Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : ProTVF

REPRESENTASI YOGYAKARTA DALAM FILM ADA APA DENGAN CINTA 2 Rosfiantika, Evi; Mahameruaji, Jimi Narotama; Permana, Rangga Saptya Mohamad
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): ProTVF Volume 1, No.1, Maret 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.612 KB)

Abstract

Yogyakarta menjadi setting tempat dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. AADC 2 memberikan nuansa seni dan romantisme dalam dialog dan cerita  Film tersebut, Yogyakarta sebagai kota yang memiliki kebudayaan yang khas direpresentasikan dalam aktifitas seni, kehidupan keseharian dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya. Film termasuk ke dalam salah satu media massa yang bisa merepresentasikan nilai-nilai budaya dan identitas bangsa. Bertujuan untuk mengetahui representasi Yogyakarta dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. Metode yang digunakan adalah semiotik. Berisi pengamatan dan analisis simbol-simbol yang muncul mengenai Yogyakarta dalam film AADC 2. Untuk triangulasi dilakukan studi pustaka dan wawancara.Hasilnya menjadi acuan/bahan/materi dari beberapa mata kuliah Program Studi Televisi dan Film yaitu Sosial Budaya Indonesia, Produksi Film, dan Kajian Film.Kata-kata Kunci: Representasi, Budaya, Yogyakarta, Film, Semiotik
Resepsi khalayak pada program acara televisi di Trans 7 sebagai media edukasi Rizkia Nidha Amalia; Sri Seti Indriani; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 6, No 1 (2022): March 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v6i1.36061

Abstract

Peminatan masyarakat pada program edukasi dalam televisi mengalami kemunduran, ini disebabkan karena jadwal tayang yang tidak sesuai dengan sasaran, pembukaan program dan beberapa diantaranya kurang menarik perhatian masyarakat. Meskipun demikian adapun salah satu acara televisi “Tau Gak Sih” yang mencoba mengambil kembali perhatian masyarakat dengan tema edukasinya. Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan merupakan salah satu komunitas pemerhati masalah edukasi dalam masyarakat memiliki kesadaran akan adanya acara televisi “Tau Gak Sih”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan kode teks atau enkoding nilai edukasi pada program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7 dan untuk mengetahui posisi pembacaan anggota dalam Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK) terhadap nilai edukasi program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7. Informan penelitian ini adalah guru-guru relawan yang berada di Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall dan teori enkoding – dekoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga indikator nilai edukasi yang membuat program acara televisi “Tau Gak Sih?” sebagai media edukasi yaitu memberikan wawasan, didukung oleh sumber terpercaya, dan pesan sampai kepada khalayak dan mudah dipahami. Posisi pembacaan Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan untuk tiga indikator nilai edukasi, mayoritas berada pada posisi Hegemoni – Dominan. Maka dapat disimpulkan bahwa program acara televisi “Tau Gak Sih?” menjadi media edukasi untuk komunitas tersebut.
REPRESENTASI YOGYAKARTA DALAM FILM ADA APA DENGAN CINTA 2 Evi Rosfiantika; Jimi Narotama Mahameruaji; Rangga Saptya Mohamad Permana
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.612 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13333

Abstract

Yogyakarta menjadi setting tempat dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. AADC 2 memberikan nuansa seni dan romantisme dalam dialog dan cerita  Film tersebut, Yogyakarta sebagai kota yang memiliki kebudayaan yang khas direpresentasikan dalam aktifitas seni, kehidupan keseharian dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakatnya. Film termasuk ke dalam salah satu media massa yang bisa merepresentasikan nilai-nilai budaya dan identitas bangsa. Bertujuan untuk mengetahui representasi Yogyakarta dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2. Metode yang digunakan adalah semiotik. Berisi pengamatan dan analisis simbol-simbol yang muncul mengenai Yogyakarta dalam film AADC 2. Untuk triangulasi dilakukan studi pustaka dan wawancara.Hasilnya menjadi acuan/bahan/materi dari beberapa mata kuliah Program Studi Televisi dan Film yaitu Sosial Budaya Indonesia, Produksi Film, dan Kajian Film.Kata-kata Kunci: Representasi, Budaya, Yogyakarta, Film, Semiotik
Budaya Menonton Televisi di Indonesia: Dari Terrestrial Hingga Digital Rangga Saptya Mohamad Permana; Aceng Abdullah; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.63 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21220

Abstract

Sejak TVRI mulai mengudara pada tahun 1962, televisi menjadi salah satu media hiburan dan informasi yang tidak dapat dilepaskan dari keseharian orang Indonesia. Kegiatan menonton televisi tersebut menciptakan budaya menonton televisi di kalangan audiens televisi Indonesia. Budaya menonton televisi di era televisi terrestrial dan era televisi digital memiliki perbedaan yang signifikan dan menarik untuk digali lebih lanjut. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui budaya menonton televisi di Indonesia, dari mulai menggunakan media televisi terrestrial hingga media televisi digital. Metode penelitian deskriptif-kualitatif digunakan dalam kajian ini dengan metode pengumpulan data menggunakan metode telaah dokumen. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya menonton televisi terrestrial yang bersifat analog dan mengandalkan antena di Indonesia adalah kegiatan yang bersifat komunal dan kolektif, sekaligus menjadi ajang bertukar cerita keseharian para audiens. Sedangkan budaya menonton televisi digital yang mengandalkan jaringan Internet di Indonesia merupakan kegiatan yang personal dan individual, di mana audiens dapat memilih tontonan sesuai minat dan budget mereka. Penggunaan smartphone membuat kegiatan menonton televisi dapat dilakukan kapan pun dan di manapun, dengan syarat tersedia jaringan internet yang memadai.
PUBLISITAS DAN PROMOSI FILM ADA APA DENGAN CINTA? 2 Lilis Puspitasari; Jimi Narotama Mahameruaji; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.648 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19876

Abstract

Publisitas bagi sebuah film merupakan suatu alat  untuk menyebarkan  pesan yang direncanakan dan dilakukan untuk mencapai tujuan pemasaran lewat media tertentu untuk kepentingan dari sebuah production house tanpa pembayaran tertentu pada media. Dalam film orang yang bergerak  untuk mempublikasikan film dikenal dengan  istilah publisis. Kegiatan publisitas dalam bidang pemasaran direncanakan dalam rangka mendukung tujuan pemasaran suatu produk atau jasa perusahaan. Salah satu area bidang publisitas ini adalah entertainment publicity, dimana salah satu produknya  adalah film. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan publisitas dan promosi sebagai alat  komunikasi pemasaran pada film Ada Apa Dengan Cinta 2. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 3 tahapan yang diterapkan dalam mengembangkan strategi  publisitas film AADC 2. Tahap Pertama adalah Menentukan tujuan publisitas; Tahap kedua, Mengidentifikasi Target Sasaran; Tahap Ketiga, Mendefinisikan Pesan dari Film; Tahap keempat Menentukan strategi publisitas,  dan Tahap Terakhir adalah Monitoring dan evaluasi.
Di balik Branded Web Series kategori drama fiksi karya Yandy Laurens Safina Zora Hassanah; Dian Wardiana Sjuchro; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.641 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.23657

Abstract

Penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana strategi yang dimiliki oleh filmmaker dalam kapasitasnya mengolah cerita naskah branded web series kategori drama fiksi yang memilih beriklan pada media digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan brand mau menggunakan konsep filmmaker dengan pendekatan soft-selling, memahami strategi filmmakers dalam menyampaikan pesan brand dengan cara soft-selling, serta memahami peluang branded web series pada masa yang akan datang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu studi kasus eksplanatoris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sedari awal pihak brand menginginkan untuk tidak melakukan hard-selling pada serial web. Filmmakers dibukakan kebebasan sebesar mungkin dengan tetap mengemban tanggung jawab serta kedewasaan yang telah disepakati, yaitu mengutamakan visi dari market yang diinginkan. Penting bagi filmmakers untuk membuat sebuah ekosistem yang sehat dalam bekerja. Peluang branded web series di ranah digital dalam lima tahun kedepan diproyeksikan masih sangat cerah. Penelitian ini memberikan saran praktis kepada pihak-pihak lain yang menginginkan untuk membuat branded web series dengan pendekatan soft-selling layaknya karya dari Yandy Laurens berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan ini. Tiap-tiap filmmakers agar dapat mendiskusikan dengan pihak brand ataupun agensi untuk dapat menemukan selling point dari tiap produk, mencatat hal-hal apa saja yang dapat mengungguli produk dari competitor lainnya, serta jelas menyasar market mana yang akan dituju. Selain itu, filmmakers diharapkan tidak menempatkan produk sebagai pahlawan yang menuntaskan semua permasalahan dari protagonis cerita. Produk harus diceritakan dengan natural dan tiap product placement yang ingin dibubuhkan agar diatur dalam rangkaian drama adegan sehingga masuk ke dalam cerita.
SI DOEL ANAK SEKOLAHAN, SINETRON INDONESIA PALING FENOMENAL (TINJAUAN ILMU KOMUNIKASI ATAS SINETRON SI DOEL ANAK SEKOLAHAN) Aceng Abdullah; Jimi Narotama Mahameruaji; Evi Rosfiantika
ProTVF Vol 2, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.731 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i2.20822

Abstract

Sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” (SDAS) arahan Rano Karno sampai tahun 2018 masih diputar ulang di salah satu stasiun TV kita. “SDAS” saat ini menjadi satu-satunya sinetron yang sukses meraih simpati penonton di Indonesia. Selain mampu meraih rating dan share tertinggi dalam acara televisi di Indonesia pada tahun 90-an, sinetron ini sampai hampir 25 tahun kemudian masih diputar ulang dan masih dipercaya oleh para pemasang iklan. Karena daya tariknya, SDAS pun sukses di beberapa versi layar lebar termasuk “Si Doel The Movie” yang menjadi film nomor-4 di Indonesia yang paling digemari. Mengapa sinetron ini begitu fenomenal, padahal di pertengahan tahun 90-an itu hampir semua stasiun TV sedang terlena dengan sinetron-sinetron yang mengumbar kemewahan dan seting kisah yang tidak realistis, sementara SDAS hanyalah sebuah sinetron berjenre etnis yang pemainnya kebanyakan adalah seniman lenong Betawi dan Srimulat yang berkisah tentang kaum marginal yang terpinggirkan secara sosial, ekonomi termasuk pendidikan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui Genre, nilai dramatik serta aspek Komunikasi dalam Sinetron Si Doel Anak Sekolahan Berdasarkan kajian ilmu komunikasi, SDAS sukses karena kisah yang ditampilkan, tokoh yang dimunculkan, setting dan adegan yang dibangun merupakan refleksi dari wajah khalayak televisi Indonesia sendiri. SDAS adalah gambaran masyarakat Indonesia yang sesungguhnya. Keluguan dan kesederhanaan yang ditampilkan tampil dengan natural tidak berlebihan. Dari sudut pandang ilmu komunikasi klasik, SDAS sudah amat sesuai dengan bidang pengalaman dan kerangka referensi dari khalayaknya.
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI STASIUN TELEVISI LOKAL RADAR TASIKMALAYA TV Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.842 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.19878

Abstract

Ketika kita berbicara dalam konteks media, maka sebuah manajemen media yang baik adalah manajemen media yang dapat memanfaatkan unsur-unsur manajemen yang dimilikinya secara efektif dan efisien. Adapun unsur-unsur manajemen itu terdiri dari Material (Produk), Market (Pasar), Method (Manajemen), Man (Manusia), Machine (Sarana), dan Money (Modal), yang biasa disingkat dengan 6M. Dari keenam unsur tersebut, salah satu unsur yang dapat membuat sebuah stasiun televisi bertahan adalah manajemen sumber daya manusia (SDM) yang baik. Dengan manajemen SDM yang baik, stasiun televisi dapat meiliki SDM yang berkualitas sehingga stasiun televisi tersebut dapat bersaing dengan performa maksimal, baik itu dengan sesama stasiun televisi atau dengan media platform lainnya. Metode penelitian yang digunakan dalam riset ini adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan desain deskriptif-kualitatif. Dalam artikel ini, penulis berusaha untuk memaparkan dan memusatkan perhatian pada bagaimana manajemen SDM di Radar Tasikmalaya TV dilaksanakan, dengan metode pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Berdasarkan hasil riset, manajemen SDM yang dilaksanakan di Radar Tasikmalaya TV meliputi tahapan rekrutmen pegawai, penilaian produktivitas pegawai, kepemimpinan dan cara memotivasi dari atasan, serta jenjang karier.
Examining the motives of the deaf watching news programs on TV related to satisfaction level Kurnia Standi; Asep Suryana; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 7, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v7i2.49684

Abstract

Background: Television is still the media of choice used by various layers of society to seek information; one of the programs in question is news programs. On the other hand, television still relies on audiovisuals to convey its information. This phenomenon becomes an obstacle for deaf people to get the necessary information. Therefore, it encourages KPI with the Ministry of Social Affairs of the Republic of Indonesia to work with sign language interpreters to provide access to deaf people to obtain information. Purpose: This study aims to test the relationship between the motives of Deaf people in watching news programs on television and the level of satisfaction with news programs after the availability of accessibility. These motives include information, personal identity, integration and social interaction, and entertainment motives. The theory used as the basis for this research is the Uses and gratification Theory. Methods: The analysis technique used in this research is descriptive and inferential analysis. The target population in this study were West Java Gerkatin members who watched news programs on television and understood BISINDO or SIBI; with probability sampling, We determined a sample of 95 people. Results: This study shows a significant relationship between the motives of deaf people to watch news programs on television and their level of satisfaction with news programs after accessibility. There is a moderate relationship between information motives and the level of satisfaction with news programs after accessibility. There is a substantial degree of relationship between personal identity motives and the level of satisfaction with news programs after accessibility. There is a moderate level of relationship between integration and social interaction motives with the level of satisfaction with news programs after accessibility, and there is a moderate level of relationship between entertainment motives and the level of satisfaction with news programs after accessibility. Implications: Providing knowledge that sign language interpreters need to be maximized in conveying information so that information can be easily transmitted.
Program live update pemberitaan risiko Covid-19 di televisi nasional Indonesia Evi Rosfiantika; Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.28758

Abstract

Penyebaran virus SARSCOV2 terjadi di seluruh dunia dalam waktu yang sangat cepat. Banyak warga dunia merasa khawatir dan panik terinfeksi virus salah satunya diakibatkan pemberitaan yang salah. Warga membutuhkan informasi yang akurat dan terpercaya terutama yang dikeluarkan oleh pemerintah.  Setiap negara melakukan pengendalian informasi, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Gugus Tugas ini juga secara rutin menyajikan informasi dengan cara melakukan live update di stasiun televisi nasional setiap harinya. Tujuan penelitian dalam artikel ini adalah untuk mengetahui isi berita risiko penyebaran virus SARSCOV2 dalam upaya mengurangi risiko pandemi Covid-19 pada live update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di televisi nasional dalam konteks komunikasi risiko. Penulis memakai metode studi kasus dengan teknik analisis teks guna menganalisis data-data yang telah dihimpun melalui observasi siaran televisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi berita terkait update Covid-19 adalah yang paling banyak disampaikan (11 kali). Mayoritas makna isi berita yang dari siaran program live update televisi tersebut bersifat “menginformasikan” dan “mengingatkan”, yang berarti dalam tahap-tahap komunikasi risiko O’Neill, informasi dan pesan-pesan yang diberikan dalam siaran program televisi live update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini sudah melewati tahapan sebelum bencana dan tahapan peringatan, serta berada dalam bilik non-partisipasi, manipulasi/terapi, dan informasi dalam konsep “Tangga Arnstein”.