfisme gen COL1A1 secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya prolaps organ panggul pada perempuan Bali.