Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Faktor Risiko Hipospadia pada Anak di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta F. Jerry Tangkudung; S. Yudha Patria; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 17, No 5 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.609 KB) | DOI: 10.14238/sp17.5.2016.396-400

Abstract

Latar belakang. Dilaporkan peningkatan kejadian hipospadia dan faktor risiko, salah satunya adalah paparan pestisida. Faktor risiko lainnya adalah riwayat obstetri dan riwayat pada masa neonatus.Tujuan. Mengetahui faktor risiko terjadinya hipospadia pada anak.Metode. Penelitian kasus kontrol yang dilakukan sejak tahun 2008-2011 di rumah sakit Dr. Sardjito dengan menggunakan catatan rekam medis. Besar subjek penelitian 120 subjek. Data dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik.Hasil. Terdapat 120 anak yang diteliti, 60 (50%) anak dengan hipospadia dan 60 (50%) tanpa hipospadia. Anak yang lahir dari ibu dengan usia saat hamil lebih dari 35 tahun memiliki faktor risiko lebih tinggi dibandingkan dengan usia ibu kurang dari 35 tahun adjusted odds ratio (AOR: 4,17; IK95%: 1,12-15,49), sedangkan lokasi tempat tinggal dekat dengan areal persawahan (OR: 1,93: IK95%: 0,90-4,13), riwayat lahir prematur (OR: 2,13; IK95%: 0,97-4,52); berat badan lahir rendah (OR: 3,14; IK95% 0,94-10,5), hipertensi pada ibu selama kehamilan (OR: 2,47; IK95%: 0,71-85) dan diet vegetarian selama kehamilan (OR: 1,00; IK95%: 0,06-16,3).Kesimpulan. Usia ibu lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya hipospadia pada anak.
Profil Klinis dan Laboratoris Ensefalopati Dengue pada Anak di RSUP Dr. Sardjito Afiarina Dhevianty; Eggi Arguni; Agung Triono
Sari Pediatri Vol 18, No 6 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.6.2017.423-9

Abstract

Latar belakang. Ensefalopati dengue merupakan manifestasi neurologis infeksi dengue yang paling sering. Belum banyak penelitian yang menjelaskan gambaran ensefalopati dengue pada anak.Tujuan. Mengetahui gambaran klinis dan laboratoris anak dengan ensefalopati dengue.Metode. Penelitian menggunakan metode retrospektif. Data diambil dari rekam medis anak (1-18 tahun) dengan ensefalopati dengue dengan luaran hidup maupun meninggal yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito sejak Januari 2010 hingga Desember 2016. Manifestasi yang diamati adalah perdarahan gastrointestinal, kejang, syok, hepatitis akut, gagal ginjal akut, pemanjangan prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (APTT), kadar hematokrit, leukosit, dan trombosit. Rekam medis anak dengan riwayat gangguan fungsi ginjal, hati, dan koagulasi serta rekam medis yang tidak lengkap dieksklusi. Analisis data dengan uji independent t-test atau Mann Whitney.Hasil. Terdapat 81 anak dengan ensefalopati dengue dan 25 di antaranya meninggal. Mayoritas anak menunjukkan manifestasi perdarahan gastrointestinal, syok, sepsis, hepatitis ringan, dan gagal ginjal akut. Profil laboratoris memperlihatkan peningkatan SGOT yang lebih tinggi dari SGPT, pemanjangan PT dan kadar kreatinin yang lebih tinggi pada kelompok meninggal.Kesimpulan. Kelainan ensefalopati pada infeksi dengue merupakan suatu kondisi yang serius dengan angka kematian yang tinggi (30.86%). Perdarahan gastrointestinal, syok, sepsis, hepatitis ringan, gagal ginjal akut pada mayoritas pasien. Pemanjangan PT dan kadar kreatinin lebih tinggi pada kelompok meninggal. 
Petanda Imunofenotip CD10 Sendiri Atau Bersama CD3 Atau CD13/CD33 sebagai Faktor Prognosis Luaran Terapi Fase Induksi Leukemia Limfoblastik Akut Anak Eggi Arguni; Sasmito Nugroho; Sri Mulatsih; Sutaryo -
Sari Pediatri Vol 19, No 5 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.5.2018.260-6

Abstract

Latar belakang. Kegagalan terapi masih menjadi penyumbang terbesar bagi mortalitas anak dengan leukemia limfoblastik akut (LLA). Ekspresi CD10 menentukan diferensiasi sebagian besar leukemia sel B. Petanda imunofenotip untuk LLA sel T, yaitu CD3, dan myeloid antigen, yaitu CD13/CD33, dengan jumlah kecil juga terekspresi pada B-ALL. Tujuan. Mengetahui pengaruh ekspresi CD10 sendiri atau bersama dengan CD3 atau CD13/CD33 terhadap luaran terapi fase induksi LLA anak.Metode. Desain penelitian menggunakan nested case-control. Sampel penelitian merupakan pasien LLA anak yang baru terdiagnosis di INSKA RSUP Dr Sardjito Yogyakart Januari 2006-Desember 2009, dilengkapi pemeriksaan imunofenotip saat penegakan diagnosis. Analisis bivariat dan multivariat digunakan untuk menentukan faktor prognosis independen terhadap luaran terapi. Hasil. Seratus enam puluh tujuh pasien diikutsertakan dalam penelitian ini. Faktor usia dan ekspresi CD10 merupakan faktor prognosis independen yang menentukan luaran terapi fase induksi. Kelompok usia <1 tahun dan >10 tahun akan mengalami gagal remisi (OR 3,1; IK95%: 1,271-7,625; p=0,013), dan LLA anak dengan CD10 negatif akan mengalami gagal remisi 2,7 kali lebih tinggi dibanding CD10 positif (IK95%: 1,171-6,232; p=0,020). Kesimpulan. CD10 negatif merupakan faktor prognosis independen terhadap kejadian gagal remisi. Ekspresi imunofenotip CD10 bersama CD3 dan CD13/CD33, bukan merupakan faktor prognosis bagi luaran terapi fase induksi. 
Validasi Kriteria Diagnosis Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan American Academy of Pediatrics 2011 pada Anak Usia 2-24 Bulan Ikhsan Trinadi; Eggi Arguni; Kristia Hermawan
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.359 KB) | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.17-20

Abstract

Latar belakang. Gejala klinis infeksi saluran kemih (ISK) pada anak yang tidak spesifik dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis. Keterlambatan penanganan berkaitan dengan risiko terbentuknya parut ginjal. Tahun 2011 American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan panduan klinis diagnosis ISK anak usia 2-24 bulan dengan akurasi yang baik. Penggunaan lokal kriteria ini belum divalidasi.Tujuan. Validasi kriteria diagnosis ISK AAP 2011 pada anak usia 2-24 bulan di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta.Metode. Penelitian cross sectional periode Januari 2013 hingga Juni 2015 dilakukan terhadap anak usia 2-24 bulan dengan demam yang memiliki data urinalisis dan kultur urin. Hasil penilaian kriteria AAP dibandingkan dengan pemeriksaan kultur urin.Hasil. Berdasarkan hasil kultur didapatkan 21 pasien menderita ISK, sementara 64 pasien di diagnosis diare akut, demam dengue, pneumonia, dan infeksi CMV. Didapatkan sensitifitas, spesifisitas, rasio kemungkinan positif, rasio kemungkinan negatif kriteria diagnosis AAP 2011 adalah 85,7%, 92,2%, 11,0%, dan 0,2%.Kesimpulan. Kriteria AAP 2011 bisa digunakan sebagai alat diagnostik yang reliable untuk memprediksi ISK pada anak.
Profil Hematologi Sebagai Prediktor Sepsis pada Sindrom Syok Dengue Deddy Hediyanto; Ida Safitri Laksanawati; Ratni Indrawanti; Eggi Arguni; Desi Rusmawaningtyas
Sari Pediatri Vol 18, No 4 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.4.2016.260-4

Abstract

Latar belakang. Infeksi dengue di daerah endemis dapat terjadi bersamaan dengan infeksi lain. Penelitian tentang infeksi dengue pada anak sudah banyak dilakukan, tetapi masih sedikit yang meneliti tentang kejadian sepsis pada sindrom syok dengue (SSD). Profil hematologi sebagai pemeriksaan yang mudah dilakukan, diharapkan dapat digunakan sebagai prediktor sepsis pada SSD.Tujuan. Mengetahui profil hematologi sebagai prediktor sepsis pada SSD.Metode. Penelitian kohort retrospektif pada anak usia 1 bulan-18 tahun yang diambil dari data rekam medis pasien SSD dengan sepsis maupun tidak sepsis dan dirawat di RSUP Dr. Sardjito mulai 1 Januari 2011- 31 Desember 2014. Profil hematologi dan C-reactive protein (CRP) yang digunakan adalah pemeriksaan yang diambil saat pasien pertama kali masuk ke rumah sakit. Analisis statistik dikerjakan dengan analisis univariat, kemaknaan dengan Odds ratio (OR) dan interval kepercayaan 95% (IK95%).Hasil. Didapatkan 98 pasien yang memenuhi kriteria inklusi SSD, di antaranya 30 pasien SSD (30,6%) menderita sepsis. Tidak ada profil hematologi saat pasien pertama kali masuk rumah sakit menjadi prediktor sepsis pada SSD. Pemeriksaan kadar Hb (rerata 13,98±2,28 g/dL, p=0,897), hematokrit saat datang (rerata 40,5±6,6%; p=0,369), leukosit (median 5,68x 103 sel/µL; p= 0,619), trombosit (median 25,5x103 sel/µL; p=0,841). Pemeriksaan CRP dilakukan pada 40 pasien. Pasien SSD dengan sepsis 57,9% memiliki kadar CRP ≥6 mg/L signifikan lebih tinggi dibanding SSD tanpa sepsis (23,8%) dengan nilai p=0,028; OR 2,1 (IK95%: 1,1-3,9). Pemeriksaan biakan darah dilakukan pada 35 pasien, dengan biakan tumbuh pada 6 pasien DSS yang sepsis. Kesimpulan. Kadar CRP ≥6 mg/L berhubungan signifikan dengan kejadian sepsis pada SSD, sedangkan profil hematologi lain tidak. 
Profil Klinis Anak dengan Demam Tifoid di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito Yogyakarta Rianti Puji Lestari; Eggi Arguni
Sari Pediatri Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp19.3.2017.139-44

Abstract

Latar belakang. Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Gambaran klinis tifoid sangat bervariasi, seperti gejala klinis ringan hingga berat yang disertai komplikasi. Tujuan. Untuk mengetahui gambaran manifestasi klinis, laboratorium, dan tata laksana DT anak yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito. Metode. Penelitian retrospektif ini dilakukan menggunakan data rekam medis pasien DT anak yang menjalani rawat inap sejak Januari 2011 hingga Mei 2016. Hasil. Ditemukan 158 kasus DT yang terbukti secara serologis (96,8%), kultur darah (1,3%), maupun keduanya (1,9%). Demam merupakan gejala utama pada seluruh pasien. Gejala penyerta lain adalah anoreksia (54,4%), mual (49,4%), muntah (41,8%), nyeri kepala (37,3%), batuk (37,3%), nyeri perut (34,2%), konstipasi (30,4%), dan diare (29,7%). Tanda yang paling sering didapatkan adalah pembesaran hati (29,7%), nyeri tekan abdomen (20,3%), limfadenopati (13,3%), letargi (13,3%), lidah kotor (12,0%), pembesaran limpa (6,3%) dan penurunan kesadaran (4,4%). Rerata lama rawat inap adalah 8,4±6,2 hari, mortalitas 2,5% diakibatkan oleh sepsis berat. Respon pasien 81,0% terhadap pemberian antibiotik, terbanyak diresepkan adalah ceftriaxone (45,6%). Komplikasi berupa sepsis (10,1%), hepatitis (8,9%), perdarahan saluran cerna (5,7%), ensefalopati (4,4%), dan perforasi usus (0,6%).Kesimpulan. Profil klinis anak dengan DT serupa dengan gambaran umum pasien di daerah endemis. Penegakan diagnosis pasti dengan menggunakan kultur darah masih belum banyak membantu di rumah sakit kami. Mortalitas yang masih cukup tinggi perlu diteliti lebih lanjut untuk perbaikan prognosis pasien
Aedes aegypti as potential vector of filariasis in Pekalongan, Central Java Province, Indonesia Siti Istianah; Budi Mulyaningsih; Sitti Rahmah Umniyati; Eggi Arguni
JKKI : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia JKKI, Vol 12, No 1, (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/JKKI.Vol12.Iss1.art8

Abstract

Background: The filariasis elimination program in Indonesia has been conducted, but new cases and some chronic cases are still often found.Objective: This study aims to determine levels of endemicity and to identify filarial worm species in filariasis cases and s and their surrounding communities by using microscopic examination, polymerase chain reaction (PCR), and to examine levels of infection in vectors mosquito by surgery and PCR. Also to to determine that Ae. aegypti can act as vector of filariasis. Methods: This study was conducted at 10 locations in Pekalongan Regency, Central Java Province, with a cross sectional design. Intravenous blood sampling was conducted on 102 respondents consisting of 10 elephantiasis patients and 92 non-elephantiasis patients at night, starting at 8 pm, then examined microscopically and PCR. Mosquitoes in this study were collected by using a human landing collection method for 12 hours from 6 pm to 6 am by volunteers. Artificial infection of microfilaria W. bancrofti was held against Cx. quinquefasciatus and Ae.aegypti from laboratory collection.Results: Results of this study found that there were 5.729 of mosquitos, consisting of 8 species, namely Culex quinquefasciatus, Culex vishnui, Culex tritaeniorhynchus, Aedes aegypti, Aedes albopictus, Anopheles subpictus, Anopheles vagus, and Armigeres kesseli. Microfilarial (mf) rate was 0.89%, and and the blood PCR showed infection rate of 3.92% and the blood PCR showed infection rate of 3.92%. No larva was found in female mosquito dissection. The PCR results showed that the infection rate was 9.10% in Ae. aegypty pool respectively. Artificial infection results was negative both dissecting microscopis and PCR.Conclusion: This study revealed that the locations were low of filariasis endemicity. The mf rate was less than 1%, and there was a moderate density to high density of microfilaria in the patients. The low level of infection rates in mosquito is suggested as an alert to its potential transmission.
Correlation Between Age, Gender and Bad Oral Habit of 7-9-year-old Children in Karangjati Primary School, Kasihan, Bantul, Yogyakarta Atiek Driana Rahmawati; Eggi Arguni; Iwa Sutardjo; Dibyo Pramono
Denta Journal Kedokteran Gigi Vol 14 No 1 (2020): Februari
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/denta.v14i1.2

Abstract

Introduction: Bad oral habit is an intraoral abnormal habit, if it continues until school-age children, it needs more attention because of its effects on craniofacial growth. It can be caused by pathological conditions, anxiety, or psychological disorder. The school-age period is a new environment. Children adjust to some conditions that may cause problems but if they cannot, resulting in psychological tension. Girls have a higher level of anxiety than boys. The boys tend to against the advice of their parents, including stopping doing bad oral habits. Purpose: This study aimed to determine whether there was a correlation between age, gender, and bad oral habit of 7-9-year-old children. Materials and Methods: A cross-sectional study has been done in Karangjati elementary school. The 107 children were examined their oral cavity to observe clinical symptoms that might be lead to bad oral habits. Their parents were asked to fill out the questionnaire to determine whether there were bad oral habits. The data were analyzed by the chi-square. Result: Oral habits were present in 67 from107 children (62.62%) and mostly in 8 years old group (26.17%); more occurred in males (36.45%) than females (26.17%). The highest prevalence was nail-biting (28.97%), followed by lip sucking (23.36%), lip biting (23.36%), thumb/finger sucking (20.5%), bruxism (13.08%) and mouth breathing (8.41%). Chi-square test showed that p-value=0,037 and 0.038 for the correlation between age, gender, and bad oral habit, respectively. Conclusion: There were correlations between age, gender, and bad oral habits of 7-9-year-old children.
Determinan ketidakpatuhan terapi antiretroviral pada orang dengan HIV/AIDS dewasa Zulpahmi Harahap; Eggi Arguni; Theodola Baning Rahayujati
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 32, No 6 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.019 KB) | DOI: 10.22146/bkm.9825

Abstract

Determinants of non-adherence to antiretroviral therapy in adults with HIV/AIDSPurposeThis study aimed to determine the factors of non-adherence ARV therapy in adult PLWHA.MethodsA case-control study was conducted using secondary data of the Cilacap VCT clinic with consecutive sampling technique. The total sample was 204, consisting of 102 cases and 102 controls (1:1). The cases were adult PLWHA who did not adhere to ARV therapy and the controls were adult PLWHA who adhere to ARV therapy. The bivariate analysis used Chi-square and Fisher's exact tests and multivariate analysis used logistic regression tests. ResultsThe variables that were shown to jointly affect non-adherence to ARV therapy in adult PLWHA were the level of education, CD4 count, PMO and opportunistic infections.ConclusionsThe risk factors of non-adherence to ARV therapy in adult PLWHA were the level of education, PMO, CD4 count and opportunistic infections. There needs to be a special assistance and counseling program on a regular basis to PLWHA adults with low education, obligating all PLWHA adults that start ARV therapy to have a PMO, continue HIV screening programs to entire population at risk and advocate the local governments to facilitate PLWHA who can not afford to obtain CD4 test .
Pola sebaran tingkat infeksi bersama serotipe virus dengue di wilayah kajian RT-PCR Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Yogyakarta: analisis data 2013-2015 Fitria Wakano; Lutfan Lazuardi; Eggi Arguni; Hari Kusnanto
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 32, No 11 (2016)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1364.278 KB) | DOI: 10.22146/bkm.11778

Abstract

Pattern of concurrent infection of dengue virus serotype in the regional study areas of Yogyakarta Center for Environmental Health and Diseases Control: an analysis of  2013-2015 dataPurposeThis study aimed to determine the pattern in the spread of infection rates with dengue viral serotypes.MethodsThe study was a descriptive research with spatial mapping methods. Data of 132 respondents were collected based on RT-PCR in 2013-2015. The complete address of the village-level patient from the dengue arbovirosis surveillance data of the Center for Environmental Health and Diseases Control Yogyakarta were used to determine the coordinate points with utilization of RBI and Google Earth maps in searching addresses for distribution of case coordinate points. ResultsThere were similarities with the most complex quadruple joint infection rates of DEN in Semarang and Yogjakarta, while Kebumen obtained double DEN level. Three patterns of infection with DEN-1 and DEN-3 have p-value < 0.05 in Semarang in 2014, Sragen in 2015 and Semarang 2013 and 2 patterns in Gunung Kidul 2014 and Kulon Progo 2015. The patterns of infection with DEN-1, DEN-2 and DEN-3 in 2015 were covering Sragen and Semarang in 2013.ConclusionThe most complex areas of infection were Semarang and Yogyakarta. The pattern of most likely cluster infection with DEN-1 and DEN-3 and DEN-1, DEN-2 and DEN-3 allegedly was a result of two infected patients, different serotypes of different mosquitoes or infection of more than one serotype of Ae. aegypti or Ae. albopictus as the main vector.