Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pemikiran Fazlur Rahman Tentang Pendidikan Islam Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 22, No 2 (2014): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v22i2.739

Abstract

Hal yang menarik dari tawaran/ide Fazlur Rahman yang dapat diambil adalah model pendidikan Islam melalui kurikulumnya mengarah pada pembentukan pendidikan berkarakter Islami dan integrasi ilmu, (walaupun istilah ini tidak diungkapkan oleh Fazlur Rahman) namun dapat dilihat dari pola pikir Fazlur Rahman tentang Neomodernisme. (upaya sintesis antara pola pemikiran tradisionalisme dan modernisme.) Selanjutnya Fazlurrahman juga menyebutkan bahwa pada substansinya pendidikan Islam itu bertujuan untuk memperbaiki moral manusia, ungakapan beliau “Karena penekanan al-Qur’an terhadap hukum moral-lah hingga Allah menurunkan al-Qur’an” di samping itu metode yang ditawarkan oleh Fazlurrahman adalah model metode aktif, artinya seorang guru tidak harus memaksakan kehendak kepada muridnya untuk memiliki persepsi yang sama dengan gurunya, karena itu ia mengatakan bahwa seorang guru tafsir yang hanya memberikan syarah saja tidak dibenarkan karena ini tidak akan mendewasakan Islam.
A Philological Report Of The Theologus Autodidactus Of Ibn Al-Nafis By Max Meyerhof And Joseph Schacht Maulana Maulana; Khotimah Khotimah; Imron Rosidi
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 1 (2017): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i1.2176

Abstract

Ibn al-Nafis is a monumental figure in Islamic scholarship. He wrote a fictional novel entitled “ Al-Risalah al-Kamiliyah fi’l sira al-Nabawiyah” which is translated as “ Theologus autodidactus”. This article does not focus on the content of this book but on the philological persepctive of how this book is edited by Joseph Schacht and Max Meyerhoff. Therefore, the question is whether this book which is edited by these two scholars is based on academic standards or not. Another question is how the editors study this text , particularly their main basis of editing this text. 
Dialog dan Kerukunan Antar Umat Beragama Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 17, No 2 (2011): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v17i2.693

Abstract

To reach religious harmony, each religious follower should understand his own religion and respect religious diversity. In a theoretical study, to appreciate religious diversity and religious differences, there are at least three approaches always used: theological, political, and socio-cultural approach. Furthermore, there are some basic principles implemented in an interreligious dialogue. These principles could be from the norms of each religion or from personal experience of the religious follower either a direct experience or an experience based on understanding the phenomena of religious practices.
RELIGIOUS HARMONY AND GOVERNMENT IN INDONESIA Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v23i1.1077

Abstract

Religious harmony, community and government is as a basic to create sustainable development in this country. Inter-religious dialogue under the program of FKUB of Indonesia can be as a modal and place of religious harmony and religious awarness where become intrinsic value of universal humanity. Furthermore, every adherent should understand their religion and also aware of religion diversity and diferencess. Theoritically, to understand the diversity and diferencess of adherent, there are three approaches are often used: theological, political and socio-cultural. Based on the basic principles and norms of theological and ethical, inter-religious dialogue is important thing, that should be done and sustainable developed
Agama dan Civil Society Khotimah Khotimah
Jurnal Ushuluddin Vol 21, No 1 (2014): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v21i1.730

Abstract

Ada tiga alasan bahwa agama memiliki hal prioritas dalam pembentukan civil society, yaitu pertama: Secara kultural, bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius.dimana nilai-nilai agama merupakan nilai-nilai yang substansial dari masyarakat yang beradab dapat ditanamkan melalui lembaga-lembaga keagamaan. Kedua: Nilai-nilai teologis meupakan energi yang dapat menggerakkan semangat untuk beramal soleh. Ketiga: Para Rasul sebagai figur panutan pengikut agama apapun dan menjadi model yang sangat berperan dalam mengubah perilaku masyarakat. Agama dengan fungsi integrative sebagai pemersatu dan disintegrative sebagai pengontrol kebijakan kekusaan atau pemerintah yang menyimpang, ternyata agama-agama yang ada termasuk civil religion tersebut, ikut berperan mewujudkan adanya civil society, yaitu masyarakat yang sopan dan toleran terhadap satu sama lain, yang mengatur diri sendiri melalui berbagai lembaga, tanpa campur tangan pemerintah, dan yang bebas dari pelaksanaan, ancaman dan kekerasan.
Al-Qur’an dan Praktik Penggunaan Jimat Dalam Tradisi Masyarakat Kecamatan Kampa Safira Malia Hayati; Khotimah Khotimah; Dasman Yahya Maali; Masyhuri Putra; Abdul Wahid
An-Nida' Vol 45, No 1 (2021): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i1.16531

Abstract

Artikel ini menjawab tentang bagaimana praktik penggunaan jimat dalam tradisi masyarakat Kecamatan Kampa serta korelasinya dalam Tafsir al-Azhar Karya Hamka. Dalam artikel ini, penulis menggunakan metode observasi, wawancara (interview), serta dokumentasi sebagai data-data dalam menunjang penelitian ini. Penelitian ini memfokuskan observasi untuk memperluas dan memperjelas makna yang terkandung dalam domain tertentu dengan menggunakan taxonomic analysis melalui tiga alur kegiatan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan, serta pengecekan keabsahan data penelitian. Adapun yang menjadi data primer dalam penelitian ini adalah praktik penggunaan jimat dalam tradisi masyarakat Kecamatan Kampa sekaligus sebagai populasi atau objek penelitian ini. Sedangkan sampel dari penelitian ini yaitu dengan cara mengumpulkan informasi dari orang-orang yang berkaitan langsung dengan pemakai jimat (tamimah dan halqah) tersebut, yaitu orang-orang yang telah menggunakan maupun yang sedang menggunakan jimat  (tamimah dan halqah).  Informasi itu juga bisa diambil dari tokoh agama di Kecamatan Kampa. Adapun yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah interpretasi Buya Hamka dalam QS. Al-‘Arāf[7] Ayat 196 serta korelasinya dengan praktik penggunaan jimat (tamimah dan halqah) dalam tradisi masyarakat Kecamatan Kampa
STUDI SUFISME THARIQAH QADARIYAH WA NAQSABANDIYAH DI DESA MADANI PULAU KIJANG RETEH INDRAGIRI HILIR RIAU Khotimah Khotimah
An-Nida' Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v39i2.876

Abstract

Thariqah Qadiriyah Wa Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi (w.1878 M.). Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai’at Thariqah Naqsabandiyah. Sebagai seorang mursyid yang kamil mukammil Syaikh Ahmad Khatib sebenarnya memiliki otoritas untuk membuat modifikasi tersendiri bagi tarekat yang dipimpinnya. Karena dalam tradisi Thariqah Qadiriyah memang ada kebebasan untuk itu bagi yang telah mempunyai derajat mursyid
Penguatan Moral di Kalangan Remaja di Desa Tarai Bangun Kampar Imron Rosidi; Khotimah Khotimah
Empowerment: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2022): MEI 2022
Publisher : Pusat Riset Manajemen dan Publikasi Ilmiah Serta Pengembangan Sumber Daya Manusia Sinergi Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.346 KB) | DOI: 10.55983/empjcs.v1i3.132

Abstract

This article discusses about the empowerment of moral enforcement among Muslim youth in Desa Tarab Mulia Tarai Bangun Kampar. This empowerment employs preaching and question-answer methods. It focuses on the empowerment which is located in al-Muhajirin Mosque. This empowerment succeeds in giving moral understandings and empowerment among Muslim youth in Desa Tarab Mulia. It demonstrates on how Muslim youth is being attached to the mosque as the center of moral empowerment in Indonesia. 
Conflict and Its Resolution in Indonesian Islam: A Case Study of a Javanese Muslim Society in Riau Imron Rosidi; Maulana Maulana; Khotimah Khotimah
Sunan Kalijaga: International Journal of Islamic Civilization Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.807 KB) | DOI: 10.14421/skijic.v1i2.1344

Abstract

This paper aims to examine the extent to which a Muslim society in Indonesia solves its conflict. By using a Muslim society in Riau as a case study, this article argues that the society observed has a unique characteristic which may differ from other Muslim societies in other regions. It proposes that, in this community, the negotiation is done silently to shape the peaceful social interaction and harmonious relationship. In fact, the conflict within this society is actually corrosive when the elites have basically different education background categorized into Pesantren and University graduates making diverse ideas about religious and educational issues. The conflict is identified to be hybrid as it is not solely religious or non-religious matters. The political dimension is influential which deconstructs the meaning of charismatic leader in this society. The authority of local kiyai or kiyai kampong is renegotiated by ordinary people when the kiyai is invited to be involved in the political contest by politicians. This article provides an insight on how local Islam has proposed a best example of peaceful conflict resolution in Indonesia. It demonstrates the uniqueness of Indonesian Muslims’ way to solve their internal conflict.
The Fundraising Strategy of Fast Response Action or Aksi Cepat Tanggap (ACT) Labuhan Batu in Improving the Funds of Zakat, Infak, Sedekah(Alms) and Waqf Imron Rosidi; Avazbek Ganiyev; Yunita Hemalia; Khotimah Khotimah; Maulana Maulana; Arwan Arwan
FOKUS Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jf.v7i1.4615

Abstract

Aksi Cepat Tanggap (ACT) is a new institution in the Labuhanbatu region established to increase the funds of zakat, infaq, alms and waqf. This study used descriptive qualitative methods by using primary and secondary data sources. There are ten informants selected. They are interviewed to know the ACT strategy of fundraising. This study finds that Aksi Cepat Tanggap (ACT) Labuhanbatu's fundraising strategy in increasing the zakat, infaq, alms, and waqf funds is by identifying donors, using fundraising methods (direct and indirect fundraising), managing and maintaining donors, and monitoring and evaluating fundraising. In the first year of establishing the institution, ACT started its movement by expanding its indirect fundraising strategy to form a solid branding and positive image so that ACT Labuhanbatu could quickly adapt and build public trust. ACT already knew some definite donor targets with the previous year's branding activities, and the public was familiar with the institution's activities. This initiated ACT Labuhanbatu to upgrade its strategy by increasing direct fundraising and maximizing the maintenance activities of donors who often make their donations. In addition, ACT has conducted evaluations from both internal and external institutions so that Aksi Cepat Tanggap Labuhanbatu can increase the zakat, infaq, alms, and waqf funds in 2021.