Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

RITUAL SEMA NAGARI Tradisi Masyarakat Kampar Kiri Hulu Inda Sari; Abu Bakar; Khotimah Khotimah
Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/nusantara.v16i1.13591

Abstract

Ritual Sema Nagari pada masyarakat desa di Desa Tanjung Beringin merupakan tradisi yang bertujuan untuk membuang musibah yang ada pada warga desa Tanjung Beringin dan juga sebagai pencegah timbulnya perilaku yang bertentangan dengan Agama dan Adat Istiadat yang berlaku di Desa Tanjung Beringin itu sendiri. Kegiatan tolak bala dan mencegah perilaku menyimpang ini, dilakukan melalui perantara yakni ritual Olek Nagari atau Ritual Sema Nagari. Tulisan ini, merupakan deskripsi dari ritual sema nagari di desa tanjung beringin. sejarah pelaksanaan upacara tradisi ritual sema nagari. Prosesi dalam pelaksanaan ritual sema nagari di Desa Tanjung Beringin berawal dari nazar masyarakat kepada Allah, nazar tersebut yaitu jika tidak terjadi bala atau bencana dan tidak konflik di antara masyarakat maka pada tahun berikutnya akan disembelih satu ekor hewan kerbau dan ziara kuburan yang di sebut dengan sema nagari. Nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan sema nagari yaitu nilai sosial, nilai moral, nilai gotong royong, nilai kerukunan, nilai religi, dan nilai ekonomi, nilai estetika, nilai hiburan dan nilai budaya.
INTERAKSI SOSIAL MASYARAKAT ISLAM DAN KRISTEN DI DUSUN IV TARAB MULIA KECAMATAN TAMBANG KABUPAEN KAMPAR Khotimah Khotimah
Kutubkhanah Vol 19, No 2 (2016): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.968 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v19i2.2554

Abstract

Fokus penelitian ini adalah interaksi sosial antar pemeluk berbeda agama, bukan berbeda etnik. Sehingga pembahasan akan lebih mengarah pada identitas agama ketimbang identitas etnik. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang ada di Dusun IV Tarab Mulia Desa Tarai Bangun yang beragama Islam maupun yang beragama Krinten yang sudah menginjak dewasa. Yaitu berumur kira-kira 19 tahun keatas. Sedangkan sampel dari penelitian ini diambil dari populasi adalah sebanyak 10 % dari seluruh masyarakat Islam dan Kristen yang ada di Dusun tersebut. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data dianalisis dengan analisis penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial masyarakat antara komunitas Muslim dan Kristen yang ada di Dusun IV Tarab Mulia Desa Tarai Bangun terjadi dengan baik. Hal ini dapat diaplikasikan dalam bentuk terjadinya komunikasi yang positif yang dapat dilihat dalam kegiatan gotong royong, ronda, menghadiri undangan, antara dua komunitas serta tolong menolong dalam mendapat musibah. Faktor pendorong terjadinya interaksi sosial ini didominasi oleh kesamaan etnis yang ada
PERSEPSI IBU-IBU TERHADAP PENGGUNAAN JILBAB DI DUSUN IV TARAB MULIA DESA TARAI BANGUN KECAMATAN TAMBANG KABUPATEN KAMPAR Khotimah Khotimah
Kutubkhanah Vol 14, No 1 (2011): Januari - Juni 2011
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.35 KB) | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v14i1.278

Abstract

dusun IV Tarab Mulia, khususnya di perumahan Mawaddah II dalam menggunakan jilbab hanya dilakukan ketika pada hal-hal tertentu saja. Disamping itu ketika tidak memakai jilbab busana yang dipakainya jauh dari cerminan seorang ibu muslimah. Berbeda ketika menggunakan jilbab lebih disesuaikan dengan penggunaan jilbabnya. Kurang lebih 5 tahun pencerahan setiap seminggu sekali diberikan oleh majelis taklim, bahwa menggunakan jilbab pada hakekatnya kewajiban sebagai muslimah, apalagi sebagai seorang ibu yang menjadi panutan anak-anaknya. Namun hal ini tidak membawa perubahan sama sekali. Oleh sebab itu berpijak dari fenomena ini penulis ingin melihat bagaimana sebenarnya persepsi mereka terhadap makna jilbab itu sendiri, sehingga begitu enggannya mereka menggunakan.semoga dari hasil penelitian ini tentunya diharapkan bisa memberikan solusi alternatif positif dari berbagai pihak. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dapat dijelaskan bahwa persepsi responden terhadap jilbab itu sendiri tidak baik, responden menganggap atau berpersepsi bahwa Menggunakan jilbab adalah kebiasaan. Secara teoritis jika ini dikaitkan dengan teori persepsi yang menyatakan bahwa Individu akan yang belum atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu objek, akan mudah dipengaruhi sikapnya oleh subjek lain yang ada di sekitarnya, dan peniruan itulah yang kemudian akan menjadi sikap dan keputusannya untuk berbuat. Berbeda dengan orang yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu objek, akan selalu membuat keputusan yang tepat dan benar sesuai dengan sikapnya yang telah terbentuk melalui persepsi dan pengetahuan yang benar. Hal inilah yang terjadi terhadap responden atau ibu-ibu yang ada Perumahan Mawaddah II Dusun IV Tarab Mulia Desa Tarai Bangun, ketika mereka tidak memiliki suatu pemahaman yang positif terhadap jilbab maka akan sangat berpengaruh dalam menggunakan jilbab itu sendiri.
ANTARA KOMUNITAS MUSLIM, KRISTEN DAN KATOLIK Studi Interaksi Sosial di Desa Sukaramai Kabupaten Kampar Riau Khotimah Khotimah; Khairiyah Khairiyah; Salmaini Yeli; Suja'i Syarifandi
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 14, No 2 (2022): JULI - DESEMBER
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v14i2.20897

Abstract

Desa Sukaramai  merupakan salah satu desa di Kecamatan Tapung Hulu Kabupaten Kampar, dengan komposisi penduduk yang heterogen, baik dari segi agama, etnis maupun latar belakang budaya. Masyarakat Desa Sukaramai hidup dalam pluralitas, namun jauh dari ketegangan-ketegangan antar pemeluk agama, khususnya pemeluk agama Islam dan Kristen. Masyarakat  Muslim dan Kristen dapat hidup berdampingan dengan harmonis, dan keharmonisan tersebut telah berlangsung cukup lama hingga saat ini. Kondisi seperti ini terwujud karena proses interaksi sosial yang terjadi dalam masyarakat mengarah pada proses-proses yang asosiatif. Hal ini ditandai dengan adanya kerjasama (cooperation), persaingan (competition), akomodasi (accomodation) dan asimilasi (assimilation).
The Controversy of Understanding Wahdatul Hamzah Fansuri Mufti in The Sultanate of Aceh Kasmuri Selamat; Wiza Atholla Andriansyah; Khotimah Khotimah; Abd. Ghofur; Deswita Deswita
Alfuad: Jurnal Sosial Keagamaan Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/jsk.v8i2.12373

Abstract

Hamzah Fansuri was a Sufi figure, writer and Mufti in the Sultanate of Aceh Darussalam during the time of Sultan Alaudin Riayat Syah (1596-1604). The controversy about his thoughts is one of the reasons for the interest in this article. The interesting thing about his thoughts is about wahdatul wujud. At first glance, this thought is normal, but the interesting thing is the understanding that was developed in the process of Islamization in the archipelago when the two schools of Sufism, Sunni and Shia, met. Therefore, this article will discover this side of the controversy and of course its influence on the development of Sufism in Indonesia. Data obtained from library research. The data analysis technique was carried out using qualitative analysis techniques in a deductive manner. The results of this study show that the controversy over Hamzah Fansuri's thoughts about Wahdatul wujud is a Sufi concept that was influenced by the thoughts of previous Sufi figures such as Ibn Arabi and Al-Qunawi. Its influence on the development of Sufism in Indonesia lies in the understanding of Wahdatul Wujud, understood as a single form which is the ultimate reality. Being other than Allah are shadows or manifestations of a single being. Hamzah Fansuri understands that the essence of existence is only one, namely Allah SWT and everything is explained in metaphorical language.
Negotiating Piety and Radicalism: A Study Among Muslim Youth in Pekanbaru, Indonesia Khotimah, Khotimah; Rosidi, Imron
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 8 No. 3 (2020): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v8i3.377

Abstract

Muslim youth in Pekanbaru currently interacts with different culture and tradition. They actively consume modern values spread by global media from different countries. In Muslim societies like Pekanbaru, the rise of modernity and globalization brings multiple impacts on them. One of them is that it supports the growth of piety or religiosity both in the private and public sphere among young Muslims. However, some people may indicate that this piety is a potential or same as radicalism. Radicalism and piety are two complicated terms among young Muslims in this town. As a result, this raises a question on how these Muslim youth understand and practice radicalism and piety. This article argued that, as the impact of globalization and modernity, piety was blended with capitalism and other non-Islamic ideologies. As a result, this article found that, first, Muslim youth in Pekanbaru were negotiating their piety and radicalism with non-Islamic ideologies such as modernity, capitalism, and so forth. Secondly, they could not be labeled into a single term like pious or radical. This is because they were still in the process of negotiation between piety and radicalism.
Kajian Fenomenologi atas Al-‘Afwu dalam Tafsir Kontemporer dan Relevansinya Dengan Trust Issue Hamidah, Nurul; Jamal, Khairunnas; Khotimah, Khotimah; Syaifullah, Ahmad
Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. 1 (2025): Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan (AJAIP)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/ajaip.2025.vol22(1).21913

Abstract

This article discusses a Phenomenological Study of Al-‘Afwu in Contemporary Qur’anic Exegesis and its Relevance to Trust Issues. This research is motivated by the phenomenon that modern-era society is starting to forget the true meaning and nature of forgiveness. That's why the problem of forgiveness (Al-‘Afwu) is underestimated, so it is very easy to forgive someone but still hold a grudge against that person, resulting in many people being hit by a crisis of trust (Trust Issues). The Trust Issues here is not human belief in God, but rather the belief that arises as a result of interacting with other humans. This research focuses on discussing the relationship between Al- ‘Afwu and the Trust Issues phenomenon. This type of research is library research using a qualitative descriptive approach, namely reading and analyzing study objects related to research. The study object in question comes from primary data and secondary data. The primary source for this research is contemporary Qur’anic Exegesis books while the secondary sources come from books, journals, articles and other written sources related to the research. The research results show that without Al-‘Afwu, Trust Issue sufferers will have difficulty trusting other people again, making it difficult for themselves because humans cannot be separated from other humans. There are many ways and methods for healing Trust Issues, but if the sufferer has not forgiven themselves and the people who have hurt them, it will be in vain. That is why Allah Swt. commands his servants to have a totally forgiving nature (Al-‘Afwu), namely forgiving others and erasing mistakes that have been made by the person who hurt them without any intention of revenge so that the ties of friendship are maintained and remain harmonious.
NEGOTIATING TRADITIONAL RELIGIOUS AUTHORITY IN INDONESIAN ISLAM : THE CASE OF MADANI VILLAGE Rosidi, Imron; Saputra, Eko; Khotimah, Khotimah; Ganiyev, Avazbek; Masduki, Masduki; Ghofur, Abd.
Islam Futura Vol 24 No 1 (2024): Jurnal Ilmiah Islam Futura
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jiif.v24i1.17320

Abstract

This article deals with traditional religious authority in a given context, namely the village of Madani in Riau, Sumatra, Indonesia. It specifically asks how this traditional religious authority is established and shaped in the context of an Indonesian rural Muslim society. This article uses observation and interviews to collect data based on an ethnographic study. This village is selected to be the place of study because it represents the typical characteristics of Indonesian villages. This article finds that traditional religious authority in Indonesia is not established and shaped linearly. However, it is compromised and contested. Although Muslims in this community regard a Kiai as a respected man having a religious charisma, this society also contests his religious authority to contribute to the resignation of the kiai from the Pesantren (Islamic Boarding School). This resignation supports him in developing his Tariqah (Sufi Order), followed by many community Muslims. Although he does not own a Pesantren, it indicates that his religious authority has been negotiated through the Tariqah. This negotiation implicates that traditional religious authority in Indonesia is not given without contestation from the Muslim community. Furthermore, it also indicates that traditional religious authority's trajectory and shape in rural areas are not monolithic, depending on society's social and cultural context.
PERILAKU KEAGAMAAN REMAJA DI DESA TANJUNG KARANG KECAMATAN KAMPAR KIRI HULU KABUPATEN KAMPAR Lisani, Nadia; Khotimah, Khotimah; Ghofur, Abdul
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 15, No 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v15i2.28335

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Perilaku Keagamaan Remaja di Desa Tanjung Karang Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar. Perilaku keagamaan remaja merupakan segala tindakan perbuatan atau ucapan yang dilakukan oleh remaja tersebut sedangkan perbuatan, tindakan atau ucapan akan ada kaitannya dengan agama, semua dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran, kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bagaimana bentuk perilaku keagamaan remaja di Desa Tanjung Karang. (2) untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku keagamaan remaja di Desa Tanjung Karang. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif yang di sajikan dalam bentuk uraian kata-kata. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Bentuk perilaku keagamaan remaja di Desa Tanjung Karang Kecamatan Kampar Kiri Hulu Kabupaten Kampar masih perlu di bimbing, seperti kurangnya rasa kedisiplinan terhadap diri sendiri, dan lalai dalam ketaatan beragama. (2) Faktor yang mempengaruhi perilaku keagamaan remaja yang ada di Desa Tanjung Karang yaitu (a) faktor internal, yang di pengaruhi oleh keluarga, (b) faktor eksternal. Yang di pengaruhi lingkungan sekolah, dan pengaruh media
TOLERANSI DALAM SASTRA Nilai-Nilai Toleransi dalam Novel Bumi Cinta Dan Ayat-Ayat Cinta 2 Yanti, Annisa Darma; Khotimah, Khotimah; Ghafur, Abdul
TOLERANSI: Media Ilmiah Komunikasi Umat Beragama Vol 15, No 1 (2023): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/trs.v15i1.24509

Abstract

Di sebuah negara yang sangat heterogen isu toleransi menjadi isu bukan hal yang baru. Akan tetapi banyak hal yang menarik jika maslah ini selalu ditulis. Berbagai macam media bisa digunakan untuk mengajarkan khalayak ramai terkait nilai-nilai toleransi. Sebagaimana yang dilakukan oleh sastrawan terkemuka Indonesia yakni bapak Habiburrahman El- Shirazy yang mengajarkan nilai-nilai toleransi melalui karya sastra beliau yang dalam hal ini penulis mengambil contoh nya yakni novel. Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui nilai-nilai toleransi yang terkandung pada novel Bumi Cinta dan Ayat-ayat Cinta 2 Karya Habiburrahman Elshirazy. penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan atau library research. Maka sumber data bersifat kepustakaan atau berasal dari berbagai literatur, di antaranya buku, jurnal, surat kabar, dokumen pribadi dan lain sebagainya. Nilai toleransi ditampilkan secara jelas oleh sang penulis di dalam kedua novel tersebut. Dengan alur cerita yang menarik sekaligus membuat para pembaca mampu memahami nilai-nilai kebaikan yang terdapat di kedua novel tersebut.