Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Analisis Hubungan Paritas dan Usia Ibu dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil : Analysis of the Association Between Parity and Maternal Age and the Occurrence of Chronic Energy Deficiency (CED) Among Pregnant Women Rahayu, Kadek Karunia Dita; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma; Mertasari, Luh
Journal of Holistics and Health Sciences Vol. 8 No. 1 (2026): Journal of Holistics and Health Sciences (JHHS), Maret
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/jhhs.v8i1.700

Abstract

Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnancy remains a nutritional problem that may increase maternal health risks and hinder fetal growth. Parity and maternal age are often discussed as related factors, yet previous evidence is inconsistent, especially across midwifery care settings. This study examined the association of parity and maternal age with CED among pregnant women attending antenatal care (ANC) at TPMB Luh Mertasari in 2024-2025. A quantitative analytical observational study with a cross-sectional design was conducted using ANC medical records. Total sampling included 188 pregnant women. CED status was determined using mid-upper arm circumference (MUAC): MUAC <23.5 cm was classified as CED and MUAC ≥23.5 cm as non-CED. Data were summarized using frequencies and percentages. Associations were tested using Fisher’s Exact test (two-sided) because at least one contingency-table cell had an expected count <5, with p<0.05 considered significant. Most participants were non-CED (90.4%). No CED cases were found in the high-risk parity group (n=26), while 18 women (11.1%) in the non-high-risk parity group (n=162) were classified as CED (p=0.141). In the high-risk age group (n=33), 3 women (9.1%) were classified as CED, and in the non-high-risk age group (n=155), 15 women (9.7%) were classified as CED (p=1.000). In conclusion, CED in this setting was not significantly associated with parity or maternal age. Given the multifactorial nature of CED, prevention should emphasize routine nutritional screening and strengthened nutrition interventions for all pregnant women during ANC. ABSTRAK Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil masih menjadi masalah gizi yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ibu dan menghambat pertumbuhan janin. Paritas dan usia ibu kerap dipertimbangkan sebagai faktor yang berkaitan dengan KEK. Namun, temuan penelitian terdahulu masih bervariasi sehingga diperlukan bukti pada konteks pelayanan kebidanan. Penelitian ini menganalisis hubungan paritas dan usia ibu dengan kejadian KEK pada ibu hamil yang melakukan kunjungan antenatal (ANC) di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari rekam medis pelayanan ANC, dengan total sampling sebanyak 188 ibu hamil. Status KEK ditentukan berdasarkan Lingkar Lengan Atas (LiLA), yaitu KEK jika LiLA <23,5 cm dan tidak KEK jika LiLA ≥23,5 cm. Analisis univariat disajikan dalam frekuensi dan persentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact (2-sided) karena terdapat expected count <5, dengan p<0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar responden tidak mengalami KEK (90,4%). Pada paritas berisiko (n=26) tidak ditemukan KEK, sedangkan pada paritas tidak berisiko (n=162) terdapat 18 responden (11,1%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=0,141. Pada usia berisiko (n=33) terdapat 3 responden (9,1%) dengan KEK dan pada usia tidak berisiko (n=155) terdapat 15 responden (9,7%) dengan KEK, uji Fisher menunjukkan p=1,000. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian KEK pada ibu hamil di TPMB Luh Mertasari tahun 2024-2025 tidak berkaitan secara signifikan dengan paritas maupun usia ibu. Mengingat KEK bersifat multifaktorial, upaya pencegahan perlu menekankan skrining status gizi secara rutin dan penguatan intervensi gizi pada seluruh ibu hamil selama pelayanan ANC.
Apakah Tingkat Stres Berhubungan dengan Siklus Menstruasi pada Dewasa Muda : Is Stress Levels Related to Menstrual Cycles in Young Adults Restiani, Ni Kadek Dwi Nanda; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4959

Abstract

Regular menstruation is an important indicator of reproductive health because it reflects the balance of the hormonal system. Stress is one of the determinants that can affect the menstrual cycle. Midwifery students are a vulnerable group to experience stress due to academic demands and clinical practice. This study was conducted using a quantitative method using a cross-sectional approach. The study population consisted of female students of the D3 and S1 Midwifery study programs in the 2023-2025 intake. The study sample consisted of 158 respondents taken using a total sampling technique. Stress levels were measured using the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire, while menstrual cycles were categorized as normal and abnormal. Data analysis was performed using the chi-square test. The majority of respondents were in a state of moderate stress levels (80.4%) and had normal menstrual cycles (75.9%). The chi-square test results obtained a p-value of 0.489 (p > 0.05), which means there is no relationship between stress levels and menstrual cycles in midwifery students.. The stress levels experienced by most respondents were still within adaptive limits so they did not have a significant impact on the menstrual cycle. In addition, other factors such as body mass index (BMI), fatigue, lifestyle, and individual coping skills are confounding factors in influencing menstrual regularity. Stress levels are not significantly associated with menstrual regularity in midwifery students and are not the sole factor influencing menstrual regularity.   Abstrak Menstruasi yang teratur merupakan indikator penting dalam kesehatan reproduksi karena menggambarkan keseimbangan sistem hormonal. Stres menjadi salah satu determinan yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Mahasiswa kebidanan menjadi kelompok rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik dan praktik klinik. Studi ini dilakukan dengan metode kuantitatif menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian terdiri dari mahasiswi program studi D3 dan S1 Kebidanan angkatan 2023-2025. Sampel penelitian berjumlah 158 responden yang diambil menggunakan tenik total sampling. Pengukuran tingkat stres dilakukan menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10), sedangkan siklus menstruasi dikategorikan menjadi normal dan tidak normal. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Mayoritas responden berada dalam kondisi tingkat stres sedang (80,4%) dan memiliki siklus menstruasi normal (75,9%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value yaitu 0,489 (p > 0,05), yang artinya tidak terdapat hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi pada mahasiswa kebidanan. Tingkat stres yang dialami responden sebagian besar masih berada dalam batas adaptif sehingga belum berdampak signifikan terhadap siklus menstruasi. selain itu, terdapat faktor lain seperti indeks massa tubuh (IMT), kelelahan, pola hidup dan kemampuan coping individu yang menjadi faktor perancu dalam mempengaruhi keteraturan menstruasi. Tingkat stres tidak berhubungan secara signifikan dengan keteraturan menstruasi pada mahasiswa kebidanan dan bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keteraturan menstruasi.
Hubungan Paritas dan Umur Kehamilan Terhadap Kejadian Anemia pada Ibu Hamil: The Relationship Between Parity and Gestational Age with the Incidence of Anemia in Pregnant Women Pramitayani, Ni Kadek Gina; Sekarini, Ni Nyoman Ayu Desy; Pratiwi, Putu Irma
Indonesian Journal of Midwifery (IJM) Vol. 9 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Ngudi waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijm.v9i1.4960

Abstract

Anemia during pregnancy remains a public health problem that carries the risk of increasing maternal and neonatal morbidity, including preterm birth, low birth weight, and other obstetric complications. Parity and gestational age are thought to contribute to the incidence of anemia, but previous studies have shown inconsistent findings. This study aims to analyze the relationship between parity and gestational age with the incidence of anemia in pregnant women. This study used an analytical observational design with a cross-sectional approach and utilized secondary data from the antenatal care (ANC) service register. The study population was all pregnant women registered at the TPMB "PA" in 2025. The sample was determined using a total sampling technique with 124 respondents who met the inclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate analysis. The Chi-Square test was initially applied, and when the assumptions were not met (expected count <5), Fisher’s Exact Test was used with a significance level of  p<0.05. The results showed no significant relationship between parity and the incidence of anemia in pregnant women (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Similarly, gestational age was not significantly associated with the incidence of anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Parity and gestational age were not significantly associated with the incidence of anemia in pregnant women. These findings indicate that anemia in pregnancy is multifactorial and may be influenced by other factors such as nutritional status, adherence to iron tablet consumption, and regular antenatal care (ANC) checkups. Therefore, anemia prevention efforts need to focus on optimizing nutritional needs, adherence to iron supplementation, and improving the quality of antenatal care.   Abstrak Anemia selama kehamilan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang berisiko meningkatkan morbiditas maternal dan neonatal, termasuk persalinan prematur, berat badan lahir rendah, serta komplikasi obstetri lainnya. Paritas dan umur kehamilan diduga berkontribusi terhadap kejadian anemia, namun hasil penelitian sebelumnya menujukkan temuan yang belum konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara paritas dan umur kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil.  Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan memanfaatkan data sekunder dari register pelayanan antenatal care (ANC). Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang tercatat di TPMB “PA” tahun 2025. Sampel ditentukan menggunakan teknik total sampling dengan jumlah responden 124 orang yang memenuhi kriteria inklusi.  Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji Chi Square  digunakan pada tahap awal, dan apabila asumsi tidak terpenuhi (frekuensi harapan <5) maka digunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil dengan (Fisher’s Exact test, p = 0.457). Demikian pula, umur kehamilan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (Fisher’s Exact test, p = 0.598). Paritas dan umur kehamilan tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Temuan ini mengindikasikan bahwa anemia pada kehamilan bersifat multifaktorial dan dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti status gizi, kepatuhan konsumsi tablet Fe, serta keteraturan pemeriksaan ANC. Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia perlu difokuskan pada optimalisasi pemenuhan gizi, kepatuhan suplementasi zat besi, dan peningkatan kualitas pelayanan antenatal.