Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Pharmacy

Kajian Pustaka Aktivitas Antijamur Tanaman Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Candida albicans Syahla Alpia Rachman; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.163 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.3580

Abstract

Abstract. Indonesia is a country with a tropical climate and has high humidity, so this can be a factor causing fungal infections of the skin. Cinnamon (Cinnamomum burmanii) is one of the plants from the family Lauraceae which is known to have potential as an antifungal causing candidiasis such as Candida albicans. The purpose of this study was to determine the part of the plant that has antifungal activity from the cinnamon plant (Cinnamomum burmanii) against Candida albicans and determine the content of active compounds and the mechanism of action of compounds that act as antifungals found in cinnamon. The method used in this research is a literature review with relevant data sources, both national and international journals, with the criteria for publication in the last 10 years. The observed parameter of the antifungal activity was the diameter of the inhibition zone. Cinnamon plants, including wood, bark, and leaves, have antifungal activity, and the strongest activity as antifungal is water extract and essential oil with inhibition zone diameter > 20 mm, active compounds and groups of compounds, namely cinnamaldehyde, eugenol, tanins, alkaloids, flavonoids, and saponins. The mechanism of action is by inhibiting cell walls, inhibiting colonization, inhibiting chitin synthesis, inhibiting cell wall synthesis, and lowering surface tension. Abstrak. Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis dan memiliki kelembaban yang tinggi sehingga hal ini dapat menjadi faktor penyebab terjadinya infeksi jamur pada kulit. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) merupakan salah satu tanaman dari famili Lauraceae yang diketahui mempunyai potensi sebagai antijamur penyebab kandidiasis seperti Candida albicans. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagian tanaman yang memiliki aktivitas antijamur dari tanaman kayu manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Candida albicans serta mengetahui kandungan senyawa aktif dan mekanisme kerja senyawa yang berperan sebagai antijamur yang terdapat pada kayu manis. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah kajian pustaka dengan sumber data yang relevan baik jurnal nasional maupun internasional dengan kriteria terbitan 10 tahun terakhir. Parameter yang diamati dari adanya aktivitas antijamur yaitu diameter zona hambat. Tanaman kayu manis meliputi kayu, kulit batang dan daun memiliki aktivitas antijamur dan aktivitas yang paling kuat sebagai antijamur adalah ekstrak air dan minyak atsiri dengan diameter zona hambat > 20 mm, senyawa aktif dan golongan senyawa yaitu sinamaldehid, eugenol, tanin, alkaloid, flavonoid dan saponin. Mekanisme kerja dengan menghambat dinding sel, menghambat kolonisasi, menghambat sintesis kitin, menghambat sistesis dinding sel dan menurunkan tegangan permukaan.
Evaluasi Data Demografi dan Antihipertensi yang Digunakan pada Pasien Klinik 24 Medika Tanjungsari Nabila Khaerunnisa; Umi Yuniarni; Sri Peni Fitrianingsih
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.467 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4010

Abstract

Abstract. Hypertension is a condition where the systolic blood pressure is more than 140 mmHg and the diastolic pressure is more than 90 mmHg. This study was conducted at Clinic 24 Medika Tanjungsari which aims to determine the use of antihypertensive drugs in patients at Clinic 24 Medika Tanjungsari. This study uses a descriptive method with a retrospective research design, namely by reviewing information or processing past data. For sampling using the slovin method with an error rate of 10% so that the sample used was 95 recipes. The data collected came from the prescription of hypertension patients at Clinic 24 Medika Tanjungsari for the period January – December 2021, which had met the inclusion criteria and exclusion criteria. The results showed that hypertension was mostly experienced by women (65%), and for the age category that experienced hypertension, namely the elderly (55%), while the antihypertensive drug that was widely used as amlodipine (55%). Abstrak. Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolic lebih dari 90 mmHg. Penelitian ini dilakukan di Klinik 24 Medika Tanjungsari yang bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Klinik 24 Medika Tanjungsari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan racancangan penelitian retrospektif yaitu dengan mengkaji informasi atau mengolah data yang telah lalu. Untuk pengambilan sampel dengan menggunakan metode slovin dengan tingkat kesalahan 10% sehingga sampel yang digunakan sebanyak 95 resep. Data yang dikumpulkan berasal dari resep pasien hipertensi Klinik 24 Medika Tanjungsari periode Januari – Desember 2021 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipertensi banyak dialami oleh perempuan sebesar (65%), dan untuk kategori usia yang banyak mengalami hipertensi yaitu lanjut usia sebesar (55%), sedangkan untuk obat antihipertensi yang banyak digunakan yaitu amlodipine sebesar (55%).
Studi Kepatuhan Penggunaan Obat Antihiperglikemik Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Cikutra Lama 1 Bandung Diva Rachmadita Kusumawardani; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.225 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4106

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus is a lifelong metabolic illness that can occur in all levels of society, and causes the rising of glucose levels in the bloodstream. Normalizing the glucose levels can be done either by therapy of changing the lifestyle or ingesting oral antihyperglycemic medicine. The patient using oral antihyperglycemic medicine has to take the medicine regularly and cannot miss any of it, thus the adherence of the patient is important. This study was done to depict adherence and reasons of disobedience on ingesting oral hyperglycemic medicine of Type 2 Diabetes Mellitus patients in Puskesmas Cikutra Lama Bandung using MMAS-8 type questionnaire on 25 adults as subjects with criteria such as man or woman, in the range of 18-65 year old, and is treated with oral antihyperglycemic on January 2021-May 2022. This study was carry out on May 2022 with interview method. MMAS-8 is used because of its objectiveness and can be used to both identify and measure how the patients adhere to ingesting oral hyperglycemic medicine. From 25 subjects, 36% has "high adherence", 16% has "medium adherence", and 48% has "low adherence". There are several factors that promote low adherence such as forgetting or being lazy to take the medicine and also the minimal knowledge of the patient's ongoing treatment. Abstrak. Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik seumur hidup yang dapat ditemui di berbagai kalangan masyarakat dan menyebabkan meningkatnya kadar glukosa dalam tubuh. Untuk mengembalikan kadar glukosa dalam tubuh menjadi normal, dilakukan terapi dengan mengubah gaya hidup atau pun dengan obat antihiperglikemik oral. Pasien yang menggunakan obat antihiperglikemik oral harus menggunakannya secara teratur dan tidak boleh terlewat, sehingga kepatuhan pasien menjadi hal yang sangat penting. Pada penelitian ini, dilakukan studi gambaran kepatuhan dan faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Cikutra Lama 1 Bandung dengan menggunakan kuesioner MMAS-8 kepada 25 subjek dewasa dengan kriteria wanita atau pria, berumur 18-65 tahun, dan sedang menjalankan pengobatan antihiperglikemik oral pada periode Januari 2021-Mei 2022 di Puskesmas Cikutra Lama 1 Bandung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2022 dengan metode wawancara. MMAS-8 digunakan karena sifatnya yang objektif dan dapat digunakan untuk identifikasi masalah kepatuhan pasien juga dapat digunakan untuk memantau kepatuhan pasien. Dari 25 subjek, sebanyak 36% memiliki tingkat kepatuhan tinggi, 16% memiliki tingkat kepatuhan sedang,dan 48% memiliki tingkat kepatuhan yang rendah. Ketidakpatuhan pasien dapat disebabkan karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti lupa, adanya rasa resah dan malas, dan juga minimnya pengetahuan dalam pengobatan yang dijalani pasien.
Pengetahuan Masyarakat Desa Cikole Lembang Kecamatan Kabupaten Bandung Barat pada Swamedikasi dalam Mengatasi Penyakit Gastritis Shifa Fadillah Indreswari Puja; Suwendar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.351 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4170

Abstract

Abstract. Public knowledge of disease is important for achieving a better quality of life so that they will care and comply with drug identification, so that errors do not occur, in dealing with health problems or medication errors. Understanding of performing an act of self-medication of disease is very necessary because the slightest mistake made by the patient will be fatal and even death. Based on the survey results, in general, people are more likely to do self-medication if they feel a health symptom. Such as, influenza, fever, diarrhea, ulcers (gastritis) and others, with only minimal educational knowledge and information. light. The perceived benefits of self-medication include drugs that are easy to obtain because they are sold freely in stalls, pharmacies and drug stores. Without having to attach a doctor's prescription. Thus, the cost of treatment is cheaper. According to information, disease data from the Cikole Community Health Center in Lembang District shows that the disease occupies the top 6 every month (Cikole Public Health Center, 2021). The purpose of this study was to determine the extent of understanding of the community in Cikole Village, Lembang District in identifying the right drug, using descriptive research methods through questionnaires. which are often used are Antacids (91.1%), tablet dosage forms (66.6%) and in the use of gastritis drugs and their storage are in the good category (86.43%). Abstrak. Pengetahuan masyarakat terhadap penyakit merupakan hal penting untuk tercapainya kualitas kehidupan yang lebih baik sehingga akan peduli dan patuh terhadap identifikasi obat, agar tidak terjadi kesalahan dalam menangani masalah kesehatan atau medication error. Pemahaman melakukan suatu tindakan swamedikasi penyakit sangatlah diperlukan karena kesalahan sedikit saja yang dilakukan penderita akan berakibat fatal bahkan kematian. Berdasarkan hasil survei pada umumnya masyarakat lebih cenderung melakukan swamedikasi apabila merasakan suatu gejala kesehatan. Seperti, influenza, demam, diare, maag (gastritis) dan lainnya, dengan hanya berbekal pengetahuan edukasi dan informasi yang minim. swamedikasi merupakan penggunaan obat oleh seseorang untuk pengobatan diri sendiri berdasarkan diagnosa gejala sendiri, tanpa berkonsultasi dengan dokter biasanya dilakukan dalam mengatasi keluhan penyakit ringan. keuntungan yang dirasakan dari swamedikasi obat mudah didapat karena dijual bebas diwarung, Apotek dan toko obat. tanpa harus dilampirkan resep dokter. Sehingga, biaya berobatpun lebih murah. Menurut informasi data penyakit dari Puskesmas Cikole Kecamatan lembang bahwa penyakit gastritis setiap bulannya menempati 6 besar (Puskesmas Cikole, 2021). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana pemahaman masyarakat Desa Cikole Kecamatan lembang dalam mengidentifikasi obat yang tepat, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif. dan penyebaran melalui kuesioner, dari hasil penelitian disimpulkan bahwa pengetahuan masyarakat Desa Cikole pada swamedikasi penyakit gastritis termasuk kategori baik (90,79%) obat yang sering digunakan adalah golongan Antasida (91,1%), bentuk sediaan tablet (66,6%) dan dalam penggunaan obat gastritis dan penyimpanannya termasuk kategori baik (86,43%).
Studi Literatur Aktivitas Antelmintik pada Tanaman Pepaya (Carica papaya L.) terhadap Cacing Gelang Babi (Ascaris suum Goeze) Marshanda Reiya Hanafiah; Umi Yuniarni; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.134 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4210

Abstract

Abstract. Nowadays, worm infection is disease that is still faced by society. Diseases caused by these worms occur partly because sanitation in the vicinity is poorly maintained, especially among people with densely populated areas. For preventing or treat these worm infection, anthelmintic are needed that can kill the worms. Using of anthelmintic was sourced from natural materials can be used as an alternative. Indonesia have many types of nutritious plants which are a source of medicinal ingredients, one of which is papaya. This study literature to determine the parts of the papaya plant that have anthelmintic activity, the contained class of secondary metabolites and their mechanism of action as anthelmintics. Based on the results of the study literature, it can be concluded that some parts of the papaya plant are leaves, seeds and stems have the potential as anthelmintics because they can cause death in roundworm on pig. The secondary metabolite compounds that have anthelmintic activity in papaya plant are alkaloid, flavonoid, tannin, saponin, triterpenoid and phenol. The mechanism action of alkaloid is through suppression of the central nervous system. The mechanism action of flavonoid and saponin is by inhibiting the enzyme acetylcholinesterase which will affect the worm muscles. Tannin work by causing the binding of enzymes produced by roundworm pig for nutrient absorption. Triterpenoid with a polar neutralizing mechanism of action. Phenol work by causing interference with glycoprotein on the surface of worm cells. Abstrak. Infeksi cacing merupakan masalah kesehatan yang masih dihadapi oleh masyarakat saat ini. Penyakit yang disebabkan oleh cacing ini terjadi antara lain karena sanitasi di sekitarnya kurang terpelihara, terutama pada kalangan masyarakat dengan tempat tinggal padat penduduk. Untuk dapat mencegah atau mengobati infeksi cacing tersebut, diperlukan antelmintik yang dapat membunuh cacing. Penggunaan antelmintik yang bersumber dari bahan alam dapat digunakan sebagai alternatif. Indonesia diketahui memiliki banyak jenis tanaman berkhasiat yang merupakan sumber bahan obat, salah satunya tanaman papaya. Tujuan dari dilakukannya studi literatur ini adalah untuk mengetahui bagian dari tanaman papaya yang memiliki aktivitas antelmintik, golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dan mekanisme kerjanya sebagai antelmintik. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa beberapa bagian tanaman pepaya yaitu daun, biji dan batang berpotensi sebagai antelmintik karena dapat menyebabkan kematian pada cacing gelang babi. Golongan senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas antelmintik pada tanaman pepaya adalah alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid dan fenol. Mekanisme kerja alkaloid dengan melalui penekanan sistem saraf pusat. Mekanisme kerja flavonoid dan saponin dengan menghambat enzim asetilkolinesterase yang akan berpengaruh terhadap otot-otot cacing. Tanin bekerja dengan cara menyebabkan terikatnya enzim-enzim yang dihasilkan oleh cacing gelang babi untuk penyerapan nutrisi. Triterpenoid dengan mekanisme kerja penetralan keadaan polar. Fenol bekerja dengan cara menyebabkan terjadinya gangguan pada glikoprotein di permukaan sel cacing.
Pemeriksaan Karakteristik Simplisia dan Penapisan Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Suji (Draceana angustifolia (Medik.) Roxb.) Ega Nirmala; Umi Yuniarni; Siti Hazar
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.203 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4329

Abstract

Abstract. Suji leaf (Draceana angustifolia) is one of the natural materials that has been widely used by people, one of them is used as a medicinal plant. Its manufacture as a medicinal plant can’t be separated from manufacture into the form of Simplicia. Each simplicia must be guaranteed in terms of quality, efficacy, and safety. Based on this, the problem in this research is formulated as follows: (1) What are the characteristics of suji leaf simplicia based on specific and non-specific parameters? (2) What are the groups of secondary compounds/metabolites contained in simplicia and ethanol extract of suji leaves? Determination of specific parameters including the determination of the water-soluble extract content and the determination of the ethanol-soluble extract content. Then for non-specific parameters including the determination of water content, determination of drying shrinkage, determination of total ash content, and determination of acid insoluble ash content. For phytochemical screening, the test is carried out by the color test method using specific reagents. The results of this research were: For the determination of the water-soluble extract content and the determination of the ethanol-soluble extract content were 12.67% and 5.84%, respectively. The results for the determination of the water content of 7.99%, the determination of drying shrinkage of 9.69%, the determination of the total ash content of 6.39%, and the determination of the acid insoluble ash content of 0.45%. The simplicia and ethanol extract of suji leaves contain several classes of chemical compounds/secondary metabolites including phenolic compounds and terpenoids. Abstrak. Daun suji (Draceana angustifolia) merupakan salah satu bahan alam yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanfaatan daun suji juga sudah berkembang untuk digunakan sebagai tanaman obat. Dalam pembuatannya sebagai tanaman obat tidak lepas dari pembuatannya ke dalam bentuk simplisia. Setiap simplisia haruslah terjamin dalam hal mutu, khasiat dan keamanannya. Berdasarkan hal tersebut, maka rumusan masalah pada penelitian kali ini yaitu: (1) Bagaimanakah karakteristik simplisia daun suji berdasarkan parameter spesifik dan parameter non spesifik? (2) Apa sajakah golongan senyawa/metabolit sekunder yang terkandung pada simplisia maupun ekstrak etanol daun suji?. Penetapan parameter spesifik yang dilakukan meliputi penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol. Kemudian untuk parameter non spesifik yang dilakukan yaitu penetapan kadar air, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam. Untuk penapisan fitokimia pada simplisia maupun ekstrak etanol daun suji dilakukan dengan metode uji warna dengan menggunakan pereaksi spesifik. Hasil dari penelitian ini adalah: Hasil penetapan kadar sari larut air dan penetapan kadar sari larut etanol berturut-turut adalah 12,67% dan 5,84%. Hasil untuk penetapan kadar air 7,99%, penetapan susut pengeringan 9,69%, penetapan kadar abu total 6,39% dan penetapan kadar abu tidak larut asam 0,45%. Pada simplisia dan ekstrak etanol daun suji mengandung beberapa golongan senyawa kimia/metabolit sekunder diantaranya adalah senyawa fenolik dan terpenoid.
Evaluasi Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Rancabali Syifa Egidia Delani; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.717 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4334

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an infectious disease that is still a major health problem in Indonesia because it has a major impact on the decline in work productivity. The purpose of this study was to determine the effect of the level of patient compliance on the success of pulmonary tuberculosis therapy. This study used descriptive survey method, and the data was collected by prospective method. In this study, there are 3 (three) forms of questionnaire, which are demographic data, the level of knowledge, and the level of adherence. This study has been done from April-May 2022. The subject who involved in this study are patients with pulmonary tuberculosis at Pulmonary Polyclinic General Puskesmas Rancabali. The assessments of the adherence level was done using MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) questionnaire and knowledge level assessment using a general knowledge questionnaire about pulmonary TB. The result of 50 patients which fulfilled in inclusion criteria showed that the majority of patient’s age was 26-35 years which was 21 people (42%), the majority of gender was men which was 26 people (61%), the majority of high school student which was 20 people (40%), the majority of government officers which was 21 people (42%). The result shows mayoity the compliance of pulmonary tuberculosis treatment is good (46%). The level of knowledge about the complience therapy in the patients are in good category 30 people (60%). The result of statistical analysis showed that there was a relationship between patient knowledge and compliance in carrying out pulmonary TB treatment at Puskesmas Rancabali (p = 0.007) Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia karena berpengaruh besar terhadap penurunan produksitivitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk megetahui pengaruh tingkat kepatuhan pasien terhadap keberhasilan terapi Tuberkulosis Paru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, pengambilan data dilakukan secara prospective. Dalam penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) bentuk kuisioner yaitu data demografi, tingkat pengetahuan, dan tingkat kepatuhan. Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2022. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien tuberkulosis paru di Poli TB Puskesmas Rancabali. Penilaian tingkat kepatuhan menggunakan kuesioner MMAS (Morisky Medication Adherence Scale) dan penilaian tingkat pengetahuan menggunakan kuisioner pengetahuan umum tentang TB Paru. Hasil dari 50 pasien yang memenuhi kriteria inklusi menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB Paru adalah berusia 26-35 tahun sebanyak 21 orang (42%), jenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang (52%), pendidikan SMA/Sederajat sebanyak 20 orang (40%), pekerjaan pegawai swasta sebanyak 21 orang (42%). Berdasarkan hasil kepatuhan menunjukkan bahwa mayoritas tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru adalah baik (46%). Penilaian tingkat pengetahuan pasien dengan kategori baik sebanyak 30 orang (60%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan pasien dengan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan TB Paru di Puskesmas Rancabali (p=0,007).
Profil Tingkat Pengetahuan Bahaya Penggunaan Kosmetik Pemutih pada Ibu Hamil di Puskesmas Talaga Kabupaten Majalengka Dinda Hana; Umi Yuniarni; Lanny Mulqie
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.739 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4404

Abstract

Abstract. Cosmetics are one of the preparations that are widely used by society, especially by women. The existence of figures that show that there are still very many cases of cosmetics side effect in Indonesia and many women, especially pregnant women, always use cosmetics product but few which is known about the dangers of whitening comsetics for pregnant women, because pregnant women rarely consult a dermatologist about the whitening cosmetics they use. The purpose of this study is to determine the relationship between the level of knowledge and include maternal age, gestational age, education and occupation in the use of whitening cosmetics for pregnant women. This study used a descriptive analysis method, data collection was carried out by purposive sampling. The study conducted in February-April 2022. The subject involved in this study were pregnant women patients at the Talaga Health Center. The sample of this study was 63 pregnant women, by filling out a questionnaire containing knowledge and then the data on the result were processed using the SPSS program. The results of this study show that the older the pregnant women, the better the level of knowledge of pregnant women in the category of good knowledge (71.4%); the higher the level of education of pregnant women, the better the level of knowledge of pregnant women with the category of good knowledge in junior high school education (75%) and the more diverse the work of pregnant women then in civil servant, traders and honorees have a good level of knowledge or a higher percentage (100%) when compared to IRT (74.5%) and Entrepreneurship (50%). Abstrak. Kosmetik salah satu sediaan yang banyak digunakan oleh masyarakat terutama oleh wanita. Adanya fakta angka yang menunjukkan kasus efek samping kosmetik di Indonesia masih sangat banyak dan banyak wanita terutama ibu hamil, yang selalu menggunakan produk kosmetik tetapi sedikit yang diketahui tentang bahaya kosmetik pemutih bagi ibu hamil, karena ibu hamil jarang berkonsultasi dengan dokter kulit tentang kosmetik pemutih yang mereka gunakan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan meliputi usia ibu, usia kehamilan, pendidikan dan pekerjaan dalam penggunaan kosmetik pemutih bagi ibu hamil. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif, pengambilan data dilakukan secara purposive sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Februari-April 2022. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah pasien Ibu Hamil di Puskesmas Talaga. Sampel penelitian ini adalah sebanyak 63 orang ibu hamil, dengan mengisi kuesioner yang berisi pengetahuan kemudian data hasil dilah data dengan menggunakan program SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan semakin bertambah usia ibu hamil maka semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kategori baik (71,4%); semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil maka semakin baik tingkat pengetahuan ibu hamil dengan kategori baik pada tingkat SMP (75%) dan semakin beragam pekerjaan ibu hamil maka pada PNS, Pedagang dan Honorer memiliki tingkat pengetahuan yang baik atau lebih tinggi persentase nya (100%) bila dibandingkan dengan IRT (74.5%) dan Wirausaha (50%).
Studi Literatur Aktivitas Antidiabetes pada Tanaman Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) dan Belimbing Manis (Averrhoa carambola) Yuan Vani Puspita Rachma; Umi Yuniarni; Ratu Choesrina
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.405 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4547

Abstract

Abstract. Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by high blood glucose levels than normal values. Wuluh starfruit (Averrhoa bilimbi) and sweet starfruit (Averrhoa carambola) plants from the Averrhoa genus, Oxalidaceae tribe are known to have antidiabetic activity. The purpose of this literature study was to determine which parts of the wealth starfruit and sweet starfruit have antidiabetic activity as well as the active compounds that play a role in these activities and their mechanism of action. The method used is to search for literature from articles that have been published in National Journals and International Journals. The results of the literature study showed that the leaves, fruit, and stems of the star fruit had antidiabetic activity. The mechanism of the wealth starfruit fraction etil asetat is by increasing insulin secretion in pancreatic cells which is thought to be due to the presence of quercetin compounds. The leaves and roots of the sweet star fruit have antidiabetic activity. The mechanism of the ethanolic extract of sweet star fruit root is to protect against the occurrence of cell damage in the pancreas which is thought to be due to the presence of compounds 2-Methoxy-6-nonylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (MNDD) and 2-dodecyl-6- methoxycyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (DMDD). The active compound in sweet star fruit that can play a role in antidiabetic activity is apigenin-6-C-β-fucopyranoside in the leaves by increasing glucose absorption in the soleus muscle which works through the insulin signaling pathway. Another compound is DMDD in the roots by weakening the expression of AGEs that play a role in the occurrence of nephropathy. Abstrak. Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah dari nilai normal. Tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dan belimbing manis (Averrhoa carambola) yang berasal dari marga Averrhoa, suku oxalidaceae diketahui memiliki aktivitas antidiabetes. Tujuan dari studi literatur ini untuk mengetahui bagian tanaman dari belimbing wuluh dan belimbing manis yang memiliki aktivitas antidiabetes serta senyawa aktif yang berperan dalam aktivitas tersebut dan mekanisme kerjanya. Metode yang digunakan yaitu dengan mencari pustaka dari artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Nasional dan Jurnal Internasional. Hasil dari studi literatur menunjukkan bahwa bagian daun, buah dan batang pada tanaman belimbing wuluh memiliki aktivitas antidiabetes. Mekanisme pada fraksi etil asetat buah belimbing wuluh yaitu dengan meningkatkan sekresi insulin pada sel β pankreas yang diduga karena adanya kandungan senyawa kuersetin. Daun dan akar pada tanaman belimbing manis memiliki aktivitas antidiabetes. Mekanisme pada ekstrak etanol akar belimbing manis yaitu dengan melindungi terjadinya kerusakan sel di pankreas yang diduga karena adanya kandungan senyawa 2-Methoxy-6-nonylcyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (MNDD) dan 2-dodecyl-6-methoxycyclohexa-2,5-diene-1,4-dione (DMDD). Kandungan senyawa aktif pada belimbing manis yang dapat berperan dalam aktivitas antidiabetes yaitu apigenin-6-C-β-fucopyranoside pada bagian daun dengan meningkatkan penyerapan glukosa pada otot soleus yang bekerja melalui jalur pensinyalan insulin. Senyawa lain yaitu DMDD pada bagian akar dengan melemahkan ekspresi AGE yang berperan dalam terjadinya nefropati.
Kajian Pustaka Aktivitas Antidiabetes Kapuk Randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn) In Vivo vini nur alfaeni; Lanny Mulqie; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.099 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4671

Abstract

Abstract. Diabetes Mellitus is a chronic disease that occurs when the body is unable to produce enough insulin or cannot use insulin (insulin resistance). One of the plants that have anti-diabetic activity is kapuk randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). The purpose of this article review is to determine the plant parts of kapuk randu plant that have antidiabetic activity seen from the decrease in blood glucose levels in vivo and also to determine the class of compounds found in kapuk randu as antidiabetic. The method used is in the form of a systematic literature review with the stages of library research, filtering based on inclusion and exclusion criteria and data extraction. Based on the results of a literature review, the parts of the kapok plant that have antidiabetic activity are seeds, bark, root bark, stem bark and also leaves. The highest percent (%) decrease in blood glucose levels was found in the seed plant, which was 65.31%. The group of compounds found in kapok plant parts that have antidiabetic activity are alkaloids, flavonoids, saponins, tannins and terpenoids. Abstrak. Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang timbul saat tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin (resistensi insulin). Salah satu tumbuhan yang memiliki aktivitas antidiabetes adalah tumbuhan kapuk randu (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui bagian tanaman dari kapuk randu yang memiliki aktivitas antidiabetes dilihat dari penurunan kadar glukosa darah secara in vivo dan juga untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat pada tumbuhan kapuk randu sebagai antidiabetes. Metode yang digunakan yaitu berupa kajian pustaka secara sistematis dengan tahapan penelusuran pustaka, penyaringan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi serta ekstrasi data. Berdasarkan hasil kajian pustaka bagian tanaman kapuk randu yang meiliki aktivitas antidiabetes yaitu biji, kulit kayu, kulit akar, kulit batang dan juga daun. Persen (%) penurunan kadar glukosa darah paling tinggi terdapat pada bagian tanaman biji yaitu 65,31%. Golongan senyawa yang terdapat pada bagian tanaman kapuk randu yang memiliki aktivitas antidiabetes yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan terpenoid.