Claim Missing Document
Check
Articles

Skrining Fitokimia, Karakterisasi Simplisia dan Analisis Profil KLT Ekstrak Ceri Barbados Shakira Rida Utami; Dadang Juanda; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 629 - 636
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25304

Abstract

Abstract. Barbados cherry leaves (Malpighia glabra L.) are a plant that has the potential to be developed as a raw material for traditional medicine because they contain various secondary metabolites. This study aims to characterize the crude drug, phytochemical screening, and thin layer chromatography (TLC) profile analysis of barbados cherry leaf extract. The crude drug characterization was carried out according to the Indonesian Herbal Pharmacopoeia. Phytochemical screening was carried out qualitatively using specific reagents, while the extract was analyzed using TLC on silica gel GF₂₅₄ plates. The characterization results showed that the crude drug met the quality parameters, namely water content of 8.5%, drying loss of 9.902%, total ash content of 12.628%, acid-insoluble ash content of 2.112%, water-soluble extract content of 21.187%, and ethanol-soluble extract content of 21.577%. Phytochemical screening showed undetectable compounds, namely alkaloids. TLC profile analysis showed differences in spot patterns between extracts according to the level of solvent polarity. The results of the study showed that the simplicia and extract of Barbados cherry leaves have characteristics that can be used as initial data in the standardization and identification of the chemical content of plants. Abstrak. Daun ceri barbados (Malpighia glabra L.) merupakan tanaman yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku obat tradisional karena mengandung berbagai metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi simplisia, skrining fitokimia, dan analisis profil kromatografi lapis tipis (KLT) ekstrak daun ceri barbados. Karakterisasi simplisia dilakukan sesuai Farmakope Herbal Indonesia. Skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif menggunakan pereaksi spesifik, sedangkan ekstrak dianalisis menggunakan KLT pada lempeng silika gel GF₂₅₄. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa simplisia memenuhi parameter mutu, yakni kadar air 8,5%, susut pengeringan 9,902%, kadar abu total 12,628%, kadar abu tidak larut asam 2,112%, kadar sari larut air 21,187%, dan kadar sari larut etanol 21,577%. Skrining fitokimia menunjukkan kandungan senyawa yang tidak terdeteksi yaitu alkaloid. Analisis profil KLT menunjukkan perbedaan pola bercak antar ekstrak sesuai dengan tingkat kepolaran pelarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simplisia dan ekstrak daun ceri barbados memiliki karakteristik yang dapat digunakan sebagai data awal dalam standarisasi dan identifikasi kandungan kimia tanaman.
Efektivitas Analgesik dalam Manajemen Nyeri Tingkat Sedang Pasca Operasi Sectio Caesarea Silviya Nur Hasanah; Fetri Lestari; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 717 - 726
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25640

Abstract

Abstract. Postoperative pain following Caesarean section (CS) requires effective analgesic management to promote optimal recovery. This study aimed to identify the analgesic utilization profile and evaluate the effectiveness of analgesic combinations for postoperative pain management in patients undergoing CS at a regional public hospital in Bandung, Indonesia. An analytical observational study with a retrospective design was conducted using medical records of patients who met the inclusion criteria. Analgesic effectiveness was assessed by changes in the Numeric Rating Scale (NRS) score during the first 24 hours after surgery. Data were analyzed using the Kolmogorov–Smirnov and Kruskal–Wallis tests. The results showed that the paracetamol–ketorolac combination was the most frequently prescribed regimen (110 patients; 81.5%), followed by paracetamol–tramadol (16 patients; 11.9%) and paracetamol–dexketoprofen (9 patients; 6.7%). Among patients with moderate pain, the paracetamol–dexketoprofen combination produced the greatest mean reduction in NRS score (Δ = 1.44). However, the Kruskal–Wallis test demonstrated no statistically significant difference in analgesic effectiveness among the three combinations in the moderate pain group (p > 0.05). These findings indicate that paracetamol–ketorolac, paracetamol–dexketoprofen, and paracetamol–tramadol provide comparable effectiveness for postoperative pain management after Caesarean section and may be selected according to patients' clinical conditions. Abstrak. Nyeri pasca operasi Sectio Caesarea (SC) merupakan komplikasi yang memerlukan penatalaksanaan analgesik yang efektif untuk mendukung proses pemulihan pasien. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi profil penggunaan analgesik serta mengevaluasi efektivitas kombinasi analgesik dalam manajemen nyeri pasca operasi SC di salah satu RSUD Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan retrospektif terhadap data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Efektivitas analgesik dievaluasi berdasarkan perubahan skor Numeric Rating Scale (NRS) selama 24 jam pertama pasca operasi dan dianalisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov serta uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi paracetamol-ketorolac merupakan regimen yang paling banyak digunakan yaitu sebanyak 110 pasien (81,5%), diikuti paracetamol-tramadol sebanyak 16 pasien (11,9%) dan paracetamol-dexketoprofen sebanyak 9 pasien (6,7%). Pada kelompok nyeri sedang kombinasi paracetamol-dexketoprofen memberikan rerata penurunan skor NRS tertinggi (Δ=1,44). Namun, uji Kruskal–Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna antar ketiga kombinasi analgesik baik pada kelompok nyeri sedang (p>0,05). Sehingga dapat disimpulkan kombinasi paracetamol-ketorolac, paracetamol-dexketoprofen, dan paracetamol-tramadol memiliki efektivitas yang relatif setara dalam manajemen nyeri pasca operasi Sectio Caesarea dan dapat digunakan sebagai pilihan terapi sesuai kondisi klinis pasien
Profil Penggunaan Obat-Antituberkulosis dan Anti-Retroviral pada Pasien Tuberkulosis-HIV Periode 2024-2025 Dinda Shafa Nabila; Bambang Tri Laksono; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 779 - 788
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25723

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) is an opportunistic infection that frequently occurs in patients with Human Immunodeficiency Virus (HIV), requiring concurrent treatment with antituberculosis drugs (OAT) and antiretroviral drugs (ARV). This study aims to describe the characteristics of patients as well as the usage profiles of OAT, ARVs, and supportive medications among TB-HIV patients at Hospital X during the 2024–2025 period. The study employed a descriptive observational method with a retrospective approach based on medical record data. The sample was obtained using total sampling and included 75 patients who met the study criteria. Descriptive analysis was performed using frequency distributions and percentages. The results showed that the majority of patients were male (73.33%), aged 18–59 years (98.67%), and had extrapulmonary TB (61.33%). All patients received fixed-dose combination anti-tuberculosis therapy (2RHZE/4RH). The most commonly used ARV regimen was Tenofovir/Lamivudine/Efavirenz (TLE) (65.33%), followed by Tenofovir/Lamivudine/Dolutegravir (TLD) (29.33%). The most frequently administered adjunctive medications were vitamin B6 (74.67%) and co-trimoxazole (72.00%). The study results indicate that the use of OAT and ARVs was in accordance with national guidelines, with vitamin B6 and co-trimoxazole being the most commonly used adjunctive therapies. Abstrak. Tuberkulosis (TB) merupakan infeksi oportunistik yang sering terjadi pada pasien Human Immunodeficiency Virus (HIV), sehingga memerlukan terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) dan antiretroviral (ARV) secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan menggambarkan karakteristik pasien serta profil penggunaan OAT, ARV, dan obat pendukung pada pasien TB-HIV di Rumah Sakit X periode 2024–2025. Penelitian menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif berdasarkan data rekam medis. Sampel diperoleh menggunakan metode total sampling dan melibatkan 75 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (73,33%), berusia 18–59 tahun (98,67%), dan mengalami TB ekstraparu (61,33%). Seluruh pasien menerima OAT kombinasi dosis tetap (2RHZE/4RH). Regimen ARV yang paling banyak digunakan adalah Tenofovir/Lamivudin/Efavirenz (TLE) (65,33%), diikuti Tenofovir/Lamivudin/Dolutegravir (TLD) (29,33%). Obat pendukung yang paling sering diberikan adalah vitamin B6 (74,67%) dan kotrimoksazol (72,00%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan OAT dan ARV telah sesuai dengan pedoman nasional, dengan vitamin B6 dan kotrimoksazol sebagai terapi pendukung yang paling banyak digunakan.
Kajian Potensi ROTD Pasien TB-HIV di RS X Periode 2024-2025 Annisa Nur Hasna Fauziyah; Bambang Tri Laksono; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 843 - 852
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.25853

Abstract

Abstract. Tuberculosis (TB) and HIV co-infection increases the complexity of therapy because patients receive antituberculosis drugs (OAT) concurrently with antiretroviral therapy (ART) over a long period, thereby increasing the risk of Adverse Drug Reactions (ADR). This study aimed to determine the types and prevalence of potential ADR during therapy in TB-HIV patients. The study used a descriptive observational design with a cross-sectional approach, with data collected retrospectively from electronic medical records at Hospital X for the period 2024–2025, using a total sampling method based on inclusion and exclusion criteria. A total of 75 patients met the criteria, predominantly male (73.33%) and aged 18–59 years (98.67%), with pulmonary tuberculosis as the most com mon diagnosis (38.67%). All patients received first-line Fixed-Dose Combination (FDC) category-1 OAT, while the most commonly used ART regimen was TDF/3TC/EFV (65.33%). Of the 212 recorded ROTD events, the most frequently occurring were gastrointestinal disorders in the form of nausea and vomiting (20.57%), respiratory disorders in the form of cough (12.44%), and skin disorders in the form of itching (8.61%). These findings indicate that gastrointestinal, respiratory, and skin reactions are the most common adverse effects and require regular monitoring throughout combined TB-HIV therapy. Abstrak. Ko-infeksi tuberkulosis (TB) dan HIV meningkatkan kompleksitas terapi karena pasien mendapatkan obat antituberkulosis (OAT) secara bersamaan dengan terapi antiretroviral (ART) dalam jangka waktu panjang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Reaksi Obat Tidak Diinginkan (ROTD). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis dan prevalensi potensi ROTD selama terapi pada pasien TB-HIV. Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional, data diambil secara retrospektif melalui e-rekam medis di RS X periode 2024–2025, dengan metode total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Diperoleh 75 pasien yang memenuhi kriteria, didominasi laki-laki (73,33%) dan berusia 18–59 tahun (98,67%), dengan diagnosis terbanyak tuberkulosis paru (38,67%). Seluruh pasien menggunakan OAT Kombinasi Dosis Tetap (KDT) kategori-1, sedangkan regimen ART yang paling banyak digunakan adalah TDF/3TC/EFV (65,33%). Dari 212 kejadian ROTD yang tercatat, yang paling sering muncul adalah gangguan gastrointestinal berupa mual muntah (20,57%), gangguan pernapasan berupa batuk (12,44%), dan gangguan kulit berupa gatal (8,61%). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa reaksi gastrointestinal, pernapasan, dan kulit merupakan efek samping yang paling sering muncul dan perlu dipantau secara berkala selama terapi kombinasi TB-HIV berlangsung.
Uji Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Daun Leunca terhadap Embrio Ikan Zebra Hanifah Hidayah Putri; Siti Hazar; Umi Yuniarni
Bandung Conference Series: Pharmacy 265-274
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v6i2.24775

Abstract

Abstract. Leunca leaf  is one of the medicinal plants used in traditional medicine because it contains bioactive compounds that have the potential to provide pharmacological effects, such as anti-inflammatory, antibacterial, antioxidant, and anticancer. However, data on the safety of its use for embryonic development are still limited, so it is necessary to carry out acute toxicity testing. This study aims to evaluate the effect of acute toxicity of ethanol extract of leunca leaf on zebrafish embryos and determine the LC₅₀ value produced. The research method used is true experimental design with the FET method referring to OECD guidelines No. 236 of 2013. A total of 120 zebrafish embryos were divided into negative control group and treatment groups, each group consisting of 20 embryos with an extract concentration of 0,1; 1; 10; 100; and 1000 ppm every 24 hours for 96 hours. Embryonic mortality and abnormality data were analyzed using probit regression to obtain LC₅₀ values. The results showed that exposure to ethanol extract of leunca leaves caused death and abnormalities in embryonic development, including embryonic coagulation, disturbance of somite formation, and non-formation of heart rate. The LC₅₀ value obtained for 96 hours of 0.2329 ppm is classified as Highly Toxic. Abstrak. Daun leunca merupakan salah satu tanaman obat yang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan efek farmakologis, seperti antiinflamasi, antibakteri, antioksidan, dan antikanker. Namun, data mengenai keamanan penggunaannya terhadap perkembangan embrio masih terbatas sehingga perlu dilakukan pengujian toksisitas akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek toksisitas akut ekstrak etanol daun leunca terhadap embrio ikan zebra serta menentukan nilai LC₅₀ yang dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan adalah true experimental design dengan metode FET mengacu pada pedoman OECD No. 236 Tahun 2013. Sebanyak 120 embrio ikan zebra dibagi menjadi kelompok kontrol negatif dan kelompok perlakuan yang masing-masing kelompok terdiri dari 20 embrio dengan konsentrasi ekstrak 0,1; 1; 10; 100; dan 1000 ppm setiap 24 jam selama 96 jam. Data mortalitas dan abnormalitas embrio dianalisis menggunakan regresi probit untuk memperoleh nilai LC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan ekstrak etanol daun leunca menyebabkan kematian dan kelainan perkembangan embrio, antara lain koagulasi embrio, gangguan pembentukan somit, dan tidak terbentuknya detak jantung. Nilai LC₅₀ yang diperoleh selama 96 jam sebesar 0,2329 ppm termasuk dalam kategori Highly Toxic (sangat toksik).
Co-Authors 10060321003, Dela Kurniasih 10060321017, Tarisa Perolin Abdul Aziz Akmal Afifah Chantika Sari Priasmara Ainah Alika Ismita Alya Fauziah Zahra Alya Fauziah Zahra Alyah Eka Putri Anggietha Zahra Khairunnisa Anindhita Nur Firdausya Annisa Dila Perwitasari Annisa Nur Hasna Fauziyah Arpilla Almanda Aryuqo Ardha Syaqa Ayu Suci Dewi Bambang Tri Laksono Berta Rusdi Bertha Rusdi Dadang Juanda Dendi Ardian Desi Anom Sari Diki Prayugo Wibowo Dina Mulyanti Dinda Hana Dinda Shafa Nabila Dini Farizah Diva Rachmadita Kusumawardani Ega Nirmala Ega Nirmala Ernita Fetri Lestari Fetri Lestari Haidir Syafrullah Hana Tulia Fazin Hanifah Hidayah Putri Hazar, Siti Hudari Aklinia Handadly Iis Rosita Ina Willona Rudi Irene Yuliani Trinita Isti Elvina Azzahra Jasmine Ayu Diningrum Kamilia Zahro Khalida Fitrah Qolbina Lailatul Taqbi Rahmatya Lanny Mulqie Levina Geby Dwi Putri Alamsyah Luthfika Khansha, Luthfika Khansha Marshanda Reiya Hanafiah Miski A. Khairinisa Muhammad Fajar Muhammad Rafii Akbar Muhammad Raja Fachri Buldan Nabila Khaerunnisa Nabilla, Qori Nadia Indah Sari Najwa Khalisha Putri Nanda Nurhaliza Z Nazwa Aqilah Nela Simanjuntak Nirmala, Ega Novia Nur Islamiati Onoy Rohaeni Puri Salsabila Arsyi Qori Nabilla Rani Pertiwi Ratih Aryani, Ratih Ratu Choesrina Shakira Rida Utami Shifa Fadillah Indreswari Puja Silviya Nur Hasanah Siti Alifa Dzulnadifa Siti Hazar Siti Umniyyah Nabilah Sri Peni Fitrianingsih Suwendar Suwendar Syahla Alpia Rachman Syifa Egidia Delani Tifana Indrafaina Al'munaf Trinita, Irene Yuliani Vidya Sulistiawati Dewi vini nur alfaeni Vira Apriliandani Yani Lukmayani Yuan Vani Puspita Rachma Zahra Aurelia Chendra Zalfa Neysa Salsabila