Claim Missing Document
Check
Articles

KECEPATAN LARI PADA PEMAIN BASKET PUTRI DENGAN GENU VALGUM NORMAL DAN ABNORMAL DI SMA NEGERI KOTA DENPASAR Kadek Rista Harjayanti; Ni Komang Ayu Juni Antari; Putu Ayu Sita Saraswati; I Nyoman Adiputra
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 1 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.791 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2020.v08.i01.p08

Abstract

Kecepatan lari dalam olahraga basket sangat dibutuhkan, karena pemain harus memiliki kecepatan dribblingatau menggiring bola yang cepat serta dapat membelokkan arah bola dengan cepat. Permasalahan dalam struktur dan fungsi tubuh seperti genu valgum akan memberikan pengaruh pada kecepatan lari pada atlet yang dapat mempengaruhi performa dan prestari atlet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecepatan lari pada pemain basket putri dengan genu valgum normal dan abnormal. Desain penelitian ini yaitu analitik dengan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 46 pemain basket putri berusia 16 – 19 tahun. Variabel bebas yang diukur adalah genu valgum normal dan abnormal sedangkan variabel terikatnya yaitu kecepatan lari. Hasil penelitian menunjukkan nilai p = 0,000 (p< 0,05) dengan nilai rerata kecepatan lari pada kelompok genu valgum normal dan abnormal masing masing 10,83 ± 0,61 detik dan 12,13 ± 1,02 detik. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan kecepatan lari yang signifikan pada pemain basket putri dengan genu valgum normal dan abnormal, dimana kecepatan lari pada kelompok genu valgum abnormal lebih rendah sebesar 11,32% dibandingkandengan kelompok genu valgum normal.Kata Kunci: Genu valgum, Kecepatan Lari, Q-Angle, Pemain Basket
GAMBARAN RISIKO TERJADINYA PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS PADA PEMAIN BRASS INSTRUMENT MARCHING BAND SMA DI DENPASAR I Made Andika Tresnanda Putra; Ni Komang Ayu Juni Antari; Sayu Aryantari Thanaya Putri; Ida Ayu Dewi Wiryanthini
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 10 No 1 (2022): Majalah Ilimiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2022.v10.i01.p06

Abstract

Pendahuluan: Pemain alat musik tiup merupakan orang-orang yang secara terus-menerus dalam periode waktu yang lama melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pernapasan. Oleh karena itu, pemain alat musik tiup berisiko mengalami perubahan mekanisme pada paru yang bisa menyebabkan terkena penyakit paru obstruktif. Pemain alat musik tiup banyak ditemukan di dalam tim marching band. Di Indonesia skrining awal risiko terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) bagi pemain alat musik tiup masih sangat jarang dilakukan sehingga kondisi fisik dari masing-masing pemain masih kurang diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran risiko terjadinya PPOK pada pemain brass instrument marching band SMA di Denpasar.Metode: Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif cross-sectional. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang. Skrining awal risiko terjadinya PPOK dilakukan dengan metode CAPTURE yang dapat mendeteksi secara dini adanya PPOK. Adapun faktor lain yang dicatat pada penelitian ini yaitu jenis kelamin, Indeks Massa Tubuh (IMT), dan kebiasaan merokok.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran risiko terjadinya PPOK pada pemain brass instrument marching band SMA di Denpasar yaitu 66% tidak berisiko, 28% berisiko sedang, dan 6% beresiko tinggi mengalami PPOK.Simpulan: Responden dengan jenis kelamin laki-laki, IMT kategori kurus, dan yang memiliki kebiasaan merokok memiliki kecenderungan beresiko tinggi mengalami PPOK. Kata Kunci: pemain alat musik tiup, PPOK, CAPTURE
HUBUNGAN RIWAYAT BERAT BADAN LAHIR BAYI (BBLB) DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 2-5 TAHUN DI DESA TAKMUNG Ni Wayan Aprilia Astariani Putri; Ni Luh Nopi Andayani; Ni Komang Ayu Juni Antari; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 2 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.14 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2020.v08.i02.p07

Abstract

Setiap anak lahir dengan kemampuan yang berbeda-beda. Setiap anak dengan keistimewaannya masing-masing tidak pernah lepas dari masalah, utamanya pada anak usia dini atau yang sering disebut dengan golden age. Di Indonesia sekitar 5-10% anak mengalami keterlambatan perkembangan. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu faktor yang menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang anak. Oleh karena itu tumbuh kembang anak harus di deteksi sejak dini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara riwayat berat badan lahir dengan perkembangan motorik halus anak usia 2-5 tahun di Desa Takmung. Penelitian ini menggunakan metode observasional analytic dengan desain cross sectional. Sampel penelitian diambil secara consecutive sampling dengan jumlah sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 59 orang. Untuk menilai perkembangan motorik halus anak digunakan form penilaian Denver Development Screening Test II (DDST II).Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sampel memiliki berat badan lahir normal sebanyak 49 orang (83.1%) dan sebagian besar sampel memiliki perkembangan motorik perkembangan motorik halus yang normal sebanyak 36 orang (73.5%). Analisis data menggunakan uji statistik Chi Square didapatkan nilai p=0.001 (p<0.05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara riwayat berat badan lahir bayi (BBLB) dengan perkembangan motorik halus anak usia 2-5 tahun di Desa Takmung. Kata kunci: berat badan lahir, motorik halus, golden age.
HUBUNGAN AKTIVITAS SEDENTARI TERHADAP KOORDINASI MOTORIK KASAR PADA ANAK USIA 11-12 TAHUN DI SD NEGERI 3 PANJER, DENPASAR SELATAN Maria Assumpta Avila Beda Budhiyati; Ari Wibawa; Luh Made Indah Sri Handari Adiputra; Ni Komang Ayu Juni Antari
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 1 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.149 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2020.v08.i01.p04

Abstract

Perkembangan teknologi di era modern ini sudah sangat maju dan berkembang sehingga menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun negatif. Salah satu dampak negatif yang dapat dirasakan adalah bertambahnya aktivitas sedentari pada anak. Aktivitas sedentari yang berlebihan pada anak dapat berpengaruh terhadap kemampuan motorik kasar anak, salah satunya adalah koordinasi motorik kasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas sedentari terhadap koordinasi motorik kasar pada anak usia 11-12 tahun di SD Negeri 3 Panjer, Denpasar Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional yang dilaksanakan pada bulan April 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan sampel berjumlah 35 orang. Variabel independen yang diukur adalah aktivitas sedentari dengan menggunakan adolescent sedentary activity questionnaire (ASAQ). Variabel dependen yang diukur adalah koordinasi motorik kasar dengan menggunakan Tes Koordinasi Mata, Tangan, dan Kaki. Uji hipotesis yang digunakan adalah Pearson dan diperoleh nilai p sebesar 0,700 sehingga p>0,05. Hasil penelitian dan uji statistik menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas sedentari terhadap koordinasi motorik kasar pada anak usia 11-12 tahun di SD Negeri 3 Panjer, Denpasar Selatan. Penelitian lebih lanjut, seperti penelitian longitudinal dan penelitian eksperimental dibutuhkan untuk dapat mendukung atau membantah hasil penelitian ini. Kata kunci: Aktivitas sedentari, koordinasi motorik kasar, anak
PERBEDAAN EFEKTIFITAS LATIHAN KEKUATAN OTOT GENGGAM HAND GRIPPER EXERCISE DENGAN ISOMETRIC STRENGTHENING WRIST DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN AKTIVITAS FUNGSIONAL PADA LANSIA DI BANJAR SANGLAH UTARA DENPASAR Anjani Septania Soegiharto; Ni Luh Nopi Andayani; Ni Komang Ayu Juni Antari; Made Winarsa
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 9 No 2 (2021): Majalah Ilimiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2021.v09.i02.p03

Abstract

Kekuatan Genggam Tangan adalah ukuran yang digunakan untuk mengukur seberapa kuat ekstremitas atas dengan memperhatikan posisi saat latihan. Pada lansia kekuatan otot akan berkurang 10-25% pada saat usia kurang lebih 60 tahun keatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektifitas latihan kekuatan otot genggam Hand Gripper Exercise dan Isometric Strengthening Wrist dalam meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional pada lansia di Banjar Sanglah Utara Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode pre test dan post test design dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel 20 orang. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu Kelompok Hand Gripper Exercise dan Isometric Strengthening Wrist. Pada penelitian ini terdapat statistik deskriptif berupa usia, IADL, IMT dan kekuatan otot genggam. Berdasarkan Uji homogenitas diperoleh hasil sig > 0,05 yang artinya data penelitian bersifat homogen. Uji hipotesis dengan menggunakan paired - T test untuk menguji adanya perbedaan hasil sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok latihan Hand Gripper Exercise dan Isometric Strengthening Wrist diperoleh nilai p= 0,001. Uji T-Independent untuk menganalisa perbedaan efek yang ditimbulkan oleh kelompok Hand Gripper Exercise dengan Isometric Strengthening Wrist diperoleh hasil nilai p=0,023. Berdasarkan hasil penelitian dan uji statistik diatas, maka dapat disimpulkan bahwa latihan Hand Gripper Exercise dan Isometric Strengthening Wrist dapat meningkatkan aktivitas fungsional lansia. Terdapat perbedaan efektifitas latihan kekuatan otot genggam Hand Gripper Exercise dan Isometric Strengthening Wrist dalam meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional pada lansia di Banjar Sanglah Utara Denpasar. Adapun saran yang dapat diberikan kepada reponden yaitu tetap berlatih meskipun penelitian telah selesai. Kata kunci : latihan kekuatan otot genggam, aktivitas fungsional lansia
INTERVENSI MICRO WAVE DIATHERMY DAN SLOW STROKE BACK MASSAGE LEBIH EFEKTIF DIBANDINGKAN DENGAN MICRO WAVE DIATHERMY DAN WILLIAM FLEXION EXERCISE DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN FUNGSIONAL PADA KASUS MYOGENIC LOW BACK PAIN Ni Komang Ayu Juniantari; Gede Parta Kinandana; Putu Ayu Sita Saraswati; I Made Niko Winaya
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 6 No 2 (2018): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.357 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2018.v06.i02.p11

Abstract

ABSTRAK Myogenic low back pain merupakan suatu sindroma nyeri punggung bawah yang disebabkan oleh ketegangan otot-otot di sekitar punggung bawah dan merupakan work related musculoskeletal disorder. Tujuan penelitian ini untukmembuktikan perbedaan efektivitas antara intervensi slow stroke back massage dan William flexion exercise terhadappeningkatan kemampuan fungsional pada penderita myogenic low back pain.. Penelitian ini merupakan penelitianeksperimental dengan pre dan post test control group design. Jumlah sampel sebanyak 36 orang yang dibagi menjadidua kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi slow stroke back massage dan Kelompok 2 diberikan intervensi Williamflexion exercise. Kedua kelompok mendapatkan intervensi microwave diathermy sebagai terapi awal. Pengukurankemampuan fungsional punggung bawah menggunakan MOLDBQ. Uji hipotesis menggunakan paired sample t-testdidapatkan hasil p=0,000 dengan selisih pre dan post 20,12±1,445 pada Kelompok 1, sedangkan pada Kelompok 2didapatkan hasil p=0.000 dengan selisih pre dan post 9.94±0.854. Uji perbandingan dengan independent sample t-testdidapatkan beda selisih p=0,000 (p<0,05). Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa intervensi slowstroke back massage lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional dibandingkan dengan William flexionexercise pada penderita myogenic low back pain. Kata Kunci: myogenic low back pain, slow stroke back massage, William flexion exercise, microwave diathermy,MOLDBQ
PERBEDAAN NILAI ARUS PUNCAK EKSPIRASI ANTARA POSISI BERDIRI DAN DUDUK PADA PEROKOK USIA 18-22 TAHUN DI DESA BEBALANG I Gusti Ayu Mitha Aristya Dewi; Ni Komang Ayu Juni Antari; Indira Vidiari Juhanna; I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 3 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2020.v08.i03.p09

Abstract

Paparan asap rokok yang terjadi secara terus menerus pada perokok dapat mempercepat penurunan fungsi paru. Penurunan fungsi paru dapat diketahui melalui pemeriksaan Arus Puncak Ekspirasi (APE). APE dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah posisi tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan nilai APE antara posisi berdiri dan duduk pada perokok usia 18-22 tahun. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional analitik yang dilakukan pada bulan Maret-April 2019. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 58 orang remaja laki-laki yang merupakan perokok aktif dengan rentang usia 18-22 tahun. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Hasil uji hipotesis Paired Sample T Test menghasilkan nilai p sebesar 0,000 (P<0,05) dengan nilai rerata APE antara posisi berdiri dan duduk masing-masing 452,93±106,98 L/menit dan 428,62±144,19 L/menit. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan signifikan nilai APE antara posisi berdiri dan duduk pada perokok usia 18-22 tahun di Desa Bebalang. Kata Kunci: arus puncak ekspirasi, posisi berdiri, posisi duduk, perokok
POSISI DUDUK MENGEMUDI DENGAN KEJADIAN FORWARD HEAD POSTURE PADA SOPIR BUS RAPID TRANSIT DI PROVINSI BALI Jovanka Rayhan Susilo; Anak Ayu Nyoman Trisna Narta Dewi; Ni Komang Ayu Juni Antari; Sayu Aryantari Putri Thanaya
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 10 No 2 (2022): Majalah Ilimiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MIFI.2022.v10.i02.p06

Abstract

Pendahuluan: Pengoperasian transportasi umum khususnya bus membutuhkan sopir yang berkompeten dalam menjalankan tugasnya demi menjamin keamanan dan keselamatan penumpangnya. Faktor penting yang seharusnya menunjang dalam melakukan aktivitas pekerjaan sebagai seorang sopir adalah untuk tetap menjaga posisi duduk mengemudi secara ergonomis agar tidak terjadi permasalahan pada postur yang mengganggu. Salah satu akibat dari tidak ergonomisnya posisi duduk mengemudi pada sopir adalah Forward Head Posture (FHP). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adakah hubungan posisi duduk mengemudi dengan kejadian forward head posture pada sopir Bus Rapid Transit. Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilakukan pada bulan Maret - April 2021. Sampel penelitian adalah sopir bus Trans Sarbagita dan Trans Metro Dewata dengan jumlah 54 sampel yang dipilih melalui teknik consecutive sampling. Peneliti melakukan anamnesis dan pemeriksaan sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, lalu mengukur posisi duduk mengemudi menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA), dan forward head posture dengan mencari nilai Craniovertebral Angle (CVA). Hasil: Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji chi square. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan (p=0,001), antara posisi duduk mengemudi dengan FHP pada sopir Bus Rapid Transit di Provinsi Bali. Simpulan: Terdapat hubungan antara posisi duduk mengemudi dengan kejadian forward head posture pada sopir Bus Rapid Transit di Provinsi Bali. Kata Kunci: posisi duduk mengemudi, FHP, sopir bus
PERBEDAAN GAIT PARAMETER TERHADAP TIPE ARKUS PEDIS (NORMAL FOOT, FLAT FOOT DAN CAVUS FOOT) PADA ANAK SEKOLAH DASAR USIA 10-12 TAHUN DI DENPASAR BARAT Komang Githa Pradnyamitha Dewi; Anak Ayu Nyoman Trisna Narta Dewi; Ni Komang Ayu Juni Antari; Agung Wiwiek Indrayani
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 8 No 2 (2020): Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Bachelor of Physiotherapy and Physiotherapy Profession Study Program, Faculty of Medicine, Udayana University in collaboration with Indonesian Physiotherapy Association (IPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.271 KB) | DOI: 10.24843/MIFI.2020.v08.i02.p11

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak penting untuk diperhatikan. Salah satunya ialah perkembangan berjalan. Beberapa orang tua kerap merasa khawatir apabila pola berjalan anak terlihat tidak normal, salah satunya dapat disebabkan oleh adanya kelainan struktur arkus pedis. Tipe arkus pedis terdiri dari normal foot, flat foot, dan cavus foot. Tipe arkus pada pedis dapat mempengaruhi berjalan yang dapat diukur dengan gait parameter. Dasar gait parameter yang paling sering digunakan ialah cadence, stride length, step length, dan speed. Tujuan penelitian ini ialah untuk dapat menganalisis adanya perbedaan gait parameter pada masing-masing tipe arkus pedis pada anak sekolah dasar usia 10-12 tahun di Denpasar Barat. Metode yang digunakan ialah cross sectional analitik yang dilakukan pada bulan Maret 2019. Penelitian ini diikuti 113 orang (58 laki-laki, 55 perempuan) usia 10-12 tahun. Variabel independen yang diamati ialah tipe arkus pedis dengan melakukan footprint, dan pengkategorian tipe arkus menggunakan Clarke’s Angle. Pengukuran variabel dependen yaitu gait parameter dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Cadence diukur dengan meminta subjek berjalan selama satu menit lalu dihitung jumlah langkah dalam satu menit. Pengukuran stride length dan step length dengan melakukan footprint pada kertas panjang sehingga akan terlihat sidik pedis. Speed dihitung menggunakan rumus dari hasil cadence dan stride length. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov Smirnov Test dan uji homogenitas menggunakan Levene’s Test. Setelah itu dilakukan uji beda dengan uji Kruskal Wallis menunjukan beda signifikan antara ketiga kelompok (p=0,001). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan gait parameter terhadap tipe arkus pedis (normal foot, flat foot, dan cavus foot) pada anak sekolah dasar usia 10-12 tahun di Denpasar Barat. Kata Kunci : gait parameter, normal foot, flat foot, cavus foot, anak-anak
Proprioceptive Neuromuscular Facilitation versus Sensory Motor Training in Non-Specific Low Back Pain Made Hendra Satria Nugraha; Ni Komang Ayu Juni Antari; Anak Ayu Nyoman Trisna Narta Dewi
Jurnal Keterapian Fisik Jurnal Keterapian Fisik Volume 6 Number 1 Year 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/jkf.v0i0.260

Abstract

Background: Non-specific low back pain is a type of pain that is located in spine area and does not radiate to the legs. Non-specific low back pain can limit daily activities and cause inability to do work. The aim of this study is to compare the effectiveness of proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF) versus sensory motor training (SMT) in the treatment of ultrasound therapy (UST) and kinesio tape (KT) insertion in non-specific low back pain. Methods: This research is an experimental with a randomized pre-test and post-test control group design, in which the study participants were divided into two groups randomly. The control group (n = 10) is given UST+PNF+KT combination, while the treatment group (n = 10) is given UST+SMT+KT combination. Therapeutic evaluation measures include: pain scale with a numeric rating scale, range of motion with a goniometer, and lower back disability with the Indonesian Version of Oswestry Disability Index. The intervention is given 3 times per 1 week for 3 weeks. Results: The results showed improvement in pain, range of motion, and lower back disability in each group (p<0.05). However, there were no significant differences when compared between groups. Conclusion: Based on these results, it can be concluded that the UST+PNF+KT combination has the same good results as the UST+SMT+KT combination in improving pain, range of motion, and lower back disability in non-specific low back pain.
Co-Authors Agung Wiwiek Indrayani Aloysius Ivander Wirayudha Widjaja Anak Agung Gede Angga Puspa Negara Anak Agung Gede Angga Puspa Negara Anak Agung Gede Eka Septian Utama Anak Anak Gede Angga Puspa Negera Anjani Septania Soegiharto Ari Wibawa Dewi, Anak Ayu Nyoman Trisna Narta Doni Galih Bagaswara Ferdi Alkindi Fydananda Nimas Pahlevi Gede Parta Kinandana Govinda Vittala Gusti Ayu Nyoman Nanda Wulantika I Dewa Ayu Inten Dwi Primayanti I Gusti Ayu Artini I Gusti Ayu Artini I Gusti Ayu Awidiya Putri Wulandari I Gusti Ayu Diah Anjaswari I Gusti Ayu Mitha Aristya Dewi I Made Andika Tresnanda Putra I Made Buda Kurniantara I Made Niko Winaya I Made Winarsa Ruma I Nyoman Adi Putra I Putu Adiartha Griadhi I Putu Gede Adiatmika I Putu Yudi Pramana Putra I Wayan Gede Sutadarma I Wayan Sugiritama Ida Ayu Dewi Wiryanthini Ida Ayu Sandrina Dewi Indira Vidiari Juhanna J. A. Pangkahila Jovanka Rayhan Susilo Kadek Rista Harjayanti Ketut Sutirama Cagi Putra Komang Ari Selin Komang Ayu Widiyantari Komang Githa Pradnyamitha Dewi Luh Made Indah Sri Handari Adiputra Luh Made Indah Sri Handari Adiputra M Widnyana Made Hendra Satria Nugraha Made Winarsa Maria Assumpta Avila Beda Budhiyati Muh. Ali Imron Muhammad Irfan Ni Dyah Putu Purnamasari Ni Luh Ade Utari Ni Luh Dian Apsari Ni Luh Githa Sumiati Ni Luh Nopi Andayani Ni Luh Putu Gita Karunia Saraswati Ni Luh Veni Rahayu Ni Made Indri Sagita Ni Made Indri Sagita Ni Putu Ayu Dika Utami Ni Putu Silvia Yunia Dewi Ni Wayan Aprilia Astariani Putri Ni Wayan Tianing Nila Wahyuni Putu Ade Marwanasari Putu Ayu Bintang Anjali Putu Ayu Sita Saraswati Putu Ayu Wulan Purnama Dewi Putu Rama Adhityadharma Rizka Tamalia Rosyida Aprilia Wulandari Sayu Aryantari Putri Thanaya Sherly Lena Waromi Siluh Ngurah Ratih Trian Ocha Iswara Wiratama, Gede Maheza